• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Ekonomi Syari’ah di Institut Agama Islam Negeri Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Skripsi Ekonomi Syari’ah di Institut Agama Islam Negeri Jember"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE) Fakultas Ekonomi dan

Bisnis Islam Jurusan Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Syari’ah

Oleh:

FARIDHOTUS SA’ADAH NIM. 083 144 156

Dosen Pembimbing:

Dr. Abdul Rokhim, S.Ag., M.E.I NIP. 19730830 199903 1 002

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

JURUSAN EKONOMI ISLAM PRODI EKONOMI SYARI’AH

MARET 2018

(2)
(3)
(4)

iv

ﺎَﻣَو ُﻪَﻟ ﱠدَﺮَﻣ َﻼَﻓ ًاءﻮُﺳ ٍمْﻮَﻘِﺑ ُﻪّﻠﻟا َداَرَأ اَذِإَو ْﻢِﻬ ِﺴُﻔْـﻧَﺄِﺑ ﺎَﻣ ْاوُﺮﱢـﻴَﻐُـﻳ ﱠﱴَﺣ ٍمْﻮَﻘِﺑ ﺎَﻣ ٍلاَو ﻦِﻣ ِﻪِﻧوُد ﻦﱢﻣ ﻢَُﳍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah . Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka

merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat

menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Ar-Ra'd: 11)

Kementerian Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Bandung: Mikraj Khazanah Ilmu, 2013), 126

(5)

v

memberikan semangat dan do’a untukku mulai dari awal sampai akhir serta rela bekerja keras untuk kesuksesan anaknya.

2. Kakak satu-satunya Lutfi Hakim yang selalu memberi motivasi dan dukungan penuh kepada penulis.

3. Orang spesial M. Amirus Saiq yang juga selalu memotivasi dan mendo’akan penulis.

4. Ibu dosen tercinta ibu Nurul Widyawati I.R yang tlaten menyemangati penulis untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.

5. Bapak dan ibu kost yaitu pak Syafiudin dan Ibu Aminah yang selalu mendoakan serta merawat penulis selama belajar di IAIN Jember.

6. Teman-teman Kost yang selalu bersedia meluangkan waktu untuk belajar dan bercanda bersama.

7.

Teman-teman kelas K-3 yang melengkapi dan saling memotivasi.

(6)

vi

satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan lancar.

Sholawat serta salam senantiasa terlimpahkan kepada nabi besar Muhammad SAW, keluarga dan sahabat-sahabatnya serta pengikutnya.

Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terim kasih sedalam-dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE.,MM selaku Rektor IAIN Jember.

2. Bapak Dr. Moch Chotib, S.Ag., MM selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

3. Bapak M. F. Hidayatullah, S.H.I., M.S.I selaku Ketua Jurusan Ekonomi Islam.

4. Ibu Nikmatul Masruroh, M.E.I selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah.

5. Bapak Dr. Abdul Rokhim,S.Ag., M.E.I selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan teliti sehingga skripsi ini selesai.

6. Semua dosen IAIN Jember yang telah meberikan ilmunya kepada penulis.

7. Perpustakaan IAIN Jember yang banyak memberikan kemudahan khususnya dalam menyediakan referensi.

8. Bapak Alief Rachman Kartiono, SE.,MM. selaku kepala Dinas Koperasi dan UM Kabupaten Baanyuwangi yang telah memberikan izin penelitian kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi

9. Bapak pemilik industri batik yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan informasi kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi.

(7)

vii

Penulis

(8)

viii

Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.

UMKM batik dapat terus berkembang jika pemerintah mendukung dan berusaha membuat eksistensi batik sebagai ciri khas daerahnya melalui apapun kegiatan dan cara menunjukkan ciri khas batik Banyuwangi ke pada khalayak umum. Salah satu bentuk dan apresiasi terhadap batik dan kebudayaan Banyuwangi berupa adanya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 tahun 2016 tentang Pakaian Dinas di lingkungan Kabupaten banyuwangi, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan UMKM batik di banyuwangi.

Fokus masalah pada skripsi ini adalah: 1) Bagaimana perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi sebelum diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016? 2) Bagaimana perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi pasca diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016?.

Sedangkan tujuan pada penelitian ini adalah Untuk mengetahui perkembangan industri batik di kabupaten Banyuwangi sebelum di berlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016. Untuk mengetahui perkembangan industri batik di kabupaten Banyuwangi pasca di berlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016.

Untuk mengidentifikasi permasalahn tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data oleh penulis menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi. Dengan sumber data pemilik UMKM batik di Banyuwangi.

Perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi sebelum diberlakukannya PERBUB no 27 tahun 2016, dapat disimpulkan bahwa masih terkendala dalam hal manajemen produksi dan juga masih belum adanya dukungan dari pemerintahan sendiri. Sedangkan Perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi setelah diberlakukannya PERBUB no 27 tahun 2016, dapat disimpulkan bahwa, industri-industri batik jauh berbeda dari sebelum adanya PERBUB. Industri-industri batik meningkatkan manajemen produksinya supaya mendapat output yang berkualitas dan memenuhi target permintaan.

Keywords (kata kunci): UMKM, manajemen produksi dan perkembangan industri batik.

(9)

ix

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 10

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 11

B. Kajian Teori ... 22

1. UMKM... 22

2. Manajemen Produksi ... 25

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 43

B. Lokasi Penelitian... 43

C. Subyek Penelitian... 44

D. Teknik Pengumpulan Data... 45

E. Teknik Analisis Data... 47

F. Teknik Keabsahan Data ... 49

(10)

x

C. Pembahasan Temuan ... 102 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 110 B. Saran-saran... 111 DAFTAR PUSTAKA ... 113

(11)

xi

2.1 Mapping Penelitian Terdahulu ... 19 4.1 Data UMKM Batik Kabupaten Banyuwangi ... 53 4.2 Perbedaan UMKM Batik Sebelum dan Sesudah Diberlakukannya

Peraturan Bupati Banyuwangi No 27 Tahun 2016 ... 102

(12)

xii

(13)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Batik merupakan sejenis kain bermotif yang dibuat khusus dengan motif-motif yang khas yang langsung dikenali masyarakat umum. Pada masa lampau, batik banyak dipakai oleh orang Indonesia di daerah Jawa. Itu pun terbatas pada golongan ningrat keraton dengan aturan yang sangat ketat.

Artinya, tidak sembarang orang dapat menggunakan batik, terutama pada motif-motif tertentu yang ditetapkan sebagai motif larangan bagi khalayak luas. Namum pada perkembangannya, batik telah menjadi salah satu “pakaian nasional” Indonesia yang dipakai oleh bangsa Indonesia di seluruh Nusantara dalam berbagai kesempatan. Batik enak disandang dan enak dipandang. Itulah salah satu alasan mengapa batik banyak dipakai di berbagai kalangan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik dijelaskan sebagai kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan lilin malam pada kain, kemudian pengelolaannya diproses dengan cara tertentu; atau biasa dikenal dengan kain batik.1

Di Indonesia, batik memiliki sejarah dan riwayat yang panjang. Di setiap wilayah di Nusantara, batik memiliki perkembangan dan kisah yang menarik. Keberadaan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan yang besar, makmur, dan mengalami masa kejayaan selama beberapa abad telah membuat

1 Ari Wulandari, Batik Nusantara- Makna Filosofi, Cara Pembuatan, dan Industri Batik, (Yogyakarta: ANDI, 2011), 1-2.

1

(14)

tradisi dan kebudayaannya mengakar kuat di wilayah Nusantara, termasuk diantaranya seni batik.2 Sebelumnya, batik sempat diklaim sebagai warisan budaya dari Malaysia. Pertikaian itu sempat memperkeruh hubungan baik antara dua bangsa serumpun Melayu ini. Namun dengan berbagai bukti, tidaklah dapat dipungkiri bahwa batik merupakan salah satu budaya asli Indonesia. Dan akhirnya badan PBB untuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya (UNESCO) mengukuhkan batik sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2009. Sejak itulah, 2 Oktober diperingati sebagai “Hari Batik” di Indonesia.3

Hampir setiap wilayah di Indonesia memiliki kerajinan batik yang tersebar di berbagai sentra industri kerajinan yang bersifat rumah tangga, salah satunya adalah Kabupaten Banyuwangi. Ada dua puluh satu motif Batik Banyuwangi diantaranya yang telah terpopuler adalah motif Gajah Oling, Paras Gempal, Kangkung Setingkes, Sembruk Cacing, Gedegan, Ukel, Blarak Semplah dan Moto Pitik, serta teknik yang digunakan seperti teknik cap dan tulis dengan warna-warna alam, natural, pesta, dan glamor.4 Jika dilihat Banyuwangi merupakan kota yang mempunyai keanekaragaman budaya dan potensi wilayah yang dimiliki bisa mengembangkan pariwisata yang dijadikan peluang bisnis untuk mensejahterakan masyarakatnya, sehingga membuat Banyuwangi semakin dikenal. Batik Banyuwangi mengalami perkembangan yang cukup pesat, hal ini menunjukkan bahwa batik sebagai salah satu kebudayaan yang perlu dilestarikan dan sebagai ciri khas bangsa

2Ibid., 11.

3Ibid., 7.

4Dokumentasi Dinas Koperasi dan UM Kabupaten Banyuwangi.

(15)

Indonesia. Produk batik bahkan ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan Kabupaten Banyuwangi untuk menuju Kota Batik, karena batik mempunyai banyak keunikan dan tertarik pada perkembangan batik, khususnya batik pesisiran Banyuwangi. Walaupun batik bukan kebutuhan primer seperti makanan tapi batik termasuk kebutuhan sekunder yaitu pakaian. Baju batik biasanya dipakai pada acara formal ataupun semi formal, walau bukan untuk pakaian sehari-hari tapi ketika memakainya mempunyai prestise tersendiri. Prestise tersebut membuat orang suka memakainya, terkadang seseorang membutuhkan baju batik untuk acara tertentu. Keunikan motif batik disetiap daerah berbeda-beda, hal itu menunjukkan sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan sehingga diharapkan mampu mengembangkan potensi pariwisata dari keanekaragaman batik pesisiran Banyuwangi untuk menarik wisatawan dan dapat dimanfaatkan untuk peluang bisnis untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Banyuwangi.5

Salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yaitu dengan meningkatkan pula industri batik yang ada di Banyuwangi. Industri merupakan badan atau kegiatan yang bertujuan untuk mengelola bahan mentah menjadi suatu komoditi atau proses penambahan nilai guna suatu barang.6 Oleh karena itu perlu meningkatan produktivitas. Dimana peningkatan produktivitas merupakan faktor penting untuk membangun ekonomi secara nasional dalam suatu Negara pada umumnya dan khususnya

5Septyas Arum Furyana, et. al. Artikel: Inovasi Produk Batik Pesisiran pada Perusahaan Batik Virdes di Banyuwangi, (Universitas Jember, 2013), 2.

6Juliana Ifnul Mubarok, Kamus Istilah Ekonomi, (Bandung: YRAMA WIDYA, 2012), 99.

(16)

bagi perusahaan yang bersangkutan.7 Tingkat produktivitas ini harus diterapkan dalam UMKM batik, terutama UMKM Batik di Banyuwangi.

Banyak sekali UMKM batik yang ada di Banyuwangi, beberapa diantaranya seperti data dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi adalah:

Tabel 1.1

UMKM Batik di Kabupaten Banyuwangi Nama

Perusahaan

Pemilik Lokasi Nomer Telp. Jenis Usaha Godho batik Firman

Sauqi

Perum Permata Giri Permai Blok CA6 Rt 04

Rw 06

Kecamatan Giri

085336109200/

081907824902

Batik

Nozzah Batik Amrin Jl. Abu Hasan No. 10 Rt 01 Rw 01 Desa Kedaleman Kecamatan Rogojampi

081337646600/

081233661234

Batik

Batik Tatsaka Eddy Fitriyanto

Jl. SMAN

Cluring Simbar 2 Dsn Kulon Ban Cluring Desa Tampo

085232930937/

088801014456

Batik

Najiha Batik Dr. Hasyim Ashari, S.S., MSI

Simbar 2 Rt 02 Rw 02 Barat SDN Tampo 3 Desa Tampo Kecamatan Cluring.

081320642479/

085607920022

Batik

Yoko Batik Mujiyoko Dsn. Simbar 2 Rt. 01 Rw. 4 Tampo Cluring.

085738466610 Batik Sumber: Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi, 2018..

7Henki Idris Issakh dan Mimi, Teori Bisnis untuk Perusahaan Modern Edisi 2, (Jakarta: In Media, 2014), 396.

(17)

Keragaman sumber daya alam dan budaya Banyuwangi telah menjadi sumber inspirasi bagi praktisi dan pelaku usaha termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk menghasilkan aneka produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. UMKM sebagai pelaku usaha yang tersebar di wilayah Banyuwangi, menjadikan usaha aneka produk kreatif yang merupakan sumber perekonomian dan sekaligus menjadi kebanggaan karya dan pengabdiannya. Produk UMKM Banyuwangi merupakan hasil daya cipta kreatif, inovatif dan dengan ketrampilan tinggi mengolah bahan baku lokal menjadi sebuah produk yang artistik dan bernilai ekonomi. Dari berbagai produk kreatif tersebut didesain dengan sentuhan teknologi terkini tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya, sehingga akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap orang yang memiliki.8

UMKM batik dapat terus berkembang jika pemerintah mendukung dan berusaha membuat eksistensi batik sebagai ciri khas daerahnya melalui apapun kegiatan dan cara menunjukkan ciri khas batik Banyuwangi ke pada khalayak umum. Salah satu bentuk dan apresiasi terhadap batik dan kebudayaan Banyuwangi berupa adanya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016 tentang Pakaian Dinas di Lingkungan Kabupaten Banyuwangi, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan UMKM batik di Banyuwangi.

Peraturan pemerintah biasanya hanya mewajibkan para pejabat daerah dan pegawai negeri sipil menggunakan baju batik, namun tidak

8Dokumentasi Dinas Koperasi dan UM Kabupaten Banyuwangi.

(18)

mengkhususkan menggunakan baju batik khas daerahnya masing-masing.

Seperti yang kita ketahui bahwa terdapat seragam PNS yang bermotif batik dan hampir semua daerah di Indonesia sama yaitu batik dengan corak biru, dengan adanya Peraturan Bupati Banyuwangi ini Bupati mengkhususkan menggunakan batik khas Banyuwangi sebagai ciri dan simbol keragaman dan kebudayaan Banyuwangi. Hal ini juga akan berpengaruh kepada kebijakan sekolahan dan para pegawai non sipil menggunakan baju batik khas Banyuwangi, seperti halnya banyak sekolah yang berada di Banyuwangi menggunakan sragam batik yang bernuansa batik khas Banyuwangi. Usaha untuk melestarikan batik Banyuwangi dibuktikan dengan berbagai acara yang diselenggarakan oleh Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi sebagai ajang untuk meningkatkan industri batik Banyuwangi dan mengenalkan keunikan batik Banyuwangi kepada khalayak umum di luar Kabupaten Banyuwangi.

Di dalam Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016 dijelaskan bahwa pejabat lingkungan Kabupaten Banyuwangi wajib mengenakan baju batik khas Banyuwangi, selain itu juga mewajibkan bagi pegawai menggunakan baju adat Banyuwangi yang mempunyai ciri khas batik Banyuwangi yang diaplikasikan pada bawahan sewek untuk perempuan dan udeng untuk laki-laki.9 Secara tidak langsung batik khas Banyuwangi menonjolkan ciri khasnya pada pakaian yang dikenakan oleh pegawai di lingkungan Banyuwangi, dan hal tersebut mempengaruhi semua kalangan

9 Lihat di Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016 Tentang Pakaian Dinas di Lingkungan Kabupaten Banyuwangi Pasal 6 ayat (1) (2) (3) dan pasal 7.

(19)

pegawai serta lembaga pendidikan yang juga ikut serta dalam melestarikan batik Banyuwangi.

Dari latar belakang permasalahan tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Perkembangan Industri Batik di Banyuwangi Pasca Diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016 tentang Pakaian Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi”.

B. Fokus Masalah

Adapun fokus penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi sebelum diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016?

2. Bagaimana perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi pasca diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi sebelum diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016.

2. Untuk mengetahui perkembangan industri batik di Kabupaten Banyuwangi pasca diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016.

(20)

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan terhadap masalah yang akan diteliti. Khususnya mengenai perkembangan industri batik di Banyuwangi pasca diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016 tentang Pakaian Dinas di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan dapat dijadikan sebagai bahan referensi bagi pihak lain yang akan melakukan penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi penulis, suatu pembelajaran mengenai perkembangan industri yang berkaitan dengan manajemen produksi yang meliputi perencanaan produksi, proses produksi dan peningkatan produktivitas.

b. Bagi instansi yaitu IAIN Jember dan mahasiswa Ekonomi Syariah, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan dan perbandingan dalam penelitian selanjutnya.

c. Bagi masyarakat, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk memahami perkembangan industri batik yang berkaitan dengan perencanaan produksi, proses produksi dan peningkatan produktivitas.

(21)

E. Definisi Istilah

Adapun definsi istilah dalam penelitian ini adalah:

1. Industri

Industri merupakan badan atau kegiatan yang bertujuan untuk mengelola bahan mentah menjadi suatu komoditi atau proses penambahan nilai guna suatu barang.10

2. Batik

Batik dijelaskan sebagai kain bergambar yang dibuat secara khusus dengan menuliskan atau menerakan lilin malam pada kain, kemudian pengelolaannya diproses dengan cara tertentu; atau biasa dikenal dengan kain batik.11

3. Peraturan Bupati Banyuwangi

Peraturan Bupati adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Bupati untuk menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya.

4. Pakaian Dinas

Pakaian dinas adalah pakaian khusus bagi pegawai, karyawan, dan dipakai dalam kedinasan.12

Dengan demikian, maksud dari judul tersebut menurut peneliti adalah perkembangan yang terjadi pada industri-industri batik dalam hal manajemen

10Mubarok, Kamus Istilah, 99.

11Wulandari, Batik Nusantara, 2.

12 KBBI, “Pengertian Pakaian Dinas”, https://www.apaarti.com/pakaian-dinas.html (27 oktober 2017).

(22)

produksi setelah adanya Peraturan Bupati No 27 Tahun 2016 Tentang Pakaian Dinas di lingkungan Kabupaten Banyuwangi.

F. Sistematika Pembahasan

BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.

BAB II Kajian Pustaka, berisi tentang ringkasan kajian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan pada saat ini serta memuat tentang kajian teori.

BAB III Metode Penelitian, berisi tentang metode yang digunakan oleh peneliti, meliputi pendekatan dan jenis pendekatan, lokasi penelitian, subyek data, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, keabsahan data dan yang terakhir tahapan penelitian.

BAB IV Penyajian Data dan Analisis, berisi inti atau hasil penelitian meliputi gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis data, serta yang terakhir pembahasan temuan.

BAB V Penutup atau Kesimpulan dan Saran, berisi kesimpulan penelitian yang dilengkapi dengan saran-saran dari peneliti/penulis dan diakhiri dengan penutup.

(23)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu berguna untuk mendapatkan gambaran dan kerangka berfikir untuk melakukan penelitian, selain itu juga dapat dipakai sebagai informasi dan bahan acuan untuk melakukan penulisan skripsi.

Adapun penelitian terdahulu adalah sebagai beriku:

1. Septyas Arum Furyana et. al dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember, dengan judul “Inovasi Produk Batik Pesisiran pada Perusahaan Batik Virdes di Banyuwangi”. Tujuan penelitian untuk mengetahui inovasi produk batik pesisiran pada perusahaan batik Virdes di Banyuwangi. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif dengan paradigma kualitatif. Adapun hasil riset yang dilakukan peneliti berdasarkan fenomena pada perusahaan batik Virdes di Banyuwangi maka teori yang cocok dengan kondisi lapangan dan mendukung penelitian menunjukkan bahwa perusahaan melakukan inovasi produk13

Adapun persamaan antara penelitian ini dengan Septyas Arum Furyana yaitu metode yang digunakan sama-sama menggunakan deskriptif kualitatif. Sedangkan perbedaannya terletak pada objek penelitiannya, dimana penelitian ini objek penelitiannya di beberapa

13Septyas Arum Furyana et. al,“Inovasi Produk Batik Pesisiran pada Perusahaan Batik Virdes di Banyuwangi”, (Jurnal, Universitas Jember (UNEJ), 2013).

11

(24)

UMKM sedangkan Septyas di UMKM Batik Virdes, selain itu perbedaannya terletak pada tujuan dan teori yang digunakan.

2. Yulianita Anisyah dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro dengan judul “Analisis Perkembangan Industri Batik Semarang”. Tujuan penelitian ini menganalisis perkembangan Batik Semarang dan menganalisis perbedaan dalam hal modal usaha, ongkos produksi, tenaga kerja, jumlah pembeli, total penjualan, dan keuntungan pada Batik Semarang sebelum dan sesudah mendapat bantuan pemasaran dari Pemerintah Kota Semarang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian yaitu adanya peningkatan pada semua variabel dengan presentase yang berbeda.14

Adapun persamaan penelitian yang akan dilakukan dengan peneliti Yulianita Anisyah yaitu membahas perkembangan industri batik.

Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan.

Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian Yulianita menggunakan kuantitatif. Perbedaan juga terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian serta teori yang digunakan.

3. Ahmad Yogga Setiawan dari Fakultas Sastra Universitas Jember dengan judul “Perkembangan Industri Pariwisata di Kabupaten Jember Tahun 2003-2014”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menelusuri apa saja yang dilakukan pemerintah dalam mengembangkan industri ini serta

14Yulianita Anisyah, “Analisis Perkembangan Batik di Semarang”, (Skripsi, Universitas Diponegoro, 2011).

(25)

dampak-dampaknya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri atas empat tahap yaitu; heuristik, kritik, interprestasi dan histografi. Hasil penelitian yaitu dengan adanya Bulan Berkunjung ke Jember (BBJ) pemerintah mengembangkan industri pariwisata dengan cara promosi, dan dampak perkembangan pariwisata adalah peningkatan PAD Kabupaten Jember.15

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Ahmad Yogga yaitu membahas perkembangan industri.

Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan.

Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Ahmad Yogga menggunakan metode sejarah. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

4. Dian Fitriana dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan judul “Perkembangan Industri Gula Colomadu dan Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Tahun 1990- 1998”. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejarah, perkembangan industri serta perubahan sosial masyarakat. Metode yang digunakan yaitu metode historis. Hasil penelitian pabrik gula Colomadu didirikan pada tanggal 8 desember 1861, sejak tahun 1990 produksi

15Ahmad Yogga Setiawan,“Perkembangan Industri Pariwisata di Kabupaten Jember Tahun 2003- 2014”, (Skripsi, Universitas Jember, 2015).

(26)

mengalami penurunan, pengaruh penutupan pabrik terhadap masyarakat di antaranya dalam bidang sosial dan ekonomi.16

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Dian Fitriana yaitu membahas perkembangan industri.

Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan.

Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Dian Fitriana menggunakan metode histori. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

5. Siti Masruroh dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, dengan judul “Manajemen Mutu Produksi pada UKM Batik Tulis Prabulinggih Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Probolinggo”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana penerapan manajemen mutu, bagaimana proses pembuatan batik, permasalahan yang dihadapi, serta tindak lanjut masalah tersebut. Motede penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yaitu menunjukan bahwa manajemen mutu pada perusahaan ini sangat bagus, proses produksi juga sama dengan batik-batik lain dengan menggunakan bahan kain katun dan sutra,

16 Dian Fitriana, “Pekembangan Industri Gula Colomadu dan Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Tahun 1990-1998”, (skripsi, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2011).

(27)

sedangkan permasalahan yang dihadapi berupa kurangnya mesin atau peralatan dan yang dimiliki perusahaan.17

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Siti Masruroh yaitu pada objek penelitian yaitu UKM Batik namun berbeda lokasi dan jenis batik, yang menjadi persamaan lagi yaitu pada metode penelitian sama-sama menggunakan deskriptif kualitatif. Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

6. Kamaliatul Azza dari Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya, dengan judul “Perkembangan Industri Batik Sendang Duwur di Daerah Paciran Lamongan Tahun 1980-2016”. Tujuan penelitian ini yaitu (1) Mendeskripsikan latar belakang munculnya batik Sendang Duwur, (2) Mendiskripsikan perkembangan Batik Sendang Duwur mulai tahun 1980-2016, (3) Mendiskripsikan batik Sendang Duwur sebagai penyokong ekonomi masyarakat di desa Sendang Duwur Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian yaitu menunjukkan bahwa Batik Sendang Duwur mulai berkembang pada tahun 1980, dulunya batik ini pernah mengalami kemudururan di tahun 1965an.18

17Siti Masruroh,“Manajemen Mutu Produksi pada UKM Batik Tulis Prabulinggih Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Probolinggo”, (Skripsi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, 2017).

18Kamaliatul Azza,“Perkembangan Industri Batik Senndang Duwur di Daerah Paciran Lamongan Tahun 1980-2016”, (Skripsi, Universitas Negeri Surabaya, 2017).

(28)

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Kamaliatul Azza yaitu membahas perkembangan industri batik. Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Kamaliatul Azza menggunakan metode sejarah. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

7. Yossi Atika Permana dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro, dengan judul “Strategi Pengembangan Usaha Kerajinan Batik Tulis Semarang di Kota Semarang”. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh modal, jumlah tenaga kerja, bahan baku, bahan penolong, jalinan kemitraan dan bantuan pemerintah terhadap produksi UKM batik tulis Semarang. Metode yang digunakan regresi linier berganda dengan menggunakan software e-views dan analisis SWOT.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari keenam variabel independen dalam persamaan regresi, terdapat empat variabel yang berpengaruh signifikan terhadap produksi batik tulis Semarang yaitu modal, jumlah tenaga kerja, bahan baku dan bahan penolong. Sedangkan variabel jalinan kemitraan dan bantuan pemerintah tidak berpengaruh siginifikan terhadap produksi batik tulis Semarang.19

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Yossi Atika Permana yaitu sama dalam hal objek

19Yossi Atika Permana, ”Strategi Pengembangan Usaha Kerajinan Batik Tulis Semarang di Kota Semarang”, (Skripsi, Universitas Diponegoro, 2016).

(29)

penelitian yaitu industri batik namun berbeda lokasi. Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Yossi Atika Permana menggunakan metode regresi linier berganda dengan menggunakan software e-views dan analisis SWOT. Adapun perbedaannya lagi terletak pada tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

8. Adhe Anggreini Saragi dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan judul “Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah Sektor Industri Kerajinan Batu Bata Berdasarkan Analisis SWOT”. Tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan profil, SDA, SDM, Teknologi, Permodalan, pemasaran dan startegi pengembangan batu bata di kecamatan Piyungan. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian yaitu mengembangkan industri dengan memperluas pasar, meningkatkan kualitas, menambah modal dan memperbanyak SDM.20

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Adhe Anggreini Saragi yaitu sama-sama membahas mengenai pengembangan industri dalam lingkup Usaha Kecil Menengah.

Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan.

Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Adhe Anggreini Saragi menggunakan metode

20 Adhe Anggreini Saragi, “Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah Sektor Industri Kerajinan Batu Bata Berdasarkan Analisis SWOT”, (Skripsi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, 2016).

(30)

deskriptif kuantitatif. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

9. Nur Thoriq Aziz dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unversitas Sebelas Maret Surakarta, dengan Judul “Perkembangan Industri Rotan dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupa Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Trangsan Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo”. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui deskripsi wilayah, asal-usul dan perkembangan industri, proses produksi dan pemasaran industri terhadap kehidupan sosial masyarakat. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif. Hasil penelitian perkembangan yang terjadi pada jumlah tenaga kerja yang meningkat dan meningkatkan pendapatan serta lapangan pekerjaan.21

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Nur Thoriq Aziz yaitu membahas perkembangan industri dan metode yang digunakan sama yaitu deskriptif kualitatif. Sedangkan yang menjadikan perbedaan pada penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Nur Thoriq Aziz terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

10. Septaria Dina Wijaya dari Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, dengan judul “Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan Bordir di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal”. Tujuan penelitian untuk mengetahui profil industri kerajinan bordir dan strategi

21Nur Thoriq Aziz, “Perkembangan Industri Rotan dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupa Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Trangsan Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo”, (Skripsi, Unversitas Sebelas Maret Surakarta, 2011).

(31)

pengembangan industri kerajinan bordir di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal. Metode yang digunakan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa perkembangan industri kerajinan bordir dari tahun 2007-2009 mengalami pasang surut seperti faktor-faktor seperti perkembangan unit produksi, permodalan, tingkat penjualan dan tenaga kerja.22

Adapun persamaan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian dari Septaria Dina Wijaya yaitu sama-sama membahas mengenai pengembangan industri dalam lingkup usaha kecil. Sedangkan yang menjadikan perbedaan yaitu metode yang digunakan. Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Septaria Dina Wijaya menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

Tabel 2.1

Mapping Penelitian Terdahulu

NO NAMA JUDUL PERSAMAAN PERBEDAAN

1 Septyas Arum Furyana et. al

Inovasi Produk Batik Pesisiran pada Perusahaan Batik Virdes di Banyuwangi

Sama-sama menggunakan metode deskriptif kualitatif.

Perbedaannya terletak pada objek penelitiannya. perbedaannya terletak pada tujuan dan teori yang digunakan

2 Yulianita Anisyah

Analisis Perkembangan Industri Batik Semarang

Sama-sama membahas perkembangan industri batik.

Perbedaan yaitu metode yang digunakan, Yulianita menggunakan kuantitatif.

Perbedaan juga terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian serta

22Septaria Dina Wijaya, “Strategi Pengembangan Industri Kecil Kerajinan Bordir di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal”,(Skripsi, Universitas Negeri Semarang, 2011).

(32)

teori yang digunakan.

3 Ahmad

Yogga Setiawan

Perkembangan Industri

Pariwisata di Kabupaten Jember Tahun 2003-2014

Sama-sama membahas perkembangan industri

Perbedaan yaitu metode yang digunakan, Ahmad Yogga menggunakan metode sejarah. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

4 Dian Fitriana

Pekembangan Industri Gula Colomadu dan Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Tahun 1990- 1998

Sama-sama membahas perkembangan industri

Perbedaan yaitu metode yang digunakan, Dian Fitriana menggunakan metode histori. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

5 Siti Masruro h

Manajemen Mutu Produksi

pada UKM

Batik Tulis Prabulinggih Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Probolinggo

Sama-sama objek penelitian

yaitu UKM

Batik namun berbeda lokasi dan jenis batik, pada metode penelitian sama- sama

menggunakan deskriptif kualitatif

Perbedaan yaitu tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

6 Kamaliat ul Azza

Perkembangan Industri Batik Sendang Duwur

di Daerah

Paciran Lamongan Tahun 1980- 2016

Sama-sama membahas perkembangan industri batik.

Yang menjadikan

perbedaan yaitu metode yang digunakan.

Kamaliatul Azza

menggunakan metode

sejarah. Adapun

perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan

7 Yossi Atika Permana

Strategi

Pengembangan Usaha Kerajinan Batik Tulis Semarang di Kota Semarang

Sama dalam hal objek penelitian yaitu industri batik namun berbeda lokasi.

Perbedaan yaitu metode yang digunakan, Yossi

Atika Permana

menggunakan metode regresi linier berganda dengan menggunakan

(33)

software e-views dan analisis SWOT. Adapun perbedaannya lagi terletak pada tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

8 Adhe Anggrein i Saragi

Strategi

Pengembangan Usaha Kecil Menengah Sektor Industri Kerajinan Batu Bata

Berdasarkan Analisis SWOT

Sama-sama mebahas mengenai pengembangan industri dalam lingkup Usaha Kecil

Menengah.

Perbedaannya yaitu metode yang digunakan.

Pada penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif sedangkan pada penelian dari Adhe Anggreini Saragi menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan

9 Nur

Thoriq Aziz

Perkembangan Industri Rotan dan

Pengaruhnya Terhadap

Kehidupa Sosial Ekonomi

Masyarakat di Desa Trangsan Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo

Sama-sama membahas perkembangan industri dan metode yang digunakan sama yaitu deskriptif kualitatif

Perbedaannya pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan.

10 Septaria Dina Wijaya

Strategi

Pengembangan Industri Kecil Kerajinan

Bordir di

Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal

Sama-sama membahas mengenai pengembangan industri dalam lingkup Usaha Kecil

Metode yang digunakan Septaria Dina Wijaya menggunakan metode deskriptif kuantitatif.

Adapun perbedaannya lagi terletak pada objek penelitian, tujuan penelitian dan teori yang digunakan

(34)

B. Kajian Teori

1. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) a. Pengertian dan Kriteria UMKM

Definisi dari UMKM berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, menggariskan sebagai berikut; Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam undang-undang.23

Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah-tangga maupun suatu badan, bertujuan untuk memproduksi barang atau jasa untuk diperniagakan secara komersil.24 Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri yang dilakukan orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian, baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Kriteria usaha mikro adalah apabila 1) Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; 2) Memiliki hasil

23 Rio F. Wilantara dan Susilawati, Strategi dan Kebijakan Pengembangan UMKM (Upaya Meningkatkan Daya Saing UMUKM Nasional di Era MEA), (Bandung: PT Refika Aditama, 2016), 8.

24 FE Ubaya dan Forda UKM Jawa Timur, Kewirausahaan UKM: Pemikiran dan Pengalaman, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), 8.

(35)

penjualan tahunan paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). Sedangkan Usaha Kecil, kriterianya sebagai berikut: 1) Kekayaan bersih lebih dari Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; 2) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah). Dan usaha Menengah, kriterianya sebagai berikut: 1) Kekayaan bersih lebih dari Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; 2) Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2.500.000.000,00 (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah).25

b. Asas dan Prinsip Pemberdayaan

Berdasarkan perundang-undangan, UMKM dalam menjalankan kegiatan pemberdayaan usahanya didasari oleh asas- asas sebagai berikut:

1) Asas kekeluargaan.

2) Asas demokrasi ekonomi.

3) Asas kebersamaan

4) Asas efesiensi berkeadilan.

25Wilantara dan Susilawati, Strategi dan Kebijakan, 8.

(36)

5) Asas keberlanjutan.

6) Asas berwawasan lingkungan.

7) Asas kemandirian.

8) Asas keseimbangan kemajuan.

9) Asas kesatuan ekonomi nasional.

Masih berdasarkan perundang-undangan yang sama, prinsip- prinsip pemberdayaan mancakup:

1) Penumbuhan kemandirian, kebersamaan, dan kewirausahaan UMKM untuk berkarya dengan prakarsa sendiri;

2) Mewujudkan kebijakan publik yang transparan, akuntabel, dan berkeadilan;

3) Pengembangan usaha berbasis potensi daerah dan berorientasi pasar sesuai dengan kompetisi UMKM;

4) Peningkatan daya saing UMKM; serta

5) Penyelanggaraan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian secara terpadu.26

c. Mencari Strategi Pemberdayaan yang Tepat

Startegi pemberdayaan UMKM yang telah diupayakan selama ini dapat diklasifikasikan dalam:

1) Aspek manajerial, yang meliputi: peningkatan produktivitas/omset/tingkat utilisasi/tingkat hunian,

26Ibid., 9-10.

(37)

meningkatkan kemampuan pemasaran dan pengembangan sumber daya manusia.

2) Aspek permodalan, yang meliputi: bantuan modal (penyisihan 1-5% keuntungan BUMN dan kewajiban untuk menyalurkan kredit bagi usaha kecil minimum 20% dari portofolio kredit bank) dan kemudahan kredit (KUPEDES, KUK, KIK, KMKP, KCK, Kredit Mini/Midi, KKU).

3) Mengembangkan progam kemitraan dengan usaha besar baik lewat sistem Bapak Anak Angkat, PIR, keterkaitan hulu-hilir (forward linkage), keterkaitan hilir-hulu (backward linkage), modal ventura, ataupun subkontrak.

4) Pengembangan sentra industri kecil dalam suatu kawasan, baik berbentuk PIK (Pemukiman Industri Kecil) yang didukung oleh UPT (Unit Pelayanan teknis) ataupun TPI (Tenaga Penyuluh Industri).

5) Pembinaan untuk bidang usaha dan daerah tertentu lewat UB (Kelompok Usaha Bersama), KOPINKRA (Koperasi Industri Kecil dan Kerajinan).27

2. Manajemen Produksi

Manajemen adalah suatu usaha merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan, mengoordinasikan, serta mengawasi

27Mudrajat Kuncoro, Masalah, Kebijakan, dan Politik Ekonomika Pembangunan, (Jakarta:

Erlangga, 2010), 196-197.

(38)

kegiatan dalam suatu organisasi agar dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efesien.28

Produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen.29 Jadi manajemen produksi merupakan suatu ilmu yang membahas secara komprehensif bagaimana pihak manajemen produksi perusahaan mempergunakan ilmu dan seni yang dimiliki dengan mengarahkan dan mengatur orang-orang untuk mencapai suatu hasil produksi yang diinginkan.

Penekanan pada kata seni menunjukkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan dengan mempergunakan orang lain tidak akan mudah dikerjakan dan diselesaikan jika semua itu dilakukan tidak dengan pendekatan seni namun misalnya dengan mengandalkan kekuasaan semata. Seni menyangkut dengan kemampuan seorang manajer mempergunakan kemampuan berkomunikasi serta body language yang dimilikinya guna menarik simpati dari para bawahannya untuk mau bekerja serta berkorban jika seandainya pekerjaan tersebut membutuhkan waktu yang lebih lama dan fokus yang tinggi.

Yang harus diingat oleh bagian produksi untuk melaksanakan tanggung jawab secara maksimal dalam menempatkan setiap keputusan yang dibuat secara tepat dan tepat sasaran. Bidang produksi mempunyai

28Juliana Ifnul Mubarok, Kamus Istilah Ekonomi, (Bandung: YRAMA WIDYA, 2013), 137.

29P3EI, Ekonomi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 230.

(39)

lima tanggung jawab keputusan utama, yaitu: Proses, kapasitas, persediaan, tenaga kerja, mutu/kualitas.30

Beberapa poin penting dalam sebuah manajemen produksi dalam meningkatkan kualitas dan daya guna suatu barang atau output yang dihasilkan, antara lain adalah:

a. Proses Produksi

1) Pengertian Proses Produksi

Proses adalah cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil.

Sedangkan produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa.31 Jadi proses produksi pada hakekatnya adalah proses pengubahan (transformasi) dari bahan atau komponen (input) menjadi produk lain lebih tinggi atau dalam proses terjadi penambahan nilai, seperti ditunjukkan dalam gambar 2.1 berikut ini.

30Irham Fahmi, Studi Kelayakan Bisnis dan Keputusan Investasi, (Jakarta: Mitra Wacana Media, 2014), 188-189.

31 Sofjan Assauri, Manajemen Produksi dan Operasi, (Jakarata: Fakultas Ekonomi Unuversitas Indonesia, 1999), 75.

(40)

Gambar 2.1 Proses Produksi Pabrik

Sumber:Zulian Yamit (2003, 123)

Dalam gambar 2.1 memperhatikan bahwa setelah semua unsur input yang dibutuhkan tersedia, maka proses produksi dapat dimulai yang meliputi proses pembuatan dalam unit-unit processing maupun dalam unit-unit perakitan dengan prosedur yang benar dan dikontrol untuk mendapatkan kesesuaian dengan desain yang telah ditetapkan. Proses produksi akan berakhir ketika produk yang dihasilkan dilakukan pengepakan untuk siap dikirimkan pada konsumen. Dengan demikian dalam proses produksi terjadi berbagai macam proses, yaitu (1) Proses pembuatan, (2) Proses perakitan, (3) Proses pengujian, (4) Proses pengepakan.32

2) Pengembangan Teknologi Proses Produksi

Faktor-faktor pendorong kemajuan dibidang teknologi proses produksi akhir-akhir ini terutama disebabkan oleh tiga faktor penting, yaitu:

32Zulian Yamit, Manajemen Produksi dan Operasi, (Yogyakarta: Ekonesia, 2003), 123.

Input

Mesin

Bahan

Energi

Desain produk

Proses Transformasi

Proses produksi dengan menggunakan berbagai macam fasilitas produksi

Output

Barang atau

Jasa

Produk sampingan

Sisa-sisa proses

(41)

a) Usaha untuk meningkatkan kualitas

Terutama didorong oleh permintaan desain produk yang lebih baik. Beberapa usaha untuk mencapai hal ini antara lain:

(1) Memperbaiki konstruksi mesin hingga mampu menghasilkan kualitas produk yang diinginkan.

(2) Pengembangan dan penyempurnaan proses produksi yang baru.

b) Usaha untuk meningkatkan produktivitas

Terutama didorong oleh permintaan untuk menghasilkan produk dengan harga yang lebih bersaing.

Beberapa usaha untuk mencapai hal ini antara lain:

(1) Mengusahakan cara produksi yang lebih cepat (2) Peningkatan waktu pemakaian mesin dengan

meningkatkan otomatisasi pada proses produksi.

c) Usaha untuk meningkatkan fleksibilitas

Terutama didorong oleh berbegai hal seperti:

(1) Umur produk yang semakin pendek

(2) Makin banyaknya variasi produk sejenis karena perbedaan selera konsumen

(3) Makin sedikitnya jumlah komponen yang dibuat sehingga tidak lagi ekonomis.33

33Ibid., 124.

(42)

3) Macam-Macam Tipe Proses Produksi

Penentuan tipe proses produksi didasarkan pada faktor- faktor seperti: (1) Volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan, (2) Kualitas produk yang disyaratkan, (3) Peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan pertimbangan yang cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap situasi produksi. Macam tipe proses produksi dari berbagai industri dapat dibedakan sebagai berikut:34

a) Proses produksi terus-menerus atau kontinu

Pada umumnya industri yang cocok dengan tipe proses produksi terus menerus ini adalah yang memiliki karakteristik (1) Output yang direncanakan dalam jumlah besar, (2) Variasi atau jenis produk yang dihasilkan rendah, (3) Produk bersifat standar.

b) Proses produksi intermeten

Proses produksi intermeten lebih banyak diterapkan pada perusahaan yang membuat produk dengan variasi atau jenis yang lebih banyak.

c) Proses produksi campuran

Penggabungan antara kontinu dan intermeten dimungkinkan berdasarkan kenyataan bahwa setiap

34Ibid., 125.

(43)

perusahaan berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.35

b. Perencanaan Produksi 1) Definisi Perencanaan

Joel G. Seigel dan Jae K. Shim mendefinisikan perencanaan adalah pemilihan tujuan jangka pendek dan jangka panjang serta merencanakan taktik dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut.36 Dalam sebuah produksi perencanaan proses berkenaan dengan perencanaan dan implementasi sistem kerja yang akan memproduksi produk yang diinginkan dalam kuantitas yang diperlukan. Kegiatan-kegiatan perencanaan proses ini mengenai tipe aliran proses dan desain pusat-pusat kerja.37

Dalam suatu organisasi perencanaan memiliki posisi penting dari langkah-langkah berikutnya. Kematangan dan kesalahan dalam perencanaan mampu memberi pengaruh positif dan negatif pada masa yang akan datang, sehingga suatu perencanaan yang dibuat adalah selalu memikirkan dampak jangka panjang yang mungkin akan dialami.

35Ibid., 125.

36Irham Fahmi, Manajemen Produksi dan Operasi, (Bandung: ALFABETA, 2016), 9.

37T. Hani Handoko, Dasar-Dasar Manajemen Produksi dan Operasi, (Yogyakarta: BPFE- Yogyakarta, 2014), 139.

(44)

Gambar 2.2

Kedudukan Perencanaan dalam Ilmu Manajemen

Sumber:Irham Fahmi (2016, 9)

Dari gambar diatas kita bisa melihat bahwa perencanaan menempati posisi utama atau teratas dari fungsi manajemen lainnya. Atau tegasnya tanpa ada perencanaan yang baik maka tujuan yang diharapkan oleh organisasi sulit untuk bisa terwujud.38

2) Tujuan Perencanaan dan Pengendalian

Sangat penting bagi para stakeholders’ memahami dengan baik apa yang menjadi tujuan dari pembuatan perencanaan dan pengendalian, yaitu:

a) Suatu perencanaan dan pengendalian disusun serta dikonsep dengan tujuan untuk memperkecil risiko yang akan terjadi di kemudian hari, termasuk meminimalisir berbagai biaya

38Fahmi, Manajemen Produksi, 9.

Ilmu Manajemen

Fungsi manajemen

Perencanaan

Pemimpinan

Pengendalian

Pengorganisasian

Tujuan yang diharapkan oleh

organisasi

(45)

yang dianggap tidak efisien yang mungkin timbul selama proses pekerjaan berlangsung.

b) Suatu perencanaan dan pengendalian yang dibuat harus didasarkan atas konsep target-target atau prioritas-prioritas yang ingin dibangun.

c) Suatu perencanaan dan pengendalian yang dikonsep secara baik serta dijalankan dengan benar mampu memberikan keyakinan kepada parastakeholders’ perusahaan. Terutama para pemegang saham dan kreditur yang selama ini telah menempatkan dananya di perusahaan tersebut.

d) Suatu perencanaan dan pengendalian yang baik mampu memberikan kekuatan deteksi kepada berbagai peristiwa yang terjadi, dimana peristiwa tersebut dirasakan berbeda dari biasanya, dan akhirnya konsep pencegahan dapat diterapkan.39

3) Time Schedule

Time schedule adalah jangka waktu yang dibuat untuk melaksanakan suatu rencana pekerjaan secara sistematis dan terjadwal. Ada 3 tujuan umum pembuatan time schedule yang dilakukan oleh seorang manajer produksi, keuangan, SDM, dan pemasaran yaitu:

39Ibid., 14-15.

(46)

a) Memberikan arah pekerjaan secara lebih terfokus, dengan mengedepankan penyelesaian pekerjaan berdasarkan skala prioritas.

b) Diharapkan setiap pekerjaan dapat terselesaikan secara terjadwal.

c) Dengan kualitas time scheduling yang sempurna dan disusun dengan konsep manajemen keuangan modern serta dengan mengedepankan prudential principle (prinsip kehati-hatian) dalam setiap pembuatan rencananya.40

4) Menghitung Perencanaan Produksi

Pada dasarnya perencanaan produksi merupakan suatu proses penetapan tingkat output manufacturing secara keseluruhan guna memenuhi tingkat penjualan yang direncanakan dan investasi yang diinginkan. Adapun formula yang akan dipakai untuk rencana produksi adalah sebagai berikut,

Rencana Produksi = (Permintaan Total–Inventori Awal) + Inventori Akhir

Formula diatas adalah formula umum dengan masih memberikan toleransi pada penyimpanan inventori akhir sebagai

40Ibid., 15-16.

(47)

tindakan pengamanan untuk menjaga kemungkinan hasil produksi actual lebih rendah dari permintaan total.41

c. Produktivitas

1) Pengertian Produktivitas

Secara umum produktivitas diartikan atau dirumuskan sebagai berikut:

“Produktivitas adalah perbandingan anatara keluaran (output) dengn masukan (input).”42

Dalam reverensi lain produktivitas adalah kemampuan suatu bisnis dalam menghasilkan produk secara kurun waktu yang ditentukan. Kurun waktu biasanya dihitung perkuartal, semester, dan tahunan. Kapasitas produktivitas juga dilihat dari jumlah unit yang dihasilkan, kecepatan waktu yang mampu dihasilkan, serta kualitas produk yang sesuai dengan standar yang disepakati.43 Peningkatan produktivitas merupakan faktor penting untuk membangun ekonomi secara nasional dalam suatu Negara pada umumnya dan khususnya bagi perusahaan yang bersangkutan.44

41Fahmi, Studi Kelayakan Bisnis, 201.

42H. Malaya S.P. Hasibuan, Organisasi dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas, (Jakarta:

PT Bumi Aksara, 2014), 126.

43Fahmi, Manajemen Produksi, 80.

44 Henki Idris Issakh dan Mimi, Teori Bisnis untuk Perusahaan Modern Edisi 2, (Jakarta: In Media, 2014), 396.

(48)

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas

Pengukuran hanyalah langkah pertama dalam meningkatkan produktivitas. Langkah kedua adalah mengenali faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas dan memilih faktor peningkatan yang sesuai pada berbagai situasi tertentu.

Ada enam faktor yang mempengaruhi produktivitas, yaitu:45 a) Faktor luar perusahaan

Faktor luar perusahaan meliputi: peraturan pemerintah, persaingan dari perusahaan lain, permintaan konsumen.

b) Faktor produk

Faktor produk adalah suatu faktor yang secara kuat mempengaruhi produktivitas seperti riset dan pengembangan, diakui sering mengeluarkan teknologi produk baru yang meningkatkan produktivitas.

c) Faktor proses

Faktor proses dimana banyak gagasan tentang aliran proses, otomatisasi, tata letak (layout) dan pemilihan tipe proses.

Dalam proses tertentu, ada banyak cara untuk mengorganisasikan aliran informasi, bahan baku dan konsumen.

45Ibid., 404.

(49)

d) Faktor kapasitas dan persediaan

Kapasitas dan persediaan dapat mempengaruhi produktivitas dalam jangka pendek kelebihan kapasitas sering menjadi suatu faktor yang memberi audit terhadap rasio produktivitas yang buruk.

e) Faktor tenaga kerja

Tenaga kerja dihubungkan dengan sejumlah besar pengadaan SDM seperti seleksi, penempatan, pelatihan, desain pekerjaan, penghargaan disamping itu struktur organisasi dan serikat pekerja.46

f) Faktor kualitas

Faktor kualitas baru-baru ini juga mulai mendapat perhatian karena kalau kualitas yang buruk juga mempunyai andil terhadap produktivitas rendah. Pencegahan kesalahan dan melakukan pekerjaan secara benar sejak pertama kali adalah perangsang paling berdaya guna bagi peningkatan kualitas dan produktivitas.

g) Perbaikan produktivitas

Ada beberapa langkah dalam memperbaiki produktivitas sebagai berikut:

(1) Kembangkan produktivitas pada semua tingkat perusahaan.

46Ibid., 404-405.

(50)

(2) Tentukan sasaran peningkatan produktivitas sesuai dengan ukuran yang ditetapkan.

(3) Kembangkan rencana-rencana untuk mencapai sasaran.

(4) Terapkan rencana itu.

(5) Ukurlah hasilnya.47

3) Rasio Produktivitas dan Peningkatan Produktivitas Ada dua macam rasio produktivitas:

a) Produktivitas total membandingkan semua keluaran dengan semua masukan keluaran total/masukan total.

b) Produktivits parsial membandingkan semua keluaran dengan kelompok utama tertentu dari input keluaran total/masukan total.

Adapun pengertian rasio itu sendiri adalah dapat dipahami sebagai hasil yang diperoleh antara satu jumlah dengan jumlah yang lainnya. Rasio sendiri menurut Joel G.

Siegel dan Jae K. Shim merupakan hubungan antara satu jumlah dengan jumlah yang lainnya. Dimana Agnes Sawir menambahkan perbandingan tersebut dapat memberikan gambaran relatif tentang kondisi keuangan dan prestasi perusahaan.48

Atau secara sederhana rasio disebut sebagai perbandingan jumlah, dari satu jumlah dengan jumlah lainnya

47Ibid., 406.

48Fahmi, Studi Kelayakan Bisnis, 195.

(51)

itulah dilihat perbandingannya dengan harapan nantinya akan ditentukan jawabannya yang selanjutnya itu dijadikan bahan kajian untuk dianalisis dan diputuskan. Penggunaan kata rasio ini sangat fleksibel penempatannya, dimana itu sangat dipengaruhi oleh apa dan dimana rasio itu dipergunakan yaitu disesuaikan dengan wilayah keilmuannya.49

Untuk menghitung indeks produktivitas Buchari Alma memberikan pendekatan formula yang bisa dipakai, yaitu:

Produktivitas =

=

=

Ada banyak tindakan yang mungkin diambil untuk meningkatkan produktivitas. Misalnya:50

a) Pengadaan sistem pendukung keputusan manajemen

b) Pembangunan gudang sentral dengan penyimpanan dan pengambilan secara otomatis.

c) Pengaturan akhiran kerja guna mengurangi jumlah pekerja pada masa sibuk.

d) Pengadaan fasilitas komputer di lokasi kerja.

e) Latihan.

49Ibid., 195.

50Ibid., 196.

(52)

f) Program insentif yang didasarkan pada produktivitas jangka panjang.

4) Perencanaan Peningkatan Produktivitas Perusahaan

Perencanaan progam-progam peningkatan produktivitas perusahaan harus selalu melibatkan tim kerja sama dan pertisipasi total dari semua karyawan, yang dipimpin dan dikendalikan oleh manajemen puncak dari perusahaan itu.

Perencanaan peningkatan produktivitas harus bersifat:

SMART (Specific, Measurable, Achievable, Result oriented and Time Related), artinya sasaran peningkatan produktivitas harus bersifat: spesifik, dapat diukur secara kuantitatif, hasil-hasil yang diinginkan dapat dicapai bukan angan-angan (impian) dapat diambil tindakan (actionable), dan memiliki jadwal waktu spesifik untuk implementasi progam peningkatan produktivitas itu.

5) Langkah-langkah peningkatan produktivitas

Progam peningkatan produktivitas dapat dilakukan menggunakan langkah-langkah berikut:

a) Memilih dan menetapkan progam peningkatan produktivitas.

b) Mengemukakan alasan mengapa memilih progam itu.

c) Melakukan analisis situasi melalui pengamatan situasional.

d) Melakukan pengumpulan data selama beberapa waktu.

(53)

e) Melakukan analisis data.

f) Menetapkan rencana perbaikan melalui penetapan sasaran peningkatan produktivitas.

g) Melaksanakan progam peningkatan produktivitas selama waktu tertentu.

h) Melakukan studi penilaian terhadap progam peningkatan produktivitas itu.

i) Mengambil tindakan berupa tindakan korektif atas penyimpanan yang terjadi atau standarisasi terhadap aktivitas yang sesuai.51

6) Lima strategi meningkatkan produktivitas perusahaan.

Karena produktivitas merupakan rasio output terhadap penggunaan input, startegi peningkatan sistem produktivitas perusahaan dapat dilakukan melalui lima cara berikut yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi perusahaan, anatara lain:

a) Menerapkan progam reduksi biaya. Progam ini merupakan suatu progam yang dilakukan oleh pihak manajemen industri, dimana untuk menghasilkan output dengan kuantitas yang sama, menggunakan input dalam jumlah yang sedikit.

51 Vincent Gaspersz, Manajemen Produktivitas Total, (Jakarata: PT Gramedia Pustaka Utama, 1998), 84-85

(54)

b) Mengelola pertumbuhan. Peningkatan produktivitas melalui pengelolaan pertumbuhan akan efektif apabila permintaan pasar sedang meningkat, sehingga output yang diproduksi perlu ditambah.

c) Bekerja lebih tangkas. Strategi ini dilakukan apabila permintaan pasar meningkat sehingga output perlu ditingkatkan, namun peningkatan output itu dicapai melalui penggunaan input dengan kuantitas yang tetap, karena tenaga kerja telah bekerja lebih tangkas atau lebih cerdik.

d) Bekerja lebih efektif. Peningkatan produktivitas melalui penerapan strategi ini akan efektif apabila permintaan pasar meningkat sehingga output perlu ditingkatkan.

e) Mengurangi aktivitas. Strategi ini diterapkan dengan cara mengurangi produksi secara menghilangkan atau menjual kembali aset yang tidak produktif. Jadi produktivitas perusahaan ditingkatkan melalui pengurangan sedikit output sesuai permintaan pasar dan mengurangi banyak input yang tidak perlu.52

52Ibid., 89-92.

(55)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kulitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.53 Jenis penelitian ini adalah jenis penenelitian lapang (field research), penelitian lapang merupakan studi mendalam mengenai unit tertentu, yang hasil penelitian itu memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit tertentu.54

Dalam penelitian ini peneliti ingin menggambarkan dan mendeskripsikan langsung perkembangan industri batik di Banyuwangi Pasca diberlakukannya Peraturan Bupati Banyuwangi Nomor 27 Tahun 2016 tentang Pakaian Dinas di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi.

Hal ini menjadi suatu alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian diskriptif (menceritakan kondisi yang ada di lapangan).

B. Lokasi Penelitian

Adapun yang menjadi lokasi penelitian ini dilakukan pada UMKM Batik yang ada di Banyuwangi.

53 Uhar Suharsaputra, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Tindakan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2012), 181.

54Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 54.

43

Gambar

Gambar 2.1 Proses Produksi Pabrik

Referensi

Dokumen terkait

Dalam KHI pasal 171 poin (c) dijelaskan bahwa yang menjadi ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan

Setelah penelitian ini dilakukan, diharapkan akan memberikan manfaat bagi beberapa pihak, diantaranya adalah memberikan masukan dan informasi terhadap perusahaan

Data yang dimaksud adalah fakta lapangan tentang tinjauan Hukum Islam, kaitannya dengan pelaksanaan pembayaran Nishab Zakat Tanaman Padi yang ada di Desa

Dalam hal ini sesuai dengan yang diungkapakan oleh Al-Ghazali jika terdapat makanan-makanan yang banyak dan orang- orang tidak membutuhkannya maka mereka tidak akan menginginkannya

Hosen dan Hasan Ali PKES, 2008 menyatakan bahwa BMT merupakan lembaga keunagn mikro yang dioperasi dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka

Berdasarkan hasil temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa 1 Aspek kepercayaan di Desa Wisata Organik sudah tergolong baik artinya pihak pengelola dapat menumbuhkan rasa percaya pada

Sedangkan hasil pengujian secara simultan bersama-sama dapat dilihat bahwa variabel bebas yang meliputi produk X1, nisbah X2 dan kualitas layanan X3 secara simultan atau bersama-sama

Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi peneliti dan pembaca, khususnya dalam penelitian yang berkaitan dengan analisis kompetensi