• Tidak ada hasil yang ditemukan

Swamedikasi dalam Pelayanan Kesehatan

N/A
N/A
Ayu Retno Asih

Academic year: 2024

Membagikan "Swamedikasi dalam Pelayanan Kesehatan"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

FARMASI KLINIS

SWAMEDIKASI

(2)

SWAMEDIKASI

Adalah penggunaan obat non resep oleh seseorang atasinisiati sendiri (The International Pharmaceutical Federation)

Adalah pemilihan dan penggunaan obat-obatan (termasukproduk herbal dan tradisional) oleh individu untukmengobati penyakit atau gejala yang dapat dikenali sendiri (WHO)

Adalah Upaya untuk mengobati diri sendiri, biasanya untuk mengatasi keluhan dan penyakit ringan seperti demam, nyeri, batul dsb (Dep Kesehatan RI, 2007)

SwaMedikasi

adalah Perawatan sendiri oleh masyarakat terhadap penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obat-obatan yang dijual bebas di pasaran atau obat keras yang bisa didapat tanpa resep dokter dan diserahkan oleh apoteker di apotek

(3)

• Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2009

– 66 % orang sakit di Indonesia melakukan swamedikasi

– 34 % Berobat ke dokter

• Di Amerika 73 % swamedikasi

(4)

Tujuan Swamedikasi

Swamedikasi biasanya dilakukan untuk mengatasi keluhan-keluhan dan penyakit ringan yang banyak

dialami masyarakat, seperti demam, nyeri, pusing, batuk, influenza, sakit maag, kecacingan, diare,

penyakit kulit dan lain-lain.

(5)

• Swamedikasi menjadi alternatif yang diambil masyarakat untuk meningkatkan keterjangkauan pengobatan. Pada pelaksanaannya swamedikasi dapat menjadi sumber terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) karena keterbatasan pengetahuan masyarakat akan obat dan penggunaannya.

• Dalam hal ini Apoteker dituntut untuk dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat terhindar dari penyalahgunaan obat (drug abuse) dan penggunasalahan obat (drug misuse). Masyarakat cenderung hanya tahu merk dagang obat tanpa tahu zat berkhasiatnya.

(6)

Faktor yang menyebabkan peningkatan pentingnya self care dan swamedikasi

• Faktor sosio-ekonomi

• Gaya hidup

• Aksesibilitas

• Ketersediaan produk baru

• Reformasi sektor kesehatan

(7)

Perilaku konsumen

• Konsumen akan berusaha mengatasi sendiri masalah kesehatannya yang sifatnya sederhana dan umum diderita, karena

– Lebih praktis – Lebih murah

– Kondisi yang dirasakannya belum memerlukan pemeriksaan tenaga kesehatan

– Tidak punya kesempatan untuk pemeriksaan – Tidak punya pilihan lain

Studi Perilaku konsumen di Asia, Eropa, Amerika (www.wsmi.org/aboutsm.htm)

(8)

KEUNTUNGAN & KERUGIAN

SWAMEDIKASI

(9)

Golongan Obat yang bisa yang bisa dipakai dipakai untuk Swamedikasi

• Obat Bebas

• Obat Bebas Terbatas

• Obat Wajib Apotik

(10)

Obat Bebas

Dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Depkes pengertian obat bebas jarang didefinisikan, namun pernah ada salah satu

Peraturan Daerah Tingkat II Tangerang yakni Perda Nomor 12 Tahun 1994 Tentang izin Pedagang Eceran Obat (PEO) memuat pengertian obat bebas adalah obat

yang dapat dijual bebas kepada umum tanpa resep dokter, tidak termasuk

kedalam daftar narkotika, psikotropika, obat keras, obat bebas terbatas dan sudah terdaftar di Depkes RI.

Contoh:

a) Minyak Kayu Putih b) Obat Batuk Hitam c) Obat Batuk Putih d) Tablet Paracetamol

e) Tablet Vit C, B Kompleks, E dan lain-lain

Tanda khusus untuk obat bebas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis tepi warna hitam.

(11)

Obat Bebas Terbatas

• Obat bebas terbatas atau obat yang masuk dalam daftar “W”

menurut bahasa Belanda “W” singkatan dari “Waarschung”

artinya peringatan.

• Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI yang menetapkan obat-obatan kedalam daftar obat “W” memberikan pengertian obat bebas terbatas adalah Obat Keras yang dapat

diserahkan kepada pemakaianya tanpa resep dokter, bila penyerahannya memenuhi Persyaratan.

• Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

2380/A/SK/VI/83 tanda khusus untuk obat bebas terbatas berupa lingkaran warna biru dengan garis tepi berwarna hitam.

(12)

• tanda peringatan obat bebas terbatas

(13)

Obat Wajib Apotek ( OWA )

Peraturan tentang Obat Wajib Apotek berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 347/Menkes/SK/VII/1990 yang telah diperbaharui dengan Keputusan Menteri No.

924/Menkes/Per/x/1993, dikeluarkan dengan pertimbangan sebagai berikut:

1. Pertimbangan yang utama untuk obat wajib apotek sama

dengan pertimbangan obat yang diserahkan tanpa resep dokter, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menolong dirinya sendiri guna mengatasi masalah kesehatan, dengan meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional.

2. Pertimbangan yang kedua untuk peningkatan peran apoteker di apotek dalam pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi

serta pelayanan obat kepada masyarakat.

(14)

Obat Wajib Apotek ( OWA )

Lanjutan..

3. Pertimbangan ketiga untuk peningkatan penyediaan obat yang dibutuhkan untuk pengobatan sendiri. Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter.

4. Pada penyerahan obat wajib apotek ini terhadap apoteker terdapat kewajiban sebagai berikut:

a. Memenuhi kebutuhan dan batas setiap jenis obat ke pasien yang disebutkan dalam obat wajib apotek yang bersangkutan b. Membuat catatan pasien serta obat yang diserahkan

c. Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakai, kontra indikasi, efek samping, dan lain-lain yang perlu diperhatikan.

(15)

Yang perlu diperhatiakn dalam

menetapkan jenis obat yang dibutuhkan

(16)

Patient care process

Proses Penilaian (Assessment)

Untuk menentukan, mendeskripsikan dan mendefinisikan kebutuhan yang berhubungan dengan obat pasien, termasuk tujuan terapi dan identifikasi DRPaktual dan potensial

Care Planning

Jadwal melakukan identifikasi dan monitor DRP (termasuk pencegahan dan penyelesaian DRP)

Evaluasi

Menilai hasil terapi (sesuai yang diharapkan atau tidak)

Assessment Care

Planing Evaluasi

(17)

3 Rekomendasi

1. Tidak diobati

2. Pengobatan sendiri

– Rekomendasi terapi non obat

– Meminta pasien agar tidak membeli obat jika terapi obat tidak diindikasikan

– Rekomendasi obat bebas, obat bebas terbatas, DOWA

3.Rujuk ke dokter spesialis

(18)

DEMAM

Demam bukan merupakan suatu penyakit, tetapi hanyalah

merupakan gejala dari suatu penyakit.

Suhu tubuh normal adalah 37⁰C.

Apabila suhu tubuh lebih dari 37,2 ⁰ C pada pagi hari dan lebih dari 37,7 ⁰ C pada sore hari berarti demam.

Kenaikan suhu 38 ⁰ C pada anak di bawah lima tahun dapat menimbulkan kejang dengan gejala antara lain:

tangan dan kaki kejang, mata melihat ke atas, gigi dan mulut tertutup rapat, serta penurunan kesadaran.

Keadaan demikian segera ke dokter.

(19)

Gejala-gejala

Kepala, leher dan tubuh akan terasa panas, sedang tangan dan kaki dingin - Mungkin merasa kedinginan dan menggigil bila suhu meningkat dengan cepat

Penyebab

Demam umumnya disebabkan oleh infeksi dan non infeksi.

Penyebab infeksi antara lain kuman, virus, parasit, atau mikroorganisme lain. Contoh : radang tenggorokan, cacar air, campak, dan lain-lain. Penyebab non infeksi antara lain dehidrasi pada anak dan lansia, alergi, stres, trauma, dan lain- lain.

(20)

Hal Yang Dapat Dilakukan

– Istirahat yang cukup.

– Minum air yang banyak.

– Usahakan makan seperti biasa, meskipun nafsu makan berkurang – Periksa suhu tubuh setiap 4 jam.

– Kompres dengan air hangat

– Hubungi dokter bila suhu sangat

tinggi (diatas 38⁰C), terutama

pada anak-anak.

(21)

Petunjuk penggunaan termometer :

• Kocok termometer sebelum

mengukur sampai air raksa turun di bawah tanda 35⁰C

• Termometer ditaruh di bawah lidah selama 1 menit atau di bawah lipatan lengan (ketiak) selama 4 menit pada orang dewasa dan anak-anak. Suhu normal di bawah lipatan lengan (ketiak) adalah 36,5 ⁰ C. Untuk mendapatkan suhu yang setara dengan suhu mulut, tambahkan 0,5 ⁰ C pada suhu yang terbaca.

• Cuci termometer sebelum dan sesudah dipakai.

(22)

Kapan harus ke dokter

- Bila seorang bayi menderita panas

- Bila demam lebih dari 39⁰C (pada anak-anak 38.5⁰C) dan tidak bisa turun dengan

parasetamol atau kompres.

- Bila demam tidak berkurang setelah 2 hari - Bila demam disertai dengan kaku leher

- Bila disertai gejala-gejala lain yang berkaitan dengan demam seperti : ruam kulit, sakit tenggorokan berat, batuk dengan dahak

berwarna hijau, sakit telinga, sakit perut, diare, sakit bila buang air kecil atau terlalu sering

buang air kecil, bintik-bintik merah pada kulit, kejang, pingsan - Bila terjadi demam setelah melahirkan atau keguguran

(23)

Obat Yang Dapat Digunakan

Obat yang dapat digunakan untuk mengatasi keluhan demam yaitu:

Parasetamol/Asetaminofen

a. Kegunaan obat Menurunkan demam, mengurangi rasa sakit b. Hal yang harus diperhatikan

a. Dosis harus tepat, tidak berlebihan, bila dosis berlebihan dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal.

b. Sebaiknya diminum setelah makan

c. Hindari penggunaan campuran obat demam lain karena dapat menimbulkan overdosis

d. Hindari penggunaan bersama dengan alkohol karena meningkatkan risiko gangguan fungsi hati.

e. Konsultasikan ke dokter atau Apoteker untuk penderita gagal ginjal.

(24)

lanjutan..

c. Kontra Indikasi Obat demam tidak boleh digunakan pada : ƒ

penderita gangguan fungsi hati ƒ penderita yang alergi terhadap obat ini ƒ pecandu alkohol

d. Bentuk sediaan Tablet 100 mg ,Tablet 500 mg, Sirup 120 mg/5ml e. Aturan pemakaian :

Dewasa : 1 tablet (500 mg) 3 – 4 kali sehari, (setiap 4 – 6 jam) ;

Anak : 0 – 1 tahun : ½ - 1 sendok teh sirup, 3–4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)

1 – 5 tahun : 1 – 1 ½ sendok teh sirup, 3 – 4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam) 6-12 tahun : ½ - 1 tablet (250-500 mg), 3 – 4 kali sehari (setiap 4 – 6 jam)

(25)

• Thx..

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini menunjukkan bahwa peranan swamedikasi menggunakan obat tanpa resep bagi orang tua untuk mengobati selesma anak sangat besar, sehingga membutuhkan perhatian dari produsen

Obat bebas dan obat bebas terbatas adalah obat yang dapat diperjual belikan secara bebas tanpa resep dokter untuk mengobati jenis penyakit yang pengobatannya dapat diterapkan

Hal ini menunjukkan bahwa peranan swamedikasi menggunakan obat tanpa resep bagi orang tua untuk mengobati selesma anak sangat besar, sehingga membutuhkan perhatian dari produsen

Profil informasi terkait obat dan non farmakologi yang diberikan oleh petugas apotek terhadap pasien swamedikasi yang datang dengan keluhan diare pada anak..

(Zeenot, 2013) Pengobatan sendiri atau disebut dengan swamedikasi merupakan upaya yang paling banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi penyakit sebelum

Swamedikasi adalah suatu pengobatan sendiri yang dilakukan oleh masyarakat terhadap penyakit yang umum diderita, dengan menggunakan obat- obatan yang dijual bebas

profil informasi terkait obat dan non farmakologi yang diberikan oleh petugas apotek terhadap pasien swamedikasi yang datang dengan keluhan batuk.. untuk mengetahui profil tingkat

profil informasi terkait obat dan non farmakologi yang diberikan oleh petugas apotek terhadap pasien swamedikasi yang datang dengan keluhan sakit gigi.. 1.5