• Tidak ada hasil yang ditemukan

sistem pengairan yang berkeadilan dalam perspektif

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "sistem pengairan yang berkeadilan dalam perspektif"

Copied!
87
0
0

Teks penuh

(1)

i

SISTEM PENGAIRAN YANG BERKEADILAN DALAM PERSPEKTIF FIKIH MUAMALAH (STUDI DI DESA NGERU KECAMATAN MOYO

HILIR KABUPATEN SUMBAWA)

Oleh :

HIKMAH MEILINA AULIA NIM. 160201058

PROGRAM STUDIHUKUM EKONOMI SYARIAH (MUAMALAH) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

(2)

ii

SISTEM PENGAIRAN YANG BERKEADILAN PERSPEKTIF FIKIH MUAMALAH DI DESA NGERU KECAMATAN MOYO HILIR

KABUPATEN SUMBAWA

Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Hukum

Oleh :

HIKMAH MEILINA AULIA NIM. 160201058

PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH (MUAMALAH) FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2021

(3)

iii

(4)

iv

(5)

vi

(6)

vii

MOTTO





Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta kamu dengan cara yang bathil, kecuali melalui suatu perniagaan yang berlaku suka sama suka. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyanyang kepadamu.”(QS. An-Nisa :29)”.1

1 QS. An-Nisa [4] : Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahannya, (Bandung: Cordoba), hlm.

83

(7)

viii PERSEMBAHAN

“Saya persembahkan skripsi ini untuk dua malaikat tak bersayap yang selalu ada untuk saya yaitu kedua orang tua saya bapak saya tercinta Agus salim dan ibu tercinta saya Sahema, adek saya Zulfitra Suarno Januar dan Triana Oktaviana, dan segenap keluarga besar saya, tak lupa juga teluarga besar Tambora 12, semua guru dan dosen saya, sahabat-sahabat saya Riska Nurmawaddah, desi Rahmawati dan Ayu Indriani dan juga saudara tak sedara saya Febby Dian Permata Sari, Risna Dewi Aryanti, Fani Deri Susandi dan juga Muhammad Ade Ilvan serta semua keluarga Muamalah B angakatan 2016, serta almater dan kampus tercinta UIN Mataram.

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah swt. karena atas rahmat dan karuninnya-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Sistem Pengairan yang Berkeadilan Perspektif Fikih Muamalah di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa” Penulisan skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H), Fakultas Syari’ah, Program Studi Hukum Ekonomi Syari’ah.

Penulis menyadari tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, mulai dari masa perkuliahan sampai dalam penyusunannya. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada :

1. Prof. DR. Moh Abdun Nasir, M.Ag dan Nunung Susfita, S.HI M.SI selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan pengarahan dan masukan yang berkaitan dengan penulisan serta telah meluangkan waktu dan pikiran sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik;

2. Saprudin, M.Si selaku ketua program studi fakultas syari’ah

3. DR. H. Musawar, M.Ag selaku dekan fakultas syaria’ah UIN Mataram;

4. Bapak Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag, selaku Rektor UIN Mataram;

5. Kedua orang tuaku Ibu Sahema dan bapak Sultan Agus Salim yang tidak pernah lelah memberi dukungan serta doa yang tulus. Terimakasih untuk segala pengorbanannya;

(9)

x

6. Bapak dan ibu dosen Fakultas Syariah Universitas Islan Negeri (UIN) Mataram yang telah memberikan ilmu kepada penulis serta seluruh staf akademik yang membantu penyusunan untuk memperoleh data dalam penyusunan skripsi ini;

7. Kedua orang tua dan segenap keluarga yang telah mendukung terselesainya skripsi ini.

8. Semua pihak yang telah membantu terselesainya skripsi ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah swt. dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.

Mataram,………….. 2021 Penulis,

Hikmah Meilina Aulia NIM.160201058

(10)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN... iii

HALAMAN NOTA DINAS PEMBIMBING... iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

1. Bagi Penulis... 6

2. Bagi Akademik ... 6

3. Bagi Subjek Penelitian ... 7

E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian ... 7

2. Setting Penelitian ... 7

F. Telaah Pustaka ... 8

(11)

xii

G. Kerangka Teoritik ... 11

1. Akad ... 11

2. Ijarah ... 15

a. Pengertian Ijarah ... 15

b. Rukun Ijarah ... 15

c. Syarat Ijarah ... 16

H. Metode Penelitian... 17

1. Pendekatan Penelitian ... 17

2. Kehadiran Peneliti ... 18

3. Lokasi Penelitian ... 18

4. Sumber Data ... 19

a. Sumber Data ... 19

1. Data Sekunder ... 19

2. Data Primer ... 19

5. Teknik Pengumpulan Data ... 20

a. Wawancara ... 20

b. Observasi ... 21

c. Dokumentasi ... 22

6. Teknik Analisis Data ... 23

a. Triangulasi ... 23

b. Menambah Waktu Penelitian ... 24

c. Diskusi dengan Teman Sejawat ... 24

I. Sistematika Pembahasan ... 24

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 26

A. Gambaran Umum Kondisi Desa Ngeru ... 26

B. Letak Geografis Desa Ngeru ... 27

(12)

xii

C. Keadaan Penduduk Desa Ngeru ... 28

1. Jumlah Penduduk ... 28

2. Keadaan Ekonomi dan Agama ... 28

3. Swadaya Masyarakat, adat Istiadat dan Kearifan Lokal ... 29

D. Praktik Pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa ... 29

1. Sistem Akad Pengairan di Desa Ngeru Ngeru Kecamatan Moyo Hilir ... 29

2. Latar Belakang Tejadinya Praktik Pengairan Sawah Menggunakan Air Irigasi di Desa Ngeru ... 31

3. Peran Petugas Irigasi Desa Ngeru ... 38

BAB III ANALISIS PRAKTIK PENGAIRAN YANG BERKEADILAN DI DESA NGERU ... 41

A. Analisis Latar Belakang dan Praktik Pengairan yang Berkeadilan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa... 41

1. Sistem Akad Pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir 42 2. Latar Belakang Terjadinya Praktik Pengairan Sawah Menggunakan Air Irigasi di Desa Ngeru... 50

3. Peran Petugas Irigasi ... 53

B. Analisis Fiqih Muamalah Terhadap Praktik Pengairan di Desa Ngeru dengan Sistem Irigasi ... 56

BAB IV PENUTUP ... 63

A. Kesimpulan ... 63

B. Saran-saran ... 64

DAFTAR PUSTAKA ... 65

LAMPIRAN ... 67

(13)

xiii

SISTEM PENGAIRAN YANG BERKEADILAN PERSPEKTIF FIKIH MUAMALAH DI DESA NGERU KECAMATAN MOYO HILIR

KABUPATEN SUMBAWA

Hikmah Meilina Aulia NIM 160201058

ABSTRAK

Sistem pengairan adalah suatu usaha mendatangkan air dengan membuat bangunan dan saluran dari bendungan besar menuju ke saluran air utama kemudian ke saluran kecil yang berada dekat dengan lahan sawah atau ladang untuk memudahkan air sampai ke petak-petak sawah atau ladang-ladang dengan cara teratur. Sistem pengairan di Desa Ngeru mengalai suatu permasalahan yang seringkali meresahkan petani seperti adanya beberapa oknum petani yang ingin menguasai air secara sepihak sehingga merugikan petani yang lain. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu, pendektan yang menghasilkan data deskriptif berupa narasi tertulis atau lisan dari orang-orang yang bentuk prilakunya telah diamati melalui prosedur pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi dan wawancara serta dokumentasi. Rumusan masalah dalam dari penelitian ini yaitu: (1). Bagaimana praktik pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir dan Faktor apa saja yang mendorong petani mengambil lebih banyak air sawah dibandingkan yang lain? (2). bagaimana peran petugas pengairan dan pejabat desa dalam membagi kebutuhan air pertanian di Desa Ngeru? (3). Bagaimana tinjauan fikih muamalah tentang praktik pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir?. Menurut perspektif Fikih Muamalah suatu akad dikatakan sah apabila sudah memenuhi rukun dan syarat akad begitu juga dengan pengairan di Desa Ngeru yang sudah melaksanakan pengairan berdasarkan dengan ketentuan rukun dan syarat akad dalam fikih muamalah. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa praktik pengiaran di Desa Ngeru sudah dilakukan dengan benar sebagaiana mestinya baik dari segi akad maupun rukunnya, meskipun ada perbuatan-perbuatan di luar dugaan. Petugas pengairan berperan penting dalam proses jalannya air dari saluran utama hingga sampai ke lahan sawah petani.

Kata Kunci: Sistem pengaira yang berkeadilan, Metode penelitian, Kesimpulan hasil temuan

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring perkembangan zaman, keberhasilan pertanian sektor pangan ditentukan oleh pengaturan pengairan yang baik. Dalam peningkatan produksi sawah khususnya padi, pengaturan pengairan merupakan syarat yang harus ada.2 Adanya pengaturan pengairan yaitu bertujuan agar dapat menunjang penyediaan air untuk kebutuhan lahan pertanian dan meningkatkan hasil produksi. Dalam hal ini, peningkatan produksi lahan diperlukan adanya rehabilitas pengairan dan perluasan pengairan sawah.

Pengairan air sawah dapat berjalan dengan baik apabila dilakukan olehpetugas pengairan dan para petani dengan benar sesuai kebutuhannya dan berbuat adil. Islam telah mengajarkan kita agar selalu berbuat baik terhadap segala apa yang diberikan Allah SWT. Berdasarkan Firman Allah SWT dalam surah Asy-Syu’ara’ Ayat 183:

ُه َء اَيْش أ َساَنلٌا ْاوُسَخْبَت َلَ َو َنيِدِسْفُم ِض ْرَ ْلٌْا ىِف ْا ْوَثعَت َلَ َو ْم

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan:

Berdasarkan pengamatan awal peneliti pada praktik pengairan sawah yang terjadi di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir yaitu adanya ekspoitasi sumber daya air yaitu air irigasi yang tidak sesuai antara teori dan praktik yang

2 Kaslan A. Tohir, Seuntai Penegtahuan Usaha Tani, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991), hlm. 29

(15)

dilakukan oleh beberapa oknum petani yang ingin menguasai air irigasi secara sepihak, lahan sawah yang berada di atas sering kali tidak mendapatkan distribusi air secara rata, hal tersebut terjadi dikarenakan adanya penguasaan air irigasi oleh pemilik lahan sawah yang berada lebih bawah dari saluran air.

Terdapat berbagai jenis akad yang berkaitan dengan kerjasama di bidang pertanian dalam fiqih muamalah, salah satunya akad al-musaqah.Al- musaqah adalah sebuah bentuk kerjasama pemilik kebun dengan pihak pemelihara dengan tujuan agar kebun itu dapat disirami sehingga memberikan hasil dan dibagi berdasarkan kesepakatan.3

Untuk menentukan keabsahan akad al-musaqah dari segi hukum, harus diperhatikan berbagai ketentuan yang mengatur bagaimana petugas pengairan mendapatkan bagi hasil dari kerjasama dalam proses pengairan berdasarkan jumlah yang disepakati bersama di awal perjanjian. Terjadinya akad al- musaqah dalam perikatan kerja dilandasi karena pihak pemilik lahan kurang mampu memelihara sendiri lahannya, sehingga menyebabkan pemilik lahan membutuhkan bantuan dari seseorang yang memiliki kemampuan untuk menanganinya4.

Berdasarkan hasil yang peneliti temukan dalam wawancara awalpeneliti dengan beberapa petani di Desa Ngeru terkait dengan permasalahan pengairan lahan pertanian, penerapan sistem akad yang digunakan oleh petani yang menggunkan air irigasi adalah perjanjian secara lisan dan saling percaya antara petugas irigasi dengan para petani yang

3 Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqhu as-Syafi’I al-Muyassar, (Bairut Drul Fikri, 2008), hal. 289

4Ibid.,

(16)

disaksikan oleh pemerintah Desa Ngeru. Hal ini terbukti dalam praktik pengairan di Desa Ngeru masih belum ada tanda atau bukti bahwa telah terjadi suatu kesepakatan diantara kedua belah pihak. Setelah perjanjian disepakati oleh keduaa belah pihak, maka muncullah sebuah hak dan kewajiban antara kedua belah yaitu petani dan petugas irigasi. Petani mempunyai hak untuk mendapatkan air untuk mengairi lahannya secara merata dan berkewajiban memberikan hasil panen yang telah disepakti dengan petugas, sedangkan petugas irigasi memiliki hak untuk memperoleh hasil panen dari petani sesuai dengan kesepakatan dan berkewajiban mengairi lahan sawah petani seacra merata.

Dalam praktik pengairan di Desa Ngeru, pelaksanaan kerjasama kedua belah pihak tidak berjalan sebagaimana mestinya, bahkan banyak timbul persengketaan, terutama pada proses pengairan lahan. Dalam proses pengairan lahan sering terjadi keterlambatan pengairan dan buruknya sarana irigasi yang disebabkan oleh adanya penguasaan air secara sepihak oleh beberapa petani.

Sedangkan berdasarkan perjanjian awal, petugas telah sepakat untuk mengaliri air ke petak-petak sawah dengan cara mendahulukan wilayah sawah yang paling dekat dengan sumber air untuk kemudian dialiri ke sawah selanjutnya.

Namun dengan adanya penguasaan air irigasi oleh beberapa petani, maka sebagian petani yang lain tidak mendapatkan air. Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh salah satu petani yang sempat peneliti wawancara, bahwa seringkali lahan sawahnya kecolongan air dikarenakan lahannya berada di atas sehingga airnya sering diambil oleh petani yang lahannya berada di bawah,

(17)

pengambilan air dilakukan dengan cara membuka jalan masuk air (penungkas) ke masing-masing petak sawah.5 Selanjtnya hasil wawancara awal peneliti dengan salah satu pemerintah Desa Ngeru mengenai permasalahan irigasi yang dihadapi oleh masyarakat. Beliau mengatakan bahwa tidak pernah ada laporan dari masyarakat mengenai permasalahan air irigasi yang sering dialami oleh masyarakat. Kalaupun ada pemerintah Desa Ngeru akan mencari jalan keluarnya yaitu dengan jalan musyarawah supaya jelas pokok permasalahan dan dapat dicari jalan keluarnya dan tidak ada lagi keluhan masyarakat mengenai hal tersebut sehingga masyarakat dan petugas irigasi mendaptkan hak dan kewajibannya secara adil.6

Tindakan yang dilakukan oleh beberapa orang ini, membuat sebagian masyarakat khususnya para petani merasa resah dan mereka merasa kebingungan harus berbuat apa, sedangkan iurang yang mereka keluarkan sama besar yaitu sesuai dengan apa yang telah disepati bersama diawal. Dalam kesepatan tersebut hanya disebutkan jumlah iuran yang harus dikeluarkan oleh masing-masing petani yang menggunakan air irigasi untuk mengairi lahan sawahnya tanpa ada penjelasan mengenai iuran bagi petani yang tidak mendapatkan air secara adil dan merata.

Dalam Islam suatu perjanjian, manusia membutuhkan suatu kesepakatan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Oleh karenanya, untuk menciptakan sebuah kesepakatan sebagai peraturan yang wajib dipatuhi, maka

5 Wawancara Petani di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, Pada Tanggal 3 Juli 2020 di Desa Ngeru

6 Wawancara Staf Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, Pada Tanggal 3 Juli 2020 di Desa Ngeru

(18)

dibutuhkan adanya perjanjian atau kontrak yang disebut sebagai akad. Yang di mana akad adalah suatu perikatan yang ditetapkan dengan ucapan (shigat) ijab dan qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya. Oleh karenanya, semua transaksi yang dilaukan oleh dua belah pihak atau lebih tidak boleh ada kesepakatan untuk menipu orang lain, dan tidak boleh melakukan transaksi barang-barang yang diharamkan. Sehingga tidak ada piha yang dirugikan. Berdasarkan firman Allah SWT dalam Surah An-nisa’ayat 29:

ْنَأ َّلَِإ ِل ِطاَبْلاِب ْمُكَنْيَب ْمُكَل َوْمَأ اوُلَكْأَت لَا وُنَمَا َني ِذَّلا اَهُّيَأ اَي وُكَت

ً َر اََِت َن

ْمُكِب َناَك َ َّاللَّ َّنِإ ْمٌكَسُفْنَأ اوُلُتْقَت َلَ َو ْمُكْنِم ٍض ا َرَت ْنَع ا مي ِح َر

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu.

Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sungguh Allah Maha penyayang kepadamu”. (Q.S Al-Nisa [4]: 29)

Berdasarkan pemaparan mengenai sistem irigasi di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, baik dari segi kerja sama maupun dalam aspek hukum Islam maupun dari segi penyelesaian sengketanya yang terjadi dalam kerjasamanya, maka peneliti tertarik mengkaji masalah ini dalam penelitian untuk skripsi dengan judul “Sistem Pengairan yang Berkeadilan berdasarkan perspektif Fiqh Muamalah di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa”.

B. Rumusan Masalah

(19)

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, ada beberapa pokok masalah yang penulis ingin bahas. Adapun pokok masalah tersebut sebagai berikut:

1. Bagaimana praktik sistem pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir dan faktor apa saja yang mendorong petani mengambil lebih banyak air sawah dibanding yang lain?

2. Bagaimana peran petugas pengairan dan pejabat desa dalam membagi kebutuhan air pertanian di Desa Ngeru?

3. Bagaimana tinjauan fiqh muamalah tentang praktik pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui bagaimana sistem pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir dan faktor apa yang mendorong petani mengambil lebih banyak air sawah dibanding dengan yamng lain

2. Untuk menjelaskan mengetahui bagaimana peran petugas pengairan dan pejabat desa dalam membagi kebutuhan air pertanian di Desa Ngeru

3. Untuk menganalisis tinjauan fiqh muamalahtentang praktik pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir?

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Penulis

a. Penelitian ini dilakukan guna menyelesaikan tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana pada Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram

(20)

b. Sebagai sarana bagi penulis guna untuk menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah didapatkan selama menempuh perkuliahan di Fakulytas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram

2. Bagi Akademik

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran perkembangan ilmu pengetahuan baik secara teori maupun secara praktik dan dapat dijadikan salah satu refrensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya tentang masalah yang diteliti itu, terutama tentang sistem pengairan yang berkeadilan.

3. Bagi Subjek Penelitian

Penelitian diharapkan dapat menjadi penilaian bagi masyarakat serta memperluas wawasan masyarakat di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa tentang pengairan sawah yang lebih baik dan berkeadilan

E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup

Berangkat dari konteks penelitian yang telah dibahas di atas, agar penelitian ini lebih terarah dengan baik, maka masalah yang akan dijadikan pokok bahasan dalam penelitian ini yaitu mencakup pratek pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir dan faktor yang mendorong petani mengambil lebi banyak air dibanding petani yang lain, peran petugas pengairan dan pejabat desa dalam membagi kebutuhan air petani di Desa

(21)

Ngeru dan tinjauan fiqih muamalah tentang praktek pengairan di Desa Ngeru.

2. Setting Penelitian

Lokasi penelitian yang peneliti maksud dalam bahasan ini adalah di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa. Alasan peneliti memilih lokasi ini dikarenkan:

a. Karena akses dan ketersediaan data penelitian yangcukup dan kemudahan akses peneliti untuk memperoleh data. Data awal penelitian dan kemudahaan mendapatkannya menjadi modal penting awal untuk penelitian lebih lanjut. Di samping itu, peneliti berasal dari desa Ngeru dan kenal baik dengan subyek dan informen yang akan diteliti.

b. Penelitian terhadap sistem pengairan yang berkeadilan ini sangat penting, dikarenakan penelitian ini bukan hanya sebatas keilmuan saja, akan tetapi untuk memberikan informasi kepada masyarakat yang terlibat dalam proses pengairan, dan memberikan cara-cara yang baik menurut ajaran Agama Islam. Atas dasar inilah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait hal-hal yang telah disebutkan dalam pemaparan di atas guna memberikan pengetahuan untuk peneliti maupun masyarakat.

F. Telaah Pustaka

(22)

Telaah pustaka merupakan deskripsi ringkas tentang kajian atau penelitian yang sudah pernah dilakukan diseputaran masalah yang akan diteliti sehingga penulis dapatmengetahui hal-hal apa yang telah diteliti dan belum diteliti sehingga tidak terjadi pengulangan atau duplikasi penelitian terhadap objek yang sama.

Berdasarkan hasil telaah pustaka, peneliti menemukan beberapa hasil penelitian yang dapat dijadikan refrensi dan pertimbangan yaitu:

1. Khusnul Ciptanila Yuni K, “Analisis Hukum Islam Terhadap jasa Pengairan Sawah dengan Sibel di Desa Bibrik Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun.” Dalam skripsi ini dikemukakan bahwa praktik jasa pengairan sawah di Desa Bibrik adalah dengan cara perjanjian di awal dan lahirnya proses akad ini dilakukan sebelum masa tanam padi dimulai maka akan terlebih dahulu dilakukan pertemuan untuk membahas kerjasama pengairan yang akan dilakukan dalam masa panen. Berdasarkan analisis hukum Islam praktik jasa pengairan sawah dengan sistem sibel di desa Bibrik Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun adalah sah karena sudah sesuai dengan syarat dan rukun ijarah dan maslahah mursalah karena di sini tukang air melakukan tambahan upah disebabkan begitu banyak tenaga yang dikeluarkan dari awal sampai akhir panen. sedangkan skripsi yang penulis kaji berbeda dengan penjelasan skripsi yang ditulis oleh Khusnul Ciptanila YK memfokuskan pada analisis hukum Islam terhadap jasa pengairan dengan sistem sibel dan mengemukan bahwa praktik pengairan tersebut sah dikarenakan sudah sesuai dengan syarat dan rukun ijarah dan

(23)

maslahah mursalah. Perbedaan skripsi ini dengan skripsi peneliti yaitu peneliti membahas tentang sistem pengairan yang berkeadilan menurut hukum Islam dan ketidak merataan air irigasi ke seluruh lahan petani meskipun telah diminta penambahan iuran oleh petugas irigasi diluar iuran wajib serta sistem akad yang digunakan, di mana peneliti hanya melakukan satu kali pertemuan untuk membahas mengenai ketentuan-ketentuan keberlangsungan pengairan sedangkan skripsi yang dibahas oleh Khusnul Ciptanila YK melakukan pertemuan setiap masa tanam dimulai . 7

2. Nila Sari Nasution, “Hak Atas Air Irigasi menurut Wahbah Az-Zuhaili (Study Kasus di Desa Penyabungan Tonga Kecamatan Penyabungan).”

Dalam skripsi ini dikemukakan bahwa praktik pengaliran air di Desa Penyabungan Tongan Kecamatan Penyabungan sudah sering dilakukan oleh petani dengan menguasai air dengan cara penyumbatan air ke lahannya. Menurut Wahabah Az-Zuhaili dalam kitabnya itu sudah termasuk perbuatan yang dilarang, karena memudharatkan bagi orang lain.

Sedangkan skripsi yang penulis kaji berbeda dengan penjelasan skripsi yang ditulis oleh Nila Sari Nasution memfokuskan pada hak atas irigasi menurut Wahbah Az-Zuhaili, pelaksanaan pengairan di Desa Panyubangan Tonga yaitu dengan cara mengalirkan air dari bendungan kemudian dibuat bendungan dengan beberapa pintu air untuk menyalurkan air ke masing- masing parit sawah. Sedangkan skripsi yang peneliti kaji lebih

7 Khusnul Ciptanila YK, Analisis Hukum Islam Terhadap jasa Pengairan Sawah dengan Sistem Sibel di Desa Bibrik Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun, (Skripsi UIN Sunan Ampel Surabaya), 2019

(24)

memfokuskan pada sistem pengairan yang berkeadilan menurut hukum Islam.8

3. Riko setyo Nugroho, “Tinjaun Fikih Terhadap Praktik Irigasi Sawah di Desa Singgahan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo.” Dalam skripsi ini dikemukakan bahwa praktik akad irigasi sawah di Desa Singgahan ini sudah sesuai dengan dan sejalan dengan dengan akad ijarah, dan dalam ketentuan-ketentuannya petugas dalam melakukan akad irigasi menerima upah dari petani sudah sesuai dengan ketentuan akad ijarah. Dalam skripsi ini juga menjelaskan ketentuan-ketentuan dalam akad ijarah pengupahan petugas irigasi mendapat dari petani dan sudah sesuai dengan akadnya, petugas irigasi juga berakad dengan jasanya bukan dengan menjual air dari sungai, dan adanya petugas sukuhan dan orang yang membantu petugas yang memerlukan upah atas pekerjaan yang dilakukannya dan uang yang dikumpulkan sebagian akan digunakan bersama untuk kepentingan bersama. Sedangkan skripsi yang peneliti kaji yaitu petani tidak mendapatkan hak mereka sesuai dengan apa yang telah disepakati diawal meskipun mereka telah memenuhi kewajiban untuk membayar iuran wajib kepada petugas irigasi. 9

G. Kerangka Teori 1. Akad perjanjian

8 Nila Sari Nasution, Hak Atas Air Irigasi Menurut Wahbah Az-ZuhailiStudi Kasus di Desa Penyambungan Tonga Kecamatan Penyambungan, (Skripsi UIN Sumatra Utara), 2017

9 Richo Setyonugroho, Tinjauan Fikih Terhadap Praktek Irigasi Sawah Di Desa Singgahan Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo, (Skripsi IAIN Ponorogo), 2016

(25)

Perjanjian adalah suatu pristiwa di mana satu pihak berjanji kepada pihak lain atau di mana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peristiwa ini, timbullah suatu hubungan antara dua pihak tersebut. Yang dinakan perikatan. Perjanjian itu melahirkan suatu perikatan antara dua pihak yang membuatnya. Dalam bentuknya, penjanjian itu berupa suatu rangkaian perikatan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.10

Akad adalah suatu perikatan yang ditetapkan dengan ucapan (shigat) ijab dan qabul berdasarkan ketentuan syra’ yang berdampak pada objeknya.

Oleh karenanya, semua transaksin yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak boleh menyimpang dengan ketentuan syari’at, tidak boleh ada kesepkatan untuk me nipu orang lain, dan tidak boleh melakukan transaksi barang-barang yang diharamkan. 11

Dalam setiap kegiatan ekonomi manusia membutuhkan suatu kesepakatan agar tidak ada pihak yang dirugikan. Dalam realitas kehidupan terdapat berbagai bentuk transaksi yang dijalankan dengan berbagai macam prosedur. Oleh karenanya, untuk menciptakan sebuah kesepakatan sebagai peraturan yang wajib dipatuhi, maka dibutuhkan adanya suatu perjanjian atau kontrak yang disebut sebagai akad. 12

2. Ijarah

1) Pengertian Ijarah

10 Mardan i, Hukum Perikatan Syariah di Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), hal.

6

11 Muhammad Harfin Zuhdi, Muqaranah Fiqh Mu’amalah, (Mataram: Sanabil Creative, 2017), hal. 37

12Ibid.,

(26)

Kata ijarah brasal dari kata ajara-ya’juru yang berarti upah yang kamu berikan dalam satu pekerjaan. Adapun ijarah secara terminologi adalah transaksi atas suatu manfaat yang mubah berupa barang tertentu atau yang dijelaskan sifatnya dalam tanggungan waktu tertentu atau yang dijelakan sifatnya dalam tanggungan waktu tertentu, atau transaksi atas suatu pekerjaan yang diketahui dengan upah.13

Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu dengan adanya pembayaran upah (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri.

Sedangkan menurut Malikiyah ijarahnama bagi akad-akad kemanfaatan yang bersifat manusiawi dan untuk sebagian yang dapat dipindahkan.14

Ijarah disyaratkan adanya ijab kabul untuk kesempurnaan ijarah, harus diketahui kegunaannya, pemanfaatan harus yang dibolehkan, dan harus diketahui upah sewa kerjanya. Karena ijarah merupakan akad pengupahan atau penggantian jasa, maka kedua belah pihak harus menentukan besar kecilnya menurut kesepakatan.15

2) Rukun ijarah

a) Pelaku akad, yaitu musta’jir atau penyewa adalah pihak yang menyewa.

b) Mu’jir atau muajir yang berarti pemilik adalah pihak pemilik yang menyewa.

13 Abdullah bin Muhammad Ath-Thyar dkk, Ensiklopedia Fiqih Muamalah dalam Pandangan 4 Mazhab, Terj. Miftahul Khair, (Yogyakarta: Maktabah al Hanif, 2014), hal. 311

14 Ru’fah Abdullah, Fiqih Muamalah (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), hal. 168

15 Helmi Karim, Fiqih Muamalah (Jakarta: PT. Grafindo Persada, 1997), hal. 35

(27)

c) Siqhat ijabkabul adalah lafaz sewa atau kuli dan yang berhubungan dengannya, serta lafaz (ungkapan) apa saja yang dapat menunjukkan hal tersebut dan bisa dikatakan persetujuan sewa-menyewa, hendaknya kalimat yang dipakai adalah kalimat yang biasa dipakai.

d) Ujrah (upah) adalah imbalan atau balas jasa atas sesuatu yang telah diambil manfaatnya dan pembayaran upah merupakn suatu kewajiban bagi orang yang menyewa atau mengupah.

e) Manfaat, adanya manfaat penyewaan adalah manfaat barang atau benda yang menjadi objek sewa.16

3) Syarat Ijarah

a) Al-inqad terjadinya akad, terjadinya akad, berkaitan dengan aqid, zat akad, dan tempat akad.

b) Mu’qud ‘alaih (barang sewa), adalah sesuatu dimana transaksi dilakukan diatasnya, sehingga terjadi implikasi hukum tertentu atau sesuatu yang dijadikan perjanjian dalam ijarah meliputi upah atau manfaat.

c) Siqhat (ijab kabul), adalah sah dengan lafal apapun atau dengan ucapan apapun itu mempunyai tujuan agar orang yang melakukan perjanjian dapat mengerti dan dapat mudah diapahami.

d) Pekasanaan (an-nafadz), yaitu barang harus memiliki oleh ‘aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad (ahliah).

16 Sayyid Sabiq, fiqih Sunnah 13,…11.

(28)

e) Kelaziman, terdiri atas dua hal yaitu mu’qud ‘alaih (barang sewaan) terhindar dari cacat dan tidak ada uzur yang dapat membatalkan akad.17 H. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian merupakan sebuah sistem metode dan prinsip- prinsip untuk melaksanakan sesuatu. Sebuah metodologi mengasumsikan urutan logis yang perlu diikuti oleh peneliti untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan. Definisi lain menyebutkan metode adalah sebuah proses yang mapan, kebiasaan, praktis logis, atau ditentukan atau sistematis untuk mencapai tujuan tertentu dengan akurasi dan efisiensi, biasanya dalam urutan langkah tetap. Metode penelitian menggabungkan dua aliran yaitu rasional yang mengutamakan penalaran, dan empiris yang mengutamakan pengalaman/observasi.18 Dalam penelitian skripsi ini, peneliti memaparkan prosedur atau langkah-langkah penelitian yang digunakan dalam pelaksanaan penelitian yang meliputi:

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah, yaitu peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan maknan dari pada generalisasi. Objek dalam penelitian kualitatif adalah objek yang alamiah, atau natural setting. Objek

17 Rachmat Syafe’I, Fiqih Muamalah (Bandung: CV Pustaka Setia, 2004), hal.125

18 Suryani, Hendryadi, Metodologi Penelitian Kuantitatif Teori dan Aplikasi Pada Penelitian Bidang Manajemen dan Ekonomi Islam, ( Jakarta: Prenadamedia group, 2018), hal. 40- 45

(29)

yang alamiah adalh objek yang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti.19

Alasan peneliti menggunkan penelitian kualitatif dikarenakan pokok masalah yang hendak diteliti merupakan suatu interaksi antara manusia satu dengan manusia yang lainnya secara alami. Adapun tujuan penggunaan jenis penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana sistem pengairan yang berkeadilan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa. Oleh karena itu, informasi yang diperoleh peneliti berupa kalimat-kalimat deskriptif dan perbuatan-perbuatan manusia itu sendiri.

2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini, peneliti terlibat langsung di lapangan dalam melakukan kegiatan observasi untuk mengamati secara langsung objek yang diteliti. Dalam hal ini, peneliti sebagai intrumen penting dan sekaligus sebagai pengumpul data melalui proses wawancara langsung untuk mendapatkan data yang cukup tentang sistem pengairan yang berkeadilan menurut hukum Islam di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa. Kehadiran peneliti dalam proses penelitian di lapangan sedapat mungkin dilaksanakan secara efektif dan efisien guna untuk mengumpulkan dan mendapatkan data-data yang dibutuhkan.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi yang dipilih oleh peneliti untuk melakukan penelitian sebagaimana telah disebutkan dalam judul adalah Desa Ngeru Kecamatan

19 Deni Ahmad, Metodologi Penelitian, ( Bandung: Cv Pustaka Setia, 2008), hal. 122

(30)

Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa, lokasi ini dipilih oleh peneliti karena masalah ini belum pernah dikaji sebelunya dan dampaknya dari masalah tersebut adalah timbulnya ketidakailan sehingga perlu ndapatkan kajian serius untuk menemukan jawaban dari perspektif hukum Islam. Sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian dan memudahkan untuk memperoleh data yang cukup dan relevan.

4. Sumber Data a. Sumber Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti hasil dari wawancara yang biasa dilakukan oleh peneliti. Responden dalam wawancara yang peneliti lakukan terdiri dari petani (10 orang), petugas pengairan (3 orang) dan pemerintah Desa Ngeru (1 orang). Misalnya produsen suatu produk kosmetik ingin mengetahui prilaku konsumen terhadap produk tersebut, maka diadakanlah wawancara atau pengisian kuesioner pada konsumennya.20Data primer dalam penelitian ini diperoleh langsung dari hasil wawanca ra dengan petugas pegairan, petani dan pejabat desa serta observasi terhadap praktik pengairan.

b. Data Sekunder

20 Husein Umar, Metodologi Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, (Jakarta Utara: PT Rajagrafindo Persada, 2011), hal. 42

(31)

Data sekunder merupakan data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, bukan merupakan data hasil riset sendiri untuk tujuan yang lain. Data sekunder penelitian ini yaitu dokumen desa yang berisi tentang data-data Desa Ngeru. Dalam penelitian ini peneliti sekedar mencatat, mengakses, atau meminta data tersebut ke pihak lain yang telah mengumpulkannya di lapangan. Peneliti hanya memanfaatkan data yang sudah ada untuk untuk penelitiannya. 21 5. Tehnik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan objek penelitian, maka penulis menggunakan motode penelitian lapangan. Dalam pengumpulan data dengan metode penelitian lapangan, penulis mengumpulkan data langsung dari Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa dengan bekerja sama dengan petani dan petugas pengairan yang telah melakukan perjanjian kerja sama.

a.Wawancara

Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara (pengumpul data) kepada informen dan jawaban-jawaban infirmen dicatat atau direkam dengan alat perekam (tape recorder). Teknik wawancara dapat digunakan pada informen yang buta huruf atau tidak terbiasa

21 Istijanto, Aplikasi Praktis Riset Pemasaran cara praktis meneliti konsumen dan peasaing, (Jakarta: Gramedika Pustaka Utama, 2009), hal. 38

(32)

membaca dan menulis, termasuk anak-anak. Wawancara juga dapat dilakukan dengan telepon. 22

Dalam pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan peneliti menggunakan jenis wawancara terpimpin, sebelum melakukan wawancara peneliti terlebih dahulu sudah menyiapkan daftar-daftar pertanyaaan lengkap dan terperinci yang akan diajuakan kepada informen.23 Dalam melakukan wawancara dengan dengan beberapa pihak yaitu pihak petani, petugas pengairan dan pemerintah Desa Ngeru, peneliti melakukan wawancara langsung dengan mengajukan beberapa pertanyaan terkait permasalahan pengairan yang terjadi di Desa Ngeru(Daftar pertanyaan sebagaimana terlampir).

Alasan peneliti menggunakan jenis wawancara terpimpin yaitu suapaya pertatanyaan yang akan peneliti ajaukan kepada informen terstrukur dan tidak melenceng ke pembahasan lain.

b. Observasi

Secara luas, observasi atau pengamatan berarti setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran. Akan tetapi, observasi atau pengamatan di sini diartikan lebih sempit yaitu pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan- pertanyaan.24

22 Irwan Soehartono, Metode Penelitian Sosial (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) hal. 67-68

23http://m.bola.com/ragam/read/435597/pengertian-dan-jenis-jenis-w, diakses pada tanggal 17 Januari 20121

24 Ibid, hal. 68

(33)

Berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam kegiatan-kegiatan orang yang diamati, Observasi dapat dibedakn menjadi:

a) Observasi partisipan, pengamat ikut serta dalam kegiatan- kegiatanyang dilakukan oleh subjek yang diteliti atau yang diamati, seolah-olah merupakan bagian dari mereka. Sementara pengamat terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan subjek penelitian, ia tetap waspada untuk mengamati kemunculan tingkah laku tertentu.25

b) Observasi tak partisipan, pengamat berada di luar subjek yang diamati dan tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Dengan demikian, pengamat akan lebih mudah mengamati kemunculan-kemunculan tingkah laku yang diharapkan.26

Observasi yang peneliti gunakan dalam penelitian ini yaitu observasi tak partisiaptif dikarenakan peneliti tidak terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan yang diteliti atau yang diamati. Pada penelitian ini peneliti memperoleh data deskriptif berupa kata-kata tertulis dan lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati.

Observasi tak partisipatif dilakukan dalam bentuk wawancara mendalam,dengantujuan agarpeneliti mendapatkan data deskriptif yang komprehensif dan lebih spesifik dari informan terkait sistem pengairan di Desa Ngeru.

25Ibid.,

26Ibid.,

(34)

c. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen yang diteliti dapat berupa berbagai macam, tidak hanya dokumen resmi. 27

Dokumen dapat dibedakan menjadi dua yaitu dokumen primer, jika dokumen ini ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa. Dan dokumen sekunder, jika peristiwa dilaporkan kepada orang lain yang selanjutnya ditulis oleh orang ini. Otobiografi adalah contoh dokumen primer dan biografi seseorang adalah contoh dokumen sekunder. 28

Dokumen dapat berupa buku harian, surat pribadi, laporan, notulen rapat, catatan kasus (case record) dalam pekerjaan sosial, dan dokumen lainnya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa dokumen- dokumen ini ditulis tidak untuk tujuan penelitian sehingga penggunaannya memerlukan kecermatan.29

Dokumentasi yang diperluan peneliti dalam penelitian ini adalah data desa, jumlah penduduk, jumlah lahan pertanian dan profile desa.

I. Sistematika Pembahasan

Penelitian ini akan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:

1. BAB I Pendahuluan

27Ibid, hal. 70

28 Ibid.,

29 Ibid, hal. 70-71

(35)

Pada BAB I berisi tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup atau setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.

2. BAB II

Pada BAB II berisi tentang pemaparan data dari hasil penelit ian lapangan. Pada bab ini terdiri atas gambaran lokasi penelitian, perskektif hukum Islam tentang sistem pengairan yang berkeadilan.

3. BAB III

Pada BAB III berisi tentang pandangan hukum Islam tentang sistem pengairan yang berkeadilan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.

4. BAB IV Penutup

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan dan saran dari materi yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya. Yang di mana kesimpulan merupakan ringkasan dari seluruh materi kajian.

Sedangkan saran merupakan pendapat atau usul dari peneliti yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang dikaji atau kemungkinan kajian lanjutan.

(36)

46 BAB II

GAMBARAN UMUM DESA NGERU, KECAMATAN MOYO HILIR, KABUPATEN SUMBAWA

A. Gambaran Umum Kondisi Desa Ngeru

Desa Ngeru merupakan salah satu desa dari 10 (sepuluh) desa yang berada di Kecamtan Moyo Hilir. Desa Ngeru memiliki luas 23,14 km yang terdiri dari ahan irigasi dengan luas 262 Ha, lahan tadah langit 250 Ha, dan lahan Tegalan dengan luas 14 Ha.30

Desa Ngeru sudah ada sejek zaman Kerajaan Gunung Galesa jauh sebelum bangsa Belanda masuk ke Indonesia, dengan nama Benteng Ulu yang diambil dari nama perkampungan keturunan Trah KEDATUAN GUNUNG GALESA (Moyo Hilir) yang dulunya menyebar sampai ke Benteng Ulu.31

Desa Ngeru memiliki jumlah penduduk yang sebagian besar bersuku Sumbawa. Selain Suku asli Sumbawa, penduduk Desa Ngeru sebagian kecil terdiri dari para pendatang seperti suku Sasak dan dan suku Mbojo yang menetap di Desa Ngeru karena menikah dengan warga Desa Ngeru dan juga datang untuk bekerja. Desa Ngeru terdiri dari 3 (tiga) dusun yaitu Dusun Benteng Ulu, Dusun Kali Jaga dan Dusun Batu Taning. 32

Desa Ngeru memiliki gedung pemerintahan sendiri yaitu kantor Desa Ngeru, di mana di gedung tersebut tempat berlangsungnya kegiatan

30 Dokumen, Desa Ngeru Moyo Hilir, 2020

31 Sejarah Desa Ngeru, diakses di fecebook Sejarah Tau Tana Samawa. Pada hari tanggal 23 Desember 2020, pukul 21.00

32 Observasi, Masyarakat Desa Ngeru Moyo Hilir, 3 Juli 2020

(37)

pemerintahan Desa Ngeru Desa Ngeru memiliki dua gedung sekolah yaitu SDN Ngeru yang di mana di SDN Ngeru terdapat TK satu atap dengan SDN Ngeru dan SMPN 3 Moyo Hilir. Selain gendung pemerintahan dan gedung sekolah di Desa Ngeru juga terdapat satu masjid dan satu mushollah sebagai tempat ibadah di Desa ini. Di desa ini juga terdapat pasar yang hanya ada pagi hari, di pasar ini menjual berbagai macam kebutuhan dapur masayarak Desa Ngeru khusunya ikan laut yang bawa oleh penjual ikan dari Desa Labuhan Ijuk. 33

B. Letak Geografis Desa Ngeru

Kondisi suatu wilayah sangat besar pengaruhnya terhadap berbagai segi, baik dari segi ekonomi, budaya, pendidian maupun dari segi sosial. Maka sama halnya desa Ngeru dengan berbagairagam kehidupan masyarakatnya tentu tida terlepas dari pengaruh wilayah di sekitarnya dan juga mempengaruhi adalah leta geografisnya.

Desa Ngeru merupakan daerah dataran rendah yang dikelilingi oleh pegunungan dan sebagian besar terdiri dari tanah sawah. Desa Ngeru terdiri dari tiga dusun yang jaraknya berdekatan. 34

Desa Ngeru merupakan salah satu desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Moyo Hilir yang telah memiliki kepala desa dan tiap-tiap dusun memliki kepala dusun. Secara geografis Desa Ngeru memilii wilayah seluas 23,14 km2 dengan batas-batas wilayah sebagai beriut:

1. Sebelah utara berbatasan dengan : Desa Batu Bangka

33 Observasi, Masyarakat Desa Ngeru Moyo Hilir, 3 Juli 2020

34Ibid.,

(38)

2. Sebalah selatan berbatasan dengan : Desa Kakiang 3. Sebalah timur berbatasan dengan : Desa Olat Rawa 4. Sebelah barat berbatasab dengan : Desa Berare35

Desa Ngeru memilii iklim tropis dengan curah hujan yang kurang baik.

Sehingga kebutuhan air petani terkadang tidak terpenuhi secarah penuh.

Pemanfaatan air irigasi merupakan upaya pemerintah dan petugas irigasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya petani.36

C. Keadaan Penduduk Desa Ngeru 1. Jumlah penduduk

Desa Ngeru terdiri dari 3 (tiga) dusun yaitu Dusun Benteng Ulu, Dusun Kali Jaga, dan Dusun Batu Taning. Adapun jumlah penduduk desa Ngeru yaitu 1.857 jiwa dengan 927 jiwa laki-laki dan 930 jiwa perempuan, dengan jumlah 583 kepala keluarga (KK).37

2. Keadaan Eonomi dan Agama

Mata pencaharian warga Desa Ngeru mayoritas sebagai petani yaitu 89%, dan sebagian terdiri dari pedagang, peternak, dan pengrajin gerabah. Selain dari mata pencaharian di atas penduduk Desa Ngeru juga sebagian kecil bekerja sebagai TKI/TKW. Pengolahan tanah di Desa Ngeru sebagian besar diperuntuhan untuk tanah pertanian sedangan

35 Dokumen, Desa Ngeru Moyo Hilir, 2020

36 Observasi, Masyarakat Desa Ngeru moyo Hilir, 3 Juli 20

37Ibid.,

(39)

sisanya untuk tanah kering yang merupakan bangunan dan fasilitas- fasilitas lainnya.38

Dari segi keagamaan, masyarakat Desa Ngeru seluruhnya memeluk agama Islam. Di Desa Ngeru memiliki satu masjid dan satu mushola yang digunakan untuk sholat berjamaah, pengajian dan sholat jum’at, acara maulid nabi, isra’ mi’raj, nuzulul quran dan kegiatan keagamaan lainnya.39 3. Swadaya Masyarakat, adat istiadat dan kearifan lokal

Swadaya masyarakat dalam bergotong royong dalam segala hal masih tetap lestari sebagai salah satu kearifan lokal masyaraat Desa Ngeru, hal ini terbukti dari keatifan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan seperti:

a. Gotong royong dalam kegiatann pembangunan masjid b. Renovasi rumah panggung warga

c. Gotong royong membersihkan jalan

d. Gotong menyiapkan kursi untuk masyarakat yang mengadakan hajatan40

D. Praktik Pengairan di Desa Ngeru, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa

1. Sistem Akad Pengairan di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir

Sistem akad yang digunakan oleh petani dan petugas pengairan Desa Ngeru dalam pengairan sawah di Desa Ngeru Kecamatan Moyo Hilir yaitu akad perjanjian yang dibuat secara lisan dan saling percaya satu sama lain tanpa ada paksaan, karena petani sangat membutuhkan pengairan untuk

38Ibid.,

39Ibid.,

40Ibid.,

(40)

kelangsungan hidup tanamannya yang dibantu oleh petugas irigasi.

Sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan pihak petani dan perugas irigasi. 41

Proses lahirnya akad atau perjanjian antara petani dan petugas irigasi, yaitu hanya dilakukan satu kali saja diawal sebelum memasuki masa tanam padi yang dimulai dengan pertemuan antara petani, petugas irigasi dan pemerintah desa untuk bersama-sama membahas begaimana bentuk kerjasama antara kedua belah pihak. Untuk petani dikenakan membayar iuran berupa padi kepada petugas irigasi sebesar 1 kaleng/blekbesar ukuran 20 liter yang dibayar setalah selesai panen. 42

Dari data yang peneliti temukan bahwa dalam pertemuan tersebutlah terjadi akad kesepakatan bersama. Di mana dalam pertemuan tersebut dijelaskan hak dan kewajiaban kedua belah pihak. Setelah mendapatkan persetujuan kedua belah pihak akan menjalankan tugas dan kewajiban berdasarkan apa yang telah disepakati bersama pada awal perjanjian.43

Isi perjanjian yang diucapkan oleh petugas pengairan dan petani dalam pertemuan perjanjian kerja sama dalam bidang pengairan di Desa Ngeru sebagai berikut:

Petuga pengairan mengatakan:

“Dalam pertemuan ta tu bahas mengenai ya sistem ke tugas tu masing-masing dalam kegiatan pengairan uma ta. Kita selaku pertugas pengairan ta berkewajiban tu iring ai sampe tama dalam uma petani ta, trus petani berkewajiban beang iuran lako petugas setiap jura panen na. loe iuran nn sebelek gaba sopo anggota”.

41 Observasi, Masyarakat Desa Ngeru moyo Hilir, 3 Juli 2020

42 Observasi, masyarakat Desa Ngeru Moyo Hilir, 3 Juli 2020

43Ibid.,

(41)

Artinya:

“Dalam pertemuan ini kita membahas mengenai sistem dan tugas yang akan dilakuka oleh masing-masing pihak dalam kegiatan pengeiran air sawah. Kita selaku petugas pengairan berkewajiban mengiring air hingga sampai ke sawah petani, kemudian petani berkewajiban memberikan iutran kepada petugas pengiaran sebesar 1 blek setelah selesai panen”.

Petani mengatakan:

“Kita para petani ta kamo tu rembuk masalah sistem ke tugas nn sesuai ke de ka ya jelaskan leng petugas ita nan. Kita tu setujui si apa de ka ya sampaikan ita nan, apa kita tu merasa terbantu ke ada ai irigasi ta”.

Artinya”

“Kita para petani sudah mendisusikan prihal sistem dan tugas tugas yang telah disampaikan oleh petugas tadi. Kita menyetujui apa yang telah disapaikan tadi, karena kita para petani merasa terbantu dengan adanya air irigasi ini”.

Dari pihak petani peneliti mewancarai bapak Mukhlis, beliau mengatakan:

“Perjanjian de ka tu sepakati ke tau irigasi nn e, perjanjian de ka tu kerante berema, jadi ne perjanjian antara kita petani ke petugas irigasi nn nongka perjanjian tertulis, sebab ne tu saling percaya si, ke ampo ne kam tu kerante apa ya boat masing-masing kita baik kita petani maupun tau irigasi ana. Dalam perjanjian de ka tu sepakati ta nonda de merasa kepaksa sebab kamo tu saling sepakat.”

Artinya:

“Perjajian yang telah kami sepakati dengan petugas irigasi, yaitu perjanjian yang telah dibicarakan bersama, jadi perjanjian antara pihak petani dengan petugas irigasi bukan perjanian tertilis, sebab sudah saling percaya, dan sudah dibicarakan apa saja tugas dari masing-masing pihak, baik pihak petani maupun petugas irgasi.

Dalam perjanjian yang sudah disepakati tersebut tidak ada yang merasa terpaksa sebab sudah disepakati bersama.”44

44 Mukhlis, Petani Desa Ngeru, wawancara, Ngeru Moyo Hilir, 22 Juli 2020

(42)

Selanjutnya peneliti mewancarai bapak Agus, beliau mengatakan:

“Dalam perjanjian de ka tu pina ke petugas irigasi nan perjanjian secara lisan bae, karena kao tu saling sadu. Kita sebagai petani tu percaya sepenuhnya ke petugas irigasi untuk senatang ai lako uma kami”.

Artinya:

“Dalam perjanjian yang telah disepakati dengan petugas irigasi adalah perjanjian secara lisan saja, karena sudah saling percaya.

Kita sebagai petani telah percaya sepenuhnya kepada petugas irigasi untuk mendatangkan air ke lahan sawah kami”.

Selanjutnya dari pihak petugas irigasi peneliti mewancarai yaitu bapak Ahmad, beliau mengatakan:

“Perjanjian de ka tu sepakati berema ke pihak petani nn perjanjian de ka tu kerante berema, nonda perjanjian tertulis singin nn. Sebab kamo tu saling percaya ke ketentuan-ketentuan kerja de kan tu sepakati berema.”

Artinya:

“Perjanjian yang telah disepakati dengan pihak petani merupakan perjanjian yang telah dibicarakan bersama, tidak ada perjanjian tertulis. Sebab sudah saling percaya dengan ketentuan-ketentuan kerja yang telah disepakati bersama.”

Dalam perjanjian kerja yang dikakan oleh petugas irigasi dan para petani di Desa Ngeru sudah jelas yaitu perjanjian secara lisan yang dilakukan di awal adannya saluran irigasi masuk ke Desa Ngeru. Yang di mana perjanjian tersebut telah disepakati oleh masing-masing pihak yang terlibat di dalam kerjasama pengairan.

Sighat atau ijab abul merupakan kalimat-kalimat penjelasan yang keluar dari salah satu pihak yang melakukan akad atau perjanjian sebagai gambaran tujuan dari akad yang yang dilakukan, sedangkan kabul adalah

(43)

perkataan yang keluar dari pihak yang berakad setelah mengucapkan ijab.

Ijab kabul ini merupakan indiasi adanya sua sama suka tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.

2. Latar Belakang terjadinya praktik pengairan sawah menggunaan air irgasi di Desa Ngeru

Seperti yang telah dietahui bahwa dengan semakin berkembangnya zaman, segala kebutuhan hidup semakin banyak sehingga keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut semakin tinggi, seperti halnya masyarakat Desa Ngeru yang sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai petani.

Hasil pertanian utama di Desa Ngeru yaitu padi, jagung, dan kacang hijau.

Pekerjaan sebagai petani tentunya tidak lepas dari sumber air yang cukup dan baik untuk mengairi lahan sawahnya khususnya pada tanaman padi sehingga menghasilkan hasil panen yang baik pula. Berbicara masalah air di sini penulis membahas tentang sistem pengairan yang petani gunakan untuk mengairi lahan sawahnya.

Berdasarkan data yang peneliti peroleh bahwa wilayah Desa Ngeru memiliki lahan pertanian yang menggunakan air irigasi seluas 262 Ha.

Dilihat secara garis besar tujuan irigasi yaitu untuk membasahi tanah berkaitan dengan kapasitas kandungan air dan udara dalam tanah sehingga tercapainya suatu kondisi yang sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan tanaman yang ada di tanah tersebut.45

45 Dokumen, Desa NgeruMoyo Hilir, 2020

(44)

Berdasaran pemaparan petani pada awalnya masyaraat Desa Ngeru hanya mengandalkan air hujan untuk mengairi lahannya. Seiring perkembangan zaman dan curah hujan yang tidak menentu dan cenderung kurang meski udah memasuki musim penghujan sehinnga sebagian besar petani memanfaatkan air irigasi untuk mengairi air ke lahannya. masyarakat Desa Ngeru mulai menggunakan air irigasi untuk mengairi lahan sawahnya dimulai sejak tahun 1992 sampai sekarang dan telah melakukan penggantian petugas irigasi beberapa kali. 46

Praktik pengairan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Ngeru yaitu pengairan air sawah dengan menggunakan air dari saluran irigasi yang bersumber dari bendungan utama yaitu Bendungan Mamak yang kemudian dialikan ke saluran irigasi utama yang disebut dengan Lapan Rea dan selanjutnya dialirkan ke saluran irigasi yang mejuru ke sawah petani. Akad perjanjian yang dibuat oleh petani dan petugas irigasi yaitu akad perjanjian secara lisan atas dasar saling percaya, yang di mana dalam perjanjian tersebut telah disebutkan tugas dari masing-masing pihak yang terlibat dalam kegiatan pengairan sawah. Pihak-pihak yang disebutkan di sini yaitu petani dan petugas irigasi, petugas irigasi memliki tugas untuk mengaliri air dari saluran utama sehingga sampai ke lahan sawah petani, dan petani juga memiliki kewajiban untuk membayar iuran kepada petugas irigasi sebagai upah yang diberikan petani kepada petugas irigasi atas jasanya mengelola

46 Agus, Petani Desa Ngeru, Wawancara, Ngeru Moyo Hilir, 5 Juli 2020

(45)

air irigasi yang diberikan setelah panen berdasarkan jumlah yang telah disepakati pada awal perjanjian.47

Sistem irigasi yang digunakan oleh masyarakat Desa Ngeru yaitu menggunakan sistem pengupahan setelah panen yang di mana petani mengeluarkan iuran wajib kepada petugas irigasi. Besaran iuran yang dikeluarkan oleh petani untuk diberikan kepada petugas pengairan berdasrkan kesepakatan yang telah di buat pada awal perjanjian antara petani dengan petugas irigasi (malar). Dalam perjanjian yang telah dibuat antara kedua belah pihak yaitu petugas pengairan akan mendapatkan sebagian hasil kerjasama dalam proses pengairan berdasrkan jumlah yang telah disepakati bersama di awal perjanjian. Dalam perjanjian kerja sama antara petani dengan petugas pengairan sebelumnya telah disepakati mengenai bagaimana kerja sama dan apa saja hak dan kewajiban dari kedua belah pihak serta jumlah bagi hasil yang akan didapatkan oleh petugas irigasi (malar). Dalam perjanjian tersebut petugas irigasi (malar) bertugas untuk menyediakan air ke saluran irigasi dari saluran utama sehingga petani dengan mudah mendapatkan air untuk mengairi lahan sawahnya.

Dalam perjanjian tersebut tidak hanya petugas pengairan yang memiliki kewajiaban, petani juga memiliki kewajiaban untuk membanyar iuran kepada petugas irigasi setelah lahannya sudah dialiri air secara merata oleh petugas irigasi pada saat setelah panen. 48

47 Observasi, Masyarakat Desa Ngeru moyo Hilir, 3 Juli 2020

48Ibid.,

(46)

Dalam perjanjian yang melibatkan petani dan petugas irigasi ini tentunya kedua belah pihak telah siap menerima untung dan ruginya karena dalam setiap pekerjaan apa pun pasti akan ada untung dan ruginya.

Tentunya hal ini sudah dibicarakan pada awal perjanjian prihal adanya hal- hal yang tidak diinginkan oleh kedua belah pihak. Petani duharapkan segera melapor ke putugas irigasi jika ada hal-hal yang tidak semestinya terjadi dan petugas irigasi akan selalu siap menerima keluhan dari para petani mengenai pelayanan jasa maupun jalannya air yang tidak sesuai dan mencari jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh petani mengenai air irigasi.49

Berdasarkan penuturan ibu Wahida selaku petani Desa Ngeru yang menggunaan air irigasi untuk mengairi lahannya, beliau mengatakan:

“Loe iuran de ya seles leng petani lako petugas irigasi nan e gaba sopo belik rea ukuran 20 liter de biasa roa isi minyak lagi nn, iuran nan tu beang lako petugas irigasi ne jura begaba.”

Artinya:

“Jumlah iuran yang dikeluarkan oleh petani yang diberikan ke petugas pengairan yaitu berupa padi satu blek/kaleng besar ukuran 20 liter yang biasa gunakan untuk minyak goreng, iuran tersebut diberikan ke petugas irigasi setalah panen.”50

Menurut data yang diperoleh dari lapangan atau dilansir dari data desa bahwa jumlah keseluruhan pemilik lahan sawah yang menggunakan air irigasi untuk mengairi lahan sawahnya yaitu 223 orang yang terbagi ke dalam tiga wilayah P3A yaitu P3A Sabalong dengan jumlah anggota 50

49 Observasi, Masyarakat Desa Ngeru moyo Hilir, 3 Juli 2020

50 Wahida, Petani Desa Ngeru, Wawancara, Ngeru Moyo Hilir, 5 Juli 2020

(47)

orang, P3A Galak Jango dengan jumlah anggota 75 orang dan P3A Unter Reban dengan jumlah anggota 98 orang dan jumlah petugas irigasi (malar) yaitu 4 orang tsetiap P3A. 51Peneliti hanya mengambil 8 orang petani sebagai semple, yang di mana orang tersebut mempunyai luas lahan sawah yang berbeda-beda. Namun jumlah iuran yang harus dikeluaran oleh masing-masing petani sama, meskipun jumlah lahan sawah yang berbeda- beda. 52

Di lapangan penulis melakukan wawancara dengan petani tentang pratik pengairan di Desa Ngeru, Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa yang meliputi:

Pertama ibu Eliyah mengatakan bahwa:

“Sebenarnya sangat tu terbantu ke ada saluran irigasi de ada to ta karna dapat ya mudahkan kita sebagai petani de ada uma dalam irigasi ta. Jadi nom tu susa lalo ke ai kenang tu air pade tu. Tentunya nyaman benar ada ai irigasi de belangan ta selama nosoda tau sate kemaeng mesa na.”

Artinya:

“Sebenarnya kita sebagai petani terbantu sekali dengan adanya saluran irigasi yang ada sekarang karena dapat memudahkan para petani yang memliki lahan sawah lingkungan irigasi. Sehingga kita para petani tidak terlalu memusingkan air untuk mengairi tanaman padi. Tentunya sangat dimudahkan dengan adanya air irigasi yang masuk selama tidak ada pihak yang ingin menguasai air secara sepihak.” 53

Petani sangat terbantu dengan adanya saluran irigasi yang ada sekarang. Dengan adanya saluran irigasi petani tidak lagi memusingkan air untuk mengairi lahan sawahnya, karena sudah ada air dari saluran irigasi.

51 Adam, Staf Desa Ngeru, Wawancara, Ngeru Moyo Hilir, 3 Juli 2020

53 Eliya, Petani Desa Ngeru, Wawancara, Ngeru Moyo Hilir, 5 Juli 2020

(48)

Adanya air irigasi yang digunakan oleh petani di Desa Ngeru tidak selamanya berjalan dengan sebagaimana mestinya dikarenakan adanya hal- hal diluar dugaan seperti adanya beberapa petani yang ingin menguasai air secara sepihak untuk kepentingan pribadi yang bebepa kali terjadi sehingga menyebabkan bebepa petani lain tidak kebagian air. Adanya peristiwa seacam ini, tentunya merugikan petani lain, dan diperlukan adanya kebijakan dari petugas irigasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Kedua ibu Fitriati mengatakan:

“Roa benar ai nn no tama dalam uma kaku, kaleng pade ku no bau dapat kaleng ne nobau beranak bedadi balong.”

Artinya:

“Seringkali air tidak masuk dalam lahan sawah saya, sehingga tanaman padi saya tidak dapat tumbuh dan berembang secara baik.”54

Adanya permasalahan air tidak masuk ke lahan sawah petani ini sangatlah merugikan pihak petani yang tidak mendapatkan air sesuai dengan haknya, namun di sisi lain keterlabatan air ini tidak semata-mata kesalahan atau kelalaian dari petugas irigasi, akan tetapi debit air yang tidak menentu dari bendungan utama juga sangat mempengaruhi jumlah air yang masuk ke lahan sawah petani dan air yang berasal dari bendungan utama tidak hanya untuk satu desa melainkan untuk beberpa desa sehingga diperlukan kesabaran dan kerjasama yang baik dari masing-masing pihak.

Ketiga ibu Mastiawan mengatakan:

54 Fitriati, Petani Desa Ngeru, Wawacara, Ngeru Moyo Hilir, 5 Juli 2020

(49)

“Roa benar uma kaku no dapat ai kaleng lapan irigasi nn, meskipun kam eneng kami uang len selen ke iuran wajib nn, padahal kam jangi kami lok ya tama mo ai dalam uma kami, tapi tetap si nonda tama kele kam tu beang uang ka ya eneng kami nn.”

Artinya:

“ seringkali lahan sawah saya tidak kebagian air dri saluran irigasi, meskipun petugas irigasi telah meminta uang tambahan di luar iuran wajib, padahal telah dijanjiakan air irigasi akan dialirkan ke sawah kami, namun tetap saja tidak ada air yang masuk meskipun kami telah berikan uang yang diminta tersebut.”55

Adanya keterlambatan air yang masuk ke lahan sawah petani disebabkan oleh debit air dalam jumlah yang kecil sehingga air yang biasanya berlimpah jadi berkurang karena harus dibagi secara rata ke setiap lahan sawah petani dan adanya biaya tambahan yang dikeluarkan oleh beberapa petani agar lahan sawahnya mendapatkan air sangatlah disayangkan, sebab mengalirkan air dari saluran irigasi menuju lahan sawah petani merupakan tugas dari petugas irigasi karena pada awal perjanjian telah dibahas dan disepakati apa saja hak dan kewajiban masing pihak yang terlibat dalam kerja sama tersebut.

Keempat, bapak Ridwan mengatakan:

“Roa benar noku pato ai uma ku boe, padahal kam lempo-lempo ai na kaleng ai lapan irigasi ana.”

Artinya:

“seringkali lahan sawah saya kecolongan air, meskipun lahan sawahnya sudah terisi penuh oleh air dari saluran irigasi.”56

Adanya kejadian kecolongan air yang dialami oleh beberpa petani ini harus ada sanksi tegas dari petugas irigasi agar oknum petani yang sering

55 Mastiawan, petani Desa Ngeru,Wawancar, Ngeru Moyo Hilir, 5 Juli 2020

56 Ridwan, Petani Desa Ngeru, Wawancara, Ngeru Moyo Hilir, 5 Juli 2020

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hal tersebut, dilakukan evaluasi peresepan kasus pediatri di bangsal anak Rumah Sakit Bethesda yang menerima resep racikan dalam periode Juli 2007,

Hal tersebut sesuai penelitian yang dilakukan oleh Lalla (2012) yang berjudul Adopsi Petani Padi Sawah terhadap Sistem Tanam Jajar Legowo 2:1 Di Kecamatan Polongbangkeng Utara,