Tumbuhkan Kesadaran Kesehatan Ibu dan Anak
Penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan adalah rendahnya kesadaran kesehatan
OLEH IMAS DAMAYANTI
Kematian kaum ibu di daerah saat melahirkan terbilang tinggi.
Berdasarkan data Sistem Kesehatan Nasional yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada Maret 2022 disebutkan, angka kematian ibu Indonesia adalah 305 jiwa dari 100 ribu kelahiran (sebagai base line pada 2019). Sedangkan target yang harus dicapai pemerintah pada 2024 adalah 183 jiwa per 100 ribu kelahiran.
Salah satu penyebab tingginya angka kematian ibu melahirkan adalah rendahnya kesadaran kesehatan kaum ibu. Eki Riniati, bidan muda yang mengabdi di Desa Lubuk Bangkar, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, mengungkapkan, tiga tahun lalu masih banyak kaum ibu yang enggan melakukan persalinan di bidan atau tenaga
kesehatan.
“Pada awal 2019, itu masyarakat di Desa Lubuk Bangkar sangat
enggan untuk melakukan persalinan di bidan atau tenaga kesehatan.
Mereka lebih nyaman pergi ke dukun dan sama sekali tidak percaya imunisasi,” kata Eki saat dihubungi Republika, Rabu (18/5).
Pada awal 2019, itu masyarakat di Desa Lubuk Bangkar sangat enggan melakukan persalinan di bidan atau tenaga kesehatan. Mereka lebih
nyaman pergi ke dukun.
SHARE
Saat mengabdi sebagai relawan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Eki mencoba untuk meyakinkan masyarakat di desa tersebut untuk lebih sadar akan kesehatan ibu dan anak. Dia meyakinkan masyarakat setempat mengenai pentingnya imunisasi, mengukur kesehatan bayi dan balita, hingga melakukan pemeriksaan rutin kehamilan di
posyandu ataupun puskesmas.
Sayangnya, usaha Eki kerap mendapatkan tantangan. Eki bercerita bagaimana ketika ada satu ibu yang bersedia anaknya untuk
diimunisasi, tapi berselang setelahnya jatuh sakit.
Stigma terhadap imunisasi dan intervensi kesehatan medis pun mulai dipertanyakan kembali oleh masyarakat. “Ketika stigma terhadap imunisasi itu mulai merebak kembali, saya mulai melakukan
pendekatan-pendekatan ke masyarakat dengan door to door,” ujar dia.
Eki mengetuk satu demi satu rumah para ibu. Dia mencoba untuk mensosialisasikan dan juga mengajak kembali kaum ibu untuk kembali memanfaatkan fasilitas medis melalui tenaga kesehatan. Hal yang coba ditawarkan kepada Eki adalah bagaimana menjabarkan
bahaya stunting.
Melalui program pengentasan stunting dan kesehatan ibu serta anak, Eki mulai diterima oleh masyarakat di Desa Lubuk Bangkar. Akses transportasi dan minimnya infrastruktur pedesaan tak memadamkan semangat Eki untuk terjun langsung menyambangi warga.
Sekarang alhamdulillah, mereka kalau lahiran itu sudah mau ke bidan dan
juga tenaga kesehatan meski dengan syarat. Syaratnya, mereka harus
ditemani dukun (beranak).
SHARE
Dia tetap mendatangi warga dari rumah ke rumah. Eki mengajak warga untuk kembali kepada fasilitas kesehatan dan meyakinkan mengenai stigma imunisasi yang buruk bukanlah hal yang benar. Hari demi hari, perjuangan Eki kian membuahkan hasil. Satu demi satu kaum ibu mulai mau memanfaatkan fasilitas kesehatan medis di wilayah tersebut.
“Sekarang alhamdulillah, mereka kalau lahiran itu sudah mau ke bidan dan juga tenaga kesehatan meski dengan syarat. Syaratnya, mereka harus ditemani dukun (beranak). Saya bilang, ya nggak apa-apa. Saya berpikir, secara psikologis mungkin mereka lebih merasa aman dan nyaman kalau ditemani dukun, tapi secara medis mereka telah percayakan ke bidan dan tenaga kesehatan,” kata dia.
Pengabdian Eki untuk menumbuhkan kesadaran kesehatan ibu dan anak kini membuahkan hasil. Sejak pertama kali melakukan
pengabdian di Desa Lubuk Bangkar pada 2019 silam, tingkat
partisipasi masyarakat desa setempat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan medis ibu dan anak telah meningkat sebanyak 90 persen.
DOMPU, KOMPAS.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat 18 kasus kematian bayi usia 0-28 hari dalam empat bulan, Januari-April 2022. "Total kematian bayi dari Januari sampai April 2022 ada 18 kasus. Itu kematian neonatal, artinya bayi usia 0-28 hari," kata Kepala Bidang Kesehatan
Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Anike Kusumawardani, Selasa (17/5/2022). Baca juga: Lagi, Bayi 8 Bulan di Medan Meninggal Diduga Hepatitis Akut Misterius Anike menyebutkan, dari 18 kasus kematian bayi itu, enam kasus di antaranya meninggal akibat asfiksia. Bayi tersebut tidak menangis secara spontan setelah keluar dari rahim ibunya karena masalah pada pernapasan. Sementara untuk 12 kasus lain, kata Anike, kematiannya banyak akibat sepsis, ikterus dan berat badan kurang. Baca juga: Jasad Bayi Ditemukan Tersangkut di Keramba Ikan di Banjar Kalsel "Ini yang tertinggi penyebabnya akibat asfiksia, artinya dia keluar itu dia tidak langsung
menangis secara spontan," ungkap Anike. Anike mengatakan, 18 kasus kematian bayi itu semuanya terjadi di rumah sakit setelah ibu hamil dirujuk tim medis puskesmas.
"Semuanya meninggal di rumah sakit, dirujuknya saat kehamilan dalam proses
persalinan," jelasnya. Kepala Seksi Humas RSUD Dompu, Muhammad Iradat belum bisa menyampaikan secara rinci data kasus kematian bayi sepanjang Januari-Mei 2022.
"Kalau data kematian itu biasanya kita pakai dari Januari ke Desember. Jadi tahun ini belum bisa kita simpulkan," terang Iradat. Iradat tak menampik bahwa angka kematian bayi sepanjang tahun ini sudah melebihi angka 10 kasus di RSUD Dompu. "Jelas sudah nyampai puluhan." "Hasil wawancara saya dengan dokter spesialis dua minggu lalu, rata-rata itu pneumonia sama sepsis. Sepsis itu infeksi dalam organ tubuhnya secara keseluruhan," kata Iradat.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dalam 4 Bulan, Angka Kematian Bayi di Dompu Capai 18 Kasus", Klik untuk
baca: https://regional.kompas.com/read/2022/05/18/073048478/dalam-4-bulan-angka- kematian-bayi-di-dompu-capai-18-kasus.
Penulis : Kontributor Bima, Junaidin Editor : Andi Hartik
Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L