SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember Untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar
Sarjana Hukum Ekonomi Islam (S.E.I)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Ekonomi Syari’ah
Oleh :
Achmad Mahbub Alfarizi NIM : 083 122 119
Pembimbing : Mahmudah, M.E.I NIP. 19750702 199803 2 002
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER JURUSAN EKONOMI SYARI’AH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM JANUARI 2017
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al Maidah:8).1
1 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahan 5 : 8 (Surabaya : CV Karya Utama, 2005), 205
1. Kedua orang tuaku Bapak Jufri dan Ibu. Lutfiatul Hasanah, yang senantiasa ikhlas mendoakanku untuk menjadi orang yang sukses dan rela banting tulang demi kelulusanku di perguruan tinggi.
2. Saudara-saudara kandungku yang selalu kubanggakan, Afifatul khoiriyah, Zhafira Maulida Arifah, berkat doa kalian aku bisa menyelesaikan skripsi ini.
3. Almamaterku IAIN Jember yang tercinta.
4. Ibu. Mahmudah,M.E.I, yang sabar membimbingku hingga skripsi ini selesai.
5. Teman-teman seperjuangan U-2 Prodi Muamalah yang bersama berjuang dan giat untuk terus maju dan bersemangat untuk mengejar impian.
6. Sahabat yang selalu bersama, M. Holili, Ali Wafa, Imam Suyuti, Angga Pranata, Fathur Rozi, M. Hayyul Afton, Ainul Hakki, Rofiki Habibi,Yudi Nurul Chotim, Fahri, Arif Humaidi, & yang tak bisa disebut lainnya.
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, atas kehadirat Allah S.W.T yang telah memberikan taufik, hidayah dan inayah–Nya. Sesungguhnya karena kemurahan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, keluarga dan sahabatnya yang telah memperjuangkan umat islam dalam membawa kedamaian, penegak kebenaran dan penerangan ilmu pengetahuan hingga akhir jaman.
Selanjutnya penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mengalami banyak kesulitan, tantangan dan hambatan. Namun berkat bantuan dan dorongan serta arahan dari berbagai pihak, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi persyaratan akademik pada program Strata Satu (S-1) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Fakultas Syariah Jurusan Hukum Ekonomi, Prodi Muamalah. Dalam hal ini penulis memilih judul “Implementasi Prinsip Ekonomi Islam Pada Simpanan Berjangka Mudharabah Di Bmt Nuasa Ummah Cabang Sumbersari”
Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu penulis secara langsung dan tidak langsung, secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat :
1. Rektor IAIN Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto.SE.,MM
2. Dr. H. Sutrisno RS.M.Hi selaku Dekan Fakultas Syariah IAIN Jember 3. Mahmudah,S.Ag.,M.EI selaku Ketua Jurusan Hukum Ekonomi IAIN
Jember dan sebagai dosen pembimbing skripsi ini yang penuh kesabaran dalam membimbing penulis.
4. Busriyanti.M.,Ag selaku Ketua Program Studi Muamalah IAIN Jember 5. Seluruh Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang telah
memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menempuh studi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
6. Bapak M Jaelani dan segenap staf dan karyawan BMT Nuasa Ummah yang telah banyak membantu menyelesaikan penulisan skripsi ini.
8. Serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu karena keterbatasan ruang yang telah membantu penulis dalam pengerjaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang lainnya dan dapat dijadikan literatur refrensi dan bacaan untuk menambah wawasan.
Keberhasilan penulis tidak lepas dari karunia Allah SWT yang memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian ini dan semoga hasil skripsi ini dapat bermanfaat terlebih kepada penulis sendiri, oleh karenanya penulis sangat terbuka dalam menerima kritik yang konstruktif dalam pembenahan skripsi ini.
Jember, 17 Oktober 2016 Penyusun
Achmad Mahbub Alfarizi NIM 083 122 119
Sumbersari
Latar belakang dari penelitian ini adalah BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari sebagai salah satu BMT di daerah Jember yang berkembang pesat dibuktikan dengan nasabah yang secara kuantitas banyak meskipun berdirinya relative baru. Hanya saja kredibilitasnya yang menyangkut salah satu produknya yaitu simpanan berjangka mudharabah pada BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari masih perlu diteliti secara ilmiah dan akademis untuk melihat keselarasannya dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam yaitu Tauhid (keimanan) dan ‘Adl (keadilan)
Fokus masalah yang diteliti adalah : 1) Bagaimana implementasi prinsi Tauhid terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari?
2) Bagaimana implementasi prinsi ‘Adl terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari?
Tujuan dari penelitian ini 1) Untuk mendeskripsikan implementasi prinsi Tauhid terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari 2) Untuk mendeskripsikan implementasi prinsi ‘Adl terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari
Dalam mengidentifikasi permasalahan tersebut, peneliti menggunakan metode kualitatif, karena untuk menggambarkan secara keseluruhan mengenai prinsip ekonomi syariah dalam simpanan berjangka mudharabah tersebut. Adapun teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan observasi, wawancara dan dokumenter.
Kesimpulan dalam penelitian ini 1) implementasi prinsip tauhid pada simpanan berjangka berupa sportifitas, jujur, bertanggung jawab, tidak ada unsur riba dan penipuan 2) implementasi prinsip adl pada simpanan berjangka berupa sesuai dengan kesepakatan diawal dan hak kewajiban yang sama
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN ... iii
MOTTO... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Fokus Penelitian ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Definisi Istilah ... 10
F. Sistematika Pembahasan ... 13
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 14
B. Kajian Teori ... 16
1. Prinsip Ekonomi Islam ... 16
2. Simpanan Berjangka ... 25
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Dan Jenis Penelitian ... 35
B. Lokasi Penelitian ... 36
C. Subyek Penelitian ... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 37
E. Analisis Data ... 39
A. Gambaran Objek Penelitian ... 44
1. Sejarah Berdirinya BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari ... 44
2. Visi dan Misi BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari ... 45
3. Tujuan BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari ... 46
4. Letak Geografis BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari ... 46
5. Sarana dan Prasarana BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari 47 6. Profil Simpanan Berjangka Mudharabah (SIBERKAH) ... 48
7. Legalitas BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari ... 48
8. Stuktur Organisasi BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari ... 50
B. Penyajian Data dan Analisis ... 60
1. Implementasi Prinsip Tauhid Pada Simpanan Berjangka Mudharabah ... 60
2. Implementasi Prinsip ‘Adl Pada Simpanan Berjangka Mudharabah ... 67
C. Pembahasan Temuan ... 70
1. Analisa implementasi Prinsip Tauhid Pada Simpanan Berjangka Mudharabah ... 70
2. Analisa implementasi Prinsip ‘Adl Pada Simpanan Berjangka Mudharabah ... 73
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75
B. Saran-saran ... 75
Daftar Pustaka ... 77
Lampiran-Lampiran ... 79
Pembicaraan tentang ekonomi Islam merupakan suatu hal yang sangat menarik dalam dekade ini. Kemunculan ekonomi Islam dipandang sebagai sebuah gerakan baru yang disertai dengan misi atas kegagalan sistem ekonomi dunia yang dominan selama ini dalam menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dunia yang semakin rumit. Pada hakikatnya ekonomi Islam adalah metamorfosa nilai-nilai Islam dalam ekonomi dan dimaksudkan untuk menepis anggapan bahwa Islam adalah agama yang hanya mengatur persoalan ubudiyah atau komunikasi vertikal antara manusia dengan khaliq- Nya.
Dengan kata lain, kemunculan ekonomi Islam merupakan satu bentuk artikulasi sosiologis dan praktis dari nilai-nilai Islam yang selama ini dipandang doktriner dan normatif. Dengan demikian, Islam adalah satu dien (way of life) yang praktis dan ajaranya tidak hanya merupakan aturan hidup yang menyangkut aspek ibadah dan muamalah, sekaligus mengatur hubungan manusia dengan rabb-Nya (hablun minallah) dan hubungan atara manusia dengan manusia (hablun min an nas)
Oleh karena itu, Islam dalam mengatur tentang muamalah khususnya membahas tentang ekonomi tidak lepas dari prinsip dasar ekonomi Islam yang harus dipegang teguh dalam menjalankan perekonomian Islam. Prinsip- prinsip ekonomi Islam membentuk keseluruhan kerangka, yang di ibaratkan
sebuah bangunan yaitu Tauhid (keimanan), ‘Adl (keadilan), Nubuwwah (kenabian), Khilafah (pemerintahan), Ma’ad (hasil = return). Kelima inilah yang menjadi dasar ekonomi Islam2.
Prinsip Tauhid adalah konsep yang paling penting dan mendasar sebab konsep yang pertama adalah dasar pelaksanaan segala aktifitas baik yang menyangkut ubudiah/ibadah, muamalah (termasuk ekonomi), muasyarah maupun akhlaq.3 Nilai ketauhidan dalam berekonomi melahirkan rasa sportifitas, kejujuran dengan penuh amanah dan bertanggung jawab atas segala perbuatan hukum yang diperbuat dan tidak ada unsur riba dan penipuan.4 Tauhid mengandung implikasi bahwa alam semesta ini dengan satu tujuan. Tujuan inilah yang memberian makna dari setiap eksistensi alam semesta dimana manusia merupakan salah satu bagian yang didlalamnya.
Dengan demikian, konsep tauhid bukanlah sekedar pengakuan realitas, tetapi juga respons aktif terhadapnya, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam surat al-Baqarah ayat 107:
2Muhammad, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), 4-5
3 Lukman Hakim, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam, (Jakarta : Erlangga, 2005), 4
4 Muhammad, Prinsip-Prinsip, 44
Artinya :
“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”.(QS Al Baqarah:107)5
Prinsip ‘Adl (keadilan), mengandung makna bahwa dalam setiap aktifitas ekonomi yang dijalankan agar tidak terjadi suatu tindakan yang dapat mendzalimi orang lain. yang menjadi indikator dari prinsip ‘adl yaitu: bagi hasil yang didapatkan sesuai dengan apa yang disepakati, hak dan kewajiban yang sama. Hal ini menunjukan dalam setiap aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh insan beriman haruslah adil, agar tidak ada pihak yang tertindas. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat Al-Maidah ayat 8:
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al Maidah:8).6
Prinsip Nubuwwah (kenabian) adalah sifat rahman, rahim dan kebijaksanaan Allah. Manusia tidak dibiarkan begitu saja didunia tanpa
5 Departemen agama Repulik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahan 1 : 107 (Surabaya : CV Karya
Utama, 2005), 75
6 Departemen agama Repulik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahan 5 : 8 (Surabaya : CV Karya
Utama, 2005), 205
medapat bimbingan, karena itulah Allah mengirimkan “manusia model” yang terakhir dan sempurna untuk diteladani sampai akhir zaman. Yaitu dengan tujuan menyampaikan petunjuk dari Allah kepada manusia tentang bagaimana hidup yang baik dan benar di dunia, dan mengajarkan jalan kembali (taubat) ke asal-muasal ke segala sesuatu yaitu Allah SWT.7 Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 253:
Artinya :
“Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya8 beberapa derajat. dan kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.9 dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh- bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, Maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-
7 Ahmad Mujahidin, Ekonomi Islam,(Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), 16
8 Yakni Nabi Muhammad SAW
9 Maksudnya: kejadian Isa a.s. adalah kejadian yang luar biasa, tanpa bapak, yaitu dengan tiupan Ruhul Qudus oleh Jibril kepada diri Maryam. Ini termasuk mukjizat Isa a.s. menurut Jumhur musafirin, bahwa Ruhul Qudus itu ialah malaikat Jibril.
bunuhan. akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS Al Baqarah:253).10
Prinsip Khalifah atau berati pemimpin, bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini, artinya menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Karena itu pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin.
Sebagai khalifah Allah, manusia bertanggung jawab atas apa yang ia kerjakan selama hidupnya di dunia untuk dipertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Oleh karena itu prinsip khilafah harus diperhatikan dalam konsep perekonomian Islam dalam rangka bertanggung jawab terhadap managemen di dunia dan kelak dipertanggung jawabkan di akhirat.11
Prinsip Ma’ad merupakan komponen akhir, sebagai pengikat manusia bahwa kehidupan didunia hanya sementara dan ada kehidupan selain setelah mati. Prinsip ini menegaskan manusia harus memikirkan kehidupan jangka panjang yang harus ia capai sesudah kehidupan dunia yaitu akhirat sebagai mana yang telah Allah firmankan dalam surat al-Qashash ayat 77:
Artinya :
“Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
10Departemen agama Repulik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahan 1 : 253 (Surabaya : CV Karya Utama, 2005) 127
11 Hakim, Prinsip-Prinsip,5.
sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”(QS Al Qashash:77).
Dari hal di atas, maka lahirlah penerapan prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sampai kemudian di kembangkan di dunia usaha, seperti pada produk-produk perbakan yang ada saat ini, salah satu nya yaitu simpanan berjangka.
Simpanan berjangka sama dengan deposito berjangka merupakan deposito yang diterbitkan menurut jangka waktu tertentu. Jangka waktu deposito biasanya bervarisai mulai dari 1, 2, 3, 6, 12, 18 sampai dengan 24 bulan. Deposito berjangka diterbitkan atas nama baik perorangan maupun lembaga. Artinya di dalam bilyet diposito tercantum nama seseorang atau lembaga.12
Simpanan Berjangka yang diterapkan di BMT Nuasa Ummah ialah simpanan berjangka mudharabah dimana, mudharabah adalah transaksi penanaman dana dari pemilik dana (shahibul mal) kepada penglola dana (mudharib) untuk melakukan usaha tertentu yang sesuai syariah, dengan pembagian hasil usaha antara kedua belah pihak berdasarkan nisbah bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya. Prisip mudharabah yaitu akad antara pemilik modal (shahibul maal) dengan pengelola atau (mudharib) untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan tersebut dibagi berdasarkan nisbah yang telah disepakati di awal akad dan jika terjadi kerugian maka bank bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Aplikasi dalam perbakan Islam pada penghimpunan dana mudharabah yaitu pada deposito dan tabungan.
12 Kasmir, Bank dan Lembaga Keungan Lainya (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2013), 75
Kepada setiap deposan diberikan hasil yang besaranya sesuai dengan berlakunya nisbah bagi hasil pada saat deposito berjangka di buka. Pencairan bagi hasil deposito dapat dilakukan setiap bulan atau setelah jatuh tempo (jangka waktu) sesuai jangka waktunya. Penarikan dapat dilakukan secara tunai maupun non tunai (pemindah bukuan). Penarikan deposito sebelum jatuh tempo untuk bank tertentu dikenakan penalty rate (denda)
Aplikasi dari simpanan bejangka mudharabah yang diterapkan di Baitul mal wat tamwil (BMT), merupakan pengembangan dari konsep ekonomi dalam Islam terutama dalam bidang keuangan. Istilah BMT adalah penggabungan dari baitul mal dan baitul tamwil. Baitul mal adalah lembaga keuangan yang kegiatanya mengelola dana yang bersifat nirlaba (sosial).
Sumber dana diperoleh dari zakat, infak, dan sedekah, atau sumber lain yang halal. Kemudian, dana tersebut disalurkan kepada mustahik, yang berhak, untuk kebaikan. Adapun baitul tamwil adalah lembaga keuangan yang kegiatanya menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat dan bersifat profit motive. Penghimpunan dana diperoleh melalui simpanan dana pihak ketiga dan penyalurannya dilakukan dalam bentuk pembiayaan atau investasi, yang dijalankan berdasarkan prinsip syariat. Penghimpunan dana yang diperoleh BMT melalui simpanan, yaitu dana yang dipercayakan oleh nasabah kepada BMT untuk disalurkan ke sektor produktif berupa tabungan wadi’ah, simpanan mudharabah jangka pendek dan jangka panjang13.
13 Hertanto Widodo, PAS(Pedoman Akutansi Syaria)Panduan Praktis Operasional Baitul Maal Wattamwil(BMT), (Bandung : Mizan, 1999), 81
Peneliti memilih penelitian di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari sebagai salah satu BMT di daerah Jember yang berkembang pesat dibuktikan dengan nasabah yang secara kuantitas banyak meskipun berdirinya relative baru. Hanya saja kredibilitasnya yang menyangkut salah satu produknya yaitu simpanan berjangka mudharabah pada BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari masih perlu diteliti secara ilmiah dan akademis untuk melihat keselarasannya dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam yaitu Tauhid (keimanan) dan ‘Adl (keadilan), Peneliti memilih prinsip tauhid dan adil karena kedua prinsip ini sudah memenuhi dari ekonomi islam dan juga sudah mewakili dari nubuwah , khilfah dan ma’ad itu sendiri. Oleh karena itu, peneliti melakukan fokus penelitiannya dengan judul “IMPLEMENTASI PRINSIP EKONOMI ISLAM PADA SIMPANAN BERJANGKA MUDHARABAH DI BMT NUANSA UMMAH CABANG SUMBERSARI”
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana implementasi prinsi Tauhid terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari?
2. Bagaimana implementasi prinsi ‘Adl terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mendeskripsikan implementasi prinsi Tauhid terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari
2. Untuk mendeskripsikan implementasi prinsi ‘Adl terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan Tujuan Penelitian di atas, dapat di munculkan manfaat penelitian dalam penelitian ini, baik manfaat teoritis maupun kegunaan praktis, antara lain:
1. Secara Teoritis
a. Hasil penelitian diharapkan sebagai konstribusi pemikiran bagi pemengembangan ilmu ekonomi dan kreatifitas dalam dunia akademis.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi segenap lapisan masyrakat muslim mengenai simpanan berjangka mudharabah
2. Secara Praktis
a. Bagi nasabah, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran sebagai dasar melakukan transaksi praktek simpanan berjangka mudharabah
b. Bagi lembaga BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan tambahan pengetahuan dan bahan masukan yang dapat dimanfaatkan bagi BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari bagaimana praktek simpananan berjangka mudharabah yang di tinjau dari perspektif prinsip-prinsip ekonomi Islam.
c. Bagi peneliti, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperoleh wawasan baru dalam bidang ekonomi Islam sebagai rujukan untuk penelitian lebih lanjut.
d. Bagi IAIN Jember, sebagai tambahan refrensi atau ruju’an di kampus IAIN Jember
E. Definisi Istilah 1. Implementasi
Secara sederhana implementsi bisa diartikan pelaksanaan atau penerapan Majone dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2000) mengemukakan implementasi sebagai evaluasi. Browne dan Wildavsky (dalam Nurdin dan Usman, 2004;70) mengemukakan bahwa
“Implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”.
Pengertian implementasi sebagai aktivitas yang saling menyesuaikan juga dikemuklakan oleh Mclaughim (dalam Nurdin dan Usman, 2004)14
2. Prinsip–prinsip ekonomi Islam
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, prinsip adalah asas (kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dan sebagainya).
Jadi, yang dimaksud dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam tersebut yaitu Tauhid (keimanan), ‘Adl (keadilan), Nubuwwah (kenabian), Khilafah (pemerintahan), Ma’ad (hasil = return). Kelima inilah yang menjadi dasar
14 http://el-kawaqi.blogspot.com/2012/12/pengertian-implementasi-menurut-para.html, 18/4/2015
ekonomi Islam.15 Dalam penelitian ini hanya dua prinsip saja yang diteliti oleh peneliti yaitu Tauhid (keimanan), ‘Adl (keadilan)
3. Simpanan Berjangka
Simpanan berjangka merupakan simpanan yang diterbitkan menurut jangka waktu tertentu sama hal nya dengan deposito. Pengertian Deposito menurut Undang-Undang No 10 Tahun 1998 adalah simpanan yang penariakanya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank16
4. Mudharabah
Menurut fuqaha dan sebagian para sejarawan muslim secara umum mendefinisikan mudharabah sebagai kerjasama antara dua pihak, yaitu pihak pertama memberikan fasilitas modal dan pihak kedua memberikan tenaga atau kerja.17
Definisi umum Mudharabah secara fikih, menurut Sadr sebagai berikut : Kontrak khusu antara pemilik modal dan pegusaha dalam rangka mengembangkan usaha yang modalnya berasal dari pihak pertama dan kerja dari pihak kedua, mereka bersatu dalam keuntungan dengan pembagian berdasarkan presentase
15 Muhammad, Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2007), 4-5
16 Dr. Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan Edisi Refisi (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012), 102
17 Muhammad, manajemen pembiayaan mudharabah di bank syariah: (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2008), 200
Mudharabah adalah bentuk kerjasama antara dua atau lebih dimana pemilik modal/ shohibul amal mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola/ mudharib dengan suatu perjanjian di awal18.
5. BMT (Baitul Mal Wat Tamwil)
Baitul mal secara harfiah, bait adalah rumah. Sedangkan mal maksudnya adalah harta. Kegiatan baitul mal menyagkut kegiatan dalam menerima tiutipan dan zakat, infaq, dan shadaqah serta mengoptimalkan distribusinya sesuai dengan peraturan dan amanahnya. Baitul tamwil secara harfiah, bait adalah rumah dan al- tamwil adalah pengembangan harta. Baitul tamwil melakukan kegiatan pengembangan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kesejahteraan pengusaha mikro dan kecil melalui kegiatan pembiayaan dan menabung (berinvestasi). Hosen dan Hasan Ali (PKES, 2008) menyatakan bahwa BMT merupakan lembaga keunagn mikro yang dioperasi dengan prinsip bagi hasil, menumbuh kembangkan bisnis usaha mikro dalam rangka mengangkat derajat dan martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin, ditumbuhkan atas prakarsa dan modal awal dari tokoh-tokoh masyarakat setempat dengan berlandaskan pada system ekonomi yang salaam, yaitu keselamatan (berintikan keadilan), kedamaian dan kesejahteraan.19
Jadi dari judul penelitian “Implementasi Prinsip–Prinsip Ekonomi Islam terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah
18 https://id.m.wikipedia.org/wiki/mudharabah, pada tanggal 12 Januari 2016, pukul 02.09
19 Buchari Alma dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah, (Bandung : Alfabeta, 2014), 22
cabang Sumbersari” adalah pelaksanaan prinsip-prinsip ekonomi Islam yaitu Tauhid (keimanan) dan ‘Adl (keadilan) dalam simpanan berjangka mudharabah di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari
F. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam penelitian ini sebagai berikut:
BAB I, berupa pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tujuan penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.
BAB II, berupa kajian kepustakaan yang terdiri dari kajian terdahulu dan kajiaan teori.
BAB III, berupa metodologi penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, subjek penelitian, tempat penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.
BAB IV, berupa penyajian data dan analisis yang terdiri dari gambaran obyek penelitian , penyajian data dan analisis serta pembahasan temuan
BAB V, berupa penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
Pertama, Relevansi Prinsip Dasar Ekonomi Islam Dalam Pengembangan BMT Khoirun Nisa‟ Ketintang Surabaya. Penelitian ini dilakukan oleh Nikamatul Masruroh, Adapun rumusan masalahnya yaitu, bagaimana deskripsi strategi pengembangan BMT Khoirun Nisa‟ Surabaya?.
Bagaimanan penerapan prinsi dasar ekonomi islam dalam pengembangan BMT Khoirun Nisa‟ Surabaya?. Bagaimana relevansi strategi pengembangan BMT Khoirun Nisa‟ Surabaya?
Penelitian yang dilakukan oleh Nikmatul Masruroh tentang Relevansi Prinsip Dasar Ekonomi Islam Dalam Pengembangan BMT Khairun Nisa‟
Ketintang Surabaya. Hasil dari penelitian tersebut yaitu (a) langkah–langkah pengembangan BMT Khairun Nisa‟. (b) penerapan prinsip dasar ekonomi islam dalam pengembangan BMT, terlihat pada produk–produk yang ditawarkan menggunakan prinsip (wadi‟ah) dan prinsip bagi hasil (mudharabah). (c) strategi pengembangan BMT Khoirun Nisa‟ Ketintang Surabaya di terapkan mempunyaih relevansi terhadap prinsip dasar ekonomi Islam.
Kedua, Suryo Wicaksono Mawasid (UMS, 2012) dalam skripsinya
“Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pengolaan Dana Deposito Syariah Di BNI Syariah Cabang Surakarta” menyimpulkan bahwa pengelolaan dana deposito syariah di BNI Syariah cabang Surakarta sudah sesuai dengan
Hukum Islam. Hanya saja bank tetap saja menjaga kerahasian perusahaan dan seluruh hal yang berhubungan dengan simpanan nasabah, sehingga nasabah tidak dapat melakukan pengawasan terhadap pengelolaan dana nasabah dan mengetahui rincian nilai equivalent rate dalam perhitungan bagi hasil.
Ketiga, Didik Umardani (UMS, 2008) dalam skirpsinya yang berjudul
“Hubungan Hukum Islam Antara Tabungan Dan Deposito Bagi Hasil Mudharabah Dengan Bank Muamalat Surakarta” menjelaskan bahwa:
1. Hubungan hukum antara pemegang tabungan dengan Bank muamalat berdasarkan peraturan pemerintah no. 72 tahun 1992 tentang Bakn berdasarkan prinsip bagi hasil. Pemberian keuntungan pada nasabah diberikan dalam bentuk bagi hasil yang dasar perhitungannya berdasarkan pada keuntungan yang diperoleh bank dari nasabah pengguna dana dalam mengelola usahanya. Akan tetapi bila ditinjau dari hukum perjanjian maka bentuk hubungan Hukum antara nasabah dengan bank muamalat adalah berdasarkan perjanjian pinjam meminjam.
2. Dalam kenyataanya nasabah pemegang tabungan dan deposito tetap berada pada posisi yang lemah dibandingkan dengan pihak bank yang bersangkutan.
No Nama dan Judul Skripsi Persamaan Perbedaan Metode Penelitian 1 Nikmatul Masruroh,
“Relevansi Prinsis Dasar Ekonomi Islam Dalam Pengembangan BMT Khoirun Nisa‟ Ketintang Surabaya”
Prinsip dasar ekonomi Islam
Pengembangan BMT Khoirun Nisa‟
Ketintang Surabaya
Deskriptif kualitatif
2
3
Suryo Wicaksono Mawasid(UMS,2012) Tinjauan Hukum Islam Terhadapa Pengelolaan Dana Deposito Syariah Di BNI Syariah Cabang Surakarta
Didik Umardani
(UMS,2008), Hubungan Hukum Islam Antara Tabungan Dan Deposito Bagi Hasil Mudharabah Dengan Bank Muamalat Surakarta.
Deposito Syariah
Deposito Syariah
Tinjauan hukum Islam
Hukum Islam
Kualitatif
Deskriptif kualitatif
B. Kajian Teori
1. Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam15
Dalam cakupan dasar yang terkandung dalam ekonomi Islam tersebut, maka konfigurasi ekonomi Islam diibaratkan sebagai bangunan yang tersusun dari beberapa unsure yang saling menguatkan.
Unsur-unsur yang dimaksud meliputi tauhid, ‟adl, nubuwah, khilafah dan ma‟ad
20Muhammad, Prinsip-Prinsip, 4-5
a) Tauhid
Tauhid secara umum sebuah ungkapan keyakinan (sahadat) seorang muslim atas ke Esaan Tuhan. Konsep tauhid berisikan kepasrahan manusia kepada tuhannya. Dalam persefektif yang lebih luas, konsep ini merefleksikan adanya kesatuan (al-wihdat), yaitu kesatuan kemanusiaan, kesatuan penciptaan, dan kesatuan tuntunan hidup, serta keatuan tujuan hidup.16 Prinsip atas ketuhanan Allah memberikan pemahaman dan pengakuan adanya aspek metafisik.
Dalam Islam apa yang Nampak merupakan suatu kesatuan yang saling berkelindan. Untuk berinteraksi bahwa tiada tuhan selain Allah, maka manusia harus meyakini bahwa ia sendirilah sang pencipta yang memberikan wujud segala sesuatu, sang sebab segala yang ada. Tauhid merupakan fondasi ajarna Islam. Dengan tauhid, manusia menyaksikan bahwa tiada sesuatu yang layak disembah selain Allah. Karena Allah pencipta alam semesta seisinya dan sekaligus pemiliknya, bahwa jiwa manusia sekalipun ada dalam gengaman kekuasaanya, Dengan demikian, konsep tauhid bukanlah sekedar pengakuan realitas, tetapi juga respon aktif terhadapnya, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 107:
16 Muhammad, Prinsip-Prinsip, 4-5.
Artinya :
“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”.(QS Al Baqarah:107)17
Karena kepercayaan tertinggi dalam Islam adalah tauhid dimana hidup seseorang muslim diserahkan kepada Allah.
Penyerahan ini melahirkan ketentraman dan ketenangan baginya.
Tauhid berarti mengikat hati dan perasaan dengan suatu kepercayaan dan tidak bisa diukur lagi dengan yang lain, sehingga jiwa dan raga, pikiran dan pandangan hidup kerikat kuat kepada-Nya.18
Tauhid dalam konteks ekonomi Islam merupakan fondasi ajaran Islam yang meletakkan dasar-dasar (basic) antara Allah dengan manusia, dan manusia dengan sesamanya, manusia dengan dirinya serta manusia dengan alam lingkunganya.19 Dengan demikian tauhid akan selalu menutut perilaku seorang muslim agar berbuat baik pada sesama dan dalam mengelola sumberdaya itu manusia harus mengikuti aturan Allah dalam bentuk syari‟ah.
Firman Allah dalam surat Al-Jatsiyah ayat 18 :
17 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan terjemahan 1 : 107 (Surabaya : CV
Karya Utama, 2005), 75
18 Buchari Alma Dan Donni Juni Priansa, Manajemen Bisnis Syariah (Bandung : Alfabeta, 2009),
50
19 Muhammad, Prinsip-Prinsip, 44
Artinya :
“Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui”.(QS Al-Jatsiyah:18)20
Maka kesadaran itu, dalam kegiatan ekonominya, manusia dituntut untuk berpegang teguh pada nilai tauhid, termasuk dalam pengelolahan perbankan syariah.
Menurut M. Quraish Shihab, prinsip tauhid mengantarkan manusia dalam kegiatan ekonomi untuk meyakini bahwa harta benda yang berada dalam genggaman tanganya adalah milik Allah, yang antara lain diperintahkan oleh pemiliknya agar diberikan (sebagian) kepada yang membutuhkan.21
Nilai ketauhidan dalam berekonomi melahirkan rasa sportifitas, kejujuran dengan penuh amanah dan bertanggung jawab atas segala perbuatan hukum yang diperbuat.22 Dalam sebuah sistem perusahaan, perusahaan bertindak bertanggung jawab terhadap para investor dengan cara mengelola sumberdaya investor dan memperlihatkan status keuangan para investor secara jujur.
20 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan terjemahan 45 : 18 (Surabaya : CV
Karya Utama, 2005), 416
21 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur‟an (Jakarta : Mizan, 1996), 140.
22 Muhammad, Prinsip-Prinsip, 44
Perusahaan harus menghindari tindakan yang tidak bertanggung jawab terhadap para investor dengan cara memberikan keterangan yang menyimpang mengenai sumber daya perusahaan seperti manajemen financial yang tidak wajar.23
Jika pada seorang pemasar, sifat jujur haruslah menjiwai seluruh perilakunya dalam melakukan pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya. Ia senantiasa mengedepankan kebenaran informasi yang diberikan dan jujur dalam menjelaskan produk-produk yang dimilikinya24
Oleh karena itu, hukum Islam memerintahkan kepada pelaku ekonomi untuk menghindari segala bentuk eksploitasi terhadap sesama manusia. Larangan perbuatan riba yang merupakan “sub sistem” ekonomi yang berprinsip menguntungkan kelompok tertentu tetapi mengabaikan kepentingan masyarakat luas.25
Sedangkan penipuan adalah penipuan baik dari pihak penjual maupun pembeli dengan cara menyembunyikan kecacatan ketika terjadi transaki.26 penipuan dalam bentuk transaksi, melakukan segala aktifitas yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip yang telah
23 Buchari, Donni Juni Priansa Manajemen Bisnis Syariah (Bandung : Penerbit Alfabeta, 2009),
184 24
Amiur Nuruddin, Dari Mana Sumber Hartamu Renungan Tentang Bisnis Islami & Ekonomi Syariah (Jakarta : PT Gelora Aksara Pratama, 2010), 293
25 Muhammad, Lukman Fauroni Visi Al-Quran Tentang Etika dan Bisnis (Jakarta : Salemba
Diniyah, 2002), 154
26 Muhammad, Lukman Fauroni Visi Al-Quran Tentang Etika dan Bisnis (Jakarta : Salemba
Diniyah, 2002), 158
ditentukan oleh syari‟ah, hal tersebut yang menjadi indikator dari prinsip tauhid.
b) „Adl
Adil secara umum pengakuan dan perlakuan seimbang antara hak dan kewajiban. Misalnya, jika kita mengakui hak hidup maka kita juga berkewajiban untuk mempertahankan hak hidup itu dengan bekerja kersa tnapa merugikan orang lain karena orang lain pun memiliki hak hidup yang sama dengan kita. Dengan demikian, keadilan pada dasarnya terletak pada keseimbangan atau keharmonisan antara tuntutan hak dan pelaksanaan kewajiban.27
Menurut Akhmad Mujahidin, Islam mendefinisikan adil sebagai tidak mendzalimi dan tidak didzalimi. Implikasi ekonomi dari nilai keadilan adalah pelaku ekonomi dibolehkan mengejar keunutngan pribadi, tetapi tidak dibolehkan merugkan orang lain atau merusak hukum Islam. Tanpa keadilan pemegang modal akan mendzalimi pengusaha atau kreditur akan menzalimi debitur, sehingga debitur tidak mempunyaih pilihan lain kecuali anggunan yang dijadikan jaminan menjadi milik debitur.
Adil dalam konteks ekonomi Islam menganding makna bahwa dalam setiap aktifitas ekonomi yang dijalankan agar tidak terjadi sesuatu tindakan yang dapat mendzalimi orang lain. Konsep adil ini mempunyaih dua konteks individual dan sosial. Menurut
27 Mujahidin, Ekonomi, 11
konteks individual, janganlah dalam aktifitas perekonomiannya ia sampai menyakiti diri sendiri. Adapun dalm konteks sosial, dituntut jangan sampai merugikan orang lain. Hal ini menunjukan dalam setiap aktifitas ekonomi yang dilakukan oleh insan beriman haruslah adil, agar tidak ada pihak yang tertindas. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah dalam surat al-Maidah ayat 8:
Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS Al Maidah:8).28
Oleh karenanya harus terjadi keseimbangan antara, individu dan sosial. Hal ini menunjukan dalam setiap aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh insan beriman haruslah adil, agar tidak ada pihakk yang tertindas dan terdzalimi. Karakter pokok dari nilai keadilan bahwa masyarakt ekonomi haruslah memiliki sifat makmur dalam
28 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan terjemahan 1 : 253 (Surabaya : CV
Karya Utama, 2005), 127
keadilan bahwa msyarkat ekonomi haruslah memilki sifat makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran menurut syariat Islam.29 Oleh karena itu bersifat adil dalam berekonomi adalah menghindari perbuatan tercela, berjiwa ikhsan dan menyakini bahwa setiap perbuatan yang memberikan manfaat kepada orang lain mempunyaih duble orienteata, yaitu keuntungan yang didapatkan didunia dan keuntungan yang didapatkan di akhirat (fala) seperti dalam firman Allah surat Al-Muthaffifin ayat 1-3 :
Artinya :
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang), yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”
(QS Al-Muthaffifin:1-3)30
Dari ayat di atas jelas bahwa berbuat curang dalam berbisnis sangat dibenci oleh Allah, maka mereka termasuk orang-orang yang celaka. Kata ini menggambarkan kesedihan, kecelakaan dan kenistaan. Berbisnis dengan cara yang curang menunjukkan suatu tindakan yang nista, dan hal ini menghilangkan nilai kemartabatan manusia yang luhur dan mulia.
29 M. Nur Rianto al Arif, Teori Mikro Ekonomi Suatu Perbandingan Ekonomi Islam dan Ekonomi
Konvensional (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2010), 32
30 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur‟an dan terjemahan 83 : 1,2,3 (Surabaya : CV
Karya Utama, 2005) , 853
Jadi Allah adalah pencipta segala sesuatu (Sang Kholiq), dan salah atu sifat-Nya adalah adil. Allah tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap mahluk-Nya secara dzalim. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi harus memelihara hukum Allah di bumi, dan menjamin pemakaian segala sumberdaya diarahkan untuk kesejahteraan manusia, supaya semua mendapatkan manfaat dari padanya secar adil dan baik, dari pembahasan tersebut dapat diketahui yang menjadi indikator dari prinsip „adl yaitu: bagi hasil yang didapatkan sesuai dengan apa yang disepakati, hak dan kewajiban yang sama.
c) Nubuwwah (kenabian)
Karena rahman, rahim dan kebijaksanaan Allah, manusia tidak dibiarkan begitu saja tanpa mendapat bimbingan. Karena itu diutuslah para nabi dan rasul untuk menyampaikan petunju dari Allah kepada manusia tentang bagaimana hidup yang baik dan benar didunia, dan mengajarkan jalan untuk kembali (taubah) ke asal- muasal.
Fungsi rasul adalah untuk menjadi model terbaik yang harus diteladani manusia agar mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Untuk umat muslim, Allah telah mengirimkan “manusia model” yang terakhir dan sempurna untuk diteladani sampai akhir zaman, nabi muhammad s.a.w.
Sifat-sifat utama sang model yang harus diteladani oleh manusia pada umumnya dan pelaku ekonomi dan bisnis pada khususnya, adalah sifat siddiq (jujur), amanah (bertanggung jawab), fathonah (kemampuan), dan tabligh (menyampaikan).
d) Khilafah (pemerintahan)
Dalam Islam, pemerintah memainkan peranan yang kecil tetapi sangat penting dalam perekonomian, peran utamanya adlaha untuk menjamin perekonomian agar berjalan sesuai dengan syariah, dan untuk memastikan agar tidak terjadi pelanggaran terhadap hak- hak asasi. Semua ini dalang rangka mencapai maqashid asy syari‟ah (tujuan-tujuan syari‟ah) sebagai disinggung di atas.
e) Ma‟ad (hasil=return)
Ma‟ad diartikan juga sebagai imbalan / ganjaran. Implikasi nilai ini dalam kehidupan ekonomi dan bisnis misalnya, diformulasikan oleh imam al-ghazali yang menyatakan bahwa motivasi para pelaku bisnis adalah untuk mendapatkan laba, baik laba material (tangible) maupun laba non-material (intangible).
2. Simpanan Berjangka
Simpanan berjangka merupakan simpanan yang diterbitkan menurut jangka waktu tertentu sama hal nya dengan deposito.
Berdasarkan undang-undang nomor 10 tahun 1998 atas perubahan atas undang-undang nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan, yang dimaksud dengan deposito berjangka adalah simpanan yang penarikannya hanya
dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dengan bank yang bersangkutan.
Adapun yang dimaksudkan dengan deposito syariah adalah deposito yang dijalankan berdasarkan prinsip syariah. Dalam hal ini, dewan syari‟ah nasional MUI telah mengelurakan fatwa yang menyatakan bahwa deposito yang dibenarkan adalah deposito yang berdasarkan prinsip mudharabah31
Dalam hal ini, bank syariah bertindak sebagai pengelola dana (mudharib), sedangkan nasabah bertindak sebagai pemilik dana (shahibul mal). Dalam kapasitasnya dalam mudharib, bank syariah dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta mengembangkannya, termasuk melakukan akad mudharabah dengan pihak ketiga.
Dengan demikian, bank syariah dalam kapasitasnya sebagai mudharib memiliki sifat sebagai seorang wali amanah (trustee), yakni harus berhati-hati atau bijaksana serta beritikad baik dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang timbul akibat kesalahan atau kelalainya.
Di samping itu, bank syariah juga bertindak sebagai kuasa dari usaha bisnis pemilik dana yang diharapkan dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin tanpa melanggar berbagai aturan syariah.
Dari hasil pengelolaan dana mudharabah, bank syariah akan membagihasilkan kepada pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah
31 Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor 03/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Deposito Syariah
disepakati dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Dalam pengelolaan dana tersebut, bank tidak bertanggung jawab terhadap kerugian yang bukan disebabkan oleh kelalainya. Namun, apabila yang terjadi adlah mismanagement (salah urus), bank bertanggung jawab penuh terhadap kerugian tersebut.
Berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh pihak pemilik dana, terdapat 2 (dua) bentuk mudharabah, yakni:32
a. Mudharabah Mutlaqah
Dalam deposito mudharabah mutlaqah, pemilik dana tidak memberikan batasan atau persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam mengelola investasinya, baik yang berkaitan tempat, cara maupun objek investasinya. Dengan kata lain, bank syariah mempunyaih hak dan kebebasan sepenuhnya dalam menginvestasikan dana ini keberbagai sector bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.
Dalam perhitungan bagi hasil deposito mudharabah mutlaqah, basis perhitungan adalah hari bagi hasil sebenarnya, termasuk tanggal tutup buku, namun tidak termasuk tanggal pembukuan deposito mudharabah mutlaqah dan tanggal jatuh tempo. Sedangkan jumlah hari dalam sebulan yang menjadi angka penyebut/ angka pembagi adalah hari kalender bulan yang bersangkutan (28 hari, 29 hari, 30 hari, 31 hari).
32 Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada 2004), 277-283
Pembayaran bagi hasil deposito mudharabah mutlaqah dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu:
1) Annyversary Date
a) Pembayaran bagi hasil deposito dilakukan secar bulanan, yaitu pada tanggal yang sama dengan tanggal pembukaan deposito
b) Tingkat bagi hasil yang dibayarkan adalah tingkat bagi hasil tutup buku bulan akhir
c) Bagi hasil bulanan yang diterima nasabah dapat diklasifikasi ke rekening lainya esuai dengan permintaan deposan.
2) End of Month
a) Pembayaran bagi hasil deposito dilakukan secara bulanan, yaitu pada tanggal tutup buku setiap bulan.
b) Bagi hasil bulan pertama dihitung secara proposional hari efektif termasuk tanggal tutup buku, tapi tidak termasuk tanggal pembukaan deposito.
c) Bagi hasil bulan akhir dihitung secara proposional hari efektif tidak termasuk tanggal jatuh tempo deposito.
Tingkat bagi hasil yang dibayarkan adalah tingkat bagi hasil tutup buku bulan akhir
d) Jumlah hari sebulan adalah jumlah hari kalender bulan yang bersangkutan (28 hari, 29 hari, 30 hari, 31 hari)
e) Bagi hsil bulanan yang diterima nasabah dapat diklasifikasikan ke rekening lainya seuai permiintaan deposan.
Dalam hal pencairan deposito mudharabah mutlaqah dengan pembayaran bagi hasil bulanan yang dilakukan sebelum tanggal jatuh tempo, bank syariah dapat mengenakan denda (penalty) kepada nasabah yang bersangkutan 3% dari nominal bilyet deposito mudharabah mutlaqah. Klausul denda harus ditulis dalam akad dan menjelaskan kepada nasabah pada saaat pembukaan deposito mudharabah mutlaqah semua jangka waktu (1, 2, 3, dan 12 bulan) untuk disepakati bersama oleh nasabah dan bank. Dalam hal ini, bagi hasil yang menjadi hak nasabah dan belum dibayarkan, Harus dibayarkan.
b. Mudharabah Muqayyadah
Berbeda halnya dengan deposito mudharabah mutlaqah, dalam deporito mudharabah muqayyadah, pemilik dana memberikan batasan yaitu persyaratan tertentu kepada bank syariah dalam penglolaan nvestasinya, baik berkaitan dengan tempat, cara, maupun objek investasinya. Dengan kata lain, bank syariah tidak mempunyaih hak dan kebebasan sepenuhnya dalam menginvestasikan dana in ke berbagai sektor bisnis yang diperkirakan akan memperoleh keuntungan.
Dalam menggunakan dana deposito mudharbah muqayyadah ini, menggunakan dua metode, yakni:
1) Cluster Pool of Found
Yaitu penggunaan dana untuk beberapa proyek dalam satu jenis industri bisnis
2) Specific Product
Yaitu penggunaan dana untuk suatu proyek tertentu.
Dalam hal ini, bank syariah melakukan pembayaran bagi hasil sesuai dengan metode penggunaan dana mudharabah muqayyadah, yakni:
1) Cluster Pool of Found
Pembayaran bagi hasil deposito mudharabah muqayyadah dilakukan secara beulanan, triwulan, semesteran atau periodisasi lain yang disepakati.
2) Specific Project
Pembayaran bagi hasil disesuaikan dengan arus kas proyek yang dibiyai.
Perhitungan bagi hasil dana mudharabah muqayyadah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Perhitungan bagi hasil Cluster Pool of Found
Dalam perhitungan bagi hasil Cluster Pool of Found, bank syariah dapat menggunakan rumus sebagai berikut:
Hari bagi hasil x nominan deposito mudharabah muqayyadah x tingkat bagi hasil cluster
Hari kalender bulan yang bersangkutan Dalam ha ini, pembayaran bagi hasil deposito mudharabah muqayyadah dapat dilakukan melalui metode sebagai berikut:
a) Annversary Date
1) Pembayaran bagi hasil deposito mudharabah muqayyadah dilakukan secara bulanan, yaitu pada tanggal yang sama dengan tangggal pembukaan deposito
2) Tingkat bagi hasil yang dibayarkan adlah tingkat bagi hasil tutup buku bulan terakhir.
3) Bagi hasil bulanan yang diterima nasabah dapat diklasifikasikan ke rekening lainya sesuai permintaan deposan.
b) End of Month
1) Pembayaran bagi hasil deposito mudharabah muqayyadah dilakukan secara bulanan, yaitu pada tanggal tutup buku setiap bulan.
2) Bagi hasil bulan pertama dihitung secara proporsional hari efektif termasuk tanggal tutup buku, namun tidak termasuk tanggal pembukaan deposito.
3) Bagi hasil bulan terakhir dihitung secara proporsional hari efektif tidak termasuk tanggal jatuh tempo deposito. Tingkat bagi hasil yang dibayarkan adalah tingkat bagi hasil tutup buku bulan terakhir.
4) Jumlah hari sebulan adalah jumlah hari kalender bulan yang bersangkutan (28 hari, 29 hari, 30 hari, 31 hari).
5) Bagi hasi bulanan yang diterima nasabah dapat diklasifikasikan ke rekening lainya sesuai permintaan deposan.
2. Perhitungan bagi hasil Specific Project
Dalam menghitung bagi hasil deposit, basis perhitungan hari bagi hasil deposito adalah hari tangal pembukaan deposito sampai dengan tanggal pembayaran bagi hasil terdekat, dan menjadi angka pembilang atau number of days. Sedangkan jumlah hari tanggal pembayaran bagi hasil terakhir sampai tanggal pembayaran bagi hasil berikutnya menjadi angka penyebut/ angka pembagi.
Dalam hal nominal proyek yang akan dibiayai oleh lebih dari satu nasabah atau oleh bank dan nasabah, maka bagi hasil dihitung proposional.
Rumus perhitungan bagi hasil yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
Hari bagi hasil x nominanal deposito x return proyek Hari bagi hasi terakhir nominal proyek
Sampai bagi hasil berikutnya yang dibiayai
Dalam hal pencairan deposito mudharabah muqayyadah, terdapat ketentuan sebagai berikut:
a) Khusus untuk cluster, apabila dikehendaki oleh deposan, deposito mudharabah muqayyadah dapat dicairkan atau ditarik kembali sebelum jatuh tempo yang disepaki ndalam akad. Akibat tidak terpenuhinya jangka waktu akad, bank mengenakan enda (penalty) sesuai kalusul denda yang disepakati dalam akad
b) Khusus untuk specific project, deposito tidak dapat dicairkan atau ditarik kembailsebelum jatuh tempu tanpa konfirmasi dan persetujuan tertulis dari bank, bank dapat menoilak permohonan pencairan sebelumjatuh tempo bila memberatkan bank. Dalam hal ini bank menyetujui pencairan sebelum jatuh tempo, bank dapat mengenakan denda (penalty) sesuai kesepakatan.
Deposito mudharabah muqayyadah dengan pembayaran bagi hasil secara bulanan dapat dicairkan sebelum tanggal jatuh tempo dengan dikenakan denda (penalty)
sebesar 3% dari nominal bilyet deposito mudharabah muqayyadah. Klausul denda harus ditulis dalam akad dan dijelaskan kepada nasabah pada saat pembukaan deposito mudharbah muqayyadah semua jangka waktu (1, 2, 6, dan 12 bulan) untuk disepaki bersama oleh nasbah dan bank. Dalam hal ini, bagi hasil yang menjadi hak nasabah dan belum dibayarkan, harus dibayarkan.
dilaksanakan.33 Melakukan suatu penelitian, maka diharuskan menggunakan metode-metode karena suatu penelitian ilmiah belum di anggap sebagai karya ilmiah manakala penelitian ini tidak menggunakan metode yang benar dan tepat. Oleh karena itu peneliti harus memahami metode-metode yang akan digunakan dalam penelitian ini.
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian adalah cara-cara terstuktur, terencana, dan terprosedur untuk melakukan sebuah penelitian ilmiah dengan memadukan semua potensi dan sumber yang telah disiapkan dan setiap penelitian memiliki pedekatan yang berbeda-beda34
Sesuai dengan konsep judul yang ada dalam proposal ini, maka pendekatan penelitian yang akan dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan metode penelitian deskriptif kualitatif, yakni sebuah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan sebuah fakta emperis secara objektif ilmiah yang berlandas pada logika keilmuan, prosedur dan didukung metodologi dan teoritis yang kuat.35
Jenis penelitian kualitatif dipilih untuk digunakan dalam penelitian ini dengan maksud untuk memahami perilaku manusia dari keramgka acuan peneliti sendiri, yakni bagaimana peneliti memandang dan menafsirkan
33Hasan Ikbal, 2002 Pokok-pokok Metodologi dan Aplikasinya, (Jakarta: Golia Indonesi), 21
34 Mukhtar. 2013. Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif, (Jakarta:GP Press Group), 84
35 Mukhtar. 2013. Metode Praktis Penelitian Deskriptif Kualitatif, (Jakarta:GP Press Group), 29
fenomena yang diemukannya, begitu pula agar dapat mengetahui dan mendeskripsikan secara jelas dan rinci tentang Bagaimana Implementasi Prinsip–Prinsip Ekonomi Islam terhadap simpanan berjangka di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari
B. Lokasi Penelitian
Tempat yang berkaitan dengan penelitian peneliti yang berkaitan dengan perbankan yang menerapkan simpanan berjangka Mudharabah yaitu BMT Nuasa Ummah Cabang Sumbersari yang beralamat di Jl. MT Haryono No. 147 Wirolegi.
Jadi peneliti memilih penelitian di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari sebagai salah satu BMT di daerah Jember yang berkembang pesat serta didukung dengan nasabah yang secara kuantitas banyak meskipun berdirinya relative baru. Hanya saja kredibilitasnya yang menyangkut salah satu produknya yaitu simpanan berjangka mudharabah pada BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari masih perlu diteliti secara ilmiah dan akademis untuk melihat keselarasannya dengan pelaksanaan prinsip-prinsip ekonomi Islam yaitu Tauhid (keimanan) dan ‘Adl (keadilan) dalam simpanan berjangka mudharabah di BMT Nuasa Ummah cabang Sumbersari
C. Subjek Penelitian
Penulisan yang dimaksud oleh penulis adalah penelitian lapangan.
Oleh sebab itu data-data yang kami peroleh nanti adalah bersifat observatif, interview, dan dokumentatif. Sumber data atau informan adalah orng yang