0 STRATEGI PASANGAN MENIKAH USIA MUDA MENGATASI
KONFLIK EKONOMI DALAM RUMAH TANGGA
(Studi Kasus:Di Nagari Kapeh Panji Jaya Kecamatan Bayang Kabupaten Pesisir Selatan)
ARTIKEL ILMIAH
WIDIA ARDILA SARI 10070220
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2015
1
2
STRATEGY AGE YOUNG MARRIEd COUPLES CONFLICT RESOLUTION ECONOMY DOMESTIC (CASE STUDY ON NAGARI KAPEH PANJI JAYA KECAMATAN BAYANG
KABUPATEN PESISIR SELATAN)
Widia Ardila Sari 1 Rinel Fitlayeni2Ariesta3 Sociology ofEducation Program
STKIPPGRIWest Sumatra
ABSTRACT
This thesis describes how the Strategy Married Couples Age Young Conflict Resolution Economy in Households in Nagari Kapeh Panji Jaya kec Bayang kab pesisir selatan. Marriage is a bond that is sacred and precious to regulate family life with the aim of forming a happy family based on God . One of the things that must be faced by a young married couple who see that everyday life Age Young Married Couple Having Conflict Domestic Economy . This study aims to describe the strategy pursued young married couples resolve conflict in the house hold economy .
This study uses the theory of conflict by Alfred Lewis Coser , this study used a qualitative research approach and descriptive type . Informants in this study with purposive sampling technique is the informants in this study consisted of 5 couples who marry at a young age , elderly couples and society . Data used this research is data Primary and secondary data. Data were collected through observation , interview and study and document and data collection tools such as interview guides . Analysis of the data used Interactive models of Miles and Hurberman ( 1 ) Data Reduction , ( 2 ) Data Collection ( 3 ) Presentation of Data ( 4 ) With Conclusions .
Based on these results it can be concluded that the problems experienced by Age Young Married Couples in Nagari Kapeh Panji Jaya is economic issues such as revenue . The strategy carried young couples resolve conflict in the household economy , namely 1 ) Saving , 2 ) Owe , 3 ) Residence ( home Parents ) .
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatera Barat Angkatan 2010
2Pembimbing I dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
3Pembimbing II dan Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
1
PENDAHULUAN
Menurut (Bagindo, 1994:4) Dalam Pernikahan seharusnya membentuk suatu rumah tangga yang harmonis dibutuhkan kesiapan ekonomi yang memadai karena ketidaksiapan dibidang ekonomi menimbulkan berbagai masalah dalam pernikahan usia muda tersebut. Tetapi Tidak jarang dari mereka yang melangsungkan perkawinan usia muda tidak begitu memikirkan masalah apa saja yamg akan timbul setelah mereka hidup berumah tangga dikemudian hari. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa segera hidup bersama dengan pasangannya tanpa memikirkan apa yang menjadi tanggung jawab mereka setelah menikah. Banyak sekali orang yang telah melangsungkan pernikahan tidak memikirkan masalah apa saja yang mungkin terjadi setelah menjalani hidup sebagai pasangan suami istri, khususnya bagi pasangan yang menikah pada usia muda. Selain menimbulkan masalah kepada pasangan suami-istri juga tidak menutup kemungkinan masalah itu juga akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik terhadap anak-anaknya, juga pada masing-masing keluarganya.
Konflik antara suami istri adalah Istri tidak memenuhi kewajiban suami walaupun untuk menjenguk istri dari rumah tanpa seijin suami orang tua adalah Keluar dari rumah tanpa seizin suami Keluarnya merupakan kedurhakaan terhadap suami, karena Khancuran dalam rumah tangga hal itu bias menyebabkan kerusakan dan Tidak mampu mengatur keuangan Disamping istri wajib memelihara dan mendidik anak anaknya,istri juga wajib memelihara harta suaminya, dengan kata lain tidak boros, berlaku hemat demi masa depan anak anaknya dan belanja secukupnya tidak hura- hura. Kalau istri boros, itu merupakan kesalahan dalam mengatur keuangan keluarga, karena hal itu sama halnya dengan seorang istri tidak dapat menjaga harta kekayaan suami yang dipercayakan kepadanya. Bila hal ini dilakukan terus maka akan mengakibatkan munculnya keretakan dalam rumah tangga. (Kamil, 2005:40)
penyebab meningkat tingkat perceraian adalah usia mereka saat menikah.
Usia saat menikah salah satu prediksi yang sangat kuat kemungkinan bercerai. Telah
diperlihatkan berbagai penelitian bahwa prkawinan usia muda penyebab utama dalam meningkatnya perceraian.
Kematangan emosi merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk menjaga kelangsungan pernikahan.
Pasangan suami istri yang memiliki kematangan emosi ketika memasuki gerbang pernikahan akan cenderung lebih mampu dalam mengelola segala perbedaan yang muncul. Soekanto (2004: 115) menyebutkan bahwa keberhasilan suatu rumah tangga sangat banyak ditentukan oleh kematangan emosi, baik suami maupun istri. Paling tidak salah seorang dari mereka perlu memiliki kematangan emosi yang sangat tinggi agar bias mengelola rumah tangga dengan lebih baik. Jika tidak, rumah tangga akan rentan konflik yang berkepanjangan.
Maka pemerintah menentukan usia perkawinan. Menurut Undang-Undang Perkawinan tahun 1974 pasal 7 ayat (1) “ Bahwa perkawinan itu hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 25 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 21 tahun”. Ditentukan oleh pemerintah tersebut, bertujuan agar memberikan kesempatan kepada seseorang untuk lebih mematangkan fisik, mental, sosial dan ekonominya, sehingga kematangan tersebut dapat dijadikan modal dalam mewujudkan suatu keluarga yang bahagia dan sejahtera, dikarenakan banyaknya dampak buruk yang timbul bagi masyarakat yang melakukan perkawinan usia muda.
Di Nagari Kapeh Panji Jayacukup tinggi juga yang melakukan kawin muda dari tahun 2010 sampai 2014 ada sebanyak 14 pasangan yang melakukan perkawinan usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya, ini karena banyak alasan yang ditemukan salah satu karena lingkungan sekitar banyak yang menikah usia muda karena dengan umur yang belum cukup matang bagi pemerintah mereka sudah mengaggap sudah pantas kalau tidak mereka dianggap perawan tua untuk perempuan memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan anaknya.
Pernikahan usia muda tersebut disebabkan karena kemauannya sendiri, faktor ekonomi, dijodohkan orang tua.
Setiap rumah tangga memiliki masalah masing-masing, begitu juga dengan rumah tangga pasangan yang menikah di usia
2
muda, seperti masalah ekonomi. Dimana setiap keluarganya antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya berbeda.
Tidak semua keluarga di Nagari tersebut bisa memenuhi semua keperluan sehari- harinya karena penghasilan/pendapatan yang mereka peroleh belum bisa memadai untuk digunakan keperluan sehari-hari. Sehingga mengakibatkan pertengkaran, KDRT, percekcokan dan bentrokan antara suami istri yang dapat mengakibatkan perceraian.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah “Mendeskripsikan Strategi yang dilakukan pasangan menikah usia muda mengatasi konflik ekonomi dalam rumah tangga.
METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif.
Teknik pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam. Data- data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara interaktif. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman(Sugiyono, 2011:338-345).
HASIL PENELITIAN
Strategi Pasangan Menikah Usia Muda Mengatasi Konflik Ekonomi Dalam Rumah Tangga
Untuk melihat strategi pasangan kawin muda di Nagari Kapeh Panji Jaya dilihat dari faktor penyebab perkawinan usia muda dan bagaimana strategi yang dilakukan oleh pasangan kawin muda tersebut.
1. Faktor penyebab perkawinan usia muda Perkawinan usia muda yang ada di Nagari Kapeh Panji Jaya di umur yang masih muda karena banyak hal yang orang tua pikirkan, salah satu alasan yaitu perkawinan usia muda yang terjadi di Nagari Kapeh Panji Jaya sebagian besar disebabkan karena faktor keuangan keluarga yang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan anaknya, kurangnya pengetahuan orang tua anak yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya sampai kejenjang yang lebih tinggi, kemauan
sendiri juga menjadi faktor perkawinan usia muda dan karena keluarga, orang tua takut anaknya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan apalagi anak perempuan, karena sudah ditemukan hamil diluar nikah. Menurutnya juga terkadang anak merasa terpaksa menerima untuk dinikahkan oleh orang tuanya karena takut dikatakan anak yang tidak hormat dan patuh pada orang tuanya maka ia mau untuk segera dinikahkan padahal umur mereka belum cukup untuk melangsungkan pernikahan.
a. Faktor Ekonomi
Adanya perkawinan usia muda Di Nagari Kapeh Panji Jaya sebagian besar disebabkan karena kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu karena kehidupan orang tua miskin. Kondisi ini menyebabkan orang tua yang menikahkan anaknya pada usia muda mengganggap bahwa dengan menikahkan anaknya beban ekonomi keluarga akan berkurang satu.
Hal ini disebabkan karena jika anak sudah menikah, maka akan menjadi tanggung jawab suaminya.
Di Nagari Kapeh Panji Jaya Kabupaten Pesisir Selatan ekonomi setiap keluarganya antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya berbeda. Artinya tidak semua keluarga bisa memenuhi semua keperluan sehari-harinya karena penghasilan yang mereka peroleh belum bisa memadai untuk digunakan keperluan sehari-hari.
Masyarakat di Nagari Kapeh Panji Jaya mempunyai mata pencaharian yang beraneka ragam namun yang paling dominan adalah mata pencaharian sebagai petani. Diantara mereka ada yang memiliki pekerjaan tetap juga pekerjaan tidak tetap.
Oleh karena itu untuk penghasilan yang mereka peroleh setiap harinya tidak menentu.Bagi orang-orang yang pekerjaannya tidak tetap mereka dalam menghidupi keluarganya tidaklah mudah.
Lainhalnya dengan orang yang telah memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang tetap, maka segala kebutuhan sehari- harinya akan terpenuhi
b. Faktor Kemauan Sendiri
Selain faktor ekonomi, perkawinan usia muda disebabkan adanya kemauan
3
sendiri dari pasangan. Hal ini disebabkan karena keduanya sudah merasa saling mencintai maka ada keinginan untuk segera menikah tanpa memandang umur dan niat mereka untuk menikah pada usia saat itu tanpa memandang usia, sehingga bagi mereka yang telah mempunyai pasangan atau kekasih terpengaruh untuk melakukan pernikahan di usia muda.
perkawinan usia muda mereka karena kemauan mereka sendiri, saling mencintai dan agar terhindar dari perzinahan maka mereka memutuskan untuk menikah secepat mungkin takut kehilangan pasangan satu sama lain dan merasa sudah mampu untuk menafkahi pasangan menjadi salah satu faktor perkawinan usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya.
c. Faktor Pendidikan
Rendahnya pendidikian karena putus sekolah dan juga merupakan faktor terjadinya pernikahan usia muda. Para orang tua yang hanya bersekolah hingga tamat SD merasa senang jika anaknya sudah ada yang menyukai.Disamping perekonomian yang kurang pendidikan orang tua yang rendah, akan membuat pola pikir orang tua rendah terhadap pendidikan. Sehingga akan mempengaruhi orang tua untuk segera menikahkan anak perempuannya.
karena kurangnya pemahaman orang tuanya terhadap pendidikan, mereka tidak tahu apa manfaatnya jika anaknya sekolah bahwa anaknya tidak perlu sekolah tinggi- tinggi karena sekolah tinggi-tinggi belum tentu bisa menjamin anaknya dapat pekerjaan.
d. Faktor Keluarga
Faktor keluarga merupakan faktor adanya perkawinan usia muda, dimana keluarga dan orang tua akan segera menikahkan anaknya jika sudah menginjak besar. Hal ini merupakan hal yang sudah biasa atau turun-temurun. Sebuah keluarga yang mempunyai anak gadis tidak akan merasa tenang sebelum anak gadisnya menikah. Orang tua akan merasa takut apabila anaknya jadi perawan tua dan takut apabila anaknya akan melakukan ha-hal yang tidak diinginkan yang akan mencemari nama baik
2. Strategi pasangan menikah usia muda
Perkawinan pasangan kawin muda tidak seburuk yang kita bayangkan, walaupun berbagai faktor-faktor yang menyebabkan pasangan kawin muda menikah pada usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya tetapi tidak semua yang menikah usia muda itu berakhir dengan perceraian tergantung strategi yang dilakukan dalam rumah tangga.Pasangan kawin muda yang terjadi di Nagari Kapeh Panji Jaya Kabupaten Pesisir Selatan ini memiliki strategi masing-masing dalam mengatasi konflik ekonomi dalam rumah tangga. Akhirnya mereka memikirkan strategi apa untuk memgatasi konflik ekonomi dalam rumah tangga mereka, staretgi yang di gunakan pasangan kawin muda dalam mengatasi konflik ekonomi yaitu dengan Menabung, Berhutang, Tempat Tinggal (Rumah Orang Tua) dengan begitu mereka mampu mengatasi konflik ekonomi dalam rumah tangga mereka sampai saat ini.
keluarganya. Jika si anak belum juga mendapatkan jodohnya, maka orang tua ikut mencarikan jodoh buat anaknya dengan catatan jodoh yang akan di berikannya itu sesuai dengan keinginan anaknya atau disetujui oleh anaknya.
a. Menabung
Menabung merupakan suatu strategi yang bisa dia andalkan pasangan menikah usia muda dengan menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Menabung disini dalam maksudnya bukan menyimpan atau menabung di Bank tapi menyimpan uang kembalian belanja harian di celengan. Dari hasil wawancara penulis dengan beberapa informan pasangan menikah usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya. Menabung merupakan suatu cara yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa informan tentang strategi yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
b. Berhutang
Berhutang merupakan suatu strategi yang sudah biasa dikarenakan kekurangan uang dan biasanya mempunya hutang uang itu karena ada kepercayaan dan bagi berhutang sanggup melunasi hutang
4
tersebut dengan gaji yang diterimanya nanti
Pasangan menikah usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya mereka melakukan strategi Berhutang kepada tetangga dan ada juga yang Berhutang kepada kerabat, orang tua mereka. Cara membayarnya dengan menjanjikannya.
c. Tempat Tinggal(rumah Orang Tua) Tempat tinggal atau rumah merupakan sebuah kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia, dimana rumah sebagai tempat untuk berteduh, beribadah dan juga sebagai hidup bersama keluarga. Bagi pasangan menikah usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal keluarga sangat susah dengan pendapatan yang sangat minim, demi memenuhi kebutuhan tempat tinggal pasangan menikah usia muda harus menumpang kepada orang tua.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa:
a. Perkawinan usia muda disebabkan oleh beberapa faktor:
1. Faktor ekonomi yaitu Mengurangi beban keluarga,
2. Faktor kemauan sendiri karena merasa sudah saling mencintai, 3. Faktor pendidikan yaitu Kurangnya
pengetahuan orang tua dan anak tentang pendidikan sehingga putus sekolah ,
4. Faktor keluarga karena orang tua mencarikan jodoh untuk anaknya agar tidak terjerumus dengan pergaulan zaman sekarang b. Adapun strategi yang dilakukan oleh
pasangan menikah usia muda untuk mengatasi konflik ekonomi dalam rumah tangga yaitu :
1. Menabung yaitu mereka menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Menabung merupakan suatu cara yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
2. Berhutang merupakan suatu strategi yang sudah biasa dikarenakan kekurangan uang dan biasanya mempunya
Berhutang uang itu karena ada kepercayaan dan bagi Berhutang sanggup melunasi hutang tersebut dengan gaji yang diterimanya
3. Tempat Tinggal dirumah Orang Tua Bagi pasangan menikah usia muda di Nagari Kapeh Panji Jaya untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal keluarga sangat susah dengan pendapatan yang sangat minim, demi kebutuhan tempat tinggal pasangan menikah usia muda harus menumpang kepada orang tua.
DAFTAR PUSTAKA
Bagindo,1994. TuntutanRumah Tangga Muslim Dan KeluargaBerencana.
Padang: Angkasa Raya
Al-hayali, Kamil. 2005. Solusi Dalam Konflik Rumah Tangga. Jakarta:
Raja Grafindo Persada
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta