TAFSIR BI AL-RA'YI MADRASAH TAFSIR MAKKAH
(Studi Analisis Penafsiran Mujâhid Pada Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr Karya Muhammad Abd al-Salâm Abû al-Nail)
Tesis
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Agama (M.Ag), di Bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
M. Mizan Sya’roni NIM: 216410661
PROGRAM STUDI ILMU AL- QUR’AN DAN TAFSIR PASCASARJANA MAGISTER (S2)
INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA 2019 M/1440 H
TAFSIR BI AL-RA'YI MADRASAH TAFSIR MAKKAH
(Studi Analisis Penafsiran Mujâhid Pada Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr Karya Muhammad Abd al-Salâm Abû al-Nail)
Tesis
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Magister Agama (M.Ag), di Bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir
Oleh:
M. Mizan Sya’roni NIM: 216410661
Pembimbing:
Prof. Dr. KH. Said Agil Husein Al-Munawwar, MA Dr. KH. Ahmad Munif Suratmaputra, MA
PRODI ILMU AL- QUR`AN DAN TAFSIR PASCASARJANA MAGISTER (S2)
INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA 2019 M/1440 H
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah SWT.yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta kekuatan lahir dan batin sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi akhir zaman, Rasulullah Muhammad SAW. begitu juga kepada keluarganya, para sahabatnya, para tâbi’în dan tâbi’it tâbi’în serta para umatnya yang senantiasa mengikuti ajaran- ajarannya. Âmîn.
Penulisan tesis ini sebagai bagian dari tugas akhir penulis dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Magister dalam kajian Ilmu Agama Islam program studi Ilmu Al- Qur‟an dan Tafsir pada Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta. Selanjutnya, penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tesis ini tidak sedikit hambatan, rintangan serta kesulitan yang dihadapi. Namun berkat bantuan dan motivasi serta bimbingan yang tidak ternilai dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tidak terhingga kepada:
1. Ibu Prof. DR. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA, Rektor Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta.
2. Bapak DR. H. Muhammad Azizan Fitriana, MA, Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta.
3. Bapak Dr. H. Ahmad Syukron, MA sebagai ketua / kepala Prodi Ilmu Al- Qur`an dan Tafsir (IAT) Program Pascasarjana Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta.
iv
4. Bapak Prof. Dr. KH. Said Agil Husein Al-Munawwar, M.A dan Bapak Dr.
H. Ahmad Munif Suratmaputra, MA sebagai dosen pembimbing yang telah menyediakan waktu, pikiran, tenaga, pengarahan, kritik, saran, kesempatan, petunjuknya kepada penulis dan senantiasa sabar dalam membimbing serta memberikan motivasi yang membangun dalam penyusunan tesis ini.
5. Kepala Perpustakaan beserta segenap Civitas kampus terutama Dosen dan Staf Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, yang telah banyak membantu memperlancar proses perkuliahan sehingga pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan akademik dapat diselesaikan dengan lancar, memberikan fasilitas, kemudahan dan yang memberikan bekal ilmu pengetahuan secara teoritis maupun praktis selama di bangku perkuliahan.
6. Buya KH.Cucun Manshur Abbas dan Umi Hj.Lilis Faizah, Aa Faiz Thanthawi M.Pd, beserta Mba Qorina Widadiyyah M.Pd.dan dede „Aisyah kanzul Wafa, Adikku Dede Wahdah Farhati M.Ag, dan terkhusus untuk istriku tercinta dan buah hati yang ada dikandungnya Anna Najmiatul Huda S.S, dan ade-ade aa tersayang (alm) Muhammad Fuad al-Abbasi, Muhammad Nasirruddin, Nida Nadiya, Hanan Said, Inayah Maulida, Muhammad Syauqi, Muhammad Afwan Musoffan, dan Umi Hj.
Muzaro‟ah M.Pd yang selalu memotivasi agar selesai sampai tahap ini, mereka senantiasa mengiringi derap langkah penulis dalam menggapai cita-cita ridhanya sehingga pekerjaan yang berat menjadi terasa ringan, yang sulit terasa mudah dan roda kehidupan bergulir dengan lancar ke arah yang lebih baik.
7. Seluruh rekan-rekan mahasiswa seperjuangan yang seangkatan dengan penulis dalam Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta
v
2016 yang telah bekerjasama bahu-membahu menyelesaikan berbagai tugas perkuliahan dengan penuh suka cita sehingga semua kenangan manis yang pernah dilakukan bersama rekan-rekan sulit untuk dilupakan. Dan terkhusus lagi kepada Pa chefu , Pa Budi , Pa Anwar , Pa Okki, bib Azka, Pa Farid, Bu iis dan Bu Anisa, Bu Ayun, bu Ariyati , yang telah memberi dukungan dan semangat kepada Penulis.
8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini.
Hanya harapan dan doa, semoga Allah SWT. memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah berjasa dalam membantu penulis menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya kepada Allah SWT. penulis serahkan segalanya dalam mengharapkan keridhaan, semoga tesis ini bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan bagi penulis khususnya, serta anak dan keturunan penulis kelak.
Âmîn.
vi DAFTAR ISI
Persetujuan Pembimbing ... i
Pernyataan Penulis ... ii
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... vi
Pedoman Transliterasi ... x
Abstark ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan ... 14
1. Identifikasi Masalah ... 14
2. Pembatasan Masalah ... 15
3. Perumusan Masalah ... 15
C. Tujuan Penelitian ... 15
D. Kegunaan Penelitian ... 16
E. Kajian Pustaka ... 16
F. Metode Penelitian ... 19
1. Jenis Penelitian ... 19
2. Pendekatan ... 20
3. Sumber Data ... 21
4. Teknik Pengumpulan Data ... 21
5. Metode Analisis Data ... 22
6. Validasi data ... 22
7. Langkah-Langkah Penelitian ... 22
G. Teknik Penulisan ... 23
H. Sistematika Penulisan ... 23
vii
BAB II DASAR-DASAR PENGETAHUAN TAFSIR BI AL-RA’YI
A. Pengertian Tafsir bi al-Ra‟yi ... 25
B. Pro-Kontra Ulama Terhadap Tafsir bi al-Ra‟yi ... 31
C. Sumber-Sumber Tafsir bi al-Ra‟yi... 40
D. Manhaj yang digunakan oleh Mufassir bi al- Ra‟yi .... 42
E. Indikator Tafsir bi al-Ra‟yi al-Madzmûm... 44
F. Tafsir bi al-Ra‟yi Penafsir dari Masa ke Masa ... 46
1. Tafsir bi al-Ra‟yi Tafsir di Masa Nabi ... 46
2. Tafsir bi al-Ra‟yi Tafsir di Masa Sahabat ... 63
3. Tafsir bi al-Ra‟yi Tafsir di Masa Tabi‟in ... 72
BAB III BIOGRAFI MUJÂHID DAN STUDI TAFSIR MUJÂHID A. Biografi ... 80
1. Latar Belakang keilmuan ... 81
2. Setting sosial ... 85
3. Karya- karyanya ... 86
4. Pandangannya tentang Tafsir Al-Qur`an ... 87
B. Profil Tafsir Ibnu Mujâhid ... 88
1. Identifikasi Fisiologis ... 90
2. Identifikasi Metodologis ... 100
a. Corak dan Sumber Penulisan ... 100
b. Metode dan Sistematika Penulisan ... 102
c. Penilaian Ulama ... 104
viii
BAB IV PENAFSIRAN MUJÂHID DAN ANALISA PEMIKIRAN NYA
A. Penafsiran Mujâhid ibn Jabr (w. 102 H/721 M) ... 107
1. Tafsir bi Al-Ra‟yi bi al-Qiyâs ... 108
1) (QS.Al Baqarah[2]65) ... 108
2. Tafsir bi Al-Ra‟yi bi al-Qisshah ... 117
1) (QS.Ali-Imrân[3] 55) ... 117
2) (QS.Al-An‟âm [6]74) ... 123
3) (QS.Yûsuf[12] 26 ) ... 126
4) (QS.Al-Isra‟ [17]5) ... 130
3. Tafsir bi Al-Ra‟yi bi al- Lughah ... 133
1) (QS.An-Nisâ‟[4] 15) ... 133
2) (QS.An-Nisâ‟[4] 49) ... 138
3) (QS.Al-Arâf[7]8) ... 141
4) (QS.Al-Arâf[7]27) ... 146
5) (QS.Al-Isra‟ [17]79) ... 148
6) (QS.Al-Kahfi [18]34) ... 151
7) (QS.Al-Anbiyâ[21] 37) ... 153
8) (QS.Ar-Rûm [30]30) ... 156
9) (QS.An-Najm[53]1) ... 157
10) (QS.Ar-Rahmân[55] 56) ... 160
11) (QS.Al-Wâqiah[56]75) ... 162
12) (QS.Al-Qiyâmah[75] 23) ... 164
13) (QS.An-Nabâ‟[78] 38) ... 174
ix
14) (QS.At Thâriq[86] 8) ... 181
4. Tafsir bi Al-Ra‟yi bi al-Dhamir ... 184
1) (QS.Yûsuf[12] 42) ... 184
2) (QS.Yûsuf[12] 52) ... 187
3) (QS.Ibrâhim[14] 46) ... 189
4) (QS.Al-Kahfi [18]64) ... 191
B. Table Penafsiran Mujâhid dan Jumhur ... 194
1.1 Table Ayat-Ayat bi Rayi‟ Mujâhid menurut Tertib Surah ... 194
1.2 Table Ayat-Ayat bi Rayi‟ Mujâhid menurut pengklasifikasian ... 196
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 199
B. Saran ... 200
Daftar Pustaka ... 201
Biografi Penulis ... 204
x
PEDOMAN TRANSLITERASI
Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Dalam penulisan tesis dan disertasi di Program Pascasarjana IIQ, transliterasi Arab-Latin mengacu pada berikut ini:
1. Konsonan
أ : a ط : th
ة : b ظ : zh
ث : t ع : „
ث : ts غ : gh
ج : j ف : f
ح : h ق : q
خ : kh ك : k
د : d ل : l
ذ : dz و : m
ز : r ن : n
ش : z و : w
س : s ي : h
ش : sy ء : `
ص : sh ي : y
xi
ض : dh
2. Vokal
Vokal Tunggal Vokal Panjang Vokal Rangkap Fathah : a َأ : â ْيَ...: ai Kasrah : i ي : î ْوَ..: au Dhammah : u و :û
3. Kata sandang
a. Kata sandang yang diikuti alif lam (لأ ) qamariyah. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لأ) qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya.
Contoh: سقبناة : al-Baqarah تىيدمنا: al-Madînah.
b. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لأ) syamsiah. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) syamsyiah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:
جسنا
م : ar-rajul ةديسنا: as-Syayyidah سمشنا : asy-syams يمزادنا: ad-Dârimî c. Syaddah (Tasydîd)
Syaddah (Tasydîd) dalam sistem aksara Arab diguanakan lambang ( - ّ ) sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara mengadakan huruf yang bertanda tasydîd. Aturan ini berlaku secara umum,
xii
baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsyiyah. Contoh:
* ِلله بِب بَىَمَأ:Âmannâ billâhi
* ُءَبهَفُسنا َهَمَأ :Âmana as-Sufahâ’u
* َهْيِرَنا َنِإ: Inna al-ladzîna
* ِعَكُّسنا َو : wa ar-rukka’i d. Ta Marbûthah (ة)
Ta Marbuthah (ة) apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na‟at) maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h”. Contoh:
ُةَدِئْفَأْنَا: al-Af’idah
ُتَيِمبَهْسِإْنَا ُتَعِمبَجْنَا : al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah
Sedangkan ta‟ marbuthah (ة) yang diikuti atau disambungkan (di-washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:
ٌتَبِصبَو ُتَهِمبَع : „Âmilatun Nâshibah يَسْبُكْنا َتِيْلأا : al-Âyat al-Kubrâ
e. Huruf Kapital Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf Kapital, apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan yang disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti awal penulisan kalimat, huruf awal, nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain. Ketentuan yang berlaku pada EYD berlaku pada alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis kapital adalah awal
xiii
nama diri, bukan kata sandangnya. Contoh: „Alî Hasan al-‟Âridh, al-
‟Asqâllani, al-Farmawî dan seterusnya. Khusus untuk penulisan kata Alqur‟an dan nama-nama surahnya menggunakan huruf kapital. Contoh: Al-Qur‟an, Al- Baqarah, Al-Fâtihah dan seterusnya.
xiv ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Tafsîr bi Al-Ra’yi yang terdapat pada tafsir Mujâhid, begitu juga dengan pengaruh geografis serta Madrasah tempat Mujâhid mengkaji tafsir Al-Qur`an. Hal ini dilakukan karena penulis melihat pentinganya mengkaji Tafsir bi Al-Ra’yi pada Tafsir Mujâhid sebagai prodak tafsir dari kalangan Tabi‟in yang secara historis masih dekat priodenya dengan Rasulullah sebagai sumber utama penafsiran Al-Qur`an dan secara geografis masih berada diwilayah para sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
Penelitian ini membuktikan bahwa selain menggunakan sumber Tafsîr bi al-Ma`tsûr, Mujâhid juga menggunkana ra’yun di dalam menafsirkan ayat Al- Qur`an. Kehadiran Tafsir bi Al-Ra’yi dipengaruhi oleh Ibn Abbâs sebagai gurunya dari kalangan sahabat yang terkenal sebagai Mufassir. Letak geografis dan priode Mujâhid membuat Tafsîr Mujâhid tidak memiliki corak tertentu dan jumlah Tafsîr bi Al-Ra’yi tidak mendominasi didalamnya. setelah meneliti, penulis akhirnya menemukan 23 Tafsîr bi Al-Ra’yi pada Tafsîr Mujâhid. 15 diantaranya bebeda dengan penafsiran dari Ibn Abbâs dan dan 8 diantaranya memiliki kesamaan,dan di klasifikasikan menjadi 4 bagian Tafsîr bi al-Ra‟yi bi al-Qiyas, Tafsîr bi al-Ra‟yi bi al-Qisshah, Tafsîr bi al-Ra‟yi bi al-Lughah, Tafsîr bi al-Ra‟yi bi al-Dhamir hal ini membuktikan bahwa Mujâhid tidak sepenuhnya mengambil pendapat Ibn Abbâs sebagai gurunya dalam tafsirnya.
Dan penulis mencoba menjawab permasalahan yang ada melalui studi data dokumen atau kepustakaan (library research), yaitu dengan mengidentifikasi panafsiran dari Tafsîr Mujâhid, sebagai acuan primer. Kitab- kitab dan buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan ini sebagai acuan sekunder. Hal ini dimaksud agar mendapat informasi secara lengkap untuk menemukan titik terang dari kesimpulan yang akan penulis ambil. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang Tafsîr bi Al-Ra’yi dari Mujâhid.
xv
xvi ABSTRACT
The purpose of the research is to analyze the Tafsîr bi Al-Ra'yi in the Tafsîr Mujāhid, it is also to analyse the geographical influence and the madrasa where the place of mujahid learn the interpretation of the Qur'an.
This is because the author sees the importance of studying Tafsîr bi Al-Ra'yi on Mujâhid interpretation as a result of interpretation from the Tabi'in group which historically is still close to the period with the apostle as the main source of interpretation of al-qur`an and geographically still in the areaof the friends who are close to the apostle.
This research proves that besides using the source of the Tafsîr of bil Ma`tsûr, Mujâhid also uses ra'yun in interpreting the verse Al-Qur`an. the presence of Tafsîr bi Al-Ra'yi was influenced by Ibn Abbâs as his teacher who is known close friends of the apostle as muffasirs. the geographical location and the mujahid period made the interpretation of the Mujâhid not have a certain style and the number of bi al- ra’yi interpretations did not dominate it.
after researching, the author finally found 23 interpretations of bi rayi on mujahid interpretations. 15 of them are different from the interpretation of ibn abbas and 8 others have similarities with the interpretation of Ibn Abbâs,and are classified into 4 sections Tafsîr bi al-Ra'yi bi al-Qiyas, Tafsîr bi al-Ra'yi bi al-Qisshah, Tafsîr bi al-Ra'yi bi al-Lughah, Tafsîr bi al-Ra'yi bi al-Dhamîr this proves that Mujâhid did not fully take the opinion of Ibn Abbâs as his teacher in his interpretation.
In answering the problems above, the writer uses the data research method of the document or library (library research), namely by identifying interpretations of the Mujâhid interpretation, as the primary reference. And the Books relating to the discussion of Mujâhid interpretation as a secondary reference. This is meant to get complete information to find a bright spot from the conclusions that the author will take. The data analysis technique used is descriptive analysis techniques to obtain a deeper understanding of the bi rayi interpretation of Mujâhid.
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latarbelakang Masalah
Perjalanan tafsir Al-Qur’an, khususnya tafsir bi al-ra’yi berkembang dari suatu masa penafsiran ke masa selanjutnya.
penafsiran Al-Qur'an sendiri sudah terjadi pada zaman Nabi saw.
Nabi Muhammad adalah the first interpreter of the Qur'an, orang pertama yang menafsirkan Al-Qur'an dan dianggap orang yang paling otoritatif dalam menjelaskan kepada umatnya.1
Dan perkembangan selanjutnya setelah Nabi wafat, peran Nabi digantikan oleh Sahabat, Tâbi’în dan Tâbi’ tâbi’în . ini adalah genarasi awal para penafsir Al-Qur;an pada masa ini di dominasi tafsir bi al-ma'tsûr (yaitu penafsiran al-Qur'an dengan berdasarkan riwayat). setelah masa awal penafsiran selesai, muncul era pertengahan. pada masa ini dimulai menonjol dan adanya pergeseran tradisi penafsiran bi al-ma’tsur ke penafsiran bi al-ra’yi.2
Para ahli tafsir dari kalangan Tabi’in ini menyebar ke berbagai wilayah kaum muslimin saat itu. Mula-mula muncul dan berkembang para ahli tafsir di Makkah, yang selanjutnya disebut Madrasah al- Tafsîr bi Makkah. Kemudian muncul Madrasah al-tafsîr bi Madinah.
Juga Madrasah al-tafsîr al-Iraq.
Madrasah Makkah (Madrasah al-tafsîr bi Makkah), menurut Ibnu Taimiyah(w 728 H) yang dikutip al-Suyuthi(w 911 H), adalah
1Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur'an: Studi Aliran-Aliran Tafsir Dari Priode Klasik, Pertengahan, Hingga Modern-Kontemporer (Yogyakarta: Adab Press 2012), h.41
2 Syaikh Manna’ Al-Qaththân, Mabâhîts fî ‘Ulûm Al-Qur’an (Riyadh: Dâr ar- Rasyîd 2000.) h. 334-340 Lihat juga Muhammad Husain Adz-Dzahabî, at-Tafsîr wa al - Mufassirûn (Mesir:Dâr al -Kutub al-Hadîtsah,1976), h.36-99
2
para ahli tafsir yang paling mumpuni. Karena mereka ini adalah para murid Ibn ‘Abbâs ra. Diantara mereka adalah Abu al-Hajjâj Mujâhid (21-104 H )dan Said Ibn Jabr al-Makky (w. 101 H), ‘Ikrimah budak Ibn ‘Abbâs(w.105 H), Thawus Ibn Kaisan al-Yamany (w.106 H) di Makkah, ‘Atha Ibn Abî Rabah al-Makky (w.114 H). Dari para penafsir tersebut, Mujâhid Ibn Jabr adalah yang paling dipercaya periwayatannya dari Ibn ‘Abbâs (w. 68 H/688 M) .3
Madrasah al-tafsîr bi Makkah yang dikenal dengan metode tafsir riwayat, ternyata ada juga yang menggunakan bi al- ra'yi bahkan Ibn ‘Abbâs (w. 68 H/688 M) sebagai gurunya itu juga mempunyai beberapa penafsiran bi al- ra’yi. Pada masa sahabat, penafsiran mereka dicirikan dengan banyaknya merujuk pada ilmu pengetahuan yang mereka miliki tentang sebab-sebab turunnya ayat dan peristiwa-peristiwa yang menjadi sebab turunnya ayat.4
Posisi tafsir bi al-ra’yi ada yang menolak dan ada pula yang mendukung kelompok ulama yang menolak tafsir bi al-ra’yi, mendasarkan argumentnya pada hadis yang mengharamkan penafsiran al-Qur’an dengan akal (ra’yu). Berikut hadis yang dimaksud, yaitu dalam Sunan al-Tirmidzî Hadis hasan dari Ibn
‘Abbâs:
اَنَ ثَّدَح نْبُدْوُمَْمَ
ْن َلَْيَغ اَنَ ثَّدَح ِنْب ِرَشَب يِرَسلا
اَنَ ثَّدَح ُناَيْفُس ْنَع ِدْبَع
ىَلْعَلأْا ْنَع ِْيَبُج ِنْب ِدْيِعَس ْنَع
ِساَّبَع ِنْبِا َلاَق اَمُهْ نَع ُالله َيِضَر
ُلْوُسَر َلاَق
3Abdul Qâdir Muhammad Shâlih, Al- Tafsîr wa al-Mufassirûn fî ‘Ashri al- Hadîts, h. 91-92. Lihat juga Syaikh Muhammad Abdul Adhim al-Zarqâni,, Manâhil al- Irfan fî ulûm al-Qur’an, Muhaqqiq : Fawwaz Ahmad Zamarli (Beirut – Lebanon : Dâr al- Kitab Al-Arobi,1995) Juz I h.28
4Ali Hasan Al-'Aridl, Sejarah dan Metodologi Tafsir terj. Ahmad Akrom (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1994) cet.2, h. 15
3
(َمَّلَسَو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص ِالله َنِم ُهَدَعْقَم ْأَّوَ بَ تَ يْلَ ف ٍمْلِع ِْيَغِب ِنآْرُقلْا ِفِ َلاَق ْنَم
)ِراَّنلا ٌحْيِحَص ٌنَسَح ٌثْيِدَح اَذَه ىَسْيِع ْوُ بَأ َلاَق
Telah menceritakan kepada kami Mahmûd ibn ghailân, telah menceritakan kepada kami Basyar Ibn as-sarî menceritakan kepada kami, Sufyân dari ‘abd al-‘a’lâ dari Sa’îd ibn jubair dari Ibn ‘Abbâs ra. Berkata: Nabi Saw bersabda:
Dan barangsiapa yang berbicara tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya, maka akan menempati tempatnya di neraka”.
Berkata abû ‘isa hadis ini hasan, shahih (HR. Sunan al- Tirmidzi) 5
Dan mereka menyebutkan pula hadis Nabi dari Jundab:
َِّللّا ُدْبَع اَنَ ثَّدَح ُئِرْقُمْلا َقاَحْسِإ ُنْب ُبوُقْعَ ي اَنَ ثَّدَح َيََْيَ ِنْب ِدَّمَُمَ ُنْب
وُبَأ اَنَ ثَّدَح ُّيِعَطُقْلا ٍمْزَح يِخَأ َناَرْهِم ُنْب ُلْيَهُس اَنَ ثَّدَح ُّيِمَرْضَْلْا َمَّلَسَو ِهْيَلَع َُّللّا ىَّلَص َِّللّا ُلوُسَر َلاَق َلاَق ٍبُدْنُج ْنَع َناَرْمِع َلاَق ْنَم
َأَطْخَأ ْدَقَ ف َباَصَأَف ِهِيْأَرِب َّلَجَو َّزَع َِّللّا ِباَتِك ِفِ
) جرخأو وبأ
دواد يذمترلاو (
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepadaku Ya'qub bin Ishaq Al Muqri` Al Hadlrami telah menceritakan kepada kami Suhail bin Mihran saudara Hazm Al Qutha'I, telah menceritakan kepada kami Abu 'Imran dari Jundub ia berkata,
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
5 Abu Isa Muhammad ibn Isa At-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi wahwa al-jâmi’
al-Shahîh, Tahqîq : Khalid Abdul Ghani Mahfudz, Kitab Tafsir , Bâb Mâ Jâ’a Fî al ladzî yafassiru al-Qur’an birayihi (Beirut: Dâr al-kutub al-Ilmiyah 2011) h.685 Lihat juga ‘Abdullah Muhammad ibn Ismȃ’il ibn Ibrȃhim al-Bukhȃrȋ, Shahȋh al-Bukhȃrȋ, Kitab Permulaan Wahyu, Bab Dosa Berbohong atas Nama Nabi Muhammad saw, no.
hadis 107, jilid 1, h. 38, Abu Al-Husain Muslim Ibn Hajjȃj, Sahih Muslim, jilid 1, Bab Hukuman bagi Orang yang Berbohong atas Nama Nabi, no. 4 (Beirut: Dȃr al-Fikr 2009) h. 7, Abu Dawud Sulaiman Ibn Asy’ats Al-Sijistani, Sunan Abu Dawud, jilid 3, Bab Dosa Berbohong atas Nama Nabi Muhammad saw, no. 3603 (Beirut: dar al-kutub al-‘arabi t.th) h. 357, Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal, Al-Musnad , jilid 1, Bab umar ibn khattab, no. 326 (Kairo: Dȃr al-Hadȋts 1995) h. 46
4
"Barangsiapa berbicara tentang Kitabullah 'azza wajalla menggunakan pendapatnya, meskipun benar maka ia telah salah."( HR. Abû Dâwud, dan At Tirmidî ) 6
Para ulama pendukung tafsir bi al-ra’yi membantah penolakan tafsir bi al-ra’yi dengan menggunakan dua hadis di atas. Menurut mereka, larangan itu dimaksudkan bagi orang yang menafsirkan al- Qur’an dengan kecenderungan dan hawa nafsunya saja, tanpa dalil . Larangan itu juga dimaksudkan khusus bagi ayat atau lafadz di dalam al-Qur’an yang mengandung musykilat dan mutasyabihat. yang hanya bisa dipahami dengan penjelasan dari Nabi saw. Sedangkan bagi ayat-ayat yang tidak mengandung musykilat dan mutasyabihat.
Tentu saja tidak ada larangan menafsirkannya dengan dasar ijtihad.
Dan juga bagi orang menafsirkan ayat dengan berpegang pada dalil dan pertimbangan akal sehat tentu saja juga dibolehkan.7
“Allahumma faqihhu fiddîn wa alimhu ta’wîl” do’a ini merupakan salah satu argumen yang memperbolehkan adanya tafsir bi al-rayi atau yang disebut juga penafsiran dengan menggunakan rasio atau ijtihad. Doa Yang dibacakan Rasulullah untuk Ibn ‘Abbâs (w. 68 H/688 M) menjadikan Ibn ‘Abbâs sebagai salah satu sahabat yang paling banyak mengetahui tentang makna Al-Qur`an hingga mendapat julukan al-habr dan al-bahr.8 Keluasan ilmu makna Al-
6 Abu Dâwûd Sulaimân Ibn al-As’as al-Sijistâni, Sunan abi Dâwûd, Tahqîq : Muhammad ibn abdul ‘azîz al-khalidi , Kitab al-‘Ilm , Bâb al-kalâm fî kitâb allah bighair ‘ilm (Lebanon: Dâr al-kutub al-Ilmiyah 2010) h.579 Lihat juga Abu Isa Muhammad ibn Isa At-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi wahwa al-jâmi’ al-Shahîh, Tahqîq : Khalid Abdul Ghani Mahfudz, Kitab Tafsir , Bâb Mâ Jâ’a Fî al ladzî yafassiru al- Qur’an birayihi (Beirut: Dâr al-kutub al-Ilmiyah 2011) h.685
7Anshori LAL, Tafsir bil Ra’yi, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010) h. 6
8Yunus Hasan Abidu, Dirâsah wa Mabâhits fī Tarikh al-Tafsîr wa Manâhij al- Mufassirîn (Beirut: Libanon t.th) h. 19
5
Qur`an yang dimiliki Ibn ‘Abbâs membuat Ibn ‘Abbâs mendirikan perguruan di Makkah yang mengakaji tafsir Al-Qur`an, dan salah satu muridnya yang terkenal adalah Mujâhid.9
Mujâhid ibn Jabr (21-103 H) tabi’in madrasah Makkah Ibn
‘Abbâs (w. 68 H/688 M) adalah ulama yang tsiqqah, paling alim dalam bidang tafsir dimasanya dan ahli ibadah. Tafsirnya digunakan oleh Imam Syâfi’i, Imam Bukhâri dan lain-lain. Penilaian Mujâhid dalam hal tafsir Al-Qur`an telah disepakati ulama, bahwa tafsirnya dapat dijadikan hujjah. Sebagai murid dari Ibn ‘Abbās(w. 68 H/688 M), Mujâhid tidak hanya mengambil penafsiran dari Ibn ‘Abbās saja, namun Mujâhid juga mengambil penafsiran dari sahabat lainnya seperti Abû Hurairah (w. 678 H)10, Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Amr, Abû Said dan Rafi ibn Juraij, namun tidak sedikit orang yang mengkritisi tafsirnya karena menilai adanya penukilan dari ahli kitab.11
Penafsiran Tabi’in mulai mengambil peran dalam dunia tafsir klasik. Akan tetapi penafsiran Tabi’in masih menjadi sebuah perdebatan dikalangan ulama ‘ulûm Al-Qur’an, apakah mereka masuk dalam tafsir bi al- ma’thûr atau tafsir bi al-ra’yi?. Pandangan seperti ini, disebabkan banyak terjadi perbedaan pandangan
9Manna Al-Qattan, Mabâhits fī Ulûm Al-Qur`an (Riyadh: Mansyûrat al-‘Asr al- hadīts 1973) h. 480
10Abu Hurairah al-Dausi Al-Yamani, namanya adalah ‘Abd al-Rahman ibn Sakhra ada yang mengatakan Ibn Ganam ada yang mengatakan ‘Abdullah ibn A’idz ada yang mengatakan Ibn Amir dan masih ada beberapa pendapat lain tentang nama asli dari Abu Hurairah (Abu al-Fadhl Ahmad ibn Hajar Al-Atsqalâni, Tahdzîb at-Tahdzîb, jilid 6 (Beirut: dâr al-fikr t.th) h. 81) beliau merupakan sahabat nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis dari rasulullah, hal ini terjadi karena Abu Hurairah lebih intens bersama rasulullah dan banyak meriwayatkan hadir dari sahabat juga
11Yunus Hasan Abidu, Dirâsah wa Mabâhits fî Tarikh al-Tafsîr wa Manâhij al- Mufassirîn, h. 38-39
6
dikalangan Tabi’in, karena banyak Tabi’in yang menggunakan ijtihad dan ra’yu-nya dalam menafsirkan Al-Qur’an.12 Menurut Ibnu Taimiyyah, jika terjadi perbedaan pandangan diantara penafsiran Tabi’in, maka hal tersebut jangan dijadikan hujjah.13
Adz-Dzahabî (w. 1333-1397 H/1915-1999 M) dalam bukunya al-Tafsîr wa al-Mufassirûn mengatakan bahwa Mujâhid adalah salah satu Tabi’in yang banyak menggunakan ra’yunnya dalam menafsirkan Al-Qur`an dibandingkan penggunaan riwayat.14 Namun Adz-Dzahabî bercerita, anak dari Mujâhid bercerita saat ada yang bertanya pada ayahnya tentang tafsir Al-Qur`an yang menggunakan ra’yu maka Mujâhid menangis dan mengatakan “saya hanya membawa tafsir sebanyak sepuluh penafsiran sahabat yang berkaitan dengan Al-Qur`an”.15 Hal ini membuktikan bahwa dalam penafsirannya Mujâhid tidak menggunakan ra’yu sepenuhnya, dia hanya mengikuti gurunya yaitu para sahabat.
Salah satu penafsiran Mujâhid menggunakan pendapatnya:
ۡ دَقَلَو
ۡ ُمُت مِلَع ۡ ٱ
َۡنيِ ذ لَّ
ۡٱ
ۡ ا وَدَت ع
ۡ ِفِۡ مُكنِم ۡ
ِۡت ب ذسل ٱ
ۡ
ۡ اوُنوُكۡ مُهَلۡ اَن لُقَف
ۡ ِسَٰ َخًۡةَدَرِق
ۡ َي ٦٥ۡ
ۡ
Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: "Jadilah kamu kera yang hina" (Q.S. Al- Baqarah[2] :65)
12 Mannâ’ Khalîl Al-Qattân, Mabâhith fî ‘Ulûm al-Qur’an, (Beirut: Dâr al- Rashîd,2008), 338.
13Taqiyuddîn Ahmad ibn Abdul Halîm Ibn Taimiyyah, Muqaddimah fî ushûl al- Tafsîr, (Beirut: Dâr Ibn Hazm, 1997), 96.
14Muhammad Husain Adz-Dzahabî, Tafsîr wa Al-Mufassirûn (Kairo: Dâr al- Hadîts 2005) h. 97
15Muhammad Husain Adz-Dzahabî, Tafsîr wa Al-Mufassirûn, h. 98
7
Mujâhid mengatakan bahwa hati mereka yang dirubah seperti kera, bukan menjadi kera sungguhan dan sesungguhnya hal ini merupakan perumpamaan kemarahan Allah terhadap mereka, sebagaimana keledai memikul buku.16 Hemat penulis Mujâhid telah menggunakan ra’yu-nya dalam menafsirkan ayat ini, karena dalam tafsir al-Tabarî telah di jelaskan bahwa Mujâhid telah berbeda dari beberapa Tabi’in seperti ‘Ikrimah dan Qatadah.17
Dalam penafsiran ini Mujâhid secara jelas menggunakan rasio.
Menurutnya ayat ini merupakan perumpamaan orang-orang yang mendapatkan taurat, namun mereka tidak membacanya ibarat keledai yang membawa tumpukan buku tapi tidak bisa membacanya.18 Penafsiran ini dinilai oleh at-Tabarî sebagai penafsiran yang telah keluar dari makna lahir yang ditunjukan oleh ayat tersebut.19 Adz- Dzahabî (w. 1333-1397 H/1915-1999 M) memandang bahwa ini merupakan hal yang mungkin menjadikan Mujâhid dijauhi ulama yang ketat dalam penilaian tafsir bi al- ra’yi. Bahkan ada yang mencelanya.20
Penafsiran Mujâhid yang seperti ini, sesuai dengan pengertian tafsir yang dijelaskan oleh al-Suyûtî yang berasal dari riwayat Abî Hayan (w 745 H), ia mengatakan “ Tafsir adalah ilmu yang mengkaji cara pengucapan lafaz-lafaz Al-Qur’an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukumnya baik sebagai kata-kata tunggal atau dalam
16Muhammad Husein adz-Dhahabi, al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, jilid 1,(Beirut:
Maktabah Mus’ab ibn Umar, 2004), 80.
17Abî Ja’far Muhammad Ibn Jarîr Al-Tabari, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayi al- Qur’an, Jilid 1 (Beirut: Dâr al-Salâm, 2009), 257-458.
18Ignaz Goldziher, Madzâhib al-Tafsîr al-Islâm (Bagdad; Maktabah al-Mithanna) h. 131
19Abî Ja’far Muhammad Ibn Jarîr Al-Tabarî, Jâmi al-Bayân ‘An Tawîl Ayi al- Qur’an Jilid 1,( Kairo: Dâr al-Salâm, 2009) h. 459
20Muhammad Husain adz-Dzahabî, Tafsîr wa Al-Mufassirûn, h. 98
8
susunan kalimat dan makna-makna yang mungkin terdapat kandungan makna dalam kalimat dan kesempurnaannya”.21
Hal ini sesuai dengan tindakan Tabi’in yang merasa tidak mampu lagi bertemu dengan Nabi, sehingga mereka memberikan gambaran terhadap ayat Al-Qur’an sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Meskipun demikian Tabi’in tidak menafsirkan Al- Qur’an secara sembarangan. Alasannya ialah karena dalam menafsirkan sebuah teks atau memahami sebuah teks dibutuhkan sebuah prior teks yaitu latar belakang, persepsi, dan keadaan, sehingga teks akan dipahami sesuai dengan keadaan penafsir.22
Tafsir bi al-rayi merupakan salah satu metode dalam menafsirkan Al-Qur`an yang diajarkan oleh Rasulullah, sebagai penerima dan penyampai wahyu tentunya rasulullah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan penjelasan dari apa yang telah diwahyukan kepadanya. Hal ini terjadi karena tidak semua ayat dalam Al-Qur’an memiliki makna yang terperinci, namun ada juga ayat-ayat yang bersifat global dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut.23 Sedang ilmu tafsir merupakan alat untuk memahami Al- Qur`an dan menjadi induk dari ilmu Al-Qur`an.24
Legalitas tafsir bil rayi tidak serta merta menjadikan Al-Qur`an dapat ditafsirkan dengan bebas sebebas-bebasnya. Namun terdapat beberapa persyaratan yang mesti ditaati dan tidak boleh dilanggar oleh seorang Mufassir. Bahkan pada masa-masa awal wafatnya
21Abdurahmân Jalâluddin Al-Suyûti, al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’an, (Beirut: Dâr al- Hadîts, 1986), 2265.
22Amina Wadud Muhsin, Quran and Women (Kuala Lumpur: Fajar Bakti sdn, Bhd, 1994), 5.
23Moh. Abdul Kholiq Hasan, Metode Penafsiran Al-Qur`an Mengenai Dasar Penafsiran Al-Qur`an, dalam jurnal Al-A`raf, volume XII, nomer 1, h. 53
24Abdul Djalal, Ulumul Qur`an (Surabaya: Dunia Ilmu 1998) h. 31
9
rasulullah dan para sahabat mulai saling bertanya tentang makna Al- Qur`an, mereka benar-benar sangat hati-hati bahkan ketakutan ketika harus mengambil alternatif ijtihad dalam menafsirkan Al-Qur`an, hal ini dilandasi oleh perkataan Ibn ‘Abbâs (w. 68 H/688 M) “ barang siapa yang berbicara tentang Al-Qur`an tanpa ilmu maka silahkan menempati tempatnya dineraka”.25 Maka tidak heran jika pada masa sahabat tidak banyak ditemukan tafsir bi al-ra’yi, namun semakin berkembangnya zaman dan penyebaran Islam mulai meluas maka mulai banyak permasalahan-permasalahan baru timbul dikalangan umat Islam yang akhirnya mendorong para sahabat untuk menafsirkan Al-Qur`an dengan ijtihadnya dan para sahabat juga mengajarkan ilmu tafsir ini kepada muridnya yang tidak lain adalah para tâbi’în, hal ini terlihat dari adanya madrasah-madrasah tafsir di berbagai daerah seperti madrasah Makkah, Madinah dan Irak.
Madrasah-madrasah tafsir yang terkenal ini hadir dilatarbelakangi oleh mulai menyebarnya islam diberbagai wilayah dan mengharuskan para sahabat untuk menyebar kebeberapa daerah agar bisa lebih intensif mengajarkan ilmu-ilmu islam, khususnya dalam bidang tafsir.26
Sahabat yang menjadi pengajar tafsir di daerah Makkah adalah Ibn ‘Abbâs (w. 68 H/688 M), dengan muridnya yang terkenal adalah Mujâhid (21-103 H /641-721 M ), Sa’id ibn Jubair (w. 95 H/712 M)
25Abu Isa Muhammad ibn Isa At-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi wahwa al-jâmi’ al- Shahîh, Tahqîq : Khalid Abdul Ghani Mahfudz, Kitab Tafsir , Bâb Mâ Jâ’a Fî al ladzî yafassiru al-Qur’an birayihi (Beirut: Dâr al-kutub al-Ilmiyah 2011) h.685
- انثدح دومحم نب نلايغ انثدح رشب نب يرسلا انثدح نايفس نع ىلعلأا دبع نع
ديعس نب ريبج نع نبا
سابع لاق امهنع الله يضر لاق
لوسر الله ىلص الله هيلع (ملسو م ن ق لا ف ي ا قل نآ ر ب غ ر ي ع م ل ل ي ف ت ب و م ق أ ع ه د م ن
نلا را ) حيحص نسح ثيدح اذه ىسيع وبأ لاق
26Muhammad Zaini, Sumber-Sumber Penafsiran Al-Qur`an dalam Jurnal substansi volume 14, Nomer 1, April 2012, h. 30
10
dan lain-lain. Sahabat yang mengajar di Madinah ada Ubay ibn Ka’b dengan muridnya yang terkenal adalah Zaid ibn Aslam(w. 182 H/798M ), Abu Aliyah (w.90 H/708 M ) dan Muhammad ibn Ka’b (117 H/ 735 M)dan di Irak ada Ibn Mas’ûd dengan muridnya yang terkenal adalah Alqamah ibn Qais(w.102 H/720 M), Masrûq(w. 63 H), dan lain-lain. Sebagian ulama berpendapat bahwa perguruan Irak merupakan cikal bakal dari tafsir bi al-rayi.27 Perbedaan lokasi ini membuat hasil dari penafsiran para Tabi’in menjadi beraneka ragam, sehingga penafsiran yang timbul di antara mereka menjadi berbeda- beda. Hal ini diakui oleh al-Kadirī yang menjelaskan bahwa perbedaan ini disebabkan karena perbedaan tempat, keadaan guru, dan keadaan murid.28
Penggunaan ta`wil atau tafsir bi al-ra’yi secara gencar dikembangkan oleh kaum Mu’tazilah, dalam kaum Mu’tazilah sangat mengedepankan akal tidak terkecuali saat mereka dihadapkan dengat ayat-ayat Al-Qur`an, maka yang mereka lakukan adalah mempergunakan rasio mereka dan baru diinterpretasikan dalam teks atau ayat Al-Qur`an, sesuai dengan rasio dan bahasa.29 Mu’tazilah merupakan salah satu aliran teologi dalam Islam yang lebih mengedepankan rasionalitas dalam agama. Latar belakang lahirnya masih menjadi perselisihan, sebagian mengatakan bahwa istilah
27Mannâ’ Al-Qattân, Mabâhits fî Ulûm Al-Qur`an (Riyâdh: Mansyûrat al-‘Asr al- hadîts 1973) h. 480
28Muhammad ibn Abdullah ibn Ali Al-Khadirî, Tafsīr al-Tabi’în ‘Ard wa Dirâsah Muqârinah (Beirut: Dār al-Watân, 1999,) 920-921.
29Salah Abd al-Fattâh al-Khalidi, Ta’rîf al-Dârisîn Bi Manâhij al-Mufasirîn (Damaskus: Dâr al-Qalam, 2008) h. 533
11 Mu’tazilah ini sudah ada sejak masa Utsman dan Ali30, namun sebagian lagi berpendapat bahwa latar belakang hadirnya Mu’tazilah adalah pada permasalahan antara Wasil ibn ‘Ato yang berselisih pendapat dengan Hasan al-Basri31. Terlepas dari perdebatan yang tidak juga menemui titik terang ini, permasalahan terpenting Mu’tazilah ini adalah adanya porsi besar untuk akal atau rasio dalam memahami masalah agama dan ajaran yang menjadi pegangan kaum Mu’tazilah ini disebut dengan ushûl al-khamsah.32
Sebagai aliran yang telah hadir lama dalam sejarah Islam, kejayaan Mu’tazilah ini pernah mengalami pasang surut. Puncak dari kejayaannya adalah pada masa bani abbasiyah, saat Al-Makmun, Al- Muktasim dan Al-Watsiq menjadi khalifahnya (198-232 H), situasi semakin mendukung perkembangan dan persebaran Mu’tazilah saat diproklamirkan sebagai ajaran resmi Negeri oleh al-Makmun sedangkan masa lemah sampai masa keruntuhannya terjadi saat kaum Mu’tazilah mengadakan Mihnah33 terhadap beberapa ulama.34
30Masa ini disebut dengan Mutazilah satu, yaitu Mutazilah yang hadir karena pertentangan politik tanpa ada stigma teologis (Abdul Razak dan Rosihon Anwar, ilmu kalam (Bandung: Pustaka Setia 2016) h.98)
31Mutazilah dua, muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembang di kalangan khawarij dan murjiah karena peristiwa tahkim. Mutazilah dua ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan khawarij dan murjiah pada pemberian status kafir kepada orang yang berbuat dosa besar. (Abdul Razak dan Rosihon Anwar, ilmu kalam (Bandung: Pustaka Setia 2016) h.98)
32Harun Nasution, Teologi Islam; Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan (Jakarta: Ui-Press 1986) h. 40-46
33Al-Mihnah diartikan ujian dan siksaan yang diderita oleh para nabi dalam menyampaikan dakwah namun mereka tetap tabah. Dari sudut pemikiran islam, hal ini diartikan dengan pengujian keyakinan para ahli fiqih dan ahli hadis tentang ke makhlukan al-Qur’an serta sanksi hukum yang harus mereka terima sehubungan dengan keyakinan mereka tersebut (Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam (Jakarta; Amzah 2015) h. 86-87)
34Syafii, Teoligi Mutazilah; Sebuah Upaya Revilitasi, dalam jurnal Teologia volume 25, nomer 2, Juli-Desember 2014
12
Rasionalitas kaum Mu’tazilah kerap kali menjadi kritikan keras dari beberapa ulama, namun tidak sedikit orang yang memuji dan mengakui intlektualitas kaum Mu’tazilah ini, sebut saja Ahmad Amin beliau berpendapat bahwa kaum Mu’tazilah ini telah memiliki andil yang relative besar dalam upaya melawan orang Kristen, Yahudi, Majusi dan kaum materialis. Bahkan pendapat yang lebih ekstrim mengatakan bahwa malapetaka umat Islam adalah saat lenyapnya kaum Mu’tazilah.35 Menurut hemat penulis, kontradiksi yang menghantam kaum Mu’tazilah ini lahir dari rasionalitas tinggi dalam tafsir hingga menyampingkan riwayat, padahal sangat jelas sekali penafsiran terbaik adalah Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, Al-Qur’an dengan hadis nabi, Al-Qur’an dengan perkataan sahabat, sebagian berpendapat bahwa perkataan tabi’in masuk juga namun sebagian lain berpendapat tidak. Barulah setelah semua ini rasio menjadi alternative dalam penafsiran Al-Qur’an.36
Kontroversi pemikiran Mu’tazilah memang sudah menjadi perhatian yang sangat klasik dikalangan pengkaji tafsir, khususnya golongan ahlus sunnah yang mengganggap Mu’tazilah sebagai kaum heresy (bid’ah) dan menganggap bahwa ilmu yang didasari oleh rasionalitas dan bukan riwayat banyak mengandung kekeliruan didalamnya, hal ini terjadi saat masa sahabat dan tabi’in juga pengikut tabi’in yang baik telah selesai.37
Pada dasarnya rasio dalam penafsiran Al-Qur`an tidak semuanya salah, karena dalam Al-Qur`an Allah telah menganjurkan
35Syafii, Teoligi Mutazilah; Sebuah Upaya Revilitasi dalam jurnal Teologia.
36Jamal Mustafa Abd Hamid Abd Wahhab An-Najar, Ushûl al-Dakhîl fî Tafsîr Ayi Tanzîl (Kairo: Jâmiah Al-Azhar 2009) h. 22
37Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur`an; Kritik Terhadap Ulumul Qur`an (Yogyakarta: lkis 2016)h. 276-277
13
umat Islam untuk selalu berfikir dan mentadaburi ayat-ayat Al- Qur`an menggunakan kata nazara, tadabbara, tafakkara, faqiha, fahima, ‘aqala, ulul albab, ulul abshar, dan lain-lain, yang mengandung ayat-ayat tentang dorongan bahkan perintah untuk banyak berfikir dan menggunakan akalnya.38
Oleh karena itu Tafsir bi al-ra’yi ini terbagi menjadi 2, yaitu:
Tafsir al- Mahmûd Yaitu tafsir yang pas dan tepat dengan tujuan syari’at, jauh dari kebodohan dan kesesatan, sejalan dengan kaidah bahasa arab, bersandar pada tata bahasa arab dalam memahami teks- teksnya. Dan Tafsir al-Madzmûm Yaitu tafsir yang menafsiri al- Qur’an tanpa ilmu, inilah yang disebut dengan tafsir “menurut selera penafsir sendiri” jauh dari tuntunan syara’, jauh dari kaedah bahasa arab, mengikuti hawa nafsu, atau membawa Firman Allah kepada Mazhabnya yang menyimpang atau rusak, atau kepada bid’ah dhalâlah, atau mendalami Firman Allah swt dengan ilmunya tapi mengetahui kaidah bahasa Arab.39
Menurut penulis dari penjelasan di atas mendeskripsikan bahwa sumber penafsiran itu tidak hanya bersumber dari riwayat, akan tetapi dengan rasio atau ijtihad, dan intuisi atau ilham yang metodenya sulit untuk ditemukan, karena sifatnya transenden. Penjelasan ini merupakan latarbelakang penulis yang akan meneliti praktik penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan oleh Tabi’in. Sekaligus
38Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam (Jakarta: UI-Press 1986) h. 48
39Muhammad Husain Adz-Dzahabî at-Tafsîr wal Mufassirûn (Kairo:Dâr al - Kutub al-Hadîts,1976), h. 188 Lihat Juga Khalid Abdurrahman Al-‘Ak, Ushûl al-Tafsîr wa Qawâiduhu, h.171
14
menunjukkan fakta bahwa Tabi’in mengunakan rasio dalam menafsirkan ayat
Berbicara tentang rasionalitas dan tafsir pada masa tabi’in maka penulis melihat ada suatu masalah yang perlu dibahas dan diselesaikan, akhirnya penulis tertarik untuk mengkaji tafsir bi al- ra’yi dari penafsiran tabi’in, maka penulis merasa penting meneliti penafsiran Mujâhid. Alasan Penulis mengambil Tafsir Mujâhid karena Madrasah Makkah itu kental dengan riwayatnya dan Mujâhid menggunakan rasio(rayu), hal ini bertentangan dengan riwayat.
sebagai sempel penulis mengambil salah satu tokoh terkenal tabi’in dalam bidang tafsir yaitu Mujâhid. Maka penulis membuat judul yaitu TAFSIR BI AL-RA’YI MADRASAH TAFSĪR MAKKAH (Studi Analisis Penafsiran Mujâhid Pada Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr Karya Muhammad Abd al-Salâm Abû al-Nail)
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka penulis merasa penting untuk mengidentifikasi, merumuskan serta membatasi permasalah dalam tesis ini.
1. Identifikasi Masalah
Setelah memaparkan latar belakang dari penulisan tesis ini penulis mengidentifikasi permasalahan dalam tesis ini.
a. Tinjauan umum tentang tafsir bi al-ra’yi Mujâhid dalam tafsirnya
b. Perbedaan Mujâhid dalam memahami sebuah teks Al-Qur’an menjadikan berbagai macam hasil penafsiran
c. Metode penafsiran Mujâhid dalam menafsirkan ayat -ayat Al- Qur’an dalam kitab Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr
15
d. Pengkajian ulang terhadap pengertian Tafsir bi al-ra’yi , sehingga tidak menjadi ambigu
e. Tingkat kemampuan intelektual Tabi’in bermacam-macam , sehingga terdapat Tabi’in yang menggunakan Ijtihadnya sendiri.
2. Pembatasan Masalah
Setelah mengidentifikasi permasalahan dan menemukan banyaknya permasalahan dalam tesis ini maka penulis membatasinya agar pembahasan pada tesis ini tidak terlalu luas.
Adapun pembatasan masalah pada tesis ini hanya pada:
a. Meneliti Metodologi Mujâhid dalam menafsirkan ayat -ayat Al-Qur'an dalam kitab Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr
b. Mengkaji ayat-ayat yang di tafsirkan bi al-rayi dalam kitab tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr
3. Perumusan Masalah
Untuk memudahkan pemahaman dan lebih terarah maka penulis merumuskan masalah ini menjadi:
a. Bagaimana Metode Mujâhid dalam menafsirkan ayat -ayat Al- Qur'an dalam kitab Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr ?
b. Bagaimana tafsir bi al-ra’yi Mujâhid dalam kitab tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr ?
C. Tujuan Penelitian
Layaknya sebuah pekerjaan yang memiliki tujuan, penelitian dalam tesis ini juga memiliki tujuan tertentu, antara lain:
1. Untuk menganalisa Metode Mujâhid dalam menafsirkan ayat - ayat Al-Qur'an dalam kitab Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr
16
2. Untuk mencari pemikiran tafsir bi al-ra’yi Mujâhid dalam kitab tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr.
D. Kegunaan Penelitian 1. Secara teoritis:
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan Metode Mujâhid dalam menafsirkan ayat -ayat Al-Qur'an dalam kitab Tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr
b. Penelitian ini diharapakan dapat menambah wawasan dalam kajian tafsir bi al-rayi dalam suatu tafsir khususnya pada kitab tafsir Imâm Mujâhid Ibn Jabr
2. Secara praktis:
a. Dengan diadakannya penelitian tentang rasionalitas Mujâhid dapat membuat para pengkaji tafsir atau mufassir lebih berhati- hati dalam menafsirkan al-Qur`an menggunakan rasio.
b. Dengan penelitian ini, diharapakan agar masyarakat memahamai tafsir bil rayi yang baik (Mahmudah) dan tafsir bil rayi yang buruk (Mazmûm).
c. Dengan penelitian ini, diharapakan peneliti lain dapat merujuk penelitian ini guna menjadi tambahan dalam pengkajiannya.
d. Dengan penelitian ini, diharapakan agar para pengkaji tafsir tidak lagi menafsirkan ayat Al-Qur’an menggunakan rasio yang terlalu bebas sehingga keluar dari yang dimaksudkan Allah.
E. Kajian Pustaka
Dalam penyusunan tesis ini Penulis mendapati beberapa penelitian yang hampir sama, baik dalam bentuk buku maupun tesis diantara penelitian yang telah terjadi yang membahas masalah hampir serupa dengan judul tesis ini di antaranya adalah:
17
1. Tesis yang ditulis oleh Muhsin Ali al-Haddar yang berjudul Rasionalitas Penafsiran Sahabat dan Tabi’in (Kajian atas Tafsir bil Matsur), UIN Syarif hidayatullah jakarta (2012). Pada tesisnya ini muhsin menjelaskan bahwa rasionalitas dalam tafsir Al-Qur`an telah ada sejak zaman sahabat dan tabiin, namun tidak semua penafsirannya masuk pada kategori tafsir bil matsur karena tafsir bil matsur harus benar-benar murni dari riwayat dan bukan ijtihad40. Adapun perbedaannya adalah pada tesis milik muhsin terfokus kategorisasi penafsiran sahabat dan tabiin pada tafsir bil ma`tsur sedangkan pada tesis ini terfokus para rasionalitas Mujâhid dan pemikiran Mu’tazilah.
2. Tesis yang ditulis Ermita Zakiyah dengan judul Aspek Faham Mu’tazilah dalam Tafsir Al-Kasysyaf tentang Ayat-Ayat Teologi (Studi Pemikiran Az-Zamaksyari), IAIN Sunan Ampel 2013.
Dalam tesisnya ermita mencoba menjelaskan prinsip yang digunakan az-Zamaksyari dalam penafsirannya dan memahami pandangan az-Zamaksyari tentang teologi Mu’tazilah yang diantutnya dan dalam tesisnya ermita mempunya kesimpulan bahwa prinsip teologi Mu’tazilah tidak semua terkaver dalam tafsir al-kasysyaf.41 Berbeda dengan pembahasan pada tesis yang akan ditulis, permasalahan yang akan diangkat adalah tentang penafsiran Mujâhid dan korelasinya dengan faham Mu’tazilah.
3. Buku yang ditulis oleh Muhammad Abdussalam Abu An-Nail, dengan judul Tafsir al-Imâm Mujâhid ibn Jabir, tahun 1889. Kitab
40Muhsin Ali Al-Haddar, rasionalitas penafsiran sahabat dan tabi’in; kajian atas tafsir bi al-matsur (Tanggerang: Isdar Press 2012) h. 179
41Ermita Zakiyah, Faham Mutazilah Dalam Tafsir Al-Kasysyaf Tentang Ayat- Ayat Teologi (Studi Pemikiran Az-Zamaksyari), (Tesis Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel 2013)
18
ini membahas ilmu tafsir dan para mufassir dan salah satu fokus tafsir ini adalah Mujâhid dan pendapatnya dalam menafsirkan Al- Qur`an42. Kitab ini tentunya dapat membantu penulis untuk menyelsaikan penelitian penulis. Perbedaanya, pada kitab karya Abu Nail ini seluruh penafsiran rayun Mujâhid dijelaskan, namun pada tesis yang akan ditulis ini pembahasannya lebih terfokus pada ayat-ayat teologi yang ditasfirkan oleh Mujâhid dengan ra’yu nya.
4. Disertasi yang ditulis oleh Ali al-Djufri, dengan judul Rasionalitas Penafsiran Mahmûd Shaltût dalam Masalah Akidah dan Syari’ah Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatul Jakarta, 2010. Pada disertasinya Ali al-Djufri menjelaskan mengenai pemikiran Mahmud Syaltut yang rasional dalam konsep ketuhanannya yang moderat. Sedangkan dalam bidang syari’ah shaltut berpandangan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an harus dikontekstualiskan dengan mengedepankan kemashlahatan ummat.43 Perbedaannya dengan tesis ini terletak pada kajian penafsiran yang difokuskan dan ayat yang menjadi penelitian, pada Disertasi Ali al-Djufri ayat yang dibahas adalah ayat tentang akidah dan Syari’ah dan penafsiran yang menjadi acuan adalah Mahmud Shaltut , namun pada tesis ini ayat yang digunakan adalah ayat rasional dan penafsiran yang digunakan adalah Mujâhid ibn Jabr.
5. Disertasi yang ditulis oleh Rif’at Syauqi Nawawi, dengan judul Rasionalitas Tafsir Syaikh Muhammad Abduh (Tinjauan Terhadap
42Muhammad Abdusasalam Abu An-Nail, Tasfir Al-Imam Mujahid Ibn Jabr (Madinah: Dâr Al-Fijr Al-Islami Al-Hadîts 1989)
43Ali al-Djufri, “Rasionalitas Penafsiran Mahmūd Shaltūt dalam Masalah Akidah dan Syari’ah” (Disertasi: Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatul Jakarta, 2010),xxi
19
Bidang Akidah Dan Dakwah) Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatul Jakarta, 1993. Pada disertasinya Rif’at ingin menguji rasionalitas tafsir Muhammad abduh dengan empat hal. Pertama, rayun, kedua cenderung memperbaiki keadaan masyarakat, ketiga, terjadi kemiripan dengan tokoh rasional, dan keempat dbanyak menerangkan tentang himak persyariatan.44 Perbedaanya adalah pada tesis ini fokus tokoh yang diteliti adalah Mujâhid ibn Jabr, dan pada disertasi rif’at fokus tokoh yang diteliti adalah Muhammad abduh, selain rif’at juga meneliti tentang ayat ibadah dan akidah sedang tesis ini mencoba menjelaskan ayat rasional.
F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Tesis ini adalah penelitian kepustakaan (library research)45, yaitu dengan mengumpulkan semua buku-buku yang membahas tentang tafsir bi al-rayi, penafsiran Mujâhid acuan primer.
Sumber sekunder buku buku tafsir yang mempunyai kecenderungan rasio seperti al kasyaf karena akan menjadi pembanding dari sumber data primer sehingga penulis akan mendapatkan informasi pembanding yang cukup antara kitab-kitab tafsir di lingkungan tafsir bi al-ra’yi. Dan sejumlah buku-buku yang masih ada kaitannya dengan objek penelitian seperti buku- buku tentang teologi islam, sejarah perkembangan tafsir dan bahan-bahan rujukan lain yang relevan dengan objek pembahasan
44Rif’at Syauqi Nawawi, Rasionalitas Syaikh Muhammad Abduh (Tinjauan Terhadap Penafsiran Bidang Akidah dan Ibadah), (Disertasi: Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1993)h. 26
45Penelitian kepustakaan adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian. Lihat Mestika Zed, Metode Penelitian Kepustakaan, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), edisi ke-2, Cet. ke-1, h. 3
20
yang dibahas, sebagai acuan sekunder. Hal ini dimaksud agar mendapat informasi secara lengkap untuk menemukan titik terang dari kesimpulan yang akan penulis ambil.
Penelitian telaah pustaka ini merupakan penelitian kualitatif, yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi46.
2. Pendekatan
Terdapat dua model pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini.Pertama, pendekatan historis. Hal ini dilakukan untuk menemukan biografi Mujâhid yang dinyatakan oleh beberapa orang bahwa beliau menafsirkan al-qur`an dengan rasionalitas. Selain mendapatkan biografi dan riwayat pendidikan Mujâhid pendekatan ini dapat juga membantu penulis dalam menganalisa arah pemikiran Mujâhid dalam menafsirkan ayat Al- Qur`an.
Kedua, pendekatan kritik tafsir. Yang dimaksudkan dengan kritik tafsir adalah suatu cara, prosedur, langkah-langkah ilmiah dan sistematis untuk melakukan analisis, evaluasi, dan penilaian terhadap tafsir Al-Qur`an. dan akhir dari pendekatan ini adalah untuk dapat membedakan mana tafsir yang sesuai dengan koridor ilmiah dan yang tidak sesuai, mana tafsir yang lemah dan tafsir
46Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:
Alfabeta, 2009), Cet. ke-8, h. 9
21
yang kuat, mana tafsir yang mustaqim dan munharif, dan mana tafsir yang terpuji dan tercela.47
3. Sumber Data
Untuk mendapatkan data, maka penulis menggunakan sumber data primer dan skunder yang relevan dengan penulisan tesis ini. Adapun sumber yang penulis gunakan sebagai sumberdata primer adalah Al-Qur`an dan Tafsir Mujâhid . Sedangkan sumber data skunder adalah buku-buku tentang biografi ulama tafsir, buku-buku tentang perkembangan tafsir, - Al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Thabaqât al-Mufassirîn, Jami’ al-Bayân, Tafsir Al-Thabari, Sumber-sumber lain yang terkait dengan pembahasan dalam Tesis ini, baik dari literatur buku, internet dan kepustakaan digital maktabah syamilah, lidwa.
4. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, penulis mengumpulkan data dengan cara penelusuran kepustakaan, baik dengan manual maupun komputerisasi. Sistem manual yang penulis maksud adalah dengan mengumpulkan data dari buku-buku atau tulisan yang membahas tentang rasionalitas Mujâhid dalam tafsir. Dan yang dimaksud dengan sistem komputerisasi adalalah mengumpulkan data dan mencari informasi dari internet. Setelah dikumpulakan lalu diteliti agar dapat membantu dalam memberi penjelasan. Selain itu penulisan tesis ini juga menggunakan metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, jurnal
47Muhammad Ulinnuha, Rekontruksi Metodologi Kritik Tafsir (Jakarta:
Azzamedia 2015) h. 40-41
22
dan lain-lain. Teknik ini merupakan penelaahan terhadap referensi-referensi yang berhubungan dengan permasalahan penelitian.
5. Metode Analisa Data
Berdasarkan referensi yang ada, penulis dalam pembahasan tesis ini menggunakan metode deskriptif-analisis-, yaitu melalui pengumpulan data baik primer maupun sekunder lalu diteliti, dianalisa, dan dibandingkan dengan beberapa riwayat yang sudah tidak diragukan lagi kesahihannya, agar kemudian dapat diambil kesimpulannya.
6. Validasi Data
Pada penelitian ini, penulis menggunakan bentuk triangulasi48sumber. Yaitu dengan cara mengumpulkan data dari sumber-sumber yang ada, seperti mengumpulkan ayat-ayat rasional dalam tafsir Mujâhid dan kemudian diklasifikasikan, dianalisa dan terakhir menghasilkan kesimpulan yang dapat dipertanggung jawabkan.
7. Langkah-Langkah Penelitian
Adapun langkah-langkan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Dengan menggunakan pendekatan kepustakaan, pertama penulis mengumpulkan ayat-ayat rasional yang ditafsirkan oleh Mujâhid yang pada tesis ini penulis menggunakan tafsir Mujâhid karya Mujâhid ibn Jabr.
Langkah berikutnya penulis kemudian menganalisa tafsir tersebut dan mencari apakah terdapat dalam tafsir Mujâhid
48Menurut Sugiono triangulasi merupakan pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Secara keseluruhan terdapat triangulasi sumber, train gulasi teknik pengumpulan data, dan triangulasi waktu.
23
rasionalitasnya dan apakah rasionalitas Mujâhid dalam tafsirnya sesuai dengan kaidah-kaidah penafsiran
Langkah berikutnya penulis melakukan kontens analisis atau disebut juga analisis isi yakni suatu cara sistematik untuk menganalisa suatu pesan, mengolah pesan dan mempertajam inti pembahasan yang kemudian penulis ungkapkan dalam bentuk konsepsional dan menyelidiki kandungannya menjadi satu rangkaian pengertian yang lurus, baik secara dedukatif maupun indukatif. Penafsiran Mujâhid dalam tafsir Mujâhid, penulis menganalisa penafsiran beliau tentang ayat-ayat rasional yang ditafsirkan menggunakan rasio dalam Tafsir nya.
G. Teknik Penulisan
Adapun teknik penulisan tesis ini penulis mengacu pada buku Panduan Penulisan Proposal, Tesis dan Disertasi yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta 2017
H. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang apa yang diuraikan dalam tesis ini, dan agar pembahasan tesis ini lebih terarah dan sistematis, maka pembahasan dibagi menjadi lima 5 (lima) bab, yaitu: pada bab pertama penulis akan mencoba menguraikan bagian yang merupakan pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitiaan, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Selanjutnya, pada bab kedua penulis akan memaparkan sebuah pembahasan tentang dasa-dasar pengetahuan rasionalitas tafsir.