• Tidak ada hasil yang ditemukan

tugas seni budaya

N/A
N/A
137@ I Kadek Dhiyo Dewangga

Academic year: 2025

Membagikan "tugas seni budaya"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS KRITIK SENI RUPA

KARYA SITI ADIYATI SUBANGU

Dibuat oleh:

Gede Agus Pradnyan Wibawa Kelas: X1

No: 4

SMAN 2 TABANAN TAHUN PELAJARAN 2023/2024

(2)

Kata pengantar

Saya panjatkan puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, Sehingga saya dapat menyelesaikan laporan makal ini dengan judul “Siti Aditya subangu, yang telah membuat sebuah karya Seni rupa Laporan ini diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran seni budaya. Atas terselesaikannya laporan ini maka Saya mengucapkan terima kasih

(3)

DAFTAR ISI

JUDUL ...1

KATA PENGANTAR ...2

DAFTAR ISI ...3

BAB 1

1.1 LATAR BELAKANG

...4

1.2 RUMUSAN MASALAH

. ...11

1.3 MANFAAT DAN TUJUAN

...

12

BAB 2

2.1 TEMA

...

..15

2.2 TEKNIK

...

16

2.3 BAHAN DAN ALAT

...

18

2.4 FUNGSI

...

20

BAB 3

3.1 KARYA SENI

...

23

3.2 KESIMPULAN DAN PENUTUP

...

24

(4)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Siti Adiyati Subangun (lahir 2 Oktober 1951), lebih dikenal dengan nama Siti Adiyati , adalah seorang seniman , pendidik, penulis, dan aktivis kontemporer Indonesia. Karyanya mengeksplorasi isu kesenjangan sosial , degradasi lingkungan , dan korupsi birokrasi.

Ia dikenal sebagai salah satu pendiri Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia ( Bahasa Indonesia : Gerakan Seni Rupa Baru ) dari tahun 1975 hingga 1979. Dengan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB), Siti Adiyati adalah bagiannya dari

“pemberontakan akademis” yang mendorong pemisahan seni rupa Indonesia dari birokrasi institusional .

(5)

Selain Nanik Mirna , Siti Adiyati adalah salah satu dari sedikit artis perempuan yang terlibat di GSRB, yang sebagian besar terdiri dari seniman muda laki-laki asal Bandung , Jakarta , dan Yogyakarta .

Pendidikan dan kehidupan pribadi

Siti Adiyati adalah mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Yogyakarta . Siti Adiyati adalah bagian dari oposisi yang berkembang di kampus yang menentang konsep seni rupa yang terbatas dalam kurikulum. Kemudian, sekolah seperti ASRI dan Institut Teknologi Bandung (ITB) membatasi seni rupa pada medium seperti seni lukis dan patung.

Siti Adiyati didampingi rekan-rekan mahasiswa ASRI dan artis seperti Hardi , Bonyong Munni Ardhie , Nanik Mirna , FX Harsono dalam pandangannya. Pada tahun 1972 hingga 1974, Siti Adiyati mulai berpameran bersama mereka dengan nama Kelompok Lima ( Kelompok Lima ) dan Lima Pelukis ( Pelukis Lima ).

Kelima seniman ini merupakan bagian dari kelompok utama yang menyerukan pembaharuan gagasan dalam seni rupa Indonesia, sehingga memberikan ruang perdebatan dan diskusi di kalangan mahasiswa ASRI.

(6)

Kelimanya mengadakan klub belajar mahasiswa di kampus untuk memperkenalkan ide-ide di luar kurikulum akademi mereka, mengundang sarjana sastra, mahasiswa, dan intelektual lainnya dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

Kelimanya juga merupakan editor publikasi kampus, Jurnal Seni ( Jurnal Seni ). Melalui kegiatan tersebut, kelimanya beredar konsep seni kontemporer Barat di kampus.

Karier

Desember Hitam ( Desember Hitam ), 1974

Artikel utama: Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia § Pernyataan Desember Hitam Pada tahun 1974, Siti Adiyati terlibat dalam protes mahasiswa Black December ( Desember Hitam ) . [7] Dia adalah salah satu dari sedikit peserta perempuan yang hadir. [7]

Pada Pameran Besar Seni Lukis Indonesia yang kedua di Jakarta pada tanggal 18 hingga 31 Desember 1974, Siti Adiyati dan rekan-rekannya memamerkan karya- karya media campuran, kolase, dan karya-karya lain yang tidak dapat didefinisikan secara rapi sebagai lukisan.

(7)

Karya seni ini dinilai tidak pantas pada pameran nasional yang berupaya mewakili identitas seni nasional. Karya-karya mereka malah dianggap tidak matang secara artistik, terlalu bergantung pada tren asing, dan dianggap sebagai seni demi seni , sebuah penilaian yang memicu protes Black December.

Pada acara penutupan pameran tanggal 31 Desember 1974, terjadi aksi protes yang dilakukan oleh Siti Adiyati bersama empat mahasiswa ASRI peserta lainnya serta sembilan peserta dari luar ASRI. Mereka pertama-tama mengirimkan karangan bunga pemakaman ke upacara penghargaan dengan pernyataan “belasungkawa atas meninggalnya lukisan Indonesia” ( “Ikut sujud cita atas kematian seni lukis kita” ), kemudian berusaha membagikan Black yang ditulis dan ditandatangani

bersama Pernyataan Desember sebelum dipaksa keluar ruangan. Pernyataan tersebut ditandatangani oleh lulusan lain, penulis, penyair, dramawan dan aktor, dengan demonstrasi tersebut mencerminkan gerakan budaya yang lebih luas.

Misalnya, poin kelima dan terakhir dari pernyataan tersebut menguraikan:

Yang sudah terlalu lama menghambat perkembangan seni lukis Indonesia adalah konsep-konsep usang yang masih dianut oleh ‘kemapanan’, pengusaha budaya, dan seniman yang sudah mapan. Demi menyelamatkan seni lukis Indonesia, sudah saatnya kita memberikan penghormatan kepada lembaga ini, yakni mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang pernah terlibat dalam perjuangan seni budaya.

(8)

Upaya mahasiswa dikutuk sebagai serangan terhadap budaya nasional. Hal ini semakin mendorong keterlibatan Ali Sadikin , Gubernur Jakarta saat itu, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengirimkan perwakilannya untuk menyelidiki. Tindakan tersebut mencerminkan ketidakpercayaan yang lebih luas terhadap aktivitas mahasiswa di luar kampus yang muncul pada masa Orde Baru . Sebuah komite dibentuk untuk menginterogasi mahasiswa ASRI yang terlibat, dan Siti Adiyati menerima hukuman akademis atas keterlibatannya.

SUNYI SENYAP DI TENGAH HIRUK PIKUK PASAR Siti Adiyati

Tanggal 22 Juni 1956 terjadi insiden kecil antara Trisno Sumardjo dengan Soedjojono. Dalam diskusi “Sedjarah Senirupa Indonesia” yang dipimpin oleh Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. M Sardjito Dalam Seminar Ilmu dan Kebudayaan di Yogyakarta, Trisno bilang seni tak boleh tercampur dengan politik, Tetapi Sudjojono yang berseni rakyat justru berdiri di Seberang.

Demikian kutipannya :“Tentang sinjalemen sdr. Sumardjo bahwa Kesenian tidak boleh dipengaruhi politik, Saya tanya, sdr. Sumardjo turut nyoblos ? Bagaimana sdr. Trisno ? Kalau sdr.

(9)

Sumardjo Mengatakan bahwa ini tidak penting buat Kesenian, saya bertanya janganlah kita Nangis kalau nasi kita terlalu mahal.”Tonggak sejarah 1956, tentang “seni, demokrasi dan Nasi” yang bermakna simbolik sebagai titik tengah : Persagi 1937 adalah pre-seni, demokrasi dan nasi, dan 1975 atau tiga puluh delapan tahun kemudian muncul Gerakan Seni Rupa Baru.GSRB dengan

“gedhek”nya Moerjoto, atau“putih-di-atas-putih”nya Bonyong, “enceng- Gondok”nya Adiyati atau “pistol-krupuk”nya Harsono adalah salinan seni demokrasi dan nasi. Dari awal Persagi (1937) sampai GSRB (1975), Ada Surat Kepercayaan Gelanggang versi Chairil Anwar (1946), kemudian Konsep Kebudayaan Rakyat (1950) dan Neo-Gelanggang oleh Wiratmo Sukito, dkk dengan nama Manikebu (1963), dan Pernyataan Desember Hitam (1974) Sebagai embrio GSRB.Gegap gempita gerakan dari Persagi sampai GSRB [1937-1975] akan berarti kalau diketahui Bahwa GSRB terakhir, 1987, berjudul

“Pasar Raya Dunia Fantasi”.

Rentang waktu 13 tahun (1974-1987) ini adalah Sejenis gairah hidup sesaat sebelum ajal !! Dan Sejak saat itu, sampai sekarang lahir fase sunyi.Senyap gerakan dan hiruk pikuk pasar Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa sejak awal Lahirnya “gerakan” dalam senirupa, Persagi [1937] Sampai Pasar Raya Dunia Fantasi [1987] kita masih bisa Merasakan detak dan riak itu.

Tetapi sejak manfaat Pembangunan mulai menyirami dunia seni, seperti

(10)

Makin banyaknya kolektor, makin teraturnya pendidikan Seni dan segala kemudahan dengan museum dan Aneka macam pameran, dengan lelang dan limpahan Dolar, mengapa justru riak itu lenyap dan hanya pasar Semata yang hiruk pikuk ?

Ada dua segi yang jelas dapat disampaikan:

1. Sunyi senyap disebabkan ketakmampuan Mengerti-ulang masalah demokrasi, seni dan Nasi dengan gedhek, krupuk serta enceng Gondok.

2. Hiruk pikuk pasar timbul oleh komodifikasi Dan reifikasi seni secara total yang dilakukan Oleh sistem galeri swasta yang dengan cermat Mengatur penawaran/permintaan dengan cara Rarefikasi produk. [Seperti seniman yang sedang “in” tidak boleh menggambar lebih dari dua Atau tiga lukisan dalam setahun, atau sistem ijon Misalnya].

Ketidakmampuan untuk berpikir ulang di tengah Amukan pasar yang semakin tak mengenal batas itulah Akar dari sunyi senyap dan kelinglungan dunia seni Rupa mutakhir kita.

Pameran ulang GSRB ini berfungsi untuk mengenal- Ulang tarikan nafas terakhir gairah seni rupa Indonesia Sebelum ajal yang amat panjang yang menyusulnya Sampai hari ini.

(11)

Sebuah “momento mortis”!!, sebuah garis yang lazim Ditorehkan di pintu kubur yang artinya ‘jangan pernah Lupa akan mereka yang sudah wafat’. Dalam arti yang Lain, sudah waktunya berpikir ulang tentang seni rupa Indonesia

sekaligus menerima kematiannya, dengan Cara dan perspektif berpikir yang lebih memadai

1.2 RUMUSAN MASALAH

1) Apa saja tema yang di gunakan Siti Adiyati subangu saat membuat karya seni nya ?

2) Taknik apa aja yang di gunakan Siti Adiyati Subangu saat membuat karya seni nya ?

3) Bahan dan alat apa yang di gunakan Siti Adiyati subangu saat membuat karya seni nya ?

4) Apa Fungsi dan tujuan karya seni rupa yang dibuat oleh Siti Adiyati Subangu ?

(12)

1.2 MANFAAT DAN TUJUAN

Seni rupa memiliki banyak manfaat dan tujuan, antara lain:

1. Ekspresi: Seni rupa memungkinkan individu untuk mengekspresikan diri mereka melalui kreativitas visual.

2. Komunikasi: Seni rupa bisa menjadi cara untuk berkomunikasi ide, perasaan, dan pengalaman dengan orang lain tanpa menggunakan kata-kata.

3. Penghargaan Estetika: Seni rupa membantu orang untuk menghargai keindahan dalam berbagai bentuk dan konteks.

(13)

4. Refleksi Budaya: Seni rupa sering mencerminkan nilai, tradisi, dan identitas budaya suatu masyarakat.

5. Pengembangan Keterampilan: Melalui praktik seni rupa, seseorang dapat mengembangkan keterampilan teknis dan konseptual.

6. Hiburan dan Rekreasi: Seni rupa bisa menjadi sumber hiburan dan rekreasi yang memperkaya kehidupan sehari-hari.

7. Pengungkapan Ide dan Isu: Seni rupa sering digunakan sebagai alat untuk memperjuangkan ide-ide dan isu-isu sosial, politik, atau lingkungan.

8. Tujuan utama seni rupa adalah untuk memperkaya kehidupan manusia melalui ekspresi kreatif dan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar kita.

TUJUAN SENI RUPA

o Untuk memuaskan batin seniman, atau penciptanya.

(14)

o Untuk memuaskan batin orang lain, atau masyarakatsecara luas dengan tingkat penilaian yang bermacam-macam.

o Untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan ekspresiseniman untuk digunakan dalam kebutuhan sehari-hari.

o Sebagai sarana ritual keagamaan, agama memilikikebudayaan.

o Untuk mengenang sejarah. Sebagai media atau alatuntuk mengenang peristiwa tertentu yang pernah terjadipada kurun waktu terdahulu.

.

BAB 2

PEMBAHASAN

2.3 TEMA

(15)

Siti Adiyati Subangu sering mengangkat berbagai tema yang berfokus pada isu-isu sosial, politik, dan lingkungan dalam karyanya. Beberapa tema utama yang sering muncul dalam karya-karyanya adalah:

Lingkungan dan Alam: Siti Adiyati dikenal karena keprihatinannya terhadap isu- isu lingkungan. Karyanya “Lautan Senyap” adalah contoh nyata bagaimana dia menggunakan seni untuk menyoroti masalah pencemaran dan kerusakan lingkungan laut. Melalui penggunaan bahan plastik, dia menggambarkan dampak negatif sampah plastik terhadap ekosistem laut.

Kritik Sosial dan Politik: Karya-karya Siti Adiyati juga sering mengandung kritik terhadap kondisi sosial dan politik di Indonesia. Dia menggunakan seni sebagai medium untuk mengekspresikan pandangannya tentang ketidakadilan, penindasan, dan isu-isu hak asasi manusia. Karya-karyanya tidak jarang memprovokasi pemikiran dan mengundang penonton untuk merefleksikan keadaan sosial politik di sekitarnya.

Konsumerisme dan Materialisme: Melalui penggunaan bahan-bahan sehari-hari seperti plastik, Siti Adiyati juga mengangkat tema konsumerisme dan materialisme.

Dia menyoroti bagaimana budaya konsumsi yang berlebihan berdampak pada lingkungan dan kehidupan manusia.

(16)

Identitas dan Budaya: Beberapa karya Siti Adiyati mengeksplorasi isu-isu identitas dan budaya, baik secara personal maupun kolektif. Dia sering mengaitkan pengalaman pribadi dengan konteks budaya yang lebih luas, menciptakan karya- karya yang resonan dengan banyak orang.

Dengan menggabungkan teknik-teknik inovatif dan tema-tema yang relevan, Siti Adiyati berhasil menciptakan karya seni yang tidak hanya estetis tetapi juga memiliki pesan mendalam dan kritis terhadap kondisi dunia saat ini.

1.2 TEKNIK

Siti Adiyati Subangu sering menggunakan berbagai teknik dalam karyanya, termasuk:

Instalasi: Siti Adiyati terkenal dengan karya instalasinya, di mana ia memanfaatkan ruang tiga dimensi untuk menciptakan pengalaman yang mendalam bagi penonton.

Instalasi ini sering kali menggunakan berbagai bahan seperti plastik, kaca, kayu, dan logam, memungkinkan interaksi langsung dengan audiens.

Penggunaan Material Sehari-hari: Salah satu teknik khasnya adalah penggunaan bahan-bahan sehari-hari, terutama plastik. Dalam karya seperti “Lautan Senyap”, ia menggunakan lembaran plastik transparan untuk menciptakan efek visual yang

(17)

menggambarkan ombak laut. Penggunaan material ini tidak hanya estetis tetapi juga mengandung kritik terhadap konsumsi berlebihan dan pencemaran lingkungan.

Kolase dan Assemblage: Siti Adiyati juga menggunakan teknik kolase dan assemblage, di mana berbagai bahan dan objek digabungkan menjadi satu karya yang kohesif. Teknik ini memungkinkan eksplorasi tekstur dan bentuk, serta memberikan dimensi tambahan pada karya seninya.

Mixed Media: Karya-karya Siti Adiyati sering kali menggunakan kombinasi berbagai media dan teknik. Dengan menggabungkan bahan-bahan yang berbeda, seperti kain, kertas, plastik, dan logam, ia menciptakan karya seni yang kaya akan variasi dan kompleksitas.

2.3 BAHAN DAN ALAT

Siti Adiyati Subangu dikenal menggunakan berbagai bahan dan alat dalam karya seninya. Berikut beberapa bahan dan alat yang sering ia gunakan:

Bahan

(18)

• Plastik: Siti Adiyati sering menggunakan plastik, terutama dalam karya- karyanya yang mengangkat isu lingkungan. Contohnya adalah penggunaan lembaran plastik transparan dalam karya “Lautan Senyap”.

• Kain dan Tekstil: Kain dan tekstil sering digunakan dalam karyanya, baik sebagai bahan utama maupun tambahan, untuk memberikan tekstur dan kedalaman.

• Logam: Logam digunakan dalam beberapa instalasi dan patungnya untuk memberikan struktur dan ketahanan.

• Kayu: Kayu sering digunakan sebagai bahan dasar untuk instalasi atau struktur pendukung dalam karyanya.

• Kaca: Kaca digunakan dalam beberapa karyanya untuk efek visual dan reflektif, memberikan dimensi tambahan pada instalasinya.

• Kertas: Kertas digunakan dalam kolase dan mixed media untuk menambahkan lapisan dan tekstur.

(19)

• Material Sehari-hari: Siti Adiyati sering menggunakan bahan-bahan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti barang-barang bekas, untuk mengangkat tema konsumsi dan limbah.

Alat

• Gunting dan Pisau Cutter: Digunakan untuk memotong dan membentuk bahan seperti plastik, kain, dan kertas.

• Lem dan Perekat: Lem dan berbagai jenis perekat digunakan untuk menggabungkan berbagai bahan dalam karya kolase dan mixed media.

• Alat Ukur: Penggaris, meteran, dan alat ukur lainnya digunakan untuk memastikan presisi dalam instalasi dan konstruksi.

• Bor dan Alat Pertukangan: Bor, palu, gergaji, dan alat pertukangan lainnya digunakan terutama dalam karya yang melibatkan kayu dan logam.

• Kuasa dan Alat Lukis: Kuas dan alat lukis lainnya digunakan untuk memberikan detail dan tekstur pada bahan yang digunakan.

(20)

• Peralatan Las: Untuk karya yang melibatkan logam, peralatan las digunakan untuk menggabungkan potongan-potongan logam.

Dengan kombinasi bahan dan alat yang beragam ini, Siti Adiyati mampu menciptakan karya seni yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kritis dan mendalam tentang isu-isu sosial, politik, dan lingkungan.

2.1 FUNGSI

Siti Adiyati Subangun adalah seorang seniman kontemporer Indonesia yang terkenal karena karyanya yang kritis terhadap isu-isu sosial, politik, dan lingkungan. Fungsi karya seni rupa yang dibuat oleh Siti Adiyati dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kritik Sosial dan Politik: Banyak karya Siti Adiyati yang berfungsi sebagai kritik terhadap ketidakadilan sosial dan politik di Indonesia. Melalui seni, ia mengangkat isu-isu seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan pelanggaran hak asasi manusia.

(21)

2. Kesadaran Lingkungan: Beberapa karyanya juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu lingkungan. Misalnya, karya instalasinya sering menggunakan material yang tidak konvensional atau daur ulang untuk menggarisbawahi pentingnya pelestarian lingkungan.

3. Pemberdayaan Perempuan: Siti Adiyati juga dikenal karena karyanya yang mempromosikan pemberdayaan perempuan. Ia sering mengeksplorasi tema-tema tentang peran dan hak-hak perempuan dalam masyarakat, menantang norma-norma patriarkal dan mendorong kesetaraan gender.

4. Eksplorasi Estetika dan Medium: Siti Adiyati sering bereksperimen dengan berbagai medium dan teknik dalam karyanya, mulai dari lukisan, instalasi, hingga seni performatif. Fungsi estetik ini tidak hanya untuk memberikan pengalaman visual yang menarik tetapi juga untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam kepada audiens.

(22)

5. Pendidikan dan Kesadaran Publik: Melalui pameran dan partisipasinya dalam berbagai proyek seni, Siti Adiyati juga berperan dalam mendidik dan meningkatkan kesadaran publik mengenai berbagai isu. Karya-karyanya seringkali mengajak penonton untuk merenung dan berdialog tentang isu- isu penting yang diangkat.

6. Contoh karyanya yang terkenal adalah “Manusia dan Alam,” sebuah instalasi yang menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan alam serta dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas manusia. Karya ini mengajak audiens untuk merenungkan dampak dari tindakan mereka terhadap alam dan mendorong perubahan perilaku untuk keberlanjutan lingkungan.

7. Secara keseluruhan, karya-karya Siti Adiyati berfungsi sebagai alat untuk memprovokasi pemikiran, menginspirasi perubahan sosial, dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

(23)

BAB 3

3.1 KARYA SENI

Judul:Eceng Gondok Berbunga Emas Seniman: SITI ADIYATI SUBANGU Tahun : 1979

Eceng Gondok Berbunga Emas (1979, 2017)

Eceng Gondok Berbunga Emas merupakan karya pertama Siti Adiyati yang dipamerkan dalam pameran ke-2 GSRBI di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1979. Ia membuat karya berbentuk kolam yang berisi eceng gondok (Eichhornia crassipes), sebagai metafora atas kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin pada masa pemerintahan Orde Baru. Material eceng gondok diambil dari Kalipasir, Jakarta Pusat, sebuah pemukiman orang-orang miskin kota. Di dalam kolam, Siti

(24)

Adiyati menyebarkan ratusan mawar plastik berlapis emas yang dipertanyakan sebagai representasi parasit nyata dalam hidup masyarakat Indonesia pada masa itu.

Karya Eceng Gondok Berbunga Emas juga dipamerkan kembali di perhelatan Jakarta Biennale 2017. Kali ini, ia mengambil eceng gondok dari empang sebuah perusahaan real-estate di Jakarta Utara.[2] Untuk konteks perhelatan tersebut, karyanya membicarakan tentang konsumerisme yang berlebihan, di mana memunculkan imaji atas akan datangnya suatu masa gemilang.

Buku kumpulan tulisan Dari Kandinsky sampai Wanita (2017)

Dengan jumlah 200 halaman, buku ini memuat tulisan Siti Adiyanti antara 1975- 1977 antara lain tentang peristiwa pameran dan esai-esai kebudayaan. Buku ini diterbitkan di Jakarta Biennale 2017 dengan Hendro Wiyanto sebagai penyunting buku dan salah satu kurator biennale.

3.2 KESIMPULAN DAN PENUTUP

“Dalam mengakhiri paparan kami tentang seniman Siti Adiyati Subangu, kami ingin menegaskan bahwa karyanya tidak hanya mencerminkan keahlian artistik yang luar biasa, tetapi juga menginspirasi pemirsa untuk merenungkan berbagai makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Melalui lukisan, karya seni instalasi,

(25)

dan eksplorasi medium lainnya, Subangu telah berhasil mengeksplorasi tema-tema yang relevan dan menantang, mengundang kita semua untuk mempertanyakan dan memahami dunia di sekitar kita dengan cara yang baru dan berbeda. Dengan begitu, mari kita terus menghargai dan mendukung karya-karya yang menginspirasi dari Siti Adiyati Subangu, serta seniman-seniman lainnya yang memperkaya dunia seni dengan kreativitas mereka.

Sekian dan terimakasih

Referensi

Dokumen terkait

10.1 Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa murni yang dikembangkan dari beragam unsur seni rupa Nusantara dan mancanegara di luar Asia. 10.2 Menyiapkan karya seni rupa yang

- Memahami bahan, media, dan teknik dalam proses berkarya seni rupa - Menerapkan jenis, simbol, dan nilai estetis dalam konsep seni rupa - Membuat karya seni rupa dua

1.1 Merancang karya seni rupa murni dan terapan tiga dimensi yang dikembangkan dari beragam unsur seni rupa Nusantara 1.2 Membuat karya seni rupa murni dan. terapan tiga

1 Dosen Asisten Ahli Institut Seni Budaya Indonesia Aceh 8 S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni/Pengkajian Desain/Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa 4 Jurusan Seni Rupa dan

KLIPING SENI BUDAYA (SENI TARI, SENI MUSIK, SENI RUPA) Disusun dalam rangka menyelesaikan tugas Seni Budaya Tahun Ajaran

Mengekspresikan diri melalui karya seni rupa murni yang dikembangkan dari beragam unsur seni rupa Nusantara dan mancanegara di luar Asia. Menyiapkan karya seni rupa yang

Makalah ini berisikan tentang pengertian seni budaya dan pengertian seni tari, musik, teater dan seni rupa serta cabang seni rupa yaitu seni rupa murni dan terapan.. Semoga makalah

Seni Rupa Standar Kompetensi: - Berkarya seni rupa 2 dua dimensi lukisan/patung/kriya - Memamerkan karya seni rupa yang dibuat dalam sebuah kegiatan pameran di sekolah Kemampuan