Nama : Wiwid Diniati
NIM : 24/547357/PTK/16149 Mata Kuliah : Teori Pembangunan
DEVELOPMENT KAPITALISME YANG DITULIS OLEH THE GUARDWARE PADA TAHUN 1999
Setelah Perang Dunia II, dekolonisasi dan kemiskinan di negara-negara berkembang menjadi isu penting dalam pemikiran sosial dan ekonomi global. Kesadaran akan penderitaan global, ditambah pengaruh politik dari model sosialis Rusia, mendorong para ahli untuk mencari solusi baru.
Teori Imperialisme Marxis yang dominan di awal abad ke-20, beradaptasi setelah 1928 dengan mengadopsi pola dari negara maju.
Sosial dan Institusional – menekankan peran institusi dalam transisi ke masyarakat modern.
Ekonomi – fokus pada faktor ekonomi sebagai kunci pembangunan.
Psikologis – menyoroti pengaruh faktor psikologis dalam perkembangan sosial dan ekonomi.
Parsons membedakan masyarakat tradisional dan industri dalam hal peran sosial, dengan Pandangan Individualistik yang berfokus pada prestasi individu, dan Pandangan Kolektif yang lebih dominan dalam masyarakat tradisional. Gino Germani mengembangkan teori sosiologis modernisasi berdasarkan tradisi Parsonian, yang mengidentifikasi perubahan dalam pengetahuan, sains, dan teknologi selama transisi di Amerika Latin.
TEORI KLASIK PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PEMBANGUNAN
Perubahan Struktural Teori ini berfokus pada perubahan internal struktural yang diperlukan oleh negara berkembang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi.
Ketergantungan Internasional Aliran ini bersifat lebih politis dan melihat keterbelakangan sebagai hasil dari ketergantungan ekonomi dan kebijakan terhadap negara maju. Negara berkembang dianggap terlalu mengikuti sistem dan pola konsumsi negara maju, yang memperburuk dualisme antara sektor tradisional dan modern, baik di dalam negeri maupun dalam konteks global.
TEORI KETERGANTUNGAN : PARA PENDAHULUNYA
Teori Struktural dan Teori Ketergantungan muncul sebagai kritik terhadap teori modernisasi dalam memahami kemiskinan dan keterbelakangan negara-negara berkembang.
Teori Struktural berargumen bahwa kemiskinan di negara-negara pinggiran diakibatkan oleh struktur ekonomi global yang eksploitatif, dengan fokus pada produksi pertanian, yang diperkuat oleh kondisi material seperti sistem produksi dan distribusi. Raul Prebisch dan Paul Baran menyatakan bahwa negara pinggiran tetap terbelakang karena peran mereka sebagai penghasil bahan mentah, sedangkan negara pusat menghasilkan barang industri.
Teori Ketergantungan menyoroti hubungan eksploitatif antara negara pusat dan pinggiran, dengan modal asing yang menciptakan ketergantungan ekonomi dan politik, yang menurut Andre Gunder Frank menghambat industrialisasi negara pinggiran. Theotonio Dos Santos berpendapat bahwa industrialisasi masih mungkin, tetapi dibatasi oleh kontrol negara pusat.
TEORI PASCA-KETERGANTUNGAN : PERKEMBANGAN BARU
Aspek eksternal pembangunan sangat penting, dan Teori Ketergantungan dianggap terlalu sederhana. Teori Pasca Ketergantungan berusaha memperbaiki kelemahan Teori Ketergantungan dengan menyoroti bahwa beberapa negara pinggiran telah menunjukkan kemajuan. Sanjaya Lall menekankan bahwa gejala ketergantungan juga terlihat di negara- negara maju seperti Kanada dan Belgia, dan ketergantungan tidak selalu menghambat pembangunan. Bill Warren membantah Teori Ketergantungan dengan menunjukkan bahwa negara-negara tergantung mengalami pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi, serupa dengan negara pusat. Teori Artikulasi memperkenalkan konsep formasi sosial, di mana beberapa cara produksi, seperti feodalisme dan kapitalisme, bisa eksis bersamaan.
Dampak bagi Indonesia
Ketergantungan Ekonomi: Teori ketergantungan menjelaskan bahwa negara-negara seperti Indonesia tetap berada dalam posisi periferal di ekonomi global, di mana mereka menjadi penyedia bahan mentah bagi negara-negara industri maju. Pola Konsumsi dan Ekonomi Dualistik: Aliran ketergantungan menunjukkan bahwa Indonesia sering mengikuti pola konsumsi negara maju, sehingga memperdalam jurang antara sektor modern dan tradisional. Industrialisasi Terhambat: Menurut Andre Gunder Frank, industrialisasi negara pinggiran seperti Indonesia terhambat karena dominasi modal asing. Investasi luar negeri sering kali tidak diarahkan untuk mengembangkan industri lokal, melainkan lebih fokus pada eksploitasi sumber daya alam.