• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS PENGENDALIAN LINGKUNGAN KELAS 01

N/A
N/A
ika

Academic year: 2023

Membagikan "TUGAS PENGENDALIAN LINGKUNGAN KELAS 01 "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENGENDALIAN LINGKUNGAN KELAS 01

Kelompok 10

1. Adriana Djo Hau (2004070013) 2. Adrianus Bala Makin (2004070014) 3. Fransisca X. C. Tuto Bean (2004070060)

Ekosistem Titik pusat ekosistem

Ekosistem pantai berhutan mangrove

Ekosistem yang kami amati adalah ekowisata mangrove Oesapa Barat.

I. Table tugas 1.1

(2)

II. Table tugas 1.2 No

.

Ciri-ciri Keterangan

1 Ciri fisik : Pengamatan dilakukan pada

sore hari dan dalam keadaan mendung sehingga suhu udara sejuk.

Keadaan tanah berlumpur dan berpasir.

2 Ciri hayati : Tumbuhan yang adalah

mangrove

Hewan yang di ekosistem tersebut adalah kepiting, burung, dan ikan gabus.

(3)

3 Kegiatan manusia : Berdasarkan wawancara

Masyarakat di sekitar ekosistem mangrove biasa mengambil kayu bakar di hutan mangrove tetapi tidak langsung masuk ke kawasan hutan. Mereka mengambil kayu mati yang hayut ke pesisir.

Masyarakat dilarang mengambil kayu dari hutan mangrove.

Masyarakat juga dilarang membuang sampah di sekitar kawasan hutan mangrove.

Sampah yang ada di pesisir atau di dalam hutan mangrove biasanya ada karena dibawa oleh air laut.

setiap hari jumat dilakukan pembersihan sampah.

III. Table tugas 1.3

No. Pencemaran lingkungan Kerusakan lingkungan

(4)

1.

Penceraman yang terjadi di ekosistem mangrove yang kami amati adalah pencemaran dari sampah

pembuangan sampah ke habitat mangrove telah mematikan banyak akar pasak yang tumbuh di laut merah. Hilangnya banyak akar pasak tersebut akan

menurunkan luasan

permukaan respirasi dan permukaan pengambilan unsur hara oleh tanaman yang pada akhirnya menurunkan pertumbuhan pohon.

Dampak negatif dari sampah terhadap mangrove yaitu : 1. tumpukan sampah dapat menghalangi sirkulasi udara sehingga akar mangrove sulit melakukan respirasi.

2. mengakibatkan kematian mangrove

3. terganggunya pertumbuhan bibit-bibit mangrove yang baru, sehingga proses regenerasi vegetasi mangrove tidak berjalan dengan baik karena adanya tumpukan 4.sampah non-organik tersebut menghalangi masuknya unsur hara yang berasal dari aktivitas pasang surut.

5. adanya tumpukan sampah nonorganik tersebut menjadikan kualitas fisika, kimia dan biologi yang mendukung kehidupan mangrove menjadi berkurang sampah-sampah yang terjerat akar mangrove dapat merusak keindahan ekosistem mangrove.

IV. Tugas 2.1

(5)

1. Pengelolaan ekosistem yang diamati sudah berkelanjutan

Berbagai macam produk dan jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari ekosistem hutan mangrove. Salah satu jasa lingkungan yang berpeluang dikembangkan dan tidak merusak ekosistem hutan mangrove adalah ekowisata.

Kegiatan ekowisata bisa termanfaatkan bila telah dilakukan pembenahan oleh manusia. Ekowisata merupakan paket perjalanan menikmati keindahan lingkungan tanpa merusak eksosistem hutan yang ada. Vegetasi hutan yang terletak melintang dari arah arus laut merupakan keindahan dan keanekaragaman vegetasi yang berbeda dari formasi hutan lainnya. Terlihat dari keunikan penampakan vegetasi mangrove berupa perakaran yang mencuat keluar dari tempat tumbuhnya (Kustanti, 2011).

Pada kawasan hutan mangrove yang kami amati, sudah ada tindak lanjut dari pemerintah setempat untuk digunakan sebagai salah satu tempat wisata yang berpotensi membantu perekonimian kota dan wilaya sekitaran hutan mangrove , pada pengelolaannya hutan mangrove ini dibangun jembatan guna mempermudah wisatawan dalam menelusuri hutan mangrove yang ada, dalam pengelolaannya juga wisata ini dikenakan biaya masuk sebesar Rp.5.000 untuk setiap pengunjung yang datang.

Mangrove juga digunakan oleh masyarakat setempat untuk mencari udang, dan ikan sebagai salah satu mata pencarian tambahan masyarakat setempat. Akan tetapi dalam pengelolaan yang kami amati pada hari sabtu,25 februari 2023. Terlihat fasilitas yang sudah dibangun dengan baik mengalami begitu banyak kerusakan yang terjadi tanpa perawatan yang baik, terdapat juga begitu banyak sampah yang berserakan pada pesisir kawasan hutan mangrove.

Dalam wawancara yang dilakukan kelompok kami tentang sampah yang ada di pesisir kawasan, jawaban responden: selalu ada pihak dari pemerintah pusat selalu datang dan membersikan kawasan mangrove pada hari jumad.

2. Perangkat daerah provinsi atau kabupaten/kota yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan ekosistem mangrove

Menurut Undang- Undang Nomor 39 tahun 2008 tentang tentang Kementerian Negara dan Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian, Kementerian yang berwenang dalam pengelolaan hutan mangrove adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dalam pengelolaannya pemerintah setempat selalu ada perhatian khusus terkait pengelolaannya, pemerintah setempat juga bekerja sama dengan beberapa instansi guna membantu dalam pengawasan dan penjagaan.

Ekowisata mangrove Oesapa Barat ini awalnya dikembangkan dengan bantuan dari Pemerintah Italia melalui International Fund for Agriculture Development (IFAD) yakni organisasi yang bergerak di bidang pembangunan masyarakat pesisir yang memberikan suntikan dana kepada pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kupang dan dikelola oleh kelompok pengelolaan sumberdaya (PSDA) yang beranggotakan masyarakat setempat.

3. Organisasi masyarakat sipil yang ada di Indonesia maupun di provinsi NTT yang seharusnya ikut mempedulikan pengelolaan ekosistem mangrove. Salah satu organisasi masyarakat sipil yang ada di provinsi NTT yang ikut mengelola kawasan mangrove adalah Wahana Lingkungan Hidup (wahli) NTT. Untuk di Indonesia sendiri ada jaringan

(6)

kerja penyelamat mangrove Indonesia “JANGKAR MANGROVE” diinisiasi oleh 6 organisasi dari 6 provinsi wilayah Indonesia sebagai upaya penyelamatan ekosistem mangrove di Indonesia menuju pengelolaan yang adil dan lestari.

1. Provinsi Sulewesi Selatan : Lembaga Pemantau BLUE FOREST ( Yayasan Hutan Biru). Aktifitas yang dilakukan adalah Rehabilitasi mangrove dengan pendekatan ekologi (EMR), perbaikan tata kelola ekosistem mangrove, peningkatan penghidupan masyarakat di ekosistem mangrove, perbaikan teknis restorasi-rehabilitasi ekosistem mangrove di Indonesia, peningkatan kapasitas masyarakat lokal untuk pengelolaan ekosistem mangrove.

2. Provinsi Gorontalo : JAPESDA. Aktifitas yang dilakukan yaitu mengkaji tentang sosial ekonomi masyarakat pesisir mangrove, manajemen kebencanaan masyarakat pesisir, mendorong kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan.

3. Prov. KalBar : Perkumpulan Sampan. Aktivitas yang dilakukan adalah Pemberdayaan masyarakat pesisir, promosi pengelolaan ekosistem mangrove lestari dan berkelanjutan berbasis masyarakat.

4. Prov. Riau : Yayasan Mitra Insani. Aktifitas yang dilakukan yakni rehabilitasi mangrove, fasilitasi hak kelola masyarakat, peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar/dalam hutan, kajian livelihood, promosi pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan berbasis masyarakat.

5. Prov. KalTim : Forum Peduli Teluk Balikpapan. Aktifitas yang dilakukan adalah rehabilitasi hutan mangrove, monitoring regular, mendorong inovasi dan implementasi kebijakan pengelolaan mangrove.

6. Prov. JaBar / Nasional ; Forest Watch Indonesia. Aktifitas yang dilakukan yakni Kampanye dan advokasi penyelamatan mangrove, pengembangan pangkalan data, konsolidasi dan penguatan kapasitas jaringan kerja organisasi masyarakat sipil.

.

DAFTAR PUSTAKA

FWi. (20 April 2017). Jaringa Kerja Penyelamat Mangrove Indonesia “jangkar mangrove”. Diakses pada 03 Maret 2023, dari https://fwi.or.id/jaringan-kerja- penyelamatan-mangrove-indonesia-jangkar-mangrove/

Kustanti, A, Yulia RF. 2011. Manajemen Hutan Mangrove. PT Penerbit IPB Press. Bogor.

Mandar, K. P., & Alfira, R. (2014). Identifikasi Potensi Dan Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Pada Kawasan Suaka Margasatwa Mampie Di Kecamatan Wonomulyo, (Skripsi, Universitas Hasanuddin, 2014). Diakses dari https://core.ac.uk/download/pdf/25497082.pdf

Siu, M. G. L., Amanah, S., & Santoso, N. (2020). Partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan ekowisata mangrove di kelurahan oesapa barat kota kupang. Tengkawang:

Jurnal Ilmu Kehutanan, 10(1):62-74.

V. Tugas 2.2

(7)

1. Pencemaran lingkungan dan kerusakan lingkungan yang paling berpotensi merusak ekosistem mangrove

Onrizal (2005) menambahkan ada tiga faktor utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu (1) pencemaran, (2) konversi hutan mangrove yang kurang memperhatikan faktor lingkungan dan (3) penebangan yang berlebihan.

Pencemaran yang berpotensi merusak ekositem mangrove yaitu pencemaran minyak, sampah, logam berat, dan limbah industry. Bahan pencemar seperti minyak, logam berat, sampah, dan limbah industri dapat menutupi akar mangrove sehingga mengurangi kemam puan respirasi dan osmoregulasi tumbuhan mangrove, dan pada akhirnya menyebabkan kematian.

Kerusakan lingkungan yang berpotensi merusak ekosistem mangrove yaitu penebangan liar dan pembukaan tambak-tambak untuk budidaya perairan. Penebangan liar dan pembukaan lahan yang tidak terkontrol dapat mengancam kelestarian mangrove dan ekosistemnya.

2. Masyarakat di sekitar ekosistem mangrove biasa mengambil kayu bakar di hutan mangrove tetapi tidak langsung masuk ke kawasan hutan. Mereka mengambil kayu mati yang hayut ke pesisir. Masyarakat dilarang mengambil kayu dari hutan mangrove.

Masyarakat juga dilarang membuang sampah di sekitar kawasan hutan mangrove. Hal ini berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum Dan Perlindungan Masyarakat, pada paragraph 5 pasal 30 ayat (1) huruf b, c, d dimana “setiap orang dilarang membuang limbah bahan berbahaya dan beracun ke saluran permukiman, sungai, danau, kolam dan laut; membuat dan/atau melakukan pencemaran udara, tanah dan air; merusak hutan mangrove;

Berdasarkan hasil wawancara narasumber mengatakan bahwa sampah yang ada di pesisir atau di dalam hutan mangrove biasanya ada karena dibawa oleh air laut. Setiap hari jumat dilakukan pembersihan sampah.

3.

DAFTAR PUSTAKA

(8)

Ario, R., Subardjo, P., & Handoyo, G. (2016). Analisis kerusakan mangrove di pusat restorasi dan pembelajaran mangrove (PRPM), Kota Pekalongan. Jurnal Kelautan Tropis, 18(2):64-69.

Ernawati, E., Suprayitno, E., Hardoko, H., & Yanuhar, U. (2018). Kajian pencemaran ekosistem mangrove jenis Rhizophora mucronata di perairan Desa Kalianyar Bangil Pasuruan Jawa Timur.

Agrika, 12(1):61-72.

Provinsi Nusa Tenggara Timur. 2019. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2019 Tentang Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum Dan Perlindungan Masyarakat. Nusa Tenggara Timur.

Referensi

Dokumen terkait

melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan kinerja urusan pemerintahan di bidang ketenteraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat sub polisi pamong

adalah meningkatkan kinerja pelaksanaan penegakan peraturan daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat pada Satpol PP di daerah melalui pemenuhan

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Pelindungan

b) Pertimbangan Provinsi Kalimantan Utara dalam menetapkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Utara Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ketentraman, Ketertiban Umum

pelaksanaan koordinasi penegakan Perda dan peraturan kepala daerah, penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat dengan Kepolisian Negara

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu urusan wajib yang menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi adalah penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat

Gambaran umum kondisi lokasi bandar udara soa bajawa provinsi nusa tenggara

Sebagaimana Visi dan Misi Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam RPJMD Tahun 2013- 2018, Misi yang sesuai dengan TUPOKSI Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah misi