• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK KULTUR Chaetoceros sp (AutoRecovered)

06BDI@Aria Wiranatanudatar

Academic year: 2023

Membagikan "TEKNIK KULTUR Chaetoceros sp (AutoRecovered)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK KULTUR Skeletoema costatum SEBAGAI PAKAN ALAMI LARVA UDANG

VANAMA (Litonaeus vannamei) di PT. Central PertiwI Bahari South Lampung

(2)

1.PEDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Udang vanamei (Litopenaeus vannamei) atau dikenal dengan Pacific White Shrimp merupakan udang introduksi yang secara ekonomis bernilai tinggi karena diminati oleh pasar Amerika dan dunia. Udang vanamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001 dan mulai dibudidayakan di tambak daerah Banyuwangi dan Situbondo, Jawa Timur, seiring dengan menurunnya produksi udang windu akibat terserang penyakit virus white spot atau White Spot Syndrome Virus (WSSV) sehingga pertumbuhannya juga sangat lambat (Sugama, 2002).

Udang vanname (Litopenaeus vannamei) dibudidayakan pada segenap daerah Republik Indonesia (Suriadnyani et al., 2007). Peningkatan pembudidayaan sangat dibutuhkan ketersediaan benur secara kontinyu dan berkualitas (Haliman & Adijaya, 2005). Menurut Gustrifandi (2011), masalah produksi larva udang adalah hasil yang rendah karena kematian yang tinggi. Ini sebagian karena plankton yang tidak mencukupi, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Panjaitan (2014), menyatakan bahwa rendahnya kualitas larva, salah satunya dipengaruhi oleh penggunaan pakan dalam pemeliharaan larva tidak tepat. Menurut Hastuti (1988) dan Gustrifandi (2011), pakan alami diperlukan karena mengandung nutrisi seperti protein, karbohidrat dan lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup.

Menurut Nuntung et al., (2018) larva udang vannamei diberi makan dengan zooplankton dan fitoplankton alami.

Fitoplankton merupakan pakan alami yang berperan penting sebagai pakan awal yang kaya bagi larva (Panjaitan et al., 2015). Spesies plankton yang dimakan oleh larva udang Penaeid adalah Thalassiosira sp. dan Chatoceros sp. yang kandungan nutrisinya hampir dua kali lipat dari asam lemak tak jenuh ganda (PUFA) dari chaetoceros sp. pada fase eksponensial (Costard et al., 2012). Chethoceros sp. biasa digunakan sebagai pakan alami pada pembenihan udang, karena pakan alami ini tidak hanya memiliki kandungan protein yang relatif tinggi, tetapi juga cepat meningkat kepadatannya pada kondisi lingkungan yang sesuai.

1.2 Tujuan

Tujuan dari Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk mengetahui teknik kultur Skeletonema costatum. Hambatan dan permasalahan dalam kultur Skeletonema costatum.

1.3 maafaat

Praktik Kerja Lapang ini dimakudkann agar Taruna mendapat gambaran secara langsung

tentang lingkungan kerja menambah wawasan terhadap masalah – masalah di lapangan tentang

teknik kultur Skeletonema costatum sebagai pakan alami larva udang vaname (Litolineus

vannamei)

(3)

2.TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Udang vaname (Litopeneus vannamei)

Udang putih vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan salah satu jenis udang yang memiliki pertumbuhan cepat dan nafsu makan tinggi, namun ukuran yang dicapai pada saat dewasa lebih kecil di bandingkan udang windu (Penaeus monodon). Habitat aslinya adalah di perairan samudera pasifik, tetapi spesies ini dapat di budidayakan dengan baik di Indonesia (Sukadi, 2004). Informasi ilmiah lebih rinci mengenai udang ini di jabarkan dalam biologi udang putih vanname, meliputi : taksonomi dan anatomi, morfologi, habitat, pakan dan kebiasaan makan.

2.1.1 Klasifikasi Udang vaname

Klasifikasi udang vaname menurut Ruswahyuni, et al. (2010) adalah sebagai berikut:

Filum : Arthropoda

Subfilum : Crustacea Kelas : Malacostraca Subkelas : Eumalacostraca Superordo : Eucarida

Ordo : Decapoda

Subordo : Dendrobranchiata Famili : Penaeidae

Genus : Litopenaeus Spesies : L. vanname

2.1.2 Morfologi

Menurut Suyanto dan Takarina (2009), tubuh udang famili Penaeidae dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu kepala-dada(chepalothorax), badan (abdomen), dan ekor. Bagian chepalothorax tertutup oleh satu kelopak yang disebut karapas. Lebih rinci, karapas mempunyai tonjolan yang meruncing ke depan, yaitu rostrum. Rostrum tampak bergerigi pada tepi-tepinya. Di bawah pangkal rostrum terdapat sepasang mata majemuk yang bertangkai. Mulut berada di bagian bawah mata, dilengkapi dengan kelengkapan anggota kepala yang lain seperti antenna, antennula, mandibula, dan sebagainya.

Morfologi udang vaname yaitu berwarna putih transparan dengan kromatofor kebiruan yang terkonsentrasi di dekat telson dan uropod. Memiliki dua 7 gigi rostrum di ventral dan delapan atau sembilan gigi rostrum di bagian dorsal. Udang vannamei termasuk subgenus Litopenaeus dan spesies betinanya memiliki telicum yang terbuka tanpa penutup. Proses perkawinan dimulai dengan loncatan tiba-tiba dari betina. Pada saat yang sama udang jantan melakukan pengeluaran sperma. Proses kawin

(4)

berlangsung sekitar satu menit. Sepasang vannamei yang berbobot 30 - 45 gram akan menghasilkan sekitar 100.000-250.000 butir telur dengan diameter 0,22 mm (Ruswahyuni, et al., 2010).

Gambar 1 morfologi udang vaname 2.1.3 Habitat dan Penyebaran

Udang Penaeidae bersifat euryhaline yang sangat tahan terhadap fluktuasi kadar garam. Di tambak yang berair dangkal, daya tahan terhadap goncangan suhu juga cukup besar. Di malam hari, suhu dapat mencapai 22°C atau dibawah 25°C. Namun di siang hari, terutama musim kemarau mungkin suhu sering mencapai 31°C. Meskipun demikian, udang vaname tetap dapat tumbuh dengan cukup baik (Suyanto dan Takarina, 2009)

Menurut Pasongli, et al. (2015), habitat yang sesuai untuk pertumbuhan udang vaname yaitu pada suhu berkisar 27-32°C. Udang vaname dapat hidup pada kisaran kadar garam yang cukup luas yaitu dari 0,5-45 ppt. pH yang optimal untuk udang vaname adalah 7,3-8,5. Gambar 1. Udang Vaname (Wakida-Kusunoki, et al., 2011) 8 Udang vannamei dapat hidup pada salinitas 0,1-60 ppt (tumbuh dengan baik 10-30 ppt, ideal 15-25 ppt) dan suhu 12-37°C (tumbuh dengan baik pada suhu 24-24°C dan ideal pada suhu 28-31°C). Di beberapa negara Amerika Selatan, Amerika Tengah, dan Cina, udang vannamei juga dipelihara di lingkungan air tawar dan menunjukkan perbedaan produktivitas yang tidak signifikan dengan yang dipelihara di habitatnya (Kordi, 2009).

Kebiasaan makan dan cara makan (feeding and food habit) udang vaname yaitu tegolong hewan omnivorous scavenger, pemakan segala (hewan dan tumbuhan), dan bangkai. Jenis makanan yang dimakan udang vaname antara lain plankton (fitoplankton dan zooplankton), alga bentik, detritus, dan bahan organic lainnya. Udang vaname lebih rakus (piscivorous) dan membutuhkan protein yang lebih rendah. Udang vaname membutuhkan pakan yang mengandung protein 32- 38% (Kordi, 2009).

Kebiasaan makan (feeding behaviour) udang vaname mencari makan di dasar perairan (benthic). Pada sistem intensif untuk pakan utamanya menggunakan pellet. Kandungan protein pada pakan udang buatan (pellet) cukup tinggi, yaitu sekitar 40%. Sehingga proses pembusukan (perombakan) pellet akan menghasikan senyawa nitrogen anorganik berupa NH3-N dan NH4 + yang merupakan salah satu senyawa toksik bagi udang. Kualitas pakan yang baik tergantung pada kandungan protein, lemak, serat kasat dan beberapa nutrien lain yang diperlukan bagi pertumbuhan udang. Nutrisi pada pakan seperti protein,

(5)

lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin menjadi faktor penting yang mendukung kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan pada udang (Romadhona, et al., 2016).

2.2 Biologi Skeletonema costatum 2.2.1 Klasifikasi Sketeletonema

Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) Skeletonema costatum diklasifikasikan sebagai berikuit :

Phylum : Heterokontophyta Class : Bacillariophycea

Ordo : Centrales

Genus : skeletonema

Species : Skeletonema costatum

2.2.2 Morfologi Sketeletonema

1. Sel mempunyai kemampuan membentuk skeleton eksternal silica (frustule)

2. Bahan utama penyusun dinding sel adalah silicat dan dindingnya lebih tipis dibandingkan dengan jenis diatom lain.

3. Berbentuk kotak berantai dengan cytoplasma yang memenuhi dinding sel.

4. Berukuran 4-15 mikron meter.

5. Volume sel rata-rata 154 mikrom meter kubik.

6. Sel terdiri dari dua bagian yaitu tutup epitike yang berukuran lebih besar dan wadah hipotike yang ukurannya lebih kecil.

(6)

7. Pigmen penyusun sel yang menyebabkan warna sel kuning keemasan adalah fuxoanthin (Daulay, 1993; Apriyanto et.al. 1999).

2.2.3 habitat Sketeletonema

Naik et al., (2010) menyatakan bahwa Skeletonema costatum memiliki kisaran geografis yang luas, baik pada perairan beriklim sedang maupun tropis. Rudiyanti (2011) berpendapat bahwa sebagian besar diatom sangat peka terhadap perubahan kadar garam dalam air. Kehidupan berbagai jenis fitoplankton termasuk Skeletonema costatum tergantung pada salinitas perairan.

Habitat Skeletonema costatum yaitu hidup di air laut yang mempunyai intensitas cahaya kurang dari 500-12000 lux. Jika intensitas cahaya kurang dari 500 lux Skeletonema costatum tidak dapat tumbuh, sedangkan kisaran salinitas tumbuh kembangnya adalah 25-29 ppt. Suhu untuk pertumbuhan 20-34 0C, sedangkan suhu optimalnya adalah 25-27 0C. Sementara itu derajat keasaman media hidupnya berkisar 7,5-8 (Edhy et al., 2003).

2.3. Media

Referensi

Dokumen terkait

Panjang Larva lele dengan pemberian pakan Cacing Sutera ( Tubifex sp.) hasil kultur massal menggunakan kotoran ayam, roti afkir dan ampas tahu yang difermentasi.. Larva lele

Uji pakan dimaksudkan untuk mengetahui waktu yang diperlukan kerang hijau ( Perna viridis ) untuk menghabiskan pakan Chaetoceros sp. Persiapan ini dilakukan dengan

Pakan alami merupakan pakan yang baik untuk budidaya karena diketahui memiliki kandungan nutrisi jauh lebih banyak dibandingkan dengan pakan buatan dan menjadi

Uji pakan dimaksudkan untuk mengetahui waktu yang diperlukan kerang hijau ( Perna viridis ) untuk menghabiskan pakan Chaetoceros sp. Persiapan ini dilakukan dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui salah satu jenis pakan (alami artemia sp, chlorella sp dan tubifex sp) yang terbaik untuk mendukung pertumbuhan dan kelangsungan

Tujuan dari Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk mempelajari teknik kultur murni pakan alami, faktor-faktor yang perlu diperhatikan, hambatan yang muncul dalam

Hal ini pula yang menyebabkan populasi kultur kontinyu (t=14 -17 hari periode kultur kedua; t=22-24 hari periode kultur ketiga) tidak berbeda nyata dengan populasi kultur

Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman dan mempraktekkan secara langsung tentang teknik kultur pakan alami Tetraselmis chuii