• Tidak ada hasil yang ditemukan

SUJI NURDIANA-FIKES.pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "SUJI NURDIANA-FIKES.pdf"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

EKSPLORASI KOMPONEN KIMIA UTAMA BAHAN TUMBUHAN BERTEMPERAMEN PANAS DALAM BUKU

AL-QANUN FI’L-TIBB II

SKRIPSI

SUJI NURDIANA 11161020000059

FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI FARMASI

JAKARTA

2022

(2)

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

EKSPLORASI KOMPONEN KIMIA UTAMA BAHAN TUMBUHAN BERTEMPERAMEN PANAS DALAM BUKU

AL-QANUN FI’L-TIBB II

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi

SUJI NURDIANA 11161020000059

FAKULTAS ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI FARMASI

JAKARTA

2022

(3)

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan benar.

Nama : Suji Nurdiana

NIM : 11161020000059

Tanda Tangan :

Tanggal : 8 Agustus 2022

(4)

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama : Suji Nurdiana

NIM : 1161020000059

Program Studi : Farmasi

Judul Skripsi : Eksplorasi Komponen Utama Kimia Bahan Tumbuhan Bertemperamen Panas dalam Buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II

Disetujui oleh,

Pembimbing I Pembimbing II

apt. Ofa Suzanti Betha, M.Si.

NIP. 197501042009122001

apt. Ismiarni Komala, PhD.

NIP. 197806302006042001

Mengetahui,

Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. apt. Nurmeilis, M.Si NIP. 197407302005012000

(5)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh

Nama : Suji Nurdiana

NIM : 1161020000059

Program Studi : Farmasi

Judul Skripsi : Eksplorasi Komponen Utama Kimia Bahan Tumbuhan Bertemperamen Panas dalam Buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I : apt. Ofa Suzanti Betha, M.Si ()

Pembimbing II : apt. Ismiarni Komala, PhD

Penguji I : apt. Hendri Aldrat, M.Si

Penguji II : apt. Vivi anggia, M.Si

(6)

ABSTRAK

Nama : Suji Nurdiana

NIM : 1161020000059

Judul Skripsi : Eksplorasi Komponen Utama Kimia Bahan Tumbuhan Bertemperamen Panas dalam Buku Al- Qanun Fi’l-Tibb II

Al-Qanun Fi’l-Tibb II atau dikenal dengan Canon of Medicine merupakan sebuah buku karya Ibnu Sina yang berisi monografi tanaman obat atau materia medica yang dikaitkan dengan mizāj (جازم) atau mazāj (جزم) atau sering disebut dengan temperamen (panas, dingin, lembab, dan kering, atau kombinasi) sebagai parameter untuk menentukan jenis obat yang akan diberikan. Akan tetapi dalam buku tersebut tidak dijelaskan komponen kimia apa yang dimiliki tumbuhan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi komponen kimia utama pada tumbuhan bertemperamen panas. Metode yang digunakan adalah literature review dengan studi kepustakaan dan diperoleh jurnal-jurnal ilmiah sebagai pustaka acuan; hasil pengumpulan data dan analisa statistik diperoleh 200 tumbuhan bertemperamen panas. Senyawa yang terdapat dalam kelompok temperamen panas dapat dikelompokkan dalam empat kelompok yaitu senyawa terpen, fenolik, mengandung nitrogen dan asam lemak serta satu kelompok yang tidak terteridentifikasi kelompok senyawanya.

Kata kunci: Al-Qanun Fi’l-Tibb II, komponen kimia, temperamen panas.

(7)

ABSTRACT

Name : Suji Nurdiana

Major : Pharmacy

Title : Exploration The Main Components of Plant Materials Hot Temperament in The Book of Al- Qanun Fi’l-Tibb II

Al-Qanun Fi'l-Tibb II or known as the Canon of Medicine is a book by Ibn Sina which contains a monograph of medicinal plants or materia medica associated with mizāj (جازم) or mazāj (جزم) or often referred to as temperament (hot, cold, moist, and dry, or a combination) as a parameter to determine the type of drug to be administered. However, the book does not explain what chemical components are owned by plants. This study aims to explore the main chemical components in hot temperament plants. The method used is literature review with literature study and obtained scientific journals as reference libraries; data collection and statistical analysis results obtained from 200 hot temperament plants. The compounds contained in the hot temperament group can be grouped into four groups: terpenes, phenolic compounds containing nitrogen and fatty acids, and one group whose compound group is not identified.

Keywords: Al-Qanun Fi’l-Tibb II, phytochemistry, hot temperament.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi Robbil’Alamin, Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Puji dan syukur kami haturkan kepada Allah SWT dengan berkat nikmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat sampai pada tahap ini dengan terselesaikannya skripsi yang berjudul, “Eksplorasi Komponen Kimia Utama Bahan Tumbuhan Bertemperamen Dingin dalam Buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II”.

Sholawat teriring salam kita haturkan kepada Nabi agung, Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan suri tauladan kepada umatnya.

Skripsi ini ditulis guna memenuhi persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi di Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Berbagai kendala dan hambatan yang telah dilalui oleh penulis terkait dengan skripsi ini mampu diatasi dengan melibatkan berbagai pihak. Sehingga penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih berkat bantuan moral maupun materi, pendampingan, bimbingan, dan doa yang terus mengalir sampai terselesaikannya skripsi ini. Dengan terselesaikannya skripsi ini, penulis juga ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu selama penulis menimba ilmu di Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga kebaikan dari semua pihak yang terlibat mendapat pahala dan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT. Ucapan dan rasa terima kasih ini disampaikan penulis setulusnya kepada:

1. Ibu Dr. apt. Zilhadia, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Dr. apt. Nurmeilis, M.Si selaku Kepala Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah.

3. Ibu apt. Ofa Suzanti Betha, M.Si dan Ibu apt. Ismiarni Komala, Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan ilmu, saran, motivasi, kritik, tenaga dan waktu yang telah diluangkan untuk proses penelitian dan penyusunan skripsi.

4. Ibu Dr. apt. Nurmeilis, M.Si selaku dosen pembimbing akademik dan seluruh Bapak/Ibu staf pengajar yang telah memberikan ilmu dan

(9)

bimbingannya selama penulis menempuh Pendidikan di Program Studi Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5. Kedua orang tua tercinta, Ibu Suyati dan Bapak Muryanto beserta kakak dan adik tersayang Muhammad Nur Hadi dan Dian Nur Rita yang selalu mendoakan yang terbaik, memberi perhatian, kasih sayang, semangat, juga dukungan baik moral maupun materi.

6. Keluarga besar Miseni yang senantiasa mendoakan yang terbaik, memberi dukungan, semangat serta perhatian dan kasih sayang.

7. Sahabat-sahabat yang tergabung dalam grup “Hareem” dan “AYO HIDUP SEHAT”, Ayu Fauziah, Nimas Cahya sukma Utari, Selviana dan Jovan Karnova serta Nada Aprilia yang selalu memberi warna kepada penulis selama kuliah dan menyusun skripsi.

8. Sahabat-sahabat yang tergabung dalam grup “Feliz Comigo”, Salsa Annada Ifafah, Siti Fatmalasari dan Meliya yang selalu memberikan doa, semangat dan kebahagiaan kepada penulis.

9. Intan Padina selaku teman online yang senantiasa menemani, menyemangati, dan dukungan kepada penulis serta mendengar segala keluh kesah penulis.

10. Teman-teman seperjuangan Mahasiswa/I S1 Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2016.

11. Teman-teman satu bimbingan Ibu Ofa Suzanti Betha, Nimas Cahya Sukma Utari, Ayu Fauziah, Nurapni Hidayanti, Tri Yuliana, Kamila Firdhausy, Zahara Faiziah, dan Adinda Citra yang selalu berbagi suka duka, memberikan saran, dan semangat selama penyusunan skripsi ini.

12. Michael Lazuardi selaku kucing peliharaan penulis yang menjadi support system selama menyelesaikan skripsi.

13. Stray Kids, Ateez, NCT dan EXO selaku idola yang secara tidak langsung memberi semangat melalui karya-karyanya.

(10)

14. Stay, Atiny, NCTzen, EXO-L dan fandom K-Pop lain selaku teman-teman online yang senantiasa menghibur dan menginspirasi untuk menyelesaikan studi.

15. Suji Nurdiana, selaku diri sendiri yang mampu bertahan sejauh ini dan tetap berjuang untuk menyelesaikan skripsi ini dan seluruh tahapan lainnya dalam rangka menyelesaikan studi yang ditempuh.

Penulis juga menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat bagi penulis, pembaca, dan dapat berkontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Ciputat, 8 Agustus 2022 Suji Nurdiana

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ...v

ABSTRAK ... vi

ABSTRACT ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ...xv

DAFTAR ISITILAH ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ...1

1.1. Latar Belakang ...1

1.2. Rumusan Masalah ...5

1.3. Tujuan Penelitian ...5

1.4. Manfaat Penelitian ...5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...6

2.1. Review Literatur (Literatur Review) ...6

2.2. Tubuh Manusia ...6

2.3. Metode Pengobatan Nabi ...8

2.4. Al-Qanun Fi’il-Tibb (Canon of Medicine) ...9

2.4.1. Ibnu Sina ...9

2.4.2. Konsep Sehat Menurut Ibnu Sina ...9

2.4.3. Temperamen ...10

2.4.4. Organ ...13

2.5. Metabolit ...13

2.5.1. Metabolit Primer ...13

2.5.2. Metabolit Sekunder ...14

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...18

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ...18

3.2. Jenis Penelitian ...18

(12)

3.3. Sumber Data ...18

3.3.1. Sumber Primer ...18

3.3.2. Sumber Sekunder ...18

3.4. Penyaringan Data ...19

3.4.1. Kriteria Inklusi ...19

3.4.2. Kriteria Eksklusi ...19

3.5. Metode Pengumpulan Data ...19

3.6. Teknik Analisa Data ...20

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...23

4.1. Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Terpen ...23

4.1.1. Terpen Minyak Atsiri ...23

4.1.2. Terpen Non Minyak Atsiri ...28

4.2. Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Fenolik ..32

4.2.1. Fenolik Daun ...32

4.2.2. Fenolik Biji, Buah dan Kulit ...34

4.2.3. Fenolik Bunga ...36

4.2.4. Fenolik Minyak Atsiri ...36

4.2.5. Fenolik Umbi dan Akar ...37

4.2.6. fenolik Seluruh bagian tanaman ...38

4.3. Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Mengandung Nitrogen ...39

4.3.1. Mengandung Nitrogen Biji ...39

4.3.2. Mengandung Nitrogen Akar dan Rimpang ...39

4.4. Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Asam Lemak ...40

4.4.1. Asam Lemak Biji dan Buah ...40

4.4.2. Asam Lemak Bunga ...42

4.4.3. Asam Lemak Batang ...42

4.4.4. Asam Lemak Minyak Atsiri ...43

4.4.5. Asam Lemak Umbi ...44

4.4.6. Asam Lemak daun...44

(13)

4.5. Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Tidak

Teridentifikasi ...45

4.5.1. Biji, Buah dan Kulit Polong ...45

4.5.2. Daun dan Pelepah ...47

4.5.3. Akar dan Rimpang ... 48

4.5.4. Batang dan Kulit Batang ...50

4.5.5. Minyak Atsiri ...51

4.5.6. Ekstrak Seluruh Bagian Tumbuhan ...54

4.6. Pembahasan ...55

4.6.1. Terpen ...59

4.6.2. Fenolik ...59

4.6.3. Mengandun Nitrogen ...60

4.6.4. Asam Lemak ...60

4.6.5. Kelompok Senyawa Tidak Teridentifikasi ...61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...63

5.1. Kesimpulan ...63

5.2. Saran ...63

DAFTAR PUSTAKA ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ...xxxv

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Jumlah tumbuhan pada masing-masing komponen kimia utama ... 56 Tabel 4.2. Jumlah tumbuhan yang tidak terdeteksi ... 58 Tabel 4.3. Tabel bagian yang digunakan komponen utama terpen ... 60 Tabel 4.3. Tabel bagian yang digunakan komponen utama fenolik ... 61 Tabel 4.4. Tabel bagian yang digunakan komponen utama mengandung

nitrogen... 61 Tabel 4.5. Tabel bagian yang digunakan komponen utama asam lemak ... . 62 Tabel 4.6. Tabel bagian yang digunakan komponen utama tidak

teridentifikasi. ... 62

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Flowchart Proses Screening “Simple Drug” dalam buku Al-

Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) ... 21 Lampiran 2 Flowchart Screening Jurnal ... 22

Lampiran 3 Diagram Persentase Komponen Kimia Utama dari Seluruh Tumbuhan Bertemperamen Dingin dalam Buku Al-Qanun Fi’l Tibb II ... 58 Lampiran 4 Pencarian dengan Kata Kunci ... lxviii Lampiran 5 Cover Buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book

II).. ... lxix

Lampiran 6 Daftar Isi Buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine

Book II)... lxx Lampiran 7 Halaman Penerbit Buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of

Medicine Book II) ... lxxi Lampiran 8 Contoh Tumbuhan Bertemperamen Dingin dalam Buku Al-

Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) ... lxxii Lampiran 9 Contoh Tumbuhan Bertemperamen Panas dalam Buku Al-

Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) ... lxxiii Lampiran 10 Contoh Tumbuhan Bertemperamen Kombinasi dalam Buku

Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) ... lxxiv

(16)

DAFTAR ISTILAH

Temperamen (جزم / جازم) Campuran / sifat

(17)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tumbuhan pada dasarnya akan memproduksi dua metabolit yaitu metabolit primer dan metabolit sekunder. Metabolit primer dan metabolit sekunder memiliki perannya masing-masing bagi tumbuhan yang juga berfungsi untuk tubuh. Metabolit primer yang diperlukan tubuh sebagai sumber energi, sumber asam-asam lemak esensial (asam palmitoleat, asam palmitat, asam linoleat, dan asam lemak lainnya) serta sebagai pembawa vitamin yang larut dalam lemak dan protein yang berfungsi sebagai zat pembangun dan pendorong metabolisme dalam tubuh (Rohyani et al., 2015). Metabolit sekunder sebagai ciri khas tumbuhan yang biasanya terbentuk sebagai bentuk dari pertahanan diri tumbuhan dan juga memiliki efek farmakologi bagi tubuh manusia contohnya pada tumbuhan Helianthus annuus, Linn pada bagian akar mengandung alkaloid yang memiliki efek sebagai antibakteri (Harris et al., 2017).

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim namun pengobatan Nabi s.a.w. kurang populer di Indonesia. Kurang lazimnya penggunaan terapi pengobatan ala Nabi s.a.w. karena kurangnya pemahaman praktisi tentang pengobatan ala Nabi s.a.w.. Para penggiat herbal Indonesia yang membawa jargon Ath-Thibbun Nabawi menggunakan racikan herbal yang dilatarbelakangi tren semata. Sebuah racikan herbal dapat berisi lima hingga sepuluh tanaman dan semua bahan yang digunakan adalah bahan yang sedang tren dengan alasan supaya forte. Awalnya obat herbal hanya dianggap sebagai pelengkap obat konvensional, namun seiring dengan perkembangnya ilmu dan pengetahuan, obat herbal digunakan secara tunggal dan diakui manfaatnya dalam mengobati penyakit. Bahkan kini telah hadir cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari obat herbal dan banyak tenaga kesehatan yang menganjurkan penggunaan obat herbal sebagai suplemen.

Kelebihan dari dari obat herbal adalah terletak pada efek sampingnya yang

(18)

terbilang kecil bahkan terkadang tidak ditemukan efek samping (Siregar, 2012)

Jenis pengobatan yang digunakan Nabi s.a.w. dan sahabat mayoritas menggunakan herbal yang terdiri dari herbal tunggal. Secara kimia medisinal dinyatakan bahwa tidak semua obat dapat disatukan, ada obat yang ketika disatukan bersifat sinergis namun adapula obat yang Ketika disatukan justru bersifat antagonis. Nabi s.a.w. mempertimbangkan hal tersebut meski dengan rumusan yang berbeda.

Nabi mengajarkan tiga cara pengobatan yaitu pertama dengan menggunakan obat-obat alamiyah. Kedua, dengan menggunakan obat-obat ilahiyah. Ketiga, kombinasi dari kedua jenis pengobatan tersebut. Nabi dan sahabat tidak memiliki kebiasaan menggunakan obat-obatan kimia. Obat yang biasa digunakan yaitu obat alamiah yang berasal dari herbal dan makanan sehat. Faktor lain yang mempengaruhi penyembuhan yaitu tabiat dan jiwa, keduanya akan bersinergi dalam mengatasi penyakit. Kekuatan ada pada diri sendiri dalam mengobati penyakit dan kekuatan diri dapat diperoleh melalui doa kepada Maha Pencipta (Al-Jauziyyah, 2004). Adapun tumbuhan disinggung dalam salah satu ayat berikut: (QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 7)

ىَلِا ا ۡو َرَي ۡمَل َوَا ٍمۡي ِرَك ٍج ۡو َز ِ لُك ۡنِم اَهۡيِف اَنۡتَبۡۢۡنَا ۡمَك ِض ۡرَ ۡلۡا

a wa lam yarou ilal-ardhi kam ambatnaa fiihaa ming kulli zaujing kariim Artinya: "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, betapa banyak Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam (tumbuh-tumbuhan) yang baik?"

Berdasarkan buku Tafsir Al-Mishbah yang ditulis oleh M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak manusia untuk mengarahkan pandangan sampai batas kemampuannya untuk melihat bumi dan seluruh isinya, aneka tanah dan tumbuh-tumbuhan serta keajaibannya.

Tumbuhan diciptakan berpasangan antara putik dengan benang sari untuk

(19)

berkembangbiak. Ketika sebuah benih ditanam, benih itu akan bertunas dan tumbuh pada waktunya seiring dengan pertumbuhannya dari satu generasi ke generasi lainnya; Namun, jika tidak ada matahari, benih itu tidak akan tumbuh sama sekali, maka Allah berfirman dalam Al Qur'an bahwa Dia telah membuat untukmu taman-taman dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya untuk kepentingan dan rezekimu, karena taman-taman tanpa sungai atau mata air adalah seperti gurun di mana tidak ada yang bisa hidup di sana kecuali sedikit tumbuh-tumbuhan dan beberapa hewan liar dan burung yang dapat ditemukan di sana, tetapi umurnya sangat pendek.

Maksud dari tumbuhan yang baik disini ialah tumbuh subur, beraneka ragam dan dapat mendatangkan manfaat bagi makhluk hidup lain, seperti halnya sebagai bahan obat untuk mengobati berbagai macam penyakit dan merupakan petunjuk kebesaran Allah SWT. Namun ketika lingkungan kita memburuk dengan cepat karena aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab; penggundulan hutan, kontaminasi tanah, penggunaan bahan kimia berbahaya dalam pertanian dan penggembalaan berlebihan adalah beberapa contoh yang telah didokumentasikan untuk merusak sifat alami tanah dan kemampuannya untuk mendukung kehidupan di Bumi (Shihab, 2002).

Masa keemasan peradaban islam yang dimulai pada tahun 650 M.

Dimana banyak ilmu-ilmu yang dikembangkan dari berbagai bidang yang kemudian melahirkan tokoh-tokoh ilmuwan muslim, diantaranya yaitu Abu Raihan Al-Biruni yang sering dikenal dengan Al-Biruni merupakan seorang ahli fisika, Ibnu Khaldun merupakan pelopor ilmu sosiologi, Abu Al-Hasan Ali Ma’sud merupakan tokoh geografi dan Abu Ali al-Husain Bin Abdullah Bin Sina yang sering dikenal dengan Avicenna atau Ibnu Sina Al-Biruni lahir pada tahun 870 M dalam keluarga bangsawan Persia di Takshashila, dekat kota Multan (sekarang di Pakistan). Dia menghabiskan masa kecilnya di sana dan juga belajar di bawah bimbingan ulama terkenal Al-Zamakhshari (836- 932), sang pendiri akademi terkenal Bologna di Italia. Pada usia 12 tahun ia melakukan perjalanan ke Bagdad di mana ia tinggal selama dua tahun dan menerima pendidikan formal dari para cendekiawan terkemuka. Salah satu

(20)

karya Ibnu Sina menjadi acuan kedokteran yaitu yang berjudul Al-Qanun Fi’l-Tibb (The Cannon of Medicine).

Al-Qanun Fi`l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) memuat Materia Medica dari tumbuhan, hewan dan mineral. 80% bahan yang terkandung di dalamnya berasal dari tumbuhan yang berhubungan dengan Mizāj (جازم) atau Mazāj (جزم) dalam bahasa Arab secara harfiah berarti keadaan pikiran atau tubuh (Mazāj) dan campuran (Mizāj). Dalam Al-Qanun Fi’l-Tibb (Canon of Medicine) Mizāj atau Mazāj diartikan sebagai unsur pembentuk atau penyusun tubuh manusia yang menyusun homeostasis tubuh, yang sering disebut temperamen. Temperamen dibangun dari unsur-unsur dasar (panas, dingin, kering, lembab) yang digunakan oleh dokter pada saat itu sebagai parameter penyimpangan dari homeostasis normal tubuh atau organ, dibandingkan dengan populasi umum jenis obat yang diberikan (Ibn-Sina n.d.; Abu-Asab et al., 2013).

Menurut Ibnu Sina, tumbuhan dapat dikatakan bersifat panas jika efek yang ditimbulkan pada tubuh manusia adalah panas. Konsep ini berarti bahwa tubuh manusia dapat memperoleh atau kehilangan panas, sehingga menghasilkan kehangatan atau kesejukan tanpa menjadi bagian dari tubuh.

Kemudian Helianthus annuus Linn (bunga matahari) dalam buku Al-Qanun Fi`l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) dinyakan memiliki temperamen panas dan dikatakan berguna melawan racun, terutama keracunan oleh gigitan (hewan). Bagian akar mengandung alkaloid yang secara ilmiah memiliki memiliki efek sebagai antibakteri (Harris et al., 2017).

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa tidak ada istilah dan pengelompokan berdasarkan temperamen seperti yang umum digunakan saat ini dalam pengobatan modern. Namun pada kenyataannya digunakan sebagai pedoman ilmu kedokteran pada zaman dulu. Paparan ini membangkitkan minat para peneliti menggunakan tinjauan literatur untuk mengeksplorasi kandungan kimia utama dalam tumbuhan bertemperamen panas seperti seperti yang telah ditulis dalam buku Al-Qanun Fi’l-Tibb (Canon of Medicine)

(21)

menggunakan metode literature review yang merupakan penelitian kualitatif dalam kategori kepustakaan (library research).

1.2. Rumusan Masalah

 Berapa jumlah tumbuhan bertemperamen panas dalam buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine II)?

 Apa komponen kimia utama dalam tumbuhan yang bertemperamen panas?

1.3. Tujuan Penelitian

 Mengetahui jumlah tumbuhan bertemperamen panas dalam buku Al- Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine II).

 Mengeksplorasi komponen kimia utama dan kelompok senyawanya pada tumbuhan bertemperamen panas yang terdapat dalam buku Al-Qanun Fi’l- Tibb II (Canon of Medicine II).

1.4. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada pembaca dan masyarakat mengenai komponen kimia utama pada tumbuhan bertemperamen panas dalam buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book II) dan diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan obat yang lebih modern.

(22)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Review Literatur (Literatur Review)

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian review literatur dengan basis library research. Library research merupakan penelitian yang dilakukan dengan melakukan studi kepustakaan. Riview literatur merupakan sebuah metode yang sistematis, eksplisit, dan reprosibel untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan sintesis (Nurislaminingsih et al., 2020).

Tahapan untuk melakukan literatur review satu memilih topik yang akan direview, dua melacak dan memilih artikel yang cocok/relevan, tiga melakukan analisis dan sintesis literatur, empat mengorganisasi penulisan review. Dari langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melakukan review literatur adalah membuat artikel konseptual atau empiris yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan (Nurislaminingsih et al., 2020).

2.2. Tubuh Manusia

Tubuh manusia memiliki sistem yang terorganisir yang berkoordinasi antara satu dengan yang lainnya untuk mencapai keadaan fisiologi tubuh yang stabil. Ketika terjadi ketidak seimbangan karena adanya ganguan secara fisiologi tubuh akan memberi sinyal dan tubuh akan merespon sinyal tersebut dengan berusaha mengembalikan keadaan normal tubuh melalui mekanisme umpan balik positif dan negatif. Sistem ini disebut juga homeostasis (Chalik, 2016).

Homeostasis atau keseimbangan sangat penting keberadaannya karena sel dan jaringan tubuh akan tetap berfungsi dengan optimal dan hidup ketika berada dalam suatu keseimbangan. Seperti yang diketahui bahwa tubuh merupakan sistem yang terorganisir dan berkoordinasi maka dalam menjalankan fungsinya organ-organ dalam tubuh bergantung satu sama lain untuk saling menyeimbangakan sehingga tercapai kondisi yang seimbang.

Ketika ada suatu hal yang kurang atau berlebih dalam tubuh maka organ lain akan menyetabilkannya sehingga ketika suatu organ mengalami gangguan

(23)

maka organ tersebut juga akan mempengaruhi kerja organ lainnya. Seluruh organ dalam tubuh kecuali reproduksi turut andil dalam menjaga homeostasis.

2 kelas kontrol sistem kontrol homestatik: (Chalik, 2016)

1. Kontrol intrinsik (lokal) terdapat di dalam dan inherent bagi organ tersebut.

Contohnya ketika sedang beraktivitas tinggi otot akan menggunakan oksigen dalam jumlah tinggi pula hal ini menyebabkan kadar oksigen menurun. Aktivitas tinggi yang dilakukan menyebabkan terjadinya perubahan kimia yang terjadi pada otot secara lokal dan untuk menyeimbangankannya pembuluh darah akan bervasodilatasi untuk meningkatkan kadar oksigen dalam otot yang dibawa oleh darah

2. Kontrol ekstrinsik, merupakan mekanisme dari luar organ untuk mengubah aktivitas organ. Kontrol ini mempertahankan sebagian besar dari homeostasis. Contohnya mekanisme untuk memulihkan tekan darah ke tingkat yang sesuai. Dimana organ yang bekerja adalah sistem saraf jantung dan pembuluh darah di seluruh tubuh. Mekanisme kontrol homeostatik bekerja berdasarkan prinsip umpan balik.

Ada dua jenis umpan balik yaitu:

Umpan balik negatif (negative feedback), homeostasis mengontrol faktor perubahan dimana homeostasis akan akan berupaya memulihkan faktor dengan menggerakan faktor ke arah sebaliknya dari faktor perubahan sehingga menjadi normal.

Umpan balik positif (positive feedback), perubahan mendorong pada arah yang sama dengan perubahan faktor sehingga perubahan semakin besar. Hal ini jarang terjadi namun dalam keadaan tertentu umpan balik positif berperan penting, contohnya ketika serviks tertekanan pelepasan antitoksin akan semakin banyak seiring dengan besarnya tekanan.

Organ yang rentan terhadap penyakit karena kelengkapan dan cairaan tubuh yang belum matang. Jumlah cairang tubuh harus di seimbangkan agar mencapai kondisi ho meostasis (Sina, 1993).

(24)

2.3. Metode Pengobatan Nabi

Pengobatan penyakit jasmani ada dua cara, pertama menggunakan sistem pengobatan yang telah Allah ilhamkan kepada manusia dan binatang, kedua pengobatan yang dalam prosesnya membutuhkan analisa dan diagnosa.

Penyakit dibagi menjadi dua yaitu penyakit fisik dan penyakit kondiktif.

Penyakit fisik terjadi ketika materi asing dari luar masuk ke tubuh sehingga menyebabkan kelainan metabolisme. Penyakit fisik dapat terjadi karena adanya ketidak stabilan temperamen panas, dingin, kering, lembap. Penyakit kondiktif terjadi ketika materi asing dalam tubuh telah di keljuarkan namun salah satu organ tubuh mengalami ketidak setabilan, misalnya perubahan bentuknya. (Al-Jauziyah, 2014)

Pengobatan melalui petunjuk Nabi merupakan cara paling sempurna. Nabi mengajarkan dua cara dalam pengobatan yaitu dengan makanan dan doa. Nabi dan sahabat tidak memiliki kebiasaan menggunakan obat-obatan kimia. Obat yang biasa digunakan yaitu berupa makanan sehat. Jumlah makanan yang dikonsumsi pun berpengaruh, Nabi mengajarkan untuk tidak makan secara berlebihan, cukup mengkonsumsi makanan dengan jumlah sepertiga volume yang bisa ditampung oleh perut, lalu sepertiga di isi untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk bernapas. Faktor lain yang mempengaruhi penyembuhan yaitu tabiat dan jiwa, keduanya akan bersinergi dalam mengatasi penyakit. Kekuatan ada pada diri sendiri dalam mengobati penyakit dan kekuatan diri dapat diperoleh melalui doa kepada Maha Pencipta.

Metodelogi pengobata Nabi ada tiga cara yaitu: menggunakan bahan alami yang dinilai tidak mengandung efek negative yang signifikan, dengan menggunakan obat-obatan ilahiyah, dan menggunakan kombinasi keduanya.

Pengobatan ilahiyah mengandung unsur tauhid atau unsur yang berkaitan dengan Ketuhanan, unsur inilah yang tidak dimiliki metode pengobatan lain kecuali metode pengobatan Nabi. (Al-Jauziyah, 2014) (Rinanto, 2015)

(25)

2.4. Al-Qanun Fi’il-Tibb (Canon of Medicine) 2.4.1. Ibnu Sina

Abu Ali al-Husain Bin Abdullah Bin Sina yang dikenal dengan Avicenna atau Ibnu Sina merupakan salah satu filsuf muslim yang lahir pada tahun 980 di Bukhara, Persia. Dan meninggal pada tahun 1037. Ibnu sina membawa islam dalam masa keemasan melalui buku yang ditulisnya yaitu buku Al-Qanun Fi’l-Tibb atau dikenal dengan Canon of Medicine. Al- Qanun Fi’l-Tibb sempat menjadi rujukan buku kedokteran selama beberapa abad yang terdiri dari lima jilid yang berisi kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai penyakit (Najichah, 2012).

Buku Al-Qanun Fi`l Tibb dibagi menjadi 5 bagian oleh Ibnu Sina, yaitu sebagai berikut (Mahdizadeh et al., 2015):

1. Buku pertama menjelaskan mengenai prinsip-prinsip umum kedokteran seperti pengobatan, temperamen, cairan tubuh, prinsip fisiologis dan anatomi serta prosedur terapetik umum.

2. Buku kedua berisi mengenai beberapa tanaman, hewan dan mineral yang dapat digunakan sebagai obat dalam urutan abjad.

3. Buku ketiga menjelaskan klasifikasi organ dari diagnosis dan pengobatan penyakit yang berbeda.

4. Buku keempat mendefinisikan masalah medis yang umum yang mempengaruhi seluruh tubuh seperti obesitas, gigitan beracun dan demam.

5. Buku kelima mengenai formularium obat majemuk.

2.4.2. Konsep Sehat Menurut Ibnu Sina

Konsep sehat menurut Ibnu Sina yaitu keadaan dinamis ketika tempramen dan struktur tubuh manusia stabil sehingga semua fungsi berjalan sebagaimana benar dan menyeluruh. Ibnu Sina mengidentifikasi tiga variabel untuk menentukan kesehatan yaitu temperamen, struktur, dan fungsi. Ibnu Sina percaya bahwa empat elemen dasar mebentuk bumi yaitu tanah, air, api, udara. Empat elemen tersebut memiliki secara spesifik bermanifestasi menjadi empat temperamen yaitu panas, dingin, lembap, kering. (Ahmed, 1996)

(26)

2.4.3. Temperamen

Temperamen merupakan hasil dari interaksi yang terdapat pada elemen yang terdiri dari partikel-partikel kecil yang kemudian membentuk partikel besar ketika berkumpul dengan sejenisnya dan membentuk temperamen dominan. Sifat utama dari elemen tersebut ada empat yaitu panas, dingin, lembab, dan kering, temperamen secara rasional di anggap mutlak tanpa mengacu pada apa pun harus memiliki dua jenis yang memiliki sifat hampir mirip. Ketika elemen yang berlawanan bergabung dalam jumlah yang sama maka akan membentuk temperamen yang memiliki sifat diantara keduanya.

Ketika dua temperamen yang berlawanan bertemu maka elemen akan cendrung ke salah satu sisi yang berlawanan sebagai dingin atau panas, dan kelembaban atau kekeringan, atau dua elemen yang tidak berlawanan. (Sina, 1993)

Setiap organ tubuh memiliki temperamen yang berbeda sesuai dengan fungsi dan kondisinya.

1. Panas

Agen pembentuk temperamen panas terdiri dari berbabagai jenis.

Galen mengklasifikasikan agen panas dalam lima kelompok yaitu:

gerakan yang tidak berlebihan, kontak dengan sesuatu yang menghasilkan panas tetapi tidak berlebihan, makanan atau minuman panas, kepadatan, pembusukan (Sina, 1993).

Organ tubuh yang panas yaitu jantung, darah bertemperamen panas karena kontak dengan jantung yang memiliki temperamen panas, hati, daging, otot, limpa, ginjal, lapisan arteri, vena, dan kulit.

Ketika terjadi panas berlebih perlu dilakukan penyeimbangan.

Ketika suhu panas dikaitan dengan kekeringan maka akan memerlukan waktu yang lama untuk menyeimbangkannya namun ketika panas dikaitkan dengan kelembaban maka biasanya panas berlebih tidak akan bertahan lama.

Rejimen panas yang dimiliki memiliki dua tujuan yaitu agar tetap homeostasis dan untuk mempertahankan kesehatan. Untuk mencapai

(27)

tujuan homeostasis dapat dilakukan dengan menyeimbangkan kegiatan dan untuk mencapai tujuan kedua dapat dilakukan dengan memakan makanan yang sesuai dengan temperamennya. Maka ketika terjadi panas berlebih dalam tubuh perlu segera di seimbangkan dengan bantuan faktor dari luar.

2. Dingin

Galen mengklasifikasikan penyebab dingin menjadi enam kelompok yaitu: dorongan berlebihan, kontak dengan hal-hal yang menghasilkan dingin atau yang menghasilkan panas berlebih sehingga menyebabkan dispersi, materi memiliki efek pendinginan, pengurangan makanan yang berlebihan, kelebihan makanan (Sina, 1993).

Elemen dingin dalam tubuh yaitu dahak, rambut, tulang, tulang rawan, ligamen, tendon, membran, saraf, sumsum tulang belakang, otak, lemak, lemak cair, dan kulit (Sina, 1993).

3. Lembap

Lembab dapat dihasilkan melalui beberapa agen di antaramya:

istirahat, tidur, retensi apa yang harus habis, berkurangnya cairan yang mengering, kelebihan makanan, obat pelembab, kontak dengan humektan contohnya mandi terutama setelah makan, kontak dengan hal-hal yang menghasilkan dingin (Sina, 1993).

Substanti dalam tubuh yang lembab adalah dahak, kemudian darah, lemak cair, lemak, otak, sumsum tulang belakang, daging mamma dan testis, paru-paru, hati, limpa, ginjal, otot, dan kulit. Paru-paru sifatnya tidak terlalu lembab karena paru-paru di nutrisi darah yang bersifat sangat panas dan mengandung banyak empedu tetapi uap tubuh yang bergerak ke arah paru-paru memberikan kelembapan yang terakumulasi (Sina, 1993).

4. Kering

Agen pembentuk temperamen kering yaitu gerakan, terjaga, kekurangan makanan, makanan kering, obat pengering, impuls psikis berturut-turut, kontak dengan desiccants misalnya mandi dengan air yang menghasilkan kontraksi dingin atau beku sehingga nutrisi tidak tertarik

(28)

ke organ karena adanya kontraksi yang menghalangi, kontak dengan hal- hal yang terlalu panas yang menyebabkan dispersi yang berlebihan (Sina, 1993).

Rambut merupakan bagian paling kering dari tubuh karena rambut terbentuk dari uap yang memadat, lalu tulang, tulang rawan, ligamen, tendon, membran, arteri, vena, saraf motorik, jantung, saraf sensorik, dan kulit (Sina, 1993).

Temperamen Menurut Umur

Empat periode perubahan temperamen:

1. Masa pertumbuhan. Periode ini berlangsung sekitar tiga puluh tahun.

2. Masa stabilitas, yaitu masa muda dan berlangsung hingga tigapuluh lima atau empat puluh tahun.

3. Periode penurunan dengan kekuatan yang berkelanjutan. Ini adalah periode paruh baya hingga enam puluh tahun.

4. Periode penurunan dengan munculnya kelemahan dalam kekuatan.

Ini adalah usia yang tua sampai akhir kehidupan (Sina, 1993).

Temperamen anak-anak hingga remaja setara dalam hal panas namun dalam hal kelembapan bayi lebih besar. Namun ada perbedaan pendapat beberapa menyebutkan bahwa panas pada anak-anak lebih besar karena anak-anak tumbuh dengan cepat nafsu makan mereka yang lebih besar. Beberapa berpendapat bahwa masa remaja lebih panas karena darah remaja lebih banyak. Bukti bahwa remaja memiliki panas yang lebih besar yaitu remaja tidak menderita mual, muntah, dan dispepsia seperti halnya pada anak-anak. Dari dua argumen tersebut Galen membantah dengan berpendapat bahawa panas antara anak-anak dan remaja memiliki kapasitas yang sama (Sina, 1993).

Remaja dan anak-anak memiliki temperamen yang hampir setara dengan anak-anak. Namun dibanding dengan anak-anak remaha memiliki temperamen lebih kering dan di banding dengan paruh baya remaha memiliki temperamen yang lebih panas, orang ta berdasarkan

(29)

temperamen organ cendrung lebih kering dari remaja dan paruh baya namun lebih lembab (Sina, 1993).

Temperamen Menurut Gender

Gender dianggap sebagai salah satu faktor pemicu perbedaan temperamen. Wanita memiliki temperamen yang lebih dingin di bandingkan pria. Wanita juga lebih lembab karena faktor dari temperamen dingin mereka. Namun orang yang tinggal di negara lembap dan melakukan pekerjaan yang melibatkan kontak dengan air serta hidup dalam keadaan yang berbeda, mereka memiliki temperamen yang berbeda (Sina, 1993).

2.4.4. Organ

Ibnu Sina menggambarkan tiga tingkatan berbeda untuk memahami manusia yaitu tingkat struktural, tingkat fungsional, dan tingkat spiritual. Tingkat struktural terdiri dari sistem organ dan pengaturan jaringan. Tingkat struktural Ibnu Sina membagi menjadi struktur dangkal yaitu kulit, rambut, dan genitalia, serta empat organ primer yaitu jantung, otak, hati, dan organ reproduksi.

Tingkat fungsional adalah level tubuh manusia beroperasi. Ibnu Sina mengidentifikasikan tiga fungsi manusia yaitu fisik, saraf, dan vital. Tingkat fungsional adalah tingkatan pengoperasian.

Tingkat spiritual merupakan tingkat ketiga. Aspek spiritual sama relevannya dengan tingkatan lain dalam bidang medis. Secara eksplisit Ibnu sina menyatakan bahwa kombinasi antara struktur, fusional, dan jiwa akan membentuk individu yang lebih dari bagiannya (Ahmed, 1996).

2.5. Metabolit

2.5.1. Metabolit Primer

Metabolit primer ialah senyawa yang terlibat secara langsung terhadap pertumbuhan suatu tumbuhan. Senyawa tersebut terdiri dari karbohidrat, protein, dan lemak (Julianto, 2019).

(30)

1. Karbohidrat

Karbohidrat ialah polihidrosil keton atau polihidrosil-aldehida, atau juga senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa ini apabila dihidrolisis.

Karbohidrat yang dihasilkan oleh tumbuhan dari fotosintesis dengan bantuan cahaya, udara, dan klorofil. Dimana karbohidrat memiliki peranan penting terhadap tubuh makhluk hidup, misalnya sebagai bahan bakar (glukosa), cadangan makanan (pati), dan materi pembangunan (selulosa) (Prasetyo et al., 2016).

2. Protein

Protein merupakan kelompok makronutrisi berupa senyawa asam amino yang berfungsi sebagai zat pembangun dan pendorong metabolism dalam tubuh. Protein tidak dapat dihasilkan sendiri oleh tubuh manusia kecuali melalui makanan yang mengandung protein. Protein sendiri memiliki peran terhadap makhluk hidup yaitu berperan sebagai sistem kekebalan tubuh (antibodi), sistem kendali dalam bentuk hormon, juga sebagai cadangan makanan dan energi (Rohyani et al., 2015).

3. Lemak

Lemak merupakan suatu zat yang kaya akan energi, memiliki fungsi sebagai sumber energi untuk proses metabolisme tubuh. Lemak dapat diperoleh dari makanan dan produksi organ yang dapat disimpan dalam sel-sel lemak sebagai cadangan energi (Mamuaja, 2017).

Asam lemak merupakan komponen utama penyusun lemak yang terbagi menjadi dua yaitu asam lemak jenuh (asam palmitat, asam asetat, asam laurat, dan sebagainya) dan tidak jenuh (asam linoleat, asam linolenat, dan lain sebagainya) (Mamuaja, 2017).

2.5.2. Metabolit Sekunder

Metabolit sekunder merupakan senyawa kimia kecil yang terdapat dalam tumbuhan yang keberadaannya tidak memberikan peran langsung dalam tumbuh kembang tanaman. Metabolit sekunder merupakan senyawa yang dihasilkan atau disintesis oleh kelompok tanaman tertentu yang merupakan ciri khas dari suatu spesies. Metabolit sekunder dihasilkan ketika tanaman berada pada kondisi tumbuh tertentu. Metabolit sekunder

(31)

digunakan untuk mempertahankan diri dan jumlah yang diproduksi oleh tanaman dalam jumlah sedikit. Sebagian besar metabolit sekunder memberikan efek farmakologis (Dewick, 2002).

Metabolit sekunder dihasilkan melalui jalur metabolisme lain yang terkadang tak dianggap keberadaannya dan dianggap tidak penting namun perannya dibutuhkan dalam suatu tanaman. Metabolit sekunder memiliki berat molekul yang rendah yang tidak terlibat dalam metabolisme utama melainkan sebagai penunjang dan jumlahnya minor (Nugroho, 2002).

Jalur Pembentukan Metabolit Sekunder Senyawa metabolit sekunder diproduksi melalui jalur di luar biosinthesa karbohidrat dan protein. Ada tiga jalur utama untuk pembentukan metabolit sekunder:

a. Jalur Asam Malonat Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan melalui jalur asam malonat diantaranya: asam lemak (laurat, miristat, palmitat, stearat, oleat, linoleat, linolenic), gliserida, poliasetilen, fosfolipida, dan glikolipida. Tanaman yang menghasilkan senyawa ini antara lain: Jarak pagar, kelapa sawit, kelapa, jagung, kacang tanah, zaitun, bunga matahari, kedelai, wijen, kapas, coklat, dan alpukat.

b. Jalur Asam Mevalonat senyawa metabolit sekunder dari jalur ini diantaranya adalah Essential oil, Squalent, Monoterpenoid, Menthol, Korosinoid, Streoid, Terpenoid, Sapogenin, Geraniol, ABA, dan GA3.

c. Jalur Asam Sikhimat Metabolit sekunder yang disintesis melalui jalur asam shikimat diantaranya adalah Asam Sinamat, Fenol, Asam benzoic, Lignin, Koumarin, Tanin, Asam amino benzoic dan Quinon (Mariska, 2013).

o Biosintesis folat, jalur ini diawali oleh reaksi forfoenolpifurat dan eritrisa-4-fosfat membentuk 3-deoksi-D-arabinohrptulosonat-7- fosfat (DAPH) yang dikatalisis oleh enzim DAHP sintase.

o Biosintesis asam amino aromatic. jalur metabolism ini figunakan untuk menghasilkan fenilalanin, tirosin, dan tritofan serta asam galat.

Metabolit sekunder memiliki ciri khasnya berdasarkan cicncin aromatic yang terdapat dalam setiap senyawa. Secara garis besar terdapat tiga senyawa

(32)

berdasarkan jalur biositesisnya.. Klasifikasi metabolit sekunder secara sederhana terdiri atas tiga kelompok utama yaitu terpenoid (misalnya volatil, glikosida kardiak, karotenoid, dan sterol), fenolik (misalnya asam fenolat, kumarin, lignan, stilbena, flavonoid, tanin, dan lignin) dan senyawa yang mengandung nitrogen (misalnya alkaloid dan glukosinolat). Berikut adalah penjabaran mengenai

kelompok utama metabolit sekunder:

1. Terpen atau Terpenoid (Anggraito, 2018)

Terpen atau terpenoid, merupakan metabolit sekunder terbesar dengan ciri pada umumnya tidak larut air. Terpen disintesis dari asetilCoA atau intermediet glikolisis dan dibentuk oleh penggabungan unit-unit isopren berkarbon lima. Struktur khas terpen adalah mengandung kerangka karbon (C5)n, dan diklasifikasi sebagai hemiterpen (C5), monoterpen (C10), seskuiterpen (C15), diterpen (C20), sesterterpen (C25), triterpen (C30), dan tetraterpen (C40) (Dewick, 2009). Terpen merupakan racun dan pencegah makan terhadap sejumlah serangga dan mamalia herbivor, jadi berperan penting dalam pertahanan kingdom tumbuhan. Senyawa- senyawa terpenoid memiliki sifat antimikroba, antijamur, antivirus, antiparasit, antihiperglikemik, antialergenik, antiradang, antipasmodik, imonumodulator, kemoterapetik, dll.

2. Fenolik

Tumbuhan memproduksi berbagai jenis metabolit sekunder yang mengandung gugus fenol, suatu hidroksil fungsional pada cincin aromatik.

Senyawa ini diklasifikasikan sebagai senyawa fenolik. Senyawa fenolik secara sederhana dibagi menjadi beberapa kelas yaitu sebagai berikut:

a. Asam fenolat (asam hidroksibenzoat dan asam hidroksisiniamat) b. Flavonoid (flavonol, flavon, flavanon, antosianidin dan isoflavon) c. Tanin (turunan tanin dan tannin yang dapat terhidrolisis)

Biosintesis senyawa fenolik dapat dilakukan melalui dua jalur, yaitu jalur asam sikimat dan jalur asam malonat. Jalur asam shikimat digunakan dalam sintesis gugus tanin yang terhidrolisis dan senyawa asam amino berbasis fenilalanin, seperti lignin, sedangkan jalur asam malonat

(33)

menggunakan asetil-KoA sebagai bahan utamanya. Senyawa fenolik biasanya berasosiasi dengan respon pertahanan pada tanaman. Namun, senyawa fenolik juga berperan penting dalam proses lain, seperti zat penarik untuk mempercepat penyerbukan, warna untuk kamuflase dan pertahanan terhadap herbivora, dan aktivitas antibakteri dan antijamur.

(Acamovic & Brooker, 2005; Anggraito, 2018; Edreva et al., 2008).

3. Senyawa yang Mengandung Nitrogen (Anggraito, 2018) Senyawa metabolit sekunder yang mengandung nitrogen menjadi senyawa yang memiliki pertahanan antiherbivora seperti alkaloid dan glikosida sianogenik.

Senyawa alkaloid dapat ditemukan pada hampir 20% tumbuhan berpembuluh. Alkaloid biasanya disintesis dari satu asam amino tertentu, yaitu lisin, tirosin, atau triptofan. Sebagian besar senyawa alkaloid bersifat basa (pH lebih dari 7). Sebagian besar alkaloid sekarang diyakini berfungsi sebagai pertahanan terhadap herbivora, terutama mamalia, karena toksisitas dan kemampuan pencegahannya. Selain alkaloid, senyawa yang berpotensi sebagai pelindung juga terdapat pada tumbuhan, seperti glikosida sianogenik dan glukosinolat. Glikosida sianogenik dan glukosinolat tidak langsung beracun, tetapi mudah dipecah untuk menghasilkan racun, beberapa di antaranya mudah menguap, ketika tanaman dihancurkan.

(34)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di Perpustakaan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Pusat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Perpustakaan Kota Pangkalpinang yang dilaksanakan pada Maret 2020 - selesai.

3.2. Jenis Penelitian

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kualitatif dengan basis tinjauan pustaka atau literatur review yang termasuk dalam library reseach.

3.3. Sumber Data

Sumber data yang digunakan ada dua jenis yaitu:

3.3.1. Sumber primer

Sumber primer merupakan sumber utama yang digunakan.

Dalam penelitian yang dilakukan sumber utama yang digunakan yaitu buku Al-Qanun Fi’l-Tibb I (Canon of Medicine Book I General Principles of Medicine Assessment Regimen in Health and Disease by Hakim Ibn-Sina) dan Al-Qanun Fi’l-Tibb book II (Canon of Medicine Book II Materia Medica by Hakim Ibn-Sina) karya Ibnu Sina yang diterjemahkan ke dalam bahasa ingris oleh Deptt. of Islamic Studies Jamia Hamdard.

3.3.2. Sumber sekunder

Sumber sekunder merupakan referensi yang di jadikan penunjang dari sumber primer. Sumber sekunder yang di gunakan yaitu buku, jurnal, thesis dan disertasi yang berhubungan dengan topik penelitian serta isinya dapat dipertanggung jawabkan oleh penulis.

(35)

3.4. Penyaringan Data 3.4.1. Kriteria Inklusi

1. Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan tidak memiliki rentang waktu tertentu.

2. Buku, jurnal, thesis dan disertasi yang dapat diakses secara gratis dan lengkap.

3. Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan harus mencantumkan komponen kimia utama yang dinyatakan secara langsung atau dinyatakan dalam angka berupa persen maupun konsentrasi.

4. Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan harus muncul dalam situs pencarian (Google scholar) dengan menggunakan kata kunci berikut: pertama “nama latin tanaman”, kedua “nama latin tanaman + phytocemicals”, ketiga “nama latin tanaman + chemicals constituent”, keempat “(nama latin tanaman) + phytocemistry”.

3.4.2. Kriteria Eksklusi

1. tanaman yang tidak ditemukan sumber literaturnya.

2. Jurnal, thesis, dan disertasi yang berbentuk review.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah dengan mengumpulkan data yang terdapat dalam buku berbentuk buku cetak atau buku elektronik, thesis, disertasi, jurnal yang terdapat dalam situs penyedia jurnal (Google scholar) atau sumber informasi lain yang terkait dengan pokok penelitian.

Yang kemudian dianalisa dan diolah serta disajikan dengan kalimat yang ringkas dan sistematis (Muhadjir, 1998). Adapun langkah-langkah yang akan ditempuh sebagai berikut

(36)

Memilah secara keseluruhan bahan yang berupa tumbuhan dan bukan tumbuhan yag terdapat dalam buku Al-Qanun Fi’l-Tibb book II (Canon of Medicine Book II) Materia Medica by Hakim Ibn-Sina.

Memilah tumbuhan yang memiliki temperamen panas dari buku Al- Qanun Fi’l-Tibb book II (Canon of Medicine Book II) Materia Medica by Hakim Ibn-Sina.

Mengidentifikasi nama latin dari tumbuhan

Menelusuri komponen kimia dalam tumbuhan dan merupakan komponen utama dalam tumbuhan.

Kata kunci yang digunakan untuk mencari Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan harus muncul dalam situs pencarian (Google scholar) dengan mencantumkan pertanama “nama latin tanaman”, kedua “nama latin tanaman + phytocemicals”, ketiga “nama latin tanaman + chemicals constituent ”, keempat “(nama latin tanaman) + phytocemistry”.

3.6. Teknik Analisis Data

Teknik analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif- analisis. Teknik/ metode ini digunakan dalam penelitian bertujuan untuk mengedentifikasi tanaman bertemperamen panas. Selain itu bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik komponen utama dari tumbuhan bertemperamen panas sehingga komponen utama dapat dipilah berdasarkan kelompok senyawanya.

(37)

Lampiran 1 Flowchart Proses Screening “Simple Drug” dalam buku Al-Qanun Fi’l-Tibb II (Canon of Medicine Book II)

Asam lemak tidak jenuh Steroid

alkohol Monografi “Simple Drug”

dalam buku Al-Qanun Fi’il- Tibb II (Canon of Medicine

Book II) (n=796)

Tumbuhan bertemperamen panas (hot)

(n=151)

Memilah “Simple Drug” yang berupa

tumbuhan dan bertemperamen

panas

Komponen kimia utama dinyatakan dalam bentuk

konsentrasi/persentase dan bentuk kalimat

Eksplorasi komponen kimia utama pada tumbuhan bertemperamen

panas

Terpenoid Asam

Lemak Mengandung

Nitrogen Kelompok

senyawa tidak

teridentifikasi Fenolik

Asam lemak jenuh Alkaloid

Mono terpen

sesqui terpen Fenil

propanoid flavonoid

tanin Asam

fenolat

(38)

Lampiran 2 Flowchart Screening Jurnal

Menyinkronkan nama latin tumbuhan yang diterima khalayak dengan sinonimnya

dibantu situs terkait (Theplantlist.org)

Pencarian data komponen kimia utama tumbuhan pada situs

penyedia jurnal (Google scholar)

Kata kunci pencarian:

1.Nama latin tumbuhan 2.+ kata “phytochemicals”

3.+ kata “chemicals constituens”

4.+ kata “phytochemistry”

Kriteria Inklusi

1. Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan tidak memiliki rentang waktu tertentu.

2. Buku, jurnal, thesis dan disertasi yang dapat diakses secara gratis dan lengkap.

3. Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan harus mencantumkan komponen kimia utama yang dinyatakan secara langsung atau dinyatakan dalam angka berupa persen maupun konsentrasi.

4. Buku, jurnal, thesis, dan disertasi yang digunakan harus muncul dalam situs pencarian (Google scholar) dengan menggunakan kata kunci berikut: pertama “nama latin tumbuhan”, kedua nama latin tumbuhan + phytochemicals”, ketiga “nama latin tumbuhan + chemicals constituent ”, keempat “nama latin tumbuhan + phytochemistry”.

Kriteria Eksklusi

1. Jurnal, thesis, dan disertasi yang berbentuk review.

Jurnal yang sesuai dengan kriteria

inklusi

(39)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Terpen Total tumbuhan bertemperamen panas 151 tumbuhan. 52 tumbuhan diantaranya memiliki komponen utama Asam Lemak yang diambil dari berbagai bagian tumbuhan, sebagai berikut:

4.1.1. Terpen Minyak Atsiri No Nama Latin

tumbuhan

Bagian yang diekstraksi

Jenis Ekstrak

Metabolit

Sekunder Senyawa

1 Laurus

nobilis Linn. Daun Minyak

atsiri Terpen

1,8-cineole

(0,975%), á-terpinyl acetate (0,,166%), sabinene (0,103%), Limonene

(0,088%), á-pinene (0,062%), linalool (0,053%),

terpinene-4-ol (0,043%), á- terpinene (0,035%), â-pinene (0.033%), á- terpineol (0,026%), bornil asetat (0,032%), á- phellandrene

(0,021% ), myrcene (0,018%),

camphene

(0,017%), p- cymene (0,015%), ó terpinene

(0,016%)(Derwich et al., 2009)

(40)

2 Aristolochia

indica Linn. Batang Minyak

atsiri Terpen

trans-pinocarveol (24,2%), a-pinene

(16,4%) dan

pinocarvone

(14,2%), limonen (6,9%), myrtenol (6,4%) (Kanjilal et al., 2009)

3

Curcuma zedoaria Rosc.

Daun Minyak

atsiri Terpen

hidrokarbon

monoterpen (2,3%), monoterpen

teroksigenasi

(26%), hidrokarbon seskuiterpen (38%), dan seskuiterpen teroksigenasi

(13,5%). -Terpinil asetat (8,4%), isoborneol (7%), dehydrocurdione (9%) dan selina- 4(15),7(11)-dien-8- one (9,4%) (Garg et al., 2005)

4

Ruta graveolens

Linn.

- Minyak

atsiri Terpen

Limonene, α- Pinene, dan 1,8- cineole (major) (Jinous Asgarpanah, 2012)

5

Zataria multiflora

Boiss,

- Minyak

atsiri Terpen

thymol (41.8%), carvacrol (28.8%), dan p-cymene (8.4%)

(Mahmoudvand et al., 2017)

6 Cinnamomum

cassia Blume. - Minyak

atsiri Terpen

cis-2-

methoxycinnamic acid (43,06%) dan cinnamaldehyde (42,37%) (Chang et al., 2013)

7

Nardostachys jatamansi

DC.

- Minyak

atsiri Terpen

Patchouli alcohol (40%-52%) (R. S.

Chauhan et al., 2017)

(41)

8

Euphorbia pithyusa

Linn.

- Minyak

atsiri Terpen

Diterpenoid

(Appendino et al., 1999)

9

Aegla marmelos

Corr.

- Minyak

atsiri Terpen

limonene (64.1%) (Fawzi

Mahomoodally et al., 2018)

10 Eryngium planum

Tangkai daun dan

daun

Minyak

atsiri Terpen

Mononoterpen (limonene, - dan -

pinene) dan

seskuiterpen

drokarbon (Thiem et al., 2011)

11

Cyperus rotundus

Linn.

bunga Minyak

atsiri Terpen

cis-chrysanthenyl acetate

(43,2%)(Thiem et al., 2011)

12 Nigella sativa

Linn. Biji Minyak

atsiri Terpen

4-terpineol (3,4- 2,0%),

thymohydroquinone (0,7-1,1%),

thymoquinone (10,8-24,6%), carvacrol ( 3,0- 6,0%), dan timol (0,3-

0,3%)(Baaliouamer et al., 2007)

13 Pinus pinea

Linn. - Minyak

atsiri Terpen

limonen (54,1%), a- pinena (7,7%), dan b-pinena (3,4%) (Amri et al., 2012)

14

Psoralea bituminosa

Linn.

- Minyak

atsiri Terpen

Isocaryophyllene (15,296%), d- neoclovene

(11,623%), di-epi- a-cederene

(10,875%) (al Ayoubi et al., 2018)

15

Elettaria cardamomum

Maton.

- Minyak

atsiri Terpen

1,8-cineole

(25.6%), linalool (6.3%), α-terpinyl acetate (40.7%) (Kuyumcu Savan &

Küçükbay, 2013)

(42)

16 Saussurea

lappa Clarke Akar Minyak

atsiri Terpen

Lupeol (0,043%), malate (0,03%) (A.

Kumar et al., 2020)

17

Teucrium chamaedrys

Linn. / Teucrium scorodonia L.

Bunga Minyak

atsiri Terpen

germacrene B (26.2%) and β- caryophyllene (25.2%). (Maccioni et al., 2007)

18 Mesua ferrea Linn.

Kuncup dan bunga

Minyak

atsiri Terpen

α-copaene (28,7%

dan 20,2%), serta germacrene D (190% dan 16,1%) (Choudhury et al., 1998)

19 Acorus calamus Linn.

Daun dan rimpang

Minyak

atsiri Terpen

α-asarone, β- asarone (35.3–

90.6%), dan Z- isoelemicin (1.7–

7.3%) (Parki et al., 2017)

20

Elettaria cardamomum

Linn.

- Minyak

atsiri Terpen

1,8-cineol

(33,78%), limonen (2,32%), linalol (2,72%)and α- terpinyl acetate (42,65%) (Ivanović et al., 2021)

21

Hypericon perforatum

Linn.

- Minyak

atsiri Terpen

Monoterpene

(24,59%) dan monoterpen

teroksigenasi

(25,7%) (Vuko et al., 2021)

22

Ferula assofoetida

Linn.

getah Minyak

atsiri Terpen

(E)-1-propenyl sec- butyl disulfide (58.9%), (Z)-β- ocimene (11.9%), (E)-β-ocimene (9.0%), β-pinene (5.0%) and (Z)-1- propenyl sec-butyl disulfide (3.9%).

(Sefidkon et al., 1998)

(43)

23

Elettaria cardamomum

Maton

Minyak atsiri

Minyak

atsiri Terpen

1,8-cineol (28,94%-

34,91%), α-

terpeniol (12,47%- 14,89%), dan sabinene (11,17%- 13,50%)

(Ashokkumar et al., 2020)

24

Ferula galbaniflua

Boiss.

akar Minyak atsiri

Terpen Beta-pinene

(Rustaiyan et al., 2002)

24 Carum copticum

Minyak atsiri

Minyak

atsiri Terpen

thymol (49.0%), γ- terpinene (30.8%), p-cymene (15.7), β- pinene (2.1%), myrcene (0.8%) and limonene (0.7%) (Khajeh et al., 2004)

(44)

4.1.2. Terpen Non Minyak Atsiri No Nama Latin

tumbuhan

Bagian yang diekstraksi

Jenis Ekstrak

Metabolit

Sekunder Senyawa

1

Diospyros ebenum Koenig

daun Air Terpen

Saponin (1,65%), steroid (1,73%), terpenoid (1,3%). (Vijayan et al., 2020)

2 Citrus

medica Linn daun -

Terpen Limonen (18,36%), citral (12,95%) (Bhuiyan et al., 2009)

3

Styrax officinalis,

Linn

daun -

Terpen Monoterpen hidrokarbon (0,7%), monoterpene teroksigenasi (38,5%), sesquiterpene hidrokarbon (0,9%), sesquiterpene teroksigenasi (1,1%) (Tayoub et al., 2006)

4 Cassia fistula

Linn. daun -

Terpen (E)-phytol (21,5%),

kamper (13,5%),

limonene (11,0%), linalool (9,9%)(Kumar Sharma, 2017)

5 Cinnamomum

tamala Nees daun -

Terpen trans-sabinene hydrate (29,8%), (Z)-β-ocimene (17,9%), myrcene (4,6%), α-pinene (3,1%) dan β- sabinene (2,3%).

Seskuiterpen (32,9%) (Mir et al., 2004)

6

Cuscuta epithymum

Linn.

daun

Terpen Monoterpene hidrokarbon (21,3%), monoterpene aldehid dan keton (11,5%), alcohol monoterpene (42,8%), sesquiterpene hidrokarbon (6,8%) (Najda & Gantner, 2012)

7

Cupressus sempervirens

Linn.

daun -

Terpen α- trans-caryophyllene (15.57%) and α-humulene (9.16%) in L. camara and cedrol (21.29%), ∆3- carene (17.85%) and α- pinene (6.9%) (Elansary et al., 2012)

(45)

8 Cannabis

sativa Linn. daun -

Terpen Tetrahydrocannabinol (4- 12%), cannabidiol (CBD), cannabigerol (CBG), cannabichromene (CBC), cannabinodiol (CBND), cannabielsoin (CBE), kanabisiklol (CBL), kanabinol (CBN), cannabitriol (CBT), dan lain-lain -cannabinoid lain (Murillo-Rodriguez et al., 1264)(Murillo-Rodriguez et al., 1264)

9

Matricaria chamomilla

Linn

bunga diethileter

Terpen Germancrene D (2,5%), Bicyclogermacrene

(1,7%), β-Farnesene (6,2%), alpha-bisabolol oxide B (1,2%), α- Bisabolol (9,3%), geranylhexanolate

(34%)Cgamazulene (27,5%), α-Bisabolol oxide A (29,4%), gueazulene (5,1%), (Ali, 2013)

10

Ocimum basilicum

Linn

bunga ethanol

Terpen Linalool (52,42%), methyl eugenol (18,74%), 1,8-

cineol (5,61%)

(Purushothaman et al., 2018)

11

Cinnamomum zeylanicum

Blume

bunga -

Terpen Sesquiterpene (38%), monoterpene (<1%) (Jayaprakasha et al., 2000)

12 Crocus

sativus Linn. putik etanol

Terpen 4-hidroksidihidro-2(3H)- furanon (22,01%), asam heksadekanoat (12,09%), tirosol (7,52%), asam benzenaasetat (5,23%), asam linolenat (4,96%), asam linoleat ( 3,86%), 1- docosen (3,85%) (Zheng et al., 2011)

13 Erythraea

officinalis Bunga - Terpen Monoterpene (44,01%)

(Bouyahya et al., 2019)

(46)

14

Valeriana wallichii

D.C.

akar heksana

Terpen seskuiterpen teroksigenasi (73,6%), hidrokarbon seskuiterpen (19,2%), monoterpen teroksigenasi (1,6%), hidrokarbon monoterpen (1,6%), diterpene (0,2%) (Mathela et al., 2005)

15 Glycyrrhiza

glabra Linn. akar -

Terpen Saponin (glycyrrhizin) (10-25%) (Kaur et al., 2013)

16 Paeonia

officinalis akar Air-ethanol

Terpen salicylaldehyde (20.32%), beta-pinene-oxide

(13.35%) and thymol acetate (61.12%).

(Vazirian et al., 2018)

17

Dorema ammoniacum

D. Don

buah hidrodestilasi

Terpen Hidrokarbon monoterpen (1%), Monoterpen teroksigenasi (58,4%), Hidrokarbon seskuiterpen (31,7%), Seskuiterpen teroksigenasi (1,9%) (Yousefzadi et al., 2011) 18

Peucedanum grande C.B.

Clarke

buah Methanol-air

Terpen

saponin (11.1%) (B. N.

Kumar et al., 2016)

19 Curcuma longa Linn.

bulbus

(umbi/bawang) Metanol

Terpen Saponin (8,742%), terpen dan steroid (7,34%), cardiac glycosides (11,906%) (Mohammed et al., n.d.)

20

Cedrus deodara

Loud.

Kayu/batang heksan

Terpen b-himachalene (38,3%), a- himachalene (17,1%) dan g-himachalene (12,6%), 21 Euphorbia

officinarum Getah -

Terpen diterpenoids and isoprenoid (Chamkhi et al., 2022)

22 Taxus

baccata Linn. tunas Methanol Terpen saponins (4.2%) (Kazmi et al., 2015)

(47)

23

Artimisia absinthium

Linn

- -

Terpen Cis-Chrysanthenyl acetate (17,8%), sabinyl acetate (11,6%), terpinene-4-ol (6,2%), caryophyllrnr oxide (5,5%), (E)- nuciferol (5,5%) (Ayse Demirel & Süntar Ali Osman Çeribaşı Kevser Taban Akça Gökhan Zengin, 2022)

24

Pyrethrum parthenium (Tanacetum parthenium)

- hidrodestilasi

Terpen Monoterpene camphor (69,7-94%), champene (12%), bornyl acetat (4,2- 8,7%) (Mamadalieva et al., 2014)

25

Ferula assafoetida

Linn

- -

Terpen Alpha-pinene (38,2%), bicyclogermacrene (6%), b-pinene (5,9%), (Karimian et al., 2021) 26 Cedrus libani

Loud. - Ethanol

Terpen camphene (12,1%), alpha- pinene (5,0%) dan tricyclene. (2,2%) (Mastino et al., 2018) 27 Lavandula

stoechas Linn serbuk air-etanol

Terpen Monoterpene

teroksigenisasi (75,5%), (Messaoud et al., 2012) 28

Spongia officinalis Linn

Terpen

Diterpen (Han et al., 2018)

(48)

4.2 Tumbuhan Bertemperamen Panas dengan Komponen Utama Fenolik

Total tumbuhan bertemperamen panas 151 tumbuhan. 39 tumbuhan diantaranya memiliki komponen utama fenolik yang diambil dari berbagai bagian tumbuhan, sebagai berikut:

4.2.1. Fenolik Daun No

Nama Latin tumbuhan

Bagian yang diekstrak

si

Jenis Ekstrak

Metabolit

Sekunder Senyawa

1

Melia azedarach

Linn

Daun methanol Fenolik

Fenolik (69,77%), flavonoid (18,57%) (Deb et al., 2018)

2 Medicago

sativa Linn Daun Methanol Fenolik Fenol (46,69%) (Linn et al., 2013)

3

Melia azedarach

Linn.

Daun n-heksan Fenolik

Rutin (5,86-21,22%), quercetin-3-

neohesperidoside (3,95- 8,76%), kaempferol -3- O-rutinoside

(2,73,11,23%),

feruloylglucaric (0,85- 11,84%)feruloylquinic acid derivate (1,94- 11,07%) (M’rabet et al., 2017)

4

Pinus gerardiana

Wall.

daun Pelarut

polar Fenolik

catechin (2,86%), quercetin, asam caffeic, - sitosterol , lupeol dan asam p-coumaric (G.

Singh et al., n.d.) 5

Trigonella corniculata

Linn.

daun Methanol Fenolik Fenolik (0,0398%) (Pasricha & Gupta, 2014) 6

Inula helenium

Linn.

daun - Fenolik Flavonoid (tertinggi) (Zlatić et al., 2019) 7

Calotropis gigantea

Linn.

daun - Fenolik

Total fenolik konten (19,63%) (Hitesh et al., 2014)

Gambar

Tabel 4.1.    Jumlah tumbuhan pada masing-masing komponen kimia utama
Tabel 4.2.  Tumbuhan bertempeamen panas yang tidak terdeteksi.
Tabel 4.4. Tabel bagian yang digunakan komponen utama fenolik
Tabel 4.6. Tabel bagian yang digunakan komponen utama asam lemak
+3

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah senyawa yang terkandung didalam daun tumbuhan sala memiliki potensi toksik terhadap sel Vero dan mengetahui lebih spesifik

Secara umum tumbuhan dapat diketahui pigmennya dengan menggunakan alat spektrofotometer.Spektofotometer mampu menangkap pigmen warna yang terkandung dalam

9 Namun belum banyak dilakukan penelitian mengenai khasiat dari masing- masingsenyawa aktif yang terkandung didalam tanaman brotowali (Tinospora crispa) ini.Karena pada

Pada prinsipnya, menghasilkan listrik dengan sistem tenaga uap adalah dengan mengambil energi panas yang terkandung di dalam bahan bakar batubara yang terbakar didalam boiler

terkandung didalam cerita.. Keterangan : Pada saat pembelajaran berlangsung, siswa yang hadir berjumlah 21 orang siswa, maka persentase yang didapat dari banyaknya

Okulasi atau menempel adalah reproduksi vegetatif buatan dengan menempelkan tunas tumbuhan dengan variasi yang berbeda pada batang tumbuhan lain sehingga didapat tanaman yang

Semakin lama batubara tertimbun akan semakin banyak panas yang tersimpan didalam timbunan, karena volume udara yang terkandung di dalam timbunan semakin besar sehingga

Proses pengeringan TKKS merupakan proses penguapan, dimana kandungan air yang terkandung didalam TKKS akan dhilangkan dengan bantuan panas yang berasal dari udara pengering..