SIJIL PSIKOLOGI ISLAM DAN KAUNSELING
WPK 1013
Penilaian & Pelan Tindakan dalam kaunseling
Minggu 3
Pensyarah:
Ustazah Dr Nek Mah Bte Batri PhD – Pendidikan Agama Islam (UMM)
Sinopsis : Kursus ini akan membincangkan bagaimana kewujudan
alat ukuran dalam kaunseling, kegunaan, prinsip-prinsip utama, jenis alat ukuran dan teknik yang biasa digunakan oleh kaunselor untuk melihat tingkahlaku samada individu atau kelompok.
- Alat ukuran dalam kaunseling
- Kegunaan dan prinsip-prinsip utama
ALAT UKUR DALAM KAUNSELING
1. ASESMENT/PENELITIAN
ialah mengukur suatu proses kaunseling yang harus dilakukan kaunselor sebelum, selama, dan setelah
kaunseling tersebut dilaksanakan/ berlangsung (Ratna Widiastuti, 2010).
Asesmen/penelitian dilakukan untuk meneroka faktor penentu penyebab masaalah.
Mengumpulkan informasi yang memungkinkan bagi kaunselor untuk menentukan masalah dan memahami
ALAT UKUR DALAM KAUNSELING
Asesmen yang dilakukan sebelum, selama dan setelah kaunseling berlangsung dapat memberi informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien.
Dalam prakteknya, asesmen dapat digunakan sebagai alat untuk menilai keberhasilan sebuah kaunseling, namun juga dapat
digunakan sebagai sebuah terapi untuk menyelesaikan masalah klien.
Aspek penelitian adalah: 1. Kognitif (berfikir)
2. Afektif (perasaan) 3. Psikomotor (perilaku)
RUANG LINGKUP DALAM ASSESMENT
Hood & Johnson (1993) menjelaskan ruang lingkup dalam asesmen (assesment need areas) dalam bimbingan dan kaunseling ada lima, iaitu:
1. Systems assessment, iaitu asesmen yang dilakukan untuk
mendapatkan informasi mengenai status dari suatu sistem, yang membedakan antara apa ini (what is it) dengan apa
yang diinginkan (what is desired) sesuai dengan keperluan dan hasil kaunseling; serta tujuan yang sudah dituliskan/ ditetapkan atau outcome yang diharapkan dalam kaunseling.
RUANG LINGKUP DALAM ASSESMENT
2. Program planning, iaitu perencanaan program untuk
memperoleh informasi-informasi yang dapat digunakan untuk membuat keputusan dan untuk mengetagorikan bagian–bagian program yang efektif dalam pertemuan-pertemuan antara
kaunselor dengan klien; untuk mengidentifikasi keperluan-keperluan khusus pada tahap pertama.
Di sinilah muncul fungsi evaluator dalam asesmen, yang
memberikan informasi-informasi nyata yang potensial. Hal inilah yang kemudian membuat asesmen menjadi efektif, yang dapat membuat klien mampu membezakan latihan yang dilakukan pada saat kaunseling dan penerapannya di kehidupan
nyata dimana klien harus membuat suatu keputusan, atau memilih alternatif-altenatif yang dapat digunakan untuk menyelesaikan
3. Program Implementation, iaitu bagaimana asesmen dilakukan untuk
menilai pelaksanaan program dengan memberikan informasi-informasi nyata; yang menjadikan program-program tersebut dapat dinilai
apakah sesuai dengan pedoman.
4. Program Improvement, dimana asesmen dapat digunakan dalam
dalam perbaikan program, iaitu yang berkenaan dengan: (a) evaluasi terhadap informasi-informasi yang nyata, (b) tujuan yang akan
dicapai dalam program, (c) program-progam yang berhasil, dan (d) informasi-informasi yang mempengaruhi proses pelaksanaan program-program yang lain.
RUANG LINGKUP DALAM ASSESMENT
5. Program certification, yang merupakan akhir
kegiatan. Menurut Center for the Study of Evaluation (CSE), di program ini diakhir kegiatan akan dilakukan evaluasi akhir sebagai dasar untuk memberikan
certificaton kepada klien.
Dalam hal ini evaluator berfungsi pemberi informasi mengenai hasil evaluasi yang akan digunakan sebagai dasar untuk mengambil keputusan
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
1. Perencanaan
Aspek yang harus ada dalam perencanaan asesmen adalah: a. Memilih fokus asesmen pada aspek tertentu dari diri
klien.Salah satu penentu keberhasilan kaunseling adalah kemauan dan kemampuan klien itu sendiri.
Dalam kaunseling, keputusan akhir untuk pemecahan masalah yang dihadapi ada pada diri klien. Kaunselor/ bukan pemberi nasihat, bukan pengambil keputusan mengenai apa yang harus dilakukan klien dalam
.
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
b. Memilih instrumen yang akan digunakan.
Setelah ditentukan fokus area asesmen, Kaunselor dapat
merencanakan instrumen yang akan digunakan dalam asesmen. Banyak instrumen yang dapat digunakan dalam asesmen
seperti tes psikologis, observasi, inventori, dan sebagainya. Tetapi untuk menentukan instrumen sangat tergantung pada aspek apa yang akan diasesmen.
Contohnya: Anda akan melihat kerjasama klien dalam konseling, maka instrumen dapat menggunakan checklist, tetapi apabila
Anda memfokuskan asesmen tentang kemampuan klien dalam memecahkan masalah, maka anda dapat mempergunakan tes psikologis.
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
c. Penetapan waktu
Perencanaan waktu yang dimaksud adalah bila asesmen akan dilakukan. Penetapan waktu ini sangat erat berhubungan dengan persiapan pelaksanaan asesmen. Persiapan akan banyak
menentukan keberhasilan suatu asesmen.
Contohnya mempersiapkan instrumen, tempat, dan peralatan lain yang diperlukan dalam pelaksanaan asesmen.
d. Validiti dan reliabiliti
Apabila instrumen yang kita gunakan adalah buatan sendiri atau dikembangkan sendiri, maka instrumen itu perlu diuji validiti dan reliabilitinya.
Hal ini diperlukan kerana ia merupakan syarat mutlak bagi suatu intrumen asesmen. Namun sekiranya menggunakan insturmen yang telah dikenal pasti ia tidak perlu mencari
validiti dan realibiti keran sudah jelas memenuhi persyaratan sebagai suatu intrumen.
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
2. Pelaksanaan
Setelah perencanaan asesmen selesai, selanjutnya adalah bagaimana melaksanakan rencana yang telah dibuat
tersebut.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan asesmen adalah pelaksanaannya harus sesuai dengan
manual masing-masing instrumen. Manual suatu instrumen biasanya memuat:
i. cara mengerjakan
ii. waktu yang digunakan untuk mengerjakan asesmen kunci jawaban
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
3. Analisis data
Langkah selanjutnya adalah analisis data, iaitu
melakukan analisis terhadap data yang diperoleh melalui instrumen yang digunakan untuk mengambil data.
Analisis dilakukan dengan mengikuti petunjuk yang ada dalam manual masing-masing instrumen.
Metode analisis data dalam asesmen konseling sangat tergantung data yang diperoleh. Contoh: data yang diperoleh berbentuk kualitatif atau data kuantitatif
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
4. Interpretasi data
Interpretasi diertikan sebagai upaya mengatur dan
menilai fakta, menafsirkan pandangan, dan merumuskan kesimpulan yang mendukung.
Penafsiran harus dirumuskan dengan hati-hati, jujur, dan terbuka. Berikut ini adalah hal-hal yang harus ada dalam interpretasi, iaitu:
5. Tindak lanjut
Tindak lanjut adalah menindak lanjuti hasil asesmen atau
penggunaan hasil asesmen dalam kaunseling. Beberapa kegiatan tindak lanjut diantaranya adalah apakah kaunselor perlu
melakukan kaunseling yang memfokuskan pada aspek yang berbeza lainnya
Apakah klien perlu mendapatkan tretment tertentu, atau bahkan boleh jadi kaunselor perlu mendapatkan rujukan (refferal) kepada pihak ketiga. Rujukan diperlukan jika kaunselor tidak mempunyai kemampuan untuk menangani masalah yang dihadapi klien.
Contohnya jika klien sudah mengalami gangguan psikotik, maka klien perlu dirujuk ke psiktrik; jika klien mengalami gangguan dislesia maka perlu dirujuk ke terapis khusus yang menangani gangguan tersebut.
LANGKAH-LANGKAH DALAM MELAKUKAN
ASSESMEN
TUJUAN ASESMEN
Tujuan Asesmen Hood & Johnson (1993) menjelaskan bahwa asesmen dalam bimbingan dan kaunseling
mempunyai beberapa tujuan, iaitu:
1. Orientasi masalah: Iaitu untuk membuat klien mengenali dan menerima permasalahan yang
dihadapinya, tidak mengingkari bahwa ia bermasalah. 2. Identifikasi masalah: Iaitu membantu baik bagi klien
maupun kaunselor dalam mengetahui masalah yang dihadapi klien secara mendalam
TUJUAN ASESMEN SECARA
MENYELURUH
1. Memilih alternatif solusi dari berbagai alternatif
penyelesaian masalah yang dapat dilakukan oleh klien: 2. Pembuatan keputusan alternatif pemecahan masalah
yang paling menguntungkan dengan memperhatikan
konsekuensi paling kecil dari beberapa alternatif tersebut. 3. Verifikasi untuk menilai apakah kaunseling telah berjalan
efektif dan telah mengurangi beban masalah klien atau belum.
4. Menentukan variabel pengontrol dalam permasalahan yang dihadapi klien.
5. Memilih/ mengembangkan intervensi terhadap area yang bermasalah, atau dengan kata lain menjadi dasar.
6. Mendesain dan mengelola terapi untuk membantu mengevaluasi intervensi.
7. Menyediakan informasi yang relevan.
8. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul bagi setiap fase kaunseling. 9. Mengumpulkan informasi asli atau autentik mengenai klien
sehingga diperoleh informasi menyeluruh tentang diri klien secara
TUJUAN ASESMEN SECARA
MENYELURUH
TUJUAN ASESMEN INDIVIDU
1. Mengembangkan cara klien merespon (verbal dan/atau non verbal) pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan oleh kaunselor.
2. Melatih klien untuk berpikir dalam upaya pemecahan masalah
3. Membentuk kendiri klien dalam berbagai masalah atau membentuk individu menjadi independen.
4. Melatih klien mengemukakan apa yang dipikirkan dan apa yang dirasakan melalui proses kaunseling.
TUJUAN ASESMEN INDIVIDU
5. Membentuk individu yang terbuka dalam berbagai hal, termasuk membuka diri dalam kaunseling.
6. Membina kerjasama yang baik dalam memecahkan memecahkan masalah yang dihadapi.
7. Menyedarkan klien untuk menilai terhadap cara melaksanakan keputusannya secara konsekuen.
RUJUKAN
Hood, A.B., & Johnson, R.W., 1993. Assessment in Counseling:
a Guide to the Use Psychological Assessment Procedures.
American Counseling Assocition.
Ratna Widiastuti. 2010. “Asessmen Intrumen Untuk Melakukan Asesmen dalam Bimbingan dan Konseling”