Studi Literatur Manajemen dan Risiko Kepatuhan Pada Bank Syariah
Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Vol. 17 No. 01, April 2020 38
Studi Literatur Manajemen dan Risiko Kepatuhan Pada Bank Syariah
Dinar Rahmayanti1, Dzulham Fadillah2, Iqlima Fairuz Syifa3 Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI
Jl. Raya Bojongsari, Pondok Rangga, Sawangan, Depok, Jawa Barat [email protected]
Abstract - One of the risks faced by Islamic banks is compliance risk. The study was conducted to determine efforts to manage Islamic banks compliance risk is good. The research method uses the study of literature, namely the process of data collection is done through literature studies sourced from books, the internet and journals relating to the themes discussed. The results obtained by Islamic banks need to prepare work units and policies and clear compliance procedures, followed by the process of identifying, mitigating and controlling compliance risk and evaluating the achievement of efforts that have been made.
Keywords: Management, Compliance Risk, Sharia Bank
I. PENDAHULUAN
Bank syariah merupakan suatu badan usaha yang menjalankan kegiatan usahanya dengan prinsip syariah. Dalam menjalankan kegiatan usaha, bank syariah tidak terlepas dari adanya risiko.
Salah satu risiko yang dihadapi bank syariah adalah risiko kepatuhan. Lemahnya pengawasan Dewan Pengawas Syariah (DPS) rentan terhadap pengelolaan risiko kepatuhan. Risiko kepatuhan yang timbul berdampak pada ketidakpercayaan masyarakat dan eksistensi bank syariah yang menurun.
Manajemen risiko kepatuhan yang tepat sangat penting dalam menghindari timbulnya risiko kepatuhan pada bank syariah. Maka diperlukan kebijakan manajemen kepatuhan, melalui kegiatan penghimpunan dana dan penyaluran dana serta kegiatan jasa lainnya. Dengan adanya manajemen risiko kepatuhan yang tepat berdampak pada meningkatnya kepercayaan dan kredibilitas masyarakat dan eksistensi bank syariah.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Manajemen adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan personal, perencanaan, dan pengawasan terhadap pekerjaan-pekerjaan yang berkenaan dengan unsur-unsur pokok dalam suatu proyek (Muhammad, 2002). Menurut Richard L.
Daft (2002:8), manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara yang efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian sumber daya organisasi.
Kepatuhan berarti mengikuti suatu spesifikasi, standar, atau hukum yang telah diatur dengan jelas yang biasanya diterbitkan oleh lembaga atau organisasi yang berwenang dalam suatu bidang tertentu. Lingkup aturan sendiri bisa bersifat Internasional maupun nasional. Seperti standar
Dinar Rahmayanti, Dzulham Fadillah, Iqlima Fairuz Syifa
Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Vol. 17 No. 01, April 2020 39 internasional yang diterbitkan oleh ISO serta aturan-aturan nasional yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk sektor perbankan di Indonesia.
Risiko Kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, termasuk prinsip syariah bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah. (Republik Indonesia, 2011) Risiko kepatuhan merupakan timbulnya kerugian baik langsung maupun tidak langsung yang diakibatkan oleh tidak dipatuhinya atau tidak dilaksanakannya peraturan perundangan dan ketentuan sesuai prinsip syariah lainnya yang berlaku. (Novita, 2019)
III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan studi literatur, studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Studi literatur digunakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan masalah yang diteliti.
Teknik pengumpulan data dengan studi kepustakaan yang diperoleh dari berbagai sumber seperti jurnal, buku, website, internet yang memiliki kesesuaian dengan topik yang sedang diteliti (Fitrianingsih dan Siregar, 2020).
IV. HASIL PEMBAHASAN Isi Hasil dan Pembahasan
Manajemen kepatuhan memberikan fungsi salah satunya adalah untuk memastikan kegiatan usaha yang dilakukan oleh bank syariah sesuai peraturan dan perundang-undangan serta prinsip syariah berlaku. “Dalam hal ini dapat disimpulkan, bahwa risiko kepatuhan yang dihadapi bank syariah ada dua, yaitu risiko kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan dan risiko kepatuhan terhadap prinsip syariah”.(Putra, 2020)
Mengetahui adanya risiko kepatuhan pada bank syariah, maka bank syariah harus mampu mengelola risiko kepatuhan dengan baik dan diikuti membuat langkah-langkah atau strategi dalam upaya mitigasi risiko kepatuhan. Mitigasi risiko kepatuhan syariah tidak hanya dalam kegiatan usahanya akan tetapi juga dalam menyelesaikan sengketa yang timbul antara bank syariah dengan nasabahnya.
Hal pertama yang perlu disiapkan adalah memiliki satuan unit kerja disertai wewenang dan tugas yang jelas untuk melaksanakan fungsi manajemen risiko kepatuhan. Kedua, bank syariah perlu menambahkan penerapan beberapa hal untuk tiap aspek dalam melaksanakan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit untuk risiko kepatuhan (Bambang, 2013). Dalam hal ini, bank syariah mampu menyusun kebijakan dan prosedur sesuai peraturan perundang-undangan dan prinsip syariah berlaku serta memiliki rencana kerja kepatuhan yang terarah.
Setelah bank syariah memiliki satuan unit kerja dan kebijakan serta prosedur yang terarah untuk melaksanakan fungsi kepatuhan, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi risiko kepatuhan. “Identifikasi risiko kepatuhan bank syariah harus dengan identifikasi dan analisis terlebih dahulu agar dapat diperhatikan secara detail terhadap beberapa faktor yang dapat meningkatkan eksposur, yang merupakan risiko timbul dari sumber daya internal seperti para pekerja atau berasal dari sumber daya eksternal risiko kepatuhan”. (Novita, 2019)
Setelah bank syariah mengidentifikasi risiko kepatuhan berdasarkan seluruh kegiatan usaha baik dari faktor internal maupun eksternal, langkah selanjutnya adalah mengukur risiko kepatuhan.
Bank syariah dapat menggunakan indikator atau parameter dalam pengukuran risiko kepatuhan yang berupa jenis, signifikansi, dan frekuensi pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku atau rekam jejak kepatuhan bank syariah, perilaku yang mendasari pelanggaran, dan pelanggaran terhadap standar yang berlaku secara umum (Bambang, 2013).
Langkah selanjutnya yang dilakukan dalam memanejemen risiko kepatuhan adalah mitigasi dan pengendalian risiko yang telah diidentifikasi sebelumnya. Mitigasi risiko dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap penanggulangan risiko yang ada (Fitrianingsih dan Siregar, 2020).
Studi Literatur Manajemen dan Risiko Kepatuhan Pada Bank Syariah
Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Vol. 17 No. 01, April 2020 40
“Bank syariah harus memastikan-dalam hal bank syariah memiliki kantor cabang di luar negeri bahwa bank syariah memiliki tingkat kepatuhan yang memadai terhadap peraturan perundang- undangan yang berlaku di negara di mana kantor cabang bank syariah berada. Dengan begitu bank harus memastikan bahwa bank memiliki tingkat kepatuhan yang memadai terhadap peraturan perundang- undangan yang berlaku di sebuah negara dimana kantor cabang bank tersebut berada”.
(Novita, 2019)
Terakhir, yang perlu diperhatikan oleh bank syariah dalam memanajemen risiko kepatuhan adalah dengan melakukan evaluasi terhadap langkah-langkah atau strategi yang telah dilakukan.
Untuk menilai kembali sejauh mana tingkat keberhasilan dalam melakukan langkah-langkah atau strategi manajemen risiko kepatuhan.
Manajemen risiko kepatuhan erat kaitannya dengan peran DPS yang selanjutnya berdampak pada timbulnya risiko lainnya, seperti risiko reputasi, risiko likuiditas dan risiko lainnya. Oleh karena itu peran DPS juga perlu dioptimalkan, agar mereka bisa memastikan segala produk dan sistem operasinal bank syariah benar-benar sesuai syariah.
Istilah manajemen berasal dari kata to manage berarti control. Dalam Bahasa Indonesia, dapat diartikan mengendalikan, menangani, atau mengelola (Herujito, 2001). Selain itu, kata manajamen dalam kamus Besar Bahasa Indonesia berarti penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran (KBBI, 2005). Menurut Stephen P. Robbins (1999), manajemen adalah proses mengkoordinasi dan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Dalam bahasa yang sederhana efisiensi itu menunjukkan kemampuan organisasi dalam menggunakan sumber daya dengan benar dan tidak ada pemborosan.
Setiap perusahaan akan berusaha mencapai tingkat output dan input seoptimal mungkin. (Weeks, 2015)
Risiko sering dikatakan sebagai uncertainty atau ketidakpastian. Ketidakpastian sering diartikan dengan keadaan dimana ada beberapa kemungkinan kejadian dan setiap kejadian akan menyebabkan hasil yang berbeda. Tetapi, tingkat kemungkinan atau probabilitas kejadian itu sendiri tidak diketahui secara kuantitatif. Sedangkan pengertian dasar risiko terkait dengan adanya ketiakpastiannya terukur secara kuantitatif (Djohanoputro, 2006). Dari dua pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko adalah mengindentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan jalannya kegiatan usaha bank dengan tingkat risiko yang wajar secara terarah, terintegrasi dan berkesinambungan (Riduan, 2004). Jenis-jenis risiko yang terdapat pada bank syariah, diantaranya risiko pembiayaan, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko legal/hokum, risiko reputasi, risiko strategis, risiko kepatuhan, risiko imbal hasil, risiko investasi.
Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 13/23/PBI/2011 mendefinisikan risiko kepatuhan sebagai risiko akibat bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang- undangan dan ketentuan yang berlaku, serta prinsip syariah. Tidak ada perbedaan signifikan antara bank syariah dan bank konvensional terkait risiko ini, selain hanya pada masalah prinsip syariah yang melekat pada bank syariah (Sumar in, 2012).
Menurut Islamic Financial Service Board (IFSB), risiko kepatuhan syariah didefinisikan sebagai risiko yang muncul akibat ketidakpatuhan bank Islam terhadap aturan dan prinsip syariah yang ditentukan oleh DPS atau lembaga sejenis dimana bank Islam beroperasi (Wahyudin, 2013).
Risiko kepatuhan syariah muncul ketika sebuah lembaga keuangan gagal dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip syariah dalam pelaksanaan operasionalnya dari sisi pendanaan, penyaluran dana, dan pelayanan jasa perbankan lainnya. Penilaian kepatuhan bank Islam terhadap prinsip syariah mencakup seluruh komponen terkait dengan kegiatan operasional perbankan Islam. (Weeks, 2015)
Pelaksanaan fungsi kepatuhan syariah harus menekankan peran aktif dari seluruh elemen organisasi kapatuhan dalam lembaga, yang terdiri direktur yang membawahkan fungsi kepatuhan syariah di bank Islam, kepala unit kepatuhan dan satuan kerja kepatuhan untuk mengelola risiko
Dinar Rahmayanti, Dzulham Fadillah, Iqlima Fairuz Syifa
Jurnal Akuntansi dan Manajemen, Vol. 17 No. 01, April 2020 41 kepatuhan. Kepatuhan merupakan tanggung jawab bersama yang dilaksanakan oleh seluruh karyawan bank, dari atasan hingga bawahan (top-down). (Weeks, 2015)
V. KESIMPULAN
Risiko kepatuhan pada bank syariah adalah risiko akibat bank syariah tidak mematuhi dan atau melaksanakan peraturan perudang-undangan dan prinsip syariah berlaku. Manajemen risiko kepatuhan pada bank syariah sangat penting untuk menjaga kepercayaan dan eksistensi bank syariah serta merupakan pilar pembeda dengan bank konvensional. Sebagai upaya menghindari dan meminimalisir risiko kepatuhan, bank syariah perlu mempersiapkan unit kerja dan kebijakan serta prodesur yang jelas. Diikuti dengan proses identfikasi risiko yang bisa berasal dari faktor internal maupun eksternal. Selanjutnya dengan melakukan mitigasi dan pengendaian risiko yang telah diidentifikasi sebelumnya serta terakhir perlu melakukan evaluasi untuk menilai seberapa besar tingkat keberhasilan memanajemen risiko kepatuhan yang telah dilakukan. Sehingga bank syariah mampu melaksanakan fungsi kepatuhan dengan baik dan berdampak pada meningkatnya kepercayaan nasabah dan eksistensi bank syariah.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang, Rianto. 2013. Manajemen Risiko Perbankan Syariah di Indonesia. Salemba Empat:
Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta.
Djohanoputro, Bramanto. 2006. Manajmen Risiko Terintegrasi. Penerbit PPM: Jakarta.
Fitrianingsih dan Siregar, Saparuddin. 2020Studi Literatur Manajemen Dan Risiko Likuiditas Pada Bank Syariah. Seminar Nasional Teknologi Komputer & Sains (SAINTEKS).
Herujito, Yayat M. 2001. Dasar-Dasar Manajemen. Gramedia Widiasarana Indonesia: Jakarta.
Muhammad. 2002. Manajemen Pembiayaan Bank Syariah. UPP AMP YKPN: Yogyakarta.
Novita, D. 2019. Manajemen Risiko Kepatuhan Pada Perbankan Syariah Di Indonesia. Eksisbank, 3(1): 49–65.
Robbins, P. Stephen. 1999. Management. Sixth Edition Edisi Bahasa Indonesia, Penerjemah T.
Hermaya. Prenhallindo: Jakarta.
Putra, Robby Yudia. 2020. Pengelolaan Risiko Kepatuhan pada Perbankan Syariah. Jurist-Diction, 3(2): 687.
Republik Indonesia. 2011. Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/2/PBI/2011 Tentang Pelaksanaan Fungsi Kepatuhan Bank Umum. 1–9. www.bi.go.id
Riduan, Karim. 2004. Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko. Jurnal Iqtisad: Bandung.
Sumar in. 2012. Konsep Kelembagaan Bank Syari'ah. Graha Ilmu: Yogyakarta.
Wahyudi, Imam dkk. 2013. Manajemen Risiko Bank Islam. Salemba Empat: Jakarta.
Wikipedia, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kepatuhan, diakses pada 2020.
Weeks, D. P. C. C. L. E. Y. N. to K. in 20. 2015. Global Terorist Daraset Dk. 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004