PEMBELAJARAN DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN AL QURAN HADITS SISWA KELAS VIII B MTS NEGERI 1 LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2016/2017. Judul Skripsi: PENERAPAN MODEL MASTERY LEARNING DAPAT MENINGKATKAN HASIL BELAJAR HADITS AL QURAN SISWA KELAS VIII B MTS NEGERI 1 LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2016/2017. Apakah penerapan model pembelajaran Mastery learning dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Hadis Al-Quran Kelas VIII B MTs Negeri 1 Lampung Timur Tahun Pelajaran?
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Salah satunya adalah mata pelajaran Hadits Al-Qur'an di MTs Negeri 1 Lampung Timur yang merupakan salah satu mata pelajaran yang mempelajari cara membaca Al-Qur'an. Berdasarkan hasil identifikasi masalah, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran ketuntasan pada mata pelajaran hadits Al-Quran di MTs Negeri 1 Lampung Timur. Data Hasil Ulangan Harian Al Quran Hadits Siswa Kelas VIII B MTs Negeri 1 Lampung Timur Tahun Pelajaran 2016/20175.
Identifikasi Masalah
MTs Negeri 1 Lampung Timur banyak yang belum mencapai ketuntasan dalam pembelajaran hadits Al-Qur'an, untuk itu diperlukan peningkatan hasil belajar hadits Al-Qur'an. Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan mengangkat judul peningkatan hasil belajar pada topik hadits Al-Quran melalui penerapan model pembelajaran mastery learning pada siswa kelas VIII B MTS Negeri 1 Lampung Timur. pada Tahun Pelajaran 2016/2017. Model pembelajaran yang digunakan guru pada mata pelajaran hadits Al-Qur'an masih bersifat konvensional yaitu metode pengajaran.
Batasan Masalah
Siswa sulit memahami materi yang diberikan guru karena guru tidak memberikan model pembelajaran yang mengaktifkan siswa dalam belajar. Rendahnya aktivitas belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran pendidikan Al Quran dan Hadits, karena pada saat guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, siswa hanya diam dan tidak bisa menjawab.
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Penelitian Relevan
Siswa dengan jumlah 20 siswa telah belajar dan mendapat pembelajaran baru, sehingga minat dan prestasi belajar siswa meningkat dibandingkan sebelumnya. Pembelajaran dengan menggunakan model mastery learning dapat dijadikan alternatif lain untuk mengatasi permasalahan dalam proses pembelajaran maupun setelah pembelajaran. 7 Yuli Astuti, “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw Untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV IPS SD Negeri 1 Pujo Kerto Skripsi Tahun Pelajaran, STAIN Metro, 2012).
Hasil Belajar Qur’an Hadist
- Pengertian Hasil Belajar Qur’an Hadist
- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
- Pengukuran Hasil Belajar Qur’an Hadist
- Pengertian Qur’an Hadits
- Indikator Pencapaian Hasil Belajar Qur’an Hadist
Berdasarkan pandangan di atas, dapat dipahami bahwa hasil belajar al-qur an hadits merupakan hasil dari proses pembelajaran materi al-qur an hadits yang dilakukan oleh siswa dalam proses pembelajaran. Siswa dapat menjelaskan, mengidentifikasi dan melafalkan hukum bacaan mad iwadl, mad badal dan mad tamkin dalam Al Quran. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa indikator hasil belajar al-qur an hadits adalah semua yang dimiliki siswa sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Model Pembelajaran Mastery Learning
- Pengertian Pembelajaran Mastery Learning
- Prinsip Pembelajaran Mastery Learning (Belajar Tuntas)
- Langkah-langkah Pembelajaran Mastery Learning
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian unit pembelajaran, siswa mengikuti tes yang mencakup seluruh rangkaian atau rangkaian unit pembelajaran. Proses yang sama diikuti ketika mengajarkan unit pembelajaran lainnya sampai seluruh unit selesai. Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian satuan pembelajaran, siswa mengikuti tes yang meliputi seluruh rangkaian/rangkaian satuan pembelajaran.
Hipotesis Tindakan
Setting Penelitian
Subjek Penelitian
Prosedur Penelitian
- Dokumentasi
- Interview (Wawancara)
Data yang dikumpulkan dalam observasi harus dianalisis sesegera mungkin sehingga tindakan segera dapat diambil untuk mencapai tujuan. Dan pada dasarnya pelaksanaan siklus II adalah untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi pada siklus I. Metode wawancara juga merupakan dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari hasil wawancara.
Instrumen Penelitian
- Lembar Observasi
Wawancara adalah pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga makna dapat dikonstruksi dalam suatu topik tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut, metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan langsung dan dijawab langsung berdasarkan tujuan penelitian.
Teknik Analisis Data
Indikator Keberhasilan
Data Hasil Penelitian
- Diskripsi Lokasi Penelitian
- Diskripsi Data Hasil Penelitian
- Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Tipe Mastery Learning (a) Perencanaan
- Pelaksanaan Tindakan
- Pertemuan Pertama a) Perencanaan
- Pertemuan Kedua
Untuk mengubah PGA Negeri 6 tahun menjadi PGA Negeri 3 tahun harus memiliki Madrasah Tsanawiyah Negeri. Untuk wilayah tingkat II Kabupaten Lampung Tengah hanya terdapat satu Madrasah Tsanawiyah Negeri dan terletak di kawasan Poncowati yang seharusnya berada di metro. Semula Madrasah Tsanawiyah Negeri Metro Batanghari berstatus Swasta dan tergabung dalam Madrasah Aliyah Metro Filial yang dipimpin oleh Bpk. M.
Akhirnya Madrasah Tsanawiyah Metro pada tahun 1979 Madrasah Tsanawiyah Negeri Poncowati mengusulkan agar dapat dijadikan Madrasah Tsanawiyah Poncowati dari kelas jauh yang berlokasi di Metro dengan dipimpin oleh Bpk. Syaiful Parjono, BA. Kemudian diberi nama Madrasah Tsanawiyah Negeri Filial Metro, tepatnya pada tahun 1979 oleh Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri Poncowati diusulkan ke Departemen Agama Pusat melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung. Dengan keluarnya SK dari Pusat, Madrasah Tsanawiyah Negeri Metro Filial tidak lagi bergabung dengan Madrasah Tsanawiyah Negeri Poncowati.
Guru memaparkan materi pada sejumlah satuan pelajaran yang disusun, yang masing-masing dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua minggu. Ketika semua siswa telah mencapai tingkat penguasaan dalam satuan pelajaran, guru mulai mengajar satuan pelajaran berikutnya. Guru memaparkan materi pada sejumlah satuan pelajaran yang disusun, yang masing-masing dapat diselesaikan dalam waktu kurang lebih dua minggu.
Setelah semua siswa mencapai tingkat penguasaan pada satu unit pembelajaran, barulah guru mulai mengajarkan unit pembelajaran berikutnya.
Pada kasus keenam indikator asosiasi (keterkaitan dengan materi lain, pembuatan rumus) diperoleh pada pertemuan pertama. 48%), dan pada pertemuan kedua meningkat. Secara umum dari sembilan indikator hasil aktivitas siswa dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pada Tingkat I tidak berjalan dengan baik karena meningkat dan tidak mencapai tujuan yang telah ditetapkan, persentase peningkatannya hanya 51,91% sampai dengan 57,14%. . Penilaian hasil belajar siswa didasarkan pada kemampuan siswa di atas KKM (Kriteria Kesempurnaan Minimal) ≥ 70 yaitu.
Nilai
Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti berencana menggunakan metode Mastery Learning dalam proses pengajaran dan dilakukan dalam 2 sesi masing-masing 2 x 40 menit. Apersepsi, guru mengingat kembali materi pada pertemuan sebelumnya. sebelum guru melanjutkan materi selanjutnya, guru mengulang materi sebelumnya dengan pertanyaan selama 5 menit agar siswa mengingat materi yang dipelajari pada pertemuan yang lalu. Memberikan tes kepada siswa pada setiap akhir unit pembelajaran untuk mengecek kemajuan setiap siswa dalam mengolah materi pembelajaran.
Pada tahap ini dilakukan observasi langsung dengan menggunakan format observasi yang telah disiapkan dan evaluasi hasil tindakan dengan menggunakan format evaluasi yang ada. Evaluasi yang diberikan cocok untuk menguji penguasaan siswa terhadap topik yang telah dibahas. menarik kesimpulan dengan melibatkan siswa. Hal ini terlihat dari seluruh kegiatan pembelajaran telah terlaksana dengan baik pada pertemuan hasil kegiatan guru pada siklus II, pertemuan ketiga mencapai nilai 148 dengan persentase 82,22% dan pada pertemuan keempat nilai 166 dengan persentase. sebesar 92,22%, sehingga terjadi peningkatan sebesar 10%, nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat kinerja guru “baik” dalam proses pembelajaran Al-Qur’an Hadits melalui penerapan Metode Pembelajaran Penguasaan.
Aktivitas siswa pada materi pembelajaran siklus II diamati dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan oleh peneliti. Obyek observasi adalah aktivitas siswa yang dilakukan pada tahapan pembelajaran dengan metode pembelajaran Mastery. Observasi aktivitas belajar siswa dengan metode Mastery learning dilakukan bekerjasama dengan guru kelas VIII dengan menggunakan formulir observasi aktivitas siswa.
Data aktivitas belajar siswa setelah menggunakan metode pembelajaran Guru pada siklus II dapat dilihat pada lampiran.
- Pembahasan
Pada tabel dan grafik di atas terlihat indikator keaktifan siswa dengan ketuntasan belajar yaitu antusias belajar. Pada indikator keenam Kaitan (mengkaitkan dengan materi lain, membuat rumus) pada pertemuan ketiga mendapatkan poin. Secara umum dari ketujuh indikator hasil aktivitas siswa dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran pada siklus II berjalan dengan baik karena terjadi peningkatan aktivitas belajar dari 60,32% menjadi 69,05% sehingga terjadi peningkatan sebesar 7,38%.
Penilaian hasil belajar siswa didasarkan pada kemampuan siswa di atas KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) ≥ 70 yang mencapai 80%. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa setelah pelaksanaan pembelajaran selama siklus II dengan 2 pertemuan terjadi peningkatan hasil belajar, dimana pada pertemuan kedua rata-rata hasil belajar siswa adalah 71,57 dengan ketuntasan 80%, selanjutnya pada pertemuan ketiga rata-rata hasil belajar siswa naik menjadi rata-rata 75,42 dengan ketuntasan 85,71%, dan pada pertemuan keempat rata-rata hasil belajar siswa naik menjadi 78,28 dengan ketuntasan 88,57%. Refleksi ini dilakukan untuk meninjau secara menyeluruh tindakan yang dilakukan, berdasarkan data yang terkumpul pada siklus I, baik dari legger maupun postes, serta aktivitas belajar siswa.
Berdasarkan observasi terhadap penerapan pembelajaran dengan menggunakan Metode Mastery Learning pada pelajaran Hadits Al-Quran menunjukkan bahwa hipotesis penelitian yang berbunyi “Penerapan Model Pembelajaran Mastery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VIII MTs Negeri 1 Batanghari Tahun Pelajaran 2017/2018 diujikan. Berdasarkan analisis ketuntasan hasil belajar siswa pada siklus I pertemuan I diperoleh nilai rata-rata 68,14 dengan persentase 57,14%. identifikasi peningkatan hasil belajar, dapat dinyatakan bahwa penerapan Metode Mastery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dalam aspek kognitif dan psikomotor yang berkaitan dengan keterampilan berpikir dan keterampilan motorik yang terdiri dari beberapa komponen yaitu sub keterampilan atau keterampilan. bagian 1.
Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan Metode Mastery Learning dapat meningkatkan hasil belajar Al Quran Hadits Kelas VIII MTs Negeri 1 Batanghari.
PENUTUP
Kesimpulan
Saran
Memahami hubungan antara isi QS Al Quraish dan Al Insyiroh tentang ketentuan rizki. Memahami isi QS Al Kautsar dan Al Ma'un tentang kepedulian sosial. Kompetensi Dasar : Menerapkan hukum bacaan mal layyin, mad 'aridl lissukun dalam QS Al Kautsar dan Al Maun.
TUJUAN PEMBELAJARAN
MATERI PEMBELAJARAN
METODE PEMBELAJARAN
LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN
MEDIA/ SUMBER BELAJAR
PENILAIAN
Kompetensi Dasar : Menerapkan hukum bacaan gal iwadl, gal badal dan gal tamkin dalam Al-Qur'an. Guru menyampaikan kompetensi apa saja yang harus dimiliki siswa agar dapat mempelajari materi Undang-Undang Membaca gal iwadl, gal badal dan gal tamkin.
PENILAIAN 1 Indikator Pencapaian
Pembelajaran Melalui Pembelajaran Ketuntasan Nama Sekolah : MTs Negeri 1 Batanghari Lampung Timur Mata Pelajaran : Al-Qur'an Hadits.