Serangan penyakit diberikan 3 jenis kompos kulit buah dan POC kubis pada produksi per petak. Serangan penyakit diberikan kompos kulit buah 3 jenis dan POC kubis pada jumlah daun (helai) Umur 1 MST. Serangan penyakit yang diberikan kompos kulit buah 3 jenis dan POC kubis pada jumlah daun (helai) umur 2 tahun MST.
Serangan penyakit diberikan kompos kulit buah 3 jenis dan POC kubis pada jumlah daun (helai) Umur 3 MST. Serangan penyakit diberikan kompos kulit buah 3 jenis dan POC kubis pada jumlah daun (helai) umur 4 tahun MST. Serangan penyakit diberikan kompos kulit buah 3 jenis dan POC kubis pada jumlah daun (helai) Umur 5 MST.
Serangan penyakit Berdasarkan 3 jenis kompos kulit buah dan POC kubis per jumlah daun (helai) Umur 6 MST. Serangan penyakit Berdasarkan 3 jenis kompos kulit buah dan POC kubis per jumlah umbi (buah).
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Perumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Hipotesis Penelitian
- Manfaat Penelitian
Apa pengaruh pemberian kompos kulit durian terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Berapa persentase serangan penyakit pada tanaman bawang merah yang diberi 3 jenis kompos kulit buah dan POC kubis. Apa pengaruh pemberian pupuk karbon organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.).
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan limbah kompos dari 3 jenis kulit buah terhadap pertumbuhan, produksi dan persentase serangan penyakit pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L). Untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan limbah kubis sebagai POC terhadap pertumbuhan, produksi dan laju serangan penyakit pada tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.). Pemberian kompos dari kulit kopi, kulit pisang, kulit durian dan kotoran sapi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, produksi dan laju serangan penyakit pada tanaman bawang merah.
Pemberian POC kubis berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, produksi dan persentase serangan penyakit pada tanaman bawang merah. Terdapat kombinasi nyata antara penerapan kompos kulit kopi, kulit pisang dan kulit durian serta POC kubis terhadap pertumbuhan, produksi dan laju serangan penyakit pada tanaman bawang merah.
TINJAUAN PUSTAKA
- Botani Tanaman Bawang Merah ( Allium ascalonicum L.)
- Tanah
- Morfologi Tanaman Bawang Merah
- Budidaya Tanaman Bawang Merah
- Penyakit Layu Fusarium
- Penyakit Antraknosa
- Penyakit Embun Bulu
- Penyakit Layu Bakteri
- Pupuk Oganik
- Kompos Kulit Kopi
- Kompos Kulit Durian
- Kompos Kulit Pisang Kepok
- Pupuk Kandang Sapi
- Pupuk Organik Cair Kubis
Dengan demikian, pada musim kemarau bawang merah akan hidup lebih baik jika pengairannya baik (Wibowo, 2009). Daerah terbaik untuk menanam bawang merah adalah iklim yang kering dan cerah dengan suhu panas. Bawang merah dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah hingga dataran tinggi sekitar 1100m (idealnya 0-800m) di atas permukaan laut.
Menurut Dewi (2012), bawang merah memerlukan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, didukung oleh lempung berpasir atau lempung berdebu. Tanaman bawang merah tumbuh paling baik pada tanah yang gembur, subur dan banyak mengandung bahan organik. Karena pada ketinggian tersebut tanaman bawang merah akan menghasilkan umbi yang berukuran besar dan berkualitas baik (Sartono, 2009).
Bawang merah atau nama lainnya Allium ascalonicum dapat dijadikan salah satu alternatif usaha budidaya tanaman yang menjanjikan dan prospektif. Jika antraknosa pada tanaman cabai dan tomat cenderung menyerang buah, maka antraknosa pada tanaman bawang merah cenderung menyerang daun.
METODE PENELITIAN
- Waktu dan Tempat Penelitian
- Bahan dan Alat
- Metode Penelitian
- Metoda Analisa
- Pelaksanaan Penelitian
- Pembuatan Pupuk Kompos Kulit Buah Kopi
- Pembuatan Pupuk Kompos Kulit Durian
- Pembuatan Pupuk Kompos Kulit Pisang Kepok
- Pembuatan Pupuk Kandang Sapi
- Pembuatan Pupuk Organik Cair Kubis
- Persiapan Media Tanam
- Aplikasi Pupuk Kompos
- Penanaman
- Jumlah Daun(helai)
- Jumlah Umbi per Sampel (buah)
- Produksi Basah perSampel (g)
- Produksi Basah perPlot(g)
- Jenis dan Persentase Serangan Penyakit Tanaman
Yijk = Hasil pengamatan setiap petak percobaan yang diberi perlakuan kompos tingkat ke-j dan POC karbon tingkat ke-k pada tingkat ulangan ke-i. Bahan yang digunakan adalah kulit buah kopi 8 kg, Starbio EM41 L, gula merah 2 kg, karung goni dan air 10 liter. Bahan yang digunakan adalah kulit durian 8 kg, EM41 L, gula merah 2 kg, karung goni dan air 10 liter.
Kulit durian dicincang kecil-kecil dan diletakkan di atas terpal, kemudian dituang dengan larutan EM4 yang dicampur dengan larutan gula merah dan diaduk hingga merata. Bahan yang digunakan adalah kulit pisang 8 kg, Starbio EM41 L, gula merah 2 kg, karung goni dan air 10 liter. Kulit pisang kepong dicincang kecil-kecil dan diletakkan di atas terpal, kemudian dituang dengan larutan EM4 yang dicampur dengan larutan gula merah dan diaduk hingga merata.
Setelah itu ditutup dengan karung goni selama 21 hari untuk mempercepat penguraian kompos kulit pisang. Setiap dua hari sekali, aduk kembali dan tambahkan larutan EM4. Setelah penguraian berlangsung selama 21 hari, kompos kulit pisang siap digunakan. Bahan yang digunakan adalah kotoran sapi organik sebanyak 8 kg, Starbio EM41 L, gula merah sebanyak 2 kg, karung goni dan air sebanyak 10 liter.
Kotoran sapi diletakkan di atas terpal, kemudian dilapisi dengan larutan EM4 yang dicampur dengan larutan gula merah dan diaduk hingga merata. Bahan yang dibutuhkan adalah 10 kg ampas kubis, 0,5 kg gula merah, 50 ml EM4 dan air secukupnya. Pemberian kompos dari kulit buah kopi, kulit durian dan kulit pisang dengan dosis yang sama masing-masing 1 kg/petak dilakukan dengan cara disemprotkan pada petak yang telah disiapkan 1 minggu sebelum tanam.
Penyulaman dilakukan terhadap bibit bawang merah yang pertumbuhannya jelek, atau mati, bila ditanam kembali dilakukan sampai 2 minggu setelah tanam. Pengamatan dilakukan pada minggu ke 2 setelah tanam dengan cara mengukur tinggi tanaman sampel dari pangkal hingga ujung daun tertinggi. Penghitungan jumlah umbi dapat dilakukan pada saat panen dengan menghitung jumlah umbi yang dihasilkan dari setiap tanaman sampel.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit yang Diberikan 3 Jenis Kompos Kulit Buah dan POC Kubis pada Tinggi Tanaman 1 MST. Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit Pada Pemberian 3 Jenis Kompos Kulit Buah dan POC Kubis Pada Tinggi Tanaman 2 MST. Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit Pada Pemberian 3 Jenis Kulit Buah dan Kompos.
Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit yang Diberikan 3 Jenis Kompos Kulit Buah dan POC Kubis pada Tinggi Tanaman 6 MST. Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit yang Diberikan 3 Jenis Kompos Kulit Buah dan POC Kubis pada Tinggi Tanaman 7 MST. Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit Diberikan 3 Jenis Kompos Kulit Buah dan POC Kubis Pada Jumlah Daun 1 Mst.
Data observasi respon pertumbuhan, hasil dan persentase serangan penyakit Diberikan 3 jenis pengomposan kulit buah dan POC kubis pada daun nomor 2 MST. Data observasi respon pertumbuhan, hasil dan persentase serangan penyakit Diberikan 3 jenis pengomposan kulit buah dan POC kubis pada jumlah daun 3 MST. Data observasi respon pertumbuhan, hasil dan persentase serangan penyakit Diberikan 3 jenis pengomposan kulit buah dan POC kubis pada daun nomor 6 MST.
Data observasi respon pertumbuhan, hasil dan persentase serangan penyakit Diberikan 3 jenis pengomposan kulit buah dan POC kubis pada daun nomor 7 MST. Data observasi respon pertumbuhan, hasil dan persentase serangan penyakit Diberikan 3 jenis pengomposan kulit buah dan POC kubis terhadap jumlah umbi (buah). Data observasi respon pertumbuhan, hasil dan persentase serangan penyakit diberikan 3 Jenis pengomposan kulit buah dan POC kubis pada produksi tanaman per sampel (g).
Data Observasi Respon Pertumbuhan, Produksi dan Persentase Serangan Penyakit Diberikan 3 Jenis Kompos Kulit Buah dan POC Kubis pada Produksi per Petak (gr).