• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA DAN KETERAMPILAN ANAK MELALUI MENGENAL HURUF DENGAN MEDIA KARTU HURUF PADA ANAK

N/A
N/A
Teguh Riyanto

Academic year: 2023

Membagikan "UPAYA MENINGKATAN KEMAMPUAN BAHASA DAN KETERAMPILAN ANAK MELALUI MENGENAL HURUF DENGAN MEDIA KARTU HURUF PADA ANAK"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

DENGAN MEDIA KARTU HURUF PADA ANAK KELOMPOK A TK. NURUL IMAN PENGGARIT KECAMATAN TAMAN KABUPATEN PEMALANG TAHUN PELAJARAN 2016/2017

SUPRIHARTINI, 824610993, [email protected]

ABSTRAK

Suprihartini, 2016. Upaya Meningkatkan Kemampuan Bahasa dan Keterampilan Anak melalui Mengenal Huruf dengan Media Kartu Huruf pada Kelompok A TK Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang Tahun Pelajaran 2016/2017.

Penelitian perbaikan pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan keterampilan anak di TK. Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang dengan kegiatan mengenal huruf menggunakan media kartu huruf. Penelitian ini mengambil subyek anak didik kelompok A TK Nurul Iman Penggarit yang berjumlah 20.

Penelitian dilaksanakan dengan 2 siklus dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Hasil penelitian didapatkan setelah malakukan perbaikan pembelajaran bahwa kegiatan mengenal huruf dengan media kartu angka dapat meningkatkan kemampuan bahasa dan Bahasa dengan diperoleh hasil pada siklus I dari 20 anak didik, yang kategori sudah mampu 8 anak , yang kategori cukup mampu ada 5 anak dan yang kategori kurang mampu ada 7 anak. Pada siklus II, terjadi peningkatan yaitu, anak yang kategori sudah mampu 16 anak, yang kategori cukup mampu ada 2 anak dan yang kategori kurang mampu ada 2 anak. Keterampilan anak juga mengalami peningkatan dari 4 anak pada pra siklus menjadi 11 anak pada siklus 1 dan meningkat 17 anak pada siklis II.

Kata kunci : bahasa, keterampilan, kartu huruf

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Keberhasilan pendidikan membutuhkan usaha dan kerja keras secara bersama- sama dan terus menerus. Tanpa adanya kerja keras dan kerja sama keluarga, sekolah, masyarakat dan negara, maka pendidikan tidak akan berhasil. Pada hakekatnya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara. Terutama untuk pendidikan dasar, pola asuh dan peran orang tua di rumah menentukan keberhasilan belajar siswa.

1

(2)

Pembelajaran mengenal huruf saat ini lebih menekankan pada anak daripada gurunya. Dengan upaya yang lebih menekankan bagaimana anak belajar, kita dapat melihat bahwa pembelajaran mengenal huruf di kelas dipandang sebagai suatu proses aktif, dan sangat dipengaruhi oleh apa yang sebenarnya ingin dipelajari anak. Aspek pokok dalam pembelajaran mengenal huruf sendiri adalah anak dapat menyadari keterbatasan pengetahuan mereka, memiliki rasa ingin tahu untuk menggali berbagai pengetahuan baru, dan akhirnya dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.

Ini tentu saja ditunjang dengan berkembang dan meningkatnya rasa ingin tahu anak, mengambil keputusan dan mencari berbagai bentuk aplikasi yang paling mungkin diterapkan dalam dirinya dan masyarakatnya. Dengan mengenal huruf dari usia dini diharapkan kemampuan bahasa anak menjadi baik dan dapat digunakan untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.

Data yang peneliti dapatkan selama mengajar dari jumlah siswa 20 anak hanya 3 anak atau 15 % sudah mampu mengenal huruf, 4 anak atau 20% cukup mampu mengenal huruf dan sisanya 13 anak atau 65% belum mengenal huruf. Keterampilan anak juga dirasa masih kurang, dari jumlah 20 anak hanya 4 anak atau 20% yang terampil, 4 anak atau 20% cukup terampil sedangkan sisanya 12 anak atau 60%

belum terampil. Dari uraian di atas, maka diperlukan sebuah solusi yang bisa digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Peneliti berdiskusi dengan teman sejawat yakni guru untuk mencari solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dalam proses belajar mengajar tersebut di atas. Dari hasil diskusi yang dilakukan, ditemukan solusi yakni penggunaan media kartu huruf dengan tujuan anak mampu lebih cepat mengenal huruf dan meningkatkan kemampuan bahasa dan keterampilan anak didik TK. Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang.

Pendidikan anak usia dini merupakan masa peka bagi anak, karena masa ini merupakan masa terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi lingkungan dan menginterlisasikan ke dalam pribadinya. Masa ini merupakan masa awal pengembangan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, social, emosional, konsep diri, disiplin, kemandirian, seni, moral, dan nilai-nilai agama. Oleh

(3)

karena itu, dibutuhkan suatu kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak agar pertumbuhan dan perkembangan tercapai secara optimal.

Sebagai lembaga pendidikan prasekolah, tugas utama TK adalah mempersiapkan anak dengan memperkenalkan berbagai pengetahuan, sikap/perilaku, dan keterampilan agar anak dapat melanjutkan kegiatan belajar yangsesungguhnya di sekolah dasar. TK merupakan lembaga pendidikanpra-skolastik atau pra-akademik.

Itu artinya TK tidak mengemban tanggung jawab utama dalam membelajarkan keterampilan membaca. Substansi kemampuan skolastik atau akademik ini haruslah tanggung jawab utama lembaga pendidikan sekolah dasar. Alur pemikiran tersebut tidak selalu sejalan dengan praktik kependidikan baik di TK ataupun di SD.

Pergeseran tanggung jawab dalam membelajarkan kemampuan skolastik atau akademik khususnya yang berhubungan dengan kemampuan membaca ini seolah- olah telah bergeser dari sekolah dasar ke TK. Akibatnya banyak TK yang tidak lagi menjalankan fungsinya sebagai tempat bermain yang menyenangkan bagi anak.

Membaca merupakan salah satu bidang akademik yang harus segera dimiliki oleh anak. Karena manfaat membaca mampu meningkatkan belajar pada bidang akademik yang lain. Dengan membaca seseorang mengerti banyak hal. Memperoleh informasi-informasi dan menjadikan seseorang bertambah luas wawasannya.

Membaca bukanlah suatu kegiatan yang mudah. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam membaca. Secara umum faktor-faktor tersebut dapat diidentifikasi seperti guru, siswa, kondisi lingkungan, materi pelajaran, metode pelajaran serta tehnik mempelajari materi pelajaran. Faktor–faktor tersebut terkait dengan jalannya proses belajar membaca, dan jika kurang diperhatikan hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan membaca pada anak. Corak pendidikan yang diberikan di TK menekankan pada esensi bermain bagi anak–anak, dengan memberikan metode yang sebagian besar menggunakan sistem bermain sambil belajar. Kegiatan bermain anak juga dapat melatih kemampuan bahasanya dengan cara mendengarkan bunyi, mengucapkan suku kata atau kata, berbicara sesuai dengan tata bahasa Indonesia, dan sebagainya.

(4)

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Bagaimana kegiatan mengenal huruf dengan media kartu huruf dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak kelompok A TK Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang? 2) Bagaimana kegiatan mengenal huruf dengan media kartu huruf dapat meningkatkan keterampilan anak kelompok A TK Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang?

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan keterampilan anak dalam mengenal huruf dengan media kartu huruf pada anak kelompok A TK Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak terkait, di antaranya: 1) Bagi anak didik, dapat mendorong semangat belajar anak didik terhadap pelajaran mengenal huruf, memberi gambaran yang berkesan dan bermakna dan meningkatkan motivasi mengenal huruf anak serta membantu anak menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit. 2) Bagi Guru, dapat mempermudah guru untuk melatih ketrampilan dan kesabaran dalam mengajarkan pelajaran mengenal huruf, menjadi bahan pertimbangan dalam menyediakan, melengkapi kebutuhan sarana dan prasarana, dan meningkatkan kreatifitas guru dalam menemukan metode pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi mengenal huruf anak, serta menjadi pedoman guru dalam penelitian selanjutnya serta menambah wawasan dan pengetahuan mengenai penggunaan media kartu huruf dan dapat menyelesaikan masalah yang ada di Taman Kanak-kanak. 3) Bagi Sekolah, dapat memberikan masukan kepada guru, kepala sekolah, dan orang tua siswa dalam memecahkan masalah membaca permulaan dan sebagai sumbangan ilmiah bagi pekembangan pembelajaran khususnya dalam menangani siswa berkesulitan membaca permulaan KAJIAN PUSTAKA

Kemampuan Bahasa

Bahasa adalah merupakan alat komunikasi utama bagi seorang anak untuk mengungkapkan berbagai keinginan maupun kebutuhannya. Anak-anak yangmemiliki kemampuan berbahasa yang baik umumnya memiliki kemampuan

(5)

dalam mengungkapkan pemikiran, perasaan, serta tindakan interaktif dengan lingkungan. Kemampuan berbahasa tidak selalu ditunjukkan oleh kemampuan membaca saja, tetapi juga kemampuan lain seperti penguasaan kosa kata, pemahaman, dan kemampuan berkomunikasi. Depdiknas (2007:3)

Menurut Nurbiana Dhieni (2007: 31) mengungkapkan perkembangan bahasa anak adalah sebagai salah satu dari kemampuan dasar yang harus dimiliki anak-anak, terdiri dari perkembangan bicara, perkembangan menulis, perkembangan membaca, dan perkembangan menyimak. Perkembangan bahasa anak merupakan kemampuan anak untuk dapat mengekspresikan segala pikiran dalam bentuk ungkapan. Menurut Enny Zubaidah (2003: 3) mengungkapkan bahwa perkembangan bahasa anak mencakup empat keterampilan. Empat keterampilan bahasa yang dimaksud meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis.

Perkembangan bahasa anak-anak berkembang secara bertahap sehingga memerlukan ketekunan baik dari anak sendiri maupun bagi guru atau orang tua dalam memberikan rangsangan. John W. Santrock (2007: 357-362) membagi perkembangan bahasa menjadi 3 tahapan. Tahap perkembangan bahasa antara lain perkembangan bahasa pada masa bayi (0-2 tahun), masa kanak-kanak awal (3-6 tahun), dan masa kanak-kanak menengah sampai akhir (7 tahun keatas). Perkembangan bahasa anak usia dini merupakan tahapan kemampuan anak mulai kemampuan berbicara sampai dengan kemampuan memahami sebuah pembicaraan dari orang lain. Soemiarti Padmonodewo (2003: 25), mengemukakan 3 hal yang perlu diketahui dalam perkembangan bahasa pada anak. Pertama adalah perbedaan antara bahasa dan kemampuan berbicara. Bahasa merupakan sistem tata bahasa, sedangkan kemampuan bicara merupakan ungkapan dalam bentuk kata-kata. Kedua pertumbuhan bahasa yaitu bersifat pengertian atau reseptif dan bersifat ekspresif. Kemampuan untuk memahami merupakan kemampuan reseptif, sedangkan kemampuan kemampuan menunjukan bahasa merupakan ekspresif. Ketiga komunikasi diri pada saat berhayal perlu dibatasi.

(6)

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dapat ditegaskan bahwa perkembangan bahasa anak memegang peran penting dalam perkembangan anak, khususnya perkembangan kemampuan berbahasa di taman kanak-kanak, sehingga anak-anak mampu berkomunikasi dengan baik dan dapat mengembangkan potensinya. Perkembangan bahasa anak usia dini khususnya di taman kanak-kanak berada pada masa kanak-kanak awal yang terdiri dari kemampuan berbicara, kemampuan membaca, kemampuan menulis, dan kemampuan menyimak.

Perkembangan bahasa tersebut membantu anak-anak dalam berbahasa baik secara reseptif maupun secara ekspresif

Menurut Mudjito (2007: 3) Perkembangan kemampuan berbahasa anak usia 4-6 tahun di tarndai berbagai kemampuan sebagai berikut: 1) Mampu menggunakan kata ganti saya dalam berkomunikasi. 2) Memiliki berbagai perbendaharaan kata kerja, kata sifat, kata keadaan, kata tanya, dan kata sambung. 3) Menunjukkan pengertian, dan pemahaman tentang sesuatu. 4) Mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, dan tindakan dengan menggunakan kalimat sederhana. 5) Mampumembaca dan mengungkapkan sesuatu melalui gambar.

Tingkat pencapaian perkembangan bahasa anak usia 4-5 tahun dapat melakukan hal-hal berupa menerima bahasa, mengungkapkan bahasa dan keaksaraan.

Tingkat pencapaian perkembangan menerima bahasa anak diharap dapat menyimak perkataan orang lain, mengerti dua perintah yang diberikan bersamaan, memahami cerita yang dibacakan dan mengenal perbendaharaan kata (Permendiknas,2010:10).

Mengungkapkan bahasa anak diharap dapat mengulang kalimat sederhana, menjawab pertanyaan sederhana, mengungkapkan perasaan dengan kata sifat, menyebutkan kata-kata yang dikenal, mengutarakan pendapat kepada orang lain, menyatakan alasan terhadap sesuatu yang diinginkan atau ketidak setujuan serta enceritakan kembali cerita/dongeng yang pernah didengar.

Perkembangan bahasa dapat distimulasi oleh orang terdekat anak, seperti orang tua, guru, pengasuh, saudara dan sebagainya. Berhubung anak belajar bahasa melalui meniru/modeling, maka orang disekitar perlu mengajak bicara, dan dengan bahasa yang benar. Metode pengembangan bahasa yang dapat diterapkan antara lain

(7)

bercerita, sosiodrama, permainan membaca dan lain-lain ( Rita Eka Izzaty dkk, 2008:

91). Mengembangkan bahasa anak perlu mengetahui perkembangan berbicara anak usia 4-5 tahun adalah sebagai berikut: Nurbiana Dhieni (2007: 97) berpendapat:

bahwa usia 4-5 tahun anak sudah mampu untuk mendengarkan dan membedakan bunyi suara, bunyi bahasa dan mengucapkannya, dapat mendengarkan dan memahami kata dan kalimat sederhana, dapat berkomunikasi/berbicara secara lisan, memperkaya kosa kata yang perlukan untuk berkomunikasi sehari-hari meliputi kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan waktu, dapat mengenal bentuk- bentuk simbol sederhana (pra menulis), dapat menceritakan gambar (pra membaca) mengenal bahwa ada hubungan antara bahasa lisan dengan tulisan (pra membaca).

Anak yang berusia antara 4-5 tahun penerapan bahasa dan tata bahasa vokabulary:14001600 (Enny Zubaidah, 2003: 22).

Perkembangan kemampuan berbahasa pada anak usia dini dengan cara mulai mengenalkan nama dirinya atau nama benda yang ada disekitarnya, akan membantu anak secara cepat dalam mengenal huruf-huruf, kata-kata, dan suara (Harun Rasyid dkk, 2009: 129). Melatih mengenal huruf menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan bahasa anak usia dini

Keterampilan Anak

Keterampilan adalah kelebihan atau kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk mampu menggunakan akal, fikiran, ide dan kreatifitasnya dalam mengerjakan atau menyelesaikan sesuatu. sumber lain mengatakan keterampilan yaitu kemampuan seseorang untuk menggunakan akal, fikiran, ide dan kreatifitasnya dalam mengerjakan, mengubah, menyelesaikan ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehngga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut.

Keterampilan/ kemampuan tersebut pada dasarnya akan lebih baik bila terus diasah dan dilatih untuk menaikkan kemampuan sehingga akan menjadi ahli atau menguasai dari salah satu bidang keterampilan yang ada. dan disinilah letak tugas para guru keterampilan untuk meningkatkan dan mengasah keterampilan siswa disekolah.

Keterampilan tersebut dapat dilatih sehingga mampu melakukan sesuatu, tanpa adanya latihan dan proses pengasahan akal, fikiran tersebut tidak akan bisa

(8)

menghasilkan sebuah keterampilan yang khusus atau terampil karena keterampilan bukanlah bakat yang bisa saja didapat tanpa melalui proses belajar yang intensif dan bukanlah merupakan kelebihan yang sudah diberikan semenjak lahir sehingga untuk menjadi seorang yang terampil dengan memiliki keahian khusus pada bidang tertentu haruslah melalui latihan dan belajar dengan tekun supaya dapat menguasai bidang tersebut dan dapat memahami dan mengaplikasikannya.

Belajar adalah salah satu faktor yang berperan penting untuk membentuk pribadi serta perilaku seseorang. Proses belajar memiliki unsur yang penting yang bisa berpengaruh pada hasil belajar. Pada suatu proses belajar pasti ada hambatan dan gangguan atau masalah yang dihadapi oleh murid. Masalah tersebut bisa diperkecil dengan berbagai cara atau metode, salah satunya dengan cara menguasai keterampilan belajar. Keterampilan belajar ditujukan untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam hal belajar, untuk lebih memahami konsep belajar untuk belajar dan untuk menekankan implikasi praktis dari konsep tersebut pada aplikasi nyata dalam kegiatan sehari-hari. Definisi mengenai keterampilan belajar sering berdasarkan pada daftar keterampilan yang spesifik seperti melakukan organisasi, memproses dan memakai informasi yang didapat dari aktivitas membaca.

Mungkin definisi paling baik yang dipakai untuk menjelaskan keterampilan belajar yaitu suatu keterampilan yang bisa mengembangkan kemandirian seorang murid dalam belajar. Secara khusus, keterampilan dalam belajar adalah suatu cara yang dipakai untuk mendapat, mempertahankan, dan mengungkapkan pengetahuan serta merupakan cara untuk menyelesaikan masalah. Untuk memperoleh keterampilan dalam belajar, murid akan menyadari bagaimana cara belajar yang paling baik sehingga menjadi lebih bertanggungjawab akan kegiatan belajarnya.

Tujuan penerapan keterampilan dalam belajar adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, menumbuhkan minat dan motivasi belajar, membentuk peserta didik yang mandiri dalam belajar, karakteristik siswa yang mempunyai keterampilan belajar. Beberapa karakteristik siswa yang memiliki keterampilan belajar, antara lain mempunyai rasa percaya diri, tidak menyandarkan diri sendiri

(9)

pada orang lain, punya kemampuan untuk merekonstruksi belajar yang sesuai dengan dirinya atau mengorganisasi belajar, serta mampu berinisiatif sendiri

Kemampuan Mengenal Huruf

Soenjono Darjowidjojo (2003: 300) menggungkapkan bahwa kemampuan mengenal huruf adalah tahap perkembangan anak dari belum tahu menjadi tahu tentang keterkaitan bentuk dan bunyi huruf, sehingga anak dapat mengetahui bentuk huruf dan memaknainya. Belajar mengenal huruf menurut Ehri dan Mc. Cormick (dalam Carol Seefelt dan Barbara A. Wasik, 2008: 330-331) merupakan komponen hakiki dari perkembangan baca tulis. Anak perlu mngetahui atau mengenal dan memahami huruf abjad untuk akhirnya menjadi pembaca dan penulis yang mandiri dan lancar. Anak-anak yang bisa mengenal dan menyebut huruf-huruf pada daftar abjad dalam belajar membaca memiliki kesulitan lebih sedikit dari anak yang tidak mengenal huruf.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini, kemampuan mengenal huruf merupakan bagian dari perkembangan bahasa anak, diantaranya kemampuan mengetahui simbol-simbol huruf dan mengetahui huruf depan dari sebuah benda.

Mengenal huruf adalah merupakan kegiatan yang melibatkan unsur auditif (pendengaran) dan visual (pengamatan). Kemampuan mengenal huruf dimulai ketika anak senang mengeksplorasi buku dengan cara memegang atau membolak-balik buku (Depdiknas 2007: 4)

Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditegaskan bahwa kemampuan mengenal huruf adalah kesanggupan anak dalam mengetahui dan memahami tanda-tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan huruf abjad dalam melambangkan bunyi bahasa.

Kemampuan anak dalam mengetahui huruf dapat dilihat saat anak mampu menyebutkan suatu simbol huruf, dan kemampuan anak dalam memahami huruf dapat dilihat dari kemampuan anak saat memaknai huruf sehingga anak mampu menyebutkan huruf depan dari sebuah kata

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini disebutkan bahwa salah satu standar

(10)

PAUD adalah standar tingkat pencapaian perkembangan, yang berisi kaidah pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Perkembangan anak yang dicapai merupakan integrasi aspek pemahaman yaitu nilai-nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, bahasa, serta sosial emosional.

Aspek-aspek yang dimiliki anak tersebut perlu mendapatkan rangsangan dan perhatian yang baik.

Begitu pula dalam aspek perkembangan bahasa, khususnya kemampuan mengenal huruf pada anak usia dini. Kemampuan mengenal huruf merupakan bagian dari aspek perkembangan bahasa anak, yang perlu dikembangkan dengan memberi stimulasi secara optimal sejak usia dini. Tadkirotun Musfiroh (2009: 10) mengungkapkan bahwa stimulasi pengenalan huruf adalah merangsang anak untuk mengenali, memahami, dan menggunakan simbol tertulis untuk berkomunikasi.

Menurut Rose dan Roe (1990) dalam pembelajaran membaca permulaan guru dapat menggunakan strategi bermain dengan memanfaatkan kartu-kartu huruf. Kartu- kartu huruf tersebut digunakan sebagai media dalam permainan menemukan kata.Siswa diajak bermain dengan menyusun huruf – huruf menjadi sebuah kata yang berdasarkan teka-teki atau soal-soal yang dibuat oleh guru. Titik berat latihan menyusun huruf ini adalah ketrampilan mengeja suatu kata (Wendi Kuswandi, 2011:

4).

Carol seefelt dan Barbara A. Wasik (2008: 375) mengungkapkan bahwa belajar huruf adalah tonggak kurikulum Taman Kanak-kanak lewat penyingkapan berulang dan bermakna kepada peristiwa-peristiwa baca tulis, sehingga anak menjadi tahu akan huruf-huruf dan mengerti bahwa huruf-huruf membentuk sebuah kata. Menurut Agus Hariyanto (2009:82) mengungkapkan bahwa dengan setrategi pengenalan huruf sejak usia dini sangat bermanfaat bagi perkembangan bahasa anak, karena membantu mempersiapkan anak untuk dapat membaca dengan mudah. Bond dan Dykstra (Slamet Suyanto, 2005: 165) mengungkapkan bahwa anak yang dapat mengenal hurf dengan baik cenderung memiliki kemampuan membaca dengan lebih baik. Jadi berdasarkan hal-hal tersebut dapat ditegaskan bahwa, anak-anak yang belajar

(11)

mengenal huruf sejak usia dini dapat memberikan manfaat bagi anak-anak untuk mempersiapkan diri dalam belajar membaca dan menulis

Media Pembelajaran Kartu Huruf

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang berarti “tengah”, “perantara”

atau “pengantar”. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.Menurut Association of Education and Communication Technology (AECT, 1977) media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi (Ashar Arsyad, 2002: 3).

Menurut Gerlach & Ely bahwa media secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara lebih khusus, pengertian media dapat diartikan alat- alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual dan verbal. (Ashar Arsyad, 2002: 3) Menurut Gagne (1970) media didefinisikan sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Arif S.Sadiman. (2006) memberikan pengertian media sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.

Media instruksional atau media pembelajaran selalu terdiri dari dua unsur pokok yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/software). Unsur pesan adalah informasi atau bahan ajar dalam tema/ topik tertentu yang akan disampaikan atau dipelajari. Sedangkan unsur perangkat keras adalah sarana atau peralatan yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Dengan demikian, sesuatu baru dapat dikatakan sebagai media pembelajaran jika sudah memenuhi dua unsur tersebut. (Badru Zaman dkk, 2008:

4.5).

Dari berbagai definisi dari media di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa media adalah segala sesuatu dalam lingkungan siswa dan merupakan non personal (bukan manusia) yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran

(12)

sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa dalam proses belajar mengajar. Jadi, media pembelajaran adalah media yang digunakan pada proses pembelajaran sebagai penyalur pesan antara guru dan siswa agar tujuan pengajaran tercapai.

Media pembelajaran yang baik harus memenuhi beberapa syarat. Penggunaan media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada siswa. Selain itu media juga harus merangsang siswa mengingat apa yang sudah dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga akan mengaktifkan siswa dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan juga mendorong siswa untuk melakukan praktik dengan benar.

Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dan siswa sehingga kegiatan pembelajaran akan lebih efektif dan efisien. Tetapi secara khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci. Badru Zaman dkk (2008: 4.11 ) mengidentifikasikan beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu : 1) Anak dapat berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya. 2) Keseragaman pengamatan atau persepsi belajar pada masing- masing anak.3) Membangkitkan motivasi belajar anak. 4) Menyajikan informasi secara konsisten sesuai kebutuhan. 5) Menyajikan pesan /informasi belajar secara serempak. 6) Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu. 7) Mengontrol arah dan kecepatan belajar anak.

Menurut Agus Suryabrata (1997: 17) media memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Konsep yang abstrak menjadi konkrit. 2) Konsep berbahaya menjadi tidak berbahaya. 3) Menampilkan objek yang besar menjadi kecil. 4) Mengamati gerakan yang sangat cepat. 5) Untuk membangkitkan motivasi. 6) Memungkinkan siswa memilih kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya.

Maimunah Hasan (2009: 65) mengungkapkan bahwa kartu huruf adalah penggunaan sejumlah kartu sebagai alat bantu untuk belajar membaca dengan cara melihat dan mengingat bentuk huruf dan gambar yang disertai tulisan dari makna gambar pada kartu. Azhar Arsyad (2005: 119) mengungkapkan bahwa kartu huruf adalah kartu abjad yang berisi gambar, huruf, tanda simbol, yang meningkatkan atau

(13)

menuntun anak yang berhubungan dengan simbol-simbol tersebut. Namun demikian kata huruf yang dimaksud disini adalah kartu huruf yang dibuat sendiri dengan bentuk persegi panjang terbuat dari kertas putih. Satu sisi terdapat tempelan potongan huruf dan satu sisinya lagi terdapat tempelan gambar benda yang disertai tulisan dari makna gambar tersebut.

Media kartu huruf merupakan salah satu metode bermain yang cukup efektif untuk mengembangkan kemampuan mengenal huruf karena anak pada usia 5 sampai 6 tahun masih pada tahap pra operasional (Slamet Suyanto, 2005: 4) yaitu anak belajar melalui benda konkret. Penelitian ini menggunakan kartu huruf sebagai media/benda konkret yang dapat digunakan anak saat belajar mengenal huruf, sehingga dapat membantu anak dalam mengenal dan memahami lafal huruf dan bentuknya.

Media kartu huruf adalah media pembelajaran berupa kartu berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kertas tebal. Kartu memiliki dua sisi, sisi yang pertama terdapat terdapat gambar benda yang disertai tulisannya. Media ini dapat digunakan anak untuk belajar mengenal huruf yang terdapat pada kartu huruf. Media kartu huruf dapat menciptakan iklim belajar yang menyenangkan, sehingga anak-anak akan lebih mudah untuk menerima stimulasi dalam pembelajaran sehingga anak-anak akan mudah dalam belajar mengenal huruf.

Media kartu huruf bergambar adalah media visual yang merupakan bagian dari media sederhana. Pengertian kartu adalah kertas tebal berbentuk persegi panjang dengan ditempeli huruf, dan pada punggung kartu di warnai, dan diberi gambar (untuk berbagai keperluan). Melalui permainan kartu huruf sangat cocok dengan karakteristik anak usia dini yang notabene masih anak-anak.

Agus Hariyanto (2009: 84) mengungkapkan bahwa metode permainan kartu huruf adalah suatu cara dalam kegiatan pembelajaran untuk anak usia dini melalui permainan kartu huruf. Kartu huruf yang digunakan berupa kartu yang sudah diberi simbol huruf dan gambar beserta tulisan dari makna gambarnya. Anak-anak belajar mengenal huruf dari melihat simbol huruf dan gambar pada kartu huruf. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat ditegaskan bahwa metode permainan kartu huruf adalah

(14)

suatu kegiatan dengan menggunakan alat berupa kartu huruf yang terdapat simbol huruf dan gambar yang disertai tulisan dari makna gambarnya, dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengetahui atau mengenal dan memahami huruf abjad

Samekto S. Sastrosudirjo (Sutaryono, 1999: 26) menyatakan beberapa manfaat yang dapat diambil dari penerapan media kartu huruf yaitu: 1) Merangsang anak belajar secara aktif. 2) Melatih siswa memecahkan persoalan. 3) Timbul persaingan yang sehat antar anak. 4) Menumbuhkan sikap percaya diri pada anak. Maimunah Hasan (2009: 66) menyatakkan bahwa beberapa manfaat yang dapat diambil dari permainan kartu huruf yaitu: 1) Dapat membaca dengan mudah. 2) Mengembangkan daya ingat otak kanan. 3) Memperbanyak perbendaharaan kata

Berdasarkan pendapat tersebut dapat ditegaskan bahwa, manfaat dan kelebihan permainan kartu huruf adalah dapat membantu anak untuk belajar mengenal huruf dengan mudah sehingga memperlancar kemampuan membaca anak. permainan kartu huruf juga dapat menumbuhkan motivasi belajar anak secara aktif dan penuh percaya diri.

Kerangka Berpikir

Kemampuan mengenal huruf merupakan bagian dari aspek perkambangan bahasa pada anak usia dini. Kemampuan mengenal huruf adalah kesanggupan anak dalam mengetahui atau mengenal dan memahami tanda-tanda aksara dalam tata tulis yang merupakan huruf abjad dalam melambangkan bunyi bahasa. Kemampuan mengenal huruf perlu dirangsang dengan cara yang tepat, sehingga kemampuan anak- anak dalam mengenal huruf dapat berkembang optimal.

Pemberian rangsangan untuk meningkatkan kemampuan mengenal huruf, perlu menerapkan pembelajaran yang menarik. Pembelajaran yang menarik akan meningkatkan motivasi belajar anak dan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga mempermudah masuknya rangsangan pada anak-anak.

Pemberian rangsangan untuk meningkatkan kemampuan anak-anak dalam mengenal huruf, yaitu dengan media kartu huruf dalam pembelajaran. Melalui metode permainan, anak akan merasa senang dan nyaman dalam mengikuti pembelajaran, maka rangsangan yang diberikan akan diterima baik oleh anak-anak. Selain itu

(15)

melalui media kartu huruf, anak akan mudah belajar mengenal huruf yang didukung dengan menggunakan kartu huruf.

Penggunaan media kartu huruf dalam menstimulasi kemampuan anak-anak, merupakan cara yang tepat untuk meningkatkan kemampuan anak-anak dalam mengenal huruf. Hal tersebut dikarenakan dengan menggunakan media kartu huruf, anak-anak akan lebih mudah dalam mengenal huruf-huruf saat bermain kartu. Anak- anak akan melihat, memaknai, dan mengingat simbol huruf dan gambar pada setiap kartu huruf yang anak mainkan.

Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini sebagai berikut: “Melalui kegiatan mengenal huruf dengan media kartu huruf kemampuan bahasa dan keterampilan anak kelompok A TK Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang dapat meningkat”

PELAKSANAAN PENELITIAN

Subjek, Tempat, Waktu Penelitian, dan Pihak yang Membantu

Subyek dalam penelitian ini adalah anak kelompok A TK Nurul Iman Desa Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017. TK ini mempunyai total murid berjumlah 45 anak yang terdiri dari 2 kelas, untuk penelitian ini peneliti berfokus pada kelompok A anak didik berjumlah 20 orang dengan rincian 11 anak laki-laki dan 9 anak perempuan. Anak didik yang bersekolah di TK Nurul Iman ini hanya berasal dari wilayah desa Penggarit.

Mayoritas orang tua mereka bekerja pada pagi harinya sehingga mereka mempercayakan pendidikan anaknya pada TK Nurul Iman desa Penggarit ini.

Penelitian dilaksanakan di TK Nurul Iman Penggarit yang merupakan sekolah swasta dibawah binaan yayasan Nurul Iman yang didirikan sejak tahun 2001. Sejak awal didirikan sekolah ini selalu mendapatkan kepercayaan warga sekitar karena lokasi sekolah yang berada di pinggir jalan raya dan di pemukiman penduduk sehingga akses tersebut mudah di jangkau. Sebagian besar warga masyarakat bekerja sebagai petani, pedagang, wiraswasta, karyawan swasta dan sebagian kecil ada yang

2 3

(16)

menjadi PNS sehingga mereka lebih sibuk bekerja dan mempercayakan pendidikan anak mereka di sekolah ini.

Taman Kanak-kanak Nurul Iman mempunyai visi “Terciptanya Anak Didik yang Berakhlak Mulia, Sehat, Cerdas dan Terampil. Sedangkan Msi dari TK Nurul Iman Penggarit adalah : 1) Memberikan pendidikan agama dan budi pekerti serta pembelajaran disiplin yang tinggi. 2) Mengembangkan sikap perilaku religius di lingkungan dalam dan luar sekolah. Dengan Visi dan Misi tersebut diharapkan output nak didik dari TK ini sudah mempunyai akhlak yang mulia, disiplin cerdas dan terampil sehingga bisa bersaing di jenjang pendidikan selanjutnya. Sekolah ini mempunyai 4 orang guru dengan 1 orang sebagai kepala sekolah dan 3 orang lainnya sebagai guru, sehingga dalam pembelajaran dapat berjalan dengan baik karena tiap kelas di pegang oleh 2 orang guru.

Penelitian dilakukan pada semester 1 tahun pelajaran 2016/2017 pada bulan Oktober 2016, dengan rincian kegiatan : 1) Prasiklus, dilaksanakan pada Kamis, 7 Oktober 2016 dengan membuat, melaksanakan dan merefleksi 1 Rencana Kegiatan Harian. 2) Siklus I, dilaksanakan pada hari Senin – Jum’at tanggal 10 – 14 Oktober 2016 dengan merancang, membuat dan merefleksi 5 Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang sudah didiskusikan dengan supervisor 2. 3) Siklus II, dilaksanakan hari Senin – Jum’at tanggal 17 - 21 Oktober 2016 dengan merancang, membuat dan merefleksi 5 Rencana Kegiatan Harian (RKH) yang sudah didiskusikan dengan supervisor 2

Selama kurun waktu tersebut penelitian dibimbing oleh supervisor 1 dan supervisor 2. Adapun peran mereka adalah sebagai berikut : 1) Ibu Titik Kurniastuti, SS. M.Pd sebagai Supervisor 1 yang berperan menilai kemampuan mahasiswa dalam merancang, melaksanakan kegiatan pengembangan serta membantu mahasiswa dalam merancang, melaksanakan, dan membuat laporan perbaikan kegiatan pengembangan. 2) Ibu Naning Prasetyawati, S.Pd sebagai Supervisor 2 berperan menilai kemampuan mahasiswa dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pengembangan dengan menggunakan APKG-PKP 1 dan APKG-PKP 2.

(17)

Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran

Untuk memudahkan dalam mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) guna mengatasi permasalahan pengembangan bahasa dan keterampilan anak dalam mengenal huruf dengan media kartu huruf di kelompok A TK. Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang dengan benar dan rapi, maka penulis merencanakan perbaikan pembelajaran dalam 2 siklus. Pada masing-masing siklus dilaksanakan selama 5 hari berturut-turut, masing-masing siklus juga dilaksanakan melalui 4 tahap yaitu merencanakan, melaksanakan, observasi/ pengamatan dan refleksi. Prosedur pelaksanaan yang dilakukan penulis adalah : 1) Menyusun rencana perbaikan pembelajaran. 2) Melaksanakan tindakan perbaikan pembelajaran. 3) Melakukan observasi/pengamatan terhadap proses pembelajaran. 4) Melakukan refleksi.

Perencanaan dibuat dengan merumuskan tujuan upaya mengenal huruf untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan kecakapan anak melalui kegiatan meniru membuat huruf yang tertulis pada kartu huruf di TK. Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang Tahun Pelajaran 2016/2017 dan dilanjutkan dengan membuat dan mempraktekkan Rencana Kegiatan Harian (RKH) sebanyak 5 RKH.

Pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran dilaksanakan dua siklus dengan waktu pelaksanaan tanggal 10 – 14 Oktober 2016 untuk siklus I dan 17 – 21 Oktober untuk siklus II. Adapun langkah-langkah yang dilaksanakan pada siklus I dan siklus II adalah : 1) Guru memfasilitasi anak dalam kegiatan meniru membuat huruf yang tertulis pada kartu huruf. 2) Guru memperkenalkan kartu huruf dan menjelaskan huruf yang ada pada kartu huruf. 3) Guru mulai mendemonstrasikan meniru membuat huruf yang tertulis pada kartu huruf sehingga membentuk tulisan. 4) Guru mulai memberikan kartu huruf kepada masing-masing anak dan memerintahkan anak untuk meniru membuat huruf yang tertulis pada kartu huruf. 5) Guru memberi bimbingan pada anak yang mengalami kesulitan. 6) Guru menilai hasil pekerjaan anak.

Pada tahap pengamatan guru sebagai peneliti melakukan pengamatan terhadap kegiatan menebali tulisan pakaian pada kartu huruf di TK. Nurul Iman Penggarit Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, hasil pengamatan direfleksi untuk mengambil langkah pembelajaran selanjutnya.

(18)

Pada tahap refleksi peneliti mengadakan analisis, pemaknaan dan menyimpulkan terhadap tindakan yang telah dilaksanakan. Peneliti dan teman sejawat berdiskusi untuk memaknai data yang diperoleh dalam observasi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Dari hasil observasi dapat diketahui bahwa tindakan siklus II mempunyai kekuatan yaitu meningkatkan kemampuan bahasa dan kecakapan anak dalam mengenal huruf dengan media kartu huruf, anak mulai bisa mengenal dan menulis huruf-huruf yang ditunjukkan oleh guru dengan media kartu huruf.

Teknik Analisis Data

Untuk mengetahui keefektifan media kartu huruf pada kegiatan pembelajaran bahasa dalam mengenal huruf perlu dilakukan analisis data. Pada penelitian tindakan kelas ini digunakan analisis deskripsi kualitatif yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperolah dengan tujuan untuk megetahui peningkatan kemampuan bahasa dan kecakapan anak dan juga untuk mengetahui peningkatan keterampilan guru dalam mengelola kelas dalam pembelajaran.

Tahapan sesudah pengumpulan data adalah analisis data. Walaupun data yang telah dikumpulkan lengkap dan valid, jika peneliti tidak mampu menganalisisnya maka datanya tidak akan memiliki nilai ilmiah yang dapat digunakan untuk perkembangan ilmu pengetahuan. (Arikunto, 2009:131). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan kualitatif.

Indikator Kinerja

Penelitian Tindakan Kelas ini dikatakan berhasil apabila sudah ada kenaikan kemampuan bahasa dan kecakapan anak setelah dilakukan pembelajaran dengan media kartu huruf. Adapun rincian keberhasilan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1) Adanya peningkatan kemampuan bahasa dalam pembelajaran mengenal huruf dengan media kartu huruf apabila sekurang-kurangnya 85% dari jumlah anak dengan bahasa baik. 2) Adanya peningkatan keterampilan anak sekurang-kurangnya 80%

dari jumlah anak sekurang-kurangnya mencapai nilai baik.

(19)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Berdasarkan hasil pengamatan, guru berusaha mencari media yang tepat untuk mengenalkan huruf kepada anak kelompok A TK. Nurul Iman Penggarit untuk meningkatkan kemampuan bahasa dan keterampilan anak, maka diambillah media kartu huruf dengan kegiatan menulis menggunakan kartu huruf dan indikator yang diambil adalah menulis huruf. Kegiatan pra siklus dilaksanakan tanggal 6 Oktober 2016 dengan membuat satu Rencana Kegiatan Harian yang mengambil tema kebutuhanku, pada pra siklus didapatkan hasil kemampuan bahasa anak yaitu dari 20 siswa hanya 2 anak atau 10% yang sudah mampu, 4 anak atau 20% cukup mampu dan sisanya 14 anak atau 70% kurang mampu. Hasil keterampilan anak pada pra siklus juga masih rendah dengan diperoleh data dari 20 siswa hanya 5 anak atau 25%

yang terampil sedangkan sisanya 15 anak atau 75% tidak terampil.

Hasil pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I kemampuan mengenal huruf anak didik sudah ada peningkatan, sehingga berpengaruh kepada meningkatnya kemampuan bahasa anak. Adapun nilai yang didapat dari 20 anak didik sebagai berikut : Anak yang mendapat nilai sudah mampu ada 10 anak (50%), yang mendapat nilai cukup mampu ada 5 (25% ) anak dan yang mendapat nilai kurang mampu ada 5 (25 %) anak didik. Keterampilan anak didik sudah ada peningkatan, nilai yang diperoleh dalam pembelajaran siklus I adalah anak yang terampil ada 11 anak (55%), cukup terampil ada 5 anak (25%) dan kurang terampil ada 4 anak (20%) dari total 20 anak didik.

Melihat hasil refleksi Siklus I dimana kemampuan bahasa anak dalam mengenal huruf dan keterampilan anak dalam pembelajaran sudah mengalami kenaikan tetapi belum maksimal dan masih dibawah indikator kinerja yang sudah ditentukan sebelumnya maka peneliti memutuskan melanjutkan kembali perbaikan kegiatan pegembangan pada siklus II.

Dari hasil analisis data pada siklus II ini dicermati tentang apa yang telah terjadi dan telah dilaksanakan, seperti pada siklus II ini . Dari analisis data dikaji keberhasilan dan kelemahan guna mencapai tujuan pembelajaran serta direfleksikan

(20)

untuk menentukan tindakan pada siklus selanjutnya . Kemampuan bahasa anak didik dalam mengenal huruf pada siklus II sudah ada peningkatan, nilai yang didapat dari 20 anak didik sebagai berikut : Anak yang mendapat nilai sudah mampu ada 16 anak (80%), yang mendapat nilai cukup mampu ada 2 (10% ) anak dan yang mendapat nilai kurang mampu ada 2 (10 %) anak didik. Keterampilan anak didik sudah ada peningkatan yang sangat pesat, nilai yang diperoleh dalam pembelajaran siklus II sebagai berikut : Anak yang terampil ada 17 anak (85%), cukup terampil ada 1 anak (5%) dan kurang terampil ada 2 anak (10%)dari total 20 anak didik

Melihat hasil refleksi Siklus II dimana hasil belajar anak didik sudah maksimal maka peneliti memutuskan tidak melanjutkan kembali perbaikan kegiatan pengembangan pada siklus III.

Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Dalam pembahasan hasil penelitian perbaikan pembelajaran menyajikan perbandingan hasil belajar prasiklus, siklus I, dan siklus II pada area bahasa dalam bentuk tabel. Adapun perbandingan kemampuan bahasa anak dalam mengenal huruf antara sebelum dan sesudah perbaikan pembelajaran disajikan melalui tabel berikut.

Tabel 1. Perbandingan Kemampuan Bahasa Anak pada Area Bahasa Prasiklus, Siklus I dan Siklus II

No Nama Kegiatan

Kemampuan Bahasa

 √ 

Jml % Jml % Jml %

1. Prasiklus 3 15 4 20 13 65

2. Siklus I 8 40 5 25 7 35

3. Siklus II 16 80 2 10 2 10

Sedangkan pada penilaian keterampilan perbandingan keterampilan anak pada area bahasa mulai dari prasiklus, siklus I, dan siklus II dalam bentuk tabel disajikan melalui tabel berikut.

Tabel 2. Perbandingan Keterampilan Anak pada Area Bahasa

(21)

Prasiklus, Siklus I dan Siklus II

No Aspek yang dinilai Pra -Siklus Siklus I Siklus II

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

1. Terampil 4 20 11 55 17 85

2. Cukup terampil 4 20 5 25 1 5

3. Kurang terampil 12 60 4 20 2 10

SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT Simpulan

Hasil yang didapatkan setelah penelitian perbaikan pembelajaran selama 2 siklus dengan melaksanakan 10 Rencana Kegiatan Harian (RKH) melalui kegiatan mengenal huruf dengan media kartu huruf terjadi peningkatan kemampuan bahasa anak dari prasiklus sampai berakhirnya siklus II. Anak yang kemampuan bahasanya masuk kategori sudah mampu pada prasiklus hanya 3 anak (15%) kemudian naik menjadi 8 anak (40%) pada siklus I dan naik kembali menjadi 16 anak (80%) pada siklus II. Anak yang kemampuan bahasanya masuk kategori sudah cukup pada prasiklus berjumlah 4 anak (20%) kemudian naik menjadi 5 anak (25%) pada siklus I dan turun menjadi 2 anak (10%) pada siklus II. Sedangkan anak yang kemampuan bahasanya termasuk kategori kurang mampu pada prasiklus berjumlah 13 anak (65%) kemudian turun manjadi 7 anak (35%) dan turun kembali menjadi 2 anak (10%) pada akhir siklus II. Peningkatan ini terjadi karena anak tertarik dengan kegiatan bermain kartu pintar, anak menjadi antusias menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru sehingga kemampuan bahasanya menjadi meningkat.

Kegiatan perbaikan pembelajaran dengan mengenal huruf menggunakan media kartu huruf juga dapat meningkatkan keterampilann anak dari prasiklus sampai berakhirnya siklus II. Pada prasiklus, anak yang termasuk kategori sudah terampil sebanyak 4 anak (20%) dan naik menjadi 11 anak (55%) pada siklus I dan naik menjadi 17 anak (85%) pada siklus II, sementara untuk anak yang termasuk kategori

(22)

cukup terampil pada prasiklus berjumlah 4 anak (20%) naik menjadi 5 anak (25%) pada siklus I dan turun menjadi 1 anak (5%) pada siklus II.

Peningkatan kemampuan bahasa dan keterampilan anak melalui kegiatan mengenal huruf dengan media kartu huruf disebabkan penggunaan media kartu huruf yang maksimal dapat menarik minat anak untuk ikut secara aktif dalam pembelajaran Saran Tindak Lanjut

Berdasarkan analisis masalah dalam penelitian ini, maka peneliti memberikan saran-saran untuk tindak lanjut sebagai berikut. 1) Guru dapat memberikan program pengembangan kemampuan mengenal huruf dengan metode permainan kartu huruf.

Huruf pada kartu yang digunakan ukuranya perlu diperbesar dan penggunaan gambar perlu dibuat lebih jelas. 2) Guru hendaklah kreatif dalam mencari dan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan peserta didik agar pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai keberhasilan yang memuaskan. 3) Sekolah dapat memberikan dorongan dan menciptakan sistem manajemen pendidikan yang dapat mengarahkan guru untuk melakukan terobosan-terobosan yang positif dalam proses pembelajaran. 4) Sekolah perlu menambah berbagai sumber kegiatan yang menarik untuk anak dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan misalnya dengan menyediakan buku-buku kumpulan permainan anak, sehingga metode pembelajaran yang ada dapat lebih bervariatif.

DAFTAR PUSTAKA

Agus Hariyanto. (2009). Membuat Anak Anda Cepat Pintar Membaca. Yogyakarta:

Diva Press

Agus Suryabrata. (1997). Metodologi Penelitian. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Arif S. Sadiman dkk (2006). Media Pendidikan, Pengertian, Pengembangan dan

Pemanfaatannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Arsyad, Azhar. (2005). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Badru Zaman dkk. (2008). Media dan Sumber belajar TK. Jakarta: Universitas

Terbuka

Enny Zubaidah. (2003). Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini. Yogyakarta:

Universitas Negeri Yogyakarta

(23)

Depdiknas. (2007). Pedoman Pembelajaran Bidang Pengembangan Berbahasa di Taman Kanak-kanak. Jakarta: Balai Pustaka.

Harun Rasyid dkk. (2009). Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini .Yogyakarta:

Multi Pressindo

Maimunah Hasan. (2009). Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Diva Press Nurbiana Dhieni. (2007). Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Universitas

Terbuka

Rita Eka Izzaty dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik, Yogyakarta: UNY Press Santrok, John. W. (2007). Perkembangan Anak. (Alih bahasa: Mila Rachmawati).

Jakarta: Erlangga

Slamet Suyanto. (2005). Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta:

Hikayat Publishin

Soemiarti Padmonodewo (2003). Buku Ajar Pendidikan Prasekolah. Jakarta: PT.

Rineka Cipta

Soenjono Dardjowidjojo. (2003). Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta:

Yayasan Obor Indonesia

Tadkiroatun Musfiroh. (2009). Cerita untuk Anak Usia Dini. Yogyakarta: Tiara Wacana

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh permainan kartu angka dan huruf terhadap kemampuan mengenal lambang bilangan dan huruf anak usia 5-6

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa media kartu huruf sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan membaca anak dalam proses pembelajaran pada anak kelompok B di

Setelah melakukan penelitian ini ada beberapa temuan dalam peningkatan kemampuan membaca al-Qur’an dengan menggunakan media kartu huruf hijaiyah diantaranya: pertama

Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan anak mengenal huruf hijaiyyah sebelum dan sesudah menggunakan kartu huruf hijaiyyah, untuk mengetahui kendala

Balok huruf yang digunakan dapat meningkatkan kemampuan mengenal huruf pada anak karena sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hisna (2012) tentang

Secara umum proses pembelajaran dengan penerapan metode demonstrasi berbantuan media kartu bergambar untuk meningkatkan kemampuan kognitif dalam mengenal lambang

Penelitian ini berjudul Upaya meningkatkan kemampuan mengenal huruf hijaiyah dengan media pohon huruf pada anak Kelompok B TK PGRI 2 Karangsari Kecamatan Punggelan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah:Mendeskripsikan aktivitas guru dalam meningkatkan kemampuan mengenal huruf melalui metode demonstrasi