• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI - IAIN Repository

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI - IAIN Repository"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Ke-18 kader tersebut merupakan kader UKM Filantropi KSEI yang dilakukan dan didata oleh bagian kader angkatan 2016 dan 2016. Pada angkatan 2013, jumlah anggota Filantropi KSEI yang terdaftar dan masih aktif sebanyak 5 laki-laki dan 5 perempuan. Unit Kegiatan Mahasiswa Filantropi KSEI merupakan organisasi intra kampus yang fokus di bidang ekonomi; baik ekonomi konvensional maupun ekonomi Islam.

Salah satu materi yang disampaikan dalam Small Group Discussion (SGD) adalah tentang kewirausahaan, anggota Filantropi KSEI diarahkan untuk memahami konsep kewirausahaan dan langsung menerapkannya. UKM Filantropi KSEI melakukan kegiatan wirausaha, meskipun terbatas pada berdagang atau memberikan jasa selama Wisuda IAIN Metro, Ramadhan dan waktu lainnya. Sederhananya, anggota Filantropi KSEI telah mengimplementasikan kegiatan kewirausahaan sosial di dalam organisasinya, meskipun materinya belum dimasukkan ke dalam program kerja, kajian dan forum diskusi.

Dari tingkat pemahaman tersebut, peneliti ingin mengetahui tingkat pemahaman anggota Filantropi KSEI tentang konsep kewirausahaan sosial atau yang biasa disebut social entrepreneurship. Hal ini menarik untuk dikaji karena Filantropi KSEI merupakan unit kegiatan mahasiswa yang memiliki visi untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sosial dalam organisasinya.

Pertanyaan Penelitian

Dalam proses pembelajaran, setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda untuk memahami apa yang dipelajarinya. Ada yang mampu memahami materi secara utuh, ada pula yang sama sekali tidak mampu memahami apa yang dipelajarinya, sehingga apa yang dicapai hanya sebatas mengetahui.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Dalam pelaksanaannya diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya tentang kewirausahaan sosial, mendorong UKM Filantropi KSEI IAIN Metro untuk mengembangkan kewirausahaan sosial.

Penelitian Relevan

Dalam penelitian ini, Sarah dan peneliti lainnya ingin mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan seseorang terhadap keberhasilan berwirausaha sosial. Sedangkan penelitian yang akan diteliti menganalisis pemahaman mahasiswa terhadap konsep kewirausahaan sosial dan mengidentifikasi praktik kewirausahaan di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Filantropi KSEI.

LANDASAN TEORI

Pemahaman

  • Pengertian Pemahaman
  • Tingkatan dalam Pemahaman

Bloom mengatakan bahwa pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk memahami atau memahami sesuatu setelah sesuatu diketahui dan diingat. Jadi dikatakan seseorang memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberikan gambaran yang lebih rinci tentang apa yang ia pelajari dengan bahasanya sendiri. Lebih baik lagi jika seseorang dapat memberikan contoh atau menggabungkan apa yang dipelajarinya dengan masalah yang ada disekitarnya.

Menurut Berns & Erickson, hal ini mengungkapkan bahwa, dalam domain pembelajaran, pemahaman merupakan prasyarat mutlak untuk tingkat kemampuan kognitif, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi yang lebih tinggi. Krathwohl membagi proses kognitif menjadi tujuh kategori pemahaman, meliputi: menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan. Konsep penerjemahan dapat diartikan sebagai pemindahan makna dari satu bahasa ke bahasa lain.

Ekstrapolasi membutuhkan kapasitas intelektual yang lebih tinggi karena seseorang harus mampu melihat sesuatu dibalik apa yang tertulis. Pembelajaran sebagai salah satu upaya menjadikan pembelajaran secara wajar memerlukan kegiatan evaluasi.

Tabel 2.1. Dimensi Proses Kognitif Menurut Anderson & Krathwohl
Tabel 2.1. Dimensi Proses Kognitif Menurut Anderson & Krathwohl

Social Entrepreneurship

  • Pengertian Social Enterpreneurship
  • Sejarah Social Enterpreneurship
  • Perkembangan Social Entrepreneurship di Indonesia
  • Karakteristik Social Enterpreneurship
  • Model Social Enterpreneurship
  • Aspek yang Membangun Kewirausahaan Sosial

19 Palesangi, Muliadi, “Indonesian Youth and Social Entrepreneurship”, Prosiding Seminar Nasional Keunggulan Kompetitif, Universitas Pesantren Darul Ulum, 2012. Dalam RUU Kewirausahaan Nasional diharapkan jiwa wirausaha yang memiliki misi kesejahteraan sosial akan mendapatkan bagian pembahasan tersendiri sehingga posisi kewirausahaan sosial menjadi jelas. Bentuk dukungan dan perlindungan yang dituangkan dalam RUU tersebut bisa lebih spesifik, dan sesuai dengan karakteristik kewirausahaan sosial yang memang unik dibandingkan dengan kewirausahaan pada umumnya.

21 Irma Paramita Sofia, Konstruksi Model Kewirausahaan Sosial Sebagai Ide Inovasi Sosial untuk Pembangunan Ekonomi, dalam Jurnal Universitas Pembangunan Jaya, Volume 2, Maret 2015. Peraturan lain yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perkembangan kewirausahaan sosial di Indonesia adalah Undangan Undang-Undang no. . Contoh kewirausahaan sosial bagi kelompok sasaran adalah: memberikan jasa konsultasi, pelatihan, menjual produk, menawarkan jasa wisata dan menyewakan bangunan dan peralatan kerja dari lembaga kewirausahaan sosial bagi kelompok sasaran.

Organisasi merupakan wadah bagi gerakan kewirausahaan sosial dan pengikat bagi pihak-pihak yang terlibat dalam upaya mengembangkan dan menjadikan praktik kewirausahaan sosial berkelanjutan. Oleh karena itu, misi menjadi sangat penting bagi sebuah organisasi, termasuk bagi mereka yang berkecimpung dalam kewirausahaan sosial.

Mahasiswa Pecinta Ekonomi Islam

  • FoSSEI
  • Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI)

Menjadi pelopor dan himpunan mahasiswa di bidang ekonomi Islam terbesar di Indonesia bahkan di dunia, FoSSEI telah banyak berbuat dalam memantapkan ajaran Islam di bidang ekonomi, baik secara akademis maupun praktis. Di usianya yang ke-17 tahun ini, FoSSEI kini menghimpun 14 Regional di Indonesia yang meliputi 157 KSEI yang tersebar dari timur hingga barat Indonesia. Ada sekitar 7.000 kader FoSSEI yang kini aktif sebagai SDM yang siap mengilhami industri, pemerintah, dan filantropi dengan ekonomi Islam.

FoSSEI sebagai organisasi yang berfokus pada pengembangan ekonomi syariah di Indonesia telah mampu menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang distribusinya bervariasi, seperti perusahaan swasta, lembaga keuangan pemerintah dan masih banyak lagi. Agenda nasional ini merupakan ajang silahturahmi dan konsolidasi kader ekonomi syariah di seluruh Indonesia untuk memperkuat semangat dan orientasi dalam melakukan penelitian, pendalaman dan penyebaran ekonomi syariah ke seluruh pelosok. Anggota FoSSEI terdiri dari Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) yang tersebar di hampir seluruh kampus di Indonesia.

Kader FoSSEI adalah orang-orang yang tergabung dalam Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI), yang telah mengikuti jalur kader FoSSEI di tingkat KSEI, Komsat dan/atau daerah.

METODOLOGI PENELITIAN

  • Jenis dan sifat Penelitian
  • Sumber Data
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Teknik Analisis Data

Berikut nama Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa FoSSEI hingga menjadi Unit Kegiatan Mahasiswa Filantropi KSEI. Menurut berbagai sumber, UKM Filantropi KSEI sangat cocok untuk mengembangkan program kewirausahaan sosial karena bisa memberikan. Kader UKM Filantropi KSEI melakukan kegiatan bisnis dan sosial secara terpisah, meski belum maksimal.

Sedangkan dari segi peluang dan organisasi, UKM Filantropi KSEI memenuhi persyaratan untuk mengembangkan kegiatan kewirausahaan sosial. PEMAHAMAN SISWA TERHADAP KONSEP KEWIRAUSAHAAN SOSIAL (Studi di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Filantropi KSEI IAIN Metro).

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

UKM KSEI Filantropi

  • Sejarah UKM KSEI Filantropi
  • Filosofi nama “Filantropi” pada UKM KSEI Filantropi
  • Visi dan Misi UKM KSEI Filantropi
  • Jumlah Anggota UKM KSEI Filantopi
  • Struktur Organisasi dan Program Kerja

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan analisis pemahaman konsep kewirausahaan sosial bagi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Filantropi KSEI IAIN Metro.

Pemahaman Konsep Social Enterpreneurship

PENUTUP

Kesimpulan

Dari uraian yang disampaikan pada bab sebelumnya, peneliti dapat menyimpulkan bahwa seluruh pembicara anggota UKM Filantropi KSEI mampu mengulang kembali konsep kewirausahaan sosial dan dapat memberikan contoh konsep kewirausahaan sosial. Artinya informan hanya memenuhi dua dari tujuh indikator pemahaman yang ditentukan oleh Kilpatrick dan Findel yaitu kemampuan mengulang konsep yang telah dipelajari, kemampuan mengklarifikasi objek berdasarkan terpenuhi atau tidaknya persyaratan konsep. terpenuhi, kemampuan menerapkan konsep secara algoritmik, kemampuan memberi contoh dari konsep yang dipelajari, kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis, kemampuan menghubungkan konsep yang berbeda dan kemampuan mengembangkan syarat perlu dan cukup untuk sebuah konsep. Sedangkan berdasarkan tujuh kategori proses kognitif Anderson & Krathwohl, yaitu menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan, membandingkan dan menjelaskan. , narasumber juga tidak memenuhi ketujuh kategori proses kognitif untuk memahami konsep kewirausahaan sosial.

Hal ini terlihat dari sumber-sumber yang hanya dapat menjelaskan pengertian social entrepreneurship dan contohnya.

Saran

Gambar

Tabel 2.1. Dimensi Proses Kognitif Menurut Anderson & Krathwohl
Tabel 4.1 Nama Ketua Umum UKM KSEI Filantropi
Tabel 4.2 Data Jumlah Anggota UKM KSEI Filantropi 2016/2017
Tabel 4.5 Program Kerja Sekretaris Umum Umum UKM KSEI Filantopi

Referensi

Dokumen terkait

Nana Sudjana, “Dasar - dasar Proses Belajar Mengajar”, Bandung: Sinar Baru, dalam http://www.tuanguru.com./ Penerapan Metode Drill dalam pembelajaran diakses tanggal 17

Suhartono, Irawan., Metode Penelitian Sosial, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995. Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1998. Sudjana,

madrasah ini guru dalam memahamkan ilmu tajwid siswa dengan cara. membimbing di luar jam pembelajaran, yang berarti

Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca

Tipe hasil belajar yang lebih tinggi dari pada pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sediri sesuai yang dibaca atau didengarnya,

stres pada warga binaan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Blitar. 12 Nana Awal Kusuma Sudjana, Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi .(Bandung:

Kebanyakan kan investor itu Cuma mengenal kulit luarnya saja dan kurang memahami bagian dalamya dari pasar modal syariah.95 Sedangkan dari hasil wawacara kepada investor syariah BEI

Sedangkan pengertian Metode Demonstrasi menurut Sudjana adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung