Efisiensi Operasional Bank Umum Syariah
Budi Gautama Siregar1, Aswadi Lubis2, Muhammad Salman3
1,2Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan
3Fakultas Ekonomi Universitas Samudra Corresponding Author:[email protected]1
ABSTRACT
The purpose of this study was to analyse and describe the effect of Non-Performing Financial, Capital Adeuacy Ratio and bank size on the operational efficiency of Islamic Commercial Banks for the period 2017-2022. This research approach is quantitative with the source of data used is secondary, namely quarterly reports from Islamic Commercial Banks. In determining the sample used with purposive sampling technique, so that the data that met the criteria were 8 banks with 20 quarters from 2017-2022. Data analysis was carried out through statistical methods, namely descriptive analysis, classical assumptions hypothesis testing with the help of the Eviews application. The results showed that Non- Performing Financial affects the level of operational efficiency of Islamic Commercial Banks while Capital Adequacy Ratio and bank size cannot affect the operational efficiency of banks.
Keywords: Operational Efficiency, BOPO, NPF, CAR, Bank Size
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan mendeskripsikan pengaruh Non-Performing Financial, Capital Adeuacy Ratio dan bank size terhadap efisiensi operasional Bank Umum Syariah periode 2017-2022. Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif dengan sumber data yang digunakan sekunder yaitu laporan triwulan dari Bank Umum Syariah.
Dalam menentukan sampel digunakan dengan teknik purposive sampling, sehingga data yang memenuhi kriteria sebanyak 8 bank dengan 20 triwulan dari tahun 2017-2022.
Analisis data dilakukan melalui metode statistik yaitu analisis deskriptif, asumsi klasik uji hipotesis dengan bantuan aplikasi Eviews . Hasil penelitian ditemukan bahwa Non- Performing Financial mempengaruhi secara signifikan tingkat efisiensi operasional Bank Umum Syariah sedangkan Capital Adequacy Ratio dan bank size tidak dapat mempengaruhi efisiensi operasional bank.
Kata Kunci: Efisiensi Operasional, BOPO, NPF, CAR, Bank Size
PENDAHULUAN
Perbankan merupakan lembaga yang mempunyai peranan startegis dalam perjalanan negara. Perbankan adalah termasuk dalam kelompok lembaga keuangan yang sangat stgrategis dan penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara Indonesia. Peran utama bank adalah sebagai intermediasi (perantara) antara pihak-pihak yang memiliki dana berlebih (unit surplus) dengan pihak-pihak yang memerlukan dana (unit defisit). Pihak- pihak dengan dana yang berlebih akan menyimpan dana mereka di bank, sementara pihak- pihak yang berkekurangan dana akan melakukan peminjaman dana dari bank (Nofinawati, 2016). Perkembangan perbankan di Indonesia telah menerapkan dual system bank yaitu bank konvensional diperbolehkan untuk membuka layanan dengan system Syariah disetiap cabangnya (Supriatin et al., 2019).
Perkembangan industri perbankan syariah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, namun dalam perjalanannya tentu tidak dapat terlepas dari banyaknya tantangan dan hambatan. Persaingan diantara sesama bank syariah termasuk menjadi tantangan tersendiri, sehingga menjadikan setiap bank syariah harus mempunyai keunggulan yang dapat
Disamping itu bank juga harus melakukan aktivitas efisiensi guna menekan pengeluaran- pengeluaran yang tidak diperlukan sehingga setiap pengeluaran yang dilakukan memberikan arti dan makna penting bagi bank itu sendiri.
Efisiensi dalam konteks perbankan menggambarkan kecakapan dari suatu bank dalam memaksimalkan hasil yang diperolah dari berbagai sumber daya yang dimilikinya.
Dengan mengelola input secara efektif, bank mampu menghasilkan output optimal yang tercermin dalam layanan dan produk yang disediakan. Efisiensi ini merupakan salah satu solusi dalam mengatasi tantangan yang timbul saat mengukur kinerja bank, termasuk menghitung aspek-aspek penting seperti alokasi sumber daya, efisiensi teknis, dan keseluruhan efisiensi. Efisiensi operasional bank memainkan peran penting dalam memastikan bahwa institusi keuangan dapat berfungsi secara optimal dalam melayani para nasabahnya. Dengan langkah-langkah efisiensi yang tepat, bank dapat mengoptimalkan kinerja mereka dengan cara berdampak positif pada pengurangan pengeluaran dan peningkatan pendapatan (Deanna, 2018:218-225).
Efisiensi operasional dapat dilakukan dengan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO), semakin tinggi rasio BOPO menandakan bahwa bank tersebut semakin tidak efisien. Rasio BOPO dapat terlihat pada tabel 1.
Tabel 1 Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) Dalam Persen (%)
NO Nama BUS Triwulan 2020 2021 2022
1 Bank Muamalat Indonesia I 0.9913 0.9794 0.9851
II 0.9904 0.9819 0.9842
III 0.9883 0.9838 0.9846
IV 0.995 0.9945 0.9929
2 Bank BCA Syariah I 0.9014 0.9 0.8861
II 0.8904 0.8953 0.8707
III 0.892 0.8932 0.8659
IV 0.8755 0.8628 0.4309
3 Bank Victoria Syariah I 0.9645 0.9817 0.9817
II 0.9787 0.9978 0.9978
III 0.9916 0.979 0.979
IV 0.998 0.9693 0.9693
4 Bank Panin Syariah I 0.9747 0.9741 0.9891
II 0.9884 0.9986 0.9933
III 0.9865 1.002 0.9954
IV 0.9774 0.9942 2.0274
5 Bukopin Syariah I 0.9975 0.9886 0.994
II 0.9944 0.9908 0.9931
III 0.9996 0.9896 0.9929
IV 0.996 0.9773 1.8025
6 BJB Syariah I 0.9304 0.8316 0.8246
II 0.8297 0.9522 0.8312
III 0.841 0.9374 0.8288
IV 0.9393 0.8395 0.8873
7 Bank Aceh Syariah I 0.8911 0.8412 0.7461
II 0.8351 0.8267 0.8068
III 0.8282 0.8162 0.8062
IV 0.7695 0.815 0.7837
8 BPD Nusa Tenggara Barat Syariah
I 0.8367 0.8076 0.88
II 0.7933 0.8004 0.8406
III 0.7962 0.8029 0.8289
IV 0.7683 0.8139 0.8256
Sumber: Data tahunan bank umum syariah
Salah satu indikator utama efisiensi operasional dalam industri perbankan adalah
Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO). Dalam teori menyatakan bahwa nilai BOPO yang lebih rendah dari 90% mengindikasikan tingkat efisiensi yang lebih tinggi.
Namun terdapat beberapa kasus di mana nilai BOPO dari beberapa bank tidak sesuai dengan prinsip ini, yaitu Bank BCA Syariah, Bank Aceh, Bank BPD Nusa Tenggara Barat Syariah yang mencatatkan nilai BOPO dibawah 90% pada periode tertentu. Pada tahun 2021 di triwulan III, ban BCA Syariah melaporkan nilai BOPO sebesar 0,892, meskipun angka ini berada dibawah ambang batas 90 %, implikasi efisiensinya tetap harus dianalisis dengan hati-hati. Begitu juga dengan Bank Aceh, pada tahun 2020 di triwulan IV, memiliki BOPO sebesar 0,7695 dan BPD Nusa Tenggara Barat Syariah pada tahun 2020 dengan nilai BOPO pada triwulan II-IV berturut-turut adalah 0,7933, 0,7683 dan 0,7683.
Penelitiannya Firdaus & Hosen (2014:187) ditemukan bahwa terdapat pengaruh yang negatif antara Non-Performing Financing (NPF) dengan tingkat efisiensi Bank. Bank yang mengalami tingkat pembiayaan macet yang tinggi umumnya tidak akan dapat menjalankan aktivitas operasionalnya secara efisien. Demikian juga dengan penelitian (Wulandari &
Ryandono, 2020) yang menemukan terjadi dampak negatif yang signifikan antara Capital Adequacy Ratio terhadap tingkat efisiensi Bank Umum Syariah melalui Pendekatan SFA.
Hasil ini mengindikasikan bahwa kemampuan bank dalam mengokohkan aktivitas operasional dan menarik minar dari investor asing memiliki implikasi positif. Situasi menguntungkan ini pada akhirnya berperan dalam meningkatkan tingkat operasional bank.
Bertentangan dengan pendapatnya Rosman; Rohim (2013:63) bahwa Non-Performing Financing (NPF) dan Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki dampak positif terhadap tingkat efisiensi Bank Umum Syariah.
Merujuk pada gap penelitian tersebut diatas, masih memungkinkan dilakukan penelitian kembali dengan menambah periode pengamatan dari tahun 2017-2022.
Penelitian ini juga akan mengangkat variable Non-Performing Financing (NPF), Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Bank Size sebagai faktor yang mempengaruhi efisiensi operasional Bank Umum Syariah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menggambarkan bagaimana Non-Performing Financing (NPF), Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Bank Size dalam mempengaruhi tingkat efisiensi Bank Umum Syariah dari tahun 2017-2022
Kerangka Teori dan Pengembangan Hipotesis Non-Performing Financing (NPF) Konsep Non-Performing Financing mencerminkan kapasitas Bank Umum Syariah dalam mengelola pembiayaan yang mengalami masalah. Kondisi ini dimulai dari kasus ketidapatuhan (risiko kepatuhan), yakni ketika pihak peminjam tidak mampu atau tidak bersedia untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan kesepatakan yang tertuang dalam perjanjian pembiayaan (Umam, Khotibul; Setiawan, Budi, 2017:206). Darmawi (2014:126) Non-Performing Financing mencakup situasi dimana pihak peminjam tidak mampu memenuhi syarat-syarat yang telah disetujui dalam perjanjian kredit yang telah ditandatanginya. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai faktor yang memerlukan peninjauan ulang atau bahkan perubahan dalam perjanjian tersebut, karena terdapat potensi risiko kredit yang akan terus meningkat. Non performing financing merujuk pada kredit- kredit yang mengalami hambatan dalam pelunasannya dan diberi klasifikasi sebagai
kurang likuid, meragukan, atau macet. Tingkat NPF yang tercatat mencerminkan performa suatu bank dalam mengelola dana yang diberikan atau dititipkan nasabah. Jika proporsi pembiayaan bermasalah meningkat, hal ini akan mengakibatkan penurunan pendapatan bank. Tentu kondisi inio akan mempengaruhi tingkat profitabilityas dari Bank Umum Syariah tersebut.
Risiko NPF yang semakin meningkat akan berdampak pada kualitas pembiayaan dalam Bank Umum Syariah, dengan meningkatnya jumlah pembiayaan yang menghadapi masalah, maka akan mengakibatkan kerugian pada bank. Dampak ini pada gilirannya mempengaruhi pada penurunan laba yang dihasilkan oleh bank. Akibatnya, dapat disimpulkan bahwa proses penyaluran dana yang merupakan bagian integral dari peran bank sebagai lembaga perantara keuangan mengalami penurunan efisiensi. Perhitungan NPF yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
Non-Performing Financing (NPF) =𝑃𝑒𝑚𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛 𝑀𝑎𝑐𝑒𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎𝑎𝑛x100%
NPF dihitung melalui perbandingan antara total nilai pembiayaan bermasalah dengan total nilai pembiayaan yang telah diberikan, semakin rendah NPF, maka semakin kecil risiko yang harus ditanggung oleh bank terkait pembiayaan tersebut. Bank Indonesia telah menetapkan standar bahwa kualitas pembiayaan dianggap baik jika persentasi pembiayaan bermasalah tidak melebihi 5 % dari total pembiayaan yang telah diberikan. Oleh karena itu, rasio NPF harus senantiasa berada dibawah batas 5 % guna mencegah terjadinya risiko pada pembiayaan, khususnya yang mengalami kendala dalam kolektibilitas dan berpotensi macet (Fitroh et al., 2020).
Capital AdequacyRatio (CAR)
Rasio Adequasi Modal (CAR) merupakan indikator penting dan vital yang menggambarkan kemampuan Bank Umum Syariah untuk mempertahankan tingkat modal yang memadai. Lebih dari sekedar mewakili jumlah modal, CAR mencerminkan kecakapan pihak manajemen bank dalam mengindentifikasi, mengukur, mengawasi dan mengendalikan berbagai risiko yang mungkin muncul seiring dengan kinerja bank dalam menghasilkan keuntungan. Selain itu, CAR juga berperan dalam menjaga proporsi yang sesuai dari modal bank. Dengan demikian, CAR mengilustrasikan komitmen bank terhadap stabilitas operasional dan kesehatan keuangan, serta kemampuannya untuk menghadapi dampak dari dinamika perbankan dalam rangka mencapai hasil yang menguntungkan.
Kasmir (2016:46) CAR adalah perbandingan rasio antara modal terhadap aktiva tertimbang menurut risiko sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) merupakan ukuran yang menggambarkan sejauhmana seluruh asset risiko bank (termasuk kredit, surat berharga, dan tagihan pada bank lain) didukung oleh modal bank itu sendiri. Ini mencakup pembiayaan asset bank dari sumber internal seperti modal sendiri, sekaligus menjelaskan bagaimana bank memperoleh dana dari sumber eksternal seperti masyarakat, pinjaman, dan yang lainnya. CAR adalah indikator penting yang memperlihatkan sejauhmana bank memiliki daya tahan finansial untuk mengatasi risiko-risiko yang muncul dari berbagai sumber, sambil menjaga keseimbangan antara modal internal dan sumber dana eksternal (Ervani, 2010:167). Selanjutnya Fahmi (2015:153) mendefinisikan Capital Adequacy Ratio
(CAR) sebagai suatu indikator kinerja yang digunakan dalam dunia perbankan untuk mengukur sejauhmana kemampuan sebuah bank dalam memiliki modal yang memadai guna mendukung asset-asetnya yang membawa risiko atau menghasilkan risiko, seperti risiko dari kredit yang telah diberikan bank. Rasio ini memberikan gambaran tentang kemampuan bank untuk menghadapi risiko-risiko yang mungkin muncul dari aktivitasnya, dengan memastikan bahwa proporsi yang tepat dari modal bank ada untuk menyeimbangkan potensi risiko yang akan timbul.
Jadi dapat disimpulkan bahwa CAR merujuk pada persyaratan modal minimal yang ditetapkan bagi bank, dihitung berdasarkan penilaian Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Standar minimum CAR dalam bank adalah sebesar 8 %, sesuai dengan ketentuan dari Bank for International Sattlements (BIS). Perhitungan modal yang diperlukan mengacu pada ATMR, yang mencakup berbagai jenis asset baik yang tercatat dalam neraca maupun yang memiliki sifat administrative, seperti komitmen dan kewajiban yang bersifat kontingen terhadap pihak ketiga. Setiap jenis asset memiliki bobot risiko yang ditetapkan berdasarkan tingkat risiko yang terkandung dalam asset tersebut, termasuk berdasarkan penggolongan nasabah, penjaminan, atau sifat jaminan yang terkait. Dalam penelitian CAR diukur dengan menggunakan rumus berikut:
CAR = Modal Bank
Total Asset Tertimbang Menurut Resiko
x100%
Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) dapat diukur melalui perbandingan antara Modal Bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).
Modal menjadi faktor krusial dalam mengembangkan bisnis dan menanggung risiko kerugian. Modal yang dimaksud terdiri dari modal inti dan modal pelengkap. Modal inti bank mencakup modal yang disetor, agio saham, cadangan revaluasi asset tetap dan modal agunan/pinjaman subordinasi. Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) mengacu pada total nilai asset bank yang telah dikalikan dengan bobot risiko masing-masing. Asset dengan risiko rendah memiliki bobot 0 %, sedangkan asset dengan risiko tertinggi memiliki bobot 100 %. ATMR mencerminkan nilai dari asset yang membawa risiko dan memerlukan jumlah modal yang memadai untuk mengantisipasi risiko tersebut.
Bank Size
Ukuran bank atau yang atau yang dikenal dengan istilah Bank Size, merujuk pada dimensi besar atau kecilnya suatu lembaga keuangan tersebut. Ukuran bank dapat diukur melalui parameter seperti total asset (aktiva), volume penjualan, dan kapitalisasi. Semakin tinggi jumlah penjualan, total aktiva, kapitalisasi, dan nilai pasar, maka semakin besar pula dimensi perusahaan tersebut. Ukuran perusahaan dapat tercermin dari besarnya total asset yang dimilikinya. Pada lembaga keuangan perbankan, dimensi perusahaan dapat diidentifikasi melalui total aktiva yang dimilikinya. Asset yang ada dalam bank mencakup kas, investasi pada institusi lain, surat-surat berharga, kredit yang diberikan, partisipasi dalam perusahaan lain, pembayaran di muka, asset tetap, dan asset yang digunakan dalam skema sewa guna usaha. Supriatin et al. (2019) bank size merupakan salah satu indikator yang dijadikan sebagai alat menentukan besar atau kecilnya sebuah bank yang ditentukan beberapa faktor semisal rata-rata tingkat penjualan, total penjualan asset. Bank size juga
dijadikan sebagai skala pengukuran yang mengklasifikasikan besar kecilnya bank.
Dari penjelasan tersebut bank size dalam penelitian ini adalah tentang besar kecilnya asset yang dimiliki oleh Bank Umum Syariah yang dilihat dari tingkat penjualan, total penjualan dan total aktiva. Untuk menyamakan satuan dengan variable lainnya, Bank Size direpresentasikan oleh total asset dalam satuan rupiah perlu ditransformasikan menjadi logaritma. Dengan mentransformasikan data menjadi logaritma, satuan variable bank size akan menjadi dimensi yang serupa dengan variabel lainnya. Bank size diukur dengan menggunakan rumus berikut:
Bank Size = Ln Total asset
Efisiensi Operasional Bank Syariah
Efisiensi adalah suatu parameter yang sering digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan atau bank. Efisiensi memiliki peran penting dalam menentukan kinerja sebuah bank secara teoritis (Hartono, 2009:24). Atika et al., (2023) suatu bank dapat dikatakan efisien ketika dapat menghasilkan output yang lebih banyak daripada yang dikeluarkan, atau menghasilkan output yang sama dengan input yang digunakan namun dengan jumlah yang lebih sedikit dari yang biasanya. Penelitian yang dilakukan oleh Ferrel menjelaskan bahwa efisiensi sebuah perusahaan terdiri dari dua komponen utama yaitu, Pertama, efisiensi teknik (technical efficiency) yang mengacu pada proses pengubahan input menjadi output. Konsep ini hanya berlaku di dalam hubungan internal perusahaan yang bersifat teknis antara input dengan output. Kedua, efisiensi alokatif (allocative efficiency) yang berhubungan dengan kemampuan perusahaan dalam mengkombinasikan berbagai macam input agar dapat menghasilkan output yang maksimal.
Menurut Supriatin et al. (2019:136) terdapat tiga pendekatan dalam menghitung efisiensi dalam perbankan, yaitu:
1. Pendekatan Ratio, dalam pendekatan rasio untuk mengukur efisiensi, perhitungan dilakukan dengan membandingkan output dengna input yang digunakan. Pendekatan ini dianggap lebih efisien jika mampu menghasilkan output yang maksimal dengan pengunaan input seefisien mungkin. Untuk mengukur efisiensi bank syariah, rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) dapat digunakan sebagai indikatornya.
2. Pendekatan regresi, pendekatan ini melibatkan penggunaan sebuah model yang menghubungkan tingkat outpout yang spesifik dengan berbagai tingkat input yang spesifik. Model yang digunakan adalah Y = f (X1, X2, X3, …., XN).
3. Pendekatan Frontier, yaitu mengukur efisiensi yang dibedakan menjadi dua jenis metode parametrik dan non-parametrik.
Penelitian ini menggunakan pendekatan rasio yaitu Beban Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dalam menentukan efisiensi operasional bank syariah. Rasio BOPO digunakan sebagai pengukur efisiensi operasional dengan tujuan untuk menilai kemampuan pendapatan operasional sebuah bank dalam menutup biaya operasionalnya.
Bank Indonesia menetapkan standar terbaik untuk rasio BOPO adalah dibawah 90 %, jika rasio BOPO melebihi dan mendekati 100 %, hal ini menandakan bahwa bank tersebut dianggap tidak efisien dalam menjalankan operasionalnya. Bank yang mampu beroperasi
dengan efisien akan menghasilkan laba yang tinggi karena efisiensi biaya operasionalnya akan maksimal dalam memaksimalkan pendapatan bank. Rumus yang digunakan adalah:
BOPO = Total Biaya Operasional
Pendapatan Operasionalx 100%
Non-Performing Financing (NPF) dengan Efisiensi Operasional
Non-Performing Financing (NPF) mencerminkan kapasitas Bank Umum Syariah dalam mengelola pembiayaan yang mengalami masalah. Non-Performing Financing (NPF) merujuk pada situasi dimana pembiayaan yang diberikan oleh bank menghadapi kendala karena nasabah yang gagal memenuhi kewajiban pembayaran. NPF menjadi permasalahan bagi bank ketika nasabah tidak dapat mengembalikan dana yang dipinjamkan atau investasi yang telah dilakukan oleh bank. Risiko ini merupakan bagian dari risiko operasional bank dan berkaitan langsung dengan kegagalan pelunasan dari pihak nasabah (Muhammad, 2005:239).
Tingkat NPF yang tinggi memiliki potensi untuk meningkatkan biaya dan berpotensi menimbulkan kerugian bagi bank. Semakin tinggi rasio ini, semakin merosot kualitas kredit bank yang mengakibatkan bertambahnya jumlah kredit bermasalah. Oleh karena itu, bank perlu menanggung kerugian dalam operasionalnya, yang pada gilirannya dapat mereduksi laba yang dihasilkan oleh bank. Dengan tingginya tingkat NPF maka mencerminkan jumlah pembiayaan bermasalah juga semakin signifikan meningkat, demikian dengan sebaliknya. Permasalahan ini akan berdampak pada kinerja bank dan bisa berefek pada peroleh laba yang dihasilkan bank yang pada gilirannya bank tersebut terlihat kurang mampu menjalankan operasional bank secara efisien (Fitroh et al., 2020).
Dapat disimpulkan bahwa efisiensi operasional Bank Umum Syariah dapat dipengaruhi oleh Non-Performing Financing (NPF).
Capital Adequacy Ratio (CAR) dengan Efisiensi Operasional
Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan indikator yang mengukur tingkat kecukupan modal dalam lembaga perbankan. Rasio ini digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana kinerja suatu bank dalam hal memiliki modal yang memadai. Tingkat kecukupan modal yang tinggi mencerminkan kemampuan bank untuk menyediakan pembiayaan yang lebih besar kepada pihak yang meminjam. Dampak tidak hanya pada pihak peminjam, tetapi juga berpengaruh terhadap tingkat laba yang dapat dihasilkan oleh bank itu sendiri. Capital Adequacy Ratio (CAR) mencerminkan peran modal dalam menghasilkan laba. Jika CAR rendah. Kecukupan modal yang diproksikan melalui Capital Adequacy Ratio (CAR) merupakan salah satu indikator penting dalam industri perbankan.
CAR menunjukkan seberapa besar modal yang dimiliki oleh suatu bank dalam memenuhi kebutuhan dan memperkuat stabilitasnya. Modal merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi kredibilitas suatu bank di mata masyarakat dan nasabah. Dalam bentuk uang tunai dan aset lainnya, modal bank berfungsi sebagai jaminan yang dapat digunakan untuk menutupi penurunan nilai asset yang berisiko. CAR dihitung dengan membandingkan total modal bank dengan total risiko yang dihadapi bank. Risiko ini termasuk risiko kredit, risiko pasar, dan risiko operasional. Semakin tinggi CAR, semakin besar modal yang dimiliki bank dalam mempertahankan stabilitasnya dalam menghadapi
penurunan nilai asset (Kadir, 2021).
Selain itu, Capital Adequacy Ratio juga penting dalam melakukan ekspansi bisnis, seperti membuka cabang baru atau memberikan fasilitas pinjaman kepada nasabah baru.
Capital Adequacy Ratio yang tinggi juga memberikan perlindungan terhadap risiko-risiko yang mungkin terjadi dalam industri perbankan. Dengan memiliki modal yang cukup, bank dapat menanggung kerugian yang timbul akibat kredit macet, fluktuasi pasar, maupun risiko operasional lainnya. Pemerintah Indonesia juga memiliki peran penting dalam memastikan bank-bank di Indonesia memenuhi standar Capital Adequacy Ratio yang telah ditentukan. Keberadaan regulasi ini membantu menjaga stabilitas sektor perbankan dan mencegah terjadinya krisis keuangan yang dapat berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Dalam conclude, Capital Adequacy Ratio merupakan indikator penting dalam menilai kecukupan modal bank.
CAR yang tinggi menunjukkan kekuatan dan kemampuan bank dalam menghadapi risiko yang mungkin terjadi. Hal ini memperkuat kepercayaan dari investor, nasabah, dan masyarakat umum terhadap bank tersebut. Dengan sebuah CAR yang tinggi, bank juga dapat semakin efisien dalam menjalankan aktivitas operasionalnya dan memperluas bisnisnya dengan lebih berani. Dengan demikian, Capital Adequacy Ratio menjadi salah satu parameter yang sangat penting dalam mengukur kelayakan dan keberlanjutan sebuah bank. Bank yang memiliki modal yang cukup dan memenuhi standar CAR yang ditetapkan oleh otoritas perbankan memiliki peluang yang lebih baik untuk bertahan dalam industri perbankan yang kompetitif dan dinamis (Wulandari & Ryandono, 2020). Dari pemaparan tersebut dinyatakan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) dapat memberikan pengaruh terhadap efisiensi operasional Bank Umum Syariah (BUS)
Bank Size dengan Efisiensi Operasional
Ukuran atau size bank menjadi faktor penting dalam menentukan efisiensi perbankan. Bank yang berukuran besar memiliki keunggulan dibandingkan bank berukuran sedang atau kecil. Keunggulan tersebut termasuk memiliki modal yang lebih besar, jumlah tenaga kerja yang lebih banyak, reputasi yang lebih baik, dan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan non-bunga dari berbagai sumber seperti jasa investasi perbankan, transfer uang, penukaran mata uang asing, dan asuransi. Kelebihan modal yang dimiliki bank besar memudahkan mereka untuk mendapatkan pinjaman dengan lebih mudah dibandingkan bank berukuran sedang dan kecil, sehingga meningkatkan efisiensi mereka. Selain itu, bank besar juga dapat mengadopsi teknologi baru dengan menggunakan modal yang lebih banyak. Salah satu contohnya adalah membangun jaringan ATM dan mengimplementasikan sistem komputer online, yang dapat mempermudah perkembangan bank dengan biaya yang lebih rendah. Dengan adanya teknologi tersebut, bank besar dapat berkembang lebih cepat dan menjadi lebih efisien.
Ukuran bank juga berpengaruh pada tingkat efisiensi bank melalui dua faktor utama.
Pertama, jika ukuran bank berkaitan positif dengan kekuatan pasar, maka bank-bank yang lebih besar akan memiliki biaya input yang lebih rendah. Kedua, terdapat potensi terjadinya increasing return to scale, di mana rasio input/output berkurang seiring dengan peningkatan skala operasional perusahaan. Increasing returns to scale dapat berasal dari
adanya biaya tetap seperti biaya penelitian atau manajemen risiko, atau dapat pula terkait dengan spesialisasi tenaga kerja dalam bank yang lebih besar (Prasetyia & Diendtara, 2011). Dalam hal kekuatan pasar, ukuran bank yang besar dapat memberikan keuntungan dalam hal negosiasi dengan pemasok, klien, atau nasabah. Bank yang lebih besar juga dapat mengakses pasar modal dengan lebih mudah yang pada gilirannya dapat mengurangi biaya modal. Selain itu, bank yang lebih besar juga memiliki skala operasional yang lebih besar, sehingga mereka dapat memanfaatkan keunggulan skala dan lebih efisien. Dari penjelasan tersebut dapat dinyatakan bahwa besar kecilnya bank (bank size) dapat mempengaruhi tingkat efisiensi operasional.
Kerangka Pikir
Penelitian ini dapat digambarkan alur kerangka berpikirnya seperti pada gambar 1 berikut:
Gambar 1. Kerangka Berpikir Penelitian
METODE PENELITIAN
Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan penelitian yang bersifat sistematis, terencana, dan terstruktur dari awal hingga akhir penelitian. Sumber data yang digunakan adalah data skunder, yaitu data yang telah dikumpulkan oleh pihak lain sebelumnya. Untuk mendapatkan data skunder, peneliti dapat mengakses laporan triwulan dari setiap Bank Umum Syariah, publikasi dan laporan dari Bank Indonesia, serta data publik yang tersedia di internet (Siregar, Budi Gautama; Hardana, 2021).
Penelitian ini dilakukan pada Bank Umum Syariah yang berjumlah 24 bank melalui laporan triwulan yang dipublikasikan dari tahun 2017 sampai dengan 2022. Dengan menggunakan teknik purposive sampling, maka yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan untuk dijadikan sebagai sampel adalah 8 bank, sehingga data penelitian ini sebanyak 20 triwulan x 8 bank=160 laporan.
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dan metode observasi. Melalui metode dokumentasi, peneliti mengumpulkan data melalui studi literatur dan dokumen yang terkait dengan penelitian. Setelah data terkumpul, peneliti melakukan analisis data menggunakan metode statistik, seperti analisis deskriptif dan analisis regresi dengan menggunakan bantuan aplikasi Eviews . Analisis data ini digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menguji hipotesis yang telah
Non-Performing Financing (NPF)
Capital Adequacy Ratio(CAR)
Bank Size
Efisiensi Operasional Bank Umum Syariah
diajukan sebelumnya. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode analisis yang tepat, diharapkan penelitian ini dapat memberikan hasil yang akurat dan dapat diandalkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Statistik Deskriptif
Berikut hasil uji statistik desktiptif
Tabel 2 Hasil Uji Statistik Deskriptif
BOPO CAR NPF SIZE
Mean 0.928319 20.21952 0.021554 16.20638
Median 0.942500 0.201800 0.024750 15.99730
Maximum 2.174000 3199.000 0.049800 18.83580
Minimum 0.133200 0.101600 0.000100 14.27410
Std. Dev. 0.208056 252.8852 0.017472 1.054274
Skewness 2.277817 12.53021 0.132459 0.437595
Kurtosis 18.75117 158.0063 1.460175 2.924756
Sumber: Hasil Pengolahan data penelitian ini
Tabel 2 ditunjukkan bahwa efisiensi BUS yang diproksikan dengan BOPO diperoleh nilai rata-rata 0,928, nilai terendah 0,133 dan nilai tertinggi sebesar 2,174 dengan tingkat sebaran data sebesar 0,208. Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki nilai rata-rata sebesar 20,21, nilai terendah sebesar 0,101, nilai tertinggi sebesar 3199,00 dan tingkat penyebaran datanya sebesar 252,88. Selanjutnya Non-Performing Financing (NPF) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,021, nilai terendah sebesar 0,0001, nilai tertinggi sebesar 0,0498 dengan tingkat penyebaran data sebesar 0,017. Kemudian bank size diperoleh nilai rata-rata sebesar 16,206, nilai terendah sebesar 14,27, nilai tertinggi sebesar 18,83 dengan tingkat penyebaran data sebesar 1,054
Uji Asumsi Klasik
Data yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan berdistribusi normal sebab berdasarkan hasil uji normalitas diperoleh nilai probabilitas sebesar 0,199, artinya nilai ini lebih besar dari tingkat signifikansi yang ditentukan sebesar 0,05. Variabel bebas yang dalam penelitian sebaiknya terbebas dari kolinearitas atau adanya korelasi diantara variabel bebas.
Tabel 3 Uji Multikolinearitas
No Variabel Nilai VIF Keputusan
1. NPF 1,095 Terbebas dari multikolinearitas
2. CAR 1,0141 Terbebas dari multikolinearitas
3. Size 1,0898 Terbebas dari multikolinearitas
Sumber: Hasil Pengolahan data penelitian ini
Selanjutnya dilakukan uji heteroskedastisitas untuk menunjukkan bahwa varians dari setiap error bersifat homogen.
Tabel 3 Hasil Uji Heteroskedastisitas dengan Glejser
Heteroskedasticity Test: Glejser
F-statistic 2.199100 Prob. F(3,156) 0.0904
Obs*R-squared 6.491916 Prob. Chi-Square(3) 0.0900
Scaled explained SS 14.41486 Prob. Chi-Square(3) 0.0024
Test Equation:
Dependent Variable: ARESID Method: Least Squares Date: 03/29/23 Time: 22:12 Sample: 1 160
Included observations: 160
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 0.438613 0.227925 1.924374 0.0561
NPF 1.067882 0.827775 1.290062 0.1989
CAR -2.35E-05 5.50E-05 -0.427268 0.6698
SIZE -0.023508 0.013681 -1.718363 0.0877
R-squared 0.040574 Mean dependent var 0.080168
Adjusted R-squared 0.022124 S.D. dependent var 0.176168
S.E. of regression 0.174209 Akaike info criterion -0.632445
Sum squared resid 4.734384 Schwarz criterion -0.555566
Log likelihood 54.59561 Hannan-Quinn criter. -0.601227
F-statistic 2.199100 Durbin-Watson stat 1.493020
Prob(F-statistic) 0.090367
Sumber: Hasil Pengolahan data penelitian ini
Tabel 3 ditunjukkan bahwa nilai Obs*R-Squaered sebesar 0,09, nilai ini lebih besar dari 0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas.
Uji Hipotesis
Uji Statistik t (Parsial)
Tabel 4 Hasil Pengujian Hipotesis
Variabel Koefisien Regresi thitung ttabel Sig. Keputusan
NPF -4,420 4,758 1,6654 0,00 Diterima
CAR 1,20 0,193 1,6654 0,84 Ditolak
SIZE 0,003 0,233 1,6654 0,816 Ditolak
Sumber: Hasil Pengolahan data penelitian ini
Uji Statistik F (Simultan)
Tabel 5 Hasil Pengujian Secara Simultan
R-squared 0.133639 Mean dependent var 0.928319
Adjusted R-squared 0.116979 S.D. dependent var 0.208056
S.E. of regression 0.195509 Akaike info criterion -0.401739
Sum squared resid 5.962906 Schwarz criterion -0.324859
Log likelihood 36.13910 Hannan-Quinn criter. -0.370521
F-statistic 8.021192 Durbin-Watson stat 1.364206
Prob(F-statistic) 0.000053
Sumber: Hasil Pengolahan data penelitian ini
Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai probabilitas sebesar 0,000, dimana nilai tersebut lebih kecil dari tingkat signifikan 0,05 sehingga dapat dinyatakan bahwa semua variabel independen dapat mempengaruhi variabel dependen dalam penelitian ini.
Pembahasan Penelitian
Pengaruh Non-Performing Financing (NPF) terhadap Efisiensi Operasional BUS Hasil penelitian diperoleh bahwa NPF berpengaruh signifikan terhadap efisiensi operasional Bank Umum Syariah. Pengaruh yang dihasilkan dalam penelitian adalah negatif, yang berarti tingginya NPF yang dihasilkan oleh Bank, maka akan menurunkan tingkat efisiensi operasionalnya. NPF yang tinggi akan memberikan potensi yang kuat bagi BUS untuk menderita kerugian. NPF menjadi unsur penting dalam menilai kinerja bank.
Penyebab terjadinya kondisi demikian biasanya karena tingginya penyaluran dana yang dilakukan oleh bank melalui pembiayaan yang sampai melebihi batas kewajaran, sehingga mengakibatkan peningkatan risiko gagal bayar yang akan ditanggung oleh bank. Dalam kondisi demikian kemungkinan dapat terjadi pembiayaan bermasalah yang tinggi sehingga akan berdampak pada kerugian yang diderita bank.
Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian dari Fadilah & Yuliafitri (2018), Lutfiana
& Yulianto (2015), Firdaus & Hosen (2014) yang menjadikan NPF sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi efisiensi operasional (BOPO). Semakin besar nilai NPF pada suatu bank, semakin besar pula dampak negatifnya terhadap kegiatan operasional bank tersebut, terutama dalam hal likuiditas. NPF merujuk pada pinjaman yang tidak dapat dilunasi oleh peminjamnya sesuai dengan jadwal pembayaran yang telah disepakati. Ketika NPF meningkat, artinya semakin banyak pinjaman yang tidak dapat dibayar oleh peminjamnya. Hal ini mengakibatkan penurunan jumlah dana yang masuk ke bank, karena sebagian pinjaman tidak dapat dikembalikan. Sebagai akibatnya, bank mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban pembayaran kepada nasabahnya, termasuk dalam hal pengembalian deposito dan tabungan. Selain itu, bank juga akan menghadapi kesulitan dalam meningkatkan modal yang diperlukan untuk menjalankan operasionalnya. Dalam menghadapi NPF yang tinggi, bank biasanya harus mencari dana tambahan dari pihak lain, seperti investor atau lembaga keuangan lainnya.
Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR) terhadap Efisiensi Operasional BUS
Penelitian menemukan hasil bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) tidak berpengaruh terhadap efisiensi operasional Bank Umum Syariah pada periode 2017-2022.
Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah ukuran kecukupan modal yang dimiliki oleh suatu bank untuk menanggung risiko total aset yang dimilikinya. CAR juga dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi bank. CAR mencerminkan kemampuan bank dalam menghadapi risiko kerugian yang mungkin terjadi tanpa peringatan sebelumnya. Tingkat CAR yang dimiliki oleh bank dapat membentuk persepsi pasar terhadap tingkat keamanan bank tersebut.
Temuan penelitian ini sejalan dengan penelitian Wulandari & Ryandono (2020), Lutfiana & Yulianto (2015) yang menyatakan bahwa CAR tidak mempengaruhi efisiensi operasional Bank (BOPO). Bank yang memiliki Capital Adequacy Ratio (CAR) yang tinggi cenderung memiliki tingkat efisiensi yang lebih baik. CAR adalah ukuran
kecukupan modal yang dimiliki oleh bank untuk menanggung risiko total aset yang dimilikinya. Tingkat CAR yang tinggi menunjukkan bahwa bank memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi kemungkinan risiko kerugian yang tidak terduga. CAR juga memengaruhi persepsi pasar terhadap tingkat keamanan bank. Pasar dan para nasabah cenderung memiliki lebih banyak kepercayaan terhadap bank yang memiliki CAR yang tinggi. CAR yang tinggi menunjukkan bahwa bank memiliki modal yang cukup untuk menanggung risiko dan memberikan perlindungan terhadap aset yang dimiliki oleh nasabah.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) bukan merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi operasional (BOPO) pada Bank Umum Syariah dalam periode tahun 2017-2022. Terdapat variabel lain seperti Net Operating Margin (NOM) dan Financing Deposito to Ratio (FDR) yang memiliki pengaruh terhadap BOPO pada Bank Umum Syariah dalam periode tersebut. Penelitian ini menduga bahwa CAR tidak berpengaruh terhadap BOPO karena kecukupan modal pada bank dapat didukung melalui pinjaman atau bantuan dari pihak bank lain. Dengan demikian, bank masih dapat mempertahankan kecukupan modal meskipun CAR yang dihasilkan mungkin tidak berada pada tingkat yang tinggi.
Pengaruh Bank Size terhadap Efisiensi Operasional BUS
Temuan penelitian bahwa Bank size (ukuran bank) tidak dapat mempengaruhi efisiensi operasional Bank Umum Syariah Periode 2017-2022. Penelitian ini bertentangan dengan teori yang menyatakan bahwa ukuran atau size bank menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan efisiensi perbankan. Bank dengan ukuran yang besar umumnya memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan bank berukuran sedang atau kecil.
Pertama, bank besar memiliki modal yang lebih besar. Modal yang cukup memungkinkan bank untuk menjalankan operasionalnya dengan lebih baik, termasuk dalam mengelola risiko dan menjaga kualitas aset. Dengan modal yang mencukupi, bank dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada nasabahnya. Kedua, bank besar memiliki lebih banyak tenaga kerja. Karyawan yang lebih banyak memungkinkan bank untuk membagi tugas dengan lebih efisien dan efektif. Setiap bagian atau departemen dalam bank dapat diberdayakan dengan baik, sehingga meningkatkan kinerja dan produktivitas keseluruhan.
Ketiga, bank besar memiliki reputasi yang lebih baik. Reputasi yang baik mendapatkan kepercayaan dari nasabah dan pasar, sehingga dapat menarik nasabah baru dan mempertahankan nasabah yang sudah ada.
Temuan penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Wulandari & Ryandono (2020), Oktaviana & Syaichu (2016) yang menemukan bahwa efisiensi bank (BOPO) tidak dipengaruhi oleh size (ukuran bank). Dalam penelitian dinyatakan bahwa bank size tidak menjadi faktor penting dalam meningkatkan efisiensi operasional bank. Efisiensi merupakan salah satu alat yang digunakan dalam mengukur kinerja bank. Bank dapat dikatakan efisien bila dapat melakukan operasinya dengan menggunakan input yang seminimal mungkin tetapi dapat menghasilkan output yang maksimal.
KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN
Temuan penelitian ini adalah secara parsial bahwa Non-Performing Financing (NPF) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap efisiensi operasional Bank Umum Syariah periode 2017-2022, namun Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Bank size tidak dapat mempengaruhi efisiensi operasional BUS. Sedangkan secara simultan NPF, CAR dan Bank size dapat mempengaruhi efisiensi operasional Bank Umum Syariah.
Penelitian hanya dilakukan pada 8 Bank Umum Syariah dengan periode pengamatan dari tahun 2017-2022. Sedangkan variable yang digunakan dalam mempengaruhi efisiensi operasinal bank hanya tiga variable yaitu NPF, CAR dan Bank Size. Disarankan bagi peneliti yang akan meneliti topik dapat menambahkan variabelnya semisal implementasi Good Corporate Governance, Return on Asset dan bahkan dapat menambahkan faktor eksternal seperti inflasi, nilai kurs dan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Atika, N., Salman, M., & Yusna, A. (2023). Pengaruh Efisiensi Operasional, Likuiditas Dan Kecukupan Modal Terhadap Laba Bersih Pada PT Bank Muamalat Indonesia,Tbk. Jurnal Mahasiswa Akuntansi Samudra 4(3), 161–170.
Darmawi, H. (2014). Manajemen Perbankan. PT. Bumi Aksara.
Deanna, J. N. (2018). Determinan Efisiensi Operasional Perbankan Indonesia (Studi Empiris pada Perbankan Umum Konvensional di Indonesia Tahun 2011-2016).
Jurnal Muara Ilmu Ekonomi Dan Bisnis, 2(1), 217.
https://doi.org/10.24912/jmieb.v2i1.1554
Ervani, E. (2010). Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio, Loan To Deposit Ratio, Dan Biaya Operasional Bank Terhadap Profitabilitas Bank Go Public Di Indonesia Periode 2000-2007. Jejak, 3(2), 165–171.
Fadilah, F., & Yuliafitri, I. (2018). Analisis Efisiensi Bank Umum Syariah Hasil Pemisahan Dan Non Pemisahan Serta Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Studi Pada Bank Umum Syariah Yang Terdaftar Di Otoritas Jasa Keuangan Pada Periode 2011-2016). Islamiconomic: Jurnal Ekonomi Islam, 9(1).
https://doi.org/10.32678/ijei.v9i1.88
Fahmi, I. (2015). Analisis Laporan Keuangan. Alfabeta.
Firdaus, M. faza, & Hosen, M. N. (2014). Efisiensi Bank Umum Syariah Menggunakan Pendekatan Two-Stage Data Envelopment Analysis. Buletin Ekonomi Moneter Dan Perbankan, 16(2), 167–188. https://doi.org/10.21098/bemp.v16i2.31
Fitroh, Y., Harjadi, D., Arraniri, I., Kuningan, U., & Kuningan, K. (2020). Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. 02(01), 17–42.
Hartono. (2009). Efisiensi dan Produktivitas Rumah Sakit. CV. Sosial Politik Genius.
Ismail. (2016). Perbankan Syariah, Cetakan Pertama. Kencana.
Kadir, R. (2021). Manajemen Risiko Pembiayaan Bank Syariah. Samudra Biru: Anggota IKAPI.
Kasmir. (2016). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (Edisi Revi). PT. Raja Grapindo.
Lutfiana, R. H., & Yulianto, A. (2015). Determinan Tingkat Efisiensi Bank Umum Syaria Di Indonesia (Pendekatan Two Stage Dea). Accounting Analysis Journal, 4(3), 1–10.
Muhammad. (2005). Manajemen Bank Syariah. UPP AMP YKPN.
Nofinawati, N. (2016). Perkembangan Perbankan Syariah Di Indonesia. JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah), 14(2), 168. https://doi.org/10.31958/juris.v14i2.305
Oktaviana, R., & Syaichu, M. (2016). Analisis Pengaruh Size , ROA , FDR , NPF DAN BOPO Terhadap Capital Adequacy Ratio Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2010-2014. Diponegoro Journal of Management, 5(4), 1–10.
Prasetyia, F., & Diendtara, K. (2011). Pengukuran Efisiensi Perbankan Syariah Berbasis Manajemen Risiko. | 119 |Jurnal Keuangan Dan Perbanka, 15(1), 119–129.
Rosman; Rohim. (2013). Efisiensi of Islamic Bank. PT. Raja Grapindo.
Siregar, Budi Gautama; Hardana, A. (2021). Metode Penelitian Ekonomi dan Bisnis (Cetakan I). CV. Merdeka Kreasi Group.
Supriatin, D., Suryana, & Utami, S. A. (2019). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efisiensi Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia. Iqtishaduna, 10(2), 140.
Umam, Khotibul; Setiawan, Budi, U. (2017). Perbankan Syariah: Dasar-Dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada.
Wulandari, S. F., & Ryandono, M. N. H. (2020). Determinan Efisiensi Perbankan Di Indonesia (Studi Empiris Pada Bank Umum Syariah Di Indonesia Periode 2012- 2018). Jurnal Ekonomi Syariah Teori Dan Terapan, 7(12), 2436.
https://doi.org/10.20473/vol7iss202012pp2436-2452