NASIONAL
TESIS
Oleh :
MOHAMMAD MASDUKI N.P.M: 21902021021
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM MALANG
MALANG 2021
vi
M. Masduki Abdul Rokhim Suratman
Abstrak
Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Menurut perhitungan statistik yang dikeluarkan pemerintah, 87,18 persen penduduk Indonesia adalah muslim. Namun demikian sistem hukum yang berlaku adalah sistem hukum Eropa Kontinental, sistem hukum anglo saxon, dan sebagian kecil hukum adat dan hukum Islam. Yusril Ihza Mahendra merupakan salah satu tokoh nasional dan pakar hukum tata negara, yang tertarik dalam persoalan transformasi Syari’at Islam ke dalam Hukum Nasional.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Syariat Islam, Menganalisis Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Hukum Islam sebagai Sumber Hukum Nasional dan Menganalisis Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Transformasi Syariat Islam ke dalam Hukum Nasional. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum normatif.
Sehingga metode pengambilan bahan hukum menggunakan metode kepustakaan yang diperkuat dengan wawancara langsung.
Batasan pengertian Syariah Islam menurut Prof Yusril Ihza Mahendra adalah ayat-ayat Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah SAW yang di dalamnya mengandung suatu norma hukum. Apabila suatu ayat atau hadits Rasulullah SAW tidak mengandung suatu norma hukum, maka ayat atau hadits tersebut tidak termasuk sebagai syari’at yang dimaksud dalam penelitian ini. Menurut Pemikiran Yusril Ihza Mahendra, sepanjang telaahnya tentang sejarah hukum di Indonesia sejak berabad-abad yang lalu hukum Islam telah menjadi hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Islam di Indonesia. Hukum Islam di Indonesia adalah hukum yang hidup, berkembang, dikenal dan ditaati oleh umat Islam di negara ini. Yusril Ihza Mahendra mengatakan transformasi Syari’at Islam ke Hukum Nasional sangat relevan untuk dilaksanakan, karena hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.
Diperlukan berbagai proses perumusan. Yaitu dengan memformulasikan kaidah-kaidah hukum islam, dan menuangkannya menjadi sesuatu yang dapat dilaksanakan dalam kenyataan. Selain itu diperlukan institusi-institusi kekuasaan yang disebut dengan negara atau daulah yang sah untuk membentuk dan menegakkan suatu norma hukum, bila perlu dengan paksaan, supaya norma hukum itu dapat dijalankan dan dipatuhi oleh publik. Lebih jauh, proses pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan sebuah proses politik.
Hal ini memerlukan kesadaran dengan menumbuhkan jiwa Islami kepada para penguasa, karena mereka yang punya hak dalam perancangan suatu peraturan atau perundang-undangan.
vii
Keywords: Transformation, Islamic Sharia, National Law
M. Masduki Abdul Rokhim Suratman
Abstraks
Indonesia is a muslim-majority country. According to the government's statistical calculations, 87.18 percent of Indonesians are Muslims. However, the prevailing legal system is the Continental European legal system, the Anglo Saxon legal system, and a small part of customary law and Islamic law. Yusril Ihza Mahendra is one of the national figures and experts in constitutional law, who is interested in the issue of the transformation of Islamic Sharia into National Law.
The purpose of this study is to analyze Yusril Ihza Mahendra's thoughts on Islamic Sharia, Analyze Yusril Ihza Mahendra's Thoughts on Islamic Law as a Source of National Law and Analyze Yusril Ihza Mahendra's Thoughts on The Transformation of Islamic Sharia into National Law. This study uses a type of normative legal research. So the method of taking legal materials using the library method is reinforced by live interviews.
The limitations of islamic sharia according to Prof. Yusril Ihza Mahendra are verses of the Qur'an and hadiths of the Prophet (pbuh) in which it contains a legal norm. If a verse or hadith of the Prophet (pbuh) does not contain a legal norm, then the verse or hadith is not included as the shari'a referred to in this study. According to Yusril Ihza Mahendra, throughout his study of the history of law in Indonesia since centuries ago Islamic law has become a law that lives in the midst of Islamic society in Indonesia. Islamic law in Indonesia is a law that lives, develops, is known and obeyed by Muslims in this country. Yusril Ihza Mahendra said the transformation of Islamic Sharia to National Law is very relevant to be implemented, because Islamic law is a law that lives in the midst of Indonesian society that is majority Muslim.
Various formulation processes are required. That is by formulating the rules of Islamic law, and pouring them into something that can be implemented in reality. In addition, it is necessary for institutions of power called the state or daulah that are valid to establish and enforce a legal norm, if necessary by force, so that the legal norms can be carried out and obeyed by the public.
Furthermore, the process of establishing legislation is a political process. This requires awareness by cultivating the Islamic soul to the rulers, because those who have the right in the design of a rule or legislation.
1 1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam.
Menurut perhitungan statistik resmi yang dikeluarkan pemerintah, 87,18 persen penduduk Indonesia adalah muslim.1 Namun demikian sistem hukum yang berlaku adalah sistem hukum Eropa Kontinental (civil law system), sistem hukum anglo saxon (common law system), dan sebagian kecil hukum adat dan hukum Islam.2 Dalam pemikiran Yusril Ihza Mahendra Hukum Islam adalah the living law atau hukum yang hidup ditengah-tengah masyarakat3. Hukum Islam bukan ius constitutum (hukum yang berlaku saat ini atau hukum positif) dan bukan pula ius constituendum (hukum yang dicita-citakan atau yang diangan- angankan di masa mendatang). Hukum positif adalah hukum yang diformulasikan oleh negara dan dalam pelaksanaannya tegas dinyatakan berlaku atau tidak berlaku lagi. Sedangkan the living law tidak diformulasikan oleh negara, tetapi hukum tersebut hidup di dalam alam pikiran dan kesadaran hukum masyarakat.
Secara teoritis, ada perbedaan antara “hukum positif” dengan “hukum yang hidup”. Hukum positif (tertulis) disahkan keberlakuannya oleh negara berdasarkan prosedur yang ditentukan konstitusi atau aturan-aturan lain yang berlaku di suatu negara. Sehingga dapat dikatakan hukum positif adalah produk
1 BPS. 2010. Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang dianut.
https://sp2010.bps.go.id/ index.php/site/ tabel?tid=321&wid=0. 03/11/2020
2 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya, 2000, hlm. 235
3 Abbas, Hafid, et.all, Ensiklopedia Pemikiran Yusril Ihza Mahendra, Buku Tiga, Jakarta: Pro Deleader. hlm. 7
dari kekuatan-kekuatan politik yang melahirkannya. Sedangkan hukum yang hidup adalah hukum yang tersosialisasikan dan diterima oleh masyarakat secara persuasif, karena dianggap sesuai dengan kesadaran hukum dan keadilan.
Dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pada masa lampau, upaya untuk menerapkan ajaran-ajaran dan hukum Islam mendapat dukungan besar, baik dari kalangan para ulama’, penguasa politik, bahkan raja- raja dan para sultan4. Berbagai kitab hukum ditulis oleh para ulama’, kerajaan dan kesultanan pada masa tersebut dan juga telah menjadikan hukum Islam dibidang hukum keluarga dan hukum perdata sebagai hukum positif yang berlaku. Selain itu kerajaan juga membangun masjid besar di ibu kota negara.
Pada abad ke-17 Pelaksanaan hukum Islam juga dilakukan oleh para penghulu dan para kadi didaerah sekitar Batavia, masyarakat islam setempat mengangkat sendiri para penghulu dan para kadi apabila tidak terdapat kekuasaan politik formal yang mendukung pelaksanaan ajaran dan hukum Islam.
Di pulau Jawa, masyarakat Jawa, Sunda, dan Banten mengembangkan hukum Islam melalui Pendidikan sebagai mata pelajaran penting di pondok-pondok pesantren.
Di masa sebelum kemerdekaan, dalam sidang BPUPKI tokoh-tokoh Islam menginginkan agar di negara Indonesia harus berdasarkan atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, seperti yang disepakati dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945, namun kalimat ini dihilangkan setelah terjadi keberatan dari para tokoh Indonesia bagian timur atas pemakaian kata tersebut. Hal ini disampaikan oleh seorang perwira angkatan Laut Jepang kepada Mohammad Hatta pada sore hari tanggal 17 Agustus 1945.
4 Ibid, hlm 21
Untuk menghindari perpecahan, keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang PPKI dimulai, Hatta mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh Islam, yakni KH Abdul Wahid Hasyim, Teuku Muhammad Hasan, dan Ki Bagus Hadikusumo tentang rencana perubahan kata-kata dalam Piagam Jakarta. Akhirnya ketiga tokoh tersebut menerima penghapusan tujuh kata menjadi Ketuhanan yang Maha Esa dan berlaku hingga saat ini.5 Dengan melihat sejarah hukum Islam yang berkembang di Indonesia sejak dulu sudah seharusnya ajaran Islam menjadi sumber hukum dalam pembangunan hukum nasional.
Islam sebagai agama universal, mengandung aspek-aspek keruhanian yang berhubungan dengan iman dan moralitas, pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan menyangkut berbagai aspek dalam tata hubungan antarbangsa.
Syari,at Islam menurut Ibnu Taymiyyah merupakan keseluruhan ajaran Islam yang dijumpai didalam Al Qur-an dan Al Hadits. Sedangkan menurut Zainuddin Ali, Syariat Islam tidak hanya memuat hukum-hukum shalat, zakat, puasa, melainkan juga mengandung hukum-hukum dunia baik keperdataan maupun kepidanaan yang memerlukan kekuasaan negara untuk menjalankannya secara sempurna.6
Pengaruh Hukum Islam di bidang hukum keluarga dirasakan lebih besar oleh masyarakat dibandingkan dengan bidang-bidang hukum lainnya. Bidang hukum keluarga yang mengatur tentang hukum perkawinan, perwalian, dan kewarisan. Di dalam bidang hukum keluarga, hukum Islam menjadi kesadaran
5 Fathoni R.S. Piagam Jakarta 22 Juni 1945. 2018.https://wawasansejarah.com/
piagam-jakarta/. 03/11/2020
6Ali, Zainuddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Cetakan kelima, Jakarta:
Remaja Rosdakarya, 2006, hlm. 2
hukum yang berlaku secara langsung bagi penduduk yang beragama Islam.
Sehingga pemerintah dan badan-badan perwakilan tidak mempunyai pilihan lain selain mengangkat status hukum Islam di bidang ini menjadi hukum nasional yang berlaku khusus bagi penduduk yang beragama Islam.
Jika dibandingkan dengan kecepatan perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, Pembangunan hukum di Indonesia terasa berjalan lamban.
Kelambanan tersebut terjadi pada pembangunan materi hukum, yaitu menciptakan produk-produk hukum baru untuk memenuhi kebutuhan hukum masyarakat, juga dalam pembangunan aparatur hukum serta pengadaan sarana dan prasarana hukum.7
Menurut berbagai kajian ilmiah untuk mencapai mekanisme hukum yang kuat diperlukan adanya keraturan sosial, ketertiban, dan kepastian hukum.
Sehingga hukum yang kuat tersebut akan berdampak pada kemajuan dalam pembangunan ekonomi.
Berdasarkan uraian di atas, sudah seharusnya bangsa Indonesia memiliki pijakan hukum yang kuat yang berlandaskan atas mayoritas agama yang dianut oleh masyarakatnya. Islam sebagai agama mayoritas yang hukumnya telah hidup, tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat sudah selayaknya menjadi sumber rujukan bagi pembaharuan hukum nasional.
Yusril Ihza Mahendra merupakan salah satu tokoh nasional dan pakar hukum tata negara, yang tertarik dalam persoalan transformasi syariat Islam ke dalam hukum Nasional. Pemikiran dan karya-karya dalam mentransformasi syariat Islam ke dalam Hukum Nasional telah banyak memberikan perubahan dalam pembangunan hukum di Indonesia baik selama berada di dalam kabinet
7 Abbas, Hafid, et.al, op. cit., hlm 23
Pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Bagaimana pandangan dan pemikiran besar seorang Prof. Yusril Ihza Mahendra terkait syariat Islam sebagai sumber hukum pembangunan hukum nasional, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang “PEMIKIRAN PROF. YUSRIL IHZA MAHENDRA TENTANG TRANSFORMASI SYARI’AT ISLAM KE DALAM HUKUM NASIONAL”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, serta untuk menghindari penyimpangan dalam pembahasan yang tidak sesuai dengan inti persoalan yang akan dikaji pada penelitian ini, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1) Bagaimana Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Syari’at Islam?
2) Bagaimana Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Hukum Islam sebagai Sumber Hukum Nasional?
3) Bagaimana Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Transformasi Syari’at Islam ke dalam Hukum Nasional?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1) Menganalisis Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Syari’at Islam
2) Menganalisis Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Hukum Islam sebagai Sumber Hukum Nasional
3) Menganalisis Pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Transformasi Syari’at Islam ke dalam Hukum Nasional
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang ingin dicapai oleh peneliti adalah sebagai berikut : 1) Manfaat Teoritis.
a. Bagi peneliti lainnya, hasil penelitian ini dapat sebagai sumber teori dalam mengembangkan penelitian berikutnya tentang transformasi syari’at Islam ke dalam Hukum Nasional.
b. Bagi mahasiswa, untuk menambah khasanah keilmuan dan pengembangan ilmu hukum khususnya hukum Islam terhadap hukum nasional.
2) Manfaat Praktis.
a. Bagi masyarakat, hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas, khususnya bagi ummat Islam untuk memahami transformasi syari’at Islam ke dalam Hukum Nasional.
b. Bagi pemerintah, untuk kepentingan pembangunan hukum nasional yang berlandaskan hukum Islam.
1.5 Orisinalitas Peneleitian
Orisinalitas penelitian menyajikan perbedaan dan persamaan bidang kajian yang diteliti antara peniliti dengan peneliti-peneliti sebelumnya. Oleh karena itu penulis mengambil empat sampel penelitian terdahulu yang memiliki kesamaan masalah dan topik yang akan dilakukan penulis untuk dijadikan perbandingan agar terlihat keorisinalitas dari penulis.
1) Muwahid (2012),8 dalam penelitiannya yang berjudul “Transformasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional”. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa transformasi hukum Islam telah dilakukan dalam beberapa peraturan perundang-undangan seperti undang-undang perkawinan, undang-undang perbankan syariah dan undang-undang tentang asuransi syariah. Namun belum sepenuhnya dilakukan terhadap hukum pidana karena masih terdapat pertentangan dikalangan ahli hukum. Dalam penelitian tersebut peneliti lebih mengutamakan transformasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional secara umum. Sedangkan dalam penelitian ini peniliti akan memfokuskan studi pemikiran Yusril Ihza Mahendra tentang Transformasi Hukum Islam ke dalam Sistem Hukum Nasional.
2) Pardjaman Rahmawati (2013)9, Dalam penelitiannya yang berjudul
“Transformasi Nilai-nilai Syariah ke dalam Sistem Hukum Nasional (Sebuah Pendekatan Hermeneutika)”. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa penerapan hukum islam yang masuk ke dalam tata hukum negara Indonesia merupakan suatu keniscayaan karena selain mayoritas penduduknya beragama Islam, akar historis sejarah menyebutkan hukum Islam sudah dapat diterima dan dijalankan dengan penuh kesadaran oleh masyarakatnya.
Dalam penelitian tersebut peniliti menggunakan pendekatan Hermeneutika.
Sedangkan dalam penelitian ini akan menggunakan historis (historial approach) dan pendekatan konsep (coceptual approach).
8 Muwahid. “Transformasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional”. Al- Manahij Jurnal Kajian Hukum Islam Vol. VI No.2, Juli 2012.
9 Pardjaman, Rahmawati. “Transformasi Nila-nilai Syariah Ke dalam Sistem Hukum Nasional (Sebuah Pendekatan Hermeneutika”, AL-‘ADALAH Vol. XI. No.2 Juli 2013.
3) Tohari Chamim (2015),10 dalam penelitiannya yang berjudul “Transformasi Hukum Islam dalam Sistem Tata Hukum di Indonesia”. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa formalisasi konsep fiqh yang bernuansa keindonesiaan telah menghasilkan beberapa produk peraturan perundang-undangan penting secara formil maupun materiil, seperti UU tentang Hukum Perkawinan Islam, dan juga peraturan lain di bawah undang-undang, seperti PP, Inpres, Peraturan Mahkamah Agung, Kompilasi Hukum Islam, dan Hukum Ekonomi Syariah. Dalam penelitian tersebut peneliti menggunakan sumber penelitian dari konsep fiqh yang bernuansa keindonesiaan.
Sedangkan dalam penelitian ini peneliti akan fokus pada pemikiran Yusril Ihza Mahendra dalam mentransformasi Hukum Islam ke dalam Hukum Nasional.
4) Siregar Dinda Dewani (2018),11 dalam penelitiannya yang berjudul Transformasi Syari’at Islam ke Hukum Nasional (Studi Tentang Pemikiran Yusril Ihza Mahendra dalam Buku Ensiklopedia Pemikiran Yusril Ihza Mahendra). Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa proses transformasi syariat Islam ke hukum nasional menurut yusril telah lama berlangsung, mulai dari Indonesia belum merdeka sampai Indonesia Merdeka. Terutama dalam bidang hukum perdata, namun belum dilaksanakan dalam hukum pidana. Cara untuk pentransformasian syariat Islam ke hukum nasional adalah dengan menumbuhkan jiwa islami kepada para penguasa, karena mereka yang mempunyai hak dalam perancangan suatu peraturan atau
10 Tohari, Chamim. “Fiqh Keindonesiaan : Transformasi Hukum Islam dalam Sistem Tata Hukum di Indonesia”. Jurnal Studi Keislaman Vol. 15 Nomor 2, Desember 2015.
11 Siregar, Dinda Dewani. “Transformasi Syariat Islam ke Hukum Nasioanal (Studi Tentang Pemikiran Yusril Ihza Mahendra dalam Buku Ensiklopedia Pemikiran Yusril Ihza Mahendra)”, Skripsi. 2018. Universitas Sumatera Utara.
perundang-undangan. Transformasi syariat Islam ke Hukum Nasional sangat relevan untuk dilaksanakan karena hukum Islam adalah hukum yang hidup ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Dalam penelitian tersebut peneliti hanya terbatas mengambil sumber penelitian dari Buku Ensiklopedia Pemikiran Yusril Ihza Mahendra yang terbit pada tahun 2016. Sedangkan dalam tesis ini peneliti akan mengambil data lain baik melalui komunikasi langsung melalui media elektronik maupun dari sumber lain seperti buku, media yang memuat tentang tulisan Yusril Ihza Mahendra sehingga lebih mendalam lagi terkait Transformasi Syariah Islam ke dalam Hukum Nasional.
Berdasarkan beberapa sampel penelitian terdahulu diatas, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa penelitian mengenai Pemikiran Prof. Yusril Ihza Mahendra tentang Transformasi Syari’at Islam kedalam Hukum Nasional ini belum pernah dilakukan sebelumnya dan karena itu penelitian ini orisinil.
1.6 Kerangka Teori dan Konseptual
Hukum Islam lebih bersifat teokratis, yaitu hukum yang datang dari Tuhan, bukan datang dari kesadaran hukum masyarakat dan juga bukan dari kekuasaan, kewenangan, dan kedaulatan negara.12 Menurut Ushul Fiqh Al Hukmu berarti kitabullah (Titah Allah) yang mengatur perbuatan manusia, baik berupa perintah untuk melakukan sesuatu maupun larangan untuk melakukan sesuatu.
Bagi Ummat Islam, Hukum Islam menjadi sangat penting karena sebagai petunjuk dalam menghadapi masalah kehidupan dan juga sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan. Sehingga hukum Islam sangat berpengaruh dalam membangun tatanan sosial dan kehidupan kemasyarakatan.
12 R. Otje Salman. Ikhtisar Filsafat Hukum (Bandung : ARMICO, 1987), hlm. 8
Para pakar hukum Islam berbeda-beda dalam memasukkan jumlah teori yang bisa diterapkan dalam hukum Islam. Ada enam macam teori eksistensi hukum Islam di Indonesia, yaitu:13
1.6.1 Teori Receptio in complexu
Teori Receptio in complexu dipelopori oleh L.W.C Van den Berg (1845- 1927). Van den Berg mengemukakan orang Islam di Indonesia telah menerima hukum Islam secara menyeluruh. Contohnya Statuta Batavia (Jakarta) 1642 menyebutkan bahwa sengketa warisan antara orang pribumi yang beragama Islam harus diselesaikan dengan menggunakan hukum Islam. untuk keperluan tersebut D.W. Freijer menyusun Compendium yaitu buku yang memuat hukum perkawinan dan hukum warisan Islam. Buku ini direvisi dan disempurnakan oleh para penghulu dan diberlakukan di daerah jajahan VOC. Buku ini dikenal dengan sebutan Compendium Freijer.14
1.6.2 Teori Receptie
Teori Receptie dipelopori oleh Christian Snouck Hurgronje (1857-1936).
Menurutnya hukum Islam bukanlah hukum, karena hukum Islam baru dikatakan hukum kalau diterima oleh hukum adat, menurut teori ini yang menentukan berlakunya hukum Islam adalah hukum adat. Dalam artian jika hukum Islam tidak bertentangan dengan hukum adat maka dapat diterapkan. Contohnya hukum pidana Islam yang bersumber dari Al Qur-an dan hadits tidak mempunyai tempat eksekusi bila hukum yang dimaksud tidak diundangkan di Negara
13 Ali, Muhammad Daud. Hukum Islam dan Peradilan Agama, Cet. I; Jakarta Raja Grafindo Persada, 1997. hlm. 81-84
14 Ali, Muhammad Daud, 1991, Asas-asas Hukum Islam; Pengantar Ilmu Hukum dan TataHukumdi Indonesia, Jakarta : Rajawali Press hlm. 71-81
Republik Indonesia. Hukum pidana Islam belum pernah berlaku pada pemeluknya secara ketatanegaraan di Indonesia sejak merdeka sampai saat ini.
Dalam teori ini, nampaknya menginginkan orang-orang pribumi untuk tidak memakai hukum Islam. Supriadi,15 mengatakan teori ini berpijak pada asumsi dan pemikiran bahwa kalau orang pribumi mempunyai kebudayaan yang sama/dekat dengan kebudayaan eropa maka penjajahan atas Indonesia akan berjalan dengan baik dan tidak ada timbul hambatan dan goncangan terhadap pemerintah Hindia Belanda.
1.6.3 Teori Receptie Exit
Teori ini dipelopori oleh Hazairin yang menentang teori Receptie dari Christian Snouck Hurgronje. Menurut Hazairin teori Receptie adalah teori iblis karena bertentangan dengan Al Qur-an dan Hadits. Beliau menyebutkan dengan berlakunya UUD 1945 sebagai dasar negara, maka teori receptio telah patah dan tidak berlaku lagi dan keluar dari tatanegara Indonesia. Teori Hazairin ini dikembangkan oleh muridnya Sayuthi Thalib yang menulis buku Receptie a Contrario.
1.6.4 Teori Receptie a Contrario
Menurut teori ini, hukum adat dapat berlaku dalam masyarakat muslim asal tidak bertentangan dengan hukum Islam.16 Teori ini dikembangkan secara sistematis dan dipraktekkan oleh murid-murid Hazairin.
15Supriyadi, Dedi, 2010, Sejarah Hukum Islam (Dari Kawasan Jazirah Arab Sampai Indonesia), Bandung : Pustaka Setia hlm 315
16Ali, Zainuddin, 1998, Islam Tekstual dan Kontekstual ; Suatu Kajian Aqidah,Syari’ah dan Akhlak, Makasar : Yayasan Al-Ahkam hlm 41
1.6.5 Teori Recoin
Teori Recoin dikemukakan oleh Dr. Afdhol seorang pakar hukum dari Universitas Airlangga Surabaya. Inti dari teori ini adalah penafsiran konstektual terhadap tekstual ayat Al Qur-an . Menurutnya teori recoin didasarkan pada hasil penelitian tentang waris Islam dimana pembagian waris laki-laki dua kali bagian dari perempuan. Dengan menggunakan interpretasi secara tekstual, ayat tersebut secara rasional dapat dinilai tidak adil, namun berbeda jika ayat tersebut ditafsirkan secara kontekstual.
1.6.6 Teori Kredo/Syahadat
Teori Kredo/Syahadat dikemukakan oleh Juhaya. Menurutnya teori ini merupakan kelanjutan dari prinsip tauhid dalam filsafat hukum Islam. Bahwa prinsip tauhid menghendaki setiap orang yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT. Maka harus tunduk dan patuh apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Teori ini sama dengan teori otoritas hukum yang dikemukakan oleh H.A.R. Gibb, menurutnya seorang muslim apabila telah menerima Islam sebagai agamanya maka akan menerima segala otoritas hukum terhadap dirinya.
Indasari Dewi (tanpa tahun) dalam jurnalnya mengemukakan hukum Islam di Indonesia menempati posisi sebagai hukum yang ada di masyarakat. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tiga faktor :
1) Dipandang dari sudut dasar Filosofis
“Subtansi segi-segi normatif ajaran Islam di Indonesia melahirkan sikap epistimologis yang mempunyai sumbangan besar bagi tumbuhnya pandangan hidup cita moral dan cita hukum dalam kehidupan sosio kultural
masyarakat. Proses demikian berjalan sesuai dengan tingkat pemahaman keagamaan sehingga memantulkan korelasi antara ajaran Islam dan realitas sosial dan fenomena norma fundamental”.
2) Dipandang dari sudut dasar Sosiologis
“Sejarah masyarkat Islam Indonesia menunjukkan bahwa cita dan kesadaran hukum dalam kaitannya dengan kehidupan ke-Islaman memiliki tingkat aktualitas yang berkesinambungan”.
3) Dipandang dari sudut yuridis
“Sejarah hukum indonesia mencatat perjalanan tata hukum kolonialisme yang sarat dengan cita kolonialismenya tidak mampu membendung arus tuntunan layanan masyarakat Islam sehingga hukum Islam diberikan tempat dalam tata hukumnya. Eksistensi hukum Islam tersalurkan secara konstitusional melalui Pasal II Aturan Peralihan UUD 1945”.
Berdasarkan uraian ketiga faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan hukum dapat dibentuk oleh perilaku dalam suatu kelompok masyarakat. Hukum Islam sebagai hukum yang mengatur tentang teori eksistensialisme, artinya hukum tersebut dapat diakui apabila ada interaksi yang tetap eksis antara hukum dan penganutnya.
1.7 Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang optimal maka pembahasannya harus secara runtut, utuh dan sistematis agar mudah dipahami. Penulisan tesis ini terdiri dari lima bab, yang di dalamnya terdiri dari sub-sub bab sebagai perinciannya. Adapun sistematika pembahasannya adalah sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan, menjelaskan secara umum gambaran latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, Orisinalitas Penelitian, Kerangka Teori dan Konseptual, dan sistematika penulisan.
BAB II Tinjauan Pustaka, Merupakan landasan awal dalam penelitian yang memuat paparan dan uraian mengenai Pengertian Hukum Islam, Prinsip-prinsip Hukum Islam, Tujuan Hukum Islam, Syariat Islam sebagai Sumber Hukum, Sejarah Hukum Islam di Indonesia, Mazhab-mazhab Hukum Islam di Indonesia, Pengertian dan Jenis-jenis Transformasi Hukum Islam, Transformasi Hukum Islam di Indonesia, dan Biografi Prof. Yusril Ihza Mahendra tentang Perjalanan Hidup dan Pemikirannya.
BAB III Metode Penelitian, Pada bab ini berisi uraian tentang jenis penelitian dan pendekatan yang digunakan, dan data bahan hukum yang diperlukan. Cara mengumpulkan data dan bahan hukum, serta analisis yang akan dilakukan untuk menjawab masalah atau isu hukum yang diangkat.
BAB IV Hasil Penelitian dan Pembahasan, Pada bab ini akan menguraikan dan menjelaskan tentang paparan Yusril Ihza Mahendra tentang Pemikiran tentang Syariat Islam, Hukum Islam sebagai sumber hukum nasional, dan transformasi Syariat Islam ke dalam Hukum Nasional.
BAB V Penutup, berisi kesimpulan dan saran-saran sebagai sumbangan pemikiran dari penulis.
87 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan dalam penelitian ini sebagaimana diuraikan dalam bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut:
1) Menurut Prof. Yusril Ihza Mahendra pengertian dan batasan Syari’at Islam dalam kaitan dengan penelitian ini adalah ayat-ayat Al Qur-an dan hadits- hadits Rasulullah SAW yang di dalamnya mengandung suatu norma hukum.
Apabila suatu ayat atau hadits Rasulullah SAW tidak mengandung suatu norma hukum, maka ayat atau hadits tersebut tidak termasuk sebagai syari’at.
2) Menurut pemikiran Yusril Ihza Mahendra, sepanjang telaahnya tentang sejarah hukum di Indonesia, sejak berabad-abad yang lalu hukum Islam telah menjadi hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Islam di Indonesia.
Hukum Islam adalah hukum yang hidup, berkembang, dikenal dan ditaati oleh umat Islam di negara ini.
3) Menurut pemikiran Yusril Ihza Mahendra transformasi syari’at Islam ke hukum nasional sangat relevan untuk dilaksanakan. Mengingat bahwa Indonesia adalah negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Tentu dalam pembuatan suatu undang-undang akan berjalan dengan baik dan efektif apabila tidak bertentangan dengan keyakinan masyarakat itu sendiri. Karena hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Namun demikian, pentransformasian syari’at Islam ke dalam hukum nasional itu
memerlukan berbagai proses perumusan. Yaitu dengan memformulasikan kaidah-kaidah hukum islam, kemudian menuangkannya menjadi sesuatu yang dapat dilaksanakan dalam kenyataan. Selain itu diperlukan banyak hal, baik secara sosiologis maupun politis. Yaitu, memerlukan institusi-institusi, lembaga-lembaga, dan organiasi kekuasaan, yang disebut dengan negara atau daulah yang sah untuk membentuk dan menegakkan suatu norma hukum, bila perlu dengan paksaan, supaya norma hukum itu dapat dijalankan dan dipatuhi oleh publik. Lebih jauh, proses pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan sebuah proses politik. Hal ini memerlukan kesadaran dengan menumbuhkan jiwa Islami kepada para penguasa, karena mereka yang punya hak dalam perancangan suatu peraturan atau perundang- undangan.
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, sebagai sumbangan pemikiran peneliti ingin memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1) Terkait dengan pengertian dan batasan Syari’at Islam:
a) Disarankan kepada seluruh umat Islam untuk dapat lebih memahami pengertian, batasan, dan makna syari’at Islam baik secara umum, maupun secara khusus yakni ayat-ayat Al Qur-an dan hadits-hadits Rasulullah SAW yang di dalamnya mengandung suatu norma hukum.
b) Diharapkan kepada para akademisi, intelektual, cendekiawan, dan ulama’
baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, untuk terus melakukan kajian dan pendalaman terkait pengertian dan batasan syari’at Islam dan
mensosialisasikan kepada masyarakat supaya terbentuk pemahaman yang benar dan utuh.
2) Disarankan agar umat Islam Indonesia dapat lebih memahami sejarah hukum Islam di Indonesia. Bahwa hukum Islam telah menjadi hukum yang hidup di tengah-tengah masyarakat Islam di Indonesia. Dengan pemahaman sejarah yang cukup maka hukum Islam akan terus menjadi hukum yang hidup, tumbuh, berkembang, dikenal dan ditaati oleh umat Islam di negara ini.
3) Terkait dengan pemikiran dan gagasan transformasi syari’at Islam ke hukum nasional:
a) Disarankan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk lebih memahami, menjaga, mendalami, dan mentaati ajaran agamanya. Dengan demikian diharapkan nilai-nilai agama dapat dengan mudah ditransformasikan ke dalam hukum nasional sehingga agama sebagai petunjuk bagi manusia dapat terwujud dan dirasakan dalam kenyataan.
b) Diharapkan kepada para akademisi, intelektual, cendekiawan, dan ulama’
baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, untuk terus melakukan kajian, pendalaman, dan eksplorasi prinsip-prinsip, kaidah-kaidah, dan norma-norma hukum yang terkandung didalam sumber-sumber hukum Islam, memformulasikan dan menuangkannya kedalam bentuk yang dapat dilaksanakan dalam kenyatan. Sehingga proses transformasi syari’at Islam ke dalam hukum nasional dapat berjalan dengan sebaik- baiknya.
c) Diharapkan kepada para penguasa dan pejabat negara untuk terus menanamkan kesadaran dengan menumbuhkan jiwa Islami didalam dirinya, karena merekalah yang memiliki hak konstitusional dalam
melakukan perancangan suatu peraturan atau perundang-undangan.
Sehingga proses transformasi syari’at Islam ke dalam hukum nasional dapat berjalan tanpa hambatan legislasi dan politik hukum.
d) Diharapkan kepada para akademisi, intelektual, cendekiawan, ulama’, penguasa, dan pejabat negara baik secara formal maupun informal untuk terus melakukan dan mengembangkan dialog dan silaturrahim keilmuan dan kebangsaan untuk membangun sinergitas dan kesamaan persepsi didalam membangun sistem hukum nasional yang baik dengan melakukan transformasi syari’at Islam ke dalam hukum nasinal.
e) Disarankan dan diharapkan kepada mahasiswa dan akademisi untuk melakukan penelitian-penelitian lanjutan dari tema penelitian ini untuk dapat lebih menyempurnakan, mengembangkan dan menemukan teori- teori baru yang lebih efektif untuk menguatkan upaya-upaya transformasi syari’at Islam ke dalam hukum nasional.
f) Diharapkan kepada dunia pendidikan pada umumnya, dan khususnya perguruan tinggi dan pondok pesantren untuk terus mendorong bagi dilakukannya penelitian-penelitian terkait tema transformasi syari’at Islam ke dalam hukum nasional.
91 Buku:
Abbas, Hafid, et.all. 2016. Ensiklopedia Pemikiran Yusril Ihza Mahendra Buku Tiga, Jakarta, Pro Deleader.
Abdul Azis Dahlan et al, Ensiklopedi Hukum Islam, Jilid 2 (Cet. ke-7: Jakarta:
Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2006).
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2004),
Ali, Mohammad Daud. Hukum Islam, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam din Indonesia. Cet. XVI; Jakarta: PT.Rajagrafindo Persada, 2011.
Ali, Zainuddin, 2006. Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta, Remaja Rosdakarya Cetakan kelima.
Al-Qattan, Manna’ Khalil, At-Tasyri’ wa al-Fiqh fi al-Islam: Tarikhan wa Manhajan, (ttt: Maktabah Wahbah, 1976)
Dedi Supriyadi, 2010, Sejarah Hukum Islam (dari Kawasan Jazirah Arab sampai Indonesia), Bandung : Pustaka Setia
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta: Pusat Bahasa, 2008),
Firdaus Syam, Yusril Ihza Mahendra Perjalanan Hidup Pemikiran dan Tindakan Politik, Cetakan Pertama, Jakarta, Millennium Publisher 2004,
Gurvitch, Georges, Sosiologi Hukum, terj. Sumantri Mertodipuro dan Moh. Radjab (Jakarta: Penerbit Bhratara, 1988)
H.A. Khisni, Transformasi Hukum Islam ke Dalam Hukum Nasional, Cetakan Pertama Semarang: UNISSULA Press,
Hartono Mardjono, Menegakkan Syariat Islam dalam Konteks Keindonesiaan, (Bandung: Mizan, 1997)
Juhaya S. Praja, Filsafat Hukum Islam, Bandung: Pusat Penerbit LPPM Universitas Islam Bandung, 1995,
Kholid Novianto & Al-Chaidar. Era Baru Indonesia: Sosialisasi Pemikira, Jakarta, Rajawali Pers, 1999
M. Hasbi As-Shiddieqy, Pengantar Ilmu Fiqih, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978) Mahfud MD, Moh., Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia (Yogyakarta: Gama
Media, 1999)
Mahmud Syaltut, al-Islâm: ‘Aqîdah wa Syarî’ah, (ttt: Dâr al-Qalam, 1966)
Mardani. Hukum Islam : Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Yogyakarta:
Pustaka Belajar, 2015
Marzuki Wahid dan Rumadi, Fiqh Madzhab Negara: Kritik atas Politik Hukum di Indonesia, Cet.1 (Yogyakarta: LKiS, 2001)
Moh. Mahfud MD, Dasar dan Struktur ketatanegaraan Indonesia, (Jakarta : PT.
Rineka Cipta,2001),
Mohammad Daud Ali, Hukum Islam Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Islam di Indonesia. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993)
Neneng Komariah, Peran Yusril Ihza Mahendra Dalam Partai Bulan Bintang di Indonesia Pada Tahun 1998-2009, (Jakarta : skripsi Universias Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011),
R. Otje Salman. Ikhtisar Filsafat Hukum (Bandung : ARMICO, 1987),
Rahmat Rosyadi, Formalisasi Syariat Islam dalam Persfektif Tata Hukum Indonesia, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2006)
Rifyal Ka’bah, 2016. Penegakan Syariat Islam di Indonesia. Cetakan Kedua.
Jakarta Timur, Rifayal Ka’bah Foundation Publisher.
Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001)
Saifullah, Konsep Dasar Metode Penelitian dalam Proposal Skripsi (Hand Out, Fakultas Syariah UIN Malang, 2004),
Satjipto Rahardjo, 2000. Ilmu Hukum. Bandung : Citra Aditya
Siregar, Dinda Dewani. 2018. “Transformasi Syariat Islam ke Hukum Nasioanal (Studi Tentang Pemikiran Yusril Ihza Mahendra dalam Buku Ensiklopedia Pemikiran Yusril Ihza Mahendra)”, Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi Hukum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994)
Suratman & H. Philips Dillah. 2015. Metode Penelitian Hukum. Bandung, Alfabeta Syam, Firdaus. 2004. Yusril Ihza Mahendra Perjalanan Hidup, Pemikiran dan
Tindakan Politik, Jakarta, Millennium Publisher
Warkum Sumitro, Perkembangan Hukum Islam di Tengah Kehidupan Sosial Politik di Indonesia (Cet. I; Malang: Bayumedia, 2005),
Yusril Ihza Mahendra, 2010. Kenang-Kenangan Masa Kecil. Depok, Pustaka ar- Rayhan
---, 2010. Nge- Blog ala Professor. Depok, Pustaka ar-Rayhan.
---, 2016. Kenang Kenangan Di Masa Kecil Yusril Ihza Mahendra. Depok, Pustaka ar-Rayhan.
Jurnal:
Darussalam Syamsuddin, Transformasi Hukum Islam di Indonesia, Jurnal Al- Qadāu, Volume 2 Nomor 1/2015
Jimly Asshidieqie, Majalah Pesantren, VIU, No. 2 (1990),
Muwahid. 2012. “Transformasi Hukum Islam dalam Sistem Hukum Nasional”. Al- Manahij Jurnal Kajian Hukum Islam Vol. VI No.2, Juli 2012.
Nurhayati, “Memahami Konsep Syariah, Fikih, Hukum dan Ushul Fikih”. Jurnal Hukum Ekonomi Syariah STAI DDI Maros, Juli-Desember 2018.
Pardjaman, Rahmawati. 2013. “Transformasi Nila-nilai Syariah Kedalam Sistem Hukum Nasional (Sebuah Pendekatan Hermeneutika”, AL-‘ADALAH Vol. XI.
No.2 Juli 2013. Diakses pada tanggal 20 Juni 2020.
Sjechul Hadi Parmono, Mimbar Hukum, III, No. 5 (1992),
Taufiq, “Transformasi Hukum Islam ke dalam Legislasi Nasional,” Mimbar Hukum No. 49 Thn. XI 2000
Tohari, Chamim. 2015. “Fiqh Keindonesiaan : Transformasi Hukum Islam dalam Sistem Tata Hukum di Indonesia.” Jurnal Studi Keislaman Vol. 15 Nomor 2, Desember 2015.
Bowen, John R., “Law and Social Norms in the Comparative Study of Islam”, American Anthropologist, Vol. 100, No. 4 December 1998
Hooker, MB., “Introduction: Islamic Law in South-east Asia”, Australian Journal of Asian Law, Vol. 4, No. 3, December, 2002
Website:
Anonima, 2016. Ini 10 Suadara Kandung Yusril Ihza Mahendra, Anak dari Idris Haji Zainal Ahmad dan Nurseha. https://belitung.tribunnews.com/
2016/09/24/ini-10-saudara-kandung-yusril-ihza-mahendra-anak-dari-idris- haji-zainal-abidin-dan-nurseha?page=2. Diakses 03-11-2020
Anonimb, 2013. “Pendekatan dalam Penelitian Hukum”.https://ngobrolinhukum.
wordpress.com/ 2013/12/16/ pendekatan-dalam-penelitian-hukum/.
Diakses 12/12/2020
Anwar Sadat, Strategi Transformasi Hukum Islam dalam Pembinaan Hukum Nasional, https://media.neliti.com/media/publications/285666-strategi- transformasi-hukum-islam-dalam-8e5c1ce4.pdf
BPS. 2010. Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang dianut.
https://sp2010.bps.go.id/ index.php/site/ tabel?tid=321&wid=0.
03/11/2020
Fathoni R.S. Piagam Jakarta 22 Juni 1945. 2018. https://
wawasansejarah.com/piagam-jakarta/. Diakses 03/11/2020
Indasari, Dewi. Tanpa tahun. “Teori Eksistensi Hukum Islam dan Pengembangannya dalam Tata di Indonesia”. “http://eprints.polsri.ac.id/
5441/2/jurnal%20dewi% 20poltek%20darussalam%20juli%202018%20%
28Teori%20Eksistensi%29.pdf.” Diakses pada tanggal 16 Juni 2020.
Rifai Shodiq Fathoni. 2018. Piagam Jakarta. https://wawasansejarah.com/piagam -jakarta/ . Diakses 03/11/2020
Rostanti Qommarria, et all. 2016. Yusril : Hukum Islam adalah The Living Law.
(https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/oiope6301/yusril- hukum-islam-adalah-emthe-living-lawem. Dikases pada tanggal 15 Juni 2020).