• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of Kalimat pasif pada karangan siswa sekolah dasar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of Kalimat pasif pada karangan siswa sekolah dasar"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an

Vol. 9, No. 2, 2023, pp. 206-209

Available online: https://jurnal.ustjogja.ac.id/index.php/trihayu

This is an open access article under the CC–BY-SA license.

10.30738/trihayu.v9i2.12573

Kalimat pasif pada karangan siswa sekolah dasar

Ngaestyono Prayoga1*a, Jihan Annisa Fitri Yani2b

Program Studi Pendidikan bahasa dan sastra, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[email protected] a*; [email protected]b

*Corresponding Author

Received: 24-06-2022; Revised: 08-07-2022; Accepted: 13-07-2022

Abstract: Passive sentences are often used in Indonesian sentences. The use of Indonesian passive sentences is considered more polite and more refined. Passive sentences are related to politeness in language. The more you understand about the passive voice, the more polite the sentences will be.

Etymologically or the origin of the word, syntax comes from two Greek words, namely sun which means "with" and tattein which means "to place". Judging from the two words, etymologically, syntax means placing words into groups of words, phrases or sentences. An essay is the result of a person's series of activities in expressing his ideas or thoughts through written language that can be read by others. There are several types of essays, namely scientific essays, semi- scientific essays, descriptive essays, expositional essays, and narrative essays. The purpose of writing this research is to describe the level of use of passive sentences in Indonesian in an essay by 5th grade elementary school students.

This research is related to writing a narrative essay. Writing is one of the four aspects of language skills.

The method used in this research is descriptive method. The research data is in the form of student essays and the source of research data is essays from elementary students and the object of this research is the use of passive sentences. The results of the research on the form of passive sentences in students' essays contained passive sentences with the prefix di- and the prefix ter-, namely accompanied and paid off. In the essays by elementary school students, the researcher concluded that the most dominant type of passive sentence used was the prefix di-.

Keywords: Syntax, Passive Sentence, Composition

Abstrak: Kalimat pasif sering digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Penggunaan kalimat pasif bahasa Indonesia dirasa lebih sopan dan lebih halus. Kalimat pasif berhubungan dengan kesopanan berbahasa. Semakin paham mengenai kalimat pasif, maka kalimat yang digunakan akan lebih sopan.

Secara etimologi atau asal usul katanya, sintaksis berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu sun yang berarti “dengan” dan tattein yang berarti “menempatkan”. Melihat dari dua kata tersebut, secara etimologi, sintaksis berarti menempatkan kata-kata menjadi kelompok kata, frasa atau kalimat.

Karangan adalah hasil rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan atau buah pemiikirannya melalui bahasa tulis yang dapat dibaca oleh orang lain. Karangan memiliki beberapa jenis yaitu karangan ilmiah, karangan semi ilmiah, karagan deskripsi, karangan eksposisi, dan karangan narasi.Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk memaparkan tingkat penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia di sebuah karangan siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Penelitian ini berkaitan dengan menulis sebuah karangan narasi. Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data penelitian ini berupa karangan siswa dan Sumber data penelitian adalah karangan dari siswa SD dan objek penelitian ini ialah bentuk penggunan kalimat pasif. hasil penelitian bentuk kalimat pasif dalam karangan siswa terdapat kalimat pasif berprefiks di- dan berprefiks ter- yaitu ditemani dan terbayar.

Pada karangan siswa Sekolah Dasar peneliti mengambil kesimpulan bahwa yang paling dominan digunakan merupakan tipe kalimat pasif berprefiks di-.

Kata Kunci: Sintaksis, kalimat pasif, komposisi

(2)

Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 9 (2), 2023, 207 Ngaestyono Prayoga, Jihan Annisa Fitri Yani

Copyright © 2023, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an 2356-5470 (ISSN Online) | 2579-5120 (ISSN Print)

How to Cite: Prayoga, N., & Yani, J. A. F. (2023). Kalimat pasif pada karangan siswa sekolah dasar: Kalimat Pasif. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 9(2), 206–209.

https://doi.org/10.30738/trihayu.v9i2.12573

Pendahuluan

Pembelajaran menulis di sekolah dasar seperti yang diamanatkan oleh Depdiknas (2006) dengan Permendiknas RI No.22 Tahun 2006 (Standar Isi) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa siswa harus dapat melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrasa, serta berbagai karya sastra anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.

Karangan adalah hasil rangkaian kegiatan seseorang dalam mengungkapkan gagasan atau buah pemiikirannya melalui bahasa tulis yang dapat dibaca oleh orang lain. Karangan memiliki beberapa jenis yaitu karangan ilmiah, karangan semi ilmiah, karagan deskripsi, karangan eksposisi, dan karangan narasi. Pembuatan karangan meliputi aspek-aspek kajian sintaksis. Aspek yang dikaji dalam sintaksis merupakan frasa, klausa dan kalimat.

Sintaksis merupakan salah satu cabang dari ilmu linguistik yang kajiannya mencakup seluk-beluk tata bahasa dalam satuan kalimat. Dikutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sintaksis memiliki tiga arti yaitu; (1) pengaturan dan hubungan kata dengan kata atau dengan satuan lain yang lebih besar (2) cabang ilmu linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya; ilmu tata kalimat; ilmu nahwu (3) subsistem ilmu bahasa yang mencakup hal tersebut. Secara etimologi atau asal usul katanya, sintaksis berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu sun yang berarti “dengan” dan tattein yang berarti “menempatkan”. Melihat dari dua kata tersebut, secara etimologi, sintaksis berarti menempatkan kata-kata menjadi kelompok kata, frasa atau kalimat. Sintaksis merupakan kata serapan dari bahasa Belanda syntaxis dan bahasa Inggris, syntax. Sintaksis, dilihat dari sudut pandang linguistik, sebenarnya memiliki cakupan kajian yang sama dengan analisis morfologi. Keduanya sama- sama mengkaji mengenai tata bahasa. Perbedaannya adalah, morfologi mengkaji dengan melihat hubungan gramatikal yang ada pada kata-kata hingga kalimat. Sementara sintaksis mengkaji hubungan gramatikal di luar batas kata dalam satuan kalimat.

Kalimat pasif sering digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Penggunaan kalimat pasif bahasa Indonesia dirasa lebih sopan dan lebih halus. Kalimat pasif berhubungan dengan kesopanan berbahasa. Semakin paham mengenai kalimat pasif, maka kalimat yang digunakan akan lebih sopan. Pengertian kalimat pasif merupakan kalimat yang subjeknya mendapatkan perlakuan, tindakan, atau pemberian kata kerja tertentu dalam aktivitas atau tindakannya. Dengan kata lain, kalimat pasif menunjukkan bahwa subjek merupakan bagian yang menjadi

tujuan dari adanya suatu tindakan yang sedang atau telah dilakukan. Dalam struktur kalimat pasif, maka subjek menjadi bagian yang dikenakan suatu tindakan atau aktivitas.

Subjek dalam kalimat pasif tidak berposisi sebagai pelaku, melainkan peran pelaku dipegang oleh objek. Pada dasarnya, kedua kalimat bertolak belakang dalam penggunaannya. Namun, keduanya memiliki hubungan dimana kalimat aktif dapat diubah menjadi kalimat pasif dan sebaliknya. Sebuah kalimat pasif juga dapat diubah menjadi kalimat pasif. Baik kalimat aktif dan kalimat pasif,keduanya sama-sama saling terhubung satu sama lain. Berdasarkan subjeknya, kalimat pasif dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu sebagai berikut: (1) Kalimat Pasif

(3)

Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 9 (2), 2023, 208 Ngaestyono Prayoga, Jihan Annisa Fitri Yani

Copyright © 2023, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an 2356-5470 (ISSN Online) | 2579-5120 (ISSN Print)

Transitif, yaitu kalimat pasif yang memiliki objek. (2) Kalimat Pasif Intransitif, yaitu kalimat pasif yang tidak memiliki objek.

Selain berdasarkan subjeknya, kalimat pasif dibagi berdasarkan predikatnya, yaitu: (1)Kalimat Pasif Tindakan, Kalimat pasif tindakan adalah kalimat pasif dimana predikatnya menyatakan suatu perbuatan/kegiatan/tidakan. Imbuhan yang digunakan adalah di-, ter-, ke-, dan kata ganti. (2)Kalimat Pasif Keadaan, Kalimat pasif keadaan adalah kalimat pasif yang predikatnya menyatakan keadaan subjek. Kata kerja yang digunakan ditandai dengan kata berimbuhan ke-an.

Berdasarkan penjelasan dan uraian di atas, Tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk memaparkan tingkat penggunaan kalimat pasif dalam bahasa Indonesia di sebuah karangan siswa kelas 5 Sekolah Dasar. Penelitian ini berkaitan dengan menulis sebuah karangan narasi.

Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data penelitian ini Sumber data penelitian adalah karangan dari siswa SD dan objek penelitian ini ialah bentuk penggunan kalimat pasif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang dapat dijadikan acuan bagi pengajaran Bahasa Indonesia pada umumnya dan khususnya berkaitan dengan kalimat pasif.

Hasil dan Pembahasan

Dalam penelitian ini penulis membatasi kajian penelitian dengan berfokus pada cerita hasil karangan siswa kelas 5 SD sebagai bahan analisis. Hasil penelitian tersebut dirangkum dalam artikel singkat ini yang difokuskan pada analisis kalimat pasif pada karangan siswa Sekolah Dasar dalam bahasa Indonesia.

Pada kalimat “Saya belajar online ditemani orang tua saya di rumah. Saya mulai belajar online sejak kelas 4 SD” terdapat kalimat pasif berprefiks di- yaitu ditemani karena mengandung kata kerja pasif bentuk di-V-i. pasif bentuk di-V-I ditandai penggunaan di- diikuti verba pangkal dan akhiran. Verba ditemani berperan sebagai predikat dalam kalimat pasif. Verba di-V-i pada kata ditemani diikuti frase adjektiva yang menjadi pelengkap verba ditemani yaitu membenarkan hal itu

Pada kalimat ““Tetapi, setelah melewati jalan yang sedikit menantang terbayar sudah dengan indahnya pemandangan di Oemah Bambu”. Terdapat beberapa wujud variasi kalimat pasif yang termuat dalam karangan deskriptif siswa. Proses analisis berdasarkan rumusan masalah pertama menunjukkan adanya wujud variasi kalimat pasif. verbal berafiks ter- yang merupakan salah satu ciri verbal pasif. Sesuai dengan ciri kalimat pasif dimana predikat menggunakan awalan ter-.

Kesimpulan

Kalimat pasif sering digunakan dalam kalimat bahasa Indonesia. Penggunaan kalimat pasif bahasa Indonesia dirasa lebih sopan dan lebih halus. Kalimat pasif berhubungan dengan kesopanan berbahasa. Semakin paham mengenai kalimat pasif, maka kalimat yang digunakan akan lebih sopan. Pengertian kalimat pasif merupakan kalimat yang subjeknya mendapatkan perlakuan, tindakan, atau pemberian kata kerja tertentu dalam aktivitas atau tindakannya. Berdasarkan dari hasil penelitian bentuk kalimat pasif dalam karangan siswa

(4)

Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 9 (2), 2023, 209 Ngaestyono Prayoga, Jihan Annisa Fitri Yani

Copyright © 2023, Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an 2356-5470 (ISSN Online) | 2579-5120 (ISSN Print)

terdapat kalimat pasif berprefiks di- dan berprefiks ter- yaitu ditemani dan terbayar. Pada karangan siswa Sekolah Dasar peneliti mengambil kesimpulan bahwa yang paling dominan digunakan merupakan tipe kalimat pasif berprefiks di-.

Daftar Pustaka

Afriliani, K., Zuliani, R., & Wibisana, N. E. (2021). Analisis Kesalahan Pola Kalimat Bahasa Indonesia pada Karangan Narasi Kelas IV SD Negeri Kunciran 07. Nusantara, 3(3), 427–441.

Antari, W. Y., & Satyawati, M. S. (2017). Analisis Penggunaan Kalimat Bahasa Indonesia pada Karangan Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri 10 Sanur, Denpasar. Jurnal Humanis, 21(1), 46-51.

Busyro, B. (2019). Kemampuan Penggunaan Kalimat Transformasi Bahasa Indonesia dalam Karangan Siswa Sma Ma’arif NU Solokuro Kabupaten Lamongan. Tasyri: Jurnal Tarbiyah-Syariah-Islamiyah, 26(1), 33-48.

Candraningrum, D., & Nartani, C. I. (2017). Peningkatan Keterampilan Menulis Karangan Sederhana Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture And Picture Pada Siswa Kelas III SDN 1 Gondangwayang Temanggung Tahun Ajaran 2015/2016. Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, 3(2).

https://doi.org/10.30738/trihayu.v3i2.908

Eliana, N. (2020). Analisis Kemampuan Menulis Kosakata Bahasa Indonesia Siswa Kelas Iii Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar, 11(1), 45-55.

Mahmudi, Zulaeha, I., & Supriyanto, T. (2013). Menulis Narasi Dengan Metode Karyawisata dan Pengamatan Objek Langsung Serta Gaya Belajarnya. Journal of Primary Education, 2 (1)(1), 180–185.

Mustika, N. (2017). Kalimat Pasif dalam Bahasa Inggrisdan Bahasa Indonesia: suatu Analisis Kontrastif. Jurnal Kata: Penelitian Tentang Ilmu Bahasa Dan Sastra, 1(2), 109-116.

Peraturan, & Indonesia, M. P. N. R. (2012). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah. European Journal of Organic Chemistry, 1(14), 2756–2765.

https://doi.org/10.1002/ejoc.201200111

Suher, S. (2016). Fungsi pelaku dalam kalimat pasif bahasa Indonesia. Paramasastra, 3(2), 209- 224.

Wulandari, R. S., Zulaihah, S., & Hurustyanti, H. (2017). Analisis Struktur Kalimat Pasif Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia melalui Contrastive Recognition. Deiksis, 9(03), 374. https://doi.org/10.30998/deiksis.v9i03.1834

Referensi

Dokumen terkait

Latar (Ks) dan ide pokok pertama adalah kota Semarang. Jenis karangan narasi yang berbentuk sketsa atau pengalaman pribadi. Karena karangan tersebut menceritakan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empirik mengenai kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas IV di SDN Dawuan Timur I dengan

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan media gambar berseri terhadap kemampuan menulis karangan narasi pada siswa kelas V.. Media gambar seri adalah

Penelitian ini memiliki dua tujuan. 1) Mendeskripsikan Penggunaan afiks pada karangan narasi dan 2) mendeskripsikan kesalahan penggunaan afiks yang paling

(1)rata-rata skor hasil belajar siswa kelas V A Sekolah Dasar Negeri 36 Pontianak Kota (kelas kontrol) pada keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas V tanpa

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan menulis karangan deskripsi siswa kelas II Sekolah Dasar Islam Al-Amanah Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung

Kemampuan menulis karangan narasi siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan

Dari uraian yang telah dipaparkan, metode quantum writing dianggap efektif digunakan dalam pembelajaran menulis karangan narasi, oleh karena itu secara khusus