PENERAPAN TEORI KOGNITIVISME DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Monalisa Rahman
Email: [email protected]
Program Studi Pendidikan IPS Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat
Banjarmasin
Abstrak
Teori belajar kognitif berbeda dengan teori behaviorisme, dimana teori kognitif mementingkan proses belajar dari pada hasil dari belajarnya. Teori kognitivisme ini juga lebih menekankan belajar ialah suatu proses yang terjadi dalam pikiran manusia. Pada hakikatnya belajar merupakan suatu usaha yang melibatkan kegiatan mental yang terjadi dalam diri individu sebagai akibat dari proses interaksi dengan lingkungan untuk mendapatkan suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, tingkah laku, pemahaman, keterampilan, nilai perilaku yang bersifat relatif. Teori kognitivisme mengganggap pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa menghiraukan faktor eksternal atau lingkungan. Belajar menurut kognitivisme adalah proses interaksi diri individu dengan lingkungan, dan itu terjadi secara terus-menerus selama hidupnya. Selain itu teori ini juga mengatakan konsep bahwa belajar adalah hasil interaksi yang terus-menerus antara diri individu dengan lingkungan melalui proses penyesuaian peleburan asimilasi dan akomodasi. Teori kognitivisme mengatakan bahwa belajar dilaksanakan individu merupakan hasil interaksi aktivitas mentalnya dengan lingkungan hingga menghasilkan perubahan perilaku dan pengetahuan.
PENDAHULUAN
Teori pembelajaran menyangkut suatu tindakan untuk membimbing dan mengajarkan individu bagaimana caranya siswa mendapatkan pengetahuan dan keterampilan, pandangan hidup, serta pengetahuan akan kebudayaan masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, diperlukan pembahasan atau penjelasan mengenai teori pembelajaran. Teori kognitivisme berbeda dengan teori behaviorisme, dimana teori kognitivisme mementingkan proses belajar dari pada hasil belajarnya (Bahruddin, dkk.
2012: 87). Teori kognitivisme ini juga lebih menekankan belajar ialah suatu proses yang terjadi dalam pikiran manusia. Pada hakikatnya belajar merupakan suatu usaha yang melibatkan kegiatan mental yang terjadi dalam diri individu sebagai akibat dari proses interaksi dengan lingkungan untuk mendapatkan suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, tingkah laku, pemahaman, keterampilan, nilai perilaku yang bersifat relatif (Given, 2014: 188 dalam Nurhadi, 2020: 79-81).
Dalam proses belajar, teori kognitivisme mengganggap pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa menghiraukan faktor eksternal atau lingkungan. Belajar menurut kognitivisme adalah proses interaksi diri individu dengan lingkungan, dan itu terjadi secara terus-menerus selama hidupnya. Selain itu teori ini juga mengatakan konsep bahwa belajar adalah hasil interaksi yang terus-menerus antara diri individu dengan lingkungan melalui proses peyesuaian peleburan asimilasi dan akomodasi. Teori kognitivisme mengatakan bahwa belajar dilaksanakan individu merupakan hasil interaksi aktivitas mentalnya dengan lingkungan hingga menghasilkan perubahan perilaku dan pengetahuan (Nurhadi, 2020: 82).
Di dalam teori kognitivisme, ada dua kajian yang mementingkan proses belajar daripada hasil belajar yakni belajar tidak hanya melibatkan dorongan dan respon tapi juga melibatkan proses berpikir yang sangat komprehesif dan pengetahuan yang dibangun dalam diri ndividu melalui proses saling kontak atau interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan (Suyono, 2011: 75 dalam Nurhadi, 2020: 82).
Teori kognitivisme mempercayai bahwa belajar merupakan pengorganisasian unsur-unsur kognitif dan persepsi untuk mendapatkan pemahaman dan pengetian.
Perilaku individu ditetapkan oleh persepsi dan pemahamannya. Sebaliknya keadaan yang berkaitan dengan tujuan dan perubahan perilaku ditentukan oleh proses berpikir internal yng terjadi dalam proses belajar. Teori ini memfokuskan pada ide atau gagasan bahwa bagian dari keadaan yang terjadi dalam proses belajar saling berkaitan secara menyeluruh. Sehingga keseluruhan keadaan itu terbagi menjadi bagian-bagian kecil dan mempelajarinya secara terpisah, sama halnya dengan kehilangan sesuatu (Muhaimin, dkk. 2012: 199 dalam Nurhadi, 2020: 82-83).
Jadi dalam teori kognitivisme ini terdapat ciri-ciri utamanya, antara lain:
mementingkan apa yang ada dalam diri individu itu sendiri, mementingkan keseluruhan daripada bagian-bagian kecil, mementingkan peranan pengetahuan atau kognitif, mementingkan keadaan waktu sekarang dan mementingkan perwujudan struktur kognitif (Nugroho, 2015: 291 dalam Nurhadi, 2020: 83).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan adalah metode kepustakaan atau studi literatur yaitu dengan menelaah dan memahami isi buku-buku, dokumen, atau sumber ilmiah lainnya
yang relevan dan mendukung untuk mendeskripsikan penerapan konsep teori Kognitivisme dalam proses pembelajaran.
TEORI KOGITIVISME DALAM AKTIVITAS PEMBELAJARAN
Pada dasarnya belajar menurut teori kognitivisme dikatakan sebagai kegiatan belajar yang berhubungan dengan penyusunan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Dalam mengembangkan strategi dan mencapai tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanisme seperti tindakan yang dilakukan dalam pendekatan behaviorisme.
Siswa bebas dan melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar sangat diperhitungkan, supaya belajar lebih berarti bagi siswa. Sebaliknya aktivitas pembelajarannya mengikuti esensial, seperti ini diantaranya: (i) siswa bukan sebagai orang yang dewasa yang mudah dalam proses berpikir, mereka mengalami perkembangan kognitif dengan tahapan tertentu. (ii) siswa akan bisa belajar dengan baik terutama apabila mendengarkan benda-benda konkrit. (iii) siswa secara aktif terlibat dalam belajar sangat penting, sebab jika siswa aktif maka proses asimilasi dan akomodasi kognitif dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. (iv) untuk meningkatkan penyimpanan pengetahuan atau informasi maka perlu menghubungkan pengalaman dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh individu yang belajar. (v) pemahaman dan ingatan akan meningkat apabila materi pelajaran ditata menggunakan pola atau konsep dan atau logika tertentu, dari yang sederhana ke kompleks. (vi) belajar memahami akan lebih berarti daripada belajar dengan menghafal. (vii) selalu memperhatikan siswa atas perbedaan yang ada dalam diri setiap siswa, sebab faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa (Pahliwandari, 2016: 161 dalam Nurhadi, 2020: 89-90).
IMPLEMENTASI TEORI KOGNITIVISME DALAM PEMBELAJARAN
Implementasi teori kognitif dalam pembelajaran. Proses belajar terjadi berdasarkan konsep atau pola tahapan-tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan usia siswa. Proses belajar terjadi melalui tahapan-tahapan diantaranya:
a. Asimilasi
b. Akomodasi, yakni penyesuaian mata dalam menerima bayangan yang jelas dari objek yang berbeda.
c. Equilibrasi, proses belajar lebih ditetapkan oleh cara kita mengatur materi pembelajaran bukan ditetapkan oleh usia siswa. Proses belajar terjadi dengan tahapan-tahapan: enaktif (kegiatan), ekonik (visual-verbal) dan simbolik.
Secara umum teori kognitivisme lebih menekankan bagaimana memahami struktuk kognitif siswa, dan itu tidaklah gampang, dengan memahami struktur kognitifi siswa, maka dengan tepat pelajaran disesuaikan sampai mana kemampuan siswa dalam pembelajaran. Selain itu, metode penyusunan materi pelajaran sebaiknya disusun didasarka pada konsep atau pola dan logka tertentu supaya lebih mudah dimengerti dan sebaiknya dalam proses pembelajaran, materi tidak dihafal melainkan memahami apa saja yang sedang dipelajari (Nurhadi, 2020: 92).
Siswa mengalami peningkatan kemampuan dalam belajar dengan adanya kontak atau interaksi siswa dengan media belajar, berupa media cerita bergambar. Belajar menggunakan meda pembelajaran akan mewujudkan proses penguasaan materi sebab adanya interaksi dalam belajar (Fahyuni, 2011 dalam Nurhadi, 2020: 92).
SIMPULAN
Teori kognitivisme berbeda dengan teori behaviorisme, dimana teori kognitivisme mementingkan proses belajar dari pada hasil dari belajarnya (Bahruddin, dkk. 2012: 87). Teori kognitivisme ini juga lebih menekankan belajar ialah suatu proses yang terjadi dalam pikiran manusia. Pada hakikatnya belajar merupakan suatu usaha yang melibatkan kegiatan mental yang terjadi dalam diri individu sebagai akibat dari proses interaksi dengan lingkungan untuk mendapatkan suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, tingkah laku, pemahaman, keterampilan, nilai perilaku yang bersifat relatif (Given, 2014: 188 dalam Nurhadi, 2020: 79-81).
Dalam proses belajar, teori kognitivisme mengganggap pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa menghiraukan faktor eksternal atau lingkungan. Belajar menurut kognitivisme adalah proses interaksi diri individu dengan lingkungan, dan itu terjadi secara terus-menerus selama hidupnya. Selain itu teori ini juga mengatakan konsep bahwa belajar adalah hasil interaksi yang terus-menerus antara diri individu dengan lingkungan melalui proses penyesuaian peleburan asimilasi dan akomodasi.
Teori kognitivisme mengatakan bahwa belajar dilaksanakan individu merupakan hasil
interaksi aktivitas mentalnya dengan lingkungan hingga menghasilkan perubahan perilaku dan pengetahuan (Nurhadi, 2020: 82).
Jadi dalam teori kognitivisme ini terdapat ciri-ciri utamanya, antara lain:
mementingkan apa yang ada dalam diri individu itu sendiri, mementingkan keseluruhan daripada bagian-bagian kecil, mementingkan peranan pengetahuan atau kognitif, mementingkan keadaan waktu sekarang dan mementingkan perwujudan struktur kognitif (Nugroho, 2015: 291 dalam Nurhadi, 2020: 83).
Dalam mengembangkan strategi dan mencapai tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanisme seperti tindakan yang dilakukan dalam pendekatan behaviorisme. Siswa bebas dan melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar sangat diperhitungkan, supaya belajar lebih berarti bagi siswa.
Implementasi teori kognitif dalam pembelajaran. Proses belajar terjadi berdasarkan konsep atau pola tahapan-tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan usia siswa. Proses belajar terjadi melalui tahapan-tahapan diantaranya asimiliasi, akomodasi dan equilibrasi. Siswa mengalami peningkatan kemampuan dalam belajar dengan adanya kontak atau interaksi siswa dengan media belajar, berupa media cerita bergambar. Belajar menggunakan meda pembelajaran akan mewujudkan proses penguasaan materi sebab adanya interaksi dalam belajar (Fahyuni, 2011 dalam Nurhadi, 2020: 92).
REFERENSI
Abbas, E. W. (2013). Mewacanakan Pendidikan IPS. Mewacanakan Pendidikan IPS.
Porda, H. (2014). Museum sebagai Wahana Pendidikan Karakter di Kalimantan Selatan.
HERI, S. (2013). Pembelajaran Ips Berbasis Multikulturalisme Dalam Membentuk Karakter Kebangsaan.
PUTRO, H. P. N., ANIS, M. Z. A., ARISANTY, D., & HASTUTI, K. P. (2020).
TRADITIONAL South Kalimantan Indonesia Fabrics Contribution On The Regional Economic Development. PalArch's Journal of Archaeology of Egypt/Egyptology, 17(7), 9834-9847.
Putro, H. P. N. (2013). Pengembangan Pembelajaran IPS dalam Kurikulum 2013. Mewacanakan Pendidikan IPS, 39.
Putro, H. P. N. (2020). Revitalisasi Nilai-Nilai Transportasi Tradisional dalam Pembelajaran IPS di Kalimantan Selatan.
Rusmaniah, R., Mardiani, F., Handy, M. R. N., Putra, M. A. H., & Jumriani, J. (2021).
Social Services Based on Institutional for Youth Discontinued School. The Innovation of Social Studies Journal, 2(2), 151-158.
Indriyani, I. E., Syaharuddin, S., & Jumriani, J. (2021). Social Interaction Contents on Social Studies Learning to Improve Social Skills. The Innovation of Social Studies Journal, 2(2), 93-102.
Nurhadi, N. (2020). Teori Kognitivisme serta Aplikasinya dalam Pembelajaran. EDISI, 2(1), 77-95.