• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Ekonomi Syariah oleh Muhammad Hairul

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Skripsi Ekonomi Syariah oleh Muhammad Hairul"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Ekonomi Islam Progam Studi Ekonomi Syariah

Oleh :

MUHAMMAD HAIRUL NIM. 083 112 093

Dr. Ishaq, M. Ag NIP. 19710213 200112 1 001

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

FEBRUARI 2019

(2)
(3)
(4)

.ٍةَّضِف ْوَأ ٍبَهَذِب اَهَ يِرْكُن ْنَأ اَنَرَمَأَو َكِلَذ ْنَع َمَّلَسَو ِهِلآَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر

Artinya :“Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya;

maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak”.

(HR. Abu Daud dari Sa’d Ibn Abi Waqqash).1

1Syafe’i, Fiqih Mua’malah (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001), 158.

(5)

1. Kedua orang tua dan martua saya yang sangat saya sayangi dan ta’dzimi (Abd. Rosyid dan Farida) dan (Ahmad Nurul Huda dan Musrifah)

2. Adikku tersayang (Ahmad Zainuri dan M. Rufton Maulana)

3. Mantan pacar yang sekarang dan selamanya menjadi Istri saya (Hidayati Milyah)

4. Sahabat-sahabat seperjuangan (Chofi Zamani, Alif Firdaus, Hariyono, Fendi, Fariz Rahman W, Munip, Mashur Imam, Afthon Sholeh, Imam K, Amri Aziz, Naimur Rahman, Robiul Fadil, Hamim AJ, Rurut WT, Rifqi Sholfi, Ulum Rahmatullah, Abd. Rahman Arif, dan semua sahabat yang tidak bisa sebutkan semuanya)

5. Organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) IAIN Jember.

6. Angkatan PMII GOD BACK (Gerakan Organisatoris Demokratis Berasas Cultural Kritis).

7. Komunitas KUMAN (Kumpulan Mahasiwa Netral).

8. Almamater saya tercinta, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember yang telah menaungi saya selama menempuh studi.

(6)

Puji syukur selalu penulis panjatkan kehadirat Illahi Rabbi karena rahmat dan karunianya penulisan sekaligus penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan.

Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada sang revolusioner dunia dan sekaligus panutan kita, Rasulullah S.A.W.

Keberhasilan penulis bukanlah sebuah hasil yang tanpa usaha dan do’a dari seluruh kalangan. Oleh sebab itu, penulis menyampaikan terima kasih dengan setulus hati kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM. selaku Rektor IAIN Jember.

2. Dr. Moch. Chotib, S.Ag., M.M . selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember.

3. M.F. Hidayatullah, S.HI., M.SI. selaku ketua Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember.

4. Dr. Ishaq, M.Ag selaku dosen pembimbing Skripsi yang telah membimbing serta mengarahkan selama proses penyelesaian skripsi.

5. Segenap dosen yang telah mencurahkan ilmunya kepada penulis sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan di dunia dan akhirat.

(7)

Jember, 17 Juli 2018

MUHAMMAD HAIRUL NIM. 083 112 093

(8)

Kata Kunci: Sewa Menyewa Lahan

Praktik sewa menyewa di Desa Sidomukti diawali dengan proses tawar menawar diantara kedua belah pihak, kemudian kesepakatan (akad) tentang jangka waktu sewa, luas lahan yang disewakan dan biaya sewa. Selain mengadakan kesepakatan sewa menyewa, biasanya pihak penyewa mengadakan kesepakatan kerja sama dalam hal pengolaan lahan Berdasarkan fenomena tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian judul “Sewa Menyewa Lahan Dengan Kerjasama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam.

Fokus penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Pemahaman Masyarakat tentang Sewa Menyewa Lahan dengan Kerjasama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember? 2) Bagaimana Praktik Sewa Menyewa Lahan dengan Kerjasama Di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember? 3) Bagaimana Praktik sewa-menyewa lahan dengan kerjasama di desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam?

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Mengetahui dan mendiskripsikan Pemahaman Masyarakat tentang Sewa Menyewa Lahan dengan Kerjasama di Desa Sidomukti. 2) Mengetahui dan mendiskripsikan Praktik Sewa Menyewa Lahan dengan Kerjasama Di Desa Sidomukti. 3) Mengetahui dan mendiskripsikan Praktik sewa-menyewa lahan dengan kerjasama di desa Sidomukti dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam.

Penelitian ini merupakan penelitian field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Penentuan informan menggunakan teknik snowball informant. Pengumpulan data dilakukan dengan Teknik Observasi, Wawancara, dan Dokumentasi. Analisis data menggunakan Reduksi data, Penyajian data, Penarikan kesimpulan. Validitasi data menggunakan Triangulasi Sumber.

Hasil penelitian adalah 1) Pemahaman masyarakat tentang sewa menyewa lahan dengan kerjasama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember adalah telah sesuai dengan apa yang menjadi pemahaman yang ada dalam ekonomi syariah tentang unsur-unsur sewa menyewa yaitu mulai dari orang yang berakad harus sudah dewasa, objek akad yang benilai ekonomis, dan perjanjian akad (ijab-qabul) yang dilakukan secara tertulis. 2) Praktik sewa menyewa lahan dengan kerja sama di Desa Sidomukti adalah sesuai dengan apa menjadi kajian tentang sewa menyewa dalam ekonomi syariah, kesesuain tersebut yaitu biaya sewa di bayar secara tunai dengan uang (bukan barang sejenis), jangka waktu sewa yang telah disebutkan awal sampai berakhirnya masa sewa, sedangkan cara kerja sewa menyewa dimulai pencarian objek sewa, melakukan tawar menawar, terjadi kesepakatan, waktu pembayaran biaya sewa, dan jangka waktu sewa. 3) Praktik sewa-menyewa lahan dengan kerjasama di Desa Sidomukti perspektif hukum ekonomi Islam adalah sesuai dengan indikator dari unsur sewa yang sudah terpenuhi yaitu adanya dua orang yang bertransaksi (pihak penyewa dan pemberi sewa yang sudah baliqh dan berakal), objek sewa berupa tanah untuk ditanami tebu (hak milik dan diserahterimakan, bernilai ekonomis dan bermannfaat secara syariah), bentuk ijab-qabul sewa (dilakukan dengan perjanjian tertulis demi menghidari kecacatan akad) biaya sewa (kesepakatan antara penyewa dan pemberi sewa dan dilakukan pembayaran secara tunai).

(9)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Fokus Penelitian ... 5

C. Tujuan Penelitan... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Definisi Istilah ... 7

F. Sistematika Pembahasan ... 8

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 10

B. Kajian Teori ... 13

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 32

B. Lokasi Penelitian ... 33

(10)

F. Keabsahan Data ... 37 G. Tahapan-Tahapan Penelitian ... 38 BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

A. Gambaran Obyek Penelitian ... 40 B. Penyajian dan Analisis Data ... 42

1. Pemahaman Masyarakat tentang Sewa Menyewa Lahan Dengan Kerja Sama Desa Sidomukti

Kecamatan Mayang Kabupaten Jember ... 44 2. Praktik Sewa Menyewa Lahan Dengan Kerja Sama

Di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten

Jember ... 47 3. Praktik sewa-menyewa lahan dengan kerjasama di

desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten

Jember dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam ... 52 C. Pembahasan Temuan ... 55

1. Pemahaman Masyarakat tentang Sewa Menyewa Lahan Dengan Kerja Sama Desa Sidomukti

Kecamatan Mayang Kabupaten Jember ... 56 2. Praktik Sewa Menyewa Lahan Dengan Kerja Sama

Di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten

(11)

Perspektif Hukum Ekonomi Islam ... 66 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 74 B. Saran ... 75 DAFTAR PUSTAKA ... 77 LAMPIRAN – LAMPIRAN

1. Pernyataan Keaslian Tulisan 2. Matrik Penelitian

3. Pedoman Penelitian 4. Pedoman Wawancara

5. Surat Izin Penelitian dari IAIN Jember 6. Jurnal Penelitian

7. Surat Keterangan Selesai Penelitian 8. Dokumentasi penelitian

9. Biodata Peneliti

(12)

A. Latar Belakang

Islam merupakan ajaran Allah yang bersifat universal yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk sosial dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik secara material maupun spiritual, selalu berhubungan dan bertransaksi antara satu dan yang lainnya. Dalam berhubungan dengan orang lain inilah antara satu dan yang lain sering terjadi interaksi.1

Bentuk interaksi tersebut dapat berupa perikatan atau perjanjian dalam bentuk transaksi (akad). Transaksi yang dilakukan tersebut harus sesuai dengan hukum syariah Islam, karena Islam melarang cara-cara yang mengandung unsur-unsur penindasan, pemerasan, atau penganiayaan terhadap orang lain.2 Karena Islam sangat mengutamakan prinsip keadilan dan mashlahah dalam mengatur setiap hubungan antar umat, dimana tujuan akhir dari hubungan tersebut adalah falah (kemakmuran dunia akhirat).

Diantara banyaknya jenis transaksi yang dilakukan, sewa menyawa merupakan salah satu transaksi yang sangat sering dilakukan oleh masyarakat umum. Sewa menyewa merupakan transaksi dimana seseorang dapat memanfaatkan suatu barang atau benda tanpa harus memilikinya secara utuh atau membelinya, karena sewa menyewa (ijarah) adalah akad pemindahan hak

1Ismail Nawawi, Fikih Muamalah Klasik Dan Kontemporer (Hukum Perjanjian, Ekonomi, Bisnis, Dan Sosial) (Bogor: Ghalia Indonesia, 2012), 19.

2 Muhammad Sholikhul Hadi, Pegadaian Syariah (Jakarta: Salemba Diniyah, 2000), 49-50.

(13)

guna (manfaat) suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu dengan adanya pembayaran upah (ujrah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyah) atas barang itu sendiri.3

Landasan yang memperbolehkan transaksi sewa menyewa ini dapat dilihat dalam firman Allah SWT dan hadits Rasulullah SAW., sebagai berikut:



































































































































Artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233)4

3 Dumairi Nor, dkk., Ekonomi Syariah Versi Salaf, Cet.II (Pasuruan: Pustaka SIDOGIRI, 2012), 119-120.

4 Departemen Agama RI, Al Quran Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka (Jakarta: Kalim, 2011), 38.

(14)

اَنَ ثَّدَح ُّيِمَلَّسلا َةَّيِطَع ِنْب ِدْيِعَس ُنْب ُبْهَو اَنَ ثَّدَح ُّيِقْشَمَّدلا ِدْيِلَوْلا ُنْب ُساَّبَعْلا اَنَ ثَّدَح ِنَْحَّْرلا ُدْبَع

َع َمَلْسَأ ِنْب ِدْيَز ُنْب اوُطْعَأ َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُللها ىَّلَص ِللها ُلْوُسَر َلاَق َلاَق َرَمُع ِنْب ِللها ِدْبَع ْنَع ِهْيِبَأ ْن

.ُهَقَرَع َّفَِيَ ْنَأ َلْبَ ق ُهَرْجَأ َرْ يِجَْلْا رمع نبا نع هجام نبا هاور )

(

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Al Abbas bin Al Walid Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Wahb bin Sa’id bin Athiah As Salami berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari Abdullah bin Umar ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.”

(HR. Ibnu Majah dari Ibnu Umar)

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat sangat membutuhkan akad ini, karena pada kenyataannya banyak orang kaya yang memiliki beberapa rumah yang tidak ditempati, di sisi lain banyak orang yang tidak mempunyai tempat tinggal karena ketidakmampuannya. Adanya akad sewa (ijarah) maka orang yang tidak memiliki tempat tinggal bisa menempati rumah orang lain yang tidak ditempati untuk beberapa waktu tertentu dengan memberikan imbalan (upah) berupa uang sewa yang disepakati bersama tanpa harus membeli rumahnya.5 Dengan demikian, akad sewa (ijarah) bisa dimanfaatkan sebagai akad saling membantu antar sesama manusia, meskipun tidak sepenuhnya. Akan tetapi dalam akad sewa (ijarah) tidak semua barang bisa disewakan, ada beberapa syarat mengenai barang yang bisa disewakan yakni sebagai berikut:

1. Barang yang disewakan harus jelas, baik manfaat ataupun waktunya.

2. Barang yang disewakan bisa diserah terimakan atau dapat dipenuhi.

3. Manfaat barang harus yang diperbolehkan syarak.

5Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat, Ed. 1, cet 2 (Jakarta: Amzah, 2013), 320.

(15)

4. Manfaat barang memiliki nilai jual.6

Dalam transaksi sewa (ijarah) barang (objek sewa) merupakan salah satu syarat sahnya akad. Oleh karena itu barang yang disewakan harus jelas baik manfaat, masa manfaat, dan jenisnya.7

Transaksi sewa menyewa juga banyak dilakukan di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan oleh peneliti, banyaknya lahan pertanian dan kurangnya modal merupakan salah satu latar belakang masyarakat Sidomukti melakukan sewa menyewa. Akan tetapi, praktik sewa menyewa yang dilakukan masyarakat tidak sama dengan sewa menyewa pada umumnya. Praktik sewa menyewa yang dilakukan masyarakat Desa Sidomukti biasanya disertai kerjasama pengelolaan lahan antara pihak penyewa dan pihak pemilik tanah, dimana pemilik tanah sebagai pengelola tanah. Hal tersebut dilakukan karena pemilik tanah dianggap mengerti akan tanah tersebut.

Praktik sewa menyewa di Desa Sidomukti diawali dengan proses tawar menawar diantara kedua belah pihak, kemudian kesepakatan (akad) tentang jangka waktu sewa, luas lahan yang disewakan dan biaya sewa. Selain mengadakan kesepakatan sewa menyewa, biasanya pihak penyewa mengadakan kesepakatan kerja sama dalam hal pengolaan lahan. Penerima sewa yang juga pemilik lahan berkewajiban mengelola lahan yang disewakan dan sekaligus bertanggung jawab merawat tanaman yang akan ditanam di lahan tersebut (biasanya tebu), mulai dari proses penanaman hingga masa

6Nor, dkk., Ekonomi Syariah, 122; Muslich, Fiqh Muamalat, 323-324.

7Ibid., 322-323.

(16)

panen tiba. Dan hasil pengelolaan tersebut akan dibagi sesuai dengan kesepakatan diantara kedua belah pihak.

Berdasarkan permasalahan yang terjadi tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk karya ilmiah yang disusun dalam skripsi yang berjudul “SEWA MENYEWA LAHAN DENGAN KERJASAMA DALAM PERSPEKTIF HUKUM EKONOMI ISLAM DI DESA SIDOMUKTI KECAMATAN MAYANG KABUPATEN JEMBER”

B. Fokus Penelitan

1. Bagaimana pemahaman masyarakat tentang sewa menyewa lahan dengan kerja sama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember?

2. Bagaimana praktik sewa menyewa lahan dengan kerja sama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember?

3. Bagaimana praktik sewa-menyewa lahan dengan kerjasama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan pemahaman masyarakat tentang sewa menyewa lahan dengan kerja sama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan praktik sewa menyewa lahan dengan kerja sama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

(17)

3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan praktik sewa-menyewa lahan dengan kerjasama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian dengan judul “Sewa Menyewa Lahan dengan Kerjasama dalam Perspektif Hukum Ekonomi Islam di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember” ini merupakan bentuk rasa keingintahuan peneliti tentang sewa menyewa lahan dengan kerja sama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Secara Teoretis:

a. Hasil penelitian ini secara akademis diharapkan dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi pihak yang membutuhkan berkaitan dengan permasalahan yang diangkat, serta menambah keilmuan dan wawasan masyarakat berkenaan hukum ekonomi Islam terhadap praktik sewa menyewa lahan dengan kerjasama di Desa Sidomukti Kecamatan Mayang Kabupaten Jember.

b. Sebagai salah satu cara untuk menambah pengetahuan dan pengalaman berkenaan sudut pandang hukum ekonomi Islam terhadap praktik sewa menyewa lahan dengan kerjasama, bagi peneliti khususnya serta umumnya bagi para peneliti yang membutuhkan dan kemudian dapat digunakan sebagai rujukan penelitian berikutnya.

(18)

2. Secara Praktis

a. Bagi peneliti penelitian ini diharapkan dapat menjadi penelitian ilmiah yang memenuhi syarat sebagai laporan atau tugas akhir untuk mendapat gelar Sarjana Strata Satu (S1).

b. Bagi almamater Institut Agama Islam Negeri IAIN Jember dan mahasiswa Program Studi Muamalah diharapkan dapat menjadi koleksi serta rujukan penelitian berikutnya.

E. Definisi Istilah 1. Sewa Menyewa

Hukum Islam mendefinisikan sewa menyewa (ijarah) adalah suatu perjanjian atau akad yang objeknya barang atau jasa. Akad ijarah yang objeknya manfaat adalah sewa menyewa dan yang objeknya kerja adalah perjanjian kerja.8

2. Perspektif

Secara bahasa, perspektif bermakna pengharapan, peninjauan, tinjauan padang luas.9 Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, perspektif adalah sudut pandangan, pandangan.

3. Hukum Islam

Hukum Islam berarti peraturan-peraturan yang dirumuskan melalui wahyu Allah SWT, dan sunnah Rasullullah SAW mengenai tinggkah laku manusia yang diakui dan diyakini berlaku mengikat kepada seluruh umat

8Syamsul Anwar, Hukum Perjanjian Syariah (Studi tentang Teori Akad dalam Fikih Muamalat), Ed. 1, Cet. 2 (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), 54.

9Kurniawan, Kamus Praktis, 364.

(19)

muslim.10

Menurut Abdul Ati, hukum Islam memiliki fungsi ganda, yakni fungsi syari’ah dan fungsi fikih. Syari’ah merupakan fungsi kelembagaan yang diperintahkan Allah untuk perseorangan dalam mengatur hubungannya dengan Allah, sesama muslim, sesama manusia, dan dengan semua makhluk didunia ini. Sedangkan fikih merupakan produk daya pikir manusia. Fikih merupakan usaha manusia yang dengan daya intelektualnya mencoba menafsirkan penerapan prinsip-prinsip syari’ah secara sistematis.11

Dalam penelitian ini, pembahasan yang akan dianalisis terkait dengan fungsi fikih, yakni mengkaji hukum mua’malah manusia yang terkait dengan penafsiran dan pengkiyasan dengan hukum-hukum yang telah diijtihadkan sebelumnya. Sebagaimana kaidah fikih “aAsal sesuatu adalah boleh sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya”.

Dimana kaidah fikih tersebut berdasarkan hadis Rasulullah SAW, “Kamu sekalian adalah lebih mengetahui dengan urusan keduniaanmu”.12

F. Sistematika Pembahasan

Penelitian skripsi ini terdiri atas lima bab, masing-masing bab membahas permasalahan yang diuraika n menjadi beberapa sub bab. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas serta mempermudah dalam

10 Ahmad Rofiq, Pembaharuan Hukum Islam Di Indonesia (Yogyakarta: Gama Media, 2001), 23.

11Cik Hasan Bisri, Model Penelitian Fiqh (Paradigma Penelitian Fiqh & fiqh Penelitian), Jilid I (Bogor: Kencana, 2003), 4.

12Nawawi, Fikih Muamalah, 14; Karim, Bank Islam, 9.

(20)

pembahasan, secara global, sistematika penelitian skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan: Bab ini merupakan dasar penelitian, yang mengemukakan latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, serta sistematika penelitian. Hal tersebut berfungsi sebagai gambaran secara umum dari skripsi ini.

BAB II Kajian Pustaka: Dalam bab ini terdiri dari penelitian terdahulu dan kajian teori.

BAB III Metode Penelitian: Bab ini membahas tentang pendekatan dan jenis penelitian yang dilakukan, lokasi penelitian dilaksanakan, subyek penelitian, teknik pengumpilan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian yang akan dilaksanakan.

BAB IV Penyajian Data dan Analisis: Bab ini berisikan gambaran objek penelitian, penyajian data dan analisisnya, serta pembahasan temuan.

BAB V Penutup: Dalam bab terakhir ini ditarik kesimpulan yang ada setelah proses di bab-bab sebelumnya yang kemudian menjadi sebuah hasil atau analisa dari permasalahan yang detiliti. Kemudian dilanjutkan dengan saran-saran untuk pihak-pihak yang terkait di dalam penelitian ini secara khusus ataupun pihak-pihak yang membutuhkan secara umumnya.

(21)

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu bermaksud untuk mengetahui sejauh mana keaslian dan posisinya dengan perbandingan penelitian-penlitian sebelumnya yang sudah pernah dilakukan. Beberapa penelitian terdahulu yang diangkat oleh peneliti saat ini adalah :

1. Penelitian Nunung Muhayatun tahun 2007 dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sewa-menyewa Tanaman di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara)”. Rumusan masalah yang menjadi pokok kajian penelitian tersebut adalah: 1) Bagaimana pelaksanaan sewa- menyewa tanaman di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara?, 2) Bagaimana tinjauan Hukum Islam terhadap pelaksanaan sewa- menyewa tanaman di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara?, dengan menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) dan analisis data kualitatif deskriptif.

Penelitian tersebut menjelaskan praktik sewa-menyewa tanaman seperti kapuk, mangga dan petai untuk diambil buahnya dalam jangka waktu satu sampai tiga musim. Pihak kedua (penyewa) menyerahkan harga sewa pada musim terjadinya akad meskipun buah dari tanaman yang diakadkan belum nampak.

(22)

Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa praktik sewa- menyewa tanaman di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara tidak sesuai dengan hukum Islam karena tidak memenuhi beberapa syarat sewa-menyewa pada umumnya. Buah yang diambil dari praktik sewa- menyewa adalah hasil pengikut dari objek sewa, bukan manfaat, padahal dalam sewa-menyewa yang diakadkan adalah manfaat objek sewa. Oleh karena, itu praktik sewa-menyewa tersebut merupakan pengalihan nama akad dari jual beli ijon dan jual beli mu’awamah.

Perbedaan dari penelitian terdahulu tersebut terletak pada objek atau tata cara sewa-menyewa yang terjadi. Objek penelitian di Desa Bangsri Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara adalah segala jenis tanaman yang mempunyai nilai jual, sedangkan di Desa Sidomukti adalah lahan pertanian yang masih belum ditanami. Praktik di Desa Bangsri, penyewa langsung memanfaatkan buahnya tanpa merawat pohonnya karena kewajiban perawatan ada pada pemilik pohon. Sedangkan di Desa Sidomukti, semua kewajiban perawatan ada pada penerima sewa atau pemilik tanah. Hal tersebutlah yang membuat peneliti ingin lebih memahami dan meneliti praktik sewa menyewa lahan dengan kerjasama yang terjadi di Desa Sidomukti.

Persamaan dari penelitian terdahulu tersebut terletak pada alat analisis yang dipakai dalam penelitian. Dimana penelitian tersebut yang menjadi alat analisis adalah hukum islam (hukum ekonomi islam tentang sewa-menyewa).

(23)

2. Penelitian Imron Rosyidi tahun 2012 dengan judul “Analisis Akad Ijarah (Sewa-Menyewa) di Pasar Gladak Pakem Jember Dalam Perspektif Hukum Islam”. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif.

Penelitian tersebut menjelaskan mekanisme akad sewa menyewa tempat di Pasar Gladak Pakem Jember terdapat dua jenis, yaitu pertokoan dan bedak/meja. Sewa menyewa yang terjadi menggunakan sistem kontrak.

Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut disebutkan bahwa akad sewa menyewa yang terjadi di Pasar Gladak Pakem Jember shahih, karena seluruh unsur akad sudah dipenuhi baik syarat maupun rukunnya.

Persamaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu ialah terletak pada Ijarahnya (sewa menyewanya), sedangkan perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian terdahulu adalah pada objek penelitian pada penelitian sekarang objeknya adalah lahan pertanian, sedangkan objek penelitian terdahulu adalah toko.

3. Penelitian Moh. Khamim Thohari tahun 2015 dengan judul “Praktik Sewa Menyewa Lahan Berpohon Jeruk di Dusun Mojoroto Desa Tegalsari Kecamatan Tegalsari Kabupaten Banyuwangi dalam Perspektif Hukum Islam”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, dengan menganalisis sewa menyewa berpohon jeruk di Dusun Mojoroto guna mengidentifikasi permasalahan tersebut. Teknik

(24)

pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, documenter dan studi kepustakaan.

Hasil dari penelitian ini adalah: 1) Praktik sewa menyewa pohon jeruk diawali dengan proses tawar menawar, kemudian akad dengan penandatanganan perjanjian bersama surat perjanjian sewa menyewa menyebutkan jumlah objek yang disewa, lama waktu sewa, dan metode pembayaran sewa. Ketika masa sewa berakhir, dengan sendirinya objek sewa kembali kepada pemiliknya. 2) Analisis hukum islamnya, praktik sewa menyewa lahan berpohon jeruk di Dusun Mojoroto belum bisa dibenarkan kesesuaiannya dengan hukum Islam (mazhab syafi’i), karena objek dan kewajibannya tidak sesuai.

Perbedaan dari penelitian terdahulu tersebut terletak pada objek dan tata cara sewa menyewa yang terjadi. Di Dusun Mujoroto, objek sewa menyewa adalah lahan yang berpohon jeruk dan pihak penerima sewa tidak ikut campur dalam pengelolaan lahan yang disewakan. Sedangkan di Desa Sidomukti objek sewa menyewa adalah lahan yang belum ditanami dan penerima sewa juga ikut mengelola lahan yang disewakan.

B. Kajian Teori

1. Sewa Menyewa (Ijarah)

a. Pengertian Sewa Menyewa (Ijarah)

Sewa menyewa dalam bahasa arab disebut Ijarah berasal dari kata ََرَجَأ, yang bersinonim dengan kata يَرْكَأ yang artinya

“menyewakan” seperti dalam kalimat ئَّشلاَ َرَجَأ yang berarti

(25)

“menyewakan sesuatu”.13

Sedangkan menurut beberapa ahli fikih dan juga ulama’ fikih sewa-menyewa (Ijarah) adalah sebagai berikut:

b. Menurut ulama’ Syafi’iyah, sewa (Ijarah) adalah akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu.14 1) Al-Jazairi mengatakan, sewa (Ijarah) dalam akad terhadap manfaat

untuk masa tertentu dengan harga tertentu.

2) Menurut Sabiq, sewa adalah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan penggantian.

3) Ali Fikri mengartikan Ijarah sebagai sewa-menyewa atau jual beli manfaat.15

4) Sedangkan pendapat Zuhaily, transaksi sewa (Ijarah) identik dengan jual beli, tetapi dalam sewa (Ijarah) pemilikan dibatasi dengan waktu. Disamping itu beliau juga mengatakan bahwa sewa (Ijarah) adalah transaksi pemindahan hak guna atas barang atau jasa dalam batasan waktu tertentu melalui pembayaran upah sewa tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang. Selanjutnya beliau juga mengungkapkan pendapat mazhab Hanafiyah bahwa sewa (Ijarah) adalah transaksi atas manfaat atas adanya transaksi atas kompensasi tertentu. Mazhab Malikiyah mengatakan, sewa (Ijarah) adalah pemindahan pemilikan manfaat tertentu yang

13Muslich, Fiqh Muamalat, 315.

14Syafei, Fiqh Muamalah, 121-122.

15Muslich, Fiqh Muamalat, 316.

(26)

diperbolehkan dalam waktu tertentu dengan kompensasi tertentu.16 5) Disamping pendapat para ahli, fatwa Dewan Syariah Nasional

mendefinisikan sewa (Ijarah) adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melaui pembayaran sewa (upah), tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri.17

Dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahawa sewa (Ijarah) adalah transaksi atas manfaat suatu barang (bukan barang) dengan imbalan tertentu dan jangka waktu tertentu.18 c. Macam-macam Sewa Menyewa (Ijarah)

Dalam transaksi sewa (Ijarah) ada pembagian jenis atau macam, pembagian tersebut ada 2, yaitu :

1) Ijarah atas manfaat barang, yaitu transaksi sewa-menyewa yang objeknya adalah manfaat suatu barang bukan barang itu sendiri.

Misal; sewa rumah, sewa kendaraan, sewa toko, dan sebagainya.

2) Ijarah atas pekerjaan atau perbuatan seseorang untuk orang lain, transaksi adalah dimana seseorang bekerja atau melakukan pekerjaan untuk orang lain dengan imbalan tertentu.19 Contoh misal:

membayar tukang jahit untuk membuatkan baju, membayar tukang kayu untuk membuatkan almari dan lain sebagainya.

16Nawawi, Fikih Muamalah, 185.

17Karim, Bank Islam, 138; Himpunan Undang-Undang, 157.

18Muslich, Fiqh Muamalat, 317.

19Ibid., 329.

(27)

d. Dasar Hukum Sewa Menyewa (Ijarah)

Transaksi sewa-menyewa (Ijarah) merupakan akad yang diperbolehkan oleh syara’ dan telah disepakati oleh para ahli fikih, kecuali beberapa ulama’ seperti Abu Bakar Al-Asham, Isma’il bin

‘Aliyah, Hasan Al-Bashri, Al-Qasyani, Nahrawani, dan Ibnu Kisan.20 Mereka melarang sewa-menyewa (Ijarah) karena dalam transaksi tukar menukar harus terjadi penyerahan harga dan juga barang, sedangkan sewa-menyewa (Ijarah) manfaat yang menjadi objek tidak ada saat terjadi akad. Karena hal tersebut, mereka beranggapan bahwa sewa- menyewa (Ijarah) adalah tindak penipuan, karena manfaat tidak dapat diserahterimakan saat akad.21

Para ulama’ yang memperbolehkan transaksi sewa (Ijarah) berlandaskan pada firman Allah SWT dan hadits Rasulullah saw., sebagai berikut:











































































































20Ibid., 318; Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, Jilid 4, cet. I, terj. Imam Ghozali Said et. al.

(Jakarta: Pustaka Amani, 1995), 219.

21Ibid., 219.

(28)

























Artinya : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya.

dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 233).22



















































Artinya :“Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu". (QS. Al-Kahfi: 77).23











































22Himpunan Undang-Undang, 157-158; Al Quran, 38.

23Nawawi, Fikih Muamalah, 185; Al Quran, 303.

(29)









































Artinya : (26) “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (27) “Berkatalah Dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku Termasuk orang- orang yang baik". (QS.

Al-Qashash: 26-27).24



































































Artinya :“Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, Maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan Maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya”.

(QS. Ath-Thalaq: 6).25

24Ibid., 186; Himpunan Undang-Undang, 158; Syafei, Fiqh Muamalah, 124; Ibid., 389.

25Ibid., 186; 123; 560.

(30)

َ.ُهُقَرَعَ َّفِجَيَ ْنَاَ َلْبَقَُهَرْجَاَ َرْيِجَ ْلْاَاوُطْعُا

َنباَنعَهجامَنباَهاور )

رمع (

Artinya :“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering”.

(HR. Ibnu Majah dari Ibnu Umar).26

.ُهَر ْجَاَُهْمِلْعُيْلَفَاًرْيِجَاََرَجْأَتْساَِنَم

ةريرهَيباَنعَقازرلاَدبعَهاور )

(

Artinya :“Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya”. (HR. Abdul Razaq dari Abu Hurairah).27

َ,اَهْنِمَِءاَمْلاِبََدِعَسَاَمَوَِعْرَّزلاَ َنِمَْيِقاَوَّسلاَىَلَعَاَمِبَ َضْرَ ْلْاَيِرْكُنَاَّنُك

َاَهَيِرْكُنَ ْنَأَاَنَرَمَأَوََكِلَذَ ْنَعََمَّلَسَوَِهِلآَوَِهْيَلَعَُاللهَىَّلَصَِاللهَُلْوُسَرَاَناَهَنَف .ٍةَّضِفَ ْوَأٍَبَهَذِب

َArtinya :“Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya; maka, Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak”. (HR. Abu Daud dari Sa’d Ibn Abi Waqqash).28

Rasulullah SAW bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman,

‘Tiga orang dimana Aku menjadi musuh mereka pada hari kiamat, orang yang member dengan-Ku kemudian mengkhianati, orang yang menjual orang yang merdeka kemudian memakan hasil penjualannya, dan orang yang menyewa pekerja kemudian pekerja bekerja baik untuknya namun ia tidak memberi upahnya’”. (HR. Bukhori)29

َِلْيِّدلاَ ْىِنَبَ ْنِمًَلاُجَرٍَرْكَبَ ْوُبَأَوََمَّلَسَوَِهْيَلَعَُاللهَىَّلَصَِاللهَُلْوُسَرََرَجْاَتْسِا

َُهَوَاًنْيِزَحاًيِداَه

ََراَغَُهاَدَعَوَوَاَمِهْيَتَلِحاَرَِهْيَلِااعَفَدَفٍَشْيَرُقٍراَّفُكَِنْيِدَىَلَعََو

.اَمُهْيَتَلِحاَرِبٍَلاَيَلَِث َلاَثََدْعَبٍَرْوَث

Artinya :‘’Rasulullah SAW dan Abu Bakar menyewa seorang penunjuk jalan yang ahli dari bani al-Dil, sedang orang tersebut memeluk agama orang-orang kafir Quraisy.

Kemudian Rasulullah SAW dan Abu Bakar memberikan kendaraan keduanya kepada orang tersebut dan

26Imam Taqiyuddin Abubakar Bin Muhammad Alhusaini, Kifayatul Akhyar (Kelengkapan Orang Saleh), cet. 2, terj. Syarifuddin Anwar et. al. (Surabaya: Bina Iman, 1995), 695.

27Syafei, Fiqh Muamalah, 124.

28Ibid., 158.

29Nawawi, Fikih Muamalah, 186.

(31)

menjanjikannya di Gua Tsur sesudah tiga malam dengan kendaraan keduanya’’.30

.ُهَر ْجَاََماَّجَحْلاَىَطْعَاَوََمَجَتْحآََمَّلَسَوَِهْيَلَعَُاللهَىَّلَصَهنا

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW telah pernah berbekam kepada seseorang dan beliau memberi upah tukang bekam itu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).31 َ e. Rukun dan Syarat Sewa Menyewa (Ijarah)

1) Rukun Sewa Menyewa (Ijarah)

Menurut ulama Hanafiah, rukun al-Ijarah itu hanya satu, yaitu ijab (ungkapan menyewakan) dan qabul (persetujuan terhadap sewa menyewa).

Namun, menurut jumhur ulama bahwasannya rukun al- Ijarah itu ada empat, yaitu:

a) Orang yang berakad (‘Aqid), b) Ujrah atau imbalan,

c) Manfaat,

d) Shigat (ijab dan qabul).32

2) Syarat Syarat Sewa Menyewa (Ijarah)

Syarat dalam akad sewa (Ijarah) terdiri dari, syarat orang yang mengakadkan (aqid), syarat objek akad (ma’qud ‘alaih), syarat biaya sewa (ujrah), syarat masa sewa atau jangka waktu sewa.

Penjelasan syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut :

30Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 218; Muslich, Fiqh Muamalat, 319.

31Sulaiman Rasjid, Fiqh Islam, Cet. 19 (Jakarta: Kurnia Esa, 1984), 312; Muslich, Fiqh Muamalat, 319-320.

32Muslich, Fiqh Muamalat, 321;Nawawi, Fikih Muamalah, 189; Syafei, Fiqh Muamalah, 125.

(32)

a) Syarat orang yang mengakadkan (aqid)

Orang yang melakukan akad sewa (ijarah) harus memenuhi beberapa syarat berikut:

(1) Berakal, mumayyiz, dan baligh. Syarat-syarat tersebut sebagaimana syarat dalam jual beli, akan tetapi dikalangan ulama’ madzab ada beberapa perbedaan. Menurut ulama’

Hanafiah tidak harus baligh, tetapi cukup berakal dan mumayyiz, sedangkan ulama’ Syafi’iyah dan ulama’

Hanabilah harus baligh. Ulama’ Malikiyah berpendapat bahwa anak yang mumayyiz dapat melakukan akad sewa dan absah, akan tetapi harus ada izin dari walinya.

(2) Antara kedua pihak baik penyewa atau yang menyewakan harus ada kerelaan. Sehingga tidak ada unsur keterpaksaan atau bahkan adanya tekanan, karena hal itu dapat membuat batalnya akad.33

(3) Tidak ada udzur, baik pada penyewa maupun yang menyewakan.

(4) Rusyd, adalah orang yang mempunyai kredibilitas terkait urusan agama dan pengelolaan harta, sehingga orang tersebut tidak melanggar aturan syara dan mempergunakan hartanya pada perkara yang dilarang agama.34

33Ibid., 322; Rasjid, Fiqh Islam, 312; Ibid., 126; Nor, dkk., Ekonomi Syariah, 121.

34Ibid., 121.

(33)

b) Syarat objek akad (ma’qud ‘alaih)

Berkaitan dengan objek akad, ada beberapa rincian yang perlu ditelaah dan dicermati, yaitu :

(1) Objek akad harus dalam kepemilikan sendiri. Apabila objek tidak dalam hak kepemilikan maka akadnya batal atau tidak sah menurut ulama’ Syafi’iyah dan ulama’ Hanabilah.

Menurut ulama’ Hanafiah dan ulama’ Malikiyah akadnya ditanguhkan sampai ada persetujuan pemilik apabila akad dilakukan oleh orang yang diberi kuasa untuk melakukan akad (fudhuli).

(2) Objek akad harus jelas, yang dimaksud kejelasan objek ini terkait dengan jenis barang dan manfaat, atau pemanfaatan barang tersebut. Karena ketidak jelasan objek dikawatirkan akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari.

(3) Objek harus dapat dipenuhi, yaitu barang yang akan diambil manfaatnya dapat diserahterimakan saat akad.

(4) Objek akad harus yang diperbolehkan oleh syara. Tidak diperbolehkan menyewakan sesuatu untuk kemaksiatan.

(5) Objek akad harus sesuai dengan tujuan dilakukannya akad, biasanya yang berlaku secara umum.

(6) Barang yang diambil manfaatnya tidak dalam keadaan cacat.

Baik dalam masa akad maupun dalam perjalanan akad.

(7) Barang tidak mengalami udzur, karena apabila barang

(34)

mengalami udzur maka dapat merusak akad.

c) Syarat biaya sewa (ujrah)

(1) Biaya sewa (ujrah) harus diketahui, ujrah dalam biaya sewa merupakan harga dari manfaat, oleh karena itu harus diketahui sebagaimana harga suatu barang dalam jual beli.

(2) Biaya sewa (ujrah) tidak diperbolehkan barang yang sejenis dengan yang disewakan menurut ulama’ Hanafiah, sedangkan ulama’ Syafi’iyah tidak mensyaratkan hal tersebut.

d) Syarat masa sewa atau jangka waktu sewa

Masa sewa atau jangka waktunya harus diketahui dengan pasti. Jumhur ulama’ tidak menentukan batasan maksimal maupun minimal. Ulama’ Hanafiah tidak memberikan syarat tentang batasan waktu akad, sedangkan ulama’ Syafi’iyah mensyaratkan hal tersebut, karena ketidakjelasan masa sewa dapat menimbulkan perselisihan. Misalkan; seseorang menyewa kendaraan untuk berpergian sampai beberapa hari, akan tetapi dia tidak mengetahui masa sewanya. Kemudian dia membayar biaya sewanya berdasarkan jarak yang dia tempuh dan ternyata perhitungan sewa kendaraan tersebut menggunakan waktu atau hitungan hari. Hal tersebut pastinya menimbulkan perselisihan antara penyewa dan yang menyewakan, oleh karena itu masa

(35)

sewa harus diketahui dengan jelas sebagaimana biaya sewa.35 f. Sifat Akad Sewa-menyewa (Ijarah)

Sifat akad sewa (Ijarah) ini ada perbedaan dikalangan ulama’, menurut ulama’ Hanafiah akad ijarah ini mengikat kedua belah pihak, akan tetapi bisa dibatalkan secara sepihak apabila terdapat udzur, misalnya meninggal atau gila. Disisi lain jumhur berpendapat, bahwa akad ijarah mengikat kecuali barang itu ada cacat atau barang tidak dapat dimanfaatkan.

g. Batal atau Berakhirnya Akad Sewa Menyewa (Ijarah)

Mengenai berakhirnya masa sewa (Ijarah) ada beberapa sebab yang melatar belakanginya, yaitu sebagai berikut:36

1) Meninggalnya salah satu pihak yang berakad, akan tetapi ini menurut ulama’ Hanafiyah. Sedangkan menurut jumhur ulama’

meninggalnya salah satu pihak yang berakad tidak menyebabkan batal atau berakhirnya akad, karena sewa (Ijarah) adalah akad yang lazim sehingga dapat dilanjutkan oleh ahli waris.

2) Cacat atau rusaknya objek yang disewakan.

3) Adanya pembatalan perjanjian dari kedua belah pihak.

4) Berakhirnya masa sewa (Ijarah) atau sudah jatuh tempo.

35Syafei, Fiqh Muamalah, 127; Rasjid, Fiqh Islam, 313; Muslich, Fiqh Muamalat, 323.

36Ibid., 137; 314; 338.

(36)

2. Mudharabah a. Pengertian

Mudharabah berasal dari kata dharaba yang artinya memukul atau proses seseorang memukulkan kakinya dalam perjalanan usaha.

Berasal dari kata qardhu yang berarti sepotong karena pemilik modal mengambil sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan ia berhak mendapatkan sebagian dari keuntungannya.37

Mudharabah dalam prespektif fiqh merupakan kontrak yang melibatkan antara dua kelompok yaitu pemilik modal (investor) yang mempercayakan modalnya kepada pengelola (mudharib) untuk digunakan dalam aktifitas perdagangan. Sedangkan keuntungan dagang itu dibagi menurut kesepakatan bersama.38 Mudharib dalam hal ini memberikan kontribusi pekerjaan, waktu, dan mengelola usahanya sesuai dengan ketentuan yang dicapai dalam kontrak salah satunya untuk mencapai keuntungan (profit) yang dibagi antara pihak investor dan mudharib berdasarkan proporsi yang telah disetujui bersama.

Namun apabila terjadi kerugian yang menanggung adalah pihak investor saja.39

Al-Mudharabah adalah akad kerja sama antara dua pihak, dimana pihak pertama menyediakan seluruh modal dan pihak lain menjadi pengelola. Keuntungan dibagi menurut kesepakatan yang

37 Ahmad ifham Sholihin, Buku Pintar Ekonomi Syariah (Jakarta: Gramedia, 2010), 529.

38M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), 169.

39Abdullah Saeed, Bank Islam dan Bunga (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), 91.

(37)

dituangkan dalam kontrak. Apabila rugi, maka akan ditanggung pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat dari kelalaian si pengelola. Apabila kelalaian pengelola, maka si pengelolalah yang bertanggung jawab.40

b. Landasan Syariah

Secara umum, landasan dasar syariah al-Mudharabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadits berikut ini :

1) Al-Qur’an

….















…. 

Artinya : “...dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT...”

(QS. Al-Muzzammil:20)

Yang menjadi wujhud-dilalah ( هللادلاَهجو ) atau argumen dari surah al-Muzammil: 20 adalah adanya kata yadhribun yang sama dengan akar kata Mudharabah yang berarti melakukan suatu perjalan usaha.

2) Al-Hadits

َِهْيَلَعَ َّاللهَيَّلَصَِ هاللهَُلوُسَرََلَقََلَقَِهيِبأَ ْنَعٍَبْيَهُصَِنْبَِحِلَصَ ْنَعَ(

َُطَلا ْخَأَوَُةَضَراَقُمْلاَوٍَلَجَأَيَلِإَُعْيَبْلاَُةَكَرَبْلاَ َّنِهيِفَ ٌثلاَثََمَّلَسَو )َِعْيَبْلِلَلاَلِتْيَبْلِلَِريِعَشلاِبَّرُبْلا

Artinya : Dari Shalih bin Shuhaib r.a bahwa Rasulullah saw.

bersabda, “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh, muqaradhah (Mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual.” (HR Ibnu Majah no. 2280, kitab at-Tijarah)

40Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan ED. Rev. 2014 (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014), 249.

(38)

3) Ijma

Imam Zailai (Nasbu ar-Rayah IV:13) telah menyatakan bahwa para sahabat telah berkonsensus terhadap legitimasi pengolahan harta yatim secara Mudharabah. Kesepakatan para sahabat ini sejalan dengan spirit hadits yang dikutip Abu Ubaid (Kitab al-Amwal:454).41

c. Jenis Mudharabah

Secara garis besar, Mudharabah terbagi menjadi dua jenis yaitu:

1) Mudharabah Muthlaqah

Mudharabah Muthlaqah merupakan akad perjanjian antara dua pihak yaitu shahibul maal dan mudharib, yang mana shahibul maal menyerahkan sepenuhnya atas dana yang diinvestasikan kepada mudharib untuk mengelola usahanya sesuai dnegan pinsip syariah. Shahibul maal tidak memberikan batasan jenis usaha, waktu yang diperlukan, strategi pemasarannya, serta wilayah bisnis yang dilakukan. Shahibul maal memberikan kewenangan yang sangat besar kepada mudharib untuk menjalankan aktivitas usahanya, asalkan sesuai dengan prinsip syariah islam.

Bank syariah tidak mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya apabila terjadi kerugian atas pengelolaan dana yang bukan disebabkan kelalaian atau kesalahan bank sebgai

41Muhammad Syafi’i Antonio,Bank Syariah Dari Teori ke Praktek (Jakarta: Gema Insani, 2001), 95-96.

(39)

mudharib. Namun sebaliknya, dalam hal bank syariah (mudharib) melakukan kesalahan atau kelalaian dalam pengelolaan dana investor (shahibul maal), maka bank syariah wajib mengganti semua dana investasi Mudharabah Muthlaqah. Jenis investasi Mudharabah Muthlaqah biasanya ditawarkan dalam produk tabungan dan deposito.

2) Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah Muqayyadah merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak yang mana pihak pertama sebagai pemilik dana (shahibul maal) dan pihak kedua sebagai pengelola dana (mudharib). Shahibul maal menginvestasikan dananya kepada mudharib, dan memberi batasan atas penggunaan dana yang diinvestasikannya. Batasannya antara lain tentang :

a) Tempat dan cara berinvestasi.

b) Jenis investasi.

c) Objek investasi.

d) Jangka waktu.42 d. Rukun Mudharabah

Dalam konsep perjanjian Mudharabah dalam fiqh muamalah, ulama berbeda pendapat tentang rukun dari mudharbah tersebut, pada pandangan ulama Hanafiyah bahwa rukun perjanjian Mudharabah

42Ismail, Perbankan Syariah (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2011), 86-87.

(40)

tersebut hanya ijab dan qobul saja, sedangkan menurut Jumhur ulama berpendapat bahwa rukun Mudharabah itu adalah sebagai berikut:

1) Orang yang berjanji (berakad), yaitu shahibul maal (pemilik modal) dan mudharib (pengelola modal).

2) Modal (maal).

3) Sighat.43

Kontrak Mudharabah terjadi jika terpenuhi rukun kontrak sebagai berikut:

1) Shahibul maal (pemilik modal) 2) Mudharib (pelaksana/usahawan) 3) Modal (mal)

4) Kerja/usaha 5) Keuntungan 6) Ijab qabul.44 e. Syarat Mudharabah

Syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi dalam Mudharabah terdiri dari syarat modal dan syarat keuntungan.

1) Modal harus berupa uang;

2) Modal harus jelas dan diketahui jemlahnya;

3) Modal harus tunai bukan hutang;

4) Modal harus diserahkan kepada mitra kerja; dan

43 Muhammad Syafi’i Antonio, Bank syariah Wacana Ulama Dan Cendikiawan (Jakarta: tazkia Institute, 1999), 227.

44Muhammad, Manajemen Pembiayaan Mudharabah (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2018), 56.

(41)

5) Pembagian keuntungan harus jelas ukurannya, dan harus disepakati oleh kedua belah pihak.45

f. Hukum dan Kedudukan Mudharabah

Hukum Mudharabah berbeda-beda seiring dengan adanya perbedaan-perbedaan keadaan. Begitupun dengan kedudukan harta yang dijadikan modal dalam Mudharabah, juga tergantung pada keadaan.46

Karena pengelola modal perdagangan mengelola modal tersebut atas izin pemilik harta, maka pengelola modal merupakan wakil pemilik barang tersebut dalam pengelolaannya, dan kedudukan modal adalah sebagai wakalah ‘alaih (objek wakalah).47

Ditinjau dari segi akad, Mudharabah terdiri dari dua pihak.

Bila ada keuntungan dalam pengelolaan uang, laba itu dibagi dua dengan prosentase yang disepakati. Mudharabah juga sebagai syirkah, karena bersama-sama dalam keuntungan. Ditinjau dari segi keuntungan yang diterima dalam pengelola harta, pengelola mengambil upah sebgai bayaran dari tenaga yang dikeluarkan, sehingga Mudharabah dianggap sebgai ijarah (upah-mengupah atau sewa-menyewa). Apabila pengelola modal mengingkari ketentuan- ketentuan Mudharabah yang telah disepakati kedua belah pihak, maka telah terjadi kecacatan dalam Mudharabah. Kecacatan yangterjadi

45Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2008), 62-63.

46Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fikh Muamalah, cet,1 (Bogor: Ghia Indonesia, 2011), 200.

47Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah, Cet. 7 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), 141.

(42)

menyebabkan pengelolaan dan penguasaan harta tersebut dianggap ghasab.48

g. Berakhirnya Akad Mudharabah

1) Adanya pembatalan, larangan berusaha (Tasharruf) dan pemecatan.

2) Salah seorang meninggal dunia.

3) Salah seorang yang berakad dianggap gila.

4) Pemilik modal murtad.

5) Modal habis atau rusak, sebelum dikelola oleh pekerja.49

48Sohari Sahrani dan Ru’fah Abdullah, Fikh Muamalah, 200.

49Isnawati Rais dan Hasanudin, Fiqh Muamalah dan Aplikasinya pada LembagaKeuangan Syariah (Ciputat: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011).

(43)

Metode penelitian adalah suatu cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.50 Kemudian dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik atau metode penelitian yang meliputi:

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kasus (case study) atau penelitian lapangan. Penelitian kasus merupakan studi mendalam mengenai unit tertentu, yang hasil penelitian itu memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit tertentu.51

Pendekatan penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada metodologi yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan masalah manusia.52

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif peneliti ingin mengetahui langsung dari pelaku di tempat penelitian, yaitu menyajikan data, menganalisis dan menginterpretasikannya. Peneliti berupaya untuk menggambarkan dan menjelaskan sewa menyewa lahan dengan kerjasama dalam perspektif hukum ekonomi Islam di Desa Sidomukti Kecamatan

50 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, cet. 19 (Bandung: CV Alvabeta, 2013), 2.

51 Sudarwan Danim, Menjadi Peneliti Kualitatif (Bandung : Pustaka Setia, 2002), 54.

52 Julian Syah Noor, Metodologi Penelitian (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2011), 33- 34.

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi berjudul Hubungan Kepemimpinan Kepala Desa dengan Efektivitas Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan di Desa Tegal Rejo Kecamatan Mayang Kabupaten Jember telah

Pilar Hijau Madani menggunakan bentuk kontrak sewa ( lease contract ). Kontrak sewa adalah suatu bentuk kerjasama pemerintah Daerah dengan Swasta dimana swasta

Hasil penelitian ini menujukkan bahwa Implementasi sewa-menyewa peralatan olah raga di Stadion Utama Riau sudah berjalan dengan baik dimana didalam implementasinya

Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berupa transaksi bagi hasil, transaksi sewa-menyewa termasuk sewa menyewa jasa, transaksi jual beli,

Hasil penelitian yang sudah dilakukan dengan beberapa peternak kambing di Desa Sumberrejo alasan pengusaha memilih berternak kambing diantaranya adalah untuk meningkatkan

Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas dapat diuraikan bahwa a Al-Ijarah Al-Muntahiya Bit-Tamlik adalah perjanjian sewa- menyewa antara Leasing Astra Credit Companies Kota

Tujuan penelitian ini adalah 1 Mengetahui pengaruh luas lahan berpengaruh terhadap pendapatan petani Padi di Desa Grujugan Lor Kecamatan Jambesari Darus Sholah Kabupaten Bondowoso?. 2

Berdasarkan temuan hasil penelitian tentang maksimalisasi laba oleh UMKM Tape Mayang Madu Desa Tegalwaru Kecamatan Mayang Kabupaten Jember dalam sistem penjualannya menggunakan sistem