• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Industri Batu Bata di Nagari Sindang Lunang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Industri Batu Bata di Nagari Sindang Lunang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Industri Batu Bata di Nagari Sindang Lunang

Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan

(2)

by:

Tesi Pratama Oza1

1.Geography Education 1. Erna Juita, S.Pd, M.Si,2Afrital Rezki, S. Pd, M.Si2STKIP PGRI West Sumatera.

2.2 Lecturer in Geography Education STKIP PGRI West Sumatera

ABSTRACT

Stone craftsmen village industries Sindang Lunang are the brick industry which are used by the community to meet the needs and add ekonomy in terms of materials, can increase revenue so that it can raise finance in the family, and on the other side can add to the field workers and reduce unemployment.

This study aims to get the data, process analyzes and discusses the level of welfare craftsman brick industry in Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang kabupaten Pesisir Selatan seen from: 1) fulfillment of basic needs, 2) level of income, 3) level of education, 4) Interaction in family. This type of research is deskriptif. Population research study were all families (KK) Custom brick industry.

Samples were taken with total sampling technique, sample amounted to 41 families (KK). Collecting data using open questionnaire, an analysis of the statistics used are the percentage Formula Descriptive With wear and Likert Scale.

Results of this study indicate: 1) fulfillment of the basic needs of family members artisan brick industry in Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan is seen food needs clothing and boards in general is said (83.27%) is very good, 2Tingkat family income artisans stone industry brick in Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan is seen from the monthly income and revenue side is generally said to be (55.84%) is quite good, 3) The level of education of family members artisan brick industry in Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan is seen from formal education in general (40.4%) is said to be quite good.

4) Interaction in Family Craftsman brick industry in Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan is seen from the interaction of the father with the mother, father and child, mothers with children and children with children, (90.25%) are generally very good.

Keywords: socio-economic Craftsmen Industries Bricks.

PENDAHULUAN

Jumlah penduduk Indonesia yang besar menyebabkan persaingan dalam memperoleh lapangan kerja semakin ketat, hal ini disebabkan karena jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia.

Irsanfa (2008) menyatakan bahwa

”Dengan bertambahnya pencari kerja lapangan kerja harus ikut bertambah, tapi sekarang di Indonesia lapangan kerja dan pencari kerja mempunyai perbandingan yang tidak seimbang, yaitu banyak pencari kerja dibanding lapangan kerja sehingga berakibat muncul pengangguran.

Penduduk Indonesia yang tidak tertampung mencari pekerjaan yaitu penduduk yang tinggal di daerah pedesaan karena lapangan pekerjaan di desa tersebut terbatas sehingga mereka bekerja sebagai pengrajin Industri batu bata. Salah

satunya pengrajin industri batu bata yang ada di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan,(kepala kampung Sindang Lunang: 2014)

Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesissir Selatan pada mulanya merupakan salah satu daerah termiskin dibandingkan dinagari lainnya dan keadaan perekonomian masyarakat sangat menurun sekali, karena disebabkan di Daerah Nagari Sindang Lunang sebagian daerah transmigrasi di Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan yang sebelumnya dikenal dengan daerah hutan belantara dan sedikit berbentuk rawa serta berpenduduk relatif kecil,sehingga penduduknya bercampur antara masyarakat asli orang lunang, orang Painan, Batang Kapas, Bayang bahkan

(3)

sebagian ada orang jawa. Pada awalnya kedatangan para Transmigrasi dinagari Sindang Lunang kebutuhan hidup dengan mengandalkan bantuan pemerintah yang diberi nama jatah hidup berupa tanah (Ladang) sebanyak 2 ha dan lokasi perumahan ½ ha serta bahan sembako.

Sebelum adanya industri batu bata masyarakat ini hanya menanam lahannya dengan padi, jagung dan lain sebagainya.

(Masyarakat Sindang Lunang: 2014).

Industri batu bata di daerah Nagari Sindang Lunang pada awalnya merupakan sebagai usaha sampingan bagi masyarakat guna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, contohnya:

kebutuhan pokoknya, kebutuhan pendidikan anaknya,serta kebutuhan lainnya. Namun, semenjak masyarakat sebagai pengrajin industri batu bata pada saat sekarang ini dilihat dari segi kehidupan masyarakat di Nagari Sindang Lunang sudah membaik dibandingkan kehidupan sebelumnya. Jadi itulah masyarakat banyak sebagai Pengarajin Industri Batu Bata di Nagari Sindang Lunang, (Masyarakat nagari Sindang Lunang: 2014)

Pengrajin indutri batu batu nagari Sindang Lunang merupakan industri batu bata yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan menambah perkonomian dari segi material, dapat meningkatkan pendapatan sehingga ini dapat meningkatkan pembiayaan dalam keluarga, dan dari segi lain dapat menambah lapangan pekerja dan juga mengurangi pengangguran.

Observasi awal yang peneliti lakukan di daerah Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan pada umumnya, sebagian besar masyarakat disana bekerja sebagai pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang.

Nagari Sindang Lunang ini ada Tiga Kampung yaitu kampung Sungai Lasi, Kampung Sindang dan Kampung UPT. Sindang. Di kampung Sindang dan UPT. Sindang banyak terdapat pengrajin industri batu bata, sedangkan kampung Sungai Lasi sedikit pengrajin industri batu bata. Oleh karena itu dua kampung saja yang menjadikan sebagai lokasi penelitian yaitu kampung Sindang dan Kampung UPT. Sindang.

Produksi industri batu bata masyarakat Nagari Sindang Lunang memberikan penghasilan yang cukup tinggi. hal ini dikarenakan, makin banyak memproduksi batu bata maka makin meningkat penghasilannya. Kehidupan pengrajin industri batu bata di daerah nagari sindang lunang tergolong sejahtera bila dibandingkan dengan petani sayur, pedagang kaki lima yang mana kehidupan mereka dapat dikatakan belum sejahtera.

Menurut Soetisno dalam Elnatasya (2010) keluarga sejahtera adalah keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan jasmani seperti makanan, pakaian, kesehatan, pendidikan dan rekreasi keinginan dan cita-cita manusia banyak

dicapai karena ia dapat

memeliharahubungan dengan baik dengan sesamanya, dan ia dapat bergaul.

Industri batu bata yang ada dinagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan ini penghasilan masyarakatnya cukup meningkat dilihat dari kesejahteraannya seperti dari pemenuhan kebutuhan pokoknya(pangan, sandang, papan) cukup terpenuhi serta pendidikan, kesehatan, yang cukup memadai. Berdasarkan permasalahan yang ada maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul”Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Industri Batu Bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan”

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis tingkat kesejahteraan pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir selatan yang meliputi:

1. Kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari Pemenuhan kebutuhan Pokok (pangan, sandang, papan) anggota keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan

2. Kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari tingkat Pendapatan keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan.

3. Kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari tingkat Pendidikan anggota keluarga pengrajin industri batu bata di

(4)

nagari Sindang Lunang Kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan

4. Kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari interaksi di dalam keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang kecamatan lunang kabupaten pesisir selatan.

Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang dan batasan masalah maka masalah diatas dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana tingkat kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari Pemenuhan kebutuhan Pokok (pangan, sandang, papan) anggota keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan?

2. Bagaimana tingkat kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari tingkat Pendapatan keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan?

3. Bagaimana tingkat kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari tingkat Pendidikan anggota keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang Lunang Kecamatan Kabupaten Pesisir Selatan?

4. Bagaimana tingkat kesejahteraan pengrajin industri batu bata ditinjau dari interaksi di dalam keluarga pengrajin industri batu bata di nagari Sindang kecamatan lunang kabupaten pesisir selatan?

Kajian Teori 1. Kesejahteraan

Kesejehteraan menggambarkan kemajuan didalam hidup, baik secara material, mental, spritual dan sosial secara seimbang menimbulkan ketentraman dan ketegangan hidup sehingga dapat menyenangkan kehidupan mendatang secara optimis

Menurut Undang-Undang No Tahun 1992 yang dikatakan keluarga yang sejahteraan adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang resmi, maupun memenuhi kebutuhan hidup spritual dan materi yang layak bertaqwa pada tuhan yang maha esa, memiliki hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antara anggota keluarga, anggota masyarakat dan lingkungannya.

Navrianti dalam Selvia (2012) bahwa kesejahteraan sosial ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk

memenuhi kebutuhan fisik atau dasar yang meliputi sandang, papan, pangan, pendidikan dan kesahatan. Selain itu Novrianti dalam Selvia (2012) menyatakan bahwa keluarga yang bahagia dan sejahteraan adalah yang dapat mewujudkan saling pengertian antara sesama anggota keluarga.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan sebuah kondisi dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, air minum yang bersih kesehatan serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehinngga memiliki status sosial yang mengantarkan pada status sosial yang sama terhadap ssama warga lainnya.

2. Pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan)

a. Pangan (makanan)

Tejasari (2003) mengatakan jika asupan zat gizi yang dikonsumsi kurang dari kebutuhan minimal tubuh dalam waktu yang relatif lama maka akan terjadi gangguan fungsi penyediaan zat gizi untuk kebutuhan tubuh dan sebagai pemenuhan selera dan karena rasa dan aromanya tetapi juga menyedia zat aktif yang jika masuk kedalam dapat mempengruhi fisiologis atau kesehatan tubuh. Untuk itu diperlukan gizi yang baik untuk kesehatan jasmani dan rohani untuk menjaminsen terlaksananya fungsi tubuh memperoleh gizi dan kesehatan yang optimal karena tubuh memerlukan sejumlah zak gizi.

b. Sandang (Pakaian)

Pakaian merupakan alat pelindung tubuh dari iklim, keamanan dan kesehatan, kesusilaan dan peradaban. Jika syarat yang dimaksud tidak terpenuhi maka jasmani dan rohani manusia terganggu, pakaian merupakan kebutuhan primer manusia yang beradap sehingga dalam perkembangannya, dasar, model dan jenis mengalami kemajuan yang sangat pesat.

c. Papan (Perumahan)

Rumah sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia merupakan tempat untuk membangun kehidupan keluarga.Untuk itu rumah seharusnya dapat memberikan wadah bagi kegiatan seluruh anggota keluarga dengan baik (Jack 2008). Rumah adalah keperluan asas yang perlu ada.

Rumah tempat berlindung dan

(5)

merupakan keperluan peringkat kedua yang mesti dicapai untuk tujuan keselamatan sebelum keperluan- keperluan dalam peringkat lebih tinggi dipenuhi (Yeeling 2010).

Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa rumah merupakan kebutuhan primer yang tak kalah pentingnya di rumahlah sebagian besar waktu manusia dihabiskan untuk sosialisasi dengan keluarga untuk tumbuh berkembangnya jasmani dan rohani dengan baik yang tentu harus sesuai dengan keaadan rumah yang layak di huni.

3. Tingkat Pendapatan

Secara umum pengertian pendapatan menurut Hull (1997) mengatakan bahwa pendapatan adalah gambaran yang lebih tepat tentang posisi keluarga yang merupakan seluruh pendapatan atau kekayaan keluarga termasuk semua barang atau hewan peliharaan dipakai dalam membagi pendapatan menjadi 3 kelompok yaitu: pendapatan tinggi, sedang, rendah.

Pendapatan berupa uang adalah segala penghasil yang diterima biasanya sebagai balas jasa dari majikan. Pendapatan adalah penerimaan bersih seseorang, baik berupa uang kontan maupun natura. Pendapatan atau disebut juga income dari seseorang warga masyarakat adalah hasil penjualannya dari faktor-faktor produksi

Pengertian yang ditemukan diatas menggambarkan bahwa pendapatan merupakan income keluarga yang mana keadaan setiap keluarga tidaklah sama, akan tetati akan dipengaruhi oleh aktivitas keluarga tersebut baik jenis maupun kegiatan. Aktivitas dan kegiatan inilah yang membedakan dan mempengaruhi pendapatan keduanya sehingga menimbulkan klasifikasi pendapatan keluarga tinggi, sedang dan rendah.

4. Tingkat Pendidikan

Hasbullah (2013:48) lembaga pendidikan formal adalah sekolah mempunyai bentuk yang jelas, dalam arti memiliki program yang telah direncanakan dengan teratur dan ditetapkan dengan resmi misalnya: disekolah ada direncana pembelajaran, jam pembelajaran dan peraturan lain yang digambarkan bentuk dari program sekolah secara keseluruhan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sebuah sistem yang terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik dapat mengembangkan potensi dirinya secara aktif sehingga memiliki

kekuatan spritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Kondisi pendidikan masyarakat dalam penelitian ini dilihat melalui kategori sebagai berikut: (a) tidak sekolah, (b) tidak tamat dan tamat SD, (c) tidak tamat dan tamat SMP (d) tidak tamat dan tamat SMA.

5. Interaksi didalam Keluarga

Interaksi individu dengan keluarga, individu memiliki relasi mutlak dengan keluarga. Ia dilahirkan dari keluarga, tumbuh dan berkembang untuk kemudian membentuk sendiri keluarga batinnya. Terjadi interaksi dengan ibu, ayah, dan kakak-adik. Dengan orang tua, dengan saudara-saudara kandung, terjalin ralasi biologis yang disusul oleh relasi psikologis dan sosila pada umumnya. Peranan- peranan dari setiap anggota keluaraga merupakan resultan dari relasi biologis, psikologis dan sosial. Relasi khusus oleh kebudayaan lingkungan keluarga dinyatakan melalui bahasa(adat-itiadat, kebiasaan, norma- norma, bahkan nilai-nilai agama sekalipun).

Masalah kekerabatan seperti adanya marga dan keluarga besar banyak dibahas dalam antopologi, yang menujukkan kelakuan dan tindakan secara tertib dan teratur dalam berbagai deferensi peran dan fungsinya melalui proses sosialisasi atau internalisasi, (Putri:2009)

METODOLOGI PENELITIAN

Dengan keadaan dan latar belakang penelitian maka jenis penelitian yang saya teliti adalah termasuk jenis penelitian deskriptif dimana penulis berusaha mengungkapkan dan menggambarkan bagaimana kondisi tingkat kesejahteraan pengrajin indusri batu bata dinagari sindang lunang kecamatan lunang kabupaten pesisir selatan. Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan mendeskripsikan sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta- fakta dan sifat populasi tertentu.

menurut Sugiyono(2008:56) penelitian deskriptif yaitu penelitian yang berupaya mendeskripsikan, mencatat dan menganalisis serta menginterprestasikan kondisi-kondisi yang terjadi sebagaimana adanya. Jenis-jenis data yang diperlukan dalam hasil sebuah penelitian adalah berupa data primer dan data sekunder. Data primer dapat diperoleh dari mengumpulkan data melalui wawancara pada informasi yang bisa kita lakukan untuk memperoleh data serta informasi yang bisa kita lakukan untuk memperoleh data serta informasi yang kita butuhkan, sedangkan data

(6)

sekuder adalah data yang bisa kita peroleh dari buku-buku atau jurnal sehingga data serta informasi yang kita butuhkan lebih lengkap.

Dalam penelitian ini dilihat Tingkat Kesejahteraan Pengrajin Industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan.

Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka variabel yang akan diteliti meliputi (1) Pemenuhan Kebutuhan pokok(Pangan, Sandang, Papan) (2) Tingkat Pendapan (3) Tingkat Pendidikan (4) Interaksi didalam Keluarga Pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan.

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Dengan demikian yang menjadi populasi disini adalah semua KK Pengrajin Industri batu bata yang terdapat di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan

Sampel diambil menggunakan secara teknik Total Sampling dengan jumlah Responden adalah 41 KK Pengrajin Industri Batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Temuan Umum Penelitian

Nagari Sindang Lunang sendiri terletak di perbatasan sebelah Barat Nagari PT. Ingkasi Raya, Utara Nagari Lunang Tengah, Timur TNKS, dan Selatan Nagari Silaut.

Batas–batas Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan adalah Sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Nagari Lunang, Nagari Lunang Selatan

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Silaut Kecamatan Silaut

c. Sebelah Barat berbatasan dengan Nagari Lunang Kecamatan Lunang

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) Kecamatan Jambi

Luas Nagari Sindang Lunang menurut penggunaanya adalah 12.294,75 ha dan luas daerah perkarangan hutan Nagari Sindang adalah 56.500 ha.

B. PEMBAHASAN

Berdasarkan deskriptif data di atas, maka dapat dijelaskan bahwa : Pertama, Pemenuhan kebutuhan pokok(Pangan, Sandang dan Papan) keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan pada umumnya dilihat dari jumlah anggota keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang

Kabupaten Pesisir Selatan (87,80%) rata-rata lebih dari 4 orang, (97,56%) kesediaan pangan pada umumnya cukup untuk kebutuhan sehari- hari, (56,09%)kesesuaian makanan dengan 4 sehat 5 sempurna selalu sesuai dengan konsep 4 sehat 5 sempurna.

Tejasari (2003) dalam yulia (2014) mengatakan jika asupan zat gizi yang dikonsumsi kurang dari kebutuhan minimal tubuh dalam waktu yang relatif lama maka akan terjadi gangguan fungsi penyediaan zat gizi untuk kebutuhan tubuh dan sebagai pemenuhan selera dan karena rasa dan aromanya tetapi juga menyedia zat aktif yang jika masuk kedalam dapat mempengaruhi fisiologis atau kesehatan tubuh. Untuk itu diperlukan gizi yang baik untuk kesehatan jasmani dan rohani untuk menjaminsen terlaksananya fungsi tubuh memperoleh gizi dan kesehatan yang optimal karena tubuh memerlukan sejumlah zak gizi. Kesimpulan diatas maka didalam hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori karena pangan (makanan) merupakan sangat diperlukan gizi yang baik bagi kesehatan tubuh.

(95,12%) kesediaan pakaian rata-rata cukup untuk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, (51,21%) dalam sekali pembelian pakaian rata-rata lebih dari stel pakaian/tahun dan (68,29%) kepemilikan perhiasan/ barang keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang saat ini terlihat lebih dari 3 jenis barang perhiasan.Hal ini ini sesuai dengan pendapat Asih (2009) dalam Yulia (2014) Sandang (pakaian) adalah salah satu kebutuhan pokok manusia disamping pangan (makanan) dan papan(tempat tinggal) selain fungsi menutup tubuh pakaian juga dapat pernyataan lambang status seseorang dalam masyarakat sebab berpakaian ternyata merupakan perwujudan dari sifat dasar manusia yang mempunyai rasa malu sehingga berusaha selalu menutupi tubuhnya.

Kesimpulan diatas maka hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori karena sandang (pakaian) adalah menjadi kebutuhan diri seseorang.

Di lihat dari status rumah yang ditepati keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan saat ini (97,56%) kebanyakan rumah sendiri, (82,92%) jenis rumah yang ditepati keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang pada umumnya kebanyakan rumah permanen dan selesai 100%, (82,92%) lantai rumah yang ditepati keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang kebanyakan lantai keramik, (36,58%) jumlah kamar rumah yang ditepati keluarga pengrajin batu bata di Nagari

(7)

Sindang Lunang saat ini adalah rata-rata 3 kamar,sumber penerangan rumah keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang (100%) kebanyakan dari PLN. Hal ini sesuai dengan pendapat Outman (1988) dalam depi (2013) mengatakan rumah adalah suatu keperluan yang sangat penting`disamping makanan dan pakaian. Rumah merupakan suatu struktur fisikal yang memberi ruang dan perlindungan kepada keluarga, di rumah anggota kelurga menjalankan kegiatan seperti berinteraksi antara satu sama lain, mendapat kasih sayang, memelihara anak-anak dan menerima tamu. Kesimpulan diatas maka didalam hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori kerena Rumah merupakan kebutuhan mutlak bagi kehidupan keluarga disamping kebutuhan primer yaang lain.

Dalam membangun rumah haruslah memenuhi syarat, kenyamanan dan ketenangan psikis manusia sangat ditentukan oleh faktor tersebut antara lain : peredaman suara bising, cukupnya masuk cahaya matahari dan ventilasi yang memadai.

Kedua, Tingkat pendapatan keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan adalah (95,12% ) jumlah pendapatan pekerjaan sebagai pengrajin industri batu bata dalam sebulan pada umumnya Rata-rata

>Rp4.000.000- Rp.6.000.000/bulan, 87,80%

jumlah pengeluaran kebutuhan pokok dalam satu bulan rata-rata >Rp.3.000.000/bulan.

selain itu pekerjaan sampingan sebagian besar pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan(63,41%) pada umumnya bartani, jumlah pendapatan penghasilan pekerjaan sampingan dalam satu bulan keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan (51,21%) mendapatkan rata–rata

>Rp1.000.000/bulan, dengan jumlah pendapatan bekerja sebagai pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan (56,09%) mereka pada umumnya mempunyai kendaraan mobil dan motor. Hal ini sesuai dengan pendapat Sherraden (2006) dalam Depi (2013) Pendapatan adalah gambaran yang lebih tepat tentang posisi ekonomi keluarga yang merupakan jumlah keseluruhan pendapatan atau kekayaan keluarga termasuk semua barang, hewan peliharaan dan dipakaian dan membagi pendapatan menjadi tiga kelompok yaitu pendapatan tinggi, sedang dan rendah, dinyatakan bahwa pendapatan seseorang diartikan sebagai jumlah uang atau barang yang diterima sebagai hasil kerja yang dilakukan.

Jenis pendapatan keluarga digolongkan kedalam tiga bagian yaitu pendapatan berupa uang, barang dan berupa selain uang dan barang menurut Saeyandra (1989) dalam Depi (2013), pendapatan uang adalah segala penghasilan yang diperoleh dalam bentuk uang yang sifatnya reguler sebagai balas jasa seperti gaji, upah dan hasil investasi. Pendapatan berupa barang adalah segala penghasilan yang diterima dalam bentuk barang yang sifatnya reguler dan dinilai dengan harga pasar, sekalipun tidak langsung diperoleh dalam bentuk uang seperti hasil usaha tani. Sedangkan pendapatan yang biasanya memberikan perubahan keuangan dalam rumah tangga misalnya barang yang dipakai, pinjam uang, menang undian dan warisan. Dalam Inseklopedia Indonesia yang disusun oleh Shadily (1989:11) dalam Depi (2013) dinyatakan bahwa pendapatan adalah sebagai sejumlah uang atau barang yang diterima sebagai hasil kerja yang telah dilakukan. Kesimpulan diatas maka didalam hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori UMR (Upah Minimum Regional) karena Upah Minimum Regional (UMR) adalah suatu standar minimum yang digunakan oleh para pengusaha atau pelaku industri untuk memberikan upah kepada para pegawai, karyawan atau buruh di dalam lingkungan usaha atau kerjanya.

Ketiga, Tingkat pendidikan keluarga pengarjin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan adalah Tingkat Pendidikan Formal keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan (68,29%) rata-rata hanya Tamat Sekolah Menengah Atas(SMA), Anak yang gagal pendidikan formal (43,90%) rata-rata Tamat SMA, Pendidikan Non formal (65,85%) rata-rata tidak Pernah, Jumlah anak yang masih sekolah (41,46%) rata-rata berjumlah 3 orang, Jumlah anak yang putus Sekolah (95,12%) rata-rata tidak ada, Mendapatkan sumber biaya pendidikan anak(100,00%) kebanyakan rata-rata dari biaya sendiri dan pekerjaan sampingan untuk menambah biaya pendidikan anak (63,41%) kebanyakan pekerjaan sampingan bertani. hal ini sesuai dengan pendapat Zamroni (2001) dalam siska (2013), mengatakan pendidikan adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan diri seseorang pada tiga aspek yaitu pandangan hidup, sikap hidup dan kentrampilan hidup. Upaya untuk melaksanakannya dan mengembangkannya dilaksanakan disekolah, luar sekolah dan keluarga. Kesimpulan diatas maka didalam

(8)

hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori karena pendidikan adalah suatu proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembang diri seseorang guna untuk mendapatkan pengalaman yang lebih tinggi.

Keempat, Interaksi didalam Keluarga Pengrajin Industri Batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan pada umumnya interaksi antara ayah dengan anak dan ibu dengan anak terlihat sangat baik, serta interaksi ayah dengan ibu maupun anak dengan anak didalam keluarga rata-rata umumnya mengatakan baik.

Berdasarkan rekapitulasi hasil penelitian terhadap 41 orang responden yang disajikan pada tabel IV.32 di atas terlihat bahwa interaksi didalam keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan skor rata-ratanya adalah 18,05 dengan tingkat pencapaian responden 90,25% yang berada pada kriteria sangat baik. Hal ini dapat disimpulkan bahwa interaksi didalam keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan yang dilihat dari interaksi ayah dengan ibu, interaksi ayah dengan anak, interaksi ibu dengan anak dan interaksi anak dengan anak terlihat sangat baik. Hal ini sesuai dengan pendapat Jackson (2007) dalam jurnal interaksi didalam keluarga adalah Relasi seimbang dan memuaskan, tidak seimbang dan memuaskan, tidak seimbang dan tidak memuaskan, seimbang dan tidak memuaskan.Kesimpulan diatas maka didalam hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori karena interaksi didalam keluarga adalah relasi yang seimbang dan memuaskan jika dilihat dari rekapitulasi kriterianya.

Di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan pada umumnya Pengrajin industri batu bata menganggap bahwa menghasilkan industri

batu bata cukup baik dalam membantu meningkatkan perekonomian dan mensejahterakan hidup guna untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi, kehidupan keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan umumnya saat ini sudah dikatakan cukup membaik dari kehidupan sebelumnya. Hal ini terjadi karena dilihat dari pendapatan penghasilan batu bata tersebut serta dilihat dari interaksi didalam keluarganya sangat baik

KESIMPULAN

1. Ditinjau dari pemenuhan kebutuhan pokok (pangan,sandang, papan) anggota keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan adalah dilihat kebutuhan pangan sandang serta papan pada umumnya dikatakan (83,27%) sangat baik.

2. Ditinjau dari tingkat pendapatan keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan adalah dilihat dari pendapatan perbulan dan pendapatan sampingan pada umumnya dikatakan (55,84%) cukup baik .

3. Ditinjau dari tingkat pendidikan anggota keluarga pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan Selatan adalah dilihat dari pendidikan formal pada umumnya ( 40,4%) sudah dikatakan cukup baik.

4. Ditinjau dari interaksi didalam Keluarga Pengrajin industri batu bata di Nagari Sindang Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan adalah dilihat dari interaksi ayah dengan ibu, ayah dengan anak, ibu dengan anak dan anak dengan anak, (90,25%) pada umumnya sangat baik.

(9)

PETA LOKASI PENELITIAN

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006 Prosedur Penelitian, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Arikunto, Suharsimi.1989. Dasar-dasar evaluasi pengajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Buckle, K.A dkk.1987. Ilmu Pangan, Jakarta: UI Press

BadadudinZain,1994. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Hasbullah.2013. Dasar-dasar Pendidikan.Padang:

Pustaka UNP.

Jakson. 2007. Pengertian Interaksi didalam keluarga.

Kepala Kampung Nagari Lunang.2014.Tentang kehidupan masyarakat sebagai Pengrajin Batu Bata di Nagari Lunang.

Masyrakat Sindang Lunang.2014.Tentang kehidupan masyarakat sebelum adanya industri batu bata.

Prayitno,(2008) pendidikan dasar teori dan praktis.padang : UNP Pres.

Purwanto,Ngalim.2009. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Bandung:PT. Remaja.

Undang-undang RI Nomor 10 Tahun 1992Tentang Kesejahteraan.

Riduwan. 2012. Skala pengukuran variabel- variabel penelitian.Jawa Barat: Alfabeta.

Siska.2013. Studi Sosial Ekonomi Transmigrasi di Nagari Lunang Kecamatan Lunang Kabupaten Pesisir Selatan. (Skripsi).

Padang: Geografi STKIP PGRI.

Sudijono, Anas.2010.Pengantar Statistik Pendidikan.PT Raja Grafindo Persada.

Jakarta.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan.

Bandung : Alfabeta.

Sudjana, nana Ibrahim 2007. Penelitian dan penilaian pendiddikan. Bandung: sinar baru Algesindo.

Tejasari.2013. Nilai Gizi Pangan.Graha Ilmu:

Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

pertanian kemudian beralih menjadi pengrajin di Industri Batu Bata; (2) perubahan kehidupan ekonomi masyarakat Panggisari ke industri batu bata dipengaruhi oleh beberapa faktor

Dilihat dari pekerjaan pokoknya, semua responden mengatakan bahwa pekerjaan pokoknya adalah sebagai pengrajin batu bata. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

Pekerja pengrajin batu bata ini juga tidak terdapat jenjang karir karena seseorang yang bekerja tidak dapat naik golongan kerja, sebab yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini

Keempat, interaksi di dalam keluarga petani karet di Nagari Padang Ganting Kabupaten Tanah Datar sebagai berikut : sikap ayah jika ibu melakukan kesalahan di

Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat hasil pemeriksaan feses pengrajin batu bata di Kampung Jawa-Kota Batam, diperoleh 20 (100%) sampel feses yang diperiksa Negatif

Informan dalam penelitian ini adalah Masyarakat yang membayar nadzar kepada Mandeh Rubiah VII, Mandeh Rubiah VII di Nagari Lunang Kabupaten Pesisr Selatan dan tokoh

Keadaan ini dapat dilihat pada Tabel 4 tentang pemenuhan kebutuhan yang menunjukan bahwa 66,7 % keluarga buruh pengrajin batu bata masih kurang tercukupi dalam

Untuk para pengrajin usaha batu bata diharapkan dapat memproduksi batu bata dalam bentuk lainnya yang lebih inovatif, dengan kreasi-kreasi yang dimiliki oleh pengrajin Batu Bata,