Tentang Pajak
Dosen Pengampu:
Dr. Tin Yuliani SH., Mkn
Oleh:
Eky Hairil Mahfus (2022F1A172)
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM
1
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Tentang Pajak” ini dengan tepat waktu.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Ibu Dr.
Tin Yuliani S.H., Mkn pada mata kuliah Hukum Pajak. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Hukum Pajak bagi para pembaca dan juga bagi penulis. Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. Tin Yuliani S.H., Mkn selaku dosen Hukum Pajak yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Akhir kata, saya berharap semoga makalah ini bisa memberikan informsi dan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. saya juga mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang telah membaca makalah ini hingga akhir.
Eky Hairil Mahfus
2
DAFTAR ISI
SAMPUL...Error! Bookmark not defined.
KATA PENGANTAR... 2
DAFTAR ISI...3
BAB I...4
PENDAHULUAN... 4
A. LATAR BELAKANG... 4
B. RUMUSAN MASALAH...8
C. TUJUAN... 8
BAB II... 9
PEMBAHASAN...9
A. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak Terhadapa Kemauan Wajib Pajak Dalam...9
Membayar Pajak... 9
B. Pengaruh Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Peraturan Perpajakan Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak...14
BAB III...24
PENUTUP...24
A. SIMPULAN... 24
B. SARAN...24
DAFTAR PUSTAKA... 25
3
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANGEra globalisasi yang terjadi saat ini menimbulkan persaingan yang ketat antar negara, terutama di bidang ekonomi. Hal ini mendorong negara Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lainnya. Pada tahun 2015 Indonesia mengalami penurunan nilai tukar rupiah yang berpengaruh negatif pada berbagai sektor terutama sektor ekonomi. Pemerintah dapat mengatasi hal ini dengan cara meningkatkan penerimaan negara yang terdiri dari Penerimaan Pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak. Di Indonesia, pajak merupakan sektor yang memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap penerimaan negara dibandingkan dengan penerimaan bukan pajak Pajak merupakan penerimaan negara terbesar. Kurang lebih 2/3 penerimaan Negara saat ini bersumber dari pajak. Dominasi pajak sebagai sumber penerimaan merupakan satu hal yang sangat wajar, terlebih ketika sumber daya alam, khususnya minyak bumi tidak bisa lagi diandalkan. Penerimaan dari sumber daya alam mempunyai umur yang relatif terbatas, suatu saat akan habis dan tidak bisa diperbaharui. Hal ini berbeda dengan pajak;
sumber penerimaan ini mempunyai umur tidak terbatas, terlebih dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk (Widayati dan Nurlis, 2010) Berdasarkan data yang diperoleh dari Depertemen Keuangan RI, pada tahun 2010 – 2014, penerimaan negara terbesar bersumber dari pajak dalam negeri. Pada tahun 2010, penerimaan negara yang berasal dari pajak dalam negeri adalah sebesar 72,67% dari total penerimaan negara, sementara pada tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014 masing – masing penerimaan negara yang berasal dari pajak dalam negeri mencapai 72,19%, 73,28%, 76,45%, dan 78,81% . Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa separuh penerimaan negara berasal dari pajak dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa pajak merupakan penerimaan negara yang sangat potensial sehingga dapat digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Pajak merupakan penerimaan terbesar suatu Negara khususnya Negara Indonesia.
Hampir 75% penerimaan negara saat ini bersumber dari pajak. Dominasi pajak sebagai sumber penerimaan merupakan satu hal yang sangat wajar, ketika sumber daya alam, khususnya minyak bumi tidak bisa lagi diandalkan. Penerimaan dari suatu sumber daya alam mempunyai umur relatif terbatas yang suatu saat akan habis dan tidak bisa diperbaharui lagi. Hal ini berbeda dengan pajak, sumber penerimaan ini mempunyai umur tidak terbatas, apalagi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, maka akan semakin besar pula penerimaan Negara dari sekto pajak. Pembayaran pajak merupakan perwujudan dari kewajiban negara dan peran serta masyarakat mengumpulkan dana untuk membiayai negara dan pembangunan nasional. Pajak yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat melalui perbaikan dan penambahan
4
pelayanan publik, mengalokasikan pajak tidak hanya untuk rakyat pembayar pajak juga untuk kepentingan rakyat yang tidak wajib membayar pajak.
Menurut Undang – undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 (1), Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Fungsi pajak meliputi dua hal yakni fungsi budgetair dan fungsi regulerend.
a. Fungsi Budgetair Fungsi penerimaan (budgetair) yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya. Pemerintah menghimpun dana dari penerimaan negara yang berasal dari pajak dan penerimaan negara bukan pajak. Dana yang terhimpun tersebut akan masuk ke dalam kas negara dan digunakan untuk membiayai kebutuhan negara dan kepentingan rakyat. Pajak yang dipungut dari rakyat diantaranya berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang masing – masing besarnya diatur dalam undang – undang yang ditetapkan pemerintah.
b. Fungsi Mengatur (Regulerend) Fungsi Mengatur (regulerend) yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi.
Menurut Undang – undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 (1), Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Dikutip dari Mardiasmo (2013:1) definisi atau pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur – unsur : a. Iuran dari rakyat kepada negara
b. Berdasarkan undang – undang c. Tanpa jasa timbal atau kontrapretasi
d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara
Pajak merupakan suatu bentuk kewajiban dan pengabdian dari warga negara kepada negara untuk pembangunan nasional dan kesejahteraan bersama yang dipungut berdasarkan undang – undang yang berlaku. Salah satu objek pajak yang potensial adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang selanjutnya disebut UMKM. Jumlah UMKM di Indonesia
5
berkembang dengan pesat dan terus bertambah setiap tahunnya. Menurut data statistik Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah dalam depkop.go.id, perkembangan jumlah UMKM periode 2010-2011 mengalami peningkatan sebesar 2,57 persen yaitu dari 53.823.732unit pada tahun 2010 menjadi 55.206.444unit pada tahun 2011. UMKM merupakan pelaku usaha terbesar dengan persentasenya sebesar 99,99 persen dari total pelaku usaha nasional pada tahun 2011. Pertumbuhan UMKM meningkat pesat dari tahun ke tahun dan keberadaannya menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Hal itu tercermin dari besarnya kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan penciptaan lapangan pekerjaan. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2013, pangsa UMKM di Indonesia mencapai 99,9% dari total 55,2 juta unit usaha. Aktivitas bisnis UMKM berkontribusi 97,16% terhadap penyerapan tenaga kerja dan menyumbang 57,94% terhadap PDB nasional.
(Direktur Utama PNM, Parman Nataatmadja, dalam beritamoneter.com) Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peranan yang cukup penting dalam menopang perekonomian negara. Sektor UMKM juga dianggap sebagai sektor yang paling tahan terhadap krisis. Hal ini telah dibuktikan pada krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1998.
Pada saat itu, banyak sektor perbankan dan industri yang tumbang akibat tidak mampu menahan dampak krisis. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada sektor UMKM. Oleh karena itu, kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional tidak dapat dipandang sebelah mata. Pajak yang dibayarkan oleh sektor UMKM menjadi sumber penerimaan negara yang sangat potensial.
Optimalisasi penerimaan pajak dari sektor UMKM dapat meningkatkan ketahanan perekonomian nasional terhadap krisis ekonomi (Rahmandani, 2015)
Banyaknya jumlah unit UMKM di Indonesia seharusnya juga tercermin pada penerimaan pajak. Sayangnya, banyak UMKM di Indonesia yang masih belum memahami pentingnya membayar pajak. Hingga pertengahan 2014, potensi penerimaan yang baru tergarap sekitar 7 persen. Total penerimaan pajak dari UMKM sejak Juli 2013 hingga Juni 2014 hanya sekitar Rp 2 triliun. Angka tersebut jauh dari potensinya sekitar Rp 30 triliun, dengan asumsi kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar Rp 3.000 triliun. Ditjen Pajak mengakui, potensi penerimaan pajak dari UMKM terbilang kecil di antara total penerimaan pajak. (Brodjonegoro, dalam www2.jawapos.com)
Dilihat dari banyaknya jumlah UMKM tersebut maka seharusnya penerimaan yang diperoleh dari pajak UMKM cukup tinggi. Namun hal ini bertentangan dengan data yang diperoleh dari KPP Pratama Jember bahwa wajib pajak badan yang terdaftar sampai dengan tahun 2014 hanya sejumlah 8.080. Wajib pajak badan yang dimaksud tersebut adalah wajib pajak badan baik dari sektor UMKM maupun bentuk wajib pajak badan yang lain. Realisasi pajak penghasilan badan pada tahun 2015 adalah sebesar Rp. 155.062.334.515 menurun 5,66%
dari pajak penghasilan badan pada tahun 2014, yaitu sebesar Rp. 164.359.194.563. Rendahnya penerimaan pajak tersebut disebabkan oleh rendahnya kemauan wajib pajak untuk memenuhi
6
kewajibannya membayar pajak. Berdasarkan data tersebut dapat dikatakan bahwa tidak sedikit pimpinan UMKM yang belum memenuhi kewajibannya untuk pembayaran pajak, khususnya pendaftaran untuk mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) badan.
Pemungutan pajak memang bukan suatu pekerjaan yang mudah, disamping peran serta aktif dari petugas pajak, juga dituntut kemauan dari para wajib pajak itu sendiri. Apabila tingkat kemauan membayar pajak wajib pajak tinggi, tentunya penerimaan negara dari sektor pajak akan terus meningkat dan pemerintah dapat menjalankan perannya. Sikap kemauan untuk membayar pajak harus dimiliki oleh wajib pajak agar penerimaan pajak dapat mencapai hasil yang maksimal. Apabila setiap wajib pajak memiliki kemauan membayar pajak, maka mereka akan secara sukarela untuk memenuhi kewajibannya tanpa menunggu ditagih untuk melunasinya (Sutari, 2013)
Kemauan membayar pajak didukung oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang paling penting adalah kesadaran dari wajib pajak itu sendiri. Menurut Suardikha (2007), masyarakat harus sadar akan keberadaannya sebagai warga negara yang senantiasa selalu menjunjung tinggi Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar hukum penyelenggaraan negara. Apabila setiap warga negara memiliki kesadaran tersebut, maka setiap warga negara tidak akan terbebani untuk membayar pajak yang digunakan untuk kepentingan bersama.
Soemarso (1998) menyatakan bahwa kesadaran perpajakan masyarakat yang rendah seringkali menjadi salah satu sebab banyaknya potensi pajak yang tidak dapat dijaring. Lerche (1980) juga mengemukakan bahwa kesadaran perpajakan seringkali menjadi kendala dalam masalah pengumpulan pajak dari masyarakat. Kesadaran wajib pajak atas perpajakan amatlah diperlukan guna meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Secara empiris juga telah dibuktikan bahwa makin tinggi kesadaran perpajakan wajib pajak maka makin tinggi tingkat kepatuhan wajib pajak (Suyatmin, 2004 dalam Jatmiko 2006).
Sampai sekarang kesadaran masyarakat membayar pajak masih belum mencapai tingkat sebagaimana yang diharapkan. Umumnya masyarakat masih sinis dan kurang percaya terhadap keberadaan pajak karena masih merasa sama dengan upeti, memberatkan, pembayarannya sering mengalami kesulitan, ketidakmengertian masyarakat apa dan bagaimana pajak dan ribet menghitung dan melaporkannya. Namun masih ada upaya yang dapat dilakukan sehingga masyarakat sadar sepenuhnya untuk membayar pajak dan ini bukan sesuatu yang mustahil terjadi. Ketika masyarakat memiliki kesadaran maka membayar pajak akan dilakukan secara sukarela bukan karena keterpaksaaan. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran wajib pajak adalah dengan sosialisasi perpajakan. Sebagaimana dinyatakan Dirjen Pajak bahwa kesadaran membayar pajak datangnya dari diri sendiri, maka menanamkan pengertian dan pemahaman tentang pajak bisa diawali dari lingkungan keluarga sendiri yang terdekat, melebar kepada tetangga, lalu dalam forum-forum tertentu dan ormas- ormas tertentu melalui sosialisasi. Dengan tingginya intensitas informasi yang diterima oleh
7
masyarakat, maka dapat secara perlahan merubah mindset masyarakat tentang pajak ke arah yang positif (Susanto, 2012 dalam www.pajak.go.id)
Dikutip dari Kristanty (2014), sosialisasi perpajakan sangat diperlukan bagi wajib pajak untuk mendapatkan informasi tentang perpajakan. Sosialisasi perpajakan tersebut dapat diperoleh dari berbagai media, baik media cetak, elektronik, maupun langsung dari petugas pajak. Adanya sosialisasi perpajakan diharapkan akan tercipta partisipasi yang efektif di masyarakat dalam memenuhi hak dan kewajiban sebagai Wajib Pajak dalam memenuhi perpajakannya dan mempermudah wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak.
Nugroho (2012) dalam penelitiannya mengenai faktor yang mempengaruhi kemauan membayar pajak bagi wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas di KPP Pratama Semarang Tengah Satu, menemukan bahwa kesadaran wajib pajak memiliki pengaruh terhadap kemauan membayar pajak. Hasil yang berbeda ditunjukkan dalam penelitian Megawati (2014) terhadap wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha di Kembang Jepun, Surabaya menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap kemauan membayar pajak.
Rohmawati (2015) dalam penelitiannya mengenai kepatuhan wajib pajak mengemukakan bahwa sosialisasi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas di KPP Pratama Gresik Utara, tetapi menurut penelitian Winerungan (2013), sosialisasi perpajakan tidak berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi di KPP Manado dan KPP Bitung.
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, masalah yang dapat diidentifikasikan dalam makalah ni adalah:
1. Apakah kesadaran wajib pajak berpengaruh terhadap kemauan wajib pajak dalam membayar pajak?
2. Apakah pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan berpengaruh terhadap kemauan wajib pajak dalam membayar pajak?
C. TUJUAN
1. Untuk menganalisis pengaruh kesadaran wajib pajak terhadap kemauan wajib pajak dalam membayar pajak.
2. Untuk menganalisis pengaruh pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan terhadap kemauan wajib pajak dalam membayar pajak.
8
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak Terhadapa Kemauan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak
Menurut UU No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 (2), wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang – undangan perpajakan. Berdasarkan undang – undang tersebut, wajib pajak dibedakan menjadi dua kategori:
1. Wajib Pajak Pribadi
Wajib Pajak Pribadi adalah setiap orang pribadi yang memiliki penghasilan di atas pendapatan tidak kena pajak. Di Indonesia, setiap orang wajib mendaftarkan diri dan mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), kecuali ditentukan dalam Undang- Undang (Nalendro, 2014)
2. Wajib Pajak Badan
Menurut Undang – undang Nomor 28 tahun 2007 Pasal 1 ayat 3, Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
Kesadaran adalah keadaan mengetahui atau mengerti, sedangkan perpajakan adalah perihal pajak. Sehingga kesadaran perpajakan adalah keadaan mengetahui atau mengerti perihal pajak. Penilaian positif masyarakat wajib pajak terhadap pelaksanaan fungsi negara oleh pemerintah akan menggerakkan masyarakat untuk mematuhi kewajibannya untuk membayar pajak (Suyatmin, 2004 dalam Jatmiko, 2006) Kesadaran wajib pajak adalah suatu kondisi di mana wajib pajak mengetahui, memahami, dan melaksanakan ketentuan perpajakan dengan benar dan sukarela. Semakin tinggi tingkat kesadaran wajib pajak maka pemahaman dan pelaksanaan kewajiban perpajakan semakin baik sehingga dapat meningkatkan kepatuhan.
(Muliari dan Setiawan, 2010). Kesadaran masyarakat untuk membayar pajak bisa berasal dari dirinya sendiri atau bisa juga termotivasi dari tindakan orang lain. Motivasi dari luar tersebut dapat didapatkan dari pemerintah, berupa kegiatan – kegian sosialisasi yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pajak atau seperti penyuluhan yang ditujukan untuk wirausahawan – wirausahawan yang masih awam tentang pajak.
9
Kesadaran merupakan suatu keadaan mengerti atau mengetahui. Dalam hal ini kesadaran wajib pajak adalah suatu keadaan dimana wajib pajak mengerti atau mengetahui hak dan kewajiban perpajakannya.Kesadaran wajib pajak atas besarnya peranan yang diemban sektor perpajakan sebagai sumber pembiayaannegara sangat diperlukan guna meningkatkan kepatuhan wajib pajak (Nugroho, 2006). Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Manik menemukan bahwa kesadaran wajib pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan pajak (Manik, 2009).
Menurut Undang – undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Pasal 1 (1), Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar- besarnya kemakmuran rakyat. Fungsi pajak meliputi dua hal yakni fungsi budgetair dan fungsi regulerend.
Meningkatkan jumlah penerimaan pajak memang bukanlah perkara yang mudah bagi pemerintah sebagai pihak yang berwenang memungut pajak berdasarkan legitimasi hukum Tetapi, pemerintah dalam hal ini tidak mempunyai legitimasi secara psikologis untuk memaksa wajib pajak membayarkan kewajiban. pajaknya, sehingga dibutuhkan suatu pendekatan lain untuk meningkatkan kepatuhan pajak. Banyaknya kasus suap yang terungkap di lingkungan perpajakan, mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat (wajib pajak khususnya) terhadap fiskus pajak. Hal ini menyebabkan menurunnya kesadaran wajib pajak dan memotivasi mereka untuk melakukan perlawanan pajak seperti tax avoidance maupun tax evasion Wajib pajak dikatakan mempunyai kesadaran apabila:
1. Mengetahui adanya undang-undang dan ketentuan perpajakan mengetahui fungsi pajak untuk pembiayaan negara
2. Memahami bahwa kewajiban perpajakan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku
3. Menghitung, membayar, melaporkan pajak dengan sukarela 4. Menghitung, membayar, melaporkan pajak dengan benar.
(Manik, 2009) Rendahnya kesadaran para wajib pajak dapat dilihat dari masih belum tercapainya penerimaan pajak negara sesuai target yang telah ditentukan dari tahun ke tahun.Realita ini menjadi bertolak belakang dari penelitian Priyantini (2008) yang menyatakan bahwa faktor penting dalam melaksanakan sistem perpajakan baru (self assestment system) adalah kesadaran dan kepatuhan yang tinggi dari wajib pajak.Masalah pengumpulan pajak dari masyarakat seringkali terkendala karena kesadaran wajib pajak yang kurang (Lerche, 1980) dalam (Jatmiko, 2006). Pengetahuan dan Pemahaman Perpajakan.
10
Kemauan membayar pajak (willingness to pay tax) dapat diartikan sebagai suatu nilai yang rela dikontribusikan oleh seseorang (yang ditetapkan dengan peraturan) yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum negara dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) secara langsung (Rantung dan Adi, 2009). Kemauan membayar pajak berarti wajib pajak rela dan sanggup untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara yaitu membayar pajak. Munculnya kemauan dalam membayar pajak diawali dengan adanya kesadaran dalam diri wajib pajak.
Kemauan membayar pajak dapat diartikan sebagai suatu nilai yang rela dikontribusikan oleh seseorang (yang ditetapkan dengan peraturan) yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum negara dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi) secara langsung (Anggraeni, 2011). Kemauan membayar pajak sangat didukung oleh kesadaran membayar pajak. Apabila seorang wajib pajak sudah memiliki kesadaran yang baik bahwa setiap warga negara memiliki kewajiban membayar pajak, maka mereka tidak akan keberatan dalam membayar pajak tanpa harus ditagih dan tidak ada keterpaksaan.
Anggraeni (2011), menggunakan tujuh (7) indikator yang memepengaruhi kemauan Wajib Pajak (WP) dalam penyampaian Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan Wajib Pajak (WP) Badan yaitu, tingkat pengetahuan Wajib Pajak (WP), sanksi dalam perpajakan, kemudahan dalam proses pengisian Surat Pemberitahuan (SPT), tingkat kesadaran yang dimiliki Wajib Pajak (WP), sunset policy, persepsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan, dan Sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3).
Berikut Adapun Upaya yang bisa dilakukkan untuk menambah kesadaran dan kemauan Masyarakat untuk membayar pajak adalah dengan Upaya mensosialisasikan tentang wajib pajak kepada Masyarakat
Sosialisasi merupakan hal yang penting dalam upaya peningkatan kesadaran dan kepatuhan wajib pajak. Sosialisasi perpajakan adalah pemberian wawasan, dan pembinaan kepada wajib pajak agar mengetahui tentang segala hal mengenai perpajakan. Sosialisasi tidak hanya dapat meningkatkan pengetahuan tentang pajak yang nantinya dapat berdampak pada peningkatan kesadaran wajib pajak itu sendiri. Namun, sosialisasi perpajakan diharapkan dapat menigkatkan kepatuhan wajib pajak sehingga jumlah penerimaan pajak dapat bertambah sesuai target. (Rohmawati, 2015)
Sosialisasi perpajakan merupakan suatu sarana bagi wajib pajak untuk mendapatkan informasi perpajakan yang bisa diperoleh melalui berbagai media, seperti brosur, televisi, radio, koran, spanduk yang dipasang di jalan, ataupun sosialisasi langsung yang diberikan oleh petugas pajak. Informasi tentang perpajakan yang dapat diperoleh wajib pajak tersebut, misalnya mengenai tata cara pembayaran pajak, besarnya pajak yang dibayar, cara pengisian SPT, dan batas waktu pembayaran pajak. Kegiatan sosialisasi perpajakan tersebut bermanfaat
11
bagi wajib pajak untuk lebih mengerti tentang perpajakan, baik fungsi dan manfaat dari pajak itu sendiri, sistem perpajakan yang digunakan, peraturan yang mendasari, sanksi yang dikenakan, dan media pembayaran pajak yang efektif.
Beberapa media sosialisasi perpajakan yang dapat dimanfaatkan oleh wajib pajak untuk memperoleh informasi tentang pajak adalah sebaga berikut:
1. Internet
Wajib pajak dapat mengakses informasi tentang perpajakan dari internet. pihak DJP juga menyediakan website yang dapat dibuka di mana saja dan kapan saja yaitu http://pajak.go.id. Website tersebut berisi berbagai macam berita terbaru terkait perpajakan, baik perubahan peraturan perpajakan ataupun kegiatan – kegiatan up to date yang dilaksanakan oleh DJP. Selain itu, dalam websiter tersebut terdapat artikel online terkait pajak yang dapat dibaca secara gratis. Isi artikel tersebut terkait dengan motivasi membayar pajak dan manfaat yang dirasakan seseorang ketika membayar pajak. Selain dari website, DJP juga membuat akun twitter resmi dengan username
@PajakRI. Akun twitter tersebut berisi tentang berita terbaru seputar perpajakan dan menyajikan foto kegiatan yang sedang berlangsung di seluruh wilayah di Indonesia.
Dengan adanya akun website dan twitter, diharapkan komunikasi antara masyarakat dan Direktorat Jenderal Pajak mampu terjalin dengan baik.
2. Brosur
Wajib pajak biasanya mendapatkan brosur pada saat datang ke kantor pajak. Brosur tersebut biasanya berisi tentang dorongan untuk membayar pajak tepat waktu, manfaat yang diterima ketika membayar pajak, dan tata cara pembayaran pajak. Brosur tersebut tersedia gratis di tempat pelayanan wajib pajak di kantor pajak.
3. Spanduk
Spanduk bertemakan pajak biasanya dipasang di jalan – jalan sehingga mudah bagi wajib pajak untuk membacanya. Pada spanduk tersebut, biasanya bertuliskan untuk membayar pajak tepat waktu dan tepat jumlah.
4. Iklan di televisi
Wajib pajak juga mendapatkan sosialisasi pajak dari media elektronik, yaitu media televise. Iklan tersebut berisi tentang penuturan beberapa masyarakat yang merasakan manfat dari pajak. Iklan tersebut juga memberikan dorongan kepada wajib pajak untuk tepat waktu dalam membayar pajak agar pembangunan negara dapat berjalan dengan lancer.
5. Kring Pajak
Wajib pajak bisa mendapatkan informasi perpajakan melalui layanan call centre yaitu dengan menghubungi nomor 500200. Informasi yang dapat diperoleh oleh wajib pajak
12
tersebut adalah informasi tentang peraturan perpajakan yang berlaku, informasi mengenai penggunaan aplikasi elektronik dalam rangka pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan dari Wajib Pajak dan informasi pendukung pemenuhan hak dan kewajiban perpajakan dari Wajib Pajak seperti informasi alamat dan nomor telepon unit kerja Direktorat Jenderal Pajak, konfirmasi kebenaran NPWP dan informasi lain yang disediakan oleh KLIP DJP sesuai ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. (PER-22/PJ/2014).
Menurut Winerungan (2013), indikator sosialisasi oleh Ditjen Pajak tersebut adalah kegiatan sadar dan peduli pajak serta memodifikasi program pengembangan pelayanan perpajakan:
1. Penyuluhan
Bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Ditjen Pajak melalui berbagai media, baik media elektronik maupun media massa lainnya bahkan terkadang sampai mengadakan penyuluhan secara langsung ke tempat(daerah-daerah) tertentu yang dianggap potensial pajaknya tinggi dan membutuhkan informasi yang lengkap dan terjamin kebenarannya.
2. Diskusi wajib pajak dan dengan tokoh masyarakat
Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Ditjen Pajak yang lebih menekankan pada komunikasi dua arah baik dari segi petugas pajak (fiskus) maupun masyarakat khususnya wajib pajak yang dianggap memiliki pengaruh atau dipandang oleh masyarakat sekitarnya sehingga diharapkan mampu memberi penjelasan yang lebih baik terhadap masyarakat sekitarnya.
3. Informasi langsung dari petugas ke wajib pajak
Bentuk penyampaian informasi yang diperoleh secara langsung oleh wajib pajak dari petugas yang bersangkutan (fiskus) mengenai perpajakan.
4. Pemasangan billboard Pemasangan billboard dan atau spanduk di pinggir jalan atau di tempat-tempat lainnya yang strategis dan mudah dilihat oleh masyarakat. Berisi pesan singkat, bisa berupa pernyataan, kutipan perkataan maupun slogan yang mudah dimengerti dan menarik sehingga mampu menyampaikan tujuannya dengan baik.
5. Web site Ditjen pajak Media sosialisasi (dalam menyampaikan informasi) yang dapat diakses internet setiap saat dengan cepat dan mudah serta informasi yang diberikanpun sangat lengkap, akurat, terjamin kebenarannya dan up todate.
B. Pengaruh Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Peraturan Perpajakan Terhadap Kemauan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak
Pengetahuan dan pemahaman perpajakan erat kaitannya mempengaruhi kesadaran masyarakat dalam pembayaran pajak. Pada uraian sebelumnya telah disebutkan bahwa
13
kesadaran pajak seringkali menjadi kendala pengumpulan pajak dari masyarakat, hal ini disebabkan karena adanya pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang masih rendah akan perpajakan. Pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan merupakan proses dimana wajib pajak memahami tentang perpajakan kemudian menerapkan pengetahuan tersebut untuk membayar pajak. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi untuk membayar pajak berupa kepemilikan NPWP dan wajib pajak harus melaporkan SPT.
Masyarakat kebanyakan hanya sekedar mengetahui peraturan perpajakan tapi tidak sepenuhnya memahami maksud yang terkandung di dalamnya. Sehingga mereka cenderung mengabaikan peraturan tersebut dan tidak takut terhadap sanksi yang akan diterima.
Sedangkan banyak pula di antara wajib pajak yang tahu dan memahami peraturan perpajakan tersebut tetapi mereka justru berusaha untuk mencari celah melakukan penghindaran pajak.
Solusi atas kasus tindak penggelapan atau penghindaran pajak adalah dengan melakukan sosialisasi Undang-Undang Perpajakan beserta sanksinya kepada para pelanggar ketentuan pajak tersebut. Hal ini didukung dengan adanya Keputusan Dirjen Pajak No.KEP-114 tahun 2005 tentang pembentukan tim sosialisasi perpajakan sebagai salah satu usaha pemerintah guna mencerdaskan masyarakat akan pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan.
Dengan adanya sosialisasi tersebut, diharapkan akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan, sehingga dapat meningkatkan pula kepatuhan mereka dalam membayar pajak.
Sosialisasi perpajakan merupakan suatu sarana bagi wajib pajak untuk mendapatkan informasi perpajakan yang bisa diperoleh melalui berbagai media, seperti brosur, televisi, radio, koran, spanduk yang dipasang di jalan, ataupun sosialisasi langsung yang diberikan oleh petugas pajak. Informasi tentang perpajakan yang dapat diperoleh wajib pajak tersebut, misalnya mengenai tata cara pembayaran pajak, besarnya pajak yang dibayar, cara pengisian SPT, dan batas waktu pembayaran pajak. Kegiatan sosialisasi perpajakan tersebut bermanfaat bagi wajib pajak untuk lebih mengerti tentang perpajakan, baik fungsi dan manfaat dari pajak itu sendiri, sistem perpajakan yang digunakan, peraturan yang mendasari, sanksi yang dikenakan, dan media pembayaran pajak yang efektif.
Indikator sosialisasi oleh Ditjen Pajak tersebut adalah kegiatan sadar dan peduli pajak serta memodifikasi program pengembangan pelayanan perpajakan:
1. Penyuluhan
Bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Ditjen Pajak melalui berbagai media, baik media elektronik maupun media massa lainnya bahkan terkadang sampai mengadakan penyuluhan secara langsung ke tempat(daerah-daerah) tertentu yang dianggap potensial pajaknya tinggi dan membutuhkan informasi yang lengkap dan terjamin kebenarannya.
2. Diskusi wajib pajak dan dengan tokoh masyarakat 14
Salah satu bentuk sosialisasi yang dilakukan oleh Ditjen Pajak yang lebih menekankan pada komunikasi dua arah baik dari segi petugas pajak (fiskus) maupun masyarakat khususnya wajib pajak yang dianggap memiliki pengaruh atau dipandang oleh masyarakat sekitarnya sehingga diharapkan mampu memberi penjelasan yang lebih baik terhadap masyarakat sekitarnya.
3. Informasi langsung dari petugas ke wajib pajak
Bentuk penyampaian informasi yang diperoleh secara langsung oleh wajib pajak dari petugas yang bersangkutan (fiskus) mengenai perpajakan.
4. Pemasangan billboard
Pemasangan billboard dan atau spanduk di pinggir jalan atau di tempat-tempat lainnya yang strategis dan mudah dilihat oleh masyarakat. Berisi pesan singkat, bisa berupa pernyataan, kutipan perkataan maupun slogan yang mudah dimengerti dan menarik sehingga mampu menyampaikan tujuannya dengan baik.
5. Web site
Ditjen pajak Media sosialisasi (dalam menyampaikan informasi) yang dapat diakses internet setiap saat dengan cepat dan mudah serta informasi yang diberikanpun sangat lengkap, akurat, terjamin kebenarannya dan up todate.
Melalui media sosialisasi diatas bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Masyarakat, karena melihat dari pemahaman Masyarakat masih sangat minim akan pengetahuan tentang wajib pajak. Pemerintah atau petugas terkait sudah seharusnya melakukkan berbagai macam Upaya untuk bagaimana kemudian meningkatkan pemahaman masyarakat.
Bukan hanya pemerintah yang mempunyai peranan penting dalam melakukkan penyadaran guna menanamkan pemahaman masyarakat mengenai wajib pajak, dan kemauan masyarakat dalam membayar pajak, masyarakat pada umumnya juga mempunyai peranan yang sangat penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat. Contoh yang bisa kita lihat adalah melalui berbagai macam penilitian mandiri yang dilakukkan oleh masyarakat/akademisi itu sendiri, dan hasil penelitiannya tersebut tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya membayar pajak.
Dalam salah satu penelitian yang bisa kita lihat adalah melalui penelitian salah satu akademisi Universitas Mercu Buana yakni Dosen: Prof. Dr, Apollo, M.Si.Ak dalam penelitiannya tentang Pemeriksaan Pajak-Diskursus Model Dialektika Hegelian dan Hanacaraka pada Pemeriksaan Pajak. Bertujuan untuk mengetahui kondisi awal atau status quo yang ada saat ini. Dalam audit perpajakan, ini mencakup kebijakan perpajakan yang berlaku, prosedur yang diikuti, dan keadaan kepatuhan pajak saat ini. Kemudian dalam penelitian ini
15
digambarkan tentang bagaimana kemudian perubahan yang terjadi dalam paradigma masyarakat mengenai kewajibannya dalam membayar pajak.
Audit perpajakan adalah kegiatan yang dilakukan untuk memastikan bahwa wajib pajak mematuhi ketentuan peraturan perpajakan yang berlaku. Pendekatan dialektika, baik dalam konteks Hegelian maupun Hanacaraka, menawarkan cara yang mendalam untuk menganalisis dan mengatasi isu-isu kompleks dalam audit perpajakan. Berikut adalah konsep dan model audit dengan pendekatan tersebut: Pendekatan dialektika Hegelian berakar dari filosofi Georg Wilhelm Friedrich Hegel, yang menekankan proses dialektika sebagai sebuah metode untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam melalui konflik dan resolusi.
Konsep Utama dalam Filsafat Hegel
Dialektika: Hegel mengembangkan konsep dialektika sebagai metode untuk memahami perkembangan ide dan realitas. Dalam dialektika Hegelian, proses ini melibatkan tiga tahap: tesis (pernyataan atau keadaan awal), antitesis (kontra atau penentangan terhadap tesis), dan sintesis (penyelesaian atau resolusi yang menggabungkan elemen-elemen dari tesis dan antitesis). Dialektika ini berfungsi sebagai cara untuk memahami perubahan dan perkembangan dalam sejarah, masyarakat, dan pikiran.
Spirit Absolut: Hegel berpendapat bahwa realitas adalah manifestasi dari "Spirit Absolut" atau "Geist," yang merupakan manifestasi absolut dari kesadaran dan kehendak. Dalam pandangan ini, segala sesuatu di dunia adalah bagian dari proses perkembangan Spirit Absolut menuju pemahaman diri yang lebih tinggi.
Fenomenologi: Roh dalam karyanya Phenomenology of Spirit (1807), Hegel menjelaskan perjalanan roh dari ketidaktahuan menuju pengetahuan diri, melalui berbagai tahap pengalaman dan refleksi. Ini merupakan karya yang sangat berpengaruh dalam memahami bagaimana kesadaran berkembang
Etika dan Politik: Hegel juga mengembangkan teori etika dan politiknya, di mana ia menyatakan bahwa kebebasan individu hanya dapat sepenuhnya terwujud dalam konteks masyarakat yang terorganisir secara rasional. Dalam Philosophy of Right (1821), Hegel menguraikan pandangannya tentang hukum, kebebasan, dan masyarakat.
Dalam konteks audit perpajakan, pendekatan ini dapat diterapkan dengan cara mengidentifikasi tiga tahap utama: tesis (pandangan atau kondisi status quo), antitesis (kontra atau ketidaksesuaian), dan sintesis (resolusi atau kesimpulan yang lebih tinggi).
a. Tesis kondisi awal: Tesis dalam pendekatan Hegelian mencerminkan kondisi awal atau status quo yang ada saat ini. Dalam audit perpajakan, ini mencakup kebijakan perpajakan yang berlaku, prosedur yang diikuti, dan keadaan kepatuhan pajak saat ini.
16
Contoh: Misalnya, kebijakan perpajakan yang mengatur tarif pajak, pengecualian pajak, dan prosedur pelaporan yang diikuti oleh wajib pajak.
Tujuannya yaitu untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan bagaimana kebijakan perpajakan diterapkan saat ini dan kondisi kepatuhan pajak yang ada.
b. Antitesis: ketidaksesuaian atau potensi pelanggaran. Antitesis mengacu pada elemen- elemen yang bertentangan atau tidak sesuai dengan kondisi tesis. Dalam audit perpajakan, ini melibatkan penilaian terhadap potensi pelanggaran, ketidaksesuaian, atau area di mana kebijakan perpajakan tidak diterapkan dengan benar.
Contoh: Identifikasi kesalahan dalam pelaporan pajak, penerapan pengecualian pajak yang tidak sesuai, atau ketidaksesuaian antara data laporan pajak dengan transaksi nyata.
Tujuannya yaitu untuk menilai dan menganalisis area-area yang berpotensi melanggar peraturan perpajakan, termasuk identifikasi kesalahan atau kekurangan dalam penerapan kebijakan.
c. Sintesis integrasi dan solusi: Sintesis adalah tahap di mana informasi dari tesis dan antitesis diintegrasikan untuk mencapai solusi atau kesimpulan yang lebih tinggi.
Dalam audit perpajakan, ini melibatkan pembuatan rekomendasi atau kebijakan baru yang mengatasi ketidaksesuaian yang ditemukan dan meningkatkan kepatuhan pajak.
Contoh: Pengembangan kebijakan internal baru untuk memastikan pelaporan pajak yang lebih akurat, peningkatan pelatihan bagi staf perpajakan, atau penyesuaian prosedur untuk meminimalkan potensi kesalahan atau pelanggaran.
Tujuannya yaitu untuk menghasilkan solusi yang meningkatkan kepatuhan pajak secara efektif, berdasarkan pemahaman yang lebih mendalam dari data dan analisis yang dilakukan di tahap sebelumnya.Integrasi informasi dari tesis dan antitesis untuk menciptakan solusi yang lebih efektif dalam meningkatkan kepatuhan pajak.
Pendekatan dialektika Hegelian sangat penting dalam konteks audit perpajakan di Indonesia karena menawarkan metode yang sistematis dan mendalam untuk memahami dan menyelesaikan berbagai isu kepatuhan pajak. Berikut adalah beberapa alasan mengapa pendekatan ini relevan dan bermanfaat dalam konteks audit perpajakan di Indonesia:
a. Memahami Kompleksitas Sistem Perpajakan: Sistem perpajakan di Indonesia terdiri dari berbagai aturan dan regulasi yang kompleks. Hal ini mencakup berbagai jenis pajak, seperti pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, dan pajak daerah. Wajib pajak sering kali menghadapi kesulitan dalam memahami dan mematuhi semua peraturan yang berlaku.
b. Pentingnya pendekatan Hegelian dalam hal ini yaitu:
17
Tesis: Dengan memulai dari tesis, auditor dapat memahami kebijakan perpajakan yang ada dan bagaimana aturan-aturan ini diterapkan dalam praktik. Ini membantu dalam membangun dasar yang kuat untuk analisis lebih lanjut.
Antitesis: Pendekatan ini kemudian mengidentifikasi konflik atau ketidaksesuaian, seperti area di mana wajib pajak mungkin mengalami kesulitan atau tidak mematuhi peraturan. Dengan menganalisis ketidaksesuaian ini, auditor dapat mengungkap akar penyebab masalah.
Sintesis: Sintesis mengintegrasikan wawasan dari tesis dan antitesis untuk menghasilkan rekomendasi yang lebih komprehensif dan relevan, yang dapat membantu menyederhanakan dan memperjelas peraturan perpajakan bagi wajib pajak.
c. Memecahkan Konflik dan Meningkatkan Kepatuhan: Indonesia, dengan populasi yang besar dan beragam, menghadapi tantangan dalam memastikan bahwa semua wajib pajak mematuhi peraturan perpajakan. Konflik sering kali muncul karena ketidaksesuaian antara kebijakan nasional dan praktik lokal atau pemahaman wajib pajak yang terbatas.
Pentingnya pendekatan Hegelian dalam hal ini yaitu:
Identifikasi Konflik: Pendekatan dialektika Hegelian memungkinkan auditor untuk secara sistematis mengidentifikasi dan menganalisis konflik yang ada.
Ini bisa berupa ketidaksesuaian dalam pelaporan, kesalahpahaman tentang kebijakan pajak, atau area di mana peraturan tidak diterapkan dengan benar.
Pengembangan Solusi: Dengan menggunakan sintesis, auditor dapat mengembangkan solusi yang tidak hanya mengatasi masalah yang ada tetapi juga memperbaiki proses keseluruhan untuk meningkatkan kepatuhan. Solusi ini sering kali lebih holistik dan memperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak.
Meningkatkan Kualitas dan Relevansi Rekomendasi: Dalam audit perpajakan, rekomendasi yang dibuat oleh auditor harus akurat dan relevan agar dapat diterapkan dengan efektif. Pendekatan dialektika Hegelian membantu dalam memastikan bahwa rekomendasi tersebut didasarkan pada analisis mendalam dan menyeluruh.
Pentingnya pendekatan Hegelian dalam hal ini yaitu:
Pemahaman Mendalam: Proses dialektika memungkinkan auditor untuk memahami secara mendalam berbagai aspek dari masalah yang dihadapi, termasuk kebijakan perpajakan, implementasi, dan dampaknya terhadap wajib pajak.
18
Rekomendasi yang Tepat: Dengan memahami akar penyebab ketidakpatuhan melalui antitesis, dan mengembangkan solusi komprehensif melalui sintesis, auditor dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat sasaran dan relevan.
Ini membantu dalam memastikan bahwa rekomendasi tersebut dapat diterapkan dengan efektif dan diterima oleh semua pihak yang terlibat.
d. Adaptasi terhadap Dinamika Kebijakan Perpajakan:
Kebijakan perpajakan di Indonesia terus berkembang seiring dengan perubahan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Auditor perlu dapat beradaptasi dengan perubahan ini untuk memastikan bahwa audit perpajakan tetap relevan dan efektif.
Pentingnya pendekatan Hegelian dalam hal ini:
Analisis Dinamis: Pendekatan dialektika Hegelian memungkinkan auditor untuk secara dinamis menganalisis perubahan dalam kebijakan perpajakan dan dampaknya terhadap wajib pajak. Dengan memahami bagaimana kebijakan baru mempengaruhi praktik perpajakan yang ada (tesis dan antitesis), auditor dapat mengembangkan sintesis yang memperhitungkan perubahan ini.
Solusi Adaptif: Solusi yang dihasilkan dari proses dialektika cenderung lebih adaptif terhadap perubahan. Ini penting dalam konteks di mana kebijakan perpajakan terus berubah, sehingga auditor dapat memberikan rekomendasi yang tetap relevan dalam jangka panjang.
Pendekatan dialektika Hegelian sangat penting dalam audit perpajakan di Indonesia karena menawarkan metode yang sistematis dan mendalam untuk memahami dan menyelesaikan berbagai isu kepatuhan pajak. Dengan memanfaatkan proses tesis-antitesis-sintesis, auditor dapat mengidentifikasi ketidaksesuaian, mengembangkan solusi yang lebih baik, dan memberikan rekomendasi yang lebih akurat dan relevan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas audit perpajakan tetapi juga membantu dalam meningkatkan kepatuhan pajak dan memastikan bahwa kebijakan perpajakan diterapkan dengan lebih efektif.
Kemudian dalam penjelasan tentang bagaimana pendekatan dialektika Hegelian diterapkan dalam audit perpajakan.
Pendekatan dialektika Hegelian membantu dalam memecahkan konflik dan meningkatkan pemahaman melalui sintesis ide-ide yang berbeda dan dapat memberikan perspektif yang lebih luas dan mendalam, memungkinkan auditor untuk tidak hanya mendeteksi ketidaksesuaian, tetapi juga memahami dan mengintegrasikan nilai-nilai yang relevan dalam pembuatan kebijakan dan prosedur perpajakan.
Dengan menerapkan pendekatan ini, auditor dapat menghasilkan laporan yang tidak hanya akurat tetapi juga relevan dengan konteks sosial dan budaya wajib pajak, meningkatkan kepatuhan dan pemahaman terhadap peraturan perpajakan yang berlaku.
19
Langkah-langkah Implementasi:
Identifikasi Tesis: Analisis data laporan pajak yang ada untuk menemukan kondisi awal.
Penilaian Antitesis: Evaluasi ketidaksesuaian atau kesalahan dalam laporan pajak.
Diskusi Sintesis: Diskusi antara auditor dan pihak terkait untuk mencari solusi yang mengintegrasikan kedua aspek.
Pengembangan Solusi: Merancang dan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur untuk meningkatkan kepatuhan.
Manfaat dari pendekatan Dialektika Hegelian:
Pendekatan dialektika Hegelian memberikan beberapa manfaat signifikan dalam konteks audit perpajakan, terutama dalam hal memecahkan konflik dan meningkatkan pemahaman auditor.
Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai dua manfaat utama tersebut:
Memecahkan Konflik
Identifikasi dan Analisis Ketidaksesuaian: Pendekatan dialektika Hegelian memulai prosesnya dengan mengidentifikasi tesis, yaitu kondisi awal atau status quo. Dalam audit perpajakan, ini berarti memahami kebijakan perpajakan yang ada dan cara penerapannya. Tahap berikutnya adalah antitesis, di mana auditor mengevaluasi ketidaksesuaian atau potensi pelanggaran dalam kepatuhan pajak. Dengan mengidentifikasi perbedaan antara kebijakan yang diinginkan dan praktik yang terjadi, auditor dapat mengungkap area konflik atau ketidaksesuaian.
Pengembangan Solusi: Setelah ketidaksesuaian diidentifikasi, pendekatan ini melibatkan proses sintesis untuk mengintegrasikan elemen-elemen dari tesis dan antitesis. Sintesis ini bukan sekadar kompromi, tetapi sebuah upaya untuk menemukan solusi yang lebih tinggi dan lebih baik, yang dapat mengatasi masalah mendasar dan meminimalisir konflik di masa depan. Misalnya, jika ditemukan bahwa wajib pajak tidak mematuhi peraturan tertentu karena kurangnya pemahaman atau kesulitan dalam prosedur pelaporan, solusi dapat berupa revisi kebijakan yang lebih mudah dipahami dan diikuti.
Contoh:
Kondisi Awal (Tesis): Kebijakan perpajakan yang mengatur tentang pemotongan pajak tertentu.
Kontra (Antitesis): Temuan bahwa beberapa wajib pajak tidak melaporkan pemotongan ini dengan benar.
Solusi (Sintesis): Mengembangkan pedoman pelaporan yang lebih jelas dan program pelatihan bagi wajib pajak untuk memastikan kepatuhan.
Dengan menggunakan pendekatan ini, auditor dapat mengidentifikasi akar masalah dari ketidaksesuaian, seperti kebijakan yang kurang jelas atau prosedur yang terlalu
20
rumit. Solusi yang dihasilkan dari proses sintesis tidak hanya mengatasi masalah langsung tetapi juga memperbaiki sistem secara keseluruhan, sehingga mengurangi potensi konflik di masa depan.
Meningkatkan Pemahaman
Pendekatan Sistematis: Pendekatan dialektika Hegelian membantu auditor untuk tidak hanya fokus pada gejala atau manifestasi ketidaksesuaian, tetapi juga memahami akar penyebabnya. Dengan menganalisis ketidaksesuaian melalui lensa dialektika (tesis- antitesis-sintesis), auditor mendapatkan wawasan yang lebih mendalam tentang mengapa ketidaksesuaian terjadi. Ini melibatkan pemahaman yang komprehensif tentang konteks, kebijakan, dan implementasinya.
Rekomendasi yang Efektif: Proses ini memungkinkan auditor untuk mengembangkan rekomendasi yang lebih mendalam dan efektif. Karena solusi yang dihasilkan dari sintesis mempertimbangkan kedua sisi dari masalah (tesis dan antitesis), rekomendasi ini biasanya lebih holistik dan praktis. Mereka tidak hanya mengatasi masalah spesifik tetapi juga berkontribusi pada perbaikan sistemik dalam proses kepatuhan pajak.
Contoh:
Kondisi Awal (Tesis): Kebijakan perpajakan yang ada mungkin terlalu umum dan tidak mempertimbangkan berbagai situasi unik dari wajib pajak.
Kontra (Antitesis): Wajib pajak mengalami kesulitan dalam menerapkan kebijakan tersebut karena berbagai alasan, seperti kurangnya pengetahuan atau ketidaksesuaian dengan praktik bisnis mereka.
Solusi (Sintesis): Auditor dapat merekomendasikan penyesuaian kebijakan yang lebih spesifik dan pelatihan tambahan untuk wajib pajak, sehingga mereka lebih memahami dan mampu menerapkan kebijakan tersebut dengan benar.
Dengan memahami akar penyebab ketidakpatuhan, auditor dapat memberikan rekomendasi yang lebih tepat sasaran. Ini tidak hanya membantu dalam menyelesaikan masalah yang ada tetapi juga dalam mencegah terjadinya ketidaksesuaian di masa depan. Rekomendasi yang berbasis pada pemahaman mendalam juga lebih mungkin diterima dan diimplementasikan oleh wajib pajak dan pihak terkait lainnya.
Dari penjelasan diatas tersebut mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa masyarakat dan atau akademisi dapat melakukan sebuah upaya untuk memberikan suatu penserdasan kepada masyarakat lainnya, contohnya dengan seorang akademisi melakukkan sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan dialektika Hegelian dengan melihat suatu kontradiksi yang terdapat dalam system perpajakan yang ada di Indonesia, dalam penerapannya masih sangat rumit kemudian untuk dimengerti oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya peneliti mencoba untuk menganalisis persoalan-persoalan tersebut melalui penelitiannya
21
dengan menggunakan analisis pendeketan dialektika Hegel yang menitik beratkannya pada kontradiksi yang terjadi. Atas dasar analisisnya melalui tesis,antithesis, dan sintesis, dengan mendaptakan suatu pemberian solusi untuk bagaimana kemudian bisa menyelesaikan persoalan tentang ketidak pahaman dan ketidaksadaran masyarakat dalam membayar pajak.
Dalam berbagai analisis tersebut penulis kemudian menemukan suatu hal yang sangat signifikan yang dapat mempengaruhi masyarakat dalam kesadaran dan pemahamannya tentang wajib pajak dan kewajibannya dalam membayar pajak. Rumitnya system yang diterapkan oleh pemerintah menjadi salah satu factor-faktor penyebabnya, dengan menggunakan skema pembayaran yang masih dikategorikan rumit. Melalui pembayaran yang rumit inilah kemudian menyebabkan masyarakat juga terkadang merasa malas untuk membayar kewajibannya tersebut,
Solusi kemudian yang bisa ditawarkan penulis melalui analisis diatas adalah dengan menerapkan system perpajakan yang tidak rumit, dan atau tidak menerapkan system perpajakan itu sendiri di Indonesia dikarenakan sejauh pemahaman penulis mengenai system perajakan ini adalah sebuah ketidakmampuan negara atau pemerintah dalam menerapkan system ekonomi yang sejahtera dan berkeadilan. Oleh karena itu pemerintah menerapkan suatu system perpajakan dengan mengikut sertakan masyarakat dalam mengemban kewajiban yang seharusnya pemerintah atau negara tersebutlah yang harus dapat memenuhi kewajiban tersebut.
Indonesia sebagai negara setengah jajahan dan setengah feudal (SJSF) tidak akan pernah mampu mandiri secara politik bahkan secara ekonomi dikarenakan masih adanya interpensi dari negara luar dalam menetukan suatu kebijakan entah itu secara politik ataupun ekonomi, sehingga atas dasar tersebut penulis menawarkan Kembali solusi atas dasar sitausi tersebut yakni, dengan mewujudkan reforma agraria sejati dan pembangunan industry secara nasioanl/mandiri. Reforma agraria yang dimaksud adalah perombakan structural kepemilikan atas tanah yang banyak dikuasai oleh segelintir orang, yang kemudian menjadi syarat pembangunan industrialisasi nasional yang mandiri tanpa interpensi dari negara luar. Karena hanya atas dasar tersebutlah kemudian Indonesia dapat menerapkan suatu system politik bahkan ekonomi yang sejahtera serta berkeadilan, yang bebas dari penerapan-penerapan suatu kibijakan yang sama sekali tidak berkepentingan kepada kesejahteraan rakyatnya sendiri.
22
BAB III PENUTUP A. SIMPULAN
Kesadaran Wajib Pajak memainkan peran penting dalam pembayaran pajak, karena kesadaran tersebut mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kesadaran wajib pajak memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan pajak.
Tetapi, rendahnya kesadaran wajib pajak tampak dari masih belum tercapainya penerimaan pajak negara sesuai target yang telah ditentukan. Kesadaran wajib pajak dapat dilihat dari pemahaman tentang undang-undang dan ketentuan perpajakan, pemahaman tentang fungsi pajak untuk pembiayaan negara, serta kemauan untuk menghitung, membayar, dan melaporkan pajak dengan sukarela dan benar. Masalah pengumpulan pajak dari masyarakat seringkali terkendal karena kesadaran wajib pajak yang sangat kurang yang di alami oleh Masyarakat.
Selain kesadaran, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan juga mempengaruhi kemauan wajib pajak dalam membayar pajak. Banyak masyarakat hanya sekedar mengetahui peraturan perpajakan tanpa sepenuhnya memahaminya, sehingga mereka
23
cenderung mengabaikan peraturan tersebut. Namun, ada juga wajib pajak yang tahu dan memahami peraturan perpajakan tetapi mencari cara untuk menghindari pembayaran pajak.
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah perlu melakukan sosialisasi perpajakan yang dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan mereka dalam membayar pajak.
Keputusan Dirjen Pajak No.KEP-114 tahun 2005 tentang pembentukan tim sosialisasi perpajakan adalah salah satu langkah yang diambil pemerintah untuk mencerdaskan masyarakat akan pengetahuan dan pemahaman peraturan perpajakan.
B. SARAN
Walaupun penulis menginginkan kerapihan dan kesempurnaan ketika menyusun makalah ini namun pada kenyatannya masih banyak sekali kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki ulang oleh penulis. Persoalan ini dikarenakan masih sangat sedikitnya pengetahuan penulis. Maka dari itu penulis sangat berharap sekali bahwa para pembaca selalu memberikan sebuah kritikan dan saran kepada penulis agar penulis bisa menjadikan saran dan kritikan yang diberikan oleh para pembaca ini dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Muliari, N. K. (2010). Pengaruh Persepsi tentang sanksi perpajakan dan kesadaran wajib pajak pada kepatuhan pelaporan wajib pajak orang pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur. Jurnal Akuntansi, 221.
Musyarofah, S., & Purnomo, A. (2008). Pengaruh Kesadaran dan Persepsi Tentang Sanksi, dan Hasrat Membayar Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Jurnal Akuntansi, Manajemen Bisnis dan Sektor Publik, 267.
Nurmantu, S. (2010). Pengantar Ilmu Perpajakan. Jakarta: Granit.
Kompasiana.com dengan judul "TB2-Pemeriksaan Pajak-Diskursus Model Dialektika Hegelian dan Hanacaraka pada Pemeriksaan Pajak",
https://www.kompasiana.com/indrimuktiasih3470/666db56cc925c41d3450edf4/tb2-pemeriksaan- pajak-diskursus-model-dialektika-hegelian-dan-hanacaraka-pada-pemeriksaan-pajak?
page=3&page_images=1
24