(Penelitian Di Ma’had Sulaimaniyah Bekasi)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
CHOZALI HASAN (12518.4623)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SABILI BANDUNG
2022
I ABSTRAKSI
CHOZALI HASAN (2022), PENGARUH METODE TURKI UTSMANI DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGHAFAL AL-QURAN DI MA’HAD SULAIMANIYAH BEKASI
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya semangat santri dalam proses menghafal Al Qur’an (Tahfidzul Qur’an). Yang disebabkan oleh kurangnya semangat dan kurangnya pemahaman terhadap isi kandungan Al Qur’an. Melalui penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti program menghafal Al Qur’an dengan metode turki utsmani. Yang merupakan langkah awal untuk menghilangkan kebosanan dalam menghafal Al Qur’an secara keseluruhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses menghafal yang biasa dilakukan santri agar santri mendapatkan cara mudah untuk menghafal Al Qur’an dengan metode acak disertai dengan pemahaman artinya sehingga bisa mendapatkan pemahaman bacaan Al Qur’an sedikit demi sedikit, yang akhirnya faham keseluruhan.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, karena metode ini dianggap cocok untuk menggali, mengungkap, serta menganalisis yang terjadi pada waktu sekarang. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap santri dan para asatizd.
Menghafal Al Qur’an merupakan aktifitas sehari-hari bagi santri Ma’had Sulaimaniyah Bekasi. Dalam penerapannya cara menghafal yang dilakukan sesuai dengan metode yang sudah dipraktekan di ma’had. Adapun untuk menghafal dengan pemahaman arti ayat telah diterapkan oleh para santri namun belum keseluruhan.
Berdasarkan hasil analisis bahwa program menghafal dengan menggunakan metode turki utsmani di Ma’had Sulaimaniyah menunjukan kategori baik, hal ini dibuktikan dengan hasil wawancara maupun pengamatan peneliti bahwa tidak ada respon negatif dari objek penelitian.
II
LEMBAR PENGESAHAN
Judul : “Pengaruh Metode Turki Utsmani Dalam Meningkatkan
Kemampuan Menghafal Al-Quran Di Ma’had Sulaimaniyah Bekasi”
Nama : Chozali Hasan NPM : 12518.4623
Prodi : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Menyetujui,
Pembimbing I Pembimbing II
(Dr. Dadang Suhairi, SE., M.M ) (Sofyan Puji Pranata, S.Pd.I., M.Ag.)
III
LEMBAR PERNYATAAN Saya yang betanda tangan dibawah ini,
Nama : Chozali Hasan
NIM : 12518.4623
Jurusan / prodi : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi :“Pengaruh Metode Turki Utsmani Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran Di Ma’had Sulaimaniyah Bekasi”
Dosen Pembimbing : Dadang Suhairi, SE. MM.
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 (S1) di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sabili Bandung.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sabili Bandung.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sabili Bandung.
Bekasi , 02 juni 2022
Chozali hasan NIM : 12518.4623
IV
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan segala kenikmatan yang bila lautan dijadikan tinta untuk menuliskan kenikmatan tersebut, niscaya akan habis sebelum semua kenikmatan itu tertulis.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada nabi Muhammad SAW, sang penegak dakwah beserta keluarganya, para sahabatnya, dan juga umatnya yang berpegang teguh kepada risalahnya.
Alhamdulillah, Penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Metode Turki Utsmani Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Quran Di Ma’had Sulaimaniyah Bekasi” ini dapat terwujud, semua ini tidak lepas dari berbagai macam bantuan, motivasi serta bimbingan dari berbagai pihak. Dengan penuh kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Bapak Dr. Dadang Suhairi, SE, MM.selaku ketua Yayasan
2. Bapak Yus Hermansyah,S.Pd,i M.Si selaku ketua STAI Sabili Bandung 3. Bapak Dr. Cecep Wahyu Hoerudin, M.Pd selaku Wakil Ketua 1
Bid.akademik
4. Bapak Sofyan Puji Pranata, M.Ag. selaku dosen pembimbing
5. Seluruh staff karyawan dan seluruh dosen khususnya jurusan tarbiyah program studi pendidikan agama islam STAI SABILI BANDUNG
6. Kepada kedua orang tua saya, ayah dan omak yang telah mendidik, mendo’akan dan selalu menguatkan serta memotivasi dalam proses belajar 7. Kepada Al ustadz Drs.H.Maralutan siregar selaku ketua yayasan ponpes
Zakiyun Najah yang selalu mendoakan kesuksesan untuk kami semua 8. Kepada teman teman mengajar,dan para asatidz yang telah memberikan
semangat kepada saya
9. Kepada Abah dan Akak Saya yang telah ikut membimbing sekaligus memberikan saya semangat dan mendoakan saya dalam proses pembuatan skripsi saya
V
10. Kepada Adik-Adik saya yang telah memberikan saya semangat berjuang kepada saya
11. Kepada seluruh santri santri saya yang selalu menguatkan diri untuk selalu semangat
12. Semua pihak yang membantu dalam penayusunan skripsi ini
Penulis berdo’a, semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan dengan pahala yang tiada hingga.
Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari masih kekurangan yang perlu di sempurnakan. Untuk itu kritik dan saran senantiasa diharapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya skripsi ini penulis persembahkan kepada almamater dan masyarakat pada umumnya,semoga dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Bekasi, Juni 2022 Penulis
VI DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ... I LEMBAR PENGESAHAN ...II
LEMBAR PERNYATAAN………...III KATA PENGANTAR ………...………..…IV
DAFTAR ISI ...VI
BAB I. PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang...1
B. Identifikasi Masalah ...4
C. Rumusan Masalah ... 4
D. Tujuan Penelitian ...4
E. Manfaat Penelitian ……...5
F. Penelitian yang Relevan……….5
G. Hipotesis………..6
BAB II. LANDASAN TEORI ...6
A. Metode Turki Usmani ……….………..7
B. Menghafal Al-Qur’an……...9
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN... 58
A. Metode Penelitian dan Jenis Penelitian... 58
B. Lokasi Penelitian ... 58
C. Data dan Sumber Data... 57
D. Teknik Pengumpulan Data ... 57
E. Populasi dan Sampel ………... 57
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 59
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 59
B. Paparan dan Analisis Data ... 62
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 64
A. Kesimpulan ... 64
B. Saran ... 64
C. Daftar Pustaka ... 65
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Al Qur’an adalah kalam Allah yang mengandung mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat jibril yang tertulis pada mushaf yang diriwayatkan kepada kita secara mutawatir, dinilai ibadah bagi yang membacanya, yang dimulai dari surah Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas. Al Qur’an merupakan kalamullah yang diturunkan dengan bahasa arab, yaitu satu-satunya bahasa yang terjaga dengan baik. Hal ini semata-mata karena Allah SWT lah yang menjaga Al-Qur’an. Allah berfirman:
َنوُظِفاَحَل ُهَل اَّنِإ َو َرْكِ ذلا اَنْل َّزَن ُنْحَن اَّنِإ
“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya kami benar-benar menjaganya” (Q.S Al Hijr :9)1
Al Qur’an merupakan kitab suci. Dalam arti kitab yang pasti benar, baik dan indah. Tentu sangat tepat dijadikan sebagai pedoman untuk hidup penuh cahaya Allah SWT, cahaya kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Allah SWT berfirman:“Alif, laam, raa. (Ini adalah) kitab yang kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (Q.S Ibrahim :1)2
Allah SWT menurunkan Al Qur’an sebagai nasihat, obat, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang beriman. Allah SWT berfirman:
ِش َو ْمُكِ ب َر ْنِم ٌةَظِع ْوَم ْمُكْتَءاَج ْدَق ُساَّنلا اَهُّيَأ اَي
ٌ َنيِنِم ْؤُمْلِل ٌةَمْح َر َو ىًدُه َو ِروُدُّصلا يِف اَمِل ءاَف
1Q.S Al Hijr :9
2Q.S Ibrahim :1
“Hai manusia telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S Yunus :57)3
Allah SWT menurunkan Al Qur’an untuk membimbing manusia menuju jalan keselamatan , mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya petunjuk. Allah SWT berfirman yang artinya:
“…Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (Q.S Al-Ma’idah :15-16)4
Allah SWT menjaga kemurnian Al Qur’an salah satunya dengan menjadikan para hafidz hafidzah bertebaran di muka bumi. Para huffadz (penghafal) adalah orang-orang yang mulia, sebagaimana yang tercantum pada hadits:
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)5
Maka amalan menghafal Al Qur’an adalah sebaik-baik amalan yang patut dilaksanakan oleh umat Islam, untuk mendapatkan derajat sesuai hadits tersebut.
3Q.S Yunus :57
4Q.S Al-Ma’idah :15-16
5HR. Bukhari: 4640
Namun pada faktanya, banyak orang yang tidak sanggup menekuni amalan ini, padahal Allah SWT sudah memberi janji kemudahan.
Kemudahan itu terdapat pada pemahaman ayat-ayat Al Qur’an itu sendiri.
Hal ini dapat kita lihat pada firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al- Qomar ayat 17, 22, 32, 40. Allah SWT berfirman:
َف ِرْكِ ذلِل َنآ ْرُقْلا اَنرَّسَي ْدَقَل َو رِكَّدُم ْنِم ْلَه
“Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?.”6
Menghafalkan Al Qur’an suatu perbuatan yang sangat mulia dan terpuji.
Sebab orang yang menghafalkan Al Qur’an merupakan salah satu hamba yang Ahlullah dimuka bumi. Itulah sebabnya, tidak mudah dalam menghafalkan Al Qur’an. Seseorang yang ingin menghafalkan Al Qur’an hendaknya membaca Al Qur’an dengan benar terlebih dahulu dan dianjurkan agar sang penghafal lebih dahulu lancar dalam membaca Al Qur’an. Sebab kelancaran saat membacanya niscaya akan cepat dalam menghafalkan Al Qur’an. Seseorang yang sudah lancar membaca Al Qur’an pasti sudah tidak asing lagi dengan keberadaan ayat-ayat Al Qur’an.
Sekarang ini kesadaran umat Islam untuk menghafal Al Qur’an semakin besar. Buktinya, banyak dijumpai pondok-pondok yang di dalamnya mengajarkan program tahfidẓ atau hafalan Al Qur’an. Disamping itu banyak sekali para penghafal yang sering mengalami kebosanan ketika menghafal, ketika mereka bertemu juz-juz yang agak sulit sering kali membuat para penghafal futur. Itu semua dikarenakan kurangnya pemahaman arti dalam menghafal Al Qur’an.
Sangat dianjurkan bagi para penghafal ketika ia menghafal harus memahami artinya terlebih dahulu. Karena dengan pemahaman arti itulah kita lebih mudah dalam menghafal.
6Q.S Al-Qomar: 17, 22, 32, 40
Banyak informasi yang masuk serba cepat pada diri santri dan menuntut ulama untuk memikirkan dan menciptakan metode yang tepat untuk mengajarkan Al Qur’an dengan baik dan benar dalam waktu yang singkat. Untuk itu, sangatlah penting penulis untuk mengkaji penerapan metode yang paling tepat dalam menghafal Al Qur’an. Menghafal Al Qur’an memerlukan sebuah metode agar menghafal Al Qur’an berjalan dengan efektif. Diantara metode tersebut adalah metode Turki Utsmani. Dan yang lebih menguatkan mengapa penulis memilih metode Turki Utsmani dalam penelitian ini dikarenakan pengamatan yang penulis lakukan kepada para santri Ma’had Sulaimaniyah Bekasi berkaitan dengan kualitas menghafal Al Qur’an dengan metode Turki Utsmani dibanding dengan menggunakan metode yang lain, jauh sekali perbedaannya. Atas dasar fenomena tersebut, mendorong peneliti sangat tertarik untuk mengadakan penelitian lebih lanjut melalui skripsi yang berjudul: “Pengaruh Metode Turki Utsmani Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Terhadap Santri Ma’had Sulaimaniyah Bekasi”
B. Identifikasi Masalah
Dari beberapa uraian yang dikemukakan pada latar belakang, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :
1. Banyaknya penghafal al-qur’an yang mengalami kebosanan ketika menghafal al-qur’an
2. Banyaknya santri yang mengalami kesulitan dalam menghafal alquran 3. Keefektifan penggunaan metode turki utsmani dalam menghafal alquran C. Rumusan Masalah
1. Bagaimana efektivitas metode turki utsmani dalam menghafal alquran?
2. Adakah pengaruh metode turki utsmani dalam menghafal alquran?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka peneliti menentukan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mencari efektivitas metode turki utsmani dalam mengahafal alquran
2. Untuk mengetahui pengaruh metode turki utsmani dalam mengahafal alquran
E. Manfaat Penelitian
Merujuk tujuan penelitian diatas, maka peneliti berharap bahwa penelitian ini dapat memberikan dua manfaat, yaitu:
1. Dapat menjadi khazanah pengetahuan peneliti dan pembaca tentang pengaruh metode utsmani dalam mengahafal alquran
2. Dapat menjadi landasan referensi bagi peneliti mendatang serta menjadi bahan referensi di perpustakaan khususnya tentang pengaruh metode utsmani dalam mengahafal alquran
F. PENELITIAN YANG RELAVAN
Beberapa penelitian yang relavan dalam penelitian ini adalah:
1. Siti Syarifah, tahun 2017 dalam skripsi yang berjudul “Pengaruh Metode Turki Utsmani Terhadap Kecepatan Menghafal Alqur’an pada Santri Dauroh Ma’had Daarul Qur’an Al-Istiqomah.” Hasil dari penelitian beliau adalah menunujukkan kategari baik yang dibuktikan dengan hasil angket, wawancara maupun pengamatan. Dengan demikian terdapat perbedaan dan persamaan antara penelitian tersebut dengan penelitian peneliti. Persamaannya adalah pada variabel X dan variabel Y. Sedangkan perbedaannya adalah penelitian tersebut menggunakan metode kuantitatif deskriptif sedangkan peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif.
2. Khoirul Walid, tahun 2021 dalam skripsi yang berjudul “ Hubungan Pendidikan Formal dan Motivasi dalam Menghafal Alqur’an Siswa Kelas X IPA 1 SMA-IT BAITUSSALAM PRAMBANAN. Hasil dari penelitian beliau adalah menunujukkan kategori baik yang dibuktikan dengan hasil wawancara maupun pengamatan. Dengan demikian terdapat perbedaan dan persamaan antara penelitian tersebut dengan
penelitian peneliti. Persamaannya adalah pada variabel Y.
Perbedaannya adalah terdapat pada variabel X.
G. Hipotesis
Hipotesis adalah sebuah dugaan yang bersifat sementara. Bisa benar, bisa juga tidak benar. Karena itu, hipotesis harus dibuktikan dengan pernyataan yang valid serta didukung dengan data-data yang akurat. Pembuktian yang ingin dicapai oleh hipotesis adalah sebagai upaya untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan sebelumnya7. Atas dasar itulah peneliti melihat bahwa hipotesis dari penelitian ini adalah adanya pengaruh metode turki utsmani dalam menghafal alquran di ma’had sulaimaniyah bekasi.
7Widodo, Metodologi Penelitian Populer dan Praktik, Depok: Rajawali Pers, 2018, h. 58.
7 BAB II
LANDASAN TEORITIS A. Metode Turki Utsmani
Metode Turki Utsmani berasal dari Turki, Metode Turki Utsmani disebut juga dengan metode acak, sebab menghafal Al Qur’an dengan metode Turki Utsmani memiliki urutan menghafal yang tidak lazim menurut metode-metode umum. Jika metode menghafal pada umumnya memulai hafalan dari halaman pertama (dari juz yang akan dihafal), maka menghafal dengan metode Turki Utsmani dimulai dari halaman terakhir (halaman ke-20 dari setiap juz). agar metode Turki Utsmani berjalan efektif, terdapat beberapa persyaratan, yaitu:
1. Al-Qur’an yang digunakan untuk menghafal haruslah Al Qur’an yang memiliki standar cetak Al Qur’an Utsmani, yaitu satu juz terdiri dari 20 halaman (kecuali juz 30) dan satu halaman terdiri dari 15 baris;
2. Sebelum memulai tahfizh (menghafal), seorang penghafal atau calon penghafal harus sudah memiliki bacaan makhorijul huruf yang bagus (tahsinul huruf), memperbanyak tilawah agar menguasai membaca Al- Qur’an dengan tartil, tadwir, dan hadr, serta sudah mempelajari tajwid dengan baik.
3. Memperhatikan adab-adab mempelajari Al-Qur’an seperti menjaga kebersihan jasmani, rohani, dan tempat menghafal, serta ta’zhim terhadap Al Qur’an dan Asatidzah (para ustadz).
Kembali kepada metode, terdapat tiga istilah dalam metode Turki Utsmani, yaitu putaran, halaman baru, dan halaman lama. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya di atas, menghafal dengan metode Turki Utsmani dimulai dari halaman ke-20 dari juz 1. Setelah itu lanjut ke halaman 20 dari juz 2, halaman ke- 20 juz 3, dan seterusnya (untuk juz 30, “halaman ke-20” adalah dari surat Al ‘Asr hingga An Nas). Jika halaman ke-20 dari setiap juz sudah dihafalkan, maka itu disebut sebagai putaran pertama. Ketika halaman ke-20 (dari setiap juz) sudah selesai dihafal dan mulai menghafal halaman ke-19 (dari setiap juz), maka
halaman ke-19 yang akan dihafal disebut sebagai halaman baru dan halaman ke- 20 yang sudah dihafal disebut sebagai halaman lama, begitu seterusnya.
Didalam metode Turki Utsmani terdapat dua tahapan sebelum memulai hafalan.
1. Tahap pemanasan, yaitu semua santri wajib tilawah satu hari khatam 30 juz selama tiga hari bertujuan untuk menguatkan azam
2. Tahap pemahaman arti ayat, yaitu semua santri harus menyetorkan surat Al Baqarah dengan terjemah perkata selama satu minggu
Pemahaman Al Qur’an tidak akan dicapai kecuali dengan mengetahui isinya. Hal ini dapat dilakukan dengan langkal awal, mengetahui arti ayat yaitu mengetahui bahasa arab. Karena Al Qur’an sendiri berbahasa arab. Sebagaimana dalam Al Qur’an surat Ad Dukhon ayat 58:
“Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran”
Memahami Al Qur’an hukumnya adalah wajib berdasarkan ayat berikut. Allah berfirman:
“Maka tidaklah mereka menghayati Al Qur’an, auaukah hati mereka sudah terkunci?” (QS.Muhammad :24)
a. Keharusan Memahami Al Qur’an Allah berfirman yang artinya:
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan. Dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizing-Nya, dan menunjukan mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al Ma’idah :16)
Pentingnya kita memahami Al Qur’an adalah agar hidup kita mendapat keridhoan, keselamatan, cahaya, dan jalan yang lurus dari Allah SWT
b. Tahapan Memahami Al Qur’an
Ada beberapa tahapan agar kita mampu untuk memahami dan berinteraksi dengan Al Qur’an menurut Dr. Shalah Abdul Fattah Al Kholidy dalam kitab Mafaatiihu Li at-Ta’ammuli ma’al Qur’an yaitu:
1. Memperhatikan adab tilawah
Membaca satu surat, satu juz, dengan pelan-pelan, khusyu, tadabbur dan penuh penghayatan. Tidak mementingkan target dalam satu shari harus satu surat, satu juz, atau beberapa lembar.
2. Memperhatikan dan merenungi satu ayat, diperdalam untuk mendapatkan arti yang terkandung dalam ayat tersebut, dengan cara dibaca dengan penuh perasaan dan penghayatan, mendengarkan dari bacaan orang lain atau mp3 dan dilakukan berulang-ulang sampai mendapat arti yang terkandung dalam ayat tersebuut.
3. Memahami korelasi ayat dengan kondisi sekarang. Merujuk kepada yang dipahami oleh para salafus shalih terutama pemahaman para sahabat. Hal ini dikarenakan mereka lebih ahli dibidangnya, karena mereka mendapat kesopanan dan aspek ilmiah, Kita harus mendahulukan pemahaman para sahabat, hal ini untuk mencegah agar Al Qur’an tidak dipahami sesuai hawa nafsu kita.
B. Menghafal Al-Qur’an 1. Definisi Al-Qur’an
Al Qur’an menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup manusia.
Makna Al Qur’an secara terminologi (istilah), menurut Muhammad Ali Ash Shobuni adalah : “Firman Allah SWT yang menjadi mu’jizat abadi diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril As, ditulis dalam mushaf disampaikan kepada kita secara mutawatir, membacanya adalah ibadah, diawali dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Naas.”
Sedangkan menurut istilah para Ahli memberikan definisi Al Qur’an sebagai berikut:
1. Menurut syaikh Muhammad Khudari Beik, Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang berbahasa Arab diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk dipahami isinya, disampaikan kepada kita secara mutawatir ditulis dalam mushaf dimulai dari surat Al Fatihah dan diakhiri surat An Naas.
2. Prof. Dr. Hamka mengemukakan bahwa Al Qur’an sebagai wahyu-wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasul-Nya dengan perantara malaikat Jibril untuk disampaikan kepada manusia.
3. Dr. Subhi As Shalikh mengatakan bahwa Al Qur’an adalah firman Allah SWT yang bersifat atau berfungsi mu’jizat sebagai bukti kebenaran atas kenabian Muhammad SAW. Al Qur’an diturunkan secara tertulis didalam mushaf yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir. Sementara membacanya bernilai ibadah.
4. Menurut Al Qattan (2006:17) Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan membacanya adalah ibadah.
5. Menurut Az Zarqani dalam Abudin Nata (199:56), Al Qur’an adalah lafadz yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diawali surat Al Fatihah dan diakhiri surat An Naas.
6. As Syukani mengemukakan Al Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang dibacakan, serta mutawatir penukilannya.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat Jibril, disampaikan dengan jalan mutawatir kepada kita, ditulis dalam mushaf dan membacanya bernilai ibadah.
Al Qur’an merupakan kitab suci yang harus kita jaga kemurniannya.
Oleh karena itu, sebagai umat muslim yang baik kita diperintahkan untuk menjaga kemurnian Al Qur’an dengan jalan menghafalkannya. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT:
َنوُظِفاَحَل ُهَل اَّنِإ َو َرْكِ ذلا اَنْل َّزَن ُنْحَن اَّنِإ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya“ (QS. Al-Hijr :9)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menurunkan kitab suci Al- Qur’an ini sebagai pedoman hidup manusia. Allah memerintahkan kepada manusia agar senantiasa menjaga kemurnian Al Qur’an. Karena dengan cara tersebut akan menambah rasa iman. Dari pernyataan tersebut, kita sebagai manusia diwajibkan untuk membentengi diri kita dengan perisai iman. Dan salah satu cara yang bisa kita lakukan yaitu membaca, menghafalkan dan mengamalkan dari isi Al Qur’an. Dengan cara tersebut maka kita nanti akan berada pada golongan orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Umat Islam pada dasarnya tetap berkewajiban untuk secara riil dan konsekuen berusaha memeliharanya, karena pemeliharaan terbatas sesuai dengan sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya. Tidak menutup kemungkinan kemurnian ayat-ayat Al Qur’an akan diusik dan diputar balikkan oleh musuh- musuh Islam, apabila umat Islam sendiri tidak mempunyai kepedulian terhadap pemeliharaan kemurnian Al Qur’an. Salah satu usaha nyata dalam proses pemeliharaan kemurnian Al Qur’an itu ialah dengan menghafalkannya.
Menghafal Al Qur’an adalah simbol bagi umat Islam dan duri bagi masuknya musuh-musuh Islam.
James Mansiz berkata, “Boleh jadi, Al Qur’an merupakan kitab yang paling banyak dibaca di seluruh dunia. Dan, tanpa diragukan lagi, ia merupakan kitab yang paling mudah dihafal. Dalam hal ini, maka menghafal Al Qur’an menjadi sangat dirasakan perlunya dengan beberapa alasan:
1. Al Qur’an diturunkan, diterima dan diajarkan oleh Nabi SAW. Secara hafalan, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya QS. Al- A’la 6-7.
“Kami akan membacakan (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad). Maka kamu tidak akan lupa, kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.”
2. Hikmah turunnya Al Qur’an secara berangsur-angsur merupakan isyarat dan dorongan ke arah tumbuhnya hikmah untuk menghafal dan Rasulullah merupakan figur Nabi yang dipersiapkan untuk menguasai wahyu secara hafalan, agar Ia menjadi teladan bagi umatnya. Maha suci Allah yang telah memudahkan Al Qur’an untuk dihafal sebagaimana firman Allah QS. Al Qamar 17
“Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-qur’an untuk pelajaran, Maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”
3. Firman Allah pada ayat 9 surah Al-Hijr “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Ayat tersebut bersifat aplikatif, artinya bahwa jaminan pemeliharaan terhadap kemurnian Al Qur’an itu adalah Allah yang memberikannya, tetapi tugas operasional secara riil untuk memeliharanya harus dilakukan oleh umat yang memilikinya
4. Membacanya adalah ibadah yang melembutkan hati, menundukkan hawa nafsu, dan berbagai keutamaan lainnya yang tidak terhingga. Karena itulah Nabi Muhammad SAW memerintahkan menjaganya sehingga tidak dilupakan, dalam hadits yang berbunyi: Rasulullah SAW bersabda
“jagalah (hafalan) Al Qur’an ini. Maka sungguh demi (Allah SWT) yang diri Muhammad ditangan-Nya, sungguh ia lebih mudah lepas dari pada unta diikatannya. ”Tidak pantas orang yang hafal Al Qur’an melupakan bacaannya dan tidak wajar ia lalai dalam menjaganya. Tetapi seharusnya ia mengatur waktu untuk menjadikan Al Qur’an sebagai wirid harian agar terbantu untuk mengingat dan menjaganya agar tidak lupa, karena mengharap pahala dan faedah dari hukum-hukumnya. “Berkata Jalaluddin Al-Bulqini, Az-zarkasyi dan yang lainnya: “lupa hafalan Al Qur’an itu dianggap dosa besar, jika disebabkan kemalasan dan kecerobohan”.
2. Definisi Menghafal Al-qur’an
Dalam kamus Al-Munawwir mengungkapkan bahwa menghafal dituliskan dengan lafadẓ (ﺁﻟﻘﺭﺃﻥ ﺤﻣﻞ) yang diartikan menghafal Al-Qur’ān.
Menghafal menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat.
Menghafal berasal dari kata dasar hafal yang dari bahasa arab hafidza- yahfadzu-hifdzan, yaitu lawan dari lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa.
Sedangkan menurut Abdul Aziz Abdul Rauf Al Hafidz,Lc. Dalam bukunya yang berjudul Pedoman Dauroh Al Qur’an beliau mengatakan bahwa menghafal Al Qur’an adalah memindahkan Al Qur’an dari tulisan kedalam dada, karena hal ini merupakan ciri khas orang-orang yang diberi ilmu, juga sebagai tolak ukur keimanan dalam hati seseorang (Aziz, 2010 9).
Allah SWT berfirman:
“Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas didalam dada- orang yang diberi ilmu, dan tidaklah mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (Q.S Al Ankabut :49)
Rasulallah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang didalam dadanya tidak terdapat sebagian ayat Al Qur’an, bagaikan rumah yang tidak berpenghuni.” (HR. Tirmidzi)
Seseorang yang telah hafal Al Qur’an secara keseluruhan di luar kepala, bisa disebut dengan juma’ dan huffazhul Qur’an. Pengumpulan Al Qur’an dengan cara menghafal (Hifzhuhu) ini dilakukan pada masa awal penyiaran agama Islam, karena Al Qur’an pada waktu itu diturunkan melalui metode pendengaran. Pelestarian Al Qur’an melalui hafalan ini sangat tepat dan dapat dipertanggung jawabkan, mengingat Rasulullah SAW tergolong orang yang ummi. Allah berfirman:
"Hai manusia, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab- kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (Q.S. Al A’raf :158)
Menghafal Al-Qur‟an adalah aktivitas merekam apa yang kita baca dan kita pahami. Setelah itu output dari hafalan itu baru bisa dibuktikan dengan cara didemonstrasikan tanpa melihat mushaf Al-Qur‟an.8
Menghafal Al-Qur'an adalah suatu proses mengingat di mana seluruh materi ayat (rincian bagian-bagiannya seperti waqaf, dan lain-lain) harus diingat secara sempurna. Karena itu, seluruh proses pengingatan terhadap ayat dan bagian-bagiannya itu mulai dari proses awal hingga pengingatan kembali (recalling) harus tepat. Keliru dalam memasukkan atau menyimpannya akan
8 Hidayatullah, Jalan Panjang Menghafal Al-Qur‟an 30 Juz: Napak Tilas dan Kesuksesan Penghafal Al-Qur‟an Sejak Usia Baligh (Jakarta: Pustaka Ikadi, 2016), 65
keliru pula dalam mengingatnya kembali, atau bahkan sulit ditemukan dalam memori.9
Orang yang akan menghafal Al-Qur'an, terlebih dahulu dianjurkan untuk mengetahui dan mengenal cara kerja memori (ingatan) yang dimilikinya. Sebab, ingatan sangat penting dalam kehidupan manusia, karena hanya dengan itulah, manusia bisa, bahkan mampu untuk merefleksikan dirinya. Ingatan tersebut juga mampu untuk berkomunikasi dan menyatakan semua yang ada di pikirannya maupun segala yang sedang dipikirkan sekaligus perasaannya yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami.
Ingatan juga berfungsi untuk memproses sebuah informasi yang diterima manusia setiap waktu, walaupun sebagian besar, terkadang informasi yang masuk diabaikan begitu saja.Sebab informasi tersebut dianggap tidak begitu penting, atau bahkan tidak diperlukan di kemudian hari.10
Seorang ahli psikolog ternama, Atkinson, menyatakan bahwa perbedaan dasar mengenai ingatan. Pertama mengenai tiga tahapan, yaitu Encoding (memasukkan Informasi ke dalam Ingatan), Storage (penyimpanan), Retrieval (Pengungkapan Kembali). Kedua mengenai dua jenis ingatan yaitu : short term memory (ingatan jangka pendek). dan long term memory (ingatan jangka panjang).
a) Encoding ( Memasukkan Informasi ke Dalam Ingatan )
Adalah suatu proses memasukkan data-data informasi ke dalam ingatan. Proses ini melalui dua alat indra manusia, yaitu penglihatan dan pendengaran.Kedua alat indra yaitu mata dan telinga, memegang peranan pentingdalam penerimaan informasi sebagaimana banyak di jelaskan dalam
9 Sa‟dloh, 9 Cara Praktis…, 45.
10Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal …, 16.
ayat–ayat Al- Qur'an, dimana penyebutan mata dan telinga selalu beriringan (As-sama' wal abshar).11
Itulah sebabnya, sangat di anjurkan untuk mendengarkan suara sendiri (sekedar di dengar sendiri) pada saat menghafal Al-Qur'an agar kedua alat sensorik ini bekerja dengan baik. Selain itu, untuk membantu memudahkan dalam menghafal Al-Qur‟an sangat dianjurkan untuk menggunakan satu model mushaf Al-Qur‟an dan dipakai secara istiqamah, serta tetap supaya tidak berubah-ubah strukturalnya di dalam peta mental12.
b) Storage (Penyimpanan)
Proses lanjut setelah encoding adalah penyimpanan informasi yang masuk di dalam gudang memori. Gudang memori terletak di dalam memori jangka panjang (long term memory). Gudang memori tersebut menyimpan dan memasukkan semua informasi yang diterima dan tidak akan pernah hilang atau rusak. Masalah yang sering terjadi dan menimpa manusia mengenai ingatan adalah penyakit lupa.
Proses penyimpanan informasi mempunyai dua metode, sebagaimana berikut:
1. Bersifat otomatis, yang pada umumnya merupakan pengalaman-pengalaman yang istimewa dan luar biasa, sehingga sangat dikenal dan bisa dengan baik diterima.
2. Proses penyimpanannya harus diupayakan kesungguhan, karena informasi tersebut telah dianggap penting dan sangat diperlukan pengamatan yang serius. Pengalaman-
11Sa‟dulloh, 9 Cara Praktis…, 46.
12 Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal …, 16.
pengalaman yang umum dialami sehari-hari harus diupayakan penyimpanannya jika memang informasi atau pengalaman tersebut diperlukan atau dikehendaki untuk disimpan dengan baik13.
c) Retrieval ( Pengungkapan Kembali )
Pengungkapan kembali (reproduksi) informasi yang telah disimpan di dalam gudang memori adakalanya serta merta dan adakalanya perlu pancingan. Dalam proses menghafal Al-Quran urutan-urutan ayat sebelumnya secara otomatis menjadi pancingan terhadap ayat-ayat selanjutnya. Karena itu, biasanya lebih sulit menyebutkan ayat yang terletak sebelumnya daripada yang terletak sesudahnya.14
Menghafal Al-Qur‟an merupakan tugas yang sangat mulia dan besar.
Tidak akan ada yang sanggup melakukanya, selain ulul „azmi, yaitu orang- orang yang bertekad kuat dan berkeinginan membaja. Orang yang memiliki tekad yang kuat ialah orang yang senantiasa antusias dan terobsesi merealisasikan apa saja yang sudah menjadi niatnya sekaligus melaksanakannya dengan segera tanpa menunda-nunda.15
Selain itu, tanamkan pada diri masing-masing calon penghafal bahwa yakin dan percaya bahwa Allah memudahkan Al-Qur‟an untuk dihafal dan kita adalah salah satu orang yang dipilih Allah menjadi penjaga kalam-Nya di muka bumi ini.16
Menghafal Al Qur’an hukumnya adalah fardhu kifayah. Ini berarti bahwa orang yang menghafal Al Qur’an tidak boleh kurang dari jumlah
13 Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal…, 18.
14 Sa‟dulloh, 9 Cara Praktis
15Raghib as-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al- Qur‟an, (Solo: AQWAM, 2007), 63.
16Nur Faizin Muhith, Semua Bisa Hafal Al-Qur‟an (Surakarta: Al-Qudwah Publishing, 2013), 55
mutawatir sehingga tidak ada kemungkinan terjadinya pemalsuan dan pengubahan terhadap ayat-ayat suci Al Qur’an. Jika kewajiban ini telah terpenuhi oleh sejumlah orang maka gugurlah kewajiban tersebut dari yang lainnya. Sebaliknya jika kewajiban ini tidak terpenuhi maka semua umat Islam akan menanggung dosanya. Hal ini ditegaskan oleh Syeikh Muhammad Makki Nashr dalam kitab Nihatah Qoulul Mufid mengatakan“Sesungguhnya menghafal Al Qur’an diluar kepala hukumnya fardhu kifayah.”
3. Keutamaan Menghafal Al-qur’an
Para penghafal al-Qur‟an adalah sebagai penjaga keaslian dan kemurnian al-Qur‟an.Peran mereka sangat besar di kalangan umat Islam dalam rangka memelihara keaslian al-Qur‟an sebagai sumber hukum dan pedoman umat Islam.Sehingga tidak diragukan lagi bahwa para penghafal al- Qur‟an menduduki posisi yang terhormat di hadapan Allah.
Adapun beberapa keutamaan dari menghafal Al Qur’an yaitu:
1. Para penghafal Al-Qur‟an adalah aktor-aktor rabbani17.
Para penghafal Al-Qur‟an adalah “actor” dari “scenario” Allah Ta‟ala dalam menjaga kemurniaan Al-Qur‟an sepanjang zaman. Alangkah indah, hebat, dan mulianya menjadi pemeran utama dari sebuah “film kehidupan” yang disutradarai oleh Allah Rabb seluruh alam. Mereka adalah perwujudan dari terealisasikannya janji Allah Ta‟ala Qs. Al-Hijr ayat 9 :
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Qs. Al-Hijr: 9)
17 Abu Ammar & Abu Fatiah Al-Adnani, Negeri-negeri Penghafal Al- Qur‟an: Inspirasi dan Motivasi Semarak Tahfizh Al-Qur‟an dari 32 Negara di 4 Benua + Napak Tilas Perjalanan Syaikh Fahd Al-Kandari Dalam Safari Al-Qur‟an di Lebih dari 20 Negara (Solo: Al-Wafi, 2015), Cet.1, 105.
2. Para penghafal Al Qur’an (huffadz) adalah pilihan Allah SWT.
Allah berfirman yang artinya:
“Kemudian kitab itu Kami tawarkan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganiyaya diri sendiri, diantara mereka ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat dengan izin Allah yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (QS. Fathir :32)
3. Para penghafal Al Qur’an (huffadz) adalah ilmuan. Allah berfirman yang artinya:
“Sebenarnya Al Qur’an adalah ayat yang nyata didalam dada orang yang diberi ilmu dan tidak ada orang yang menginginkan ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang dzikir.” (QS. Al Ankabut :49)
4. Huffadz adalah keluarga Allah SWT
“Dari Anas bin Malik beliau berkata Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga dari kalangan manusia. Ada yang bertanya, siapa itu ya Rasulullah?. Beliau menjawab, ahli Qur’an itulah keluarga Allah.” (HR. Ahmad)
5. Huffadz adalah orang-orang yang mulia
“dan berkata Rasulullah SAW: orang yang mulia dari umatku adalah para penghafal Qur’an dari ahli shalat malam dan Beliau berkata: ibadah umatku paling utama adalah membaca Al Qur’an.”
6. Huffadz dijaga dari api neraka
“Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW, beliau berkata: bacalah Al Qur’an karena sesungguhnya Al Qur’an adalah hidangan Allah, barang
siapa cinta kepada Al Qur’an maka hendaklah ia bergembira. ”(HR.
Addaroni)
7. Huffadz berhak memberi syafaat kepada keluarganya
“Dari Ali bin Abi Tholib RA. beliau berkata: Rasulullah bersabda, barang siapa membaca Al Qur’an kemudian ia menghafalkannya diluar kepala lalu ia menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Al Qur’an dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Qur’an, maka Allah akan memasukannya kedalam surga dan memberikan kepadanya untuk memberi syafaat kepada 10 orang dari keluarganya yang sudah dipastikan masuk neraka.”
8. Huffadz memperoleh derajat seperti Nabi
“Dari Abdullah bin amr Dari Rasulullah Saw beliau bersabda : barang siapa yang membaca (hafal) Al Qur’an maka sesungguhnya dia telah mendapat derajat kenabian (yang diucapkan) diantara kedua lambungnya, hanya saja dia tidak diberi wahyu. Dan barang siapa yang hafal Al Qur’an
kemudian beranggapan bahwa orang lain (yang tidak hafal Al Qur’an) tidak diberi oleh Allah dengan pemberian yang lebih utama dari apa yang telah diberikan kepadanya, maka sungguh ia telah mengagungkan sesuatu yang dikucilkan oleh Allah dan mengecilkan sesuatu yang dibesarkan oleh Allah.” (HR. Thabrani)
9. Huffadz adalah kenikmatan terbesar yang patut kita irikan.
“Dari Ibnu Amr RA, dari Nabi SAW beliau berkata, tidak dibenarkan iri kecuali kepada dua perkara, yaitu lelaki yang diberi (hafal) Al Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya siang malam, dan lelaki yang diberi oleh Allah harta (yang banyak) kemudian ia nafkahkan harta itu (fisabilillah) siang dan malam.” (HR. Muttaffaqun Alaih) (Riyadhusshalihin, 434)
10. Mencintai huffadz sama dengan mencintai Allah
“Diriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda, Al Qur’an itu lebih utama dari pada segala sesuatu, maka barang siapa mengagungkan Al Qur’an maka sama dengan mengagungkan Allah SWT. Dan barang siapa yang meremehkan Al Qur’an maka sama halnya meremehkan Allah SWT. Huffadz itu adalah orang-orang yang dirahmati Allah dan mereka adalah orang-orang yang mengagungkan kalam Allah dan diberikan cahaya Allah, dan barang siapa yang mengasihi mereka maka telah mencintai Allah dan barang siapa yang memusuhi mereka sesungguhnya telah memusuhi Allah,”
11. Banyak sedikitnya hafalan menentukan derajat diakhirat
“Dari Abdullah bin Amr bin Ash RA. Dari Nabi SAW, beliau berkata:
akan dikatakan kepada penghafal Al Qur’an: bacalah dan naiklah (ke derajat yang lebih tinggi) bacalah dengan tartil sebagaimana kamu telah membaca dengan tartil didunia, karena kedudukanmu (derajat) itu pada akhir ayat yang dibaca.” (HR.Abu Dawud, Tirmidzi) (Riyadhusshalihin, 432)
12. Huffadz mendaptkan penghargaan dari Rasulullah SAW
Imam Bukhari dalam kitab shahihnya menceritakan ketika perang Uhud banyak sahabat Rasullulah SAW yang syahid. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk mengumpulkan diantara dua syuhada. Lalu beliau bersabda: “Manakah diantara keduanya yang lebih banyak menghafal Al Qur’an?, ketika beliau ditunjukkan kepada salah satunya, maka beliaupun mendahulukan pemakaman didalam liang kubur.” (HR. Bukhari)
13. Huffadz tidak mendapat adzab hati dari Allah
“Dari Abdullah bin Mas’ud RA. Rasulullah SAW bersabda: bacalah Al Qur’an karena Allah benar-benar tidak akan mengadzab hati orang yang menghafal Al Qur’an dan Al Qur’an benar-benar merupakan jamuan Allah SWT, maka barang siapa yang mendatanginya ia akan aman, bergembiralah siapa saja yang mencintai Al Qur’an.” (HR. Darimi)
14. Allah memberikan kedudukan yang tinggi dan terhormat diantara manusia lain. Namun, hal ini jangan sekali-kali dijadikan tujuan utama dalam menghafal Al Qur’an, karena sesungguhnya tujuan utama kita yaitu untuk mengharapkan Ridha dari Allah SWT. Termasuk sebaik-baik umat.
sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:
“Yang paling mulia di antara ummatku adalah orang yang hafal Al Quran dan ahli Shalat malam.” (HR. Bukhari).
Dari hadits tersebut sangatlah jelas, bahwa kita sebagai umat manusia kelak akan diberikan kedudukan yang terhormat dan mulia disisi Allah SWT apabila kita menghafal Al Qur’an serta ahli shalat malam.
15. Orang yang hafal Al Qur’an selalu diliputi dengan rahmat Allah, selalu mengagungkan kalam Allah dan mendapatkan cahaya Allah.
Mengagungkan kalam Allah dengan cara membaca, menghafal, serta mengamalkan dari isi kandungan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
16. Yang paling berhak memimpin. Rasulullah SAW bersabda: “Yang lebih berhak memimpin suatu kaum adalah yang bagus bacaan Al Qur’annya”.
(HR.Muslim).
Hadist tersebut menjelaskan bahwa orang yang berhak memimpin suatu Negara atau Pemerintahan, yaitu orang yang fasih dan bagus dalam membaca Al Qur’an.
17. Orang yang menghafal Al Qur’an termasuk orang yang menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Dan Allah akan memberikan keutamaan kepada orang yang menyibukkan diri dengan Al Qur’an lebih besar dari orang lain. Hal tersebut memberikan pengertian kepada kita, bahwa hidup didunia ini kita sudah diberikan nikmat Allah yang begitu besar, berupa nikmat sehat, waktu, dan kesempatan. Dari nikmat yang begitu banyak tersebut dari Allah, maka kita harus memanfaatkan waktu luang kita untuk membaca terlebih menghafalkannya.
18. Orang yang hafal Al Qur’an menemani para Nabi kelak dihari akhir dan termasuk dalam golongan orang yang tidak peduli terhadap hisab, tidak terkejut sewaktu sangkakala ditiup dan tidak susah pada hari kegelisahan yang sangat besar. (Sugianto, 2004 :37-41)
19. Terjaga akalnya.18
Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada para penghafal al- Qur‟an adalah mereka akan selalu terjaga akalnya. Mereka akan selalu teringat hafalannya meskipun sudah lanjut usia. Abdul Malik bin Umair, salah satu tabi‟in meriwayatkan bahwasannya dikatakan kepadanya,
18Mukhlisoh Zawawie, Pedoman Membaca …, 75.
“Sessungguhnya manusia yang paling terjaga akalnya adalah orang-orang yang hafal al-Qur‟an.” Dalam riwayat yang lain Anas r.a berkata,bahwasannya Rasulullah bersabda: “Barang siapa mengumpulkan Al-Qur‟an (hafal al-Qur‟an) maka ia akan diberi kenyamanan akal sampai meninggal dunia.(HR.Ibnu Abi Syaibah).”
Salah satu keistimewaan Al Qur’an adalah mudah dihafal diluar kepala, mudah diingat, dan juga mudah dipahami. Allah berfirman: “Dan sungguh telah kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar :17). Hal ini karena dalam lafal-lafal Al Qur’an, struktur kalimat, dan ayat-ayatnya terdapat harmoni, keselarasan, dan kemudahan yang membuat ia mudah dihafal oleh mereka yang benar-benar ingin menghafalnya, memasukkanya ke dalam dada, dan menjadikannya sebagai wadah Al Qur’an. Karena itulah kita dengan mudah menjumpai ribuan, bahkan puluhan ribu orang-orang Muslim yang menghafal Al Qur’an. (Qaradhawi, 2007: 27) .
Selain itu, Keistimewaan Al Qur’an dintaranya, yaitu:
a. Mereka yang membaca Al Qur’an dan bacaan itu menambah iman mereka serta menimbulkan rasa tenang.
b. Membuat hati tenang dan damai.
c. Mendapatkan pahala dari Allah SWT.
d. Didalam Al Qur’an banyak sekali terdapat kata-kata hikmah yang sangat berharga bagi kehidupan. Menghafal Al Qur’an berarti menghafal banyak kata-kata hikmah.
e. Hafalan Al Qur’an membuat orang dapat berbicara dengan fasih dan benar, dan dapat membantunya dalam mengeluarkan dalil-dalil dengan ayat-ayat Al Qur’an dengan cepat ketika menjelaskan atau membuktikan suatu permasalahan. (Badwilan, 2009: 42)
4. Faedah Bagi Para Penghafal Al Qur’an
Adapun beberapa faedah yang didapatkan oleh para penghafal Al Qur’an, antara lain:
1. Allah SWT mencintai para penghafal Al Qur’an Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah SWT memiliki keluarga dari golongan manusia, lalu ditanyakan siapakah ahli Allah dari golongan mereka? Beliau menjawab, yaitu Ahlul Qur’an (orang-orang yang hafal Al Qur’an dan mengamalkannya), mereka adalah ahli Allah (wali-wali Allah) dan memiliki kedudukan khusus disis-Nya.” (HR. Ahmad)
Ahli Allah adalah golongan manusia yang dicintai Allah disebabkan mereka mencintai Kalam-Nya. Mereka menjaga kesucian ayat-ayat Allah dari berbagai upaya busuk manusia untuk memalsukannya.
Sehingga Al Qur’an tetap terjaga dan terjamin keasliannya sampai kelak hari kiamat.
Sesungguhnya Allah bersama para penghafal Al Qur’an. Dia senantiasa mengulurkan bantuan dan pertolongan-Nya kepada mereka, sehingga mereka akan senantiasa didapati sebagai orang-orang yang kuat. Diantara kisah para sahabat adalah bahwa mereka sanggup mengalahkan orang-orang Quraisy, kemudian mengalahkan kabilah- kabilah kaum musyrikin. Begitu pun keperkasaan mereka dalam menaklukkan Persia dan Romawi.
2. Allah memberkahi para penghafal Al Qur’an
Sesungguhnya Allah memberkahi setiap waktu dan keperluan para penghafal Al Qur’an. Mereka adalah orang yang paling banyak kesibukannya dan mereka adalah orang-orang yang tidak menyia- nyiakan waktunya untuk hal yang tidak bermanfaaat walaupun sejenak.
3. Do’a ahli Al Qur’an tidak akan tertolak
“Ada tiga golongan dimana do’a mereka tidak akan tertolak oleh Allah SWT: orang yang banyak berdzikir kepada Allah SWT, orang yang teraniaya (terdzolimi), dan imam yang adil.” (HR. Al Baihaqi) Para penghafal Al Qur’an adalah termasuk dalam orang yang banyak berdzikir kepada Allah, karena sebaik-baik berdzikir (mengingat Allah) adalah dengan Al Qur’an.
Adapun faedah dari menghafal al-Qur‟an, menurut Abdurrab Nawabuddin adalah sebagai berikut:
a) Kemenangan di dunia dan akhirat, jika di sertai dengan amal sholeh dan menghafalnya.
b) Tajam ingatannya dan cemerlang pemikirannya.
c) Bahtera ilmu, dan ini sangat diperhatikan dalam hafalan, menghafal bisa mendorong seseorang untuk berprestasi.
d) Memiliki identitas yang baik dan berperilaku jujur.
e) Fasih dalam berbicara, ucapannya benar dan dapat mengeluarkan bacaan arab dari landasannya secara tabi‟in (alami).19
Adapun faedah ilmiah Menghafal Al-Qur‟an, diantaranya sebagai berikut:
a) Al-Qur‟an memuat 77.439 kalimat. Jika penghafal Al-Qur‟an bisa mneguasai arti kalimat-kalimat tersebut, berarti dia telah menguasai banyak arti kosakata bahasa Arab.
b) Di dalam Al-Qur‟an terdapat banyak sekali kata-kata bijak yang sangat bermanfaat dalam kehidupan. Dengan menghafal
19 Abdurrab Nawabuddin dan Ma‟arif, Teknik Menghafal Al-Qur‟an,
(Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), 21.
Al-Qur‟an seorang akan banyak menghafalkan kata-kata bijak tersebut.
c) Bahasa dan susunan kalimat Al-Qur‟an sangatlah memikat dan mengandung nilai sastra yang tinggi. Seorang penghafal Al- Qur‟an yang mampu menyerap nilai sastranya akan mendapatkan dzauq adabi (citra sastra) yang tinggi.
d) Dalam Al-Qur‟an banyak sekali contoh yang berkenaan dengan ilmu nahwu dan sharaf. Seorang penghafal Al-Qur‟an akan dengan cepat menghadirkan dalil-dalil dari ayat Al-Qur‟an untuk sebuah kaidah nahwu sharaf.
e) Al-Qur‟an adalah sumber hukuk utama.
Seorang penghafal Al- Qur‟an dapat mengeluarkan ayat-ayat hukum yang ia perlukan dalam menjawab suatu persoalan hukum.20
f) Al-Qur‟an merupakan pengetahuan dasar bagi para thalabul „ilmi dalam proses belajarnya. Apabila ia menghafal Al-Qur‟an maka ia akan
memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap studinya. Sebab Al- Qur‟an merupakan sumber ilmu21
5. Persiapan Menghafal Al Qur’an
Menghafal merupakan alat yang penting agar al-Qur‟an meresap dalam diri kita. Menghafal tidak bersifat mekanis atau ritual, tetapi merupakan perbuatan melibatkan seluruh jiwa dan perasaan. Dengan
20 Umar al-Faruq, 10 Jurus Dahsyat Hafalan Al-Qur‟an, (Surakarta: Ziyad Books, 2014),
21 Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal …, 157.
menghafal kita dapat membaca al-Qur‟an dalam sholat dan memikirkan artinya saat kita berdiri menghadap Allah SWT.
Selain itu, al-Qur‟an dapat diucapkan dengan lidah agar bersemayam dalam hati dan pikiran sehingga dapat menjadi pendamping secara tetap.
Bahkan dengan melibatkan perasaan dan hati saat membaca al-Qur‟an dan memahami apabila al-Qur‟an dapat dihafalkan.
Setiap orang yang ingin menghafal al-Qur‟an harus mempunyai persiapan yang matang agar proses hafalan dapat berjalan dengan baik dan benar. Hal yang perlu diperhatikan sebelum menghafal Al-Qur'an yaitu :
1. Keikhlasan Niat
Niat memiliki peran penting dalam suatu amal perbuatan seseorang. Imam Abu Hanifah menjelaskan bahwa niat merupakan syarat amal seseorang sedangkan Imam Syafi‟I berpendapat bahwa niat adalah rukun dari suatu amaliah22. Ibnu Abbas juga mengatakan bahwa setiap orang akan diberikan pahala sesuai dengan kadar niatnya. Pendapat lain mengatakan bahwa niat berperan untuk membedakan antara ibadah dengan pekerjaan lainnya.23
Jika dikorelasikan dengan topik ini, maka hal pertama dan paling utama yang harus dilakukan dan diperhatikan oleh seorang penghafal Al-Qur‟an adalah keihlasan niat menghafal Al-Qur‟an hanya mengharap ridha Allah Swt.
Muhammad Mahmud Abdullah mendefinisikan ikhlas dengan,
“Mengarahkan seluruh perbuatan hanya karena Allah serta mengharap keriḍaan-Nya tanpa ada sedikit pun keinginan mendapat pujian manusia.”24
22 Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, (Yogyakarta: LKis, 2007), 18.
23 Umar Sulaiman Al-Asyqar, Fiqih Niat dalam Ibadah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2005), 11.
24 Achmad Yaman Syamsudin, Cara Mudah Menghafal Al-Qur‟an, (Solo: Insan Kami, 2007), 42.
Jika tidak dilandasi dengan niat yang ikhlas maka menghafalkan Al-Qur‟an akan menjadi sia-sia belaka. Kesalahan dalam pijakan pertama ini akan membawa konsekuensi-konsekuensi tersendiri.
Misalnya menghafalkan Al-Qur‟an untuk riya‟ atau menyombongkan diri, ia pun tidak akan mendapat pahala, malahan hanya akan mendapat dosa.
Imam Ghazali dalam kitab Ihya‟ Ulum ad-Din mengutip perkataan sayyidina Ali r.a. tentang ciri-ciri orang yang riya‟. Beliau berkata,
“Orang yang pamer mempunyai tiga sifat, yaitu malas jika sendirian,; semangat jika bersama orang lain; dan bertambah semangat jika dipuji.”25
Seorang penghafal Al-Qur‟an apabila sudah mempunyai niat yang ikhlas, berarti ia sudah ada hasrat dan kemauan yang telah tertanam hatinya, sehingga jika ada kesulitan ketika menghafalkan ayat-ayat Allah, maka ia akan menghadapinya dengan pantang menyerah sekaligus menjalaninya dengan sabar dan tawakal.
Jadikanlah tujuan dan sasaran menghafalkan al-Qur‟an untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Janganlah anda memiliki tujuan untuk memperoleh kedudukan, uang, upah atau ijazah. Allah swt tidak akan menerima amal perbuatan yang tidak ikhlas.26
Sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al-Bayyinah ayat 5;
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”
Ayat di atas memerintahkan kepada kita bahwa dalam mengerjakan sesuatu harus dilakukan atas dasar ikhlas karena Allah
25 Mukhlisoh Zawawie, Pedoman Membaca…, 96.
26 Anas Ahmad Karzun, 15 Kiat Menghafal Al-Qur‟an, (Jakarta: PT Mizan Publikasi, 2004),
Swt semata.Sebab, suatu amal yang dilakukan dengan tidak ikhlas tidak berarti disisi Allah. 27
Begitupun dalam konteks menghafal Al-Qur‟an.
Dr. Ragib al-Sirjani mencontohkan bahwa orang yang menghafal Al-Qur‟an bisa mengatur niatnya sebagai berikut :28
1) Agar mendapat pahala membaca Al-Qur‟an dengan sebanyak- banyaknya.
2) Shalat qiyamul lain dengan bacan-bacaan yang sudah dihafalkan.
3) Niat mendapatkan keutamaan dan pahala-pahala yang disediakan sebagai penghafal Al-Qur‟an, baik pahala untuk dirinya atau orang lain.
4) Niat agar di akherat berhak memberikan mahkota kehormatan dan keselamatan untuk orang tua.
5) Niat berlindung dari siksaan di akhirat kelak.
6) Niat dapat mengajarkan Al-Qur‟an kepada orang lain.
7) Menjadi teladan yang baik bagi umat islam secara keseluruhan.
2. Meminta Izin kepada orang tua atau suami.
Semua anak yang hendak mencari ilmu atau menghafalkan Al- Qur‟an, sebaiknya terlebih dahulu meminta izin kepada kedua orang tua dan kepada sang suami (bagi wanita yang sudah menikah). Sebab, hal itu akan menentukan dan membantu keberhasilan dalam meraih cita-cita untuk menghafal Al-Qur‟an.29
Dengan meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua atau suami, apabila suatu hari mengalami hambatan dan permasalahan saat proses menghafal Al-Qur‟an, maka kita akan mendapatkan motivasi dan doa dari mereka. Doa tersebut sangat berperan untuk kelanjutan dan kelancaran dalam proses menghafal. Dengan memperoleh motivasi tersebut apabila ditengah perjalanan mendapatkan ujian dari Allah
27 M. Taqiyul Qori, Cara Mudah Menghafal Al-Qur‟an (Jakarta: Gema Insani, 1998), 13.
28Nur Faizin Muhith, Rahasia Bacaan dan Hafalan Al-Qur‟an (Jakarta: Shahih, 2012), 102.
29 Yusuf Qardhawi, Berinteraksi dengan Al-Qur‟an, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999), 93.
sehingga kita tidak berputus asa dan berhenti ditengah perjalanan menghafalkan Al-Qur‟an.
3. Menjauhi Maksiat
Sebagaimana kita ketahui, Al-Qur‟an itu suci. Ia adalah kitab suci bagi seluruh zaman, kitab bagi kemanusiaan seluruhnya, kitab suci agama seluruhnya, dan kitab hakikat seluruhnya.30
Karena kesuciannya itulah, seseorang yang hendak berinteraksi dengannya (memegang mushaf, membaca, dan menghafalkan) harus dalam keadaan suci pula.
Sudah menjadi satu syarat utama bagi seseorang yang akan menghafalkan Al-Qur‟an bahwa dirinya harus terlebih dahulu bersih dan suci. Bersih dan suci ini berkaitan dengan maksiat. Artinya, apabila hendak menghafal Al-Qur‟an, maka harus betul-betul terbebas suci dari segala bentuk maksiat, terutama maksiat-maksiat yang disebabkan oleh panca indra.31
Sebab, maksiat dapat membuat hati menjadi buta. Apabila hati sudah buta, hal tersebut dapat mempengaruhi ingatan dalam menghafal Al-Qur‟an. Bahkan, ayat-ayat yang sudah dihafalkan pun bisa hilang dari ingatan dan hati apabila melakukan suatu perbuatan maksiat.
Dengan menjauhi perbuatan maksiat maka terciptalah keselarasan antara sikap penghafal Al-Qur‟an dengan kesucian Al-Qur‟an.
4. Tekad yang kuat
Hal penting berikutnya sebelum memulai menghafal Al-Qur‟an adalah memupuk dan menumbuhkan kemauan dan tekad. Kedua hal tersebut berkaitan dengan motivasi yang diperlukan agar semakin giat dan bersemangat dalam menghafal Al-Qur‟an. Sebab, motivasi
30 Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis..., 54.
31Ummu Habibah, 20 Hari Hafal 1 Juz, (Yogyakarta: Diva Press, 2015), Cet. 1, 28.
berkaitan dengan faktor psikologis atau kejiwaan. Ia harus selalu disertakan dalam setiap melakukan perbuatan.32
Artinya, motivasi adalah kebutuhan “primer” dalam suatu perbuatan agar perbuatan itu dapat terealisasi secara sempurna hingga tercapai tujuan dari perbuatan tersebut.
Menghafal Al-Qur’an merupakan tugas yang sangat agung dan besar. Tidak ada yang sanggup kecuali orang yang memiliki semangat dan tekad yang kuat serta keinginan yang menggebu. Allah berfirman dalam QS. Al Isra’ :19 “Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.”
Selain itu, tanamkan pada diri masing-masing calon penghafal bahwa yakin dan percaya bahwa Allah memudahkan Al-Qur‟an untuk dihafal dan kita adalah salah satu orang yang dipilih Allah menjadi penjaga kalam-Nya di muka bumi ini.33
Dengan mempunyai tekad atau kemauan yang besar dan kuat. Hal ini akan sangat membantu kesuksesan dalam menghafalkan Al- Qur‟an. Sebab, saat proses menghafalkan Al-Qur‟an, seseorang tidak akan terlepas dari berbagai masalah dan akan diuji kesabarannya oleh Allah SWT. Dengan adanya tekad yang besar, kuat dan terus berusaha untuk menghafalkan Al-Qur‟an, maka semua ujian insya allah akan bisa dilalui dan dihadapi dengan penuh rasa sabar.
5. Kesabaran
Syarat selanjutnya adalah adanya kesabaran, karena menghafal
32Muhammad Izzudin Taufiq, Panduan Lengkap Dan Praktis Psikologi Islam, (Jakarta: Gemas Insani Press, 2006), 654.
33Nur Faizin Muhith, Semua Bisa Hafal Al-Qur‟an (Surakarta: Al-Qudwah Publishing, 2013), 55.
Al-Qur‟an merupakan amalan yang membutuhkan kerja keras dan perjuangan. Rintangan akan selalu ada, apalgi ketika menempuh jalan yang bernilai tinggi dihadapan Allah.
Dengan kesabaran, betapa pun melelahkannya perjalanan, pada akhirnya akan sampai pada tujuannya. Ada tiga bagian kesabaran yang harus dimiliki oleh penghafal Al-Qur‟an yaitu sabar menghafal, sabar menjaga menghafal yang sudah dihafalkan, dan sabar mengamalkan ayat yang sudah dihafalkan.34
6. Usia yang tepat dan cocok
Pada dasarnya, tidak ada batasan mengenai usia bagi seseorang yang hendak menghafal Al-Qur‟an. Sebab, pada waktu Al-Qur‟an diturunkan pertama kali, banyak diantara para sahabat baru memulai menghafalkan Al-Qur‟an setelah usia mereka dewasa, bahkan ada yang dari 40 tahun.35
Menghafal Al-Qur'an dimasa kanak-kanak(usia muda) lebih tepat, cepat, melekat dan abadi. Antara 5 tahun hingga kira-kira 23 tahun.pada usia tersebut kondisi fisik dan pikiran seseorang benar- benar dalam keadaan yang paling baik. Dan biasanya, kalau seseorang sudah hafal di kala umurnya masih muda, hafalan itu akan sangat kuat melekat dalam ingatan.36 Hal ini sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari :
Barang siapa yang belajar Al-Qur‟an pada saat ia masih dalam usia muda, Allah akan mencampur (ilmunya) dengan daging dan darahnya. (HR. Bukhari).
Meskipun demikian, secara prinsip, menghafalkan Al-Qur‟an tidaklah terfokus pada usia. Asalkan seseorang yang hendak menghafalkan Al-Qur‟an tersebut ada iman yang memancar dalam
34 Cece Abdulwaly, Mitos-mitos Metode Menghafal Al-Qur‟an (Yogyakarta, Laksana, 2017),202.
35 Sebuah makalah dari Ahsin Sakho Muhammad yang berjudul “Kiat-Kiat Menghafal Al-Qur‟an”, (Depag, Asrama Haji Pondok Gede, 26 September 2002), 6.
36 Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal…, 45
hatinya, serta tekad yang besar dan kuat, maka besar harapan untuk sukses dalam menghafal Al-Qur‟an dan Istiqamah.
Sikap disiplin atau istiqamah merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap penghafal Al-Qur‟an, baik mengenai waktu menghafal, tempat yang biasa digunakan buat menghafal al-Qur‟an, maupun terhadap materi-materi yang dihafal.37
Menghafal Al-Qur‟ān harus memiliki kedisiplinan, baik disiplin waktu, tempat maupun disiplin terhadap materi-materi hafalan.
Penghafal Al-Qur‟ān bisa membuat jadwal untuk setiap harinya untuk mempermudah dalam membagi waktu antara hafalan dengan kegiatan lainnya.38
Jadi dalam proses menghafal al-Qur‟an, istiqamah sangat penting sekali. Walaupun ia memiliki kecerdasan tinggi namun jika tidak istiqamah maka akan kalah dengan orang yang kecerdasannya biasa- biasa saja, tetapi istiqamah. Sebab, pada dasarnya, kecerdasan bukanlah penentu keberhasilan dalam menghafal al-Qur‟an, namun keistiqamahan yang kuat dan ketekunan sang penghafal itu sendiri.
7. Harus berguru kepada yang ahli
Seorang yang menghafalkan al-Qur‟an harus berguru kepada ahlinya, yaitu guru tersebut harus seorang yang hafal al-Qur‟an, serta orang yang sudah mantap dalam segi agama dan pengetahuannya tentang al-Qur‟an.39
Salah satu alasan dibutuhkan kehadiran seorang guru adalah agar terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam menghafal.Ketika menghafal sendirian mungkin tidak pernah merasa terdapat kesalahan walaupun sedikit. Akan tetapi, apabila ada orang yang membimbing makan kesalahan itu akan tampak, dan kita dapat memperbaikinya.
37 Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis..., 52.
38 Ilham Agus Sugianto, Kiat Praktis Menghafal Al-Qur‟ān, (Bandung: Mujahid Press, 2004), 54.
39 49 Yahya bin Muhammad Abdurrazaq, Metode Praktis ..., 91.