MAKALAH
PROSES BISNIS PRODUKSI
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Informasi Akuntansi yang diampu oleh:
Dr. (Cand) Antonius Grivaldi Sondakh, SE., M.Sc., Ak., CA
Disusun Oleh:
Kelompok 4
Nadia Rahman 2210313120006
Zia Ruhmana Maulida 2210313220061
Shoufina Diva Mumtaza 2210313320032
Muhammad Faqih Syaddad 2210313310017
Muhammad Helmi 2210313310035
Rivel Herson Makabe 2210313710001
PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN 2024
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesehatan yang diberikan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Proses Bisnis Produksi” ini sesuai dengan yang kami harapkan. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada dosen matakuliah Sistem Informasi Akuntansi, bapak Dr. (Cand) Antonius Grivaldi Sondakh, SE., M.Sc., Ak., CA. atas bimbingan beliau kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Dalam makalah yang berjudul Proses Bisnis Produksi ini, kami membahas beberapa hal, seperti proses bisnis produksi dan sistem manufaktur respon cepat.
Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kami sangat terbuka terhadap kritik dan saran demi perbaikan dimasa depan. Kami berharap semoga makalah ini berguna bagi para pengajar, mahasiswa, dan pembaca pada umumnya
Banjarmasin, 12 Mei 2024
Kelompok 4
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 3
1.1 LATAR BELAKANG... 3
1.2 RUMUSAN MASALAH ... 3
1.3 TUJUAN PENULISAN ... 3
BAB II ... 4
2.1 PROSES BISNIS PRODUKSI (PRODUCTION BUSINESS PROCESS) ... 4
2.2 SISTEM MANUFAKTUR RESPONS CEPAT (QUICK-RESPONSE MANUFACTURING SYSTEM) ... 12
BAB III ... 30
3.1 KESIMPULAN ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... iii
3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Lingkup sistem informasi akuntansi adalah memberikan informasi untuk tujuan akuntansi yaitu tujuan eksternal yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh otoritas dan tujuan internal untuk tujuan pengambilan keputusan manajemen. Sistem informasi akuntansi adalah kumpulan sumber daya seperti manusia dan peralatan yang diatur untuk mengubah data menjadi informasi. Sistem informasi akuntansi adalah suatu komponen organisasi yang mengumpulkan, menggolongkan, mengolah, menganalisa dan komunikasikan informasi keuangan yang relevan untuk pengambilan keputusan kepada pihak-pihak luar (seperti inspeksi pajak, investor dan kreditur) dan pihak-pihak dalam (terutama manajemen). Untuk tujuan eksternal biasanya didasarkan padastandar yang ditetapkan oleh otoritas. Misal penyajian laporan keuangan untuk publik, sehingga dibutuhkan sistem informasi akuntansi keuangan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Jelaskan arus informasi dan control proses bisnis produksi.
1.2.2 Jelaskan fitur utama dari proses bisnis akomodasi property.
1.2.3 Jelaskan komponen utama manufaktur terintegrasi komputer (CIM).
1.2.4 Jelaskan dan gambarkan rendahnya pemrosesan yang diperlukan untuk mendukung perencanaan sumber daya manufaktur system (MRP II).
1.2.5 Jelaskan aktivitas cesting jelas relevan dengan system CIM.
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.3.1 Mampu memahami arus informasi dan control proses bisnis produksi.
1.3.2 Mampu memahami fitur utama dari proses bisnis akomodasi property.
1.3.3 Mampu memahami dan mengidentifikasi komponen utama manufaktur terintegrasi komputer (CIM).
1.3.4 Mampu memahami dan menggambarkan rendahnya pemrosesan yang diperlukan untuk mendukung perencanaan sumber daya manufaktur system (MRP II).
1.3.5 Mampu memahami aktivitas cesting jelas relevan dengan system CIM.
4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 PROSES BISNIS PRODUKSI (PRODUCTION BUSINESS PROCESS) A. Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Perencanaan produksi adalah proses yang melibatkan perumusan rencana dan strategi untuk menghasilkan barang atau jasa secara efisien. Perencanaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya yang ada digunakan dengan optimal untuk memenuhi permintaan pelanggan, menghindari kelebihan persediaan atau kekurangan stok, dan meningkatkan produktivitas serta efisiensi operasional.
Mulai dari untuk mengoptimalkan sumber daya, manajemen penjadwalan produksi, kontrol stok bahan baku, hingga meningkatkan efisiensi kerja. Dalam kesimpulannya, proses perencanaan ini memiliki penting yang signifikan bagi perusahaan. Dengan melakukan perencanaan yang baik, perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya, mengatur jadwal produksi, menghindari kekurangan atau kelebihan stok, meningkatkan efisiensi produksi, dan merespons perubahan pasar dengan lebih baik.
I. Komponen Perencanaan Produksi
Menurut Sukaria Simulingga (2013) ada 5 aspek dalam perencanaan produksi, yakni:
Menyusun rencana produksi dari tingkat agregat untuk seluruh pabrik dengan memperhitungkan estimasi permintaan pasar dan proyeksi penjualan.
Menetapkan jadwal penyelesaian untuk setiap produk yang akan diproduksi.
Merencanakan produksi dan akuisisi komponen yang diperlukan dari luar (bought-out items) dan bahan baku.
Menjadwalkan proses operasi untuk setiap pesanan pada stasiun kerja terkait.
Mengkomunikasikan jadwal penyelesaian setiap pesanan kepada para pemesan.
II. Fungsi Perencanaan Produksi
Berikut ini beberapa fungsi dari proses perencanaan proses produksi:
1. Menentukan Kebutuhan Produksi Pertama adalah menentukan kebutuhan produksi, dimana jika perusahaan menerapkan perencanaan mereka akan dibantu dalam menentukan jumlah produk yang harus diproduksi dalam suatu periode waktu tertentu. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan permintaan pelanggan, tingkat persediaan yang diinginkan, dan faktor-faktor lain yang relevan.
5 2. Penjadwalan Produksi Berikutnya adalah penjadwalan produksi, dimana setiap proses perencanaan yang dilakukan akan melibatkan penentuan jadwal produksi untuk setiap produk. Ini mencakup alokasi sumber daya, seperti tenaga kerja, mesin, dan bahan baku, untuk memastikan bahwa produksi berjalan lancar dan efisien.
3. Kontrol Stok Salah satu fungsi penting lainnya dari perencanaan produksi adalah mengendalikan tingkat persediaan. Dengan melakukan peramalan permintaan yang akurat dan mengatur jumlah produksi yang sesuai, perusahaan dapat menghindari kelebihan persediaan yang berlebihan atau kekurangan stok yang dapat menyebabkan kerugian.
4. Meningkatkan Efisiensi Produksi Terakhir adalah untuk meningkatkan efisiensi produksi secara keseluruhan. Hal ini dapat dicapai dengan meminimalkan waktu siklus produksi, mengurangi pemborosan, dan menerapkan praktik-praktik produksi yang lebih efisien.
5. Meningkatkan Omset Bisnis Perencanaan yang efektif dapat memberikan manfaat yang signifikan dalam meningkatkan pendapatan perusahaan. Sebab, Anda bisa memenuhi permintaan pelanggan tepat waktu, mengoptimalkan kapasitas produksi, menghindari biaya keterlambatan atau kompensasi kerugian, produksi bisa disesuaikan dengan jumlah permintaan.
Bisnis akan semakin mudah dipercaya oleh pelanggan, begitu pula dengan loyalitas mereka dan meningkatkan efisiensi produksi, perusahaan dapat meningkatkan penjualan, memanfaatkan peluang bisnis, dan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi.
III. Tujuan Perencanaan Produksi
Berdasarkan pendapat Hendra Kusuma (1999), tujuan dari perencanaan produksi adalah:
Melakukan peramalan terhadap permintaan produk dengan menyatakan jumlah produk sebagai fungsi dari perkembangan waktu.
Menentukan jumlah optimal saat melakukan pemesanan bahan baku dan komponen secara ekonomis dan terintegrasi.Menentukan keseimbangan antara kebutuhan
produksi, metode pemenuhan pesanan, dan terus memantau tingkat persediaan produk jadi secara berkala.
Selanjutnya, melakukan perbandingan dengan rencana persediaan dan melakukan revisi terhadap rencana produksi pada waktu yang telah ditentukan.
Merancang jadwal produksi, penugasan, alokasi mesin, dan tenaga kerja secara terperinci sesuai dengan ketersediaan kapasitas dan fluktuasi permintaan dalam suatu periode.
6 IV. Jenis-Jenis Perencanaan Produksi
1. Perencanaan Produksi Jangka Pendek (Perencanaan Operasional) Perencanaan Produksi Jangka Pendek, yang juga dikenal sebagai Perencanaan Operasional, merujuk pada keputusan mengenai kegiatan produksi yang akan dilakukan dalam kurun waktu satu tahun atau kurang. Adapun tujuan dari perencanaan jangka pendek ini adalah untuk mengelola penggunaan tenaga kerja, persediaan bahan, dan fasilitas produksi yang dimiliki oleh perusahaan.
2. Perencanaan Produksi Jangka Panjang Sebaliknya, Perencanaan Produksi Jangka Panjang melibatkan keputusan mengenai tingkat kegiatan produksi untuk periode lebih dari satu tahun, seringkali hingga lima tahun ke depan. Adapun fokus utama dari perencanaan produksi jangka panjang adalah mengatur pertambahan kapasitas peralatan atau mesin, melakukan ekspansi pabrik, dan mengembangkan produk baru (product development).
V. Tahapan Proses Perencanaan Produksi
Proses perancangan produksi melibatkan empat tahapan utama yang harus dilakukan secara teratur dan sistematis. Berikut adalah penjelasan detail tentang masing-masing tahapan:
1. Analisis Permintaan Tahap pertama dalam perencanaan produksi adalah melakukan peramalan permintaan. Ini melibatkan analisis dan estimasi permintaan masa depan untuk produk atau layanan yang akan diproduksi. Perusahaan dapat menggunakan data historis, tren pasar, riset pasar, umpan balik pelanggan, atau model matematika untuk melakukan peramalan. Tujuannya adalah untuk memprediksi permintaan dengan seakurat mungkin, sehingga perusahaan dapat merencanakan kapasitas produksi yang sesuai dan mengatur aliran bahan baku.
2. Penentuan Kebutuhan Bahan Baku Setelah analisis permintaan selesai, tahap berikutnya adalah menentukan kebutuhan bahan baku untuk memenuhi produksi yang direncanakan.
Perusahaan harus menganalisis komponen produk, jumlah yang diperlukan, spesifikasi bahan baku, dan waktu pengiriman. Proses ini melibatkan komunikasi yang efektif dengan pemasok untuk memastikan persediaan bahan baku yang cukup dan waktu pengiriman yang tepat. Dalam tahap ini, perusahaan juga dapat mempertimbangkan inventaris yang ada dan kebijakan manajemen persediaan.
3. Penjadwalan Produksi Setelah kebutuhan bahan baku ditentukan, tahap berikutnya adalah penjadwalan produksi. Ini melibatkan menentukan waktu mulai dan selesai untuk setiap pesanan atau produk yang akan diproduksi. Penjadwalan harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kapasitas produksi, ketersediaan sumber daya, efisiensi produksi,
7 prioritas pesanan, dan tenggat waktu pelanggan. Dalam tahap ini, perusahaan dapat menggunakan metode seperti Gantt chart, Critical Path Method (CPM), atau algoritma penjadwalan lainnya untuk membantu dalam menyusun jadwal produksi yang efisien.
4. Monitoring dan Pengendalian Produksi Tahap terakhir dalam perencanaan produksi adalah monitoring dan pengendalian produksi yang sedang berlangsung. Ini melibatkan pemantauan langsung terhadap pelaksanaan produksi untuk memastikan bahwa jadwal produksi tercapai sesuai dengan rencana. Jika ada deviasi atau hambatan, perusahaan harus mengambil tindakan korektif yang diperlukan untuk meminimalkan gangguan dan memastikan kelancaran produksi. Monitoring dan pengendalian produksi melibatkan pemantauan efisiensi produksi, pemenuhan target produksi, kualitas produk, penggunaan sumber daya, dan kemampuan untuk merespons perubahan atau keadaan darurat.
B. Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan dilakukan melalui serangkaian catatan dan laporan persediaan yang memberikan informasi seperti penggunaan persediaan, saldo persediaan, dan tingkat minimum dan maksimum persediaan. Titik dan prosedur pemesanan ulang ditetapkan. Titik pemesanan ulang adalah tingkat persediaan di mana diinginkan untuk memesan atau memproduksi barang tambahan untuk menghindari kondisi kehabisan stok. Pengembangan titik pemesanan ulang memerlukan analisis permintaan produk, biaya pemesanan atau penyiapan produksi, waktu tunggu vendor atau produksi, biaya penyimpanan persediaan, dan biaya yang terkait dengan kondisi kehabisan persediaan seperti kehilangan penjualan atau penggunaan fasilitas produksi yang tidak efisien.
Karena pengendalian persediaan bertujuan untuk meminimalkan total biaya persediaan, maka penting untuk memutuskan ukuran setiap kuantitas pesanan pembelian, yaitu kuantitas pesanan yang paling ekonomis (EOQ). Kuantitas pemesanan ulang harus menyeimbangkan dua sistem biaya-total biaya penyimpanan dan total biaya pemesanan. Rumus untuk menghitung EOQ :
EOQ =
Keterangan: R = kebutuhan untuk item pada periode ini (unit) S = biaya pembelian per pesanan
P = biaya unit
I = biaya tercatat persediaan per periode, dinyatakan sebagai persentase dari periode tersebut nilai persediaan
8 Setelah EOQ dihitung, waktu pemesanan harus diputuskan; yaitu, titik pemesanan ulang harus ditentukan. Jika waktu tunggu pemesanan dan tingkat penggunaan persediaan diketahui, menentukan titik pemesanan ulang sangatlah mudah. Waktu tunggu adalah waktu antara melakukan pemesanan dan penerimaan barang. Tingkat penggunaan persediaan adalah jumlah barang yang digunakan selama periode waktu tertentu. Titik pemesanan ulang adalah titik di mana tingkat persediaan mencapai jumlah unit yang akan dikonsumsi selama waktu tunggu.
Dinyatakan sebagai rumus :
Titik pemesanan ulang = waktu tunggu x tingkat penggunaan inventaris rata-rata Catatan persediaan abadi adalah sumber terbaik dari informasi persediaan yang diperlukan untuk menghitung EOQ. Unit-unit dalam persediaan awal, berdasarkan pesanan, penerimaan, pengeluaran, dan saldo yang ada di tangan harus disertakan dalam catatan ini. Pengendalian yang tepat atas persediaan memerlukan verifikasi berkala atas barang yang ada. Hal ini dapat dilakukan secara bergilir jika ada catatan persediaan abadi, atau dapat juga dilakukan dengan penghitungan fisik secara berkala.
Bagian penting dari pengendalian persediaan adalah evaluasi perputaran persediaan untuk menentukan usia, kondisi, dan status persediaan. Pengendalian khusus harus dibuat untuk mencatat barang inventaris yang usang dan yang bergerak lambat dan untuk membandingkan saldo dengan tingkat inventaris yang telah ditetapkan dengan tepat. Laporan status persediaan yang menunjukkan rincian penggunaan per periode sangat membantu dalam menjaga persediaan pada tingkat yang tepat dan mengendalikan barang yang bergerak lambat.
Kontrol atas persediaan mencakup metode penyimpanan dan penanganan. Barang harus diklasifikasikan dan diidentifikasi dengan benar sehingga dapat ditemukan dengan tepat dan memungkinkan dilakukannya verifikasi dan pelaporan yang tepat. Penyimpanan dan penanganan barang harus memberikan keamanan terhadap penggelapan, perlindungan terhadap kerusakan atau pembusukan, menghindari keusangan, dan jaminan pengendalian yang tepat.
Persediaan adalah investasi yang besar. Sistem pengendalian persediaan harus menyediakan laporan status pada setiap produk yang aktif sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan secara wajar. Karena banyaknya item persediaan dan berbagai transaksi yang mempengaruhinya, sulit untuk selalu memperbarui informasi persediaan dan produksi dengan sistem manual. Sistem pengendalian persediaan yang terkomputerisasi dapat menghasilkan pengurangan substansial dalam investasi persediaan;
penghematan ini termasuk pengurangan persediaan tanpa penurunan layanan yang sesuai,
9 penentuan EOQ dan titik pemesanan, pembentukan stok pengaman yang memadai, dan.
perkiraan permintaan di masa depan berdasarkan informasi saat ini dan masa lalu. Catatan penggunaan, analisis perputaran dan keusangan, titik dan jumlah pemesanan ulang, serta statistik lain yang relevan dengan pengendalian persediaan sulit dihasilkan dalam sistem yang murni manual.
C. Produksi Ramping
Produksi ramping adalah sistem produksi di mana suku cadang diproduksi hanya sesuai kebutuhan. dalam operasi proses bisnis selanjutnya. Konsep produksi ramping didasarkan pada konsep bahwa inventaris adalah pemborosan. Sistem produksi yang ramping mengekspos penyebab tersembunyi dari pemeliharaan persediaan. Sistem produksi ramping berbeda dengan sistem produksi konvensional karena persediaan WIP, bahan baku, dan barang jadi diminimalkan atau dihilangkan sama sekali.
Dalam lingkungan produksi konvensional, sejumlah produk serupa diproses secara berkala untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan kebutuhan masa depan yang direncanakan.
Lingkungan produksi batch mendorong konsep efisiensi. Ukuran batch yang ekonomis (yaitu, efisien) diperoleh dengan menggunakan rumus, seperti yang disediakan dalam model EOQ.
Produksi ramping beroperasi di bawah konsep efisiensi tarikan. Produksi suatu produk tidak dimulai sampai produk tersebut dipesan oleh pelanggan. Aliran produksi terjadi secara JIT (Tepat Waktu) untuk memenuhi permintaan. Permintaan "menarik" produksi dan produksi menarik pesanan untuk bahan, Persediaan berfungsi sebagai penyangga antara operasi yang berbeda. Persediaan dihilangkan dengan menganalisis operasi secara hati-hati untuk menghasilkan tingkat produksi yang konstan yang akan menyeimbangkan input dan output pada berbagai tahap produksi. Produksi ramping juga menekankan pada kontrol kualitas.
Karena persediaan diminimalkan, produksi yang cacat harus segera diperbaiki jika aliran produksi yang konstan ingin dipertahankan. Vendor harus menjamin pengiriman suku cadang bebas cacat secara tepat waktu yang dapat segera dimasukkan ke dalam produksi daripada terlebih dahulu dimasukkan ke dalam persediaan bahan baku. Manfaat finansial dari produksi ramping terutama berasal dari pengurangan tingkat persediaan secara keseluruhan. Hal ini mengurangi total investasi perusahaan dalam persediaan. Biaya seperti penanganan dan menyimpan bahan, keusangan, ruang penyimpanan, dan biaya pembiayaan total inventaris berkurang, mungkin secara signifikan. Manfaat lain termasuk kemungkinan biaya tenaga kerja yang lebih rendah karena operasi yang dirancang untuk produksi aliran konstan, diskon kuantitas dari vendor yang sebagai imbalannya menerima kontrak jangka panjang, dan
10 peningkatan penekanan pada produksi berkualitas dan pengurangan limbah dan pembusukan yang sesuai.
D. Aplikasi Akuntansi Properti
Aplikasi akuntansi properti berkaitan dengan aset tetap dan investasi organisasi. Elemen penting dari pengendalian internal yang efektif adalah pemrosesan informasi yang akurat dan tepat waktu yang berkaitan dengan aset tetap dan investasi. Pemrosesan tersebut dilakukan melalui penggunaan aplikasi akuntansi khusus yang menyediakan kebutuhan informasi akuntansi, operasional, manajemen kebutuhan informasi.
1. Aset Tetap
Ada empat tujuan dari aplikasi akuntansi aktiva tetap atau investasi:
Menyimpan catatan yang memadai yang mengidentifikasi aset dengan deskripsi, biaya, dan lokasi fisik
Menyediakan penghitungan penyusutan dan/atau amortisasi yang tepat untuk tujuan pembukuan dan pajak
Menyediakan penilaian kembali untuk tujuan asuransi dan biaya penggantian
Menyediakan laporan kepada manajemen untuk perencanaan dan pengendalian masing- masing item aset
Aset tetap adalah harta berwujud seperti tanah, bangunan, mesin, peralatan, dan perabot yang digunakan dalam kegiatan usaha normal. Item-item ini relatif permanen dan sering kali mewakili investasi terbesar perusahaan. Transaksi yang mengubah jumlah investasi dalam aktiva tetap cenderung jarang terjadi dan biasanya melibatkan jumlah uang yang relatif besar.
Perusahaan mengakumulasi banyak aktiva selama masa hidup bisnis, melepaskan aktiva (dengan pensiun, penjualan, pemindahan aktiva lain dari satu lokasi ke lokasi lain, dan mencocokkan aktiva tetap (selain tanah) dengan pendapatan dengan cara membebankan biaya penyusutan periodik selama estimasi umur manfaat aktiva tersebut. Untuk menyelesaikan tugas-tugas ini secara efisien dan untuk memberikan kontrol yang memadai, sistem otomatis sering kali diperlukan. Berikut gambar mengenai Sistem Aplikasi Akuntansi Properti:
11 Setiap organisasi, termasuk organisasi yang beroperasi dengan basis kas, harus menyimpan buku besar aset tetap sebagai alat bantu pengendalian yang efektif. Buku besar aset tetap adalah daftar sistematis aset tetap organisasi. Bagian terpisah dari daftar aset tetap biasanya disimpan untuk setiap kategori utama aset. Kategorisasi ini harus konsisten dengan deskripsi akun buku besar. Sebagai contoh, sebuah organisasi mungkin memiliki akun buku besar yang terpisah untuk bangunan, perabotan dan perlengkapan, dan mobil. Akan ada bagian terpisah untuk masing-masing kategori ini. Aset itu sendiri harus diberi label dengan pengenal yang terhubung ke daftar aset tetap.
Ketika setiap aset diperoleh, aset tersebut harus diberi label dan dimasukkan ke dalam buku besar aset tetap. Jumlah total dolar yang ditampilkan dalam register harus sesuai dengan akun kontrol buku besar. Untuk alasan ini, pencatatan harus dilakukan di buku besar aktiva tetap tidak hanya untuk mencatat penambahan tetapi juga untuk mencatat penjualan aktiva atau disposisi lainnya.
Beberapa entri harus dibuat ketika suatu aset dilepaskan. Entri pertama mencatat tanggal pelepasan. Entri kedua menghapus biaya perolehan aset pada periode berjalan. Entri ketiga menghapus akumulasi penyusutan yang telah dilakukan sampai saat ini. Buku besar aset tetap berfungsi sebagai buku besar pembantu untuk akun kontrol buku besar yang terkait.
12 2. Investasi
Investasi, seperti halnya aset tetap, memerlukan pencatatan yang terpisah; biasanya daftar investasi digunakan untuk menyediakan kontrol akuntansi atas investasi. Seperti halnya semua aset lainnya, penyimpanan investasi harus terpisah dan berbeda dari pencatatan. Daftar investasi harus berisi semua informasi yang relevan, seperti nomor sertifikat dan nilai nominal sekuritas, untuk memudahkan identifikasi dan pengendalian. Semua transaksi investasi harus diotorisasi dan didokumentasikan sebagaimana mestinya. Praktik pengendalian yang umum dilakukan sehubungan dengan penanganan fisik sekuritas investasi adalah dengan mewajibkan dua orang untuk hadir ketika kotak penyimpanan perusahaan atau tempat penyimpanan lainnya dimasuki.
2.2 SISTEM MANUFAKTUR RESPONS CEPAT (QUICK-RESPONSE MANUFACTURING SYSTEM)
A computer-integrated manufacturing (CIM) mengintegrasikan sistem manufaktur fisik dan sistem MRP II. Sistem manufaktur respons cepat adalah sistem CIM di mana sistem manufaktur fisik dan sistem MP II diintegrasikan dengan teknologi integrasi canggih (gambar 10.6). Advanced inteoration technologies (AIT) terdiri dari pertukaran data elektronik (EDI, mungkin dalam bentuk ANSI X.12 atau ebXML) dan identifikasi otomatis.
13 A. Komponen dalam Sistem Manufaktur Respon Cepat
1. The Physical Manufacturing System
Ada dua subsistem yang mendukung langsung sistem manufaktur fisik ini. yaitu computer- aided design and drafting (CADD) and the computer-aided manufacturing (CAM) systems.
Computer-Aided Design and Drafting (CADD) adalah penggunaan perangkat lunak komputer untuk melakukan fungsi teknik, dan ini dimaksudkan terutama untuk meningkatkan produktivitas insinyur desain. Peningkatan produktivitas ini, pada gilirannya, memungkinkan organisasi menjadi lebih responsif terhadap tuntutan pasar untuk penawaran produk baru dan yang ditingkatkan. Selain itu, sistem CADD memungkinkan otomatisasi tugas desain yang repetitif, yang lebih meningkatkan produktivitas, serta akurasi.
Insinyur, desainer, dan drafter bekerja di stasiun CADD, stasiun kerja elektronik yang didedikasikan untuk membantu pekerjaan mereka. Sebuah stasiun CADD biasanya terdiri dari monitor dengan kemampuan grafis, pena cahaya atau mouse untuk menempatkan garis dan detail lainnya di layar, dan plotter atau printer untuk salinan keras. Detail desain produk disimpan oleh komputer dan dapat dipanggil dan dimanipulasi oleh pengguna.
Sistem CADD menyediakan beberapa jenis fungsi dukungan yang berbeda. Pemodelan benda padat adalah representasi matematis dari bagian sebagai benda padat dalam memori komputer. Model-model ini direpresentasikan sebagai volume yang dibatasi oleh permukaan.
Model bagian dapat digunakan untuk memprediksi properti produk jadi, seperti berat, stabilitas, atau momen inersia. Analisis elemen hingga adalah metode matematis yang digunakan untuk menentukan karakteristik mekanis, seperti tekanan struktur di bawah beban.
Struktur tersebut direduksi menjadi jaringan elemen geometris sederhana, seperti batang, cangkang, atau kubus. Setiap elemen ini memiliki karakteristik tekanan yang diperoleh dengan mudah dari teori yang mapan. Perilaku struktur diprediksi dengan memiliki komputer menyelesaikan satu set persamaan simultan untuk semua elemen. Pembuatan draf otomatis menghasilkan gambar rekayasa dan dokumentasi salinan keras lainnya. Gambar-gambar diproduksi dengan memplot berbagai pandangan dari model geometris yang sebelumnya dibuat dan disimpan dalam memori komputer.
Computer-Aided Manufacturing (CAM) Sistem Computer-Aided Manufacturing (CAM) merupakan suatu rangkaian perangkat lunak yang terdiri dari berbagai fungsi, seperti pengaturan proses manufaktur, alat-alat untuk meningkatkan produktivitas, sistem pendukung keputusan, serta kontrol. CAM juga melibatkan elemen pengendalian seperti robotika, yang memungkinkan otomatisasi proses produksi. Dalam konteks ini, CAM tidak hanya
14 merencanakan dan mengatur proses produksi, tetapi juga memberikan analisis terperinci terkait dengan produktivitas, kualitas, dan pemeliharaan peralatan.
Perencanaan proses merupakan bagian integral dari CAM, yang mempertimbangkan urutan langkah produksi, termasuk proses-proses yang terjadi di berbagai mesin atau stasiun kerja. Rencana ini dikembangkan dengan memperhatikan spesifikasi bagian yang diterima dari sistem Computer-Aided Design (CAD), persyaratan perkakas, serta kondisi perakitan dan pengerjaan. Selain itu, CAM juga menyediakan analisis lini untuk memprediksi pusat kerja yang memerlukan peningkatan alat atau proses.
Selain fungsi perencanaan, CAM juga melibatkan pengendalian proses secara statistik.
Pengendalian ini bertujuan untuk memastikan bahwa proses produksi berada dalam kendali, di mana output proses dibandingkan dengan spesifikasi rekayasa yang ditetapkan. Dengan menggunakan pengendalian statistik, CAM dapat mengukur variasi dalam proses dan mengidentifikasi apakah ada penyimpangan dari target yang diinginkan.
Sistem CAM juga berperan dalam pemantauan kinerja proses secara keseluruhan. Ini mencakup pemantauan status dan parameter dari mesin produksi, alat ukur kualitas, serta sistem penanganan bahan dalam proses. Informasi yang dikumpulkan dari pemantauan ini digunakan untuk menghasilkan laporan, menganalisis kinerja proses, dan mendukung keputusan terkait pemeliharaan peralatan.
Selain itu, beberapa sistem CAM dapat dikonfigurasi sebagai sistem manufaktur fleksibel (FMS), yang mampu memprogram ulang proses produksi dengan cepat untuk memproduksi berbagai jenis produk. Fleksibilitas ini memberikan kontribusi signifikan pada responsibilitas keseluruhan sistem terhadap perubahan permintaan pasar atau persyaratan produksi yang berubah.
2. The Manufacturing Resource Planning (MRP II) System
Sistem perencanaan sumber daya manufaktur (MRP II) terdiri dari sistem perencanaan kebutuhan bahan (MRP) dan sistem terkait untuk penjualan, penagihan, dan pembelian.
Namun, sistem MRP merupakan inti dari sistem MRP II. Aplikasi awal komputer dalam manufaktur berfokus pada sistem kontrol material. Istilah MRP diciptakan untuk menggambarkan penggunaan komputer dalam sistem perencanaan dan pengendalian produksi.
Sistem MRP menggunakan kemampuan komputasi komputer untuk memproses jumlah data detail yang besar yang diperlukan untuk merencanakan dan menjadwalkan kebutuhan
15 penggunaan bahan. M dalam MRP digunakan untuk secara komprehensif mencakup semua inventaris bahan mentah, WIP, dan barang jadi.
Karena inventaris WIP mencakup biaya tenaga kerja langsung dan overhead selain bahan mentah, semua elemen manufaktur disertakan dalam sistem MRP. Sistem MRP mengintegrasikan empat subsistem (Gambar 10.7): perencanaan produksi, penjadwalan produksi, akuntansi biaya, dan pelaporan.
3. Advanced Integration Technologies
Fleksibilitas dan kecepatan respons sistem manufaktur secara besar-besaran tergantung pada seberapa terintegrasinya komponennya. Identifikasi otomatis meningkatkan integrasi karena dengan menandai produk dan bahan secara elektronik membuatnya dapat dibaca oleh mesin dan secara fisik menjadi bagian dari sistem informasi berbasis komputer organisasi. EDI juga meningkatkan integrasi karena secara efektif mengintegrasikan sistem perusahaan dengan sistem pemasok dan pelanggan.
Automatic Identification Identifikasi otomatis kegiatan produksi menjadi hal yang penting dalam otomatisasi pabrik; maka, teknologi kode batang yang dapat dibaca oleh mesin dan pemindai menjadi unsur yang sangat penting. Data yang tersimpan dalam kode batang seringkali diwakili oleh variasi lebar dan jarak dari garis-garis sejajar yang tercetak; juga bisa diwakili dalam pola-pola titik, lingkaran konsentris, dan kode teks yang tersembunyi di dalam gambar yang dikenal sebagai kode matriks. Jika kita melihat di bawah kap mobil, kita akan menemukan kode batang pada banyak bagian. Kode batang tidak hanya umum pada barang- barang konsumen, tetapi juga pada barang-barang pabrik. Kode batang memungkinkan komputer atau robot untuk mengidentifikasi bahan, memproses informasi, dan memulai prosedur yang diperlukan.
Radio-frequency identification (RFI) adalah teknologi identifikasi otomatis yang menggunakan gelombang radio rendah untuk mengirim dan menerima data antara tag RFID
16 dan pembaca. Pemindai kode batang memerlukan garis pandang langsung agar dapat berfungsi.
Dengan menggunakan sinyal radio, RFID menghilangkan kebutuhan untuk garis pandang langsung ke tag RFID untuk membacanya. Namun, RFID belum banyak digunakan karena beberapa alasan. Tag RFID jauh lebih mahal daripada kode batang yang dicetak, dan terdapat tingkat kesalahan yang lebih tinggi dalam RFID dibandingkan dengan pemindaian kode batang yang dicetak. The Universal Product Code (UPC) adalah sistem bar code yang banyak digunakan di Amerika Serikat dan Kanada untuk melacak barang dagangan. Ini adalah kode dengan 12 digit desimal, yang juga dikenal sebagai UPC-12.
Seorang produsen dapat memperoleh manfaat signifikan dengan menggunakan standar kode batang UPC. Koding UPC umumnya ditemukan pada produk komersial sebagaimana pada produk konsumen. Produk seperti UPC Express, sebuah daftar elektronik dari kode-kode batang UPC, memudahkan identifikasi produk dengan kode batang UPC.
Tanpa standarisasi kode UPC, seseorang memiliki nomor yang ditetapkan oleh pemasok untuk setiap produk serta nomor yang ditetapkan oleh pelanggan untuk setiap produk. Kode- kode ini harus dirujuk silang selama proses, yang memakan waktu dan rentan terhadap kesalahan. Dengan koding UPC, baik pelanggan maupun pemasok menggunakan kode produk yang sama, menghilangkan masalah rujukan silang. Koding UPC adalah koding berbasis vendor yang dapat diterapkan di mana saja. Masalah dengan koding berbasis vendor biasanya disebabkan oleh vendor yang berbeda menggunakan kode yang sama untuk barang yang berbeda. UPC memberikan kode unik berupa enam digit untuk setiap vendor. Oleh karena itu, masalah duplikasi tidak dapat terjadi selama enam digit unik ini disertakan dalam kode produk.
Dengan menggunakan koding UPC, seseorang tidak lagi perlu mengkode inventaris sendiri karena barang sudah datang dengan kode-kode UPC yang telah diterapkan.
EAN-13 (European Article Number) adalah standar bar coding yang merupakan perluasan dari sistem asli UPC yang berjumlah 12 digit. Digunakan di seluruh dunia untuk mengkodekan barang-barang. Penyusunan kode batang EAN-13 diatur oleh GSI. GS1 adalah sebuah organisasi global yang fokus pada perancangan dan implementasi standar global serta solusi untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi rantai pasokan dan permintaan secara global. Nomor Barang Perdagangan Global (GTIN) adalah pengenal untuk barang dagangan yang dikembangkan oleh GS1. Mirip dengan UPC, GTIN adalah pengenal yang digunakan untuk mencari informasi produk dalam database. Keunikan dan keuniversalannya bermanfaat dalam menetapkan produk mana yang sesuai di satu database dengan produk di database lain, terutama melintasi batas organisasi. GTIN adalah istilah yang mencakup seluruh keluarga struktur data GS1 untuk identifikasi barang dagangan (produk dan layanan). GTIN dapat
17 memiliki panjang 8, 12, 13, atau 14 digit dan dapat dibentuk menggunakan beberapa struktur penomoran. Kode batang GTIN umum digunakan karena diaplikasikan dalam simbol UPC dan EAN-13. Bagi perusahaan di Amerika Utara, UPC adalah bentuk yang sudah ada dari GTIN.
GTIN memberikan kemampuan untuk memberikan identifikasi unik yang secara otomatis dikenali di seluruh dunia.
EDI Dalam berbagai lingkungan termasuk manufaktur, aplikasi EDI biasanya menghubungkan vendor dan pelanggan secara elektronik. Sebagai hasilnya, EDI merupakan kelanjutan dari integrasi aplikasi berbasis komputer yang terkandung dalam CIM. Dalam manufaktur, EDI berdampak pada efisiensi inventaris dengan menyederhanakan rantai logistik dalam proses pemesanan dan pengisian pesanan serta membuat sistem lebih responsif terhadap kebutuhan saat ini. Dengan menggunakan EDI untuk memperpendek waktu pengisian dan penempatan pesanan, tingkat inventaris dapat dikurangi, sementara kesalahan juga dapat dikurangi. Meskipun bermanfaat dalam berbagai lingkungan manufaktur, EDI bisa menjadi komponen kunci dalam lingkungan manufaktur JIT.
GTIN Identifikasi produk menggunakan kode batang GTIN dan teknologi pemindaian merupakan hal yang sangat penting untuk memanfaatkan EDI secara maksimal. Perdagangan saat ini menuju ke arah berbagi informasi yang umum, berdasarkan kode batang TIN yang diidentifikasi secara otomatis, yang dapat digunakan oleh produsen, pengirim, pengecer, bank, dan mitra perdagangan lainnya untuk melacak barang dan membuat dokumen yang diperlukan.
Dokumen seperti faktur akan menjadi tidak lagi diperlukan seiring dengan meningkatnya penggunaan pertukaran informasi antar perusahaan yang terbuka.
B. Pemprosesan Transaksi dalam Sistem Manufaktur Respon Cepat
Pembahasan pada bagian ini berfokus pada alur transaksi melalui proses manufaktur, yaitu perencanaan produksi, penjadwalan produksi, akuntansi biaya, dan pelaporan. Serta Penetapan biaya berbasis aktivitas dan hubungan antara JIT dan CIM/MRP II.
1. Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi melibatkan penentuan produk yang mana untuk memproduksi dan penjadwalan produksi untuk memanfaatkan sumber daya produksi secara optimal. Penentuan produk mana yang akan diproduksi memerlukan integrasi permintaan suatu produk, persyaratan produksinya, dan sumber daya produksi yang tersedia bagi perusahaan.
18 Persyaratan permintaan untuk suatu produk bergantung pada apakah barang tersebut diproduksi berdasarkan pesanan pelanggan atau diproduksi secara rutin untuk persediaan. Jika barang diproduksi untuk persediaan, kebutuhan produksi bergantung pada perkiraan penjualan.
Perkiraan penjualan umumnya akan disiapkan oleh departemen penjualan atau pemasaran sebagai bagian dari persiapan anggaran perusahaan. Setelah mendapat izin dari manajemen, perkiraan penjualan dikirim ke fungsi perencanaan produksi untuk menunjukkan perkiraan permintaan produk.
Perkiraan penjualan harus dikaitkan dengan jumlah setiap produk yang saat ini disimpan dalam persediaan. Informasi tersebut disediakan dalam laporan status barang jadi. Laporan status barang jadi dikirim ke perencanaan produksi dari pengendalian inventaris. Laporan status barang jadi mencantumkan jumlah produk jadi yang ada dalam persediaan. Jumlah sumber daya yang tersedia untuk produksi dikomunikasikan ke perencanaa produksi melalui laporan status bahan baku dan laporan ketersediaan faktor. Laporan status bahan mentah merinci jumlah bahan mentah yang tersedia untuk produksi. Laporan ketersediaan faktor mengkomunikasikan ketersediaan tenaga kerja dan sumber daya mesin.
Persyaratan produksi produk ditentukan dalam file bill-of-material dan master berkas operasi. Bill of material mencantumkan bahan mentah yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk dan mengidentifikasi nomor bagian dan kuantitas setiap bagian yang digunakan untuk membuat suatu produk. Sebuah tagihan bahan memberikan daftar komponen suatu produk secara terstruktur dan tingkat demi tingkat, termasuk nomor komponen, deskripsi bagian, dan kuantitas yang digunakan serta hubungan dari setiap tingkat perakitan ke subperakitan dan komponen. Dengan cara yang sama, daftar operasi induk mengidentifikasi dan menentukan urutan seluruh operasi tenaga kerja dan/atau operasi mesin yang diperlukan untuk menghasilkan suatu produk. Informasi yang terkandung dalam file bill of material dan file operasi induk umumnya akan ditentukan oleh departemen teknik atau perencanaan produk ketika suatu produk pertama kali dirancang.
Integrasi semua faktor sebelumnya menghasilkan rencana produksi induk bagi perusahaan.
Rencana produksi induk dilaksanakan melalui penerbitan dan akuntansi pesanan produksi selanjutnya. Pemrosesan pesanan produksi menghasilkan jadwal induk produksi. Pembuatan jadwal produksi induk adalah titik fokus sistem MRP.
Implementasi Rencana Produksi, Rencana produksi induk diproses berdasarkan status produksi, bill-of-material, dan file operasi induk. Pemrosesan ini menghasilkan file pesanan produksi, permintaan bahan, dan perutean serta memperbarui file status produksi. File status
19 produksi berisi data akuntansi dan data operasional yang berkaitan dengan status pesanan produksi. File ini mengintegrasikan data pesanan produksi yang berkaitan dengan tahap penyelesaian proyek; file status produksi merupakan masukan utama untuk aplikasi penjadwalan dan akuntansi biaya.
File bill of material berisi catatan untuk setiap produk yang diproduksi. Setiap catatan berisi rincian persyaratan bahan dan biaya bahan standar produk yang diidentifikasi berdasarkan nilai bidang utama catatan. File operasi induk berisi data serupa yang terkait dengan rincian persyaratan pengoperasian mesin dan tenaga kerja setiap produk serta urutannya melalui proses produksi. Waktu dan biaya standar juga terdapat dalam file operasi induk.
Program aplikasi perencanaan produksi mengintegrasikan data dari rencana produksi induk, file bill-of-material, dan file operasi induk dan menghasilkan dokumen pesanan produksi yang diperlukan pesanan produksi terperinci, formulir permintaan bahan, dan perutean (RTGS) untuk memandu aliran produksi. RTG menunjukkan urut produk. RTG berisi informasi tentang pusat kerja, durasi waktu, dan peralatan yang diperlukan untuk melakukan tugas cache. Dokumen-dokumen ini didistribusikan ke departemen pabrik bersama dengan jadwal produksi terkini. Program aplikasi perencanaan produksi juga melakukan update file status produksi. File ini berisi informasi yang ditemukan pada pesanan produksi dan menetapkan catatan status produksi untuk setiap pesanan produksi. File ini merupakan masukan penting untuk aplikasi penjadwalan produksi dan akuntansi biaya yang dibahas di bawah ini.
2. Penjadwalan Produksi
File status produksi diperbarui oleh aplikasi perencanaan produksi. File status produksi berisi catatan untuk setiap pesanan produksi terbuka. File ini juga digunakan untuk mengumpulkan data biaya dan operasional yang berkaitan dengan status produksi. Ini mengintegrasikan fungsi yang berkaitan dengan status pesanan produksi dan akuntansi biaya.
Integrasi ini dihasilkan dari penggunaan file status produksi dalam aplikasi penjadwalan dan akuntansi biaya.
Data RTG mengenai status produksi saat ini dikumpulkan di departemen pabrik seiring kemajuan pekerjaan. Data RTG dapat dikumpulkan dengan cara yang berbeda. RTG dapat dikeluarkan sebagai dokumen penyelesaian oleh aplikasi perencanaan produksi. RTG diisi oleh departemen pabrik saat pekerjaan berlangsung berdasarkan pesanan produksi tertentu. Setiap RTG berisi nomor pesanan produksi dan format untuk menentukan pekerjaan yang diselesaikan berdasarkan pesanan. RTG terpisah mungkin dihasilkan untuk setiap operasi tertentu.
20 diperlukan pada pesanan produksi. Saat setiap operasi selesai, RTG yang sesuai akan muncul.
diselesaikan dengan menambahkan informasi seperti unit yang diproduksi, jumlah sisa, dan waktu aktual yang dibutuhkan. RTG kemudian diteruskan ke operasi komputer untuk input dan pemrosesan. Sebagai alternatif. Data RTG dapat dimasukkan langsung dari operasional pabrik dengan meminta karyawan menggunakan terminal data untuk memasukkan data RTG pada saat penyelesaian tugas. Karyawan dapat memasukkan data seperti kode produksi/perintah kerja, kode operasi, kode karyawan, kode mesin/departemen, data bahan yang digunakan, dan akumulasi waktu pada tugas tersebut.
Arsitektur CIM memberikan kemampuan untuk menghubungkan mesin lantai pabrik langsung ke sistem MRP. Teknik pengumpulan data otomatis dapat digunakan untuk mengumpulkan data produksi secara elektronik dari lantai produksi saat produksi terjadi.
Sensor pada jalur produksi dapat digunakan untuk menghitung produksi. atau mengidentifikasi operasi yang telah selesai, sedangkan stasiun entri data digunakan oleh pekerja untuk memasukkan kode secara manual yang menunjukkan waktu henti dan kondisi produksi lainnya.
Data RTG yang diterima dari pabrik digunakan untuk memperbarui file status produksi.
data RTG diposting ke catatan pesanan produksi yang sesuai di file status produksi. Keluaran operasi ini mencakup laporan ringkasan, file status produksi yang diperbarui, dan produksi memuat file yang merinci persyaratan produksi yang terkait dengan pesanan produksi terbuka.
File pemuatan produksi adalah masukan utama ke aplikasi penjadwalan produksi. File ini diproses oleh program aplikasi penjadwalan untuk menghasilkan jadwal produksi. Itu program aplikasi penjadwalan dapat dengan mudah mengumpulkan dan mencetak laporan yang menunjukkan total tenaga kerja dan kebutuhan pengoperasian mesin untuk setiap departemen/pusat kerja. Dalam sistem MRP, program aplikasi penjadwalan akan mencakup penggunaan pemrograman linier atau pengambilan keputusan lainnya. teknik pendukung untuk menghubungkan ketersediaan sumber daya dalam setiap departemen atau pusat kerja kebutuhan produksi secara keseluruhan untuk menghasilkan jadwal yang mewakili penugasan optimal sumber daya yang tersedia untuk produksi,
3. Akuntansi Biaya
Fitur utama dari aplikasi akuntansi biaya adalah pembaruan file status produksi (WIP).
Data permintaan bahan dikirim dari departemen inventaris untuk diproses. Data permintaan bahan mendokumentasikan penerbitan bahan untuk pesanan produksi tertentu. Data waktu kerja dan data waktu mesin disertakan dalam RTG yang diteruskan dari departemen produksi.
21 Data RTG menunjukkan distribusi tenaga kerja dan waktu mesin ke pesanan produksi tertentu dalam suatu departemen produksi atau pusat kerja. Baik data permintaan bahan maupun data RTG dimasukkan untuk membuat file data produksi. File transaksi ini diproses oleh program aplikasi akuntansi biaya, beserta file status produksi. Pemrosesan ini mengakumulasi penggunaan material dan tenaga kerja yang ditunjukkan oleh data permintaan material dan data RTG dan mempostingnya ke catatan WIP yang disimpan untuk setiap lokasi produksi terbuka.
Overhead diterapkan pada WIP berdasarkan tingkat beban yang dipertahankan dalam program akuntansi biaya. Program ini memantau status pesanan produksi cache dan juga menyiapkan file yang merangkum perbedaan antara biaya standar dan data operasional yang disimpan dalam catatan WIP dan data biaya dan operasional aktual yang diposting ke setiap pesanan produksi. Saat pesanan selesai, catatan WIP terkait ditutup, dan catatan dibuat untuk memperbarui file inventaris yang sudah jadi. Output dari akuntansi biaya program mencakup item berikut:
File status produksi yang diperbarui
File pesanan produksi yang lengkap.
File penggunaan sumber daya.
Laporan ringkasan
File status produksi yang diperbarui berisi informasi terkini tentang status semua terbuka.
pesanan produksi. File ini digunakan pada siklus perencanaan dan penjadwalan produksi berikutnya. Laporan ringkasan mencakup informasi pengendalian batch dan aplikasi, serta ringkasan data entri jurnal yang mendebit WIP untuk biaya bahan standar, tenaga kerja, dan overhead; mengkredit toko. gaji yang masih harus dibayar, dan biaya overhead yang dibebankan; dan mendebit atau mengkredit akun varians yang diperlukan. File pesanan produksi yang telah selesai dan file penggunaan sumber daya dijelaskan di bagian berikutnya.
4. Pelaporan
File pesanan produksi yang telah selesai mencantumkan semua data biaya untuk produksi yang telah selesai pesanan. File ini digunakan untuk mengupdate file persediaan barang jadi.
Keluaran dari pengolahan ini antara lain berupa pembaharuan file persediaan barang jadi, suatu barang jadi. laporan status stok, ringkasan biaya pesanan produksi yang telah selesai, dan laporan ringkasan itu mencakup informasi kontrol batch dan aplikasi serta ringkasan data entri jurnal mendebet barang jadi dan mengkredit WIP untuk harga pokok standar barang jadi.
22 File penggunaan sumber daya yang dihasilkan dari aplikasi akuntansi biaya berisi keduanya biaya bahan, tenaga kerja, dan operasi aktual dan standar untuk pekerjaan yang diselesaikan, seperti yang ditunjukkan oleh materi data permintaan riil dan data RTG. Jumlah standar, waktu, dan biaya disalin ke file ini dari file status produksi. File ini dimasukkan ke program aplikasi komputer yang mengakses melaporkan biaya material dan operasi berdasarkan departemen atau pusat kerja dan mencetak laporan penggunaan sumber daya.
Laporan-laporan ini memerinci perbedaan antara data biaya standar dan aktual. Laporan penggunaan sumber daya adalah didistribusikan kepada penyelia departemen untuk membantu fungsi pengendalian produksi secara keseluruhan.
5. Activity-Based Costing
Tiga elemen utama yang masuk ke dalam biaya produksi suatu produk yaitu bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan overhead. Overhead digambarkan sebagai bagian biaya produksi yang bukan merupakan bahan langsung maupun tenaga kerja langsung. Selain itu, overhead mencakup item- item seperti sewa atau penyusutan pabrik, panas, listrik, asuransi, pemeliharaan, pengawasan, biaya mesin, dan biaya penanganan material.
CIM Changes Cost-Behavior Patterns, istilah overhead pada suatu produk dihitung menggunakan tarif penerapan overhead yang telah ditentukan sebelumnya. Tarif overhead yang ditentukan di muka biasanya didasarkan pada total jam kerja langsung yang diharapkan atau total biaya tenaga kerja langsung yang diharapkan. Tarif overhead yang telah ditentukan sebelumnya dihitung sebagai berikut :
Biaya overhead yang dianggarkan = tarif yang telah ditentukan sebelumnya/kegiatan yang dianggarkan
Misalnya, jika biaya overhead dianggarkan sebesar $200.000 dan aktivitas dianggarkan sebesar 5.000 jam tenaga kerja langsung, maka tarif overhead yang ditentukan sebelumnya adalah $200.000 dibagi 5.000 jam, tarifnya sebesar $40 per jam. Tarif overhead yang telah ditentukan sebelumnya dapat dihitung berdasarkan tingkat pabrik atau departemen. Tarif seluruh pabrik adalah tarif yang digunakan di seluruh perusahaan. Tarif pabrik biasanya tidak sesuai di perusahaan besar yang memproduksi beragam produk atau jasa dan memiliki beberapa departemen atau divisi berbeda. Dalam kasus seperti ini, pengendalian yang lebih baik dicapai ketika biaya overhead dan aktivitas dianggarkan berdasarkan departemen atau divisi.
23 CIM secara signifikan mengubah pola perilaku biaya produsen dengan penggantian peralatan modal dengan tenaga kerja langsung. Tenaga kerja langsung berkurang, bahkan mungkin dihilangkan sama sekali, karena mesin yang dikendalikan komputer menghasilkan produk. Hal ini mengakibatkan biaya overhead meningkat, dan biaya tenaga kerja langsung menurun. Biaya mesin yang dikendalikan komputer bersifat tidak langsung terhadap produksi.
Mereka pada dasarnya relatif “tetap” terhadap volume produksi. Dengan demikian, CIM menyebabkan penurunan biaya variabel dengan mengurangi biaya tenaga kerja langsung dan meningkatkan biaya produksi tetap (biaya teknologi CIM). Selain biaya peralatan, banyak item overhead lainnya yang dapat ditingkatkan secara signifikan dengan CIM. Misalnya, Total biaya pengawasan dapat meningkat meskipun jumlah tenaga kerja langsung yang melakukan pengawasan lebih sedikit. Mesin yang dikendalikan komputer yang menggantikan pekerja perlu diawasi oleh teknisi terampil, yang kemungkinan besar memperoleh upah jauh lebih tinggi dibandingkan supervisor yang berorientasi pada karyawan yang mereka gantikan.
Sistem akuntansi biaya tradisional mengalokasikan overhead pada satu basis yang sama- sama dimiliki oleh semua produk. Basis ini biasanya berupa jam tenaga kerja langsung atau biaya tenaga kerja langsung karena tenaga kerja langsung merupakan komponen manufaktur penting yang umum untuk semua produk. Namun, metode ini kurang baik untuk lingkungan CIM karena produk yang diproduksi dengan mesin otomatis yang memberikan kontribusi besar terhadap biaya overhead, biasanya memiliki jumlah jam kerja langsung terendah yang terkait dengan produksinya. Jika tenaga kerja langsung digunakan untuk mengalokasikan overhead, produk yang menggunakan lebih banyak tenaga kerja manual akan dikenakan biaya overhead yang lebih besar dibandingkan produk yang menggunakan mesin yang relatif lebih otomatis dan memiliki overhead yang tinggi.
Activity Based Costing (ABC) menghitung beberapa tarif overhead, satu tarif untuk setiap aktivitas manufaktur, dan menggunakan tarif untuk membentuk biaya produk dari biaya aktivitas spesifik yang dilakukan selama produksi. Aktivitasnya mungkin berupa pusat mesin, penanganan material, stasiun inspeksi, atau jenis operasi manufaktur lainnya. Satu departemen mungkin berisi beberapa aktivitas berbeda, misalnya, departemen perakitan di mana beberapa produk dirakit menggunakan peralatan robotika dan produk lainnya dirakit secara manual sehingga memungkinkan untuk memiliki dua aktivitas yaitu perakitan robotika dan manual.
Basis overhead yang berbeda kemudian dapat digunakan untuk membebankan biaya aktivitas yang berbeda ini ke produk secara lebih akurat.
24 Gambar 10.13 menunjukkan penetapan biaya produk A dan B dalam sistem akuntansi biaya tradisional dimana semua overhead dialokasikan ke produk berdasarkan jam tenaga kerja langsung. Perhatikan bahwa produk A, yang memerlukan lima jam tenaga kerja langsung lebih banyak dan memerlukan biaya produksi yang lebih besar dibandingkan produk B. Namun, Produk B memerlukan lebih banyak suku cadang dibandingkan produk A, yang berarti bahwa produk B memerlukan penggunaan peralatan robotika dengan overhead tinggi secara relatif lebih banyak selama proses produksi.
25 Gambar 10.14 menunjukkan penetapan biaya dari dua produk yang sama dalam sistem akuntansi ABC dimana peralatan robotika diidentifikasi sebagai aktivitas terpisah. Overhead peralatan robotika dialokasikan ke produk berdasarkan jumlah komponen dalam suatu produk.
Semua overhead lainnya dialokasikan berdasarkan jam tenaga kerja langsung. Perhatikan bahwa produk B memerlukan 50 bagian lebih banyak dan biaya produksinya lebih besar daripada produk A menurut sistem akuntansi ABC.
Cost drive adalah elemen yang mempengaruhi total biaya suatu aktivitas. Biaya penanganan material dipengaruhi oleh jumlah total barang yang ditangani, jenis barang yang ditangani (yaitu, kecil, besar dan berat, berbahaya, dll.), jenis peralatan yang digunakan, dan efisiensi pekerja, dan masih banyak lagi. Cost drive dapat diukur berdasarkan volume produksi, jumlah karyawan, jumlah formulir yang diselesaikan, atau jumlah komponen dalam suatu produk. Ukuran waktu dalam proses, seperti jam tenaga kerja langsung, jam mesin, atau waktu jam, sering digunakan sebagai cost drive.
Activity Based Costing sebagai alat manajemen sangat bergantung pada keakuratan pemicu biaya yang dipilih sebagai dasar alokasi biaya aktivitas. Manfaat terbesar diperoleh ketika pemicu biaya utama suatu aktivitas dipilih sebagai dasar alokasi overhead untuk aktivitas tersebut. Hal ini kemudian menghubungkan timbulnya biaya dengan penetapan biaya produk, dan keputusan manajerial yang bermakna mungkin didasarkan pada informasi biaya produk. Analisis regresi statistik sering digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi pemicu biaya.
6. MRP II versus MRP
Sistem MRP II mencakup modul pemrosesan utama MRP (Gambar 10.15).
Bill of material module digunakan untuk mengkomunikasikan struktur suatu produk, seperti pada MRP. Perluasan pemrosesan bill of material di MRP II mungkin mencakup pemeliharaan gambar teknik/produk dari sistem CADD.
26
Routings File Module menunjukkan urutan operasi yang diperlukan untuk memproduksi komponen atau perakitan, seperti pada MRP. Ekstensi pemrosesan file RTGS di MRP II mungkin mencakup informasi yang diperluas mengenai pusat kerja data kapasitas, pemeliharaan data perkakas mesin, dan pemeliharaan kontrol mesin numerik data dari sistem CADD.
Master Production Scheduling Module mengelola perakitan jadwal untuk konfigurasi, jumlah, dan tanggal tertentu berdasarkan campuran produk dan bahan ketersediaan, seperti halnya di MRP.
Production order module melepaskan pesanan untuk produksi setelah mengevaluasi ketersediaan bahan, kapasitas, dan perkakas. Jika ketersediaannya memadai, sebuah paket disiapkan yang berisi informasi pemesanan, daftar bahan, routing, dan gambar, seperti di MRP. Paket tersebut diteruskan ke lantai pabrik. Perluasan pemrosesan pesanan produksi di MRP II mungkin mencakup pembuatan file transaksi dan pita kendali mesin numerik untuk lantai pabrik.
Dalam MRP, inventory control module menjaga status saldo di tangan secara akurat dan tepat waktu. Untuk menjaga akurasi, teknik seperti analisis keusangan dan penghitungan siklus harus diterapkan untuk memastikan akurasi secara terus- menerus.
Production Activity Control Module digunakan untuk mengimplementasikan rencana produksi yang dikembangkan dalam modul penjadwalan produksi induk. Seperti pada MRP, modul ini mengurangi penundaan dan waktu tunggu dengan pemantauan dan umpan balik yang efektif terhadap data produksi dan status lantai produksi. Fungsi umumnya mencakup pelaporan kehadiran, mengumpulkan tenaga kerja langsung dan jam mesin, serta merevisi status produksi dan data prioritas berdasarkan penggunaan aktual bahan, tenaga kerja, dan sumber daya mesin.
7. ERP, ERP II, dan EAS
MRP dan MRP II telah digantikan oleh ERP, ERP II (ERP kolaboratif), dan EAS (Enterprise Application Suite). Sistem yang lebih canggih ini tidak hanya menggabungkan seluruh fungsi MRP dan MRP II, namun juga mengintegrasikan semua proses bisnis utama lainnya (misalnya sumber daya manusia) ke dalam satu sistem. EAS berbeda dari ERP dan ERP II karena EAS melibatkan serangkaian aplikasi yang bekerja sama untuk menjalankan fungsi yang sama.
27 8. Menerapkan Produksi Lean di Lingkungan MRP II/ CIM
Dalam lingkungan produksi batch, pembuatan produk tertentu bersifat sporadis. Batch produk serupa dirakit secara berkala untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan kebutuhan masa depan yang direncanakan. Biaya setup biasanya dikeluarkan setiap kali suatu batch diproduksi, dan biaya ini biasanya sama terlepas dari ukuran produksi batch yang diusulkan. Seperti yang ditunjukkan oleh kata perencanaan, lingkungan batch menumbuhkan konsep “dorongan”
efisiensi manufaktur. Ukuran batch yang ekonomis dan efisien diperoleh dengan menggunakan rumus (yaitu model EOQ) atau merupakan keluaran dari simulasi komputer atau model komputasi.
MRP II diarahkan pada sinkronisasi dan penjadwalan jenis kejadian yang terjadi di lingkungan batch. Ukuran batch ditentukan dari modul perencanaan produksi. Modul penjadwalan mengatur dan/ atau mengoptimalkan waktu peristiwa yang diperlukan untuk produksi. Modul bill of material digunakan untuk memperkirakan kebutuhan bahan baku dan seterusnya hingga pesanan produksi sebenarnya dikeluarkan.
Lingkungan produksi yang ramping adalah lingkungan yang mengalir secara berkesinambungan. Lingkungan produksi yang ramping membutuhkan produksi yang ekonomis dalam jumlah kecil, yang pada dasarnya adalah pengoperasian produksi secara terus menerus untuk meminimalkan atau menghilangkan persediaan sama sekali. Produksi ramping menganjurkan penghapusan pemborosan dalam proses manufaktur dan menekankan perbaikan berkelanjutan dalam operasi. Dalam lingkungan produksi yang ramping, produk diproduksi berdasarkan konsep “tarikan”. Produksi terjadi hanya ketika diperlukan untuk memenuhi pesanan pelanggan. Berbeda dengan lingkungan batch, tidak ada penjadwalan terlebih dahulu dalam lingkungan produksi lean. Pesanan pelanggan “menarik” produk dari jalur produksi;
pada dasarnya, permintaan menjadwalkan produksi. Jenis operasi ini memerlukan pengaturan yang cepat, produksi berkualitas tinggi, penghapusan gerakan yang sia-sia secara terus- menerus, dan peningkatan aliran inventaris.
Ketika produsen berpindah dari lingkungan manufaktur batch ke lingkungan manufaktur aliran kontinu JIT, penekanan mungkin akan lebih sedikit diberikan pada sistem MRP II yang lengkap. Penghilangan penekanan pada penjadwalan lanjutan dalam produksi ramping dan pengurangan inventaris yang terkait menghilangkan banyak data dan komputasi menjadi tujuan MRP II. Namun, banyak aspek MRP II yang mungkin digunakan. Modul penjadwalan mungkin menghasilkan jadwal produksi tingkat. MRP mungkin menghasilkan perkiraan jumlah pengadaan untuk mendukung sistem tarikan permintaan. Aplikasi CADD dan CAM dapat mendukung persyaratan kualitas dengan memungkinkan sejumlah besar teknologi
28 pengendalian proses di pabrik. Sistem pendukung keputusan yang adaptif dan mampu mengoreksi diri sendiri dapat menjadi bagian integral dari proses manufaktur. Pengendalian proses statistik dapat memantau produksi untuk memastikan bahwa produk diproduksi dalam batas kendali mutu.
C. Pertimbangan Pengendalian Internal Khusus
Sistem manufaktur yang tanggap cepat, serupa dengan sistem yang sepenuhnya terkomputerisasi, memperparah masalah pengendalian internal tertentu. Transaksi dapat diproses tanpa campur tangan atau persetujuan manusia. Hal ini menghilangkan pengendalian konvensional yang terkait dengan pemisahan tugas dalam transaksi. Oleh karena itu, pertimbangan utamanya adalah memastikan bahwa pengendalian tersebut, atau pengendalian yang setara, merupakan bagian integral dari sistem manufaktur yang tanggap cepat.
Pemrosesan komputer pada umumnya dan EDI pada khususnya menghilangkan dokumen kertas yang berorientasi pada manusia. Namun, masalah validasi dan keaslian yang menantang dihadapi dalam pengoperasian sistem pemrosesan elektronik, baik di dalam perusahaan (misalnya, pesanan produksi elektronik) maupun dalam pertukarannya dengan mitra dagangnya (EDI dan transfer dana elektronik-EFT).
Jalur pengendalian dan audit yang ekstensif dapat diterapkan dalam sistem manufaktur yang tanggap cepat, namun fitur-fitur ini harus disertakan dalam desain dan pengembangan sistem. Tidaklah layak dan tidak diinginkan untuk memasang pengendalian dalam sistem informasi berbasis komputer setelah diimplementasikan. Pengendalian terprogram dan jalur audit bisa sangat efektif. tetapi integritasnya harus dibangun selama pengembangan sistem.
Suatu kontrol mungkin terlihat bagus di atas kertas, namun tidak akan efektif jika pengoperasiannya diprogram dengan tidak benar. Selain itu, seorang programmer mungkin dengan sengaja membuat kode program yang salah. Oleh karena itu pengendalian internal atas pengoperasian sistem harus dilengkapi dengan peningkatan pengendalian atas proses pengembangan sistem. Jejak audit dan teknik pengendalian seperti log transaksi dan pemeriksaan edit terprogram memerlukan sumber daya pengembangan ekstra dan pemrosesan ekstra. Biaya penggunaannya harus seimbang dengan tujuan sistem secara keseluruhan. Karena jalur audit dan pengendalian memerlukan pengeluaran langsung dan jelas, kemungkinan penggunaan yang kurang dari yang digunakan dibandingkan dengan penggunaan yang berlebihan.
29 Pengembangan sistem merupakan perhatian utama dalam sistem berbasis komputer apa pun, namun pengembangan sistem sangat penting dalam sistem manufaktur yang tanggap cepat.
Hambatan utama terhadap proliferasi otomasi di pabrik adalah hal yang sama yang telah mengganggu penerapan komputer ke bidang aplikasi lain, yaitu pemrograman dan perangkat lunak. Kurangnya sistem turnkey robot atau alat otomatis lainnya yang dapat dibeli dan segera dihidupkan serta digunakantelah membatasi penerapan teknologi perangkat keras yang telah tersedia selama bertahun-tahun. Jenis masalah pengembangan sistem yang sama yang terjadi dalam pengembangan sistem informasi juga terjadi pada penerapan komputer pada proses produksi. Biaya pemrograman robot industri, yang sering kali melibatkan rekayasa ekstensif atau pengembangan sistem, dapat mencapai dengan mudah melebihi biaya pembelian sistem robot.
30 BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
A. PROSES BISNIS PRODUKSI (PRODUCTION BUSINESS PROCESS) 1. Perencanaan dan Pengendalian Produksi
Perencanaan produksi adalah proses yang melibatkan perumusan rencana dan strategi untuk menghasilkan barang atau jasa secara efisien. Perencanaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa sumber daya yang ada digunakan dengan optimal untuk memenuhi permintaan pelanggan, menghindari kelebihan persediaan atau kekurangan stok, dan meningkatkan produktivitas serta efisiensi operasional.
I. Komponen Perencanaan Produksi II. Fungsi Perencanaan Produksi III. Tujuan Perencanaan Produksi IV. Jenis-Jenis Perencanaan Produksi V. Tahapan Proses Perencanaan Produksi
2. Pengendalian Persediaan
Pengendalian persediaan dilakukan melalui serangkaian catatan dan laporan persediaan yang memberikan informasi seperti penggunaan persediaan, saldo persediaan, dan tingkat minimum dan maksimum persediaan. Titik dan prosedur pemesanan ulang ditetapkan. Titik pemesanan ulang adalah tingkat persediaan di mana diinginkan untuk memesan atau memproduksi barang tambahan untuk menghindari kondisi kehabisan stok. Pengembangan titik pemesanan ulang memerlukan analisis permintaan produk, biaya pemesanan atau penyiapan produksi, waktu tunggu vendor atau produksi, biaya penyimpanan persediaan, dan biaya yang terkait dengan kondisi kehabisan persediaan seperti kehilangan penjualan atau penggunaan fasilitas produksi yang tidak efisien.
C. Produksi Ramping/Lean
Produksi ramping adalah sistem produksi di mana suku cadang diproduksi hanya sesuai kebutuhan. dalam operasi proses bisnis selanjutnya. Konsep produksi ramping didasarkan pada konsep bahwa inventaris adalah pemborosan. Sistem produksi yang ramping mengekspos penyebab tersembunyi dari pemeliharaan persediaan. Sistem produksi ramping berbeda dengan
31 sistem produksi konvensional karena persediaan WIP, bahan baku, dan barang jadi diminimalkan atau dihilangkan sama sekali.
4. Aplikasi Akuntansi Properti
Aplikasi akuntansi properti berkaitan dengan aset tetap dan investasi organisasi. Elemen penting dari pengendalian internal yang efektif adalah pemrosesan informasi yang akurat dan tepat waktu yang berkaitan dengan aset tetap dan investasi. Pemrosesan tersebut dilakukan melalui penggunaan aplikasi akuntansi khusus yang menyediakan kebutuhan informasi akuntansi, operasional, manajemen kebutuhan informasi.
B. SISTEM MANUFAKTUR RESPONS CEPAT (QUICK-RESPONSE MANUFACTURING SYSTEM)
A computer-integrated manufacturing (CIM) mengintegrasikan sistem manufaktur fisik dan sistem MRP II. Sistem manufaktur respons cepat adalah sistem CIM di mana sistem manufaktur fisik dan sistem MP II diintegrasikan dengan teknologi integrasi canggih (gambar 10.6). Advanced inteoration technologies (AIT) terdiri dari pertukaran data elektronik (EDI, mungkin dalam bentuk ANSI X.12 atau ebXML) dan identifikasi otomatis.
1. Komponen dalam Sistem Manufaktur Respon Cepat a) The Physical Manufacturing System
b) The Manufacturing Resource Planning (MRP II) System c) Advanced Integration Technologies
2. Pemprosesan Transaksi dalam Sistem Manufaktur Respon Cepat
Pembahasan pada bagian ini berfokus pada alur transaksi melalui proses manufaktur, yaitu perencanaan produksi, penjadwalan produksi, akuntansi biaya, dan pelaporan. Serta Penetapan biaya berbasis aktivitas dan hubungan antara JIT dan CIM/MRP II.
a) Perencanaan Produksi b) Penjadwalan Produksi c) Akuntansi Biaya d) Pelaporan
e) Activity-Based Costing f) MRP II versus MRP g) ERP, ERP II, dan EAS
32 h) Menerapkan Produksi Lean di Lingkungan MRP II/ CIM
3. Pertimbangan Pengendalian Internal Khusus
Sistem manufaktur yang tanggap cepat, serupa dengan sistem yang sepenuhnya terkomputerisasi, memperparah masalah pengendalian internal tertentu. Transaksi dapat diproses tanpa campur tangan atau persetujuan manusia. Hal ini menghilangkan pengendalian konvensional yang terkait dengan pemisahan tugas dalam transaksi. Oleh karena itu, pertimbangan utamanya adalah memastikan bahwa pengendalian tersebut, atau pengendalian yang setara, merupakan bagian integral dari sistem manufaktur yang tanggap cepat.
Pemrosesan komputer pada umumnya dan EDI pada khususnya menghilangkan dokumen kertas yang berorientasi pada manusia. Namun, masalah validasi dan keaslian yang menantang dihadapi dalam pengoperasian sistem pemrosesan elektronik, baik di dalam perusahaan (misalnya, pesanan produksi elektronik) maupun dalam pertukarannya dengan mitra dagangnya (EDI dan transfer dana elektronik-EFT).
iii
DAFTAR PUSTAKA
George H. Bodnar, W. S. (n.d.). Accounting Information Systems. Elevent Edition. Florida Atlantic University.