• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI untuk contoh pembelajaran

N/A
N/A
Tin F

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI untuk contoh pembelajaran"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kemiskinan moneter di kota Yogyakarta sebesar 7,66%, sedangkan angka kemiskinan multidimensi sebesar 1,39%. Persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan permasalahan ekonomi, namun juga ke arah lain yang bersifat multidimensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kemiskinan moneter, kemiskinan multidimensi dan perbandingan antara kemiskinan moneter dan kemiskinan multidimensi di Yogyakarta.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kemiskinan moneter di Yogyakarta sebesar 7,66% sedangkan kemiskinan multidimensi sebesar 1,39%. Perbandingannya menunjukkan bahwa tren kemiskinan moneter semakin menurun, sedangkan kemiskinan multidimensi mengalami fluktuasi. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Tugas Akhir Skripsi guna memenuhi prasyarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan dengan judul “Analisis Kemiskinan Multidimensi di Kota Yogyakarta” bukan di semua.

Latar Belakang Masalah

Data pemerintah kota Yogyakarta dan kajian Pusat Kajian Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan masih banyak terdapat permukiman kumuh di kota Yogyakarta. Angka ini meningkat dibandingkan tahun 2012 yang terdapat 89,88 ha (2,77%) permukiman kumuh di Kota Yogyakarta. Misalnya, luas kawasan kumuh di Kota Yogyakarta meningkat dua kali lipat selama periode tersebut.

Dari pemaparan Setianingrum di atas diketahui bahwa permasalahan kemiskinan di Kota Yogyakarta tidak hanya berkaitan dengan permasalahan perekonomian saja. Penghitungan kemiskinan dengan menggunakan Indeks Kemiskinan Multidimensi (MPI) dinilai cocok diterapkan di Kota Yogyakarta karena metode penghitungan ini lebih komprehensif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan mengambil judul “Analisis Kemiskinan Multidimensi di Kota Yogyakarta”.

Identifikasi Masalah

Kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan persoalan ekonomi, namun juga berkaitan dengan aspek pendidikan, kesehatan, dan taraf hidup. Keadaan kemiskinan di Kota Yogyakarta tidak lepas dari permasalahan air bersih, sanitasi dan kawasan kumuh.

Batasan Masalah

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Kajian Teori

Kemiskinan ekstrem adalah situasi di mana rumah tangga tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar kelangsungan hidup mereka. Rumah tangga yang menghadapi kemiskinan ekstrem ditandai dengan kelaparan kronis, ketidakmampuan mengakses layanan kesehatan, kurangnya sumber daya air dan sanitasi yang baik, ketidakmampuan mengakses layanan pendidikan, dan mungkin kurangnya perlindungan dasar. Lembaga penelitian SMERU menyatakan bahwa rumah tangga miskin mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: luas rumah kurang dari 8 m2 per penduduk, lantai rumah kotor, sumber air bersih bergantung pada air hujan dan sumber tidak terlindung, tidak mempunyai MCK/sanitasi, tidak mempunyai sumber daya, mereka tidak pernah melakukan kegiatan sosial, tidak mampu membeli berbagai aksesoris dan tidak pernah membeli pakaian (SMERU,.

Rasio ini dihitung berdasarkan hasil Survei Paket Barang Kebutuhan Pokok (SPKKD 2004) tahun 2004, yang dilakukan untuk mengumpulkan data lebih rinci mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga per non-makanan dibandingkan data dari Modul Konsumsi Susena. Yang dimaksud dengan indikator sanitasi buruk adalah rumah tangga yang tidak memiliki sanitasi sendiri dan menggunakan sanitasi selain gooseneck. Yang dimaksud dengan indikator air bersih buruk adalah rumah tangga yang tidak memiliki sumber air bersih selain sumur terlindung, pipa bermeter, pipa eceran, sumber terlindung dan jarak sumber air dengan tangki septik lebih dari 10 m.

Yang dimaksud dengan indikator kelangsungan pendidikan adalah rumah tangga yang mempunyai anak usia sekolah yang belum menyelesaikan pendidikan sampai sekolah menengah. Yang dimaksud dengan indikator literasi adalah rumah tangga yang mempunyai anggota keluarga dalam usia kerja yang tidak dapat membaca dan menulis. Yang dimaksud dengan indikator akses layanan pendidikan prasekolah adalah keluarga yang mempunyai anak usia prasekolah yang tidak memiliki akses terhadap layanan pendidikan prasekolah.

Yang dimaksud dengan indikator bahan bakar/energi memasak adalah rumah tangga yang menggunakan bahan bakar selain listrik dan gas untuk memasak. Yang dimaksud dengan indikator atap, lantai dan dinding lemah adalah satu keluarga dengan atap terluas kecuali beton, genteng, sirap dan asbes. Rumah tangga yang mempunyai skor C ≥ 1/3 (miskin multidimensi) diberi skor sensor (C') C, sedangkan rumah tangga yang mempunyai skor C < 1/3 (miskin tidak multidimensi) diberi skor sensor ( C') dari 0 8 ) Hitung jumlah keluarga dan penduduk miskin.

Jumlah rumah tangga miskin multidimensi di suatu wilayah dihitung dengan menjumlahkan kode-kode seluruh rumah tangga di wilayah tersebut. Sedangkan untuk menghitung jumlah penduduk miskin multidimensi, jumlahkan seluruh anggota rumah tangga (ART) dari seluruh rumah tangga yang berkode 1. 9) Hitung jumlah pegawai (H) Rumus menghitung H adalah: . . dimana q adalah jumlah penduduk miskin multidimensi dan n adalah jumlah penduduk. Pada skema pengentasan kemiskinan berbasis klaster, program pengentasan kemiskinan berbasis rumah tangga merupakan skema klaster 1, dimana program ini menyasar kelompok rentan di masyarakat;

Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan oleh Sabina Alkire dan Yangyan Sen (2015) berjudul Exploring Multidimensional Poverty in China. Data yang digunakan merupakan data China Family Panel Studies (CFPS) yang mencakup 42.000 penduduk yang mewakili penduduk 25 provinsi di Tiongkok. Hasilnya, 12,6% penduduk mengalami kemiskinan dari segi pendapatan, 5,5% penduduk mengalami kemiskinan multidimensi, dan hanya 1,6% penduduk yang mengalami kedua kemiskinan tersebut.

Dari hasil perhitungan juga ditemukan bahwa kemiskinan multidimensi di Tiongkok bagian barat lebih tinggi dibandingkan dengan Tiongkok tengah dan timur. Penelitian yang dilakukan oleh Sabina Alkire, Christoph Jindra, Gisela Robles dan Ana Vaz berjudul Multidimensional Poverty in Africa (2016). Penelitian yang dilakukan Bappeda Provinsi DIY bekerjasama dengan BPS Provinsi DIY berjudul Analisis Kemiskinan Multidimensi dan Ketahanan Pangan di DIY (2016).

Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa indikator kemiskinan berupa proporsi penduduk miskin secara multidimensi dapat menunjukkan kemunculan atau besar kecilnya persentase penduduk miskin. Intensitas kemiskinan multidimensi meningkat sebesar 3,23 poin dari 41,37 persen pada tahun 2013 menjadi 44,60 persen pada tahun 2015. Para ahli mengartikan kemiskinan sebagai permasalahan deprivasi ekonomi terhadap permasalahan yang lebih luas yaitu kurangnya akses terhadap pelayanan sosial.

Pendekatan ini dikritik oleh para ahli karena pendekatan ekonomi hanya mencakup sebagian kecil dari permasalahan kemiskinan. Pada tahun 2010, United National Development Program (UNDP) dan Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) memperkenalkan konsep Indeks Kemiskinan Multidimensi (MPI) untuk mengukur kemiskinan. Berdasarkan uraian mengenai kemiskinan multidimensi di atas, maka penulis akan meneliti kemiskinan multidimensi di kota Yogyakarta.

Desain Penelitian

Data dan Sumber Data

Definisi Operasional Variabel

Rumah tangga yang tidak mempunyai sumber air bersih selain sumur terlindung, pipa meteran, pipa eceran, sumber air terlindung dan jarak sumber air dengan tangki septik lebih dari 10 m Rumah tangga yang ditolong saat melahirkan bukan dokter/bidan/lainnya paramedis Kalori rumah tangga, yang tidak mampu dipenuhi. Rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah yang hanya menyelesaikan pendidikan sekolah menengah.

Rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga dalam usia kerja yang tidak dapat membaca huruf latin. Rumah tangga yang mempunyai anak prasekolah yang tidak mendapat layanan pendidikan prasekolah seperti TK/KB/PAUD dan lain-lain. Penduduk miskin moneter adalah penduduk yang rata-rata pengeluaran per kapita bulanannya berada di bawah standar yang ditetapkan.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

Deskripsi Obyek Penelitian

Sedangkan pengukuran kemiskinan multidimensi menggunakan metode Alkire-Foster, dimana MPI dihitung menggunakan dimensi dan indikator tertimbang. Dimensi terakhir, dimensi kualitas hidup, diukur berdasarkan sumber penerangan, bahan bakar memasak, dan kondisi atap, dinding, dan lantai rumah serta kepemilikan rumah.

Hasil Penelitian

Dari hasil perhitungan diketahui bahwa sebanyak 137 responden di Kota Yogyakarta (7,66%) mengalami kemiskinan moneter pada tahun 2016. Tipe Kepemilikan Rumah di Kota Yogyakarta Tahun 2016 Gambar diatas menunjukkan bahwa hampir seluruh penduduk Kota Yogyakarta tidak memiliki rumah sendiri. Masyarakat miskin pada indikator ini adalah mereka yang mempunyai anak usia 3-6 tahun yang tidak mempunyai akses terhadap pendidikan prasekolah.

Terdapat 0,78% penduduk yang tidak bisa membaca dan menulis huruf latin di Kota Yogyakarta pada tahun 2016. Dari gambar di atas terlihat bahwa sebagian besar penduduk Kota Yogyakarta menggunakan tenaga medis untuk membantu persalinannya. Pada tahun 2016, sumber informasi warga di Kota Yogyakarta dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Pembahasan

Perbedaan terjadi antara penduduk kota Yogyakarta yang hidup dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan dan yang hidup di atas garis kemiskinan. Dibandingkan dengan data sebelumnya, terlihat bahwa angka kemiskinan multidimensi di Kota Yogyakarta mengalami fluktuasi pada periode tahun 2010-2016. Tingginya angka kemiskinan terkait akses kepemilikan rumah tidak lepas dari luas wilayah Kota Yogyakarta yang hanya seluas 32,5 km2.

Sedangkan jumlah penduduk Kota Yogyakarta mencapai 412.704 jiwa pada tahun 2015, dengan data laki-laki sebanyak 201.082 orang dan perempuan sebanyak 211.622 jiwa. Data tersebut semakin menunjukkan bahwa masyarakat kecil kesulitan mengakses kepemilikan rumah di Kota Yogyakarta. Pemerintah Kota Yogyakarta harus memberikan solusi bagi warganya yang belum memiliki rumah sendiri.

Tingginya angka kemiskinan pada indikator akses air bersih disebabkan karena sulitnya warga Kota Yogyakarta memiliki sumber air bersih sendiri dan jarak minimal 10 m dari septic tank. Terbatasnya lahan di Kota Yogyakarta membuat sumber air bersih cenderung dekat dengan septic tank. Dari hasil survei diketahui hanya 30,1% rumah tangga di Kota Yogyakarta yang memiliki sumber air bersih yang jaraknya lebih dari 10 meter.

Pemerintah Kota Yogyakarta dapat memberikan bantuan berupa kompor gas dan peralatannya bagi warga yang belum menggunakan gas sebagai bahan bakar memasak. Hasil ini tentu menjadi sebuah kemunduran bagi pemerintah Kota Yogyakarta, karena pada tahun 2013 dan 2015 angka kemiskinan untuk indikator ini adalah 0%. Pada tahun 2016, hanya 0,17% penduduk Kota Yogyakarta yang proses persalinannya tidak ditolong oleh tenaga medis yang memadai.

Adapun indikator atap, dinding, dan lantai rumah yang ditempati, tidak ada satu pun warga Kota Yogyakarta yang mengalami kemiskinan.

Kesimpulan

Bantuan dapat berupa makanan yang disediakan oleh Kementerian Sosial dan bersifat pelengkap kebutuhan hidup masyarakat miskin. Pemerintah Kota Yogyakarta hendaknya mempertimbangkan kebijakan agar warga Kota Yogyakarta yang tidak memiliki akses terhadap rumah sendiri dapat memiliki rumah sendiri. Pemerintah hendaknya bekerja sama dengan lembaga-lembaga sosial dan swasta dalam memberikan bantuan kepada masyarakat miskin sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.

Keterbatasan Penelitian

Jika dikaitkan dengan kemiskinan moneter, yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjaga daya beli masyarakat. Belum ada penelitian mengenai kemiskinan per sub-distrik, sehingga sulit untuk mengidentifikasi lebih banyak wilayah yang akan terkena dampak program publik. Tirai Kemiskinan, Tantangan Dunia Ketiga (terjemahan Masri Maris). Edisi aslinya diterbitkan pada tahun 1976 oleh Columbia University Press).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil regresi, terlihat bahwa jumlah penduduk berpengaruh tidak signifikan terhadap kemiskinan Kab/Kota di Jawa Tengah. Hasil ini tidak sesuai..

Pada model SAR peubah penjelas yang berpengaruh terhadap persentase kemiskinan di Jawa Timur adalah angka kematian bayi, persentase penduduk dengan pengeluaran perkapita

Sementara itu, jumlah spesies tanaman tertinggi di pekarangan penduduk adalah 60 tanaman pada perumahan Griya Melati dan 32 tanaman pada perumahan Pakuan

Rendahnya motivasi karyawan dalam bekerja terlihat dari permasalahan dengan indikator persentase tertinggi yang menjawab tidak pada pernyataan karyawan masih belum

Dari Tabel 2 terlihat bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada peningkatan persentase kemiskinan adalah persentase penduduk yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD) atau tidak

Penelitian tersebut mengelompokkan kabupaten/kota di Jawa Tengah menjadi tiga kelompok berdasarkan variabel indikator kemiskinan yaitu jumlah penduduk, kepala rumah

Abstrak : Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh dari laju pertumbuhan penduduk, PDRB Perkapita dan Tingkat Kemiskinan terhadap Indeks Pembangunan

Model tersebut menunjukkan bahwa persentase penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah SMA/SMK, angka