• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas Pendidikan Pancasila.

N/A
N/A
Zahra Aulia

Academic year: 2023

Membagikan "Tugas Pendidikan Pancasila."

Copied!
1
0
0

Teks penuh

(1)

KORUPSI

Disusun Guna Memenuhi Tugas Pendidikan Pancasila.

Disusun oleh kelompok 1 kelas 1A:

Siti Huzaimah (2301660) Zahra Aulia Hidayati (2309531)

Alifa Bastina ( 2305646) Tasya (2301381)

Dewi lara anjangsari (2305650) Garosha Putri Rahmadina (2301407)

Lia Kamaliah (2305643) Wina Herliana (2305240) Aneu Qurota Aini (2312591)

(2)

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA KAMPUS TASIKMALAYA 2023

(3)

Hal pertama yang kelompok perlu lakukan adalah dengan menjelaskan apa masalah yang kelompok bahas?

Istilah korupsi berasal dari bahasa latin "corupptio" pada tahun 1960.

"Corruptio sendiri berasal dari kata Latin kuno "corrumpere". Kemudian dalam bahasa latin istilah ini berkembang menjadi "corruption, corrupt" dalam bahasa Inggris, "corruption" dalam bahasa Perancis, dan "corruptie/korruptie" dalam bahasa Belanda. Secara harfiah "korupsi" merajuk pada kebusukan, keburukan, kejahatan, ketidakjujuran, suap, amoralitas, dan penyimpangan dari kesucian.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Korupsi adalah tindak penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (Perusahaan, organisasi, yayasan, dan lain sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Didalam Black Law Dictionary (modul Tindak Pidana Korupsi), Korupsi adalah salah satu perbuatan yang dilakukan dengan sebuah maksud untuk mendapatkan keuntungan yang bertentangan dengan tugas resmi dan kebenaran.

Menurut peraturan hukum di Indonesia, korupsi dapat diartikan sebagai perbuatan yang bertentangan dengan hukum, dengan tujuan untuk menyejahterakan diri sendiri atau orang lain, baik secara individu maupun oleh perusahaan, yang dapat merugikan keuangan negara atau ekonomi negara. Hal ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Terdapat 230 tindak pidana yang dapat diklasifikasikan menjadi 7 jenis, yaitu kerugian keuangan negara, penyuapan, pemerasan, penggelapan dalam jabatan, dampak kepentingan dalam pengadaan barang dan jasa, serta gratifikasi.

Dapat di jelaskan lagi bahwa Korupsi merupakan perbuatan buruk dan menyimpang karena telah menyalahgunakan uang dan kekuasaan yang ada untuk kepentingan pribadi ataupun orang lain dimana bertentangan dengan tugas dan kebenaran yang ada sehingga Korupsi merupakan tindak kejahatan karena merugikan pihak-pihak yang terkena dampaknya.

Korupsi dibagi lagi menjadi 3 jenis berdasarkan skala dan paparannya, yaitu :

(4)

1. Petty Corruption

Adalah Korupsi skala kecil yang banyak terjadi dimasyarakat. Biasanya oleh pejabat publik yang berinteraksi dengan masyarakat. Seperti pungli atau pungutan liar, gratifikasi, penyuapan, uang pelicin ataupu pemerasaan.

2. Grand Corruption

Biasa disebut dengan Korupsi kelas kakap adalah korupsi dengan skala besar dengan kerugian negara yang sangat fantastis, milyaran hingga trilliunan rupiah. Korupsi ini merugikan dan mengorbankan masyarakat secara luas.

3. Political Corruption

Atau korupsi politik adalah penyalahgunaan wewenang dengan memanipulasi kebijakan, prosedur, atau aturan demi keuntungan diri ataupun kelompoknya. Keuntungan bisa berupa kekayaan, status, atau mempertahankan jabatan. Jenis-jenisnya berupa penyuapan, perdangan pengaruh, jual beli suara, nepotisme dan lain lain.

Gambaran kenyataan atau contoh dari tindak korupsi yang terjadi di masyarakat, yaitu, yang pertama, tindak korupsi yang merebak pada lingkungan pendidikan, terdapat pada kasus yang baru-baru ini terjadi. Dikutip dari laman CNN Indonesia, terjadi kasus korupsi yang dilakukan oleh Rektor Universitas Udayana, I Nyoman Gede Antara, yang juga merupakan panitia penerimaan mahasiswa baru periode tahun 2018-2022. Dari kasus korupsi tersebut negara mendapatkan kerugian sebesar Rp.443 miliar, yang merupakan pembagian dari, kerugian negara sebesar Rp.105 miliar, kerugian sebesar Rp.3,9 miliar, dan ekonomi negara yang juga mendapatkan kerugian sebesar Rp.334,5 miliar.

Tindak korupsi juga terjadi pada lingkungan masyarakat, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia atau TII pada tahun 2013. Disebutkan bahwa 47% responden penelitian pernah melakukan pembayaran uang untuk menghindari penilangan kendaraan. Hal tersebut juga diyakinkan adanya, dengan hasil penelitian lain yang mengatakan bahwa Institusi Keamanan seperti Polisi dan lainnya hanya memiliki persentase 34% dalam integritas. Lalu disebutkan juga bahwa masyarakat lebih sering mempraktekkan tindak korupsi disaat sedang mengurus suatu perizinan memiliki persentase

(5)

sebanyak 20%. Sisanya, sebanyak 11% disebutkan melaksanakan tindak korupsi jika ingin lolos dalam ujian, sebanyak 8% disebutkan melaksanakan tindak korupsi saat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan, sebanyak 4% disebutkan melaksanakan tindak korupsi saat ingin mendapatkan pekerjaan, dan 4% sisanya disebutkan melaksanakan tindak korupsi saat ingin mendapatkan akses suatu bisnis.

ha

Kelompok perlu menjelaskan mengapa masalahnya penting untuk dipecahkan?

Masalah korupsi adalah salah satu masalah yang sangat serius. Yang memiliki dampak yang cukup luas baik untuk individu ataupun kelompok. Yang dimana ini dapat merusak berbagai aspek diantaranya, ekonomi, ketidaksetaraan, ketidakadilan, kerugian, dan ketidakpercayaan. Dibuktikan dengan masyarakat yang saat ini menganggap bahwa korupsi bukan masalah yang serius bahkan menganggap hal tersebut sebagai hal yang biasa. Serta mengakibatkan banyaknya tindak korupsi di manapun dan ketidaksadaran dalam melakukan tindak korupsi tersebut di lingkungan individu, masyarakat, maupun instansi. Terjadinya Korupsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor penyebab Korupsi meliputi dua faktor, yaitu internal dan eksternal.

a. Faktor Internal, berupa :

1. Gaya hidup yang serakah/tamak/rakus

Hal ini juga berhubungan kuat dengan gaya pengasuhan dari orang tua.

Hubungan anak dan orang tua tidak hanya tentang keluarga, tetapi juga gaya hidup yang diterapkan. Seorang anak yang tumbuh dalam gaya hidup bermewah-mewah akan terus mengharapkan kemewahan dalam hidupnya.

Maka dari itu, gaya hidup bisa digolongkan menjadi sebuah faktor internal dalam korupsi, karena pada akhirnya seorang individu tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang dipunya dan akan mencari segala cara untuk memenuhi kebutuhannya.

(6)

2. Moralitas yang lemah

Lemahnya nilai moralitas berhubungan dengan rendahnya rasa kepekaan juga kepedulian kepada sesama. Dengan rendahnya nilai moralitas, seorang individu akan menjadi individu yang egois dan tidak memikirkan orang di sekitarnya.

3. Lemahnya pemahaman agama

Pada pemahaman agama, harusnya pelaku korupsi mengerti bahwa jabatan dan uang dengan jumlah yang banyak yang dipunyai itu merupakan sebuah tantangan dari Tuhan. Seharusnya para pelaku merasa takut bahwa di atasnya masih ada lagi Tuhan dari segala-galanya sehingga menggunakan uang dan jabatan tersebut dengan bijak. Dari sini juga kekuatan iman seorang individu akan terlihat, dengan adanya tantangan, seorang individu dengan iman yang kuat juga akan kuat melawan tantangan tersebut.

b. Faktor Eksternal, berupa : 1. Aspek Sosial

Kehidupan sosial seseorang berpengaruh dalam mendorong terjadinya korupsi. Seperti yang sudah dijelaskan pada faktor internal di atas, aspek keluarga sangat mendukung. Contohnya seperti keluarga yang mendukung anggota keluarga lainnya untuk memenuhi keserakahan. Selain itu pada lingkungan masyarakat, dapat dilihat contohnya seperti masyarakat yang terus menerapkan kegiatan suap, gratifikasi, dan lainnya.

2. Aspek Politik

Pada aspek politik penyebabnya yaitu, untuk memperkaya diri, yang pada akhirnya menciptakan money politic atau menyogok.

3. Aspek Hukum

Hukum menjadi faktor penyebab, karena banyak hukum yang tidak jelas aturannya, pasal-pasalnya multitafsir, dan ada kecenderungan hukum dibuat untuk menguntungkan pihak-pihak tertentu Terlebih sanksi yang diberikan masih tergolong ringan dan tidak sebanding dengan tindak pelaku korupsi. Sehingga tidak membuat pelaku korupsi jera.

(7)

Bagaimana tanggung jawab pemerintah untuk mencapai hal ini, kelompok perlu menjawab pertanyaan berikut :

1. Apa masalah yang akan dibahas?

Masalah yang akan dibahas adalah mengenai Korupsi. Korupsi bukanlah sesuatu yang penting atau membutuhkan perhatian besar. Tapi, pemberantasan korupsi adalah hal yang penting dan membutuhkan perhatian yang besar. Korupsi adalah masalah yang sangat merusak dan merugikan masyarakat, ekonomi, dan negara. Karena itulah mengapa pemberantasan korupsi perlu perhatian yang besar.

Korupsi Merupakan tindak kejahatan karena dapat merugikan pihak-pihak tertentu. Dapat di jelaskan lagi, bahwa Korupsi merupakan perbuatan buruk dan menyimpang karena telah menyalahgunakan uang dan kekuasaan yang ada untuk kepentingan pribadi ataupun orang lain dimana bertentangan dengan tugas dan kebenaran yang ada, sehingga Korupsi merupakan tindak kejahatan karena merugikan pihak-pihak yang terkena dampaknya.

2. Seberapa serius masalah ini sehingga harus dibahas oleh kelompok?

Masalah ini sangat serius, karena korupsi bukan lagi menjadi suatu hal yang jarang ditemukan oleh masyarakat. (Artidjo Alkostar, 2013, hal 2) Memberikan pernyataan bahwa dari tahun 2002, semenjak diberlakukannya UU KPK, Indonesia mengelompokkan kejahatan korupsi sebagai extraordinary crimes atau kejahatan luar biasa yang diakibatkan oleh korupsi yang sudah tersebar luas dan tersusun secara jelas melanggar kewajiban-kewajiban ekonomi yang harus didapatkan oleh masyarakat.

Pernyataan Artidjo Alkostar juga sesuai dengan adanya UU Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2019, yang berisi tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang berisi pernyataan umum yang mengatakan bahwa tindak kejahatan korupsi ini merupakan tindakan yang sudah tersebar luas pada masyarakat. Pertumbuhan korupsi terus meningkat dari tahun ke tahun, hal itu dihitung dari jumlah kasus dan juga jumlah kerugian yang didapat. Tindak pidana korupsi yang sudah

(8)

tersebar ke seluruh penjuru masyarakat dan tersusun secara utuh juga merupakan sebuah penyelewengan atas kewajiban-kewajiban sosial serta ekonomi yang harus didapatkan oleh masyarakat. Maka dari itu, Tindak Pidana Korupsi tidak dapat lagi diidentifikasikan sebagai kejahatan biasa saja, melainkan diidentifikasikan menjadi tindak kejahatan luar biasa atau extra ordinary crimes. Sama halnya dengan usaha untuk memberantas korupsi, sudah tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa saja, tetapi dengan cara yang luar biasa.

Contoh kasus korupsi yang terjadi di keluarga, yang bahkan dapat menciptakan konflik dan dampak negatif pada hubungan keluarga. Contohnya berkata bohong dengan mengambil uang belanjaan yang sudah diamanahkan oleh ibu. Sehingga dapat mengakibatkan kehilangan kepercayaan seorang ibu dimana ia telah memberi kepercayaan yang selama ini telah disalah gunakan dan merasa kecewa terhadap apa yang anak lakukan.

3. Seberapa luas masalah ini menjadi isu nasional?

Korupsi adalah isu nasional yang memiliki dampak yang sangat luas.

Dimana ditemukan banyaknya kasus korupsi di Indonesia dalam kehidupan masyarakat. Beberapa contoh kasus di Indonesia dibuktikan oleh Indonesia Corruption Watch atau ICW, yang memberikan data bahwa potensi kerugian korupsi pada 252 kasus dengan 612 tersangka pada 6 bulan pertama tahun 2022 sampai lebih dari Rp. 33 triliun.

Lalu, ada juga kasus dari Juliari Batubara, seorang mantan Menteri Sosial yang melakukan korupsi dana bantuan sosial atau dana bansos pada masa pandemi Covid-19. Akibat dari tindak pidana korupsi tersebut, para masyarakat yang membutuhkan bantuan sosial pada saat itu menerima bahan-bahan pangan bantuan dengan kualitas yang rendah. Menurut Zaenur (2021), seorang Peneliti Pusat Anti Korupsi Universitas UGM, kasus korupsi yang dilakukan oleh Juliari Batubara membuat masyarakat menderita dengan diberikannya bantuan sosial yang kualitasnya tidak baik. Dilansir dari BBC News Indonesia, seorang warga bernama Sri yang berdomisili di Jakarta Utara mengatakan bahwa bantuan sosial yang diterima, sangat menurun jumlahnya, bantuan sosial harus dibagi-bagi, yang

(9)

seharusnya untuk 1 orang, dibuat sedemikian rupa untuk dibagikan kepada 2 orang karena ada sebagian warga yang belum mendapatkan bantuan sosial tersebut. Selanjutnya, warga bernama Muhariyati yang juga berdomisili di Jakarta mengatakan bahwa bantuan sosial yang diterima saat itu kualitasnya bagus. Tetapi beras yang didapatkan adalah beras yang tidak pulen setelah dimasak, terdapat batu, juga terdapat kutu beras. Telur dan susu yang juga terdapat dalam paket bantuan sosial tersebut, seminggu kemudian sudah habis batas tanggal baik untuk dikonsumsinya.

Ada juga kasus korupsi pada pembangunan shelter tsunami di Pandeglang.

Susi Amelia (2022) dalam studi kasusnya yang berjudul Analisis Dampak Korupsi pada Masyarakat (Studi Kasus Korupsi Pembangunan Shelter Tsunami di Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang) mengatakan bahwa pada pembangunan shelternya, banyak yang tidak sesuai dengan kontrak kerja yang dibuat diawal. Seperti, berkurangnya volume beton, berkurangnya volume pekerjaan, balok diagonal tidak dipasang sesuai dengan aturannya, pengecoran yang keropos di beberapa titik bangunan, serta tidak melibatkan konsultan pembangunan pada saat melakukan tambah kurang pekerjaan. Hal-hal tersebut membuat bangunan shelter tsunami ini memiliki potensi menjadi bangunan yang gagal untuk menjadi tempat berlindung dari gempa juga tsunami. Seharusnya bangunan yang akan menjadi tempat berlindungnya masyarakat saat bencana melanda bisa menjadi tempat yang aman serta nyaman bagi masyarakat, bagaimana jadinya jika masyarakat berlindung di tempat yang bahkan memiliki potensi untuk menjadi bangunan yang gagal. Pada studi kasusnya, Amelia (2022) juga mengatakan bahwa dari kasus korupsi yang terjadi ini, masyarakat menjadi kehilangan haknya untuk mendapatkan tempat berlindung dari bencana. Pada tsunami Banten 22 Desember 2018 lalu, masyarakat tidak menggunakan shelter untuk berlindung, tetapi pergi ke tempat yang jauh dari pantai yang membuat tenaga masyarakat terbuang begitu saja.

Dari kasus korupsi ini shelter yang di bangun berubah menjadi bangunan yang tidak berfungsi sama sekali, shelter tsunami ini juga tidak mendapatkan perawatan sehingga bangunannya mengalami penurunan kualitas. Seperti tangga

(10)

yang ditumbuhi lumut sehingga terasa licin, kurangnya fasilitas-fasilitas yang memang sudah seharusnya ada di dalam shelter, apalagi untuk masyarakat prioritas seperti masyarakat lanjut usia, ibu hamil, difabel dan juga anak-anak kecil.

Dari berbagai contoh dampak korupsi di atas dapat disimpulkan bahwa memang betul korupsi merupakan hal yang sangat serius dan menjadi isu nasional yang harus ditangani secara serius.

4. Mengapa masalah ini perlu ditangani pemerintah?

Masalah ini sangat perlu ditangani oleh pemerintah. Karena sudah menjadi masalah serius yang tidak hanya mempengaruhi individu tetapi masyarakat, ekonomi, dan negara secara keseluruhan. Jika pemerintah tidak menindaklanjuti masalah ini, maka dapat menyebabkan dampak negatif yang serius pula baik secara internal maupun eksternal.

Dampaknya adalah, hilangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan menimbulkan masyarakat berpikir pemerintah tidak peduli atau tidak kompenten dalam memberantas korupsi. Lalu akan terjadi peningkatan korupsi karena pemerintah yang tidak mengambil tindakan tegas terhadap kasus korupsi.

Hal ini dapat memicu peningkatan praktik korupsi, ketidakadilan dan diskriminasi, pengahambatan pembangunan, mundurnya demokrasi, peningkatan kemiskinan, dan dampak lainya yang bisa terjadi di masyarakat.

Dari semua dampak ini, dapat disimpulkan bahwa Korupsi dapat mengancam stabilitas dan kesejahteraan suatu negara, oleh karena itu pemberantasan korupsi harus menjadi prioritas bagi pemerintah.

5. Haruskah masyarakat bertanggung jawab menyelesaikan masalah ini?

Menurut KBBI, tanggung jawab adalah suatu kondisi dimana setiap individu memiliki suatu kewajiban untuk menanggung segala sesuatunya sendiri.

Oleh karena itu, mengingat betapa pentingnya peran masyarakat dalam menyelesaikan masalah itu memang harus benar adanya, karena pihak yang paling bertanggung jawab dalam mengatasi masalah sosial adalah masyarakat itu sendiri

(11)

terutama para pemangku kebijakan yakni pemerintah. Aturan-aturan yang dibuat tentu akan mampu sedikit menanggulangi masalah sosial di masyarakat. Hampir semua kasus yang ditangani KPK hampir berasal dari pengaduan masyarakat.

Contohnya, kasus proyek hambalang, kasus korupsi pengadaan simulator SIM, yang awalnya berasal dari pengaduan masyarakat. Dengan dipecahkanya dua kasus tersebut kita berhasil menyelamatkan kerugian negara sebesar 464,4M dari kasus korupsi hambalang dan 145 M kasus pengadaan simulator SIM.

Jadi, kita sebagai masyarakat pun juga punya peran serta tanggung jawab dalam kasus korupsi. Sehingga masyarakat tidak begitu vital dalam pemberantasan korupsi karena peran masyarakat dalam menyelesaikan masalah ini sebagai sarana dalam melaporkan tindak korupsi kepada pihak berwajib.

6. Adakah hukum atau kebijakan yang ada untuk mengatasi masalah ini?

Hukum dan kebijakan mengenai korupsi di Indonesia memiliki beberapa hukum dan kebijakan mengenai korupsi, yaitu Undang-Undang tentang Tindak Pidana Korupsi yang disahkan pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

Pasal 3 tahun 1971 mengatur hukuman penjara seumur hidup dan denda tidak melebihi INR 30 juta untuk semua pelanggaran yang tergolong korupsi.

Meskipun Undang-Undang tersebut dengan jelas mendefinisikan korupsi sebagai suatu kegiatan yang menimbulkan kerugian finansial bagi diri sendiri atau orang lain, Namun dalam praktiknya, korupsi, kolusi, dan nepotisme masih merajalela pada saat itu. Oleh karena itu, pemerintahan berturut-turut telah memperkenalkan Undang-Undang Antikorupsi dengan berbagai perbaikan. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971 dicabut setelah digantikan dengan Undang-Undang Penghapusan Tindak Pidana Korupsi Nomor 31 Tahun 1999. Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Bersih dan Bebas Korupsi Pasca runtuhnya rezim Orde Baru dan pergantian era reformasi.

UU No. 28 Tahun 1999 tentang Terciptanya Negara yang Bersih dan Bebas KKN. Undang-Undang ini disahkan pada tahun 1999 pada masa pemerintahan Presiden BJ Habibie untuk memberantas korupsi pasca runtuhnya pemerintahan Orde Baru. Undang-Undang Administrasi Publik yang Bersih dan

(12)

Bebas Korupsi Nomor 28 Tahun 1999 memuat konsep korupsi, kolusi, dan nepotisme yang kesemuanya merupakan tindakan administrasi publik yang buruk.

Undang-undang ini juga mengatur pembentukan dewan administratif, sebuah badan independen yang bertugas menyelidiki aset pejabat dan mantan pejabat untuk mencegah korupsi. Pada saat yang sama, Otoritas Persaingan Usaha (KPPU) dan Ombudsman dibentuk. UU Nomor 31 Tahun 1999 kemudian diperbaharui menjadi UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-undang tersebut di atas menjadi landasan hukum pemberantasan tindak pidana korupsi di tanah air. Hukuman tindak pidana korupsi diatur dalam uu nomor 20 tahun 2001. Berikut beberapa hukuman dari tindak pidana korupsi yang diatur dalam uu nomor 20 tahun 2001:

1) Penyuapan, orang yang memberikan suap atau menerima suap dapat dikenakan hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun, serta denda.

2) Penggelapan, orang yang menggelapkan harta benda negara atau harta benda pihak swasta yang dikelolanya dalam jabatannya dapat dikenakan hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun, serta denda.

3) Pemerasan, orang yang melakukan pemerasan terhadap pihak lain dengan menggunakan kekuasaan atau jabatannya dapat dikenakan hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun, serta denda.

4) Penyalahgunaan Wewenang, orang yang menyalahgunakan wewenang atau kesempatan yang ada padanya dengan tujuan merugikan negara atau masyarakat dapat dikenakan hukuman penjara minimal 1 tahun dan maksimal 20 tahun, serta denda.

5) Pemberian Imbalan, orang yang memberikan imbalan kepada pejabat negara atau pihak swasta dengan maksud mempengaruhi kebijakan atau tindakan pejabat tersebut dapat dikenakan hukuman penjara minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun, serta denda.

6) Pemalsuan Dokumen, orang yang membuat atau menggunakan dokumen palsu dengan maksud merugikan negara atau pihak swasta dapat dikenakan hukuman penjara minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun, serta denda.

(13)

7) Penghambatan Penyidikan dan Penuntutan, orang yang menghalangi penyidikan atau penuntutan tindak pidana korupsi dapat dikenakan hukuman penjara.

Perlu diingat bahwa hukuman yang sebenarnya, dapat bervariasi tergantung pada kasusnya dan pertimbangan hakim. Undang-Undang ini juga mengatur sanksi tambahan berupa pengembalian uang atau harta yang diperoleh secara ilegal kepada negara

.

7. Jika ada undang-undang atau kebijakan apakah cukup untuk masalah ini?

Jika dilihat dari kenyataan, efektivitas dari Undang-Undang nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi perlu adanya evaluasi berkelanjutan terhadap efektivias Undang-Undang ini dan mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan. Karena pada dasarnya jika dilihat dari kenyataan yang ada disekitar, undang- undang dan kebijakan ini tidak cukup berpengaruh terhadap kasus korupsi di Indonesia. Karena, faktanya banyak kasus korupsi yang tidak ditindaklanjuti dan sudah menjadi rahasia umum lagi di kalangan masyarakat.

Koalisi Nasional LSM Antikorupsi mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melakukan supervisi secara lebih serius terhadap proses penyidikan dan penuntutan perkara korupsi. KPK juga diminta mengambil alih penyidikan dan penuntutan sejumlah kasus korupsi yang berhenti begitu saja. Desakan itu disampaikan terkait banyaknya kasus korupsi yang dilaporkan masyarakat, namun tidak ditangani atau macet, bahkan diputus bebas. Menurut Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW) Teten Masduki, desakan itu disampaikan karena selama ini penanganan kasus korupsi, terutama di daerah-daerah, belum menggembirakan. Teten mencontohkan bahwa sejauh ini presiden telah mengeluarkan 28 izin pemeriksaan pejabat. Namun saat ini baru empat yang ditangani, dari empat itu juga baru satu yang final. Hal itu, menurutnya, karena kurangnya koordinasi antar aparat penegak hukum yang menangani kasus korupsi.“Supervisi dari pimpinan tertinggi lembaga-lembaga seperti kejaksaan,

(14)

kepolisian dan KPK dirasakan masih kurang,” ujarnya bersama sejumlah anggota LSM, seperti Bali Corruption Watch, dan PIAR di gedung KPK kemarin.

Koalisi menyampaikan beberapa kasus korupsi yang tidak ditindaklanjuti, diantaranya kasus kredit macet PT Bank NTB senilai Rp 58,5 miliar yang dilaporkan pada tahun 1999 kepada Kejati NTB, juga kasus pembelian 28 mobil pribadi anggota DPRD Kota Banda Aceh senilai Rp 5,7 miliar dilaporkan pada tahun 2003 sampai saat ini belum diperiksa. Sedang kasus korupsi yang terlihat berhenti begitu saja, diantaranya kasus korupsi Konvensi Bunga Bank dan PBB Migas Kutai pada tahun 1996 yang penyelidikannnya dihentikan Kejasaan Tinggi Kaltim pada 2001. Demikian juga kasus korupsi proyek fiktif pengadaan kapal penangkap ikan untuk enam Koperasi Nelayan Sabang tahun 2005 kasusnya dihentikan dengan alasan datanya hilang karena tsunami. Juga korupsi proyek resettlement di Tude Mauta Kabupaten Alor senilai Rp 1,3 miliar.

Kesimpulannya dari kasus ini membuktikan bahwa sejumlah kasus korupsi banyak yang tidak ditangani dengan baik oleh pihak terkait dikarenakan adanya ketidak seimbangan kekuasaan dan tuntutan yang kompleks.

8. Ungkapan ketidaksepakatan apa, oleh masyarakat terkait masalah ini?

Ungkapan ketidaksepakatan masyarakat terhadap korupsi sering terjadi karena adanya pandangan beragam tentang korupsi. Ada yang mengartikan korupsi sebagai tindak suap yang besar sementara yang lain menganggap hanya praktik yang lebih kecil. Lalu adanya pandangan tentang korupsi politik mengenai siapa yang seharusnya disalahkan beberapa orang menyalahkan partai politik, sementara yang lain melihatnya sebagai masalah sistemik. Masyarakat yang tidak sepakat dengan masalah ini karena masyarakat tersebut merasa bahwa sistem peradilan tidak adil atau rentan terhadap korupsi yang menyebabkan enggan melaporkan atau bersaksi dalam beberapa kasus korupsi, karena ketidakyakinan mereka terhadap hukum akan membawa perubahan atau keadilan.

9. Siapakah individu, kelompok, atau organisasi yang memiliki kepentingan dalam masalah korupsi ini?

(15)

Masalah korupsi dapat melibatkan individu, kelompok, atau organisasi yang dimana masing masing mempunyai kepentingannya sendiri yaitu:

a. Individu

Pencegahan korupsi adalah tanggungjawab bersama dan peran individu sangat penting dalam membentuk budaya yang tidak mentolerir korupsi.

Meskipun peran dan tanggungjawab setiap individu mungkin berbeda tetapi berkontribusi dalam pencegahan korupsi sangat berarti besar. Setiap warga negara Indonesia memiliki kepentingan dalam mencegah korupsi untuk dirinya sendiri.

Kesadaran dan pendidikan berperan penting dalam diri untuk mempunyai penolakan terhadap tindak korupsi. Karena tindakan korupsi dapat merugikan citra diri dan berdampak pada diri sendiri dan masyarakat yang dimana itu bisa merusak bebagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi dalam Masyarakat. Oleh karena itu, setiap individu memiliki kepentingan atau peranan penting untuk pencengahan korupsi.

b. Kelompok atau organisasi

Kelompok atau organisasi lembaga anti-korupsi memiki peranan yang tidak kalah penting dalam upaya mencengah dan mengatasi korupsi dalam masyarakat. Berbagai lembaga ini memikiki peran dalam memerangi korupsi dengan berbagai cara antara lain :

1. Lembaga Anti-Korupsi: Lembaga seperti Komisi Anti-Korupsi (KPK) yang bertugas dalam penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. atau Badan Pemberantasan Korupsi (BPK) bertugas untuk menginvestigasi, menuntut, dan mencegah tindakan korupsi di tingkat pemerintah dengan membantu memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemda, lembaga negara, BUMN, BLU, BUMD, dan lainnya yang mengelola keuangan negara. Terakhir ada Inspektorat Jenderal sebagai pelaksana pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian/Provinsi/Kabupaten/Kota.

(16)

Pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan hukum dan regulasi yang mencegah korupsi. Mereka juga dapat mengawasi penggunaan dana publik dan mempromosikan transparansi. Mahkamah Agung selaku pengawas tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan. Ada juga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK dengan tugas penyelidikan atas analisis transaksi keuangan. Tak bisa dilupakan peran Kementerian Hukum dan HAM sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan pengadilan. Selanjutnya ada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) selaku pemantau, pemberi bimbingan, dan pembina terhadap kegiatan pengawasan keuangan dan pembangunan. Lantas ada Komisi Yudisial yang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim. Berikutnya ada Ombudsman RI yang mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara serta badan swasta untuk pelayanan publik tertentu yang dananya bersumber dari APBN/APBD.

2. Kepolisian dan Lembaga Penegak Hukum: Lembaga penegak hukum, termasuk kepolisian, jaksa, dan pengadilan, bertanggung jawab untuk menyelidiki dan menuntut tindakan korupsi serta menjatuhkan hukuman kepada pelaku korupsi. Kejaksaan Agung yang melakukan penyidikan, penuntutan, dan melaksanakan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

3. Organisasi Internasional: Organisasi seperti PBB, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Transparency International berperan dalam mempromosikan transparansi, akuntabilitas, dan pencegahan korupsi di tingkat global.

4. Media: Media berperan penting dalam mengungkap tindakan korupsi dan membangkitkan kesadaran masyarakat tentang masalah tersebut. Investigasi jurnalistik dapat membantu mengungkap praktik korupsi yang tersembunyi.

5. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM): LSM yang fokus pada pemberantasan korupsi berperan dalam mengawasi tindakan pemerintah,

(17)

memberikan pelatihan, menyediakan sarana pelaporan, dan memadvokasi perubahan kebijakan yang lebih transparan dan akuntabel. Mereka dapat memberikan masukan kepada pemerintah dalam merancang kebijakan anti-korupsi dan mendesak untuk reformasi yang dibutuhkan.

6. Akademisi: Akademisi dapat melakukan penelitian dan analisis yang mendalam tentang korupsi, memberikan wawasan yang berharga tentang faktor-faktor yang mendorong korupsi, dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya.

7. Auditor Independen: Auditor independen dapat memeriksa keuangan publik dan bisnis untuk memastikan akuntabilitas dan mencegah tindakan korupsi.

Kerja sama antara berbagai lembaga dan organisasi ini penting dalam upaya pemberantasan korupsi. Tindakan ini sangat dibutuhkan oleh seluruh masyarakat atau pihak terkait bahkan negara. Karena, korupsi memiliki dampak negatif yang dapat merusak baik tingkat individu maupun masyarakat dan negara secara keseluruhan. Contohnya, penggunaan dana publik yang tidak efisien, ketidaksetaraan dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

10. Untuk setiap individu, kelompok, atau organisasi yang anda identifikasi, jawablah pertanyaan berikut.

 Apa posisi mereka dalam masalah ini?

Dalam masalah ini posisi informan adalah seorang kepala KUA di wilayah tertentu. Hubunganya dalam masalah korupsi akan timbul jika kepala KUA tersebut terlibat atau bawahannya melakukan tindakan korupsi seperti penyalahgunaan dana, pemberian izin perkawinan, ataupun penyelewengan wewenang.

 Mengapa mereka tertarik dalam masalah ini?

Ada berbagai alasan yang mendorong informan tertarik akan masalah korupsi. Antara lain, nilai-nilai agama yang menjadikan prinsip moral dan etika yang seharusnya menentang tindakan korupsi. Sebagai kepala KUA mungkin informan merasa bertanggung jawab untuk menerapkan dan memberitahukan

(18)

nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Informan mempunyai peran sosial yang cukup berpengaruh dilingkungan tersebut. Informan menyadari bahwa mereka dapat memanfaatkan pengaruh ini untuk membentuk budaya pencegahan anti korupsi. Informan memiliki kewajiban hukum untuk mematuhi undang-undang yang menyatakan dilarangnya korupsi. Informan juga memiliki pengalaman pribadi dimana menemukan amil-amil yang menyalahgunakan dana pernikahan yang seharusnya gratis.

 Apa keuntungan dari posisi mereka?

Menurut informan ia memiliki peluang untuk mendorong masyarakat ataupun yang ada di lingkunganya untuk mempromosikan nilai-nilai pemberantasan korupsi untuk menentang korupsi. Informan sebagai kepala KUA bertanggung jawab atas izin perkawinan, dengan menjalankan proses ini, informan dapat melakukan pengawasan terhadap proses perkawinan secara transparansi untuk mencegah praktik korupsi dalam proses tersebut.

 Apa kelemahan posisi mereka?

Informan memiliki keterbatasan salah satunya adalah wewenang.

Kepala KUA mungkin memiliki keterbatasan wewenang dalam menangani masalah korupsi yang melibatkan kelompok lain di luar lingkup wilayahnya sendiri. Lalu adanya ancaman terhadap kepemimpinan dimana ancaman tersebut akan mendapat resiko terkait keamanan bahkan jabatanya.

 Bagimana mereka berusaha mempengaruhi pemerintah untuk mengadopsi pandangan mereka?

Menurut informan beliau dapat mengambil peran sebagai advokat atau mempromosikan nilai-nilai pemberantasan korupsi dalam pemerintahan.

Contohnya informan menyelenggarakan seminar atau ceramah untuk memberikan pengetahuan dan informasi tentang dampak negatif korupsi terhadap masyarakat dengan nilai-nilai agama. Menuliskan artikel dan opini juga dapat berpengaruh terhadap pemerintah. Ataupun jika itu telah dilakukan dan tidak cukup berpengaruh, menurut informan ia dapat memulainya dari diri sendiri dengan mencontohkan untuk tindak melakukan tindak korupsi tersebut.

(19)

11. Apa tingkat intansi pemerintah atau lembaga instansi pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengatasi korupsi?mengapa?

Berapa tingkat intansi pemerintah yang bertanggung jawab dalam mengatsi korupsi sebagai berikut, Dimulai dari Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK yang bertugas dalam penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi. Berikutnya ada Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Polri yang bertugas dalam penyelidikan dan penyidikan atas semua tindak pidana, termasuk di dalamnya adalah korupsi. Lalu ada Kejaksaan Agung yang melakukan penyidikan, penuntutan, dan melaksanakan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. emudian ada Mahkamah Agung selaku pengawas tertinggi terhadap jalannya peradilan di semua lingkungan peradilan.

Ada juga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK dengan tugas penyelidikan atas analisis transaksi keuangan. Tak bisa dilupakan peran Kementerian Hukum dan HAM sebagai pelaksana kekuasaan kehakiman yang merdeka untuk menyelenggarakan pengadilan. Selanjutnya ada Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) selaku pemantau, pemberi bimbingan, dan pembina terhadap kegiatan pengawasan keuangan dan pembangunan. Lantas ada Komisi Yudisial yang menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran martabat, serta perilaku hakim.

Berikutnya ada Ombudsman RI yang mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara serta badan swasta untuk pelayanan publik tertentu yang dananya bersumber dari APBN/APBD. Tak ketinggalan ada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang membantu memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemda, lembaga negara, BUMN, BLU, BUMD, dan lainnya yang mengelola keuangan negara. Terakhir ada Inspektorat Jenderal sebagai pelaksana pengawasan terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian/Provinsi/Kabupaten/Kota. Instansi pemerintah tersebut memiliki tanggung jawab karena mereka semua pemegang kekuasaan dan otoritas dalam suatu negara.

(20)

12. Apa yang pemerintah lakukan tentang masalah ini?

Upaya pemerintah dalam mengatasi korupsi sangat beranekaragam dan bervariasi diantaranya pemerintah membentuk lembaga anti korupsi seperti KPK, undang-undang anti korupsi, melakukan transparansi dalam menggunakan dana publik, kebijakan, dan proses pengambilan keputusan. Mengadakan kampanye pendidikan dan kesadaran untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang korupsi. Meliputi konsekuensi, dan peran mereka dalam melaporkan dan mencegahnya. Pemerintah juga melakukan kerja sama internasional dengan negara lain dalam upaya melawan korupsi lintas batas. Dan juga memberikan hukum yang tegas, mengevaluasi, dan revisi kebijakan.

13. Jadi, apa yang menjadi akar permasalahan dari masalah ini?

Dari seluruh faktor-faktor, contoh kasus, juga hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, dapat disimpulkan bahwa kurangnya implementasi nilai- nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Padahal Pancasila digadang- gadangkan sebagai sebuah pedoman hidup masyarakat negara Indonesia.

Pancasila adalah suatu konsep yang fleksibel dan dapat disesuaikan, sehingga dalam pelaksanaannya dapat diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan dan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga dan menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Dalam mengatasi persoalan korupsi, penerapan nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dengan mengutamakan kewajiban dalam kehidupan keluarga, yaitu melalui praktik ajaran agama. Ini akan membantu membentuk moralitas dan menjadi garda terdepan dalam penilaian tindakan baik-buruk serta benar-salah di mata Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang yang beragama akan lebih mempertimbangkan aspek moral dan dampaknya terhadap diri dan lingkungannya sebelum melakukan tindakan.

Selain peran keluarga, tokoh agama juga memiliki peran penting dalam mendidik dan mengedukasi masyarakat agar menolak korupsi yang bertentangan

(21)

dengan ajaran agama. Hubungan antara kelompok agama dan masyarakat dapat saling menguntungkan dalam upaya mencegah korupsi.

Dalam menciptakan masyarakat yang adil dan beradab, keluarga dapat saling mengingatkan bahwa tindakan korupsi merusak nilai-nilai tersebut.

Kejujuran adalah modal utama dalam membangun kepercayaan dalam interaksi dengan orang lain. Orang yang tidak jujur merusak keadaban dan kepercayaan orang lain.

Sementara itu, tokoh masyarakat di lingkungan sekitar dapat mendorong penerapan nilai-nilai ini, terutama dalam hal transparansi keuangan.

Penyelenggara negara juga dapat berperan dengan memberikan contoh perilaku anti-korupsi melalui tokoh-tokoh yang telah sukses menerapkan nilai-nilai ini.

Unsur ketiga ini dapat menjadi senjata ampuh dalam menolak korupsi yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban.

Korupsi akan sangat merugikan persatuan nasional, dengan hal ini dibutuhkanmseluruh rakyat Indoensia untuk bersatu menciptakan gerakan nasional anti korupsi. Misalnya dengan mengambil semua harta koruptor untuk negara, memberikan sanksi sosial, dan menyebar luaskan kasus korupsinya.

Pada sila keempat, bisa diawali dengan terlibatnya segala kelembagaan dalam pemerintahan yang semuanya sudah dipercayai oleh masyarakat sebagai perwakilan dari rakyat. Sangat penting untuk menindak dan menangkap pelaku dari kasus korupsi dalam lembaga pada pemerintahan, tetapi tidak kalah penting juga untuk mencegah tindak korupsi. Seperti dengan memberikan gaji yang sesuai, memberikan apresiasi pada seorang individu yang sudah menerapkan anti korupsi, mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kesadaran dalam negatifnya sebuah tindak korupsi, misalnya dalam kegiatan pembelajaran tentang Pendidikan Kewarganegaraan, dan membuat pertimbangan tentang hukuman mati bagi pelaku korupsi.

Terciptanya nilai implementasi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi aspek yang paling penting bagi masalah ini. Dengan adanya tindak pidana korupsi dapat disimpulkan bahwa terjadi ketimpangan pada

(22)

kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Pemerintah harus memberi penegasan dalam hal ini, misalnya dengan pemerintah mendorong pergerakan ekonomi dan menggunakan uang rakyat dengan maksimal dan sebaik-baiknya. Dibutuhkan juga pertimbangan tentang hukuman mati atau seumur hidup bagi seorang pelaku korupsi. Walaupun negara Indonesia menjungjung tinggi nilai Hak Asasi Manusia, tetapi pemerintah harus menggolongkan korupsi sebagai hal yang berbeda. Korupsi adalah hal yang serius, sehingga penangannya juga harus serius.

Seharusnya pemerintah tidak hanya meninjau kepada koruptor, tetapi juga melihat dan memikirkan masyarakat yang uangnya tidak digunakan dengan baik yang merasakan ketidakadilan atas adanya tindak korupsi.

Penerapan nilai-nilai Pancasila dalam sila pertama sampai terakhir menurut sertakan segala aspek kehidupan dari masyarakat, mulai dari keluarga, masyarakat, pemerintahan, sampai pendidikan. Semuanya harus bersatu untuk mencegah juga bertindak tegas dalam menangani korupsi.

(23)

DAFTAR PUSTAKA Sumber Buku atau Jurnal :

Alkostar, A. (2013). “Korupsi Sebagai Extra Ordinary Crime”. Dalam Makalah dalam Training Pengarusutamaan Pendekatan Hak Asasi Manusia dalam Pemberantasan Korupsi di Indonesia Bagi Hakim Seluruh Indonesia, 2.

M Fadhilah Suhandi, Sulistia Agustin. "Pendidikan Anti Korupsi Pada Jenjang Perguruan Tinggi". Jurnal Sanskara Pendidikan dan pengajaran. 1(1), 20- 27

Dwina Putri. (2021). "Korupsi Dan Prilaku Koruptif". Jurnal Pendidikan Agama dan Sains. V(2), 48-54

Dhani Kristianto, Puguh Aji Hari Setiawan, Dewi Iryani. (2023). "Penerapan Delik Tindak Pidana Korupsi Pada Kasus Tindak Pidana Perbankan Di Indonesia". Jurnal Hukum, 20(1), 178-196

Syarif Fadillah. (2023). "Penegakan Hukum Terhadap Pelaku Tindak Pidana Korupsi (Tinjauan Hukum Pidana dan Dalam Perspektif Pidana Islam".

Jurnal Program Pascasarjana Ilmu Hukum. 9(1), 36-53, doi : https://doi.org/10.34005/veritas.v9i2

Rasyidi, M. A. (2020). Korupsi Adalah Suatu Perbuatan Tindak Pidana Yang Merugikan Negara Dan Rakyat Serta Melanggar Ajaran Agama. Jurnal Mitra Manajemen, 6(2).

Amalia, S. (2022). Analisis Dampak Korupsi Pada Masyarakat. Studi Kasus Korupsi Pembangunan Shelter Tsunami di Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang, 3(1), 15-16, doi : https://doi.org/10.57266/epistemik.v3i1.77 Saputra, I. (2017). Implementasi Nilai Pancasila Dalam Mengatasi Korupsi di

Indonesia. Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta, 2(1), 14-16.

Sumber online atau sumber lainya:

(24)

Komisi pemberantasan korupsi (2023), “ mengenal pengertian korupsi dan anti korupsi”, (online) ackl.kpk.go.id 15 September 2023, diambil dari sumber https://aclc.kpk.go.id/action-information/exploration/20220411-null

Komisi pemberantasan korupsi (2022), “Kenapa Masih Banyak yang Korupsi? Ini Penyebabnya!”, (online) ackl.go.id 07 april 2022, diambil dari sumber https://aclc.kpk.go.id/action-information/lorem-ipsum/20220407-null Kasus Korupsi Rektor Udayana Ditaksir Rugikan Negara hingga Rp443 M.

Diakses dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20230313131406- 12-924350/kasus-korupsi-rektor-udayana-ditaksir-rugikan-negara-hingga- rp443-m.

Perjalanan Kasus Korupsi Eks Rektor Unila: Terima Gratifikasi Rp 6,9 Miliar, Kini Divonis 10 Tahun Penjara. Diakses dari : https://www.kompas.com/tren/read/2023/05/26/091500065/perjalanan- kasus-korupsi-eks-rektor-unila--terima-gratifikasi-rp-6-9-miliar?page=all

Referensi

Dokumen terkait

Hal yang sama juga diungkapkan Tjhay (2009) dimana kurangnya pengertian masyarakat yang menyebabkan perilaku kesehatan kaum homoseksual kurang diperhatikan, mereka merasa

dilakukan oleh pejabat level bawah yang tidak terlalu tinggi kedudukannya. Analisis terhadap masyarakat yang mengalami masalah merasa enggan untuk mengungkap kasus tersebut

Masalah yang ada saat ini adalah belum mantapnya konstektualisasi dan implementasi pancasila dalam kehidupan berangsa dan bernegara.media dalam mengimpletasikan nilai-nilai

Masalah Sosial adalah suatu kondisi yang tidak diinginkan ada di dalam masyarakat karena dapat mengganggu ketentraman masyarakat diperlukan adanya tindakan

Tujuan yang akan dicapai Bangsa Indonesia yakni, suatu masyarakat adil-makmur yang merata materil dan spiritual berdasarkan Pancasila didalam wadah Negara Kesatuan Republik

Tumpang tindih kewenangan antara sub sistem dalam sistem peradilan pidana tentang siapa yang berwenang melakukan penyidikan pada perkara tindak pidana korupsi setelah

Lembaga pers harus memberikan berita yang berkualitas dan masyarakat harus menghormati kebebasan pers agar peran dan fungsi pers dapat berjalan untuk

Pancasila juga dijadikan pedoman berbagai kehidupan, baik itu yang berkaitan dengan sosial, budaya, ekonomi dan lainnya sehingga masyarakat dapat memiliki kepribadian yang berbudi luhur