• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI - IAIN Repository - IAIN Metro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI - IAIN Repository - IAIN Metro"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Inti dari teori maqahid ash-syari'ah adalah makna dan tujuan yang dituntut oleh syari'ah dalam mengeluarkan suatu hukum untuk kemaslahatan umat manusia. Bertitik tolak dari sini, para ulama tertarik untuk mencari hikmah di sebalik ayat ini dengan pisau bedah maqashid syariah.

Pertanyaan Penelitian

Dari penjelasan di atas, artikel ini akan mendalami dan mengulas teks larangan pendekatan zina secara maqashid syari'ah. Hal ini akan menjadi bahan pertimbangan, acuan dasar untuk membangun kesadaran, meningkatkan pemikiran dan membuka pemahaman untuk menutup jalan yang menuju pada lembah hina perzinahan.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian Relevan

Penelitian Trisujatno lainnya berjudul Menikahi Wanita Hamil Karena Zina (Kajian Hukum Islam) 9 Dalam hal ini yang ditekankan adalah dampak zina terhadap pelaku zina yang sedang hamil.Dalam penelitian ini Trisujatno masih mengkaji dampak zina, apa dampaknya, hal ini berdampak pada aspek status perkawinan pezina menurut syariat Islam. 8 Siti Latifah, Tinjauan Hukum Islam tentang Wali Nikah Bagi Anak yang Lahir di Luar Nikah Menurut Ikhtisar Hukum Islam di Indonesia.

Metode Penelitian

  • Pembagian Maqāṣid raySī‟ah
  • Tujuan Maqāṣid raySī‟ah

Kajian literatur dalam penyelidikan ini digunakan untuk mengumpul dokumen atau buku yang berkaitan dengan ulasan makashid syariah ayat walaa taqrabuu al-zina. Berdasarkan uraian di atas, didapati dalam penelitian analisis data terdapat bahan-bahan di perpustakaan, baik hukum maupun kitab-kitab yang berkaitan dengan penyemakan maqsahid asyari'ah. Maqāṣid Syarī‟ah secara etimologi (bahasa) terdiri daripada dua perkataan iaitu maqasid dan sheri‟ah.

Manakala perkataan syariah secara bahasa perkataan syariah digunakan untuk sumber air yang dimaksudkan untuk diminum. Maqāṣid shari'ah ialah tujuan syariat dan rahsia syariat yang ditentukan oleh syariat (Allah) dalam undang-undang syariah. Kajian teori Maqāṣid ysa - raySī'ah dalam syariat Islam adalah sangat penting. Keadaan mendesak adalah berdasarkan pertimbangan berikut.

Kajian Maqāṣid ysa - raySī‟ah kemudiannya dikembangkan secara meluas dan sistematik oleh Abu Ishaq al-Syathibi. Menurut al-Syathibi, kajian Makāṣid ysa-raySī‟ah ini adalah berdasarkan anggapan bahawa semua syariat yang diturunkan oleh Allah sentiasa mengandungi manfaat untuk hamba-Nya pada masa sekarang (di dunia ini) dan pada masa yang sama masa untuk datang.marilah (ke akhirat). Sesungguhnya Tuhan (Pemberi Hukum, iaitu Allah) menetapkan hukum-hukum untuk kemaslahatan manusia untuk kehidupan sekarang (dunia) dan Akhirat pada masa yang sama antara keduanya.

31 Abu Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqad fi Ushulal-Syari'ah, (Beirut: Dar al-Kutubal-Ilmiyah, 2003), Jil. Dengan cara ini, ulama dapat memahami bahawa konsep Maqāṣid ‎ Syarī‟ah adalah berorientasikan kepada kemaslahatan manusia khususnya yang berkaitan dengan lima keperluan asas manusia.

Surat Al-Isra‘ Ayat 32

  • Kandungan Surat Al-Isra‟ Ayat 32
  • Pengertian Zina
  • Pandangan Ulama Terhadap Keharaman Zina

As-Sobuni berkata: “Para ulama berkata: “Firman Allah swt, (ىوَنلِّزلا ْاوُبوَرْقوَت وَ وَو)” Jangan mendekati zina. Ini lebih matang (lebih dalam) maknanya daripada perkataan )اْو ُّنوَزوَت وَ وَو( ―Jangan Sedangkan Allah menggunakan kalimat ( ىوَن لِّزلا ْاوُبوَرْقوَت وَ وَ و) 'Jangan berzina', itu semua sangat mendalam. mendekati zina, seperti Al-Lams, Al-Qublah, Al-nadzoroh dan lain-lain yang boleh membawa kepada zina.51.

Secara etimologis kata zina merupakan bentuk masdar dari kata Zanaa-Yaznii yang berarti menyakiti, sedangkan secara terminologi zina berarti persetubuhan antara laki-laki dan perempuan melalui vagina, bukan dalam rangka akad nikah. Zina juga dapat diartikan sebagai hubungan seksual antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang tidak atau belum terikat perkawinan tanpa ada keraguan dalam hubungan seksual tersebut dan tidak ada hubungan kepemilikan, seperti tuan dan pembantu perempuan. 54. Dalam pengertian zina ini, Ahmad Muhammad Assaf mengatakan bahwa segala bentuk hubungan seksual yang tidak berdasarkan syariat Islam dapat disebut zina yang telah ditetapkan hukumnya.

Perzinahan atau perzinahan menurut Pasal 284 KUHP adalah hubungan seksual atau persetubuhan di luar perkawinan, yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan keduanya atau salah seorang di antara mereka masih terikat perkawinan dengan orang lain.56. Berdasarkan definisi zina di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa hubungan seksual dapat disebut zina jika terdapat dua rukun, yaitu haramnya hubungan seksual tersebut dan dilakukan dengan sengaja dan dalam keadaan sadar. Hubungan seksual dilakukan dengan sengaja dan dalam keadaan sadar.Hubungan seksual yang dilarang adalah memasukkan penis meskipun hanya sebagian ke dalam vagina, tanpa memperhatikan apakah persetubuhan tersebut menghasilkan keluarnya sperma atau tidak. syubhat, ibarat perkawinan tanpa saksi atau wali, maka perempuan bukanlah hamba laki-laki yang menyetubuhinya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Maqāṣid Syarī‟ah Perlindungan Kehormatan

Kemudian orang Arab menggunakan perkataan Syariah untuk membawa maksud jalan yang lurus. Maqāṣid irays 'ha ialah makna-makna dan hukum-hukum yang diambil kira oleh Syarak dalam semua situasi syariah yang sah atau bahagiannya yang tidak dikhususkan untuk situasi sesuatu jenis hukum Syarak.‖. Berdasarkan huraian di atas, maqāṣid ysa - raySī'ah ialah niat Allah dan RasulNya dalam merumuskan syariat Islam. Tujuannya dapat dikesan dalam ayat-ayat al-Quran dan hadis sebagai alasan yang logik untuk perumusan hukum. bertujuan untuk kesejahteraan manusia.

Pengertian maqāṣid asy-Syarī'ah sebagaimana disebutkan di atas mendorong para ahli hukum Islam untuk mendefinisikan syariah dalam pengertian yang secara langsung menyatakan tujuan syariah secara umum. Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan sahnya hukum Islam tidak memberikan ketentuan umum terhadap setiap kemungkinan masalah yang diperkirakan. Al-Quran hanya menguraikan konsep-konsep global. Untuk selanjutnya dapat dikembangkan dan dibentuk sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan zaman melalui pertimbangan maslahah. Malik Ihn Anas bahkan diklaim sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan manfaat sebagai salah satu dalil hukum Islam.

Malah, untuk keperluan ini, syariah telah menunjukkan darjat maslahah dan mafsada kepada orang ramai, supaya mereka boleh menggunakannya sebagai panduan dan panduan dalam membuat skala keutamaan. Lima perkara ini adalah tujuan utama syari' (pembuat undang-undang/Allah SWT). Perintah larangan dan kebolehan melakukan sesuatu yang bersumberkan syariat sentiasa merujuk kepada usaha memastikan lima tujuan utama di atas terpelihara. 40. Syariat Islam menyatakan bahawa kadzaf ialah orang yang merendahkan kehormatan lelaki atau perempuan yang sudah berkahwin dengan menuduhnya berzina, tetapi tidak dapat memberikan bukti yang pasti terhadap apa yang diperkatakan atau dituduhnya.

Syariat Islam memberlakukan dua sanksi yang disiapkan bagi mereka: sanksi asli yang dibatasi waktu, yang diberikan untuk fisik, yaitu hukum cambuk sebanyak delapan puluh kali; hukuman abadi seumur hidup, bahkan menurut mazhab Hanafiyah, dapat membuat kesaksiannya tidak dapat diterima sepanjang hidupnya sampai dia bertaubat. Artinya: Dan orang-orang yang menuduh wanita baik-baik (berzina) dan mereka tidak menghadirkan empat orang saksi, maka mereka (yang menuduhnya) akan dipukuli delapan puluh kali dan kamu tidak akan menerima kesaksian mereka selamanya.

Maqāṣid Syarī‟ah Perlindungan Keturunan

Para ulama sepakat bahwa hukum Islam dibentuk untuk mewujudkan dan memelihara kemaslahatan manusia, baik secara individu maupun kolektif. Maslahah yang termasuk dalam kelompok pertama adalah lima tujuan agama (maqashid syari'ah), yaitu yang berkaitan dengan perlindungan agama, jiwa, akal, harta benda dan keturunan.71. Untuk menjaga garis keturunan, Islam mengharamkan segala bentuk perzinahan dan prostitusi serta sangat menganjurkan perkawinan untuk meneruskan keturunan manusia agar tidak punah dan mempunyai hubungan kekerabatan yang sah dan jelas.

Untuk melindungi keturunan atau nasab seseorang maka ajaran Islam mengatur perkawinan sebagai cara yang dianggap sah untuk melindungi dan menjaga kesucian nasab seseorang. Islam memandang kesucian keturunan seseorang sangatlah penting karena hukum Islam erat kaitannya dengan struktur keluarga, baik hukum perkawinan maupun warisan dengan berbagai turunannya, yang didalamnya termasuk hak-hak keperdataan dalam hukum Islam, baik dari segi hak keturunan. Selain tata cara perkawinan, zina mendekati juga dilarang dalam hukum Islam, karena zina berarti tidak terpeliharanya garis keturunan yang sah.

Untuk memelihara keturunan ini, perkahwinan disyariatkan sebagai cara yang sah untuk melindungi dan memelihara kesucian keturunan. Selanjutnya, Abu Hamid Al-Ghazali mencipta istilah hifz al-nasl (hifzun-nasli) sebagai Maqasid perundangan Islam pada tahap keperluan, yang kemudiannya diikuti oleh Al-Syatibi. Ini dijelaskan dalam monografnya "Usul Al-Nizam AlIjtima" i fi Al-Islam (Prinsip Sistem Sosial dalam Islam), yang berorientasikan kekeluargaan dan nilai-nilai moral dalam syariat Islam.

Kemaslahatan sebagai tujuan Maqāṣid Syarī‟ah terhadap

Relevansi maqashid syari'ah dalam konteks Walaa Taqrabuu Az-Zinaa didukung oleh kaidah Saddudz Dzari'ah yang artinya segala jalan menuju kehancuran dihambat atau dihalangi. Sebagian besar ulama sepakat akan pelarangan bentuk-bentuk perbuatan yang pada hakikatnya korup dan haram, karena pada dasarnya perbuatan-perbuatan tersebut tidak termasuk dalam ranah sadd al-dzarî‘ah. Perbuatan seperti ini diharamkan oleh para ulama, karena duka al-dzarî‘ah memerlukan kehati-hatian semaksimal mungkin agar tidak menimbulkan kerugian.

Tujuan dari Saddudz Dzari'ah adalah untuk memperlancar perolehan manfaat atau mencegah kemungkinan terjadinya kerugian atau menghindari kemungkinan terjadinya perbuatan maksiat. Dari tujuan tersebut dapat ditemukan benang merah dengan konsep Maqashid Syari'ah dan Maslahah yang dikemukakan oleh Al-Ghazali. Ada lima tujuan hukum Islam atau maqashid syari'ah yang ingin dicapai makhluk, yaitu: pemeliharaan agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda.

Berdasarkan penjelasan di atas nampaknya al-Jari'ah lebih berorientasi pada upaya preventif terhadap kemungkinan terjadinya mafsada dan berusaha semaksimal mungkin untuk menarik mashlahah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa al-Jari'ah erat kaitannya dengan teori Makashid al-Syari'ah. Dari ayat tersebut melalui tinjauan terhadap syariat Makashi dapat diambil dua makna, yaitu segala bentuk perilaku yang pada akhirnya dapat mengarah pada zina, maka perilaku tersebut juga haram.

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa walaa Taqrabuu” artinya perintah menjauhi zina, dan kata “jangan mendekat” lebih jelas mengandung makna bahwa zina haram untuk didekati, apalagi dilakukan. Kesimpulannya diambil dari kaidah “jika sesuatu menghasilkan sesuatu yang haram, maka sesuatu itu haram”.

Saran

Konsep Maqashid Al-Shariah Untuk Menentukan Perspektif Hukum Islam Al-Syatibi dan Jasser Auda Al-Iqtishadiyah. Maqhosid ash-Shari'ah inda Imam al-Haramain wa Atsaruha fi at-Tasorrufat al-Maliyyah.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai pendayagunaan infak atas santri dalam perspektif ekonomi Islam di pondok pesantren Darul A’mal 16 B Kota Metro