• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEORI BELAJAR MEDAN KOGNITIF KURT LEWIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TEORI BELAJAR MEDAN KOGNITIF KURT LEWIN"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam dunia Pendidikan proses belajar mengajar menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan. Banyak hal yang menjadi bahan perhatian dari proses belajar-mengajar tersebut diantaranya penggunaan berbagai metode media bahkan menggunakan ilmu psikologi pendidikan demi mencapai proses belajar-mengajar yang optimal dan relevan/sesuai dengan apa yang di harapkan bersama.1

Maka dari itu dengan adanya psikologi pendidikan baik pendidik maupun peserta didik dapat saling mengerti dengan keadaan tingkah atau perilaku peserta didik dalam dunia pendidikan. Psikologi ialah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Maka dari itu pendidik perlu mengadakan pendekatan kepada peserta didiknya dengan menggunakan teori-teori dalam psikologi pendidikan, salah satunya Teori Medan yang di populerkan oleh Kurt Lewin. Dimana teori ini lebih menjelaskan bagaimana motivasi seseorang peserta didik dalam mengikuti suatu proses belajar-mengajar. Karena dalam dunia pendidikan motivasi sangat diperlukan agar seorang siswa dapat semangat mengikuti suatu proses pembelajaran. Dengan adanya motivasi-motivasi tersebut peserta didik pasti akan memiliki motif-motif untuk mencapai sesuatu dan berusaha untuk mengatasi hambatan-hambatan dalam menggapai hal yang diinginkan oleh seorang peserta didik.

B. Rumusan Masalah

(2)

1. Apa yang di maksud dengan teori belajar Kognitif?

C. Tujuan Penulisan

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Teori Kognitif

Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting dari sains kognitif yang telah memberi kontribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi belajar. Sains kognitif merupakan himpunan disiplin

Secara bahasa Kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare” artinya berfikir.2 Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini

menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia/satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan.

Sedangkan secara istilah dalam pendidikan Kognitif adalah salah satu teori diantara teori-teori belajar dimana belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. Dalam model ini, tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan, dan perubahan tingkah laku, sangat dipengaruhi oleh proses belajar berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.3

Teori belajar ini hadir dan muncul disebabkan para Ahli Psikologi belum puas dengan penjelasan dari teori-teori yang terdahulu. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku seseorang selalu di dasarkan pada kognisi, yaitu suatu perbuatan mengetahui atau perbuatan pikiran terhadap

2 Fauziah Nasution, Psikologi Umum, (Jakarta : Rineka Cipta, 2011), 17

(4)

situasi dimana tingkah laku itu terjadi.4 Teori belajar kognitif lebih

menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, keterampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas. Objek-objek yang di amatinya dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambing yang merupakan sesuatu yang bersifat mental. Misalnya, seseorang menceritakan hasil perjalanannya berupa pengalaman kepada temannya. Ketika dia menceritakan pengalamannya selama dalam perjalanan, dia tidak dapat mennghadirkan objek-objek yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanan itu, dia hanya dapat menggambarkan semua objek itu dalam bentuk kata-kata atau kalimat.5

B. Teori Medan Kognitif Kurt Lewin

Kurt Lewin (1890-1947) menaruh perhatian pada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin memandang bahwa masing-masing individu berada di dalam suatu medan kekuatan, yang bersifat psikologis. Medan kekuatan psikologis dimana individu bereaksi disebut sebagai “Life Space”. Life Space mencakup perwujudan lingkungan dimana individu bereaksi, misalnya: orang-orang yang ia jumpai, objek material yang ia hadapi, serta fungsi-fungsi kejiwaan yang ia miliki.

4 Abu Ahmad & Widodo Aupriyono, Psikologi Belajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2003),

214-215

(5)

Lewin berpendapat bahwa tingkah laku merupakan hasil tindakan antar kekuatan-kekuatan, baik yang dari:

1. Dalam diri individu seperti; tujuan, kebutuhan, tekanan kejiwaan

2. Luar diri individu, seperti;tantangan dan permasalahan.

Dalam medan hidup ini ada sesuatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi untuk mencapainya selalu ada barier atau hambatan. Individu memiliki satu atau sejumlah dorongan dan berusaha mengatasi hambatan untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila individu telah berhasil mencapai tujuan, maka ia masuk ke dalam medan atau lapangan psikologis baru yang di dalamnya berisi tujuan baru dengan hambatan-hambatan yang baru pula. Demikian seterusnya individu keluar dari suatu medan dan masuk ke medan psikologis berikutnya.

Hall dan Lindzey merangkum poin utama Teori Medan Kognitif Lewin sebagai berikut:6

1. Perilaku adalah fungsi dari medan yang ada pada saat perilaku tersebut terjadi. berpertautkan pemahaman dari topologi (lifespace misalnya), psikologi (kebutuhan, aspirasi), dan sosiologi (misalnya medan gaya-motif yang jelas tergantung pada tekanan kelompok). Ketiganya saling berhubungan dalam sebuah tingkah laku. Intinya, teori medan merupakan sekumpulan konsep dimana seseorang dapat menggambarkan kenyataan psikologis. Konsep-konsep teori medan telah diterapkan Lewin dalam berbagai gejala psikologis dan sosiologis, termasuk tingkah laku bayi dan anak 6 Djoko Susilo, M. Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar. (Yogyakarta: Pinus.

(6)

anak, masa adolesen, keterbelakangan mental, masalah-masalah kelompok minoritas, perbedaan perbedaan karakter nasional dan dinamika kelompok.

C. Penggunaan Teori Medan dalam Belajar 1. Belajar sebagai perubahan sistem kognitif

Teori Medan (Field Theory) Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi belajar berada dalam satu medan atau lapangan psikologis. Menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari bahan belajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hanbatan itu yaitu dengan mempelajari bahan belajar tersebut. Apabila hambatan itu telah diatasi, artinya tujuan belajar telah tercapai, maka ia akan masuk ke dalam medan baru dan tujuan baru, demikian seterusnya.

Menurut teori ini belajar berusaha mengatasi hambatan-hambatan untuk mencapai tujuan. Kurikulum sekolah dengan segala macam tuntutannya, berupa kegiatan belajar di dalam kelas, laboratorium, di workshop, di luar sekolah, penyelesaian tugas-tugas, ujian-ulangan dan lain-lain, pada dasarnya merupakan hambatan yang harus diatasi.

Menurut Lewin belajar terjadi akibat adanya perubahan struktur kognitif. Perubahan kognitif adalah hasil dari dua macam kekuatan yaitu struktur medan kognitif dan motivasi internal individu.

Apabila seseorang belajar, maka dia akan tambah pengetahuannya. Artinya tahu lebih banyak dari pada sebelum ia belajar. Ini berarti ruang hidupnya lebih terdiferensiasi, lebih banyak subregion yang dimilikinya, yang dihubungkan dengan jalur-jalur tertentu. Dengan kata lain orang tahu lebih banyak tentang fakta-fakta dan saling berhubungan antara fakta-fakta itu.7

Perubahan struktur pengetahuan (struktur kognitif) dapat terjadi karena ulangan; situasi mungkin perlu diulang-ulang sebelum

(7)

strukturnya berubah. Akan tetapi yang penting bukanlah bahwa ulangan itu terjadi, melainkan bahwa struktur kognitif itu berubah. Dengan pengaturan masalah (problem) yang lebih baik, struktur mungkin dapat berubah dengan ulangan yang sangat sedikit. Hal ini telah terbukti dalam ekserimen mengenai insight. Terlalu banyak ulangan tidak menambah belajar; sebaliknya ulangan itu mungkin menyebabkan kejenuhan psikologis (pychological satiation) yang dapat membawa disorganisasi (kekacauan) dan dediferensiasi (kekaburan ) dalam sistem kognitif.

Perubahan dalam struktur kognitif ini untuk sebagian berlangsung dengan prinsip pemolaan (patterning) dalam pengamatan, jadi disinilah lagi terbukti betapa pentingnya pengamatan itu dalam belajar. Perubahan itu disebabkan oleh kekuatan yang telah intrinsik ada dalam struktur kognitif. Tetapi struktur kognitif itu juga berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan yang ada pada individu. Disinilah terjadi belajar dengan motivasi.

2. Hadiah dan Hukuman menurut Kurt Lewin

Hadiah dan Hukuman merupakan sarana motivasi yang efektif. Tetapi dalam penggunaannya memerlukan pengawasan. Nilai yang baik bagi peserta didik pada umumnya merupakan sesuatu hal yang diinginkan (hadiah). Tetapi, tugas-tugas dalam belajar untuk mencapai nilai tersebut pada umumnya dianggap sebagai hukuman yang mengandung hadiah atau hukuman itu sebagai suatu yang mengandung konflik. 8

(8)

a. Situasi yang mengandung hukuman.

Sebagai contoh: Dalam suatu situasi terdapat seseorang yang harus melakukan suatu pekerjaan yang ia tidak suka atau tidak menyenangkan, karena adanya kebutuhan untuk meninggalkan tugas yang tidak menyenangkan itu. Supaya ia tetap dalam pekerjaan itu maka ada ancaman hukuman kalau dia tak mengerjakan.9

Dalam situasi ini seseorang mengalami konflik antara dua hal yang tidak menyenangkan itu, maka kecenderungannya ialah ia akan meninggalkan situasi yang serba tidak menyenangkan, untuk menghindari dua hal itu. Supaya seseorang tidak meninggalkan medan itu maka harus ada rintangan. Rintangan ini dalam kehidupan biasa adalah kekuasaan, konkretnya lagi, dalam situasi konflik seperti yang digambarkan di atas perlu pengawasan.

b. Situasi yang mengandung hadiah.

Sebagai contoh : Dalam situasi yang mengandung hadiah tidak perlu lagi seseorang dilakukan pengawasan seperti hal diatas, karena sifat menarik hadiah itu akan menahan pribadi seseorang untuk tetap dalam medan tersebut. Tetapi, tantangan perlu diberikan untuk mencegah supaya seseorang tidak langsung mencapai hadiah tersebut tanpa mengerjakan tugas yang harus dikerjakannya. 10

Karena hadiah itu sangat berhubungan dengan aktivitas melaksanakan tugas secara eksternal, maka selalu ada kecenderungan untuk mencari jalan pintas, yaitu mendapatkan hadiah tanpa melaksanakan tugasnya terlebih dahulu. Karena ada

(9)

kecenderungan hal tersebut, maka haruslah dicegah agar seseorang mendapat hadiah dengan jalan yang tidak seharusnya. Karena itu, disini pengawasan sangat diperlukan, tetapi tidak sekeras pengawasan pada situasi yang mengandung hukuman.

3. Masalah berhasil dan gagal

Kurt Lewin lebih setuju penggunaan istilah sukses dan gagal dari pada istilah hadiah dan hukuman. Sebab apabila tujuan-tujuan yang akan kita capai itu adalah intrinsik, maka kita lebih tepat menggunakan istilah berhasil atau gagal daripada terminologi hadiah dan hukuman. Istilah hadiah dan hukuman lebih dekat pada pendekatan nonpsikologis sedang istilah sukses dan gagal merupakan kajian dalam pendekatan psikologis. Secara psikologis yang penting memang adalah bagaimana yang dialami individu dalam menghadapi suatu problem. Suatu pengalaman sukses haruslah dimengerti sesuai dengan apa yang telah dikerjakan atau dicapai oleh seseorang (pelajar). Misalnya seorang pelajar yang merasa sukses karena naik kelas dengan nilai terbaik. Namun ada pula yang tetap merasa sukses karena ia naik kelas walau tidak dengan nilai terbaik.11

4. Sukses memberi mobilisasi energi cadangan

Kurt Lewin beranggapan bahwa dinamika kepribadian itu dikarenakan oleh adanya energi dalam diri seseorang yang disebut energi psikis. Energi psikis inilah yang dipergunakan untuk berbagai aktivitas seperti mengamati, mengingat, berpikir dan sebagainya. Dalam keadaan sehari-hari, hanya sedikit saja energi psikis yang dipergunakan dan sisanya tersimpan sebagai energi cadangan. Apabila orang mendapat pengalaman sukses, maka akan terjadi mobilisasi energi cadangan sehingga kemampuan individu untuk menyelesaikan problem bertambah. Oleh sebab itu secara praktis sangat dianjurkan

(10)

untuk sebanyak mungkin memberikan kesempatan kepada para peserta didik kita supaya mereka mendapatkan pengalaman sukses.12

D. Evaluasi konsep Medan kognitif

Kritik terhadap teori Lewin dapat dikelompokkan dalam 5 topik yaitu: 1. Lewin tidak mengelaborasi pengaruh lingkungan luar atau lingkungan

obyektif,memang dikemukakan sifat bondaris antara lingkungan psikologis dengan lingkungan obyektif yang permenable, namun hal ini tidak diikuti oleh penjelasan dinamika bagaimana lingkungan luar itu mempengaruhi region-region atau menjadi region baru.

2. Lewin kurang memperhatikan sejarah individu pada masa lalu sebagai penentu tingkah laku. Ini merupakan resiko teori yang mementingkan masa kini dan masa yang akan datang. Teori ini juga terlalu bersibuk diri dengan aspek-aspek yang mendalam dari kepribadian sehingga mengabaikan tingkah laku motoris yangnampak dari luar.

3. Lewin menyalahgunakan konsep ilmu alam dan konsep matematika. Memang tidak mudah memahami jiwa dengan memakai rumus-rumus matematika. Bahkan Lewin berani mengambil resiko dengan memakai istilah-istilah dalam matematikadan fisika untuk dipakai dalam psikologi dengan makna yang sangat berbedadengan makna aslinya. 4. Penggunaan konsep-konsep topologi telah menyimpang dari arti

sebenarnya. Penggambaran topologis dan vaktorial dari Lewin tidak mengungkapkan sesuatu yang baru tentang tingkah laku.

5. Banyak konsep dan konstruk yang tidak didefinisikan secara jelas sehingga memberikan arti yang kabur.13

12Ibid, 187

(11)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan Teori Belajar kognitif dapat kami simpulkan sebagai berikut :

1. Pandangan Teori Belajar Kognitif adalah:

2. Elemen terpenting dalam proses belajar adalah pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu.

3. Perilaku manusia tidak ditentukan oleh stimulus yang berada diluar dirinya, melainkan oleh faktor yang ada pada dirinya sendiri.

4. Belajar sebagai proses pemfungsian unsur-unsur kognisi terutama pikiran, untuk dapat mengenal dan memahami stimulus yang datang dari luar. Dengan kata lain, aktivitas belajar manusia ditentukan pada proses internal dalam berpikir yakni pengolahan informasi.

· Belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral yang bersifat jasmaniah meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa.

· Teori belajar kognitif lebih menekankan arti penting proses internal, mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak, tak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental, seperti : motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.

B. Saran

(12)
(13)

DAFTAR PUSTAKA

Abu Ahmad & Widodo Aupriyono, Psikologi Belajar, Jakarta : Rineka Cipta, 2003.

Al Rasyidin & Wahyudin Nur Nasution, Teori Belajar dan pembelajaran, Medan :Perdana Publishing, 2011.

Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.2004.

Djoko Susilo,M. Gaya Belajar Menjadikan Makin Pintar. Yogyakarta: Pinus.

2006

Fauziah Nasution, Psikologi Umum, Jakarta : Rineka Cipta, 2011.

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003.

Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers. 2011.

Referensi

Dokumen terkait

• BELAJAR: memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri secara optimal.. • Mementingkan isi yang dipelajari dari pada

Jadi proses kognitif adalah runtutan perubahan yang melibatkan aktivitas mental, baik yang berupa tindakan yang disadari maupun yang tidak sepenuhnya disadari untuk

Implikasi hasil eksperimen tersebut pada kegiatan belajar manusia adalah bahwa belajar pada dasarnya membentuk asosiasi antara stimulus dan respons secara reflektif, proses

Namun pada dasarnya ketiga jenis konflik kognitif yang dikemukakan oleh Siegel terebut merupakan suatu konflik yang terjadi akibat pemahaman-pemahaman terhadap

Sedangkan Lev Vygotsky (1896-1934) menekankan bagaimana proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran menggunakan

Menurut aliran teori belajar kognitif, belajar adalah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki oleh individu.. Sehingga

Hakikat belajar menurut teori kognitif merupakan suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Atau

Meninjau hal diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa belajar adalah suatu usaha yang dilakukan dengan sengaja dan merupakan proses yang kompleks yang terjadi pada