Heti Hermawati Nur Tias 20106030040/Kimia
TEMA-TEMA POKOK AL-QUR’AN
Tema-tema pokok Al-Qur’an merupakan inti dari suatu bacaan yang sempurna dari Allah yang turun kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an sendiri merupakan bacaan yang sempurna dimana berisi tentang firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. Tema-tema pokok Al-Qur’an menurut beberapa ahli yaitu:
1. Fadlul Rahman
Menurut Fadlul Rahman tema-tema pokok Al-Qur’an terdiri dari 8 hal yaitu Tuhan, manusia sebagai individu, manusia anggota masyarakat, alam semesta, kenabian dan wahyu, estakologi, syaitan dan kejahatan, dan lahirnya masyarakat muslim.
a. Tuhan
Tuhan disebut dengan Allah dan di yakini sebagai zat Maha Tinggi dan Esa, pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, yang abadi, penentu takdir, dan hakim bagi semesta alam. Dalam Al-Qur’an nama Allah disebutkan lebih dari 2500 kali belum termasuk nama lain Allah. Al-Qur’an berisi tentang ajaran untuk bertauhid mengesakan Allah.
b. Manusia sebagai individu
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dari seluruh makhluk ciptaan-Nya yang lain. Manusia merupakan makhuk Allah yang berbeda dengan makhluk lain karena manusia diberi akal dan nafsu, diberikan kebebasan untuk menentukan hal apa yang mereka lakukan akan tetapi hal tersebut juga harus dipertanggungjawabkan pada hari akhir.
c. Manusia anggota masyarakat
Hubungan baik dalam bermasyarakat harus diciptakan guna mencapai lingkungan hidup yang tenang dan juga damai. Hal ini terkandung dalam Al-Qur’an karena salah
satu tujuan Al-Qur’an yaitu menegakkan tata krama masyarakat yang adil dan beretika. Al-Qur’an menekankan pada persamaan manusia yang esensil, karena penting untuk membangun rasa kekeluargaan juga hubungan peraudaraan antar sesama bagi manusia.
d. Alam semesta
Alam semesta dapat dipahami sebagai wujud dari keberadaan Allah SWT. Bila Allah menciptakan segala sesuatu maka dia memberikan kekuatan atau hukum tingkah laku yang ada di dalam al-qur’an. Alam semesta diciptakan untuk kepentingan manusia, jadi tugas manusia yaitu mengabdi kepada Tuhan, untuk berterimakasih kepada-Nya, dan hanya semata-mata untuk menyembah-Nya.
e. Kenabian dan wahyu
Nabi merupakan seseorang yang menerima wahyu dari Allah SWT melalui perantara malaikat / ilham ataupun mimpi yang benar. Menurut Fazlur Rahman, para nabi adalah manusia-manusia luar biasa yang karena kepekaan mereka, ketabahan mereka, karena wahyu Allah yang mereka terima serta yang kemudian mereka sampaikan kepada manusia dengan ulet tanpa mengenal takut, dapat mengalihkan hati nurani umat manusia dari ketenangan tradisional dan tensi hipomoral ke dalam suatu keawasan sehingga mereka dapat menyaksikan Tuhan sebagai Tuhan dan syaitan sebagai syaitan.
f. Eskatologi
Eskatologi merupakan gambaran kenikmatan surga dan neraka. Surga dan neraka adalah tempat dimana perbuatan manusia akan mendapat imbalan atau balasan. Al- Qur’an merupakan pemberi informasi terlengkap tentang keimanan eskatologi.
Kehidupan akhirat adalah suatu kepastian karena itu harus senatiasa meningkatkan iman dan takwa. Syurga adalah tempat dan balasan kenikmatan abadi kepada hamba Allah SWT yang senatiasa taat menjalan perintah dan meninggalkan segala laranganNya. Sementara Neraka adalah tempat dan balasan kesengsaraan yang sangat
mengerikan dan menakutkan kepada hamba Allah SWT yang musyrik, kufur, sombong, koruptor, pengkhianat dan pelaku maksiat lainnya untuk selama-lamanya.
g. Syaitan dan kejahatan
Setan bukan sekedar durhaka ataupun kafir, tetapi juga sekaligus mengajak kepada kedurhakaan atau kejahatan. Prinsip kejahatan pada al-qur’an di personifikasi sebagai iblis atau setan.
h. Lahirnya masyarakat muslim
Lahirnya masyarakat muslim dimadinah ini merupakan suatu entitas tersendiri dan terpisah dari masyarakat-masyarakat yahudi dan juga Kristen. Berdasarkan hal- hal yang terkandung dalam Al-Qur’an, sebelum islam datang sebagian penduduk mekah tidak mau mengakui Isa dan Musa. Nabi mengajarkan bahwa Allah itu Esa, orang-orang yang miskin harus diberi kesempatan untuk maju, dan nabi juga memberitahukan bahwa islam merupakan agama terakhir yang sempurna.
2. Muhammad Abduh
a. Ajaran utama Al-Qur’an yaitu menegaskan tentang tauhid, yang berupa keesaan Allah, dan segenap doktrin yang mengakui tindakan Allah menurunkan wahyu, mengutus para Nabi, dan realitas kebangkitan serta balasan bagi manusia.
b.
Al-Qur’an merupakan wahyu yang lengkap, kaum muslim tidak boleh memilih yang hanya disukainya.c. Al-Qur’an dijadikan sumber utama dari pembuatan undang-undang dalam masyarakat. Abduh mendukung penggunaan akal dan ilmu dalam memahami nash, dan dia juga menekankan bahwa kehidupan harus ditata berdasarkan ajaran Al- Qur’an.
d. Kaum muslimin tidak boleh menerima begitu saja tafsiran Al-Qur’an dari para leluhur mereka, namun harus otentik dan setia dengan pemahaman mereka sendiri.
e. Dalam menafsirkan Al-Qur’an harus menggunakan akal dan nalar. Abduh melihat bahwa Al-Qur’an mendorong manusia untuk meneliti dan memikirkan wahyu, dan juga untuk mengetahui hukum serta prinsip yang mengatur alam semesta. Al-Qur’an
patut disebut kitab kebebasan berpikir, yang menghormati nalar dan menghormati pembentukan individu melalui penelitian, pengetahuan dan penggunaan nalar serta perenungan.
3. Al-Qadhi Abu Bakar Ibnu al-‘Arabi
Ibnu al-‘Arabi memunculan tafsir komprehensif dengan pendekatan tafsirnya, tafsir yang seimbang antara pengungkapan makna eksoterik dan esoterik, sehingga muncul konsep islam kaffah. Ibnu al-‘Arabi menjelaskan bahwa seluruh ayat Al-Qur’an merupakan tasawuf. Di dalam tasawuf sumber dari kehidupan adalah Allah, dimana alam semesta merupakan wujud pengekspesian Allah. Alam ini akan mati jika tidak ada ruhnya. Maka ruhnya adalah manusia. Manusia merupakan tempat tajjali Tuhan yang paling sempurna dan kesempurnaannya itu terletak pada insan kamil. Menurut Ibnu al-‘Arabi insan kamil adalah pribadi Nabi Muhammad saw.
Melalui kajian sufistik Ibnu al-‘Arabi terhadap al-Quran, ia ingin memperlihatkan makna-makna esoteris dari setiap ayat al-Quran, agar manusia dapat sampai kepada Tuhan secara selamat. Alam hanyalah tempat berproses bagaimana agar ruh manusia yang berada di alam ini dapat menyatu dengan alam kerohanian secara mutlak. Karena secara sufistik bersatunya ruh manusia dengan ruh lainnya di alam keabadian merupakan suatu puncak kebahagiaan.