EFEKTIVITAS PENYULUH DALAM PROGRAM PENGUATAN MODAL MELALUI LEMBAGA USAHA EKONOMI PEDESAAN (LUEP)
DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DI DESA BENTENG PALIOI KECAMATAN KINDANG
KABUPATEN BULUKUMBA
HASBIAH 105921019408
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2013
EFEKTIVITAS PENYULUH DALAM PROGRAM PENGUATAN MODAL MELALUI LEMBAGA USAHA EKONOMI PEDESAAN (LUEP)
DALAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS DI DESA BENTENG PALIOI KECAMATAN KINDANG
KABUPATEN BULUKUMBA
HASBIAH 105921019408
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Petanian Strata Satu (S-1)
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skriprsi yang berjudul :
Efektivitas Penyuluh Dalam Program Penguatan Modal Melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (Luep) Dalam Pengembangan Agribisnis Di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba
adalah benar merupakan hasil karya yang belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Makassar, Maret 2013
Hasbiah
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Efektivitas Penyuluh dalam Program Penguatan Modal melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dalam Pengembangan Agribisnis di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba
Nama Mahasiswa : Hasbiah Nomor Induk Mahasiswa : 10592109408 Program Studi
Konsentrasi
: :
Agribisnis
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Disetujui :
Pembimbing I Pembimbing II
Ir. Nailah Husain, M.Si Ir. Rosanna, MP
Diketahui
Dekan Fakultas Pertanian Ketua Prodi Agribisnis
Ir. Saleh Molla, M.M. Syamsia, S.P.,M.Si
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi : Efektivitas Penyuluh dalam Program Penguatan Modal melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dalam Pengembangan Agribisnis di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba
Nama Mahasiswa : Hasbiah Nomor Induk Mahasiswa : 10592109408 Program Studi
Konsentrasi
: :
Agribisnis
Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
SUSUNAN TIM PENGUJI
NAMA TANDA TANGAN
1. Ir Nailah Husain, M.Si (...) Ketua Sidang
2. Ir. Rosanna,M.P . (...) Sekretaris
3. Dr. Ir. Kasifah, M.P (...) Anggota
4. Jumiati, S.P, M.M (...) Anggota
ABSTRAK
HASBIAH 10592109408, Efektivitas Penyuluh dalam Program Penguatan Modal melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dalam Pengembangan Agribisnis Beras di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Dibawah bimbingan NAILAH HUSAIN dan ROSANNA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas penyuluh terhadap pelaksanaan program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) dalam pengembangan agribisnis beras di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Pengambilan data dilakukan dengan dua cara yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan bantuan kuesioner kepada responden yang memanfaatkan dana penguatan modal melalui LUEP. Sedangkan data sekunder meliputi data monografi dan profil wilayah penelitian untuk mengetahui informasi sektor pertanian yang berasal dari pemerintahan setempat.
Pengambilan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling yaitu suatu metode dimana semua anggota sampel dianggap memiliki karasteristik yang sama sehingga siapapun yang diambil dapat mewakili populasinya. Sampel yang diambil adalah 10% dari jumlah populasi (316 orang) sebanyak 30 orang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat efektivitas penyuluh dalam program Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk perencanaan kurang efektif, pelaksanaan belum efektif, dan pengawasan tidak efektif.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur tiada henti hentinya kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menganugrahkan berbagai nikmat kepada kami di dalam dunia ini, baik berupa nikmat kesehatan, kesempatan, dan tentunya nikmat umur yang panjang, sehingga dalam penyusunanan skripsi yang berjudul
“Efektivitas Penyuluh dalam Program Penguatan Modal melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dalam Pengembangan Agribisnis Beras di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba “ dapat terselesaiakan dengan baik.salam dan salawat senantiasa tecurahrahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir, yang telah membawa umatnya pada kehidupan yang diterangi ilmu pengetahuan .
Skripsi ini disusun sebagai salah satu tugas akhir untuk memperoleh gelar sarjana pada jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis mengucapkan terimahkasih kepada :
1. Bapak Ir. H. Saleh Molla, M.M selaku dekan fakultas pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar beserta staf.
2. Ibu Hj. Syamsia SP, M.Si, selaku ketua jurusan Agribisnis pertanian, Fakultas Pertanian , Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Ibu Ir. Hj. Nailah Husain, M.Si dan Ibu Ir. Rosanna, MP selaku Dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu bagi penulis dalam membimbing dan memberi masukan serta arahan kepada penulis.
4. Bapak, ibu penguji yang memberikan masukan dan keritikan pada saat ujian skripsi.
5. Seluruh dosen, staf dan pegawai di lingkungan jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah membantu dalam proses perkuliahan, administrasi dan penyusunan skripsi.
6. Terkhusus buat Ayahnda dan Ibunda tersayang yang banyak memberikan doa, dorongan, perhatian dan kasih sayangnya dengan tulus selama ini untuk segera menyelesaikan studi.
7. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini yang tidak sempat disebutkan.
Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat bagi pembaca utamanya
bagi penulis. Amin ………
Bulukumba, Februari 2013
Penulis
Hasbiah
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PENGESAHAAN ... i
ABSTRAK ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
2.1. Efektivitas Penyuluh ... 6
2.2. Program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) ... 8
2.3. Pengembangan Agribisnis Beras ... 18
2.4. Kerangka Pikir Penelitian ... 21
III. METODE PENELITIAN ... 23
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 23
3.2. Populasi dan Sampel ... 23
3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 24
3.4. Analisis Data ... 24
3.5. Konsep Operasional ... 25
IV. KEADAAN UMUM WILAYAH ... 27
4.1. Letak Geografis dan Topografi ... 27
4.2. Kedaaan Tanah dan Iklim ... 27
4.3. Potensi Sumber Daya Manusia ... 28
4.4. Potensi Sumberdaya Lahan ... 32
4.5. Sarana dan Prasarana ... 33
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 35
5.1. Karakteristik Responden ... 35
5.2. Efektivitas Pelaksanaan Program DPM-LUEP ... 38
VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 61
6.1. Kesimpulan ... 61
6.2. Saran ... 61
DAFTAR PUSTAKA ... 62
LAMPIRAN ... 64
DAFTAR TABEL
No. Halaman
Teks
1. Jumlah Penduduk berdasarkan Tingkat Umur dan Jenis Kelamin di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang
Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 29 2. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Desa Benteng
Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 30 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencahariaan di Desa Benteng
Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 31 4. Pola Penggunaan Lahan di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang
Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 32 5. Jenis dan Jumlah Sarana dan Prasarana di Desa Benteng Palioi
Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 33 6. Pengelompokan Umur Petani Responden di Desa Benteng Palioi
Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 35 7. Pengelompokan Tingkat Pendidikan Responden di Desa Benteng
Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 36 8. Pengelompokan Pengalaman Responden di Desa Benteng Palioi
Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 37 9. Tanggapan Responden Terhadap Perecanaan Berdasarkan Tujuan
dan Sasaran Program DPM-LUEP di Desa Benteng Palioi
Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 40 10. Tanggapan Responden Terhadap Perecanaan Berdasarkan
Penjadwalan Kegiatan Program DPM-LUEP di Desa Benteng
Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 43 11. Tanggapan Responden Terhadap Penggunaan Dana LUEP diDesa
Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 47 12. Tanggapan Responden Terhadap Penggunaan Dana dalam
Mendekatkan Mitra Petani dengan Pasar di Desa Benteng Palioi
Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 48 13. Tanggapan Responden Terhadap Pemanfaatan Dana berdasarkan
Kesesuaian Jadwal Pencairan di Desa Benteng Palioi
Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 50 14. Tanggapan Responden Terhadap Pemanfaatan berdasakan
Kesesuaian Jadwal Pemgenbalian DPM-LUEP di Desa Benteng
Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 53 15. Tanggapan Responden Terhadap Pengawasan Fungsional Program
DPM-LUEP di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang
Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 55 16. Tanggapan Responden Terhadap Pengawasan Masyarakat Program
DPM-LUEP di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang
Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 56 17. Tanggapan Responden Terhadap Pengawasan Internal Program
DPM-LUEP di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang
Kabupaten Bulukumba, 2013 ... 59
DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
Teks
1. Kerangka Pemikiran ... 22
DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
Teks
1. Identitas Responden ... 64 2. Kuesioner Penelitian ... 66
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sasaran pembangunan pertanian berupaya diwujudkan melalui tiga program pembangunan yaitu program peningkatan ketahanan pangan, pengembangan agribisnis dan peningkatan kesejahteraan petani. Peningkatan produksi padi ternyata belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Kondisi ini ditambah dengan keterbatasan petani dalam mengakses berbagai layanan seperti pembiayaan usahatani serta sulitnya pemasaran produk petani.
Pada saat panen raya, jumlah produksi pertanian melimpah melebihi jumlah permintaan, sehingga menyebabkan harga jual di tingkat produsen menjadi tertekan turun. Sebaliknya, pada musim paceklik ketersediaan pangan di tingkat produsen sangat rendah, sehingga harga hasil produksi menjadi mahal. Fluktuasi harga seperti itu dapat mempengaruhi pendapatan petani sebagai produsen bahan pangan. Petani tidak mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi pada saat panen sehingga peristiwa seperti itu dapat menurunkan kesejahteraannya (Amang, dan Sawit, 2009).
Salah satu kebijakan pemerintah dalam menolong petani adalah kebijakan harga output yang dikenal dengan HPP (Harga Pembelian Pemerintah). Tetapi kebijakan HPP saat panen dianggap masih rendah dan informasi mengenai HPP tidak sampai kepada petani, sehingga penetapan HPP nasional terkadang kurang memberikan solusi yang berarti. Sehingga pemerintah memberikan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk
menolong petani dalam rangka stabilisasi harga gabah terutama pada saat panen raya. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pemberian dana talangan kepada LUEP untuk meningkatkan kemampuannya dalam membeli gabah/beras petani, dengan harga yang wajar dan mengacu pada HPP (Gunawan, 2004).
Penguatan modal usaha melalui program LUEP dimanfaatkan dan digulirkan dari dan untuk pelaku pertanian yang mengalami keterbatasan modal dalam pengembangan agribisnis beras. Pemanfaatan dana LUEP dilakukan dalam format bergulir dalam rangka pengembangan agribisnis beras yang dapat meningkatkan kewirausahaan dan pengembangan usaha ekonomi produktif.
Pencapaian sasaran LUEP dicapai jika pencapaian tingkat kesulitan yang dihadapi petani dalam permodalan usaha dapat teratasi (Basyid, 2006).
Untuk menjamin agar program ini efektif mencapai tujuan dan sasaran sebagaimana diharapkan, maka dalam setiap tahapan kegiatan hendaknya mengacu pada petunjuk pelaksanaan DPM-LUEP sebagai pedoman dalam menentukan setiap langkah dan tindakan pelaksanaan program. Program DPM- LUEP dirancang mulai tahap perencanaan kegiatan, pengorganisasian kegiatan, pelaksanaan kegiatan serta pemantauan dan evaluasi. Program LUEP di Provinsi Sulawesi Selatan mendapat bantuan penguatan modal pada lembaga usaha ekonomi pedesaan yang melibatkan kelompok tani di kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan.
Salah satu daerah yang sangat potensial sebagai penghasil beras di Sulawesi Selatan adalah Kabupaten Bulukumba. Daerah ini dikenal sebagai lumbung pangan karena potensi luas dan produksi padi relatif besar dibandingkan
dengan daerah lainnya. Dan salah satu daerah yang cukup potensial sebagai daerah penghasil padi adalah Kecamatan Kindang yang memiliki luas lahan sawah sekitar 13,28% dari total luas lahan sawah di Kabupaten Bulukumba (Anonim,2011).
Berdasarkan potensi tersebut, maka Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu wilayah sasaran program DPM-LUEP yang berjalan sejak tahun 2003 sampai sekarang. Namun keberhasilan program tersebut secara siginifikan belum menunjukkan dampak positif terhadap tingkat kesejahteraan petani. Hal ini dapat disebabkan beberapa faktor. Pertama, program ini belum dapat meningkatkan pendapatan petani karena pencairan dana yang belum tepat waktu. Kedua, LUEP belum dapat menetapkan harga diatas lembaga non-LUEP seperti tengkulak atau pedagang pengumpul.
Ketiga, petani belum bersedia menjual gabahnya kepada LUEP karena faktor- faktor internal dari diri petani sendiri.
Program pembangunan pertanian termasuk di dalamnya penyuluhan pertanian, diharapkan dapat memberi kontribusi bagi pemberdayaan masyarakat yaitu meningkatkan kemampuan untuk menangani permasalahan dihadapi secara mandiri, terciptanya kesejahteraan masyarakat berkeadilan, dan tidak ada kelompok/golongan yang memiliki kesempatan dan hak yang timpang baik laki- laki maupun perempuan. Kebutuhan penyuluhan timbul dari kondisi masyarakat desa pada umumnya dan masyarakat petani pada khususnya yang harus selalu ditingkatkan, karena adanya kesenjangan antara kenyataan dan kondisi yang diinginkan.
Penyuluhan adalah proses penyebarluasan informasi yaitu berkaitan peningkatan produktivitas, pendapatan petani dan perbaikan kesejahteraan keluarga/masyarakat, yang diupayakan melalui kegiatan pembangunan pertanian.
Dalam penyelenggaraan penyuluhan, perlu diperhatikan adalah pesan, penggunaan media atau metode sesuai dengan kondisi masyarakat sasaran, sumber inovasi atau materi informasi yang diterima, kondisi sasaran serta efek atau pengaruh diharapkan dari program penyuluhan.
Program DPM-LUEP tentu saja masih banyak petani tidak tahu dan belum mengerti tentang pentahapan yang akan dilakukan. Oleh karena itu perlu ada sosialisasi dan memberikan pemahaman kepada para petani penerima bantuan modal yang disiapkan oleh DPM-LUEP. Peran ikut serta penyuluh pertanian diharapkan memberikan pengertian dan pemahaman kepada petani dengan memberikan informasi dan mensosialisasikan maksud dan tujuan program DPM- LUEP.
Dari uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang mengacu pada
“Efektivitas Penyuluh terhadap Program Penguatan Modal melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) dalam Pengembangan Agribisnis di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah “Bagaimana tingkat efektivitas penyuluh terhadap pelaksanaan program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan
(DPM-LUEP) dalam pengembangan agribisnis” di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba.
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini ialah mengetahui tingkat efektivitas penyuluh terhadap pelaksanaan program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) dalam pengembangan agribisnis ” di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba.
Sedangkan kegunaannya diharapkan :
1. Berguna bagi pemerintah dalam menetapkan kebijakan bantuan pendanaan lembaga usaha ekonomi pedesaan (LUEP) khususnya di Kabupaten Bulukumba.
2. Berguna bagi pengusaha khususnya penggilingan padi untuk menambah modal kerja dalam melaksanakan aktivitas kegiatannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Efektivitas Penyuluh
Penyuluhan pertanian adalah pemberdayaan petani dan keluarganya beserta masyarakat pelaku agribisnis melalui kegiatan pendidikan non formal di bidang pertanian agar mereka mampu menolong dirinya sendiri di bidang ekonomi, sosial, maupun politik sehingga peningkatan pendapatan dan kesejahteraan dapat dicapai (Anonim, 2012).
Kegiatan penyuluhan pertanian meliputi (1) memfasilitasi proses belajar petani dan keluarganya serta perilaku agribisnis (2) memberikan rekomendasi dan mengihtiarkan akses petani dan keluarganya ke sumber-sumber informasi dan
sumberdaya yang akan membantu dalam memecahkan masalah yang dihadapi, (3) membantu menciptakan iklim berusaha yang menguntungkan, (4)
mengembangkan agribisnis petani menjadi organisasi sosial ekonomi yang tangguh dan (5) menjadikan kelembagaan penyuluhan sebagai lembaga mediasi terutama yang menyangkut teknologi untuk kepentingan petani beserta keluarganya serta masyarakat pelaku agribisnis (Adjid, 2010).
Menurut Hafsah (2002), di dalam negeri reformasi pembangunan nasional dengan pemberlakuan undang-undang no 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan undang-undang no 25 tahun 2000 tentang pembiayaan pusat dan daerah. Hal ini dirancang untuk mewujudkan otonomi daerah berdasarkan prakarsa dan aspirasi masyarakat dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sendiri. Kondisi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam
pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang menyangkut kepentingan petani dan nelayan serta keluarganya dengan inisiatif petani nelayan atau masyarakat tani sendiri, guna menyesuaikan dengan perubahan-perubahan tersebut, maka penyuluhan pertanian perlu mereformasi diri untuk dapat mewujudkan tuntutan perubahan dan tetap relevan dengan perkembangan yang terjadi diera globalisasi ini. Perubahan strategi ini menuntut adanya paradigma baru dalam penyuluhan.
Penyuluhan pertanian sebagai suatu sistem pendidikan yang dibebankan kepada Penyuluh Pertanian dalam prakteknya memegang peranan sebagai pendidik, pemimpin dan penasehat. Penyuluhan pertanian dilaksanakan untuk menambah kesanggupan para petani dalam suatu kelompok tani yang mengelola usahanya untuk memperoleh hasil-hasil yang diharapkan (Adjid, 2010).
Adjid (2010), dalam proses penyuluhan pertanian itu ada dua pihak, yaitu pihak yang memberi dan pihak yang menerima. Banyak atau kurangnya hasil proses antara kedua belah pihak tergantung dari adanya kesesuaian pengertian antara kedua belah pihak, dan keadaan atau kemampuan penyuluh pertanian dalam memberi informasi yang sering disebut dengan istilah efektivitas.
Dalam proses melaksanakan peranannya dalam kegiatan kelompok tani seringkali seorang petugas penyuluh lapangan dihadapkan pada masalah waktu dan luas wilayah binaan, sehingga tugas dan tangung jawabnya kadang tidak efektif.
2.2. Program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP)
Salah satu instrumen yang digunakan pemerintah untuk menjaga tingkat harga gabah dan beras yang terjadi adalah dengan memberikan bantuan modal bagi usaha perdesaan untuk membeli gabah/beras dari petani. Pada Tahun Anggaran 2003, Departemen Pertanian dengan dukungan Komisi III DPR-RI, telah mengembangkan kegiatan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk melakukan pembelian gabah/beras petani pada saat panen raya. Melalui penguatan modal ini, kemampuan LUEP untuk membeli gabah/beras petani dengan harga yang wajar menjadi meningkat. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang signifikan bagi upaya stabilisasi harga gabah di tingkat petani. Selanjutnya, melalui pelaksanaan kegiatan ini diharapkan pula dapat meningkatkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, wilayah, dan nasional (Mulyani, 2007).
Femina (2006), mengemukakan Dana Penguatan Modal untuk Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk membantu petani memperoleh harga sesuai HPP (Harga Pembelian Pemerintah).
Melalui kegiatan ini pemerintah mengalokasikan sejumlah dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai dana talangan kepada LUEP untuk membeli gabah petani pada saat panen raya minimal sesuai HPP. Kegiatan DPM-LUEP telah dilaksanakan sejak tahun 2003.
Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan yang memperoleh DPM, dapat berbentuk koperasi, koperasi tani (Koptan), Koperasi Unit Desa (KUD), lumbung pangan, dan pengusaha penggilingan padi yang bergerak dalam pengolahan,
penyimpanan, maupun pemasaran gabah. Manfaat dari diterimanya DPM-LUEP tidak boleh berhenti sampai pada penguatan modal, tetapi harus diteruskan kepada petani berupa pembelian gabah pada waktu yang tepat dan harga yang lebih baik.
Penggunaan DPM oleh LUEP harus memenuhi “Lima Tepat” (Mulyani, 2007) yakni:
1. Tepat Pemanfaatan: DPM-LUEP hanya dapat dimanfaatkan untuk pembelian gabah dari petani, bukan untuk keperluan lain.
2. Tepat Sasaran: pembelian dengan dana DPM harus langsung kepada petani/kelompok tani – bukan dari pedagang atau pihak lain.
3. Tepat Waktu: LUEP bertanggungjawab dalam pembelian gabah/beras kepetani pada saat harga jatuh, terutama pada panen raya dan mengembalikan dana talangan tepat pada waktunya.
4. Tepat Harga: Pembelian gabah petani oleh LUEP pada harga sesuai dengankontrak dan mengacu kepada HDPP.
5. Tepat Jumlah: LUEP menggunakan DPM minimal sesuai dengan kontrak.
Berdasarkan lima manfaat tersebut, maka diharapkan penggunaan dana LUEP dapat dimanfaatkan secara berulang-ulang untuk membeli gabah dan mengembalikan dana tersebut dalam jumlah yang utuh.
Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan bersifat komplementer dan diharapkan saling memperkuat dengan kegiatan serupa yang telah dilaksanakan oleh daerah, serta mendorong daerah mengalokasikan/meningkatkan dana APBD, baik APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten. Kegiatan ini akan bersinergi dengan kegiatan lainnya seperti kegiatan
lumbung desa modern, sistem tunda jual dan pengadaan gabah/beras dalam negeri oleh bulog.
Dana penguatan modal disalurkan kepada LUEP dalam bentuk pinjaman tanpa bunga untuk digunakan secara berulang melalui kontrak dengan kelompok tani untuk pembelian gabah/beras sampai masa akhir pinjaman, dengan mengikuti mekanisme pencairan, mekanisme penyaluran dan mekanisme pengembalian.
1. Tujuan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM- LUEP)
a) Melakukan pengendalian dalam rangka menjaga stabilitas harga gabah/beras yang diterima oleh petani pada tingkat yang wajar
b) Mendekatkan petani terhadap pasar melalui kerjasama LUEP dengan petani/kelompok tani
c) Menumbuhkembangkan dan menggerakkan kelembagaan usaha ekonomi pedesaan
d) Memperkuat posisi daerah dalam ketahanan pangan
2. Sasaran Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) ada dua yaitu
Sasaran Umum
a) Terlaksananya pembelian gabah/beras oleh LUEP sesuai dengan harga referensi pemerintah
b) Terjalinnya hubungan kerjasama LUEP dengan petani/kelompok tani c) Berkembangnnya kelembagaan usaha ekonomi pedesaan
d) Menguatnya posisi daerah dalam ketahanan pangan wilayah
Sasaran Kegiatan
b) Petani dan kelompok tani yang tergabung dalam kelompok tani yang bermitra dengan LUEP yang bergerak dibidang perdagangan gabah/beras c) Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan yang memanfaatkan dan
mengembalikan dana penguatan modal tepat waktu dan jumlah 3. Mekanisme Pengelolaan
Pengelolaan dana pengutan modal lembaga usaha ekonomi pedesaan (DPM-LUEP) sebagaiamana diatur dalam keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor : 149/KPTS/OT.140/3/2004 tentang pedoman umum Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan untuk pengendalian harga gabah/beras petani tahun 2004 sebagai berikut :
a) Menteri Pertanian melalui Badan Bimas Ketahanan Pangan Departemen Pertanian mengalokasikan anggaran kegiatan ke 19 Provinsi termasuk Provinsi Sulawesi Selatan, dan menetapkan bendahara penerima pengembalian DPM-LUEP pada Bimas Ketahanan Pangan Departemen Pertanian
b) Menteri keuangan melalui Direktorat Jenderal Anggaran menerbitkan surat edaran pelaksanaan kegiatan DPM-LUEP
c) Badan Bimas Ketahanan Pangan Departemen Pertanian bertanggungjawab dalam pengelolaan kegiatan DPM-LUEP dan melakukan koordinasi teknis dengan istansi terkait ditingkat pusat dan daerah
d) Gubernur Sulawesi Selatan dengan kesepakatan Menteri Pertanian bertanggung jawab dalam penerimaan, penyaluran, pengembalian dan pelaporan pelaksanaan kegiatan DPM-LUEP.
e) Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang ditetapkan oleh Gubernur untuk melaksanakan penetepan pembinaan LUEP, mengkordinasikan tim teknis Provinsi, menyampaikan laporan secara berkala kepada menteri pertanian dan Gubernur Sulawesi Selatan serta bertanggung jawab dalam pengelolaan kegiatan DPM-LUEP
f) Bupati lokasi DPM-LUEP atas kesepakatan dengan Gubernur Sulawesi Selatan bertanggung jawab dalam penerimaan, penyaluran/pemanfaatan dan pengembalian DPM termasuk pembinaan dan mengkordinasikan Tim Teknis Kabupaten, mengawasi pelaksanaannya serta menyampaikan laporan secara berkala kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan tembusannya kepada Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan g) Pemimpin Proyek PKKPM Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan
pengelolaan proyek baik administrasi keungan maupun realisasi fisik dan bertanggung jawab kepada Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan
h) Bendaharawan Proyek PKKPM Provinsi Sulawesi Selatan selain bertanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan proyek, juga berdasarkan keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan melaksanakan penerimaan pengembalian DPM-LUEP untuk selanjutnya disetor ke rekening bendahara penerima pengembalian DPM-LUEP Badan Bimas Ketahanan Pangan Departemen Pertanian
i) Tim Teknis Pusat dengan anggota berbagai istansi Pemerintah terkait.
Dikoordinasi oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan sesuai dengan
penetapan menteri Pertanian, maleksanakan dan bertanggungjawab dalam monitoring, evaluasi, pelaporan dan pengendalian
j) Tim teknis Provinsi Sulawesi Selatan dengan anggota berbagai istansi Pemerintah terkait. Dengan Surat Keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, melaksanakan dan bertanggungjawab dalam identifikasi, verifikasi, pemberian rekomendasi, pembinaan, monitoring, evaluasi pelaporan dan pengendalian.
k) Tim teknis Tingkat Kabupaten dengan anggota berbagai istansi pemerintah terkait, dengan Surat Keputusan Bupati, melaksanakan dan bertanggungjawab dalam identifikasi, pemberian rekomendasi, pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan
l) LUEP dalam bentuk koperasi, Koperasi Tani, Koperasi Unit Desa, Lumbung Desa Modern, pengusaha penggilingan padi dan pengusaha/pedagang gabah, yang ditetapkan oleh Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan untuk membeli gabah petani dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah.
m) Kelompok tani adalah kumpulan petani yang berusaha melakukan kerjasama dengan LUEP dalam penjualan gabah/beras dan disertai dengan tanda bukti kontrak kerjasama dengan LUEP.
4. Mekanisme Pelaksanaan
Penyelenggaraan DPM-LUEP dilakukan melalui tiga mekanisme yang saling terkait yaitu :
1). Mekanisme Pencairan Dana
Pencairan Dana Modal Penguatan Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan untuk pembelian gabah/beras petani dilakukan melalui mekanisme Daftar isian proyek dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :
a) Menteri Pertanian menyampaikan surat permintaan kepada Menteri Keuangan tentang percepatan penerbitan DIP anggaran DPM-LUEP untuk pembelian gabah/beras petani di 19 Provensi termasuk Provinsi Sulawesi Selatan pada DIP proyek kelembagaan dan Ketahanan Pangan Masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan.
b) Dirjen Anggaran berdasarkan rekomendasi Menteri Keuangan tentang percepatan DIP, menerbitkan surat edaran mengenai mekanisme pencairan DPM-LUEP untuk disampaikan kepada Kanwil Dirjen Anggaran dan PKPN di 19 Provinsi
c) Menteri Pertanian melakukan penandatanganan surat Keputusan Kerjasama dengan Gubernur Sulawesi Selatan tentang pengelolaan DPM- LUEP
d) Gubernur Sulawesi Selatan menetapkan Badan Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan sebagai penanggungjawab teknis pengelolaan DPM-LUEP
e) Gubernur Sulawesi Selatan menunjuk Pimpro dan bendaharawan proyek PKKPM Provinsi Sulawesi Selatan yang bertanggung jawab sebagai pengelola proyek, dan penerima pengembalian dana DPM-LUEP
f) Bendaharawan proyek PKKPM Provensi Sulawesi Selatan menyetor hasil pengembalian DPM-LUEP kerekening bendahara
g) Badan Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi Selatan yang ditunjuk oleh Gubernur menetapkan LUEP sebagai peserta DPM-LUEP dengan proses penetapan yang sesuai dengan aturan
h) Pemimpin proyek PKKPM Sulawesi Selatan mengajukan SPP-LS kepada KPKN Makassar
i) KPKN Makassar menerbitkan SPM-LS untuk mentransfer DPM-LUEP kepada Giro I Luep pada salah satu Bank Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tempat LUEP
2). Mekanisme Penyaluran Dana
a) Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan menandatangani surat keputusan kerjasama dengan Bupati tentang penggunaan DPM-LUEP.
b) Dana yang telah diterima LUEP melalui rekening Giro I di Bank pelaksana Kabupaten, dapat dicairakan LUEP dengan tahapan mekanisme sebagai berikut:
- LUEP mangajukan usulan penarikan DPM-LUEP ke Bank pelaksana berdasarkan rekomendasi Bupati atau Tim teknis tingkat Kabupaten, untuk tahap pertama usulan pengambilan dan oleh LUEP hanya diperkenankan maksimal 40 persen dari nilai kontrak
- Pencairan dana untuk tahap berikutnya dapat dilaksanakan setelah penggunaan pencairan tahap pertama dipertanggungjawabkan dan
berdasarkan rekomendasi Bupati dan atau Tim teknis Tingkat Kabupaten sesuai penilaian kinerja LUEP
- Berdasarkan usulan penarikan dana oleh LUEP dan rekomendasi Bupati dan atau Tim Teknis Kabupaten, bank pelaksana mentransfer ke rekening Giro II LUEP.
- LUEP dapat mencairkan DPM-LUEP dari rekening Giro II untuk selanjutnya digunakan untuk pembelian gabah/beras petani sesuai dengan perjanjian kontrak jual beli dengan kelompok tani mitra
- Penggunaan dana oleh LUEP sekurang-kurangnya dua kali putaran disertai dengan bukti kontrak pemeblian gabah/beras petani
3) Mekanisme Pengembalian Dana
a) Selambat-lambatnya tanggal 15 Desember 2004 LUEP wajib mengembalikan DPM-LUEP sebesar dana yang diterima ke rekening bendaharawan PKKPM Provinsi Sulawesi Selatan. Namun demikian sesuai dengan hasil kesepakatan berdasarkan kondisi bahwa telah terjadi gagal panen padi rendengan (April-Agustus) akibat musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga pengembalian dana dikembalikan selambat-lambatnya tanggal 14 April 2005 dengan harapan dana LUEP dapat dimanfaatkan pada musim panen gabah (November-April 2005)
b) Dana pengembalian LUEP yang diterima bendaharawan PKKPM provinsi Sulawesi Selatan, disetor ke rekening bendaharawan penerima
pengembalian DPM-LUEP selambat-lambatnya sat kali dua puluh empat jam.
c) Pimpro PKKPM Provinsi Sulawesi Selatan mengembalikan jaminan /agunan LUEP yang telah mengembalikan DPM lunas tepat waktu, yang dinyatakan dengan berita acara serah terima jaminan/agunan.
Untuk mengukur nilai keberhasilan kegiatan program LUEP, digunakan beberapa indikator kinerja (Mulyani, 2007), yaitu:
1. Indikator Output:
Volume pembelian gabah/beras oleh LUEP meningkat minimal sebesar alokasi dana yang diterima, dan waktu pengembalian lunas tepat waktu. Dalam pelaksanaannya indikator output diukur melalui:
a) Pencairan DPM oleh LUEP tepat waktu, jumlah, dan sasaran;
b) Pemanfaatan DPM untuk pembelian gabah/beras petani sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah;
c) Putaran DPM untuk pembelian gabah/beras oleh LUEP minimal satu kali;dan
d) Pengembalian DPM tepat waktu dan tepat jumlah.
2. Indikator Outcome:
Harga yang diterima petani daerah sentra produksi semakin baik dan usaha LUEP di pedesaan semakin berkembang. Dalam pelaksanaannya indicator outcome diukur melalui:
a) Harga yang diterima petani padi di wilayah sasaran kegiatan DPM-LUEP dibandingkan Harga Dasar Pembelian oleh Pemerintah (HDPP).
b) Meningkatnya aktivitas penjualan dan pemasaran LUEP.
3. Indikator Benefit:
Harga gabah/beras semakin stabil dan agribisnis perberasan semakin berkembang. Dalam pelaksanaannya lebih ditekankan pada harga gabah/ beras yang terkendali di wilayah sasaran kegiatan DPM-LUEP.
4. Indikator Dampak:
Pendapatan petani padi meningkat yang dapat memantapkan ketahanan pangan wilayah.
2.3 Pengembangan Agribisnis Beras
Pengembangan komoditi pangan khususnya padi cukup baik bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis, permintaan agar peluang ekspor komoditas pangan cenderung meningkat dari tahun ke tahun, baik untuk memenuhi kebutuhan pangan utama.
Sasaran pengembangan komditi padi adalah berswasembada beras yang bersifat “on trend”, mengekspor bila terjadi surplus produksi. Disamping itu pengembangan usahatani padi dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negri dan luar negri.
Produksi padi Indonesia dimasa-masa mendatang dapat menjadi swasembada beras. Cita-cita swasembada beras ini belum sepenuhnya berhasil karena laju persediaan produksi belum mampu mengimbangi peningkatan konsumsi (Indianti, 2004).
Rukmana (2007) mengemukakan bahwa usaha pokok yang ditempuh meningkatkan produksi beras nasional antara lain melalui program ekstensifikasi, intensifikasi, diverifikasi, dan rehabilitasi. Disamping itu, untuk menjamin keberhasilan pengamanan produksi berswasembada beras dapat ditempuh langkah- langkah operasional sebagai berikut:
1. Pengembangan daerah sentra produksi beras yang diproyeksikan di provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa timur, Sulawesi Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumatra Utara, Bali, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur.
2. Meningkatkan penggunaan benih unggul bermutu tinggi secara tepat jenis, jumlah, waktu, mutu, tempat dan harga.
3. Meningkatkan kegiatan penyuluhan tentang perbaikan budidaya dan pascapanen padi
Produksi utama usaha tani tanaman jagung adalah biji – biji jagung merupakan sumber karbohidrat yang potensial untuk bahan pangan ataupun non pangan. Produksi sampingan berupa batang, daun dan kelobot dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak pupuk kompos (Heriyanto, 2004).
Menurut Musa (2002) menyatakan bahwa program pengembangan beras adalah upaya yang perlu mendapat prioritas mengingat komoditas tersebut peranannya cukup strategis dalam menunjang sistem ketahanan pangan. Untuk itu peningkatan produksi dan produktivitas perlu dipacu melalui pendekatan; 1) intensifikasi khusus adalah suatu pola intensifikasi yang dilakukan oleh kelompok tani berdasarkan hamparan usaha tani dengan menerapkan paket teknologi yang
dianjurkan. 2) perluasan panen tanam yang kegiatannya menitik beratkan kepada indeks peningkatan pertanaman.
Soekartiwi (2001) menyatakan bahwa konsep agribisnis sebenarnya adalah suatu konsep yang utuh mulai dari proses produksi, mengolah hasil pemasaran dan aktivitas lain yang berkaitan dengan pertanian.
Selanjutnya Arsyad (2005) mengemukakan bahwa yang dimaksud agribisnis adalah suatu kegiatan yang meliputi salah satu atau keseluruhan mata rantai produksi, pengolahan hasil dadam pemasaran. Yang ada hubungannya dengan pertanian arti luas. Dari definisi ini kemudian kegiatan agribisnis dikategorikan sebagai berikut:
1. Sub sistem pengadaaan dan penyaluran sarana produksi 2. Sub sistem produksi usahatani dan pengolahan hasil 3. Sub sitem pemasaran dan hasil distribusi
4. Sub sistem lembaga pendukung
Saleh (2003) yang menyempurnakan definisi tersebut dengan menjadi enam sub yakni; 1) Sub sistem organisasi produsen, 2) Sub sistem produksi yakni kegiatan produksi pertanian primer (on farm), 3) Sub sistem pembiayaan mencakup pendanaan kegiatan usahatani yang didukung oleh lembaga - lembaga keuangan, 4) Sub sistem pengolahan yakni kegiatan prosesing hasil-hasil pertanian melalui agroindustri, 5) Sub sistem pemasaran yaitu suatu kegiatan pendistribusian produk agribisnis dari produsen ke konsumen dan 6) Sub sistem sumber daya manusia yaitu suatu kegiatan yang berfungsi untuk meningkatkan
kemampuan dan wawasan produsen dan petani serta aparat pendukung dalam agribisnis.
2.4 Kerangka Pikir
Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) adalah salah satu sarana pemasaran hasil pertanian khususnya tanaman pangan (gabah/beras), yang dibutuhkan petani padi untuk mempermudah penjualan hasil panennya. Kegiatan dalam LUEP merupakan merupakan kegiatan seluruh pelaku agribisnis dan tidak akan terlepas dari peran petani padi sebagai produsen.
Pemerintah mengucurkan dana penguatan modal bagi LUEP dalam rangka pembelian/pemasaran gabah/beras dengan tujuan menjaga stabilitas harga gabah/beras dalam tingkat yang wajar, selain itu juga untuk mendekatkan petani terhadap pasar melalui kerjasama antara LUEP dengan kelompok tani serta dapat menumbuhkembangkan kegiatam masyarakat melalui kelembagaan usaha ekonomi pedesaan.
Nampak bahwa Dana Penguatan Modal Lembaga Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) dalam proses implementasi masih menemui beberapa kendala dan permasalahan yang disebabkan oleh tiga faktor yaitu pertama faktor perencanaan yang kurang memahami kondisi lapangan, kedua belum efektifnya pelaksanaan kegiatan, ketiga belum efektifnya sistem pengawasan.
Berdasarkan beberapa faktor yang menjadi kendala dalam pemberdayaan masyarakat melalui dana penguatan lembaga usaha ekonomi pedesaan tersebut, maka tingkat efektivitas pelaksanaan program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) di dalam mendukung program
pengembangan agribisnis komoditi beras dianalisis melalui tingkat efektivitas perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program DPM-LUEP. Seperti pada gambar skema kerangka pikir sebagai berikut :
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Efektivitas Penyuluh Dalam Program Penguatan Modal Melalui Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (Luep) Dalam Pengembangan Agribisnis Di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba
PROGRAM PEMERINTAH
DPM-LUEP
PERENCANAAN 3.Penentuan Tujuan
dan Sasaran 4.Penentuan Jadwal
Kegiatan
PELAKSANAAN 4. Menjaga Stabilitas
Harga
5. Mendekatkan Petani dengan Pasar
6. Kegiatan Jadwal Pencairan dan pengembalian Dana
PENGAWASAN 4. Pengawasan
Fungsional 5. Pengawasan
Masyarakat 6. Pengawasan
Internal
PENYULUH
MASYARAKAT PETANI
TINGKAT EFEKTIFITAS PENYULUH PROGRAM PEMERINTAH
DPM-LUEP
PERENCANAAN 1.Penentuan Tujuan
dan Sasaran 2.Penentuan Jadwal
Kegiatan
PELAKSANAAN 1. Menjaga Stabilitas
Harga
2. Mendekatkan Petani dengan Pasar
3. Kegiatan Jadwal Pencairan dan pengembalian Dana
PENGAWASAN 1. Pengawasan
Fungsional 2. Pengawasan
Masyarakat 3. Pengawasan
Internal
III. METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Penelitian dilakukan selama dua bulan yaitu pada bulan November – Desembar 2012. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan desa tersebut merupakan kecamatan yang mendapat program DPM-LUEP serta menjadi sentra produksi padi di Kabupaten Bulukumba.
3.2. Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh petani yang tergabung dalam kelompok tani yang memanfaatkan DPM-LUEP, pada wilayah penelitian, sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang ditentukan berdasarkan teknik pengambilan sampel dengan metode simple random sampling yaitu suatu metode dimana semua anggota sampel dianggap memiliki karasteristik yang sama sehingga siapapun yang diambil dapat mewakili populasinya (Mardikanto, 2001).
Pemberdayaan masyarakat di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba melalui DPM-LUEP dimanfaatkan oleh salah satu usaha penggilingan padi yang bermitra dengan 10 kelompok tani dengan jumlah anggota/petani sebanyak 316 orang. Sehingga berdasarkan metode pengambilan sampel, maka sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari jumlah populasi (316 orang) sebanyak 30 orang.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan responden yang memanfaatkan dana penguatan modal melalui LUEP. Data primer meliputi data kuantitatif (lahan, tenaga kerja, produksi) dan data kualitatif yang diperoleh dari wawancara dengan responden dan observasi langsung di lokasi. Data primer pun dikumpulkan dari lembaga yang menerima program DPM-LUEP untuk mengetahui pelaksanaan program ini di Kabupaten Bulukumba. Sedangkan data sekunder yang meliputi data monografi dan profil wilayah penelitian untuk mengetahui informasi sektor pertanian yang berasal dari pemerintahan setempat.
3.4. Analisis Data
Untuk menganalisis permasalahan yang ada maka digunakan analisis deskriptif kualitatif yaitu menggambarkan variabel-variabel penelitian secara deskriptif melalui tabel frekuensi dengan analisis persentase. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan antara variabel dengan tingkat efektivitas penggunaan DPM-LUEP juga dapat dilakukan dengan melalui tabel frekuensi dan persentase dengan menggunakan tabel silang. Untuk menentukan efektif atau tidaknya pelaksanaan dana LUEP maka digunakan kategori keefektivan yaitu :
1. Efektif/berhasil yaitu pencapaian hasil sangat maksimal (Skor 4) 2. Cukup efektif yaitu pencapaian hasil cukup maksimal (Skor 3) 3. Kurang efektif adalah pencapaian hasil kurang maksimal (Skor 2)
4. Tidak efektif/tidak berhasil adalah pencapaian hasil jauh dari sasaran program (Skor 1)
Menurut Baharuddin dan Arif Tiro (2002) bahwa klasifikasi sebutan efektif adalah sebagai berikut :
- Nilai tertinggi = skor tertinggi (4) x jumlah kriteria (4) = 16 - Nilai terendah= skor terendah (1) x jumlah kriteria (4) = 4 Nilai Jarak = = 3
1. Tidak efektif = 4 + 3 = 7. Rentang skor = 3 – 7 (0% – 25%) 2. Kurang efektif = 8 + 3 = 11. Rentang skor = 8 – 11 (26% – 50%) 3. Cukup efektif = 12 + 3 = 15. Rentang skor = 12 – 15 (51% – 75%) 4. Efektif = 16 + 3 = 19. Rentang skor = 16 – 19 (76% – 100%) 3.5 Definisi Operasional
1. Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) adalah lembaga yang bergerak dalam usaha distribusi dan pemasaran hasil pertanian (gabah) yang bermitra dengan kelompok tani.
2. Penguatan Modal Usaha melalui LUEP adalah Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) untuk melakukan pembelian gabah/beras petani pada saat panen raya.
3. Kinerja LUEP adalah keberhasilan program LUEP dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
4. Efektivitas program DPM-LUEP adalah pencapaian tujuan dan sasaran dalam hal perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program.
5. Perencanaan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan secara sistematis terhadap kegiatan yang akan dilakukan oleh
Pengelola Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM- LUEP).
6. Pelaksanaan adalah aktivitas yang dilakukan untuk melaksanakan semua rencana dan kebijakan yang telah dirumuskan dan ditetapkan DPM-LUEP.
7. Pengawasan adalah aktivitas pengamatan dan pengukuran terhadap pelaksanaan pengelolaan DPM-LUEP oleh aparat pengawas fungsional, maupun masyarakat serta internal.
8. Pendekatan petani dengan pasar adalah pembelian gabah petani oleh LUEP pada saat petani ingin menjual gabahnya.
9. Jadwal pencairan dana adalah pencairan dana LUEP sesuai dengan pedoman pelaksanaan DPM-LUEP dan juga sesuai jadwal panen petani.
10. Jadwal pengembalian dana adalah kegiatan mengembalikan dana sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan melalui pedoman pelaksanaan DPM- LUEP.
IV. KEADAAN UMUM WILAYAH
4.1 Letak Geografis dan Topografi
Desa Benteng Palioi merupakan salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba dengan luas wilayah 572 hektar yang berjarak 7 km dari ibukota kecamatan, 17 km dari ibukota kabupaten, dan 179 km dari ibukota propinsi.
Desa Benteng Palioi secara administratif terbagi atas beberapa dusun yakni dusun Tapolloa, Kaluku, Belleanging, Buhung Batua dan Palioi, dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Anrang Kecamatan Rilau Ale - Sebelah Timur berbatsan dengan Desa Bukit Harapan
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mattirowalie - Sebelah Barat Berbatasan dengan Desa Garuntengge 4.2 Kedaaan Tanah dan Iklim
Jenis tanah yang terdapat di Desa Benteng Palioi terdiri dari 5 jenis yaitu jenis tanah alluvial, andosol, latosol, mediteran dan regosol, dimana derajat keasaman tanah (pH) bervariasi antara 5 – 7.
Sedangkan kondisi iklim berdasarkan catatan stasiun penangkar curah hujan yang dikelola oleh Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba, maka data curah hujan tertinggi pada wilayah Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang mencapai 283,15 mm dan curah hujan terendah pada bulan Agustus yang hanya mencapai
36,10 mm. Suhu minimum rata-rata 200C dan suhu maksimum 300C dengan rata- rata suhu 250C.
4.3 Potensi Sumber Daya Manusia
Jumlah penduduk Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba sebesar 4287 jiwa, yang terdiri dari 2043 jiwa berjenis kelamin laki- laki dan 2244 jiwa berjenis kelamin perempuan, dengan jumlah kepala keluarga 1343 kk. Potensi sumber daya manusia di lokasi penelitian diklasifikasikan dalam kategori berdasarkan golongan umur, berdasarkan tingkat pendidikan, dan berdasarkan mata pencaharian.
a. Jumlah Penduduk Berdasarkan Golongan Umur
Data jumlah penduduk Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah Penduduk berdasarkan Tingkat Umur dan Jenis Kelamin di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Umur (Tahun)
Laki-laki (jiwa)
Perempuan (jiwa)
Jumlah (jiwa)
Persentase (%) 1
2 3 4 5 6 7
0 – 5 7 – 14 15 – 20 21 – 26 27 – 45 46 – 60 61 keatas
206 229 199 331 485 450 143
225 298 183 313 589 475 161
431 527 382 644 1074
925 304
10,05 12,29 8,91 15,02 25,05 21,58 7,09
Jumlah 2043 2244 4287 100,00
Sumber : Kantor Desa Benteng Palioi, 2013
Tabel 1 menunjukkan bahwa persentase terbesar adalah penduduk dengan golongan umur 27 – 45 tahun sebanyak 1.074 jiwa atau 25,05%, sedangkan terkecil adalah penduduk dengan golongan umur 61 tahun ketas sebanyak 304
Undang-Undang Kependudukan dikatakan bahwa golongan usia produktif adalah usia antara 14 – 60 tahun, maka dalam Tabel 4 tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk produktif sebesar 3.552 jiwa atau 82,86%. Hal tersebut menunjukkan bahwa umumnya kisaran umur penduduk di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba berada pada golongan usia produktif.
b. Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Keadaan penduduk di Desa Benteng Palioi khususnya yang berhubungan dengan potensi sumberdaya manusia, juga dilihat dari tingkat pendidikan formal yang pernah dilalui, sehingga secara rinci, keadaan penduduk di wilayah penelitian berdasarkan tingkat pendidikan formal, disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi Penduduk menurut Tingkat Pendidikan di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Tingkat Pendidikan Jumlah
(orang)
Persentase (%)
1. Tidak/Belum Tamat SD 2.888 67,37
2. Tamat SD 944 22,02
3. Tamat SLTP 319 7,44
4. Tamat SLTA 101 2,36
5. Akademi/Sarjana 26 0,61
Jumlah 4.287 100,00
Sumber : Sumber : Kantor Desa Benteng Palioi, 2013
Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berpendidikan SD sebanyak 67,37%, SLTP sebanyak 22,02%, SLTA sebanyak 7,44% dan
Akademi/Sarjana sebanyak 0,61%. Data tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba relaltif masih sangat rendah, karena selain tingkat pendidikan SD adalah tingkat pendidikan terbesar diantara semua jenjang pendidikan yang pernah
diiukuti penduduk, juga terdapat 67,37% penduduk yang tidak dan atau belum tamat SD.
c. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2011, sebagian besar masyarakat di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba melakukan kegiatan perekonomian pada sektor perdagangan, jasa dan pertanian. Sebagian besar penduduk Desa Benteng Palioi memiliki mata pencaharian sebagai petani dan sebagian lainnya memiliki pekerjaan sebagai buruh tani, peternak, pekebun, pedagang, pegawai, tukang dan ABRI, selengkapnya ditunjukkan pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencahariaan di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Mata Pencahariaan Jumlah
(jiwa) Persentase (%) 1
2 3 4 5 6 7 8
Petani Buruh Tani Peternak Pekebun Pedagang Pegawai Tukang ABRI
354 98 125 198 349 58 21 5
36,19 10,02 12,78 20,25 35,69 5,93 2,15 0,51
Jumlah 978 100,00
Sumber : Kantor Desa Benteng Palioi, 2013
Tabel 3 menunjukkan bahwa umumnya (36,19%) penduduk di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba bermata pencaharian sebagai petani. Sedangkan jenis mata pencaharian lainnya adalah buruh tani 10,02%, peternak 12,78%, pekebun 20,25%, pedagang 35,69%, pegawai 5,93%, tukang 2,15% dan ABRI 0,51%. Hal ini menunjukkan bahwa jenis mata
penelitian, sehingga jika dihubungkan dengan pengembangan usahatani kakao, maka tersedia potensi sumberdaya tenaga kerja.
4.4 Potensi Sumberdaya Lahan
Potensi sumber daya lahan di wilayah Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang berubungan dengan pola pemanfaatan tanah. Pemanfaatan lahan merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan manusia, begitu pula fungsi tanah bagi tumbuh-tumbuhan yaitu di samping sebagai tempat tumbuh tanaman, juga merupakan gudang unsur hara dan penggunaan lahannya sebagian besar untuk keperluan tani. Untuk lebih jelasnya secara rinci penggunaan lahan di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Pola Penggunaan Lahan di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Penggunaan Tanah Luas
(ha)
Persentase (%) 1
2 3 4 5 6
Lahan Sawah
Pekarangan/bangunan Pemukiman
Perkebunan Lainnya Ladang/Tegal
16,00 20,15 201,0 8,00 10,6 316,25
2,80 3,52 35,14
1,40 1,85 55,29
Jumlah 572,00 100,00
Sumber : Kantor Desa Benteng Palioi, 2013
Tabel 4 menunjukkan bahwa luas wilayah Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba sebesar 572 Ha dengan pola penggunaan lahan antara lain adalah lahan sawah seluas 16,00 Ha, pekarangan/bangunan seluas 20,15 Ha atau 3,52%, pemukiman seluas 201 Ha atau 35,14%, perkebunan seluas 8,00 Ha atau 1,40%, ladang atau tegal seluas 316,25 Ha atau 55,29% dan Lainnya seluas 10,6 Ha atau 1,85%.
4.5 Sarana dan Prasarana
Aktivitas dan kegiatan suatu desa tergantung dari sirkulasi perekonomian desa, oleh sebab itu sarana dan prasarana sosial ekonomi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam bidang pembangunan di suatu desa. Untuk lebih jelasnya sarana dan prasarana yang tersedia di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jenis dan Jumlah Sarana dan Prasarana di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah
1 2 3 4 5 6
Sekolah Taman Kanak-kanak Sekolah Dasar
Mesjid Musallah Pesantren
Kantor Pemerintahan
1 3 7 4 1 1 Sumber : Kantor Desa Benteng Palioi, 2013
Tabel 5 menunjukkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan, perekonomian, sosial dan perhubungan yang terdapat di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba belum memadai.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Responden 1. Umur
Faktor umur merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam kesehatan, baik dalam berfikir maupun berbuat dan bertindak. Semakin tua usia petani, maka kemampuan kerjanya relatif manurun. Walaupun disisi lain, petani yang berusia tua biasanya lebih banyak pengalaman dibandingkan petani yang relatif muda.
Petani yang berusia muda, biasanya bersifat dinamis, yakni lebih berani menanggung resiko untuk memperoleh pengalaman berusahatani. Petani yang relatif tua, mempunyai kapasitas pengolahan usahatani yang lebih matang dan memiliki banyak pengalaman. Hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa umur petani responden yang termuda 21 tahun dan yang tertua berusia 60 tahun. Lebih jelasnya pengelompokan umur petani responden dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pengelompokan Umur Petani Responden di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Kelompok Umur
(Tahun) Jumlah
(orang) Persentase (%) 1
2 3
< 30 31 – 45
> 46
11 12 7
36,67 40,00 23,33
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah diolah, Tahun 2013
Hasil penelitian Tabel 6 menunjukkan bahwa responden di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba dengan kelompok umur 30 - 45 tahun lebih besar (40%) dibanding responden dengan kelompok umur kurang
dari 30 tahun dan lebih dari 45 tahun. Namun secara keseluruhan, hal ini tidak berpengaruh terhadap aspek sosial dan ekonomi pemberdayaan petani responden melalui program DPM-LUEP, karena umumnya mereka berada pada kelompok umur produktif.
2. Tingkat Pendidikan
Kisaran pendidikan responden di lokasi penelitian sangat bervariasi yakni dari tingkat pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Tingkat Atas, Pengelompokan tingkat pendidikan responden di lokasi penelitian secara rinci disajikan dalam Tabel 7.
Tabel 7. Pengelompokan Tingkat Pendidikan Responden di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Tingkat Pendidikan Jumlah
(orang)
Persentase (%) 1
2 3 4
SD SMP SMA Sarjana
10 10 8 2
33,33 33,33 26,67 6,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah diolah, Tahun 2013
Tingkat pendidikan petani responden (Tabel 7) menunjukkan terbesar adalah tingkat pendidikan SD dan SMP dengan persentase masing-masing mencapai 33,33%, sedangkan tingkat pendidikan SMA sebesar 26,67% dan sarjana 6,67%. Tingkat pendidikan formal sangat penting bagi petani, karena akan membantu petani untuk lebih mudah dalam mengadopsi inovasi, menerapkan teknologi dan menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi, khususnya dalam penelitian ini berhubungan dengan masalah pemasaran hasil produksi usahatani padi dalam bentuk gabah.
Syahyuti (2006) mengatakan bahwa makin meningkat pendidikan seseorang, maka kualitas kerjanya juga meningkat, artinya bahwa semakin tinggi pendidikan petani, semakin berkembang wawasan berfikirnya dan semakin baik keputusannya dalam memanfaatkan kebijakan pemerintah dalam bentuk program, salah satunya adalah proram DPM-LUEP.
3. Pengalaman Berusahatani
Belajar lewat pengalaman memberi kesan yang mendalam sehingga ilmu yang diperoleh dapat tersimpan lama, lagi pula salah satu sumber data yang diakui dan dipercaya, yakni pendapat seorang dari hasil pengalaman yang bertahun-tahun telah dijalaninya. Pengalaman itu pula yang mampu menjadikan manusia profesional dan berkarakter. Bahkan mendorong datangnya instuisi yang membangkitkan daya cipta seseorang. Untuk jelasnya pengalaman usahatani responden pada wilayah penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Pengelompokan Pengalaman Responden di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No Pengalaman Berusahatani (Tahun)
Jumlah (orang)
Persentase (%) 1
2 3
< 10 10 – 20
> 20
7 14
9
23,33 46,67 30,00
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data Primer Setelah diolah, Tahun 2013
Tabel 8 menggambarkan rata-rata pengalaman berusahatani responden terbesar (46,67%) adalah 10 – 20 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usahatani padi cukup lama diusahakan oleh petani, sehingga tingginya pengalaman petani padi menunjukkan bahwa petani telah memiliki pengetahuan dan keterampilan
tentang usahatani padi termasuk didalamnya adalah tentang pemasaran hasil produksi yang berhubungan dengan harga dan keuntungan. Melalui pengalamannya, petani padi akan membandingkan antara harga dan keuntungan yang diperoleh sebelum memanfaatkan dana talangan melalui DPM-LUEP dan setelah memanfaatkan dana.
5.2 Efektivitas Pelaksanaan Program DPM-LUEP 1. Efektivitas Perencanaan Program
Secara teori perencanaan merupakan fungsi manajemen yaitu proses pengambilan keputusan yang memuat sejumlah pilihan dengan strategi dan arah tindakan untuk dilaksanakan dimasa depan guna mencapai suatu tujuan.
Selanjutnya perencanaan yang baik mempunyai beberapa persyaratan, yaitu : 1) didasari dengan tujuan pembangunan, 2) konsisten dan realistis, 3) pengawasan yang berkesinambungan, 4) mencakup aspek fisik dan pembiayaan, 5) memahami berbagai ciri hubungan antara variabel ekonomi, serta 6) mempunyai koordinasi yang baik.
Ada lima komponen yang perlu diperhatikan dalam perencanaan aspek program/proyek pembangunan, yaitu 1) menentukan tujuan proyek tersebut dibangun, 2) menentukan jadwal, 3) menentukan anggaran, 4) menentukan organisasi pelaksana, serta 5) menetukan kebijakan dan prosedur.
Perencanaan program Dana Penguatan Modal Lembaga usaha Ekonomi Pedesaaan (DPM-LUEP), diawali dengan proses persiapan dan penyusunan kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi : 1) Penentuan Tujuan/sasaran kegiatan, 2) penentuan lokasi, 3) alokasi dana, 4) penentuan jadwal kegiatan.
Untuk mengetahui sampai sejauhmana tanggapan responden terhadap efektivitas perencanaan program Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM-LUEP) dalam upaya untuk mendorong peningkatan pendapatan masyarakat petani dan pertumbuhan roda perekonomian di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba melalui peningkatan akses permodalan lembaga pangan di pedesaan dapat dilihat pada penjelasan berikut:
a. Efektivitas Pencapaian Tujuan dan Sasaran
Suatu program pembangunan senantiasa memiliki tujuan dan sasaran yang merupakan pemandu kegiatan dan sebagai acuan untuk menilai apakah suatu program telah terlaksana dengan baik atau tidak. Hal ini sangat penting oleh karena suatu program kegiatan yang tidak memiliki tujuan dan sasaran merupakan program yang sia-sia belaka dan jelas tidak akan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Itulah sebabnya dalam kajian teoritik dikemukakan bahwa suatu program kegiatan senantiasa diarahkan pada tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu tujuan dan sasaran kegiatan sangat dipentingkan dalam penggunaan Dana Penguatan Modal Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (DPM- LUEP). Sesuai dengan hasil wawancara dengan responden aparat dan pengusaha LUEP, maka tingkat efektifitas pelaksanaan program DPM-LUEP dalam mencapai tujuan dan sasaran disajikan dalam Tabel 9 berikut :
Tabel 9. Tanggapan Responden Terhadap Perecanaan Berdasarkan Tujuan dan Sasaran Program DPM-LUEP di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba, 2013
No
Tingkat Efektivitas Perencanaan berdasarkan
Tujuan dan Sasaran
Jumlah (orang)
Persentase (%) 1
2 3 4
Efektif
Cukup Efektif Kurang Efektif Tidak Efektif
7 8 10
5
23,33 26,67 33,33 16,67
Jumlah 30 100,00
Sumber : Data primer setelah diolah, 2013
Tabel 9 menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 10 orang responden atau 33,33% yang menyatakan bahwa penentuan tujuan dan sasaran program DPM- LUEP kurang efektif atau dengan kata lain pencapai tujuan dan sasaran program dalam perencanaan tidak mencapai sasaran. Tingginya angka kurang efektif dalam pencapaian tujuan dan sasaran program DPM-LUEP disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, Pertama bahwa para perencana program merencanakan tujuan dan sasaran program kurang didasari pada outcome dari kegiatan tersebut dalam hal ini pemberdayaan masyarakat khususnya petani, namun hanya berdasarkan pada output kegiatan yang lebih mengarah pada ada atau tidaknya program/kegiatan dalam mencapai tujuan dan sasaran adalah hal lain. Keduapara perencana kurang mempertimbangkan kondisi wilayah dan masyarakat sebagai target implementasi program DPM-LUEP sehingga berpengaruh pada proses pelaksanaan program/kegiatan yang berjalan kurang efektif. Ketiga sesuai dengan tujuan dan sasaran program/kegiatan dalam hal untuk meningkatkan produksi usahatani padi, peningkatan mutu hasil produksi, menjaga stabilitas harga gabah petani pada tingkat yang wajar, terlaksananya pembelian gabah oleh LUEP sesuai dengan
petani/kelompok tani dengan LUEP, jika dipandang dari sisi hakiki hal tersebut sangat baik karena dapat melindungi produk petani, selain itu rantai pemasaran menjadi lebih pendek sehingga diharapkan harga gabah lebih stabil, namun disisi lain pelaksanaan program/kegiatan baik LUEP, dalam mencapai tujuan dan sasaran tersebut kurang ditunjang perangkat yang diperlukan misalnya frekuensi pengawasan yang sangat kurang, baik pengawasan fungsional, pengawasan internal maupun pengawasan masyarakat, tidak sesuainya penjadualan kegiatan dengan kondisi lapangan termasuk ketepatan pencairan, penggunaan dana dan pengembalian dana dalam kaitannya dengan jadual panen, kurangnya itikad baik dari pengusaha dan kelompok tani dalam menjalangkan kesepakatan yang telah dibuat karena lemahnya perangkat hukum, serta petani belum mempunyai wawasan dan akses yang cukup dalam hal pemahaman terhadap dokumen kerjasama yang telah dibuat bersama dengan pengusaha.
Meskipun demikian responden masih mempunyai optimisme terhadap pencapaian tujuan dan sasaran program/kegiatan, hal ini dibuktikan dari hasil
wawancara dengan responden dengan pemanfaatan dana LUEP bahwa terdapat 7 orang atau 23,33% yang menyatakan bahwa pelaksanaan berjalan efektif dalam
mencapai tujuan dan sasaran program/kegiatan, dan 8 orang atau 26,67% yang menyatakan cukup efektif Sedangkan responden menyatakan tidak efektif untuk LUEP adalah 5 orang atau 16,67%. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa sesungguhnya tujuan dan sasaran program/kegiatan tercapai dengan pertimbangan, Pertama di beberapa tempat stabilitas harga gabah dapat tercapai dengan terlaksananya peran LUEP sebagai pengganti peran tengkulak yang dapat
mengurangi dan memotong beberapa rantai perdagangan, dan Kedua dengan adanya kesepakatan dan kerjasama antara LUEP, dengan petani mengenai pembelian gabah.
Mengingat tingginya tanggapan responden yang menyatakan bahwa pencapaian dan tujuan serta sasaran program/kegiatan kurang efektif, maka perlu kiranya penerapan azas-azas perencanaan antara lain azas ketepatan arah yang dimaksudkan bahwa perencanaan yang efektif memerlukan pengamatan yang terus menerus terhadap kejadian-kejadian yang timbul dalam pelaksanaan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
b. Efektivitas Kesesuaian Jadwal Kegiatan
Pengelolaan Dana Penguatan Modal bagi LUEP di Desa Benteng Palioi Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba diarahkan antara lain pada kegiatan pembelian gabah petani mitra pada tingkat yang wajar, peningkatan produksi usahatani padi, dan peningkatan mutu hasil usahatani, selain itu juga diarahkan untuk menumbuhkan kerjasama antara LUEP dengan petani serta dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi di pedesaan, sehingga efektif tidaknya program/kegiatan DPM-LUEP ditentukan apakah kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan jadual yang telah ditentukan.
Sesuai dengan hasil wawancara dengan responden, maka tingkat efektivitas perencanaan program berdasarkan penjadualan kegiatan dapat dilihat sebagaimana pada Tabel 10 berikut :