MAKALAH
HADIS HUKUM EKONOMI SYARIAH TRANSAKSI KERJA SAMA BISNIS
OLEH :
AMIRUL HAQ (220201003)
DOSEN PENGAMPU : HUSNUL HIDAYATI, S.Ag., M.Ag
HUKUM EKONOMI SYARIAH FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul "Transaksi Kerja Sama Bisnis " ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Hadis Hukum Ekonomi Syariah Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Transaksi Kerja Sama Bisnis dalam kehidupan sehari-hari bagi para pembaca.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Husnul Hidayati, S.Ag., M.Ag selaku Dosen Hadis Hukum Ekonomi Syariah yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni ini.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan semua, terimakasih atas bantuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun saya butuhkan demi kesempurnaan makalah ini.
Mataram, 25 September 2023 Amirul Haq
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah C. Tujuan
BAB 2 PEMBAHASAN A. Hadis Akad Mudharabah B. Hadis Akad Musyarakah C. Hadis Akad Muzara’ah BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kerjasama adalah sebuah sikap melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama tanpa melihat latar belakang orang yang diajak bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini sesuai dengan pendapat Samani bahwa kerjasama yaitu sifat suka kerjasama atau gotong royong adalah tindakan atau sikap mau bekerjasama dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan keuntungan bersama. Karakter kerjasama perlu diterapkan pada anak sejak kecil, karena karakter dapat menjadi bekal bagi kehidupan anak di masa yang akan datang1. Bisnis merupakan bagian dari kegiatan ekonomi dan mempunyai peranan yang sangat vital dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Kegiatan bisnis mempengaruhi semua tingkat kehidupan manusia baik individu, sosial, regional, nasional maupun internasional. Tiap hari jutaan manusia melakukan kegiatan bisnis sebagai produsen, perantara maupun sebagai konsumen2.
menurut Mursyidi dalam Buku Akuntansi (2010), pengertian dari transaksi yaitu suatu kegiatan dalam dunia bisnis yang tidak hanya melibatkan proses jual beli ataupun pembayaran dan penerimaan saja. Namun terdapat proses yang berdampak pada untung, rugi, arus, ataupun kegiatan lain yang bisa diukur dengan uang. Selain itu juga, Dikutip dari situs resmi KBBI, transaksi adalah sebuah proses atau persetujuan jual beli antara dua pihak. Transaksi juga bisa diartikan sebagai kegiatan pelunasan atau pembayaran dari satu pihak kepihak yang lain.
Dalam agama islam dikenal berbagai akad yang dibenarkan dalam bermuamalah.diantaraya adalah akad mudharabah, musyarakah, dan muzara’ah.akad-akad tersebut lazim digunakan dalam transaksi antara perbankan syariah dengan para nasabahnya.namun tidak menutup kemungkinan, akad-akad itu digunakan oleh sebagian masyarakat di luar perbankan syariah. Misalnya saja dalam praktek hubungan kerja di rumah makan padang telah menerapkan akad mudharabah, para petani berusaha bersama dengan cara patungan modal dan bekerja bersama atau musyarakah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa dalil hadis dalam akad mudharabah ? 2. Apa dalil hadis dalam akad musyarakah ? 3. Apa dalil hadis dalam akad muzara’ah ?
1 Abdulsyani, Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: Bumi Aksara,1994) hlm.156.
2 Norvadewi, Bisnis dalam Perspektif Islam, AL-TIJARY, Vol. 01, No. 01, Desember 2015
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dalil hadis dalam akad mudharabah ! 2. Untuk mengetahui dalil hadis dalam akad musyarakah ! 3. Untuk mengetahui dalil hadis dalam akad muzara’ah !
BAB 2 PEMBAHASAN A.Hadis Akad Mudharabah
1. Pengertian Mudharabah
Istilah mudharabah adalah bahasa yang digunakan oleh penduduk Irak, sedangkan penduduk Hijaz menyebut mudharabah dengan istilah mudharabah atau qiradh, sehingga dalam perkembangan lebih lanjut mudharabah dan qiradh juga mengacu pada makna yang sama. Secara lughowi mudharabah berasal dari kata ad-dharb (برضلا ) derivasi dari wazan fi’il برض – برضی - ابرض yang berarti memukul dan berjalan3. Selain ad-dharb ada juga qiradh (ضارقلا ) dari kata (ضرقلا ) yang berarti pinjaman atau pemberian modal untuk berdagang dengan memperoleh laba4. Muhammad Syafi’I Antonio dalam bukunya Bank Syariah dari Teori Ke Praktek, menuliskan bahwa pengertian berjalan lebih tepatnya adalah proses seseorang dalam menjalankan usaha5. Dari sini dapat dipahami bahwa mudharabah secara lughowi adalah proses seseorang menggerakkan kakinya dalam menjalankan usahanya dengan berdagang untuk memperoleh laba.
Secara istilahi mudharabah adalah menyerahkan modal kepada orang yang berniaga sehingga ia mendapatkan prosentase keuntungan6. Definisi mudharabah menurut Sayyid Sabiq adalah : “Akad antara dua pihak dimana salah satu pihak mengeluarkan sejumlah uang (sebagai modal) kepada lainnya untuk diperdagangkan. Laba dibagi sesuai dengan kesepakatan”7. Adapun definisi mudharabah menurut Wahbah Az-Zuhaili adalah : “Akad didalamnya pemilik modal memberikan modal (harta) pada ‘amil (pengelola) untuk mengelolanya, dan keuntungannya menjadi milik bersama sesuai dengan apa yang mereka sepakati. Sedangkan, kerugiannya hanya menjadi tanggungan pemilik modal saja, ‘amil tidak menanggung kerugian apa pun kecuali usaha dan kerjanya saja”8.
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian mudharabah yaitu akad yang dilakukan oleh shahibul mal dengan mudharib untuk usaha tertentu dengan pembagian keuntungan sesuai kesepakatan. Keuntungan yang dituangkan dalam kontrak
3 Adib Bisri dan Munawwir, Al-Bisri Kamus Arab – Indonesia Indonesia –Arab, Surabaya : Pustaka Progressif, 1999, hlm. 432.
4 Ibid, hlm. 592.
5 Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani, 2001.
hlm. 95.
6 Abdullah Al-Muslih, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta : Darul Haq, 2004, hlm. 168.
7 Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah Jilid 4, Jakarta : Darul Fath, 2004, hlm. 217.
8 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jilid 5, Jakarta : Gema Insani, 2011, hlm. 476.
ditentukan dalam bentuk nisbah. Jika usaha yang dijalankan mengalami kerugian, maka kerugian itu ditanggung oleh shahibul mal sepanjang kerugian itu bukan akibat kelalaian mudharib. Namun jika kerugian itu diakibatkan karena kelalaian mudharib, maka mudharib harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
2. Dasar Hukum Mudharabah
Para imam madzhab sepakat bahwa hukum mudharabah adalah boleh, walaupun di dalam Al-Qur’an tidak secara khusus menyebutkan tentang mudharabah dan lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat dan hadits sebagai berikut : a). Al-Qur’an