Nama : Meyza Yoanda Mujevi NPM : E1G020040
Kelas : TIP B
GOOD PRACTICE CARA PENGOLAHAN PANGAN Proses Pengolahan Ikan Kaleng
Berdasarkan codex alimentarius commission, standar yang digunakan untuk menentukan keamanan pangan, meliputi :
1. Lokasi
Lokasi pabrik tersebut sudah memenuhi prinsip bangunan harus berada ditempat yang bebas dari pencemaran. Mengingat pada video tersebut pengolahan ikan kaleng dilakukan disebuah pabrik yang besar, maka sudah pasti pabrik tersebut memenuhi persyaratan pembangunan pabrik pada lokasi yang sesuai
2. Bangunan
Berdasarkan video proses pembuatan ikan kaleng, dapat dilihat bahwa aspek-aspek bangunan pabrik tersebut sudah memenuhi standar pembuatan pabrik. Aspek seperti tata ruang, lantai, atap, langit-langit, pintu, jendela, penerangan, dan pengatur suhu ruangan sudah memenuhi syarat teknis pada pabrik pembuatan ikan kaleng.
3. Fasilitas Sanitasi
Untuk sanitasi, pada video tersebut sudah sesuai. Pada bangunan pabrik tersebut dilengkapi dengan sarana penyediaan air, sarana pembersihan, dan sarana hygiene karyawan yang sudah memenuhi perencanaan teknis dalam suatu industry.
4. Alat Produksi
Alat produksi yang digunakan pada pembuatan ikan kaleng di video tersebut sudah sesuai dengan standar produksi suatu produk, yang mana permukaan yang berhubungan dengan makanan dibuat halus, tidak berlubang, tidak mengelupas, tidak menyerap air, tidak berkarat, dan tidak mencemari hasil produksi dengan jasad renik, pada video tersebut, alat produksi dibuat dengan menggunakan material logam.
5. Bahan Baku, Bahan Tambahan, dan Bahan Pendukung
Bahan yang digunakan pada pembuatan sarden kaleng di video tersebut sudah sesuai dengan SNI 8223-2016. Bahan baku yang digunakan adalah ikan, bahan tambahan dan bahan pendukung yang digunakan juga sesuai dengan standar, serta tidak merugikan kesehatan
6. Proses Pengolahan
Proses pengolahan yang dilakukan pada pembuatan ikan kaleng tersebut sudah sesuai, mengikuti formula dasar dan memiliki instruksi tertulis dalam bentuk protokol pembuatan. Setiap bahan ditakar dan ditentukan porsinya sesuai dengan catatan formula yang ditetapkan pabrik. Oleh karena itu, hasil yang didapatkan berupa produk yang seragam.
7. Produk Akhir
Produk akhir berupa sarden kaleng pada video tersebut, sudah sesuai dengan persyaratan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan yang mana tercantum dalam KEPUTUSAN. MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN RI. NOMOR 52A/KEPMEN-KP/2013. Selain itu, dapat dilihat juga bahwa produk pada proses tersebut, sudah dilakukan pemeriksaan secara organoleptic, fisika, kimia, mikrobiologi,
dan biologi, sehingga memenuhi standar mutu SNI 8223-2016, tentang tuna dalam kemasan kaleng.
8. Karyawan
Karyawan yang bekerja pada pabrik tersebut sudah sesuai dengan standar karyawan pabrik makanan. Setiap karyawan menggunakan topi, masker, mantel, sepatu, dan perlengkapan karyawan lainnya. Selain itu, di video tersebut menampilkan setiap karyawan di periksa Kembali kebersihannya dengan membersihkan mantel pabrik menggunakan alat roller.
9. Wadah dan Pengemas
Wadah dan pengemas yang digunakan pada video tersebut nggunakan kaleng. Produk akhir dimasukkan ke dalam kaleng yang kedap udara. Hal tersebut sudah sangat sesuai karena pengalengan merupakan salah satu bentuk pengolahan dan pengawetan ikan modern yang dikemas secara hermatis dan kemudian di sterilkan. Pengemasan secara hermatis mengandung arti bahwa penutupannya sangat rapat sehingga tidak dapat ditembus oleh udara, air, mikroba, atau bahan asing lainnya.
10. Pelabelan
Pelabelan pada produk tersebut, sudah sesuai dengan peraturan pemerintah RI No. 69 tahun 1999 tentang label dan iklan pangan, bahwa label ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan atau huruf Latin. Ketentuan ini berlaku mengikat tidak hanya terhadap pangan yang diproduksi di dalam negeri, namun berlaku juga terhadap pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan.
11. Penyimpanan
Bagian penyimpanan pabrik tersebut sudah sesuai, karena bahan-bahan yang digunakan sudah disimpan dengan cara yang baik sehingga terjaminnya mutu dan keamanan pangan.
12. Laboratorium
Pabrik tersebut dilengkapi dengan laboratorium untuk pengujian setiap produk yang diproduksi.
13. Pemeliharaan
Pemeliharan bangunan pada pabrik tersebut sudah sesuai, sudah memenuhi syarat karena berdasarkan SNI, pembangunan pabrik harus disertai dengan pemeliharaan serta perawatan pabrik tersebut. Bagian-bagian dari bangunan maupun alat bebas dari hama, pencemaran, dan selalu bersih.
Nama : Meyza Yoanda Mujevi NPM : E1G020040
Kelas : TIP B
BAD PRACTICE CARA PENGOLAHAN PANGAN Proses Pengolahan Saus Tomat
Berdasarkan codex alimentarius commission, standar yang digunakan untuk menentukan keamanan pangan, meliputi :
1. Lokasi
Lokasi proses produksi dalam video tersebut sangat jauh dari kata layak. Pengolahan tersebut dilakukan diarea pemukiman warga karena pabriknya sendiri hanya menggunakan dapur dari sebuah rumah.
2. Bangunan
Berdasarkan video proses pembuatan saus tomat tersebut, dapat dilihat bahwa tidak ada pabrik yang sesuai dan memenuhi syarat pembuatan pabrik. Proses pengolahan dilakukan di rumah pemilik usaha. Yang mana bangunannya tidak sesuai dengan kriteria pabrik yang baik, bagian-bagian rumah juga tidak terlihat baik.
3. Fasilitas Sanitasi
Pada video tersebut, dapat dilihat bahwa tidak terdapat sanitasi yang baik dan sesuai dengan syarat sebuah pabrik. Alat yang digunakan pada proses produksi juga tidak memenuhi standar sanitasi, karena pada video tersebut hanya menggunakan ember yang kotor untuk pembuatan produk.
4. Alat Produksi
Alat produksi yang digunakan pada pembuatan saus tomat tersebut tidak memenuhi standar alat produksi yang baik. Di video tersebut, alat yang digunakan hanya ember kotor, serta menggunakan kaki manusia tanpa alas sebagai penggilas bahan yang akan digunakan. Selain itu, kotornya alat produksi ini tidak disertai dengan sanitasi yang baik.
5. Bahan Baku, Bahan Tambahan, dan Bahan Pendukung
Bahan yang digunakan pada pembuatan saus tomat adalah buah tomat busuk dengan bahan tambahan papaya dan pengawet buatan. Dari bahan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahan yang digunakan sangat jauh dari kata higenis.
6. Proses Pengolahan
Proses pengolahan yang dilakukan pada pembuatan saus tomat di video tersebut sangat tidak sesuai dengan SNI 01-3546-2004. Tidak ada ketentuan takaran yang pas pada proses produksi, selain itu proses pengolahannya menggunakan cara yang tidak wajar, contohnya seperti menggunakan bagian tubuh manusia
7. Produk Akhir
Produk akhir berupa saus tomat yang tidak higienis sama sekali. Saus tomat yang berasal dari campuran tomat busuk dan papaya itu dimasukkan kedalam plastic tipis sebelum diperdagangkan. Oleh karena hal tersebut, dapat disimpulkan tidak ada jaminan mutu pada produk akhir dari pengolahan saus tomat ini.
8. Karyawan
Karyawan yang bekerja pada proses pembuatan saus sangat tidak memenuhi kriteria seorang karyawan yang benar. Tidak ada atribut yang digunakan saat karyawan
mengolah produk. Karyawan hanya menggunakan baju seadanya tanpa melakukan proses sanitasi terlebih dahulu.
9. Wadah dan Pengemas
Wadah dan pengemas yang digunakan pada video tersebut menggunakan plastic tipis yang diikat dengan karet. Dapat disimpulkan bahwa wadah dan pengemas yang digunakan tidak sesuai dengan kriteria pengemas yang baik. Selain itu, mutu dari saus tersebut juga tidak akan terjamin.
10. Pelabelan
Produk saus tomat tersebut tidak diberi pelabelan sama sekali. Hanya dikemas seadanya tanpa mencantumkan informasi apapun pada kemasan saus.
11. Penyimpanan
Bagian penyimpanan pada industry tersebut tidak memiliki penyimpanan yang layak.
Bahan baku hanya disimpan di tempat seadanya, sehingga tidak menjamin mutu dari bahan baku tersebut untuk lanjut ke proses pengolahan.
12. Laboratorium
Pabrik tersebut tidak memiliki laboratorium.
13. Pemeliharaan
Bagunan pabrik tidak dipelihara dengan baik. Dapat dilihat di video bahwa pabrik merupakan bagian dari rumah yang tidak diperhatikan kebersihannya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada pemeliharaan yang sesuai dengan kriteria sebuah pabrik.