• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uparengga Sebagai Perangkat Upacara Yajña Dalam Agama Hindu

N/A
N/A
Adi Suprapti

Academic year: 2024

Membagikan "Uparengga Sebagai Perangkat Upacara Yajña Dalam Agama Hindu"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

UPARENGGA

P E N G E N A L A N

Dalam Upacara Yadnya Agama

Hindu

(2)

OM SWATYASTU

(3)

Yadnya yang diselenggarakan oleh umat Hindu selalu disertakan dengan segala perangkat

upacara sehingga upacara tersebut dapat berjalan dengan lancar, semarak,umat

mendapatkan kepuasan (atmanastuti) dan selanjutnya dapat meningkatkan Sradha dan

Bhakti penyelenggara upacara Yadnya

PENDAHULUAN

(4)

RE

UP AR EN

G G A

UPA

ANGG A

Raditya / Sinar suci

Wujud / Perwujudan Perantara / Jalaran

Uparengga adalah

segala perangkat upacara Yajña yang dipergunakan oleh umat Hindu

sebagai perwujudan sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang merujuk

pada makna tertentu sehingga umat yang melaksanakan upacara mendapatkan

kebahagiaan dan dapat

meningkatkan śraddhā dan

bhakti.

(5)

Dengan bersatunya kekuatan Purusa dengan Prakerti maka akan

menimbulkan kekuatan yang baru sesuai dengan fungsi upacara

tersebut

Perangkat Upacara dan Upakara di dalamnya terkandung nilai material

(unsur Prakerti), dan nilai spiritual (unsur Purusa) yang sering disebut wahya adhyatmika dimana kekuatan spiritualnya adalah tiada lain kekuatan Purusa dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa

Unsur Uparengga

(6)

Kualitas MutuPerangakat Upacara/

Uparengga

Melihat dari pemakaian perangkat upacara / Uparengga sehubungan dengan kwalitas mutunya dapat dipilah menjadi 2 yaitu :

Mutu Daiwi Sampad ( kedewataan), biasa digunakan pada upacara Dewa Yadnya,Rsi Yadnya,Manusa Yadnya

Mutu Asuri Sampad ( keraksasaan), biasa digunakan pada upacara Bhuta Yadnya,Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya

Dengan adanya mutu ini maka uparengga memiliki karakter tertentu sesuai dengan mutunya dan dari mutu tersebut akan memiliki ciri kas dari setiap uparengga sebagai simbul mutunya.

(7)

Contoh Uparengga

Berikut beberapa uparengga yang digunakan dalam upacara agama Hindu di Bali:

Upacara Perkawinan (Manusa Yadnya

Upacara Mecaru (Bhuta Yadnya )

Upacara Ngaben (Pitra Yadnya)

Upacara Dewa Yadnya

1. Sanggah Surya 2. Tetimpug

3. Tikeh dadakan 4. Tegen tegenan

1. Kelabang sengkui 2. Klakat

5. Tulud 4. Kulkul

1.Wadah / Bade 2. Puspa Lingga 3. Kereb Sinom 4. Tumpang Salu

1. Sanggah Surya 2. Umbul umbul 3. Penjor

4. Bandrangan 5. Sampian

3. Sanggah Cucuk

(8)

Sanggah Surya

Sanggah Surya mempunyai makna sebagai simbol stananya Sang Hyang Widhi sebagai simbol

manifestasinya yang merupakan permohonan umat Hindu dalam suatu upacara agama.

Tetimpug

Tetimpug merupakan simbol untuk memanggil Bhutakala agar hadir pada upacara tersebut.

Kemudian diberikan suguhan supaya tidak menggangu jalannya upacara,”

(9)

Panca Mahabutha adalah lima unsur elemen atau zat dasar yang membentuk lapisan mahluk hidup, termasuk badan manusia

(sarira kosha) yang sesuai dengan hukum rta. Panca Mahabutha juga merupakan kekuatan prakerti (acetana) yang merupakan salah satu kekuatan pendorong dari korban suci (Yadnya)

kehadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pada konteks ini, Ida Sang Hyang Widi Wasa merupakan simbol kekuatan purusa (cetana).

Semua itu bertujuan untuk mempercepat proses penyatuan antara Sang Pencipta dengan mahluk hidup ciptaan-Nya.biasanya Klakat Pancak ini digunakan sebagai alas suatu upakara (banten), yakni sebagai alas upakara caru, sebagi alas upakara saji, dan sebagai komponen dasar pembuatan Sanggah Cucuk.

Anyaman bambu berbentuk segi empat (bujur sangkar) ini sebagai simbol Panca Mahabutha hingga konsep Asta Aiswarya atau delapan

kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Klakat

Sanggah Cucuk

(10)

Simbol dari sukuning (bagian bawah dari gunung maliawan, fungsinya sebahgai sarana pemberangkatan jenazah ke Setra Wadah

Puspa Lingga Simbol Sang Pitara

(11)

Penjor merupakan simbol kemenangan dan kemakmuran, serta sebagai wujud rasa syukur dan persembahan kepada bhatara.

Penjor

(12)

a. SAMPIAN GANTUNG (SAMPIAN SALANG)

DIBUAT DARI DAUN JANUR, BIASA DIPASANGDI KIRI KANAN RUANG BANGUNAN KATA SAMPIRAN BERARTI SELENDANG

b. LAMAK (CENIGA)

DIBUAT DARI DAUN JANUR /ENAU, YANG DIBENTUK BERBEDA DENGAN SAMPIAN & MERUPAKAN SIMBUL KEKASANG DEWATA / HIASAN DADA PADA TARIAN GALUH

c. TAMIANG KULON

DIBUAT DARI DAUN JANUR/ENAU BENTUKNYA BUNDAR MERUPAKAN SIMBUL CAKRA SEBAGAI KEKUATAN WISNU MENGANDUNG MAKNA KESIDIAN

d. PANAH / SARA

PANAH INI DIBUAT DR KEDUA BHNTADI BENTUKNYA

MENYERUPAIPANAH SBG SIMBUL KEKUATAN MAHADEWA MEMILIKI MAKNA KEMERTAAN /KEBIJAKSANAAN

(13)

Demikian beberapa uparengga yang digunakan dalam upacara agama Hindu,

OM SANTHI,SANTHI,SANTHI OM

Referensi

Dokumen terkait

Jadi, Avatara berarti Perwujudan Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa turun ke dunia untuk menegakkan dharma dari tantangan adharma dengan perwujudan tertentu untuk

Hindu tetap menyembah satu Tuhan yang disebut Brahman/Ida Sang Hyang Widhi hanya saja karena sifat dan kemahakuasaan Beliau sangat sulit untuk bisa dipahami akal

Kepercayaan itu adalah dengan melaksanakan ngayah Mapeed yang merupakan bentuk sujud bhakti masyarakat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam

Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa karena atas asung kerta wara nugraha dan tuntunan-Nya, penulis dapat

Maharsi Kanva adalah orang suci yang tekun menjaga kesucian diri, karena ketekunan beliau menjaga kesucian, beliau mendapat wahyu dari Sang Hyang Widhi.. Selain itu, beliau juga

Kepercayaan itu adalah dengan melaksanakan ngayah Mapeed yang merupakan bentuk sujud bhakti masyarakat kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam

Hal tersebut dimungkinkan mengingat adanya kepercayaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Subagiasta, 1997 : 371). Di Desa Pakraman Pejeng Kawan, Kecamatan

Kemudian tahapan ketiga setelah melaksanakan persembahyangan pemedekPura Kahyangan Alas Kedaton menerima wangsuh pada dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan memerciki tirtha dan