Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stereotip apa saja yang muncul di kalangan mahasiswa etnis Mandar dan bagaimana pola interaksi antara mahasiswa etnis Bugis dan Mandar yang berkembang setelah pandangan tersebut muncul. Keseriusan dan kegigihan menjadi kunci dalam penulisan proposal bertajuk “Stereotip Suku Mandar (Tentang Interaksi Sosial Mahasiswa Suku Mandar dan Mahasiswa Suku Bugis di Universitas Muhammadiyah Makassar).
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berkembangnya stereotip tersebut berpotensi menjadi kendala dalam komunikasi antar budaya antara suku Mandar dan suku Bugis. Berdasarkan asumsi tersebut, penulis ingin meneliti stereotip tersebut dengan judul penelitian: “Stereotip Terhadap Suku Mandar (Studi Interaksi Sosial Mahasiswa Bugis dan Mandar Universitas Muhammadiya Makassar)”.
Rumusan Masalah
Stereotip tersebut mungkin merupakan penilaian negatif terhadap suku Mandar, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan sikap dan perilaku negatif terhadap suku Mandar. Selain itu, jika kebenaran stereotip tersebut benar-benar terjadi, tentu tudingan akan ditujukan langsung kepada suku Mandar yang belum tentu suku Mandar yang melakukannya sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui munculnya stereotip terhadap suku Mandar di kalangan mahasiswa Bugis Universitas Muhammadiyah Makassar. Untuk mengetahui pola interaksi yang terbentuk antara mahasiswa Mandar dan Bugis di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Manfaat Penelitian
Sebagai bahan referensi tambahan bagi peneliti lain yang terkait dengan peneliti pada topik terkait, agar kajian sosiologi akademisi Unismuh Makassar selalu mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan kepada lembaga atau masyarakat mengenai interaksi sosial antara mahasiswa Mandar dan mahasiswa Bugis.
Kajian Pustaka
- Hasil Penelitian yang Relevan
- Interaksi Sosial
- Nilai-nilai Budaya Suku Mandar
- Nilai-Nilai Budaya Suku Bugis
- Landasan Teori
Keyakinan, nilai-nilai dan sikap suku Bugis dapat dilihat dari sudut pandang orang Bugis itu sendiri maupun orang diluar orang Bugis. Mengingat kehidupan sosial masyarakat Bugis, Siri' dan Pesse dapat dijadikan kunci utama untuk memahami berbagai aspek perilaku sosial Bugis. "Siri'" secara harfiah diartikan sebagai perasaan malu, dikaitkan dengan kehormatan.
Kerangka Konsep
Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang bersifat dinamis yang mencakup hubungan antar manusia, individu, antar kelompok, manusia, dan antara individu dengan kelompok manusia (Soekanto: 2012; 55). Tidak mungkin hidup bersama tanpa komunikasi atau interaksi satu sama lain. Kalau kita hanya saling bertatap muka secara fisik, kita tidak bisa menciptakan suatu bentuk kelompok sosial yang bisa saling berinteraksi.
Interaksi sosial seperti ini hanya akan terjadi jika individu atau kelompok orang bekerja sama, saling berbicara dan melakukan berbagai aktivitas.
Jenis Penelitian
Lokasi Penelitian
- Fokus Penelitian
Sasaran Penelitian
Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah terpenting dalam penelitian karena tujuan utama penelitian ini adalah mendapatkan data yang relevan. Tanpa pengetahuan teknik pengumpulan data, maka penelitian tidak akan memperoleh data yang memenuhi standar data tertentu (Sogiyono, 2016:308). Teknik pengumpulan data dokumenter dilakukan dengan meminta data implisit kepada pemerintah daerah Kabupaten Majauleng mengenai perubahan-perubahan sistem perekonomian yang ada maupun yang terjadi di masyarakat pada tahun-tahun sebelumnya sebagai informasi yang maksimal.
Peneliti menggunakan teknik dokumentasi untuk memperoleh data yang lebih akurat, serta memberikan bukti nyata.
Teknik Analisis Data
Teknik Keabsahan Data
Pada tahun yang sama (1963), Universitas Muhammadiyah Makassar didirikan secara mandiri, dipimpin oleh Rektor Dr. Ketiga komitmen tersebut diharapkan dapat mengantarkan Universitas Muhammadiyah Makassar menjadi universitas Islam terkemuka. Menduduki peringkat sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di wilayah timur Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar terus berbenah untuk memberikan kualitas akademik yang lebih baik kepada masyarakat.
Dengan adanya Basic Scientific Model (PIP) Universitas Muhammadiyah Makassar akan semakin mendorong terwujudnya kemandirian Islam dan kewirausahaan. Sedangkan Sistem Administrasi Akademik Universitas Muhammadiyah Makassar dilaksanakan dengan menerapkan Sistem Kredit Semester (SCS). Sedangkan untuk pertanggungjawaban hasil proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, Universitas Muhammadiyah Makassar melakukan pelaporan secara berkala kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) melalui pelaporan elektronik.
Stereotip Terhadap Suku Mandar Muncul di Kalangan Mahasiswa Suku Bugis
Sehingga suku bugis menganggap suku mandar mempunyai ilmu gaib atau sering disebut doti-doti, sehingga suku bugis enggan terhadap suku mandar. Menurut saya suku Mandar mempunyai semacam indera keenam yang mampu melakukan hal di luar kemampuan orang biasa, yaitu seseorang yang mempunyai ilmu gaib.” (Hasil wawancara, 29 Agustus 2017). Kesimpulan dari beberapa informan adalah bahwa Suku Mandar merupakan suku yang mampu melakukan hal-hal di luar akal sehat manusia, padahal banyak suku yang mempercayai hal-hal gaib.
Dampak Positif dan Negatif Stereotip Mahasiswa Suku Mandar di Kalangan Mahasiswa Bugis Universitas Muhamad Di Kalangan Mahasiswa Bugis Universitas Muhamadiyah.
Pengaruh Positif dan Negatif Stereotip Mahasiswa Suku Mandar Di Kalangan Mahasiswa Suku Bugis di Universitas Muhammadiyah Kalangan Mahasiswa Suku Bugis di Universitas Muhammadiyah
Dalam proses interaksi dan komunikasi pasti ada perbedaan atau pertentangan bahkan konflik yang muncul dalam satu suku akibat sikap ego yang melekat pada diri manusia. Sikap tersebut merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan pandangan dan reaksi yang sejalan dengan argumentasi saudara FR (usia 21). ) berbeda dengan jawaban FD (usia 21 tahun) yang mengatakan demikian. Dapat disimpulkan bahwa persepsi dan respon setiap siswa berbeda-beda, ada yang mengarah pada hal positif dan negatif, bahkan ada yang mempertahankan siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah. Selain itu, orang-orang yang kita anggap di luar kelompok kita dipandang lebih mirip satu sama lain dibandingkan dengan orang-orang dalam kelompok kita sendiri.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa interaksi merupakan landasan suatu bentuk proses sosial, karena tanpa adanya interaksi sosial maka kegiatan antara individu yang satu dengan individu yang lain tidak dapat disebut interaksi.
Interaksi Antar Anggota Mahasiswa Suku Mandar dan Mahasiswa Suku Bugis
Berdasarkan data observasi informan melalui interaksi dengan suku Mandar dan Bugis di Universitas Muhammadiyah Makassar hal ini diperkuat dengan wawancara berikut ini. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa dengan anggapan tersebut, siswa Mandar merasa agak janggal dengan siswa Bugis. Dari beberapa wawancara dengan informan dapat disimpulkan bahwa latar belakang terjadinya interaksi sosial suku Mandar dengan suku Bugis didasari oleh tuduhan atau pertanyaan yang tersebar di persepsi atau pandangan para santri.
Komunikasi antara pelajar Suku Mandar dan pelajar Suku Bugis Dalam suatu kelompok atau komunitas, komunikasi sangatlah diperlukan.
Komunikasi Mahasiswa Suku Mandar dan Mahasiswa Suku Bugis Dalam sebuah kelompok atau komunitas sebuah komunikasi sangat perlu
Banyak hal yang mempengaruhi komunikasi yang baik di masyarakat maupun di kalangan pelajar Mandar dan Bugis, sehingga memungkinkan terjadinya kerjasama antar individu atau antar kelompok manusia dan komunikasi bahkan merupakan salah satu syarat terjadinya kerjasama. Jelas bahwa komunikasi yang handal merupakan salah satu kunci keberhasilan karena mempunyai potensi yang sangat besar untuk meminimalisir konflik sekaligus membuka peluang keberhasilan. Berbagai upaya telah dilakukan oleh warga masyarakat agar masyarakat tidak mudah terpecah belah. Salah satu upaya yang harus dilakukan untuk menjaga hubungan baik adalah dengan jelas bahwa setiap masyarakat harus berkomunikasi satu sama lain, sehingga bermanfaat bagi aktivitas anggota suku tertentu. dalam suatu masyarakat agar tetap harmonis, hal ini berkaitan dengan latar belakang interaksi antara suku Mandar dan Bugis.
Komunikasi sangat penting sesuai dengan pemahaman konsep satu tokoh dalam sosiologi bahwa interaksi adalah kunci perputaran.
Perilaku Sosial antara Mahasiswa Suku Mandar dengan Mahasiswa Suku Bugis
Dari pemaparan hasil wawancara dan hasil dokumentasi yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa semua jenis interaksi adalah kerjasama, dimana kerjasama merupakan bentuk utama dari interaksi sosial, dengan konsep sosiolog , kerjasama tercipta. ketika masyarakat menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan yang sama, dan pada saat yang sama mempunyai pengetahuan dan pengendalian diri yang cukup untuk mewujudkannya, maka kepentingan tersebut, kesadaran akan adanya kepentingan bersama, dan keberadaan organisasi merupakan fakta penting. , dalam kerjasama yang menguntungkan. Kerja sama muncul karena adanya orientasi individu terhadap kelompoknya dan kelompok lain.Kerjasama dapat menjadi lebih kuat jika ada bahaya eksternal yang mengancamnya, atau ada tindakan eksternal yang mengganggu kegiatan adat atau kelembagaan.Seseorang atau sekelompok orang terlibat dalam suatu kelompok atau di dalamnya. Kerja sama dapat bersifat agresif jika kelompok mengalami kekecewaan dalam jangka waktu yang lama akibat perasaan tidak puas, karena keinginan pada dasarnya tidak dapat dipenuhi, karena adanya hambatan yang berasal dari luar kelompok.
Seperti yang terjadi pada komunitas pelaku usaha barang bekas, mereka akan terus menjalin kerjasama dengan pengusaha lain, berbagi lokasi penjualan atau membantu memperlancar pemasukan atau penjualan barang.
Arah (direction)
PERKEMBANGAN STEREOTIPE PEMBAHASAN TEORITIS Secara umum stereotip mempunyai empat dimensi, yaitu arah penilaian, apakah penilaian positif atau negatif. Hal ini terlihat dari aktivitas komunikasi informan dengan suku Mandar dalam kesehariannya, Informan secara rutin sengaja meluangkan waktu untuk berkomunikasi dengan suku Mandar. Adanya komunikasi yang disengaja juga dapat diindikasikan sebagai bukti adanya hubungan baik antara masyarakat etnis Bugis dan Mandar.
Hal ini terlihat dari penuturan informan lain yang dengan tegas menyatakan bahwa informan lebih memilih berkomunikasi dengan suku Mandar dibandingkan dengan suku lain.
Intensitas
Hal ini disebabkan oleh kebenaran stereotip itu sendiri; Stereotip negatif yang berkembang tidak pernah dialami dan diamati secara langsung oleh informan selama berada di suku Mandar, namun hanya sekedar isu yang terus dipertanyakan kebenarannya. Komunikasi antarbudaya tidak akan terjadi jika salah satu atau kedua orang yang terlibat dalam komunikasi tersebut mempunyai keyakinan yang kuat terhadap stereotip negatif anggota kelompok. Keyakinan yang kuat ini hanya akan menghasilkan penilaian negatif terhadap masing-masing pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut. Menurut Werner dan Tankard, keyakinan erat kaitannya dengan sikap seseorang terhadap sesuatu, misalnya seseorang yang meyakini bahwa anggota kelompok ras tertentu kurang cerdas mungkin akan memperlakukan orang tersebut secara berbeda.
Dalam penjelasan tersebut kita dapat melihat seberapa besar pengaruh kepercayaan terhadap stereotip etnis Bugis terhadap suku Mandar. Misalnya informan pertama dan kelima merasa prihatin terhadap komunikasi dan menganggap suku Mandar berbahaya karena mempunyai ilmu gaib (doti), namun ketika keyakinan tersebut melemah maka perlakuan terhadap mereka pun berubah dan tidak ada lagi kekhawatiran dan asumsi negatif terhadap suku tersebut. Suku Mandar.
Ketepatan
Isi khusus
Interaksi langsung yang kemudian mempengaruhi intensitas dan kualitas interaksi dalam jangka waktu yang lama berdampak langsung pada perubahan stereotip terhadap suku Mandar. Menggambarkan sifat terbuka yang dimiliki suku Mandar yang berarti menerima keberadaan orang lain, suku Bugis tidak perlu merasa was-was untuk memulai komunikasi. Berdasarkan lokasi penelitian, peneliti dapat mengamati interaksi dan proses komunikasi lintas budaya dalam kesehariannya dengan suku Mandar.
Penelitian yang dilakukan dapat dilanjutkan dengan pertimbangan bahwa stereotip dapat berkembang dan berubah, terutama dengan berkembangnya stereotip yang terdapat pada suku Mandar.