NAMA : RADEN RORO DENNISA RAISYA FITRI NIM : 2011102415149
KELAS : UU & ETIKA KEFARMASIAN A
TUGAS UU & ETIKA KEFARMASIAN MODUL 4
1. Jelaskan yang dimaksud dengan pekerjaan kefarmasian berdasarkan PP 51 tahun 2009!
Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 2009 : “Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional”.
• Pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi: Pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi adalah proses yang melibatkan produksi, pengemasan, dan penyediaan obat atau produk farmasi lainnya dengan tujuan memastikan bahwa produk-produk ini memenuhi standar mutu, keamanan, dan efektivitas yang ditetapkan.
• Pengelolaan dan Administrasi Obat: Farmasis juga bertanggung jawab atas manajemen obat di fasilitas kesehatan, termasuk penyimpanan yang aman, perawatan rekam medis obat, dan pengelolaan persediaan obat.
• Penyimpanan obat : Penyimpanan yang tepat penting untuk menjaga kestabilan, efektivitas, dan keselamatan obat. Penyimpanan yang salah dapat merusak obat-obatan dan mengancam kesehatan pasien. proses penyimpanan dan pemeliharaan obat-obatan dan produk farmasi lainnya dalam kondisi yang sesuai. Ini mencakup suhu, kelembaban, pencahayaan, dan lingkungan penyimpanan lainnya.
• Pendistribusian atau penyaluran obat : Pendistribusi atau penyaluran obat adalah proses yang melibatkan pengiriman obat-obatan dari tempat penyimpanan atau fasilitas farmasi ke pihak yang membutuhkan, seperti pasien, rumah sakit, apotek, atau pusat kesehatan.
• Penelitian dalam Bidang Kefarmasian: Pekerjaan kefarmasian juga mencakup penelitian dan pengembangan obat-obatan baru, serta penyusunan pedoman dan standar yang berkaitan dengan farmasi.
• Pemantauan terapi obat : Farmasis berperan dalam memantau dan mengevaluasi penggunaan obat oleh pasien. Mereka dapat memberikan informasi kepada pasien tentang dosis, efek samping, dan interaksi obat.
PP 51 tahun 2009 ini bertujuan untuk mengatur dan mengawasi praktik kefarmasian agar obat-obatan dan produk farmasi lainnya dapat digunakan secara aman, efektif, dan bermutu tinggi. Dengan demikian, pekerjaan kefarmasian melibatkan berbagai peran yang penting dalam sistem kesehatan, yang melibatkan praktisi farmasi,
seperti apoteker, dalam memberikan pelayanan yang berkualitas dalam penggunaan obat-obatan dan produk farmasi kepada masyarakat.
2. Jelaskan perbedaan Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian berdasarkan PP 51 tahun 2009 dan UU 17 tahun 2023 pada aspek berikut:
NO. ASPEK APOTEKER TENAGA TEKNIS KEFARMASIAN 1 Peranan dalam
melakukan pekerjaan
kefarmasian pada fasilitas pelayanan kefarmasian
PP No 51 Tahun 2009 : Pasal 7
1. Pekerjaan
Kefarmasian dalam Produksi Sediaan Farmasi harus memiliki Apoteker penanggung jawab.
2. Apoteker penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/atau Tenaga Teknis Kefarmasian.
PP No. 51 Tahun 2009 Pasal 20 :
“Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Kefarmasian”
UU 17 Tahun 2023 Pasal 199, Ayat 5
“Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga kefarmasian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d terdiri atas tenaga vokasi farmasi, apoteker, dan apoteker spesialis”.
PP No 51 Tahun 2009
Tenaga Teknis
Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker Pasal 21:
“Dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat Apoteker, Menteri dapat menempatkan Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK pada sarana pelayanan kesehatan dasar yang diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat kepada pasien.”
Pasal 34
(1) Tenaga Kefarmasian melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian pada:
a. Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi berupa industri farmasi obat, industri bahan baku obat, industri obat tradisional, pabrik kosmetika dan pabrik lain yang memerlukan Tenaga Kefarmasian untuk menjalankan tugas dan fungsi produksi dan pengawasan mutu;
UU 17 Tahun 2023 : Pasal 320 ayat (6)
“Obat dengan resep diserahkan oleh apoteker di fasilitas pelayanan kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.”
UU 17 Tahun 2023 Pasal 145 Ayat (2)
“Praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi produksi, termasuk pengendalian mutu, pengadaan,
penyimpanan, pendistribusian,
penelitian dan pengembangan Sediaan Farmasi, serta pengelolaan dan pelayanan kefarmasian”
b. Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi dan alat kesehatan melalui Pedagang Besar Farmasi, penyalur alat kesehatan, instalasi Sediaan Farmasi dan alat kesehatan milik Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintah daerah kabupaten/kota; dan/atau c. Fasilitas Pelayanan Kefarmasian melalui praktik di Apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek bersama.
UU 17 Tahun 2023 : Pasal 286, ayat 3, bagian c memuat :
“tenaga vokasi farmasi yang memberikan pelayanan kefarmasian yang menjadi kewenangan apoteker dalam batas tertentu.”
2 Pendidikan yang ditempuh
UU 17 Tahun 2023 Pasal 210
(1) Tenaga Medis harus memiliki kualifikasi pendidikan paling rendah pendidikan profesi.
(2) Tenaga Kesehatan memiliki kualifikasi pendidikan paling rendah diploma tiga.
UU 17 Tahun 2023 Pasal 213
(3) Mahasiswa yang menyelesaikan
pendidikan program vokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang lulus uji kompetensi pada akhir
PP No. 51 Tahun 2009 Pasal 33, ayat 2
Tenaga Teknis
kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten
Apoteker.
Pasal 33, ayat 1
(1) Tenaga Kefarmasian terdiri atas: a.
Apoteker; dan b.
Tenaga Teknis Kefarmasian
masa pendidikan memperoleh sertiflkat kompetensi.
(4)Mahasiswa yang menyelesaikan
pendidikan program profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang lulus uji kompetensi pada akhir masa pendidikan memperoleh sertifikat profesi dan sertifikat kompetensi.
PP No. 51 Tahun 2009 BAB I Ketentuan Umum No. 5
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.
Pasal 36 (1) Apoteker
sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) huruf a merupakan
pendidikan profesi setelah sarjana farmasi.
(3) Standar pendidikan profesi Apoteker terdiri atas:
a. komponen
kemampuan akademik;
dan
b. kemampuan profesi dalam mengaplikasikan Pekerjaan Kefarmasian.
PP No. 51 Tahun 2009 BAB I Ketentuan Umum No. 6
Tenaga Teknis
Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi, dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten
Apoteker.
3 Syarat memperoleh surat tanda registrasi
PP No 51 Tahun 2009 Surat Tanda Registrasi Apoteker selanjutnya disingkat STRA adalah
PP No 51 Tahun 2009 Surat Tanda Registrasi
Tenaga Teknis
Kefarmasian selanjutnya
bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Apoteker yang telah diregistrasi
Pasal 40
Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi persyaratan:
a. memiliki ijazah Apoteker;
b. memiliki sertifikat kompetensi profesi;
c. mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan
sumpah/janji Apoteker;
d. mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik; dan
e. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan Ketentuan etika profesi.
Pasal 49
STRA, STRA Khusus, dan STRTTK tidak berlaku karena:
a. habis masa berlakunya dan tidak diperpanjang oleh yang bersangkutan atau tidak memenuhi persyaratan untuk diperpanjang;
b. dicabut atas dasar ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. permohonan yang bersangkutan;
d. yang bersangkutan meninggal dunia; atau e.
dicabut oleh Menteri atau pejabat kesehatan yang berwenang.
disingkat STRTTK adalah bukti tertulis yang diberikan oleh Menteri kepada Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah diregistrasi
Pasal 47
Untuk memperoleh STRTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian wajib memenuhi persyaratan:
a. memiliki ijazah sesuai dengan pendidikannya;
b. memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktek;
c. memiliki rekomendasi tentang kemampuan dari Apoteker yang telah memiliki STRA di tempat
Tenaga Teknis
Kefarmasian bekerja; dan d. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika kefarmasian.
UU 17 Tahun 2023 Pasal 260
(1) Setiap Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan
yang akan
menjalankan praktik wajib memiliki STR.
(2) STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh Konsil atas nama Menteri setelah memenuhi
persyaratan.
(3) Persyaratan sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) paling sedikit: a.
memiliki ijazah pendidikan di bidang Kesehatan dan/ atau sertifikat profesi; dan b. memiliki sertifikat kompetensi.
(4) STR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku seumur hidup
(5) STR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 260 tidak berlaku apabila:
a. yang bersangkutan meninggal dunia;
b. dinonaktilkan atau dicabut oleh Konsil atas nama Menteri;
atau
c. dicabut berdasarkan putusan pengadilan
yang telah
berkekuatan hukum tetap.