PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa tareqat (bahasa Arab: tarîqah) secara historis mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam ke berbagai daerah. Dari sini dapat ditegaskan bahwa tarekat berhasil mengenalkan nilai-nilai penting dalam kehidupan sehari-hari para anggotanya.
Penelitian Terdahulu
A'la berfokus pada pendekatan Al-Qur'an terhadap tokoh-tokoh yang ditelitinya, sedangkan penelitian ini mengeksplorasi tema-tema teologis tertentu dalam wacana keagamaan tarekat. Bedanya, Ma'shumi memetakan teologi para tokoh utama, sedangkan kajian ini memetakan pandangan teologis para penganut tarekat.
Manfaat dan relevansi
Hasil penelitian ini bagi masyarakat luas dapat menjadi bahan pengetahuan tentang pemikiran teologis jamaah dan varian pemahaman yang ada di dalamnya, sehingga masyarakat dapat memahaminya secara lebih komprehensif. Pada prinsipnya, secara sosiologis, anggota tarekat adalah makhluk yang bersifat individual dan mempunyai fungsi sosial.
Metode Penulisan
Keempat, al-Ash’arî menolak pandangan Mu’tazilah tentang kehendak bebas manusia (free will and free action). Banyak penulis risalah di Indonesia yang mengkaji pemikiran tokoh-tokoh pasca Mu'tazilah dan al-Ash'arî.
TEOLOgI DALAM rAgAM PErSPEKTIF17
Aliran Teologi Islam dan Corak
Pertama, mengenai asal muasal Al-Qur’an, al-Ash’arî mendukung pandangan Ahmad bin Hanbal yang dengan tegas menolak ideologi Mu’tazilah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah ciptaan (creation). Al-Maturîdî memberikan kekuatan pikiran yang cukup tinggi, meski tidak setinggi yang diyakini kaum Mu'tazilah.
Ilhamuddin misalnya mengkaji pemikiran Kalam al-Baqillnî (wafat 403 H),54 yang merupakan tokoh kedua dalam mazhab Asy'ariyah. Jelas bahwa al-Baqillãnî mempunyai pemikiran teologisnya sendiri, ia tidak bisa lagi disebut sebagai pengikut al-Ash'arî.55. Ia mencoba menelusuri ciri-ciri pemikiran teologis tokoh penting yang disebut-sebut sebagai pengikut al-Ash'arî ini.
Kiswati menerangkan dalam pembentangannya bahawa pemikiran tentang pena al-Juwaynî mempunyai kecenderungan tersendiri yang berbeza dengan pemikiran teologi Mu'tazilah, al-Måturîdî dan al-Asy'arî. Walaupun dalam bidang perbuatan manusia al-Juwaynî menggunakan istilah kasb seperti al-Asy'arî, namun hasil pemahamannya, menurut Kiswati, dekat dengan Qadariyah. Akhirnya, beliau menyimpulkan bahawa al-Juwaynî bukanlah pengikut al-Asy'arî, bukan pengikut aliran Mu'tazilah dan Măturîdiyah, tetapi beliau adalah seorang pemikir yang bebas57.
Oleh karena itu, jalan tengah yang ditempuhnya tidak mengikuti al-Ash'arî dalam konsep kasbnya, namun lebih mendekati pendapat al-Baqillãnî.64.
Tarekat dan Islamisasi Nusantara
Dari masuknya Islam secara masif sejak abad ke-11 hingga munculnya kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu Kerajaan Demak pada tahun 1481 M, terdapat jeda waktu yang cukup panjang. Penyebaran Islam di Jawa pada abad ke-14 dan ke-15 dipimpin oleh para Walisongo, tokoh-tokoh yang konon mempunyai berbagai sifat gaib, yang dengan cepat membuat Islam terserap ke dalam asimilasi budaya dan kepercayaan masyarakat nusantara.82 Walisongo telah menjadi simbol kesalehan masyarakat pada masa itu, sehingga apa yang dilakukannya menjadi contoh untuk ditiru. 83 Sultoni, “Nilai Ajaran Tasawuf Walisongo dan Perkembangannya di Nusantara”, Jurnal Kabilah Sosial Kemasyarakatan, vol.
Setelah diterima secara luas di kalangan masyarakat, dinamika Islamisasi semakin menguat dengan berdirinya pusat-pusat penyiaran seperti di Jawa Timur yang dipelopori oleh Sunan Ampel, di daerah Gresik yang dirintis oleh Sunan Giri, di Jawa Barat oleh Sunan Gunung Jati, di daerah utara sebagian Jawa Tengah dipimpin oleh Sunan Kudus dan Sunan Muria, sedangkan di selatan Jawa Tengah dipelopori oleh Sunan Kalijaga. Metode yang digunakan Sunan Kalijaga dalam proses Islamisasi di Pulau Jawa dilakukan dengan bantuan pendekatan budaya, sehingga lebih mudah diterima masyarakat. Pentingnya peranan tasawuf di Indonesia tidak lepas dari usaha dan kiprah para ulama sufi yang merupakan praktisi tasawuf.
Secara historis ditemukan fenomena bahwa hampir seluruh kiai di Pulau Jawa berafiliasi pada satu atau lebih aliran tarek.
Naqsyabandiyah: Khalidiyah, Muzhariyah
Di Indonesia, selain Naqsybandiyah Muzhariyah dan Khalidiyah, baru-baru ini muncul Tarekat Naqsybandiyah Nazimmiyah yang berlangsung di Tanah Air pada tahun 1997, ditandai dengan kunjungan syekh utama tarekat ini, Syekh Nazim 'Adil al-Haqqani al-Qubrusi. sebuah - Nakshbandi. Semula tarekat ini bernama Naqsybandiyah Ḥ�aqqaniah (Ḥaqq: 'kebenaran'), kemudian diubah menjadi Tarekat Naqsybandiyah Nazimmiyah setelah Syekh Nazim wafat pada 7 Mei 2014. Sejumlah syekh pernah menjadi guru Syekh Nazim, seperti ad- Digin al-Xemal. Lasuni (meninggal tahun 1955 M) yang merupakan ahli Fiqih dan Hadits, serta Syekh Erzurum Haci Süleyman Efendi (meninggal tahun 1948 M) yang merupakan syekh Tarekat Naqsybandiyah.
Oleh Syekh Erzurum, Syekh Nazim disarankan untuk belajar kepada Syekh Naqsybandiyah yang terkenal di Dasmakus, Syekh Abdullah Fa'izi ad-Daghestani (meninggal tahun 1973 M). Namun pada suatu malam pertemuan tersebut, terjadi peristiwa mistis dimana Syekh Abdullah menularkan ilmu sufi kepada Syekh Nazim secara spiritual hingga memperoleh pengalaman fana. Sebelum meninggal, Syekh Abdullah mengangkat Syekh Nazim sebagai penggantinya dan mengemukakan visi misi Syekh Nazim dalam menyebarkan Tarekat Naqsybandiyah di abad ke-21: 93.
Syekh Nazim akan menyebarkan tarekat Naqsybandiyah di London dan dari sana akan menyebar ke Eropa, Timur Jauh dan Amerika.
Qãdiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)
Berdasarkan sinyal tersebut, TQN di bawah Kiai Utsman diyakini akan berkembang pesat dan fakta sejarah membenarkan hal tersebut. Kegiatan TQN di Jatipurwo sudah berlangsung sejak Kiai Romli Tamim masih hidup, sedangkan Kiai Utsman sendiri masih aktif mengikuti ritual mengemis di Rejoso Jombang. Kiai Utsman juga memiliki kedekatan dengan Kiai Machrus Ali, pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, sebuah pondok pesantren Salafi yang cukup berpengaruh di Jawa Timur.
Tersebar di kalangan pengikutnya, Kiai Utsman mempunyai karâmah, yaitu kemampuan luar biasa seseorang yang merupakan anugerah dari Allah. Kiai Utsman memerintahkan sopirnya untuk membeli beberapa teko teh dan menyuruhnya memasukkan teh tersebut ke dalam tangki bensin. Saat istri Ahmad keluar rumah, ia bertemu dengan seseorang yang hendak ke Surabaya menemui Kiai Utsman.
Ternyata beliau berhasil bertemu dengan Kiai Utsman di Surabaya, padahal saat itu beliau juga sedang melakukan pijat di Gresik.118.
Syattariyah dan Syadziliyah: Kharakteristik
Tarekat Syattariyah yang berkembang di Indonesia melalui beberapa khalifah Abd Allah al-Syattar yaitu: Imam Qadhi al-Syattari, Hidayatullah as-Sarmasti, Haji Hudhuri dan Syekh Muhammad Gauts. Salah satu kajian penting mengenai hal ini adalah karya Oman Fathurahman, Tarekat Syattariyah dalam Minangabau (2008). Namun khusus mengenai konsep dan tingkat zikirnya, tarekat Syattariyah di Sumatera Barat lebih lembut dibandingkan ajaran al-Qushãshî dan.
Di keraton Cirebon juga terdapat mursyid tarekat Syattariyah yang merupakan keturunan Sunan Gunung Jati. Hal senada juga diungkapkan oleh sejarawan Inggris Peter Carey ketika ditanya tentang hubungan kesaktian Diponegoro yang kebetulan juga merupakan penganut tarekat Syattariyah. Pada tahap selanjutnya, Tarekat Syattariyah juga berkembang di Jawa Timur, salah satu pusatnya di Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk.
Kedua, masa peralihan M), tarekat Syattariyah sudah terorganisir secara formal, pola kehidupan keagamaannya masih seperti pada masa kabupaten, lahirnya Qaidah IX, dan cita-citanya adalah menyebarkan ilmu dan pendidikan Syattariyah secara merata ke seluruh dunia, bersama Indonesia. sebagai pusatnya.
Khalwatiyah dan Sammaniyah: Basis
Secara umum dapat dikatakan bahwa pandangan tarekat tentang ketuhanan lebih merupakan “pandangan ke dalam”, dibandingkan pemahaman “eksternal” yang mengarah pada argumentasi yang murni rasional. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa pandangan keagamaan tarekat berkisar pada dzikir sebagai kekuatan utama untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, pandangan jemaah tentang penyucian diri tidak lepas dari konteks proses mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa yang terpenting adalah pandangan mereka tentang ketuhanan terfokus pada pengaruh sifat-sifat ketuhanan dan makna zikir sebagai pilar utama tradisi tarekat. Pandangan teologis jemaat mengenai ketuhanan sebenarnya luas, namun dalam banyak hal tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, karena menyangkut pengalaman keagamaan yang unik. Pada hakikatnya pandangan tarekat mengenai ketuhanan dan kedudukan mursyid dapat dikatakan seragam, tidak muncul perbedaan pemikiran yang berarti.
Kajian terhadap pandangan teologis tarekat ini hanya dibatasi pada dua aspek saja, yaitu: ketuhanan dan kedudukan mursyid.
TEOLOgI KETUHANAN DAN PENDEKATAN
Mengenal Allah: Zikir Sebagai Amaliah
Berbeda dengan para teolog yang cenderung rasionalistik dalam memahami konsep ketuhanan, para ahli tareqah memahaminya secara lebih spiritual. Urutan tersebut menekankan keberadaan 99 Nama Allah (asmã' al-husnã, nama-nama terbaik) yang mengingatkan masing-masing akan berbagai sifat Tuhan. Oleh karena itu, pandangan tarekat tentang ketuhanan tidak banyak berdimensi filosofis-rasional, melainkan lebih mengarah pada pemikiran amaliah-aplikatif, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi dan ritual mereka dalam berakhlak terhadap Allah.
Jemaat Qãdiriyah wa Naqshabandiyah (TQN) mempunyai pandangan dan keyakinan bahwa zikrullah merupakan sesuatu yang sangat mendasar. Masyarakat juga sangat memahami bahwa mengingat Allah tidak mengenal waktu, selalu dan dimana saja selalu baik dan tetap dianjurkan. Oleh karena itu, isi ceramah yang diberikan oleh mursyid sangat penting dalam membentuk pandangan dan perilaku tarekat.
Dari pernyataan tersebut jelas bahwa bagi tariqat amalan dzikir merupakan landasan awal sebagai pembuktian bahwa seorang hamba mengabdi kepada Tuhannya.
Tazkiyah al-Nafs sebagai Sarana
Dari situlah timbul pemahaman di kalangan jemaah bahwa untuk mengenal Tuhan, seseorang harus terlebih dahulu mengenal dirinya dengan benar. Walaupun pengalaman setiap orang berbeda-beda, namun inti pemikirannya mengenai dzikir kepada Allah mempunyai konsep luas yang sama, yaitu bahwa dzikir adalah amalan yang paling mujarab untuk mendekatkan diri kepada Allah. Umat Islam non-tarekat menganggap dzikir sebagai amalia penting yang berlandaskan kitab suci, sedangkan anggota tarekat memandang dzikir sebagai amalan yang utama, selain berlandaskan kitab suci, juga bersumber dari pemahaman mursyid yang mendalam dan berlandaskan kitab suci.
Tidaklah berlebihan jika tareqah menempatkan guru sama tingginya dengan tempat para sahabat Nabi Muhammad SAW. Para santri menjadikan sosok mursyid sebagai model dan dengan demikian, pemikiran-pemikiran mursyid menjadi rujukan penting bagi pandangan teologis tarekat. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa corak teologis tarekat adalah teologi sufi, suatu pandangan teologis yang menitik beratkan pada prinsip dan doktrin tasawuf yang kuat.
Semakin jelas paradigma teologis tarekat sufi menempatkan Tuhan pada posisi yang selalu hadir, tanggap dan mendampingi kehidupan manusia. Bagi Tarekat hakikat agama adalah pengalaman ketuhanan, mendekatkan diri kepada Tuhan dipandang sebagai ikhtiar terpenting dalam hidup. Pendekatan manusia kepada Allah juga dilakukan dengan menyucikan, mendidik dan mengembangkan jiwa di bawah bimbingan seorang mursyid.
PENUTUP