• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suatu Pengantar Pemeriksaan Psikologis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Suatu Pengantar Pemeriksaan Psikologis"

Copied!
157
0
0

Teks penuh

Psikologi diferensial mempelajari perbedaan fungsi psikis manusia, sedangkan psikologi umum mempelajari fungsi psikis secara umum. Strategi psikodiagnostik adalah mencari cara dan teknik untuk memperoleh data subjek secara efektif.

METODE PSIKODIAGNOSTIK

Observasi meliputi kegiatan mengenali perilaku individu, yang biasanya diakhiri dengan pencatatan hal-hal yang dianggap penting sebagai informasi pendukung bagi klien. Dalam teknik ini pengamat mencatat semua perilaku baik atau buruk dalam kurun waktu tertentu.

ASESMEN

Adanya keyakinan, yaitu pemeriksa harus yakin mampu melaksanakan proses penilaian dengan benar dan tanpa kendala. Jenis tes; jadi sebelum penilaian dilaksanakan, penguji harus terlebih dahulu menentukan metode apa yang akan dilakukan guna menyiapkan materi yang sesuai. Peralatan uji; Sebelum melakukan penilaian, penguji harus menyiapkan alat tes yang akan digunakan pada saat proses penilaian.

Hal ini disebabkan karena tes objektif mempunyai panduan penilaian dan tabel norma yang dapat membantu penguji menginterpretasikan hasil tes. Orang yang dapat mengakses hasil tes ini biasanya dibatasi sesuai aturan kode etik psikologi. Sebab, hasil tes psikologi bersifat rahasia sehingga sebaiknya hanya dikomunikasikan kepada pihak yang berwenang.

TESTING DALAM PSIKOLOGI

Tes Intelegensi

Tes Weschler terdiri dari dua subbagian yaitu unjuk kerja dan verbal, sehingga hasil tes ini dapat menunjukkan skor IQ unjuk kerja dan IQ Verbal subjek. Informasi (Information): Subtes ini terdiri dari 29 soal tentang pengetahuan umum atau wawasan yang dimiliki subjek. Penyelesaian Gambar (Picture Completion): Subtes ini terdiri dari 21 kartu dan peserta tes diminta menyebutkan bagian yang hilang dari kartu yang diperlihatkan.

Susunan Gambar: Subtes ini terdiri dari 8 rangkaian gambar yang terdiri dari bagian-bagian cerita yang harus disusun oleh peserta tes menjadi bentuk atau struktur cerita yang benar. Simbol Digit: Subtes ini terdiri dari beberapa angka yang mempunyai simbol berbeda pada setiap angkanya. Tes ini terdiri dari bagian verbal yang menekankan pengetahuan kata dan pemahaman bacaan; bagian matematika yang menekankan aljabar, geometri dan penalaran dengan bagian pemahaman dan penulisan.

Tes Prestasi

Oleh karena itu, perguruan tinggi yang mensyaratkan nilai minimum tertentu pada SAT untuk penerimaan siswa menggunakan tes tersebut untuk memprediksi keberhasilan akademik. Ada kalanya satu instrumen dapat memenuhi kedua tujuan tersebut, yaitu berfungsi sebagai tes bakat untuk memprediksi kinerja masa depan dan tes prestasi untuk memantau hasil belajar.

Tes Kreativitas

Tes Kepribadian

Di bawah ini kita akan membahas kelompok tes kepribadian yaitu inventarisasi kepribadian atau tes laporan diri, pengukuran sikap dan minat, serta teknik proyeksi. Tes atau inventarisasi kepribadian adalah alat untuk mengukur karakteristik emosional, motivasi, sikap dan hubungan antar manusia. Secara umum tes atau inventarisasi kepribadian terdiri dari sejumlah pernyataan atau pertanyaan yang harus dijawab oleh subjek.

Oleh karena itu, istilah “tes” seringkali tidak digunakan melainkan “inventarisasi”, yang merupakan hasil laporan diri subjek, atau tes laporan diri. Tes atau inventaris kepribadian yang dibuat menurut prosedur ini adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI), yang awalnya dibuat oleh Hathaway dan Meehl untuk tujuan penyaringan militer. Inventarisasi kepribadian yang dibangun sesuai dengan teori kepribadian adalah tes Millon Clinical Multiaxial Inventory (MCMI), yang sesuai dengan teori kepribadian Millon yang berorientasi pada pembelajaran biososial.

Thematic Apperception Test (TAT)

Hand Test

Tes Rorschach

Tes Grafis

Selanjutnya, Marian Kinget menulis disertasi tentang tes tersebut dan membuat sistem penilaian khusus. Subyek diminta menggambar orang (DAP), rumah-pohon-orang (HTP) atau pohon (BAUM). Tes DAP pada awalnya merupakan tes perkembangan kognitif, kemudian oleh Machover dikembangkan menjadi tes kepribadian yang penafsirannya didasarkan pada teori proyeksi dan diuji pada sejumlah kasus klinis.

Perkembangan lain dari tes menggambar proyektif yang berkaitan dengan makna simbolik melibatkan tes menggambar keluarga. Beberapa administrasi dan penilaian yang dikembangkan oleh penciptanya menggunakan penilaian kuantitatif, sementara beberapa juga menggunakan penilaian kualitatif simbolik. Penafsiran tes pencitraan sebagai tes kepribadian harus dilakukan dengan hati-hati karena validasinya, misalnya yang dilakukan Machover dengan kasus klinis, harus ditinjau terlebih dahulu untuk kasus di Indonesia.

Tes Neuropsikologis

MMSE memiliki reliabilitas yang dapat diandalkan dalam setting klinis dan komunitas karena memiliki sensitivitas yang baik dan spesifik untuk mendeteksi penurunan fungsi kognitif pada pasien (Khairunnisa, dkk, 2014). Tes ini dapat digunakan pada anak usia 4-15 tahun dan setelah usia 70 tahun dengan atau tanpa kerusakan otak (Groth-Marnat, 2010). Suatu tes sebagai alat ukur perilaku akan dikatakan baik apabila tes tersebut mencakup perilaku dan benar-benar mengukurnya.

Hal ini sangat bergantung pada apakah jumlah dan sifat soal tes merupakan contoh yang baik dari keseluruhan perilaku yang diukur. Misalnya, tes pengukuran kemampuan matematika yang dirancang untuk tingkat sekolah menengah atas ke atas dianggap buruk jika hanya berisi soal penjumlahan dan pengurangan. Baik atau buruknya suatu tes tergantung pada sejauh mana tes tersebut berfungsi sebagai indikator perilaku yang cukup luas dan penting.

Standarisasi

Ketika Daniel Goleman memperkenalkan kecerdasan emosional dan menyatakan bahwa kecerdasan emosional lebih penting dalam memprediksi kesuksesan masa depan dan mempengaruhi banyak perilaku manusia, banyak orang mencoba membuat tes kecerdasan emosional. Soal tes bisa saja tidak sama dengan apa yang diprediksikan karena yang terpenting untuk diuji secara empiris adalah hubungan antara tes tersebut dengan apa yang diprediksi, serta hubungan antara perilaku peserta selama tes dan dalam situasi lainnya. Untuk sebagian besar tujuan, nilai tes individu diinterpretasikan dengan membandingkannya dengan nilai yang diperoleh orang lain pada tes yang sama.

Jadi, jika seorang anak berusia 8 tahun dengan benar menyelesaikan 12 dari 50 soal tes pada tes penalaran aritmatika tertentu, maka norma anak berusia 8 tahun pada tes ini adalah skor 12. Dalam proses tes standardisasi, tes diberikan kepada sampel yang luas dan mewakili berbagai jenis orang, yang merupakan tujuan desain tes. Norma-norma tersebut tidak hanya menunjukkan kinerja rata-rata, tetapi juga frekuensi relatif dari berbagai tingkat penyimpangan di atas dan di bawah rata-rata.

Objektifitas

Reliabilitas

Keandalan fungsi pengukuran skala diperkirakan dengan menghitung dua jenis statistik, yaitu koefisien reliabilitas (rix) dan standar kesalahan pengukuran (se). Kumpulan item ini merupakan kompilasi pertama dari suatu skala yang masih sangat mungkin mengalami perubahan setelah dilakukan perhitungan koefisien reliabilitas. Dalam menghitung koefisien reliabilitas dengan pendekatan test-retest, harus memperhatikan kemungkinan adanya perubahan kondisi subjek dengan perbedaan waktu antara kedua skala presentasi.

Akibatnya terjadi perubahan skor searah dan koefisien reliabilitas yang ditunjukkan oleh korelasi kedua distribusi skor menjadi rendah. Sesuai dengan namanya, data untuk menghitung koefisien reliabilitas alpha diperoleh dengan menyajikan skala satu kali kepada sekelompok responden. Jika koefisien reliabilitas skor per komponen cukup tinggi, maka diharapkan skor komposit juga mempunyai reliabilitas yang tinggi.

Validitas

Validitas terkait kriteria mengacu pada prosedur dimana hasil tes sekelompok orang dibandingkan dengan peringkat, klasifikasi, atau ukuran kinerja lainnya. Validitas ini berkaitan dengan seberapa akurat skor tes memprediksi skor kriteria, sebagaimana ditunjukkan oleh korelasi antara skor tes (prediktor) dan kinerja kriteria di masa depan (apa yang diprediksi oleh tes). Dengan asumsi bahwa validitas prediktif beberapa tes kurang dari 0,60, dapat dimengerti mengapa klaim (pernyataan pendapat) tentang kekuatan prediktif kriteria kinerja pada nilai tes psikologi harus dibuat dengan hati-hati.

Penelitian baik dalam bentuk peristiwa yang dirancang secara cerdas untuk eksperimen maupun kelompok yang terjadi secara alami mengenai hubungan antara nilai ujian dan variabel lain yang membedakan kelompok tersebut. Korelasi nilai ujian dengan nilai ujian atau variabel lain diharapkan mempunyai hubungan tertentu, dilanjutkan dengan analisis faktor korelasi tersebut. Terkadang korelasi antar konstruk berbeda yang diukur dengan metode yang sama lebih tinggi dibandingkan korelasi antar konstruk.

Tes harus komprehensif

Tes harus diskriminatif

Tes harus mudah digunakan dan murah

APLIKASI PSIKODIAGNOSTIK DALAM BERBAGAI BIDANG

Lingkungan kerja, jenis pasien atau klien yang dihadapi, dan bisnis klien menentukan metode penilaian psikologis dan tes yang akan digunakan. Tes yang paling umum digunakan dalam konteks konseling klinis adalah skala Weschler (WBIS, WAIS, WPPSI, atau WISC lama dan baru), Baterai Multiple Aptitude, DAT, tes diagnostik pendidikan, kuesioner dan skala penilaian untuk item tertentu. Tes yang digunakan meliputi beberapa baterai bakat, tes bakat khusus dan tes situasional yang dirancang sesuai dengan kebutuhan institusi.

Selain menggunakan tes bakat dan tes kognitif, akhir-akhir ini tes non-kognitif atau tes kepribadian juga sering dilakukan untuk mencari orang-orang yang memiliki sifat dan temperamen yang sesuai dengan suatu jenis pekerjaan. Tes yang digunakan untuk menjawab pertanyaan ini meliputi tes inteligensi, tes bakat dan hasil belajar, yang dipilih sesuai dengan pertanyaan yang akan dijawab. Termasuk dalam konteks pendidikan adalah tes yang dibuat oleh guru di sekolah (di Amerika Serikat) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mengambil mata pelajaran tertentu.

ETIKA DAN KODE ETIK PSIKOLOGI

Pendekatan aktuaria adalah interpretasi hasil tes berdasarkan sejumlah aturan (misalnya menggunakan perangkat lunak komputer). Hal ini dapat diatasi secara etis dengan memberikan informasi terlebih dahulu kepada klien tentang kegunaan hasil tes dan batasan kerahasiaan yang dapat dilakukan oleh psikolog yang hanya akan memberikan informasi minimal kepada institusi mengenai hal-hal yang berkaitan erat dengan kepentingan institusi. Sejauh mana pihak ketiga dapat mengetahui hasil tes adalah setelah ada persetujuan dari pelanggan atau jika ada hal-hal yang membahayakan pelanggan atau masyarakat.

Penyimpanan hasil tes dalam jangka waktu yang relatif lama harus memperhatikan kegunaan dan siapa yang dapat mengakses informasi tersebut. Tes Roscharch pada Pasien Skizofrenia Depok: Tugas Akhir Magister Psikologi Klinis Profesional, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (unpublished) Markam, S.S. Patologi otak organik dan tes Bender-Gestalt. Beliau meraih gelar BA bidang Psikologi dari Universitas Andalas dan MA bidang Psikologi Klinis Anak dan Remaja dari Universitas Padjadjaran.

Referensi

Dokumen terkait

anak untuk konsentrasi dalam kegiatan yang berhubungan dengan menulis awal. Dalam pembelajaran guru hanya membuat gambar di papan tulis

Keluarga merupakan bagian dari sebuah masyarakat. Keluarga merupakan kondisi awal pembentukan karakter anak. Dimana kondisi keluarga sangat mempengaruhi perkembangan

Suatu sistem merupakan suatu cara tertentu untuk melaksanakan suatu atau sekelompok aktivitas. Sistem merupakan suatu kerangka dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan

Konselor harus memberikan informasi kepada klien bahwa konseling bukan satu-satunya jalan untuk memecahkan masalah, tetapi ada banyak faktor lain yang berperan antara lain

Lingkungan keluarga adalah merupakan lingkungan yang paling bertanggung jawab dan tentu yang paling berperan besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak terutama

Tempat pembuatan gambar (area kerja),pada daerah ini muncul garis status yang berhubungan dengan koordinat pada status kemudian juga ada titik awal (start point)

Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah kaunseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien.. Dalam

Berbeda dengan pemeriksaan fisik pada dewasa, pada anak diperlukan cara pendekatan tertentu agar anak tidak merasa takut, tidak menangis dan tidak menolak