Determinan unmet need untuk membatasi status kelahiran pada wanita kawin usia subur di Jawa Barat tahun 2017. DETERMINAN INSUFFICIENT NEED RETRICTION STATUS LAHIR PADA PEREMPUAN USIA REPRODUKSI DI JAWA BARAT TAHUN 2017 Tingginya pertumbuhan penduduk tahunan di Jawa Barat - provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia - dikhawatirkan akan menyebabkan ledakan penduduk di kemudian hari.
PROVISIONS FOR UNMET NEED FOR RESTRICTION OF BIRTH OF REPRODUCTIVE AGE MARRIED WOMEN IN WEST JAVA IN 2017.
JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA
DAMPAK KEMISKINAN TERHADAP POLA MOBILITAS TENAGA KERJA ANTARSEKTOR DI INDONESIA
THE IMPACT OF POVERTY ON PATTERNS OF INTER-SECTOR LABOR MOBILITY IN INDONESIA)
Sebagian besar tenaga kerja yang melakukan mobilitas di berbagai sektor berasal dari sektor industri yaitu 7,87% pindah ke sektor pertanian dan 11,66%. Status kemiskinan berpengaruh positif signifikan ketika tenaga kerja berpindah dari sektor industri dan jasa ke sektor pertanian. Sebaliknya, peningkatan jumlah anggota rumah tangga mengurangi peluang mobilitas tenaga kerja ke sektor pertanian baik dari sektor industri maupun jasa.
Secara umum, perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri atau jasa memiliki peluang yang lebih kecil dibandingkan dengan tetap bekerja di sektor pertanian.
INDEKS KOMPOSIT PEKERJAAN TIDAK LAYAK (IPTL) DI INDONESIA (COMPOSITE INDEX ANALYSIS OF NON DECENT WORK IN INDONESIA)
Perlindungan Sosial
Hubungan antara IPTL dan produktivitas tenaga kerja Produktivitas tenaga kerja dan kondisi kerja yang buruk di suatu daerah secara teoritis memiliki hubungan (Anker et al., 2002, p.5). Rendahnya produktivitas tenaga kerja di suatu daerah menandakan bahwa kondisi kerja di daerah tersebut akan kurang memadai. Tingginya penyerapan tenaga kerja di suatu daerah berdampak pada kondisi kerja yang layak di daerah tersebut.
Hal ini menjelaskan bahwa semakin rendah produktivitas tenaga kerja di suatu daerah maka semakin tinggi IPTL atau kondisi kerja di daerah tersebut semakin tidak layak.
FAKTOR KONTEKSTUAL DAN INDIVIDUAL TERHADAP JUMLAH ANAK LAHIR HIDUP: SEBUAH ANALISIS MULTILEVEL
CONTEXTUAL AND INDIVIDUAL FACTORS ON
THE NUMBER OF CHILDREN EVER BORN: A MULTILEVEL ANALYSIS)
Hasil analisis pada tabel 2 menunjukkan bahwa semua variabel prediktor pada level 1 dan level 2 memiliki korelasi yang signifikan dengan jumlah kelahiran hidup. ICC menjelaskan bahwa 2,3% dari total variasi kelahiran hidup dipengaruhi oleh perbedaan pada tingkat 2 (provinsi). Hasil uji estimasi parameter model analisis regresi multilevel random intercept pada level 1 (Tabel 3) menunjukkan bahwa semua variabel prediktor pada level 1 berpengaruh signifikan terhadap jumlah anak lahir hidup.
Hasil akhir uji estimasi parameter analisis regresi acak intersep bertingkat menunjukkan bahwa semua variabel prediktor pada level 1 dan level 2 berpengaruh signifikan terhadap jumlah kelahiran hidup. Hasil akhir uji estimasi parameter analisis regresi berjenjang dengan random intercept menunjukkan bahwa variabel prediktor lain yaitu status perkawinan juga berpengaruh signifikan terhadap jumlah kelahiran hidup. Hasil akhir uji estimasi dengan menggunakan analisis regresi berjenjang juga diketahui bahwa variabel prediktor lain pada level 1 yaitu ketenagakerjaan WUS berpengaruh signifikan terhadap jumlah kelahiran hidup.
Semakin tinggi pendidikan WUS (SMP, Akademi dan Perguruan Tinggi), semakin rendah jumlah kelahiran hidup. Hasil akhir uji asesmen dengan analisis regresi berjenjang juga menunjukkan bahwa variabel kematian anak berpengaruh signifikan terhadap jumlah kelahiran hidup. Hasil analisis regresi berjenjang dengan random cross section menjelaskan bahwa kepemilikan asuransi juga berpengaruh signifikan terhadap jumlah kelahiran hidup.
Jumlah kelahiran hidup juga sangat dipengaruhi oleh faktor kontekstual (wilayah tempat tinggal) yang merupakan variabel prediktor pada level 2. Faktor terpenting kedua yang mempengaruhi jumlah kelahiran hidup adalah variabel kematian bayi.
THE EFFECT OF FAMILY LIVING ARRANGEMENT ON DELAYED SEXUAL DEBUT AMONG FEMALE TEENAGERS IN INDONESIA
PENGARUH PENGATURAN TEMPAT TINGGAL KELUARGA TERHADAP PENUNDAAN HUBUNGAN SEKSUAL PADA REMAJA PEREMPUAN DI
INDONESIA)
THE EFFECT OF A FAMILY HOUSE ON THE DELAYED SEXUAL DEBUT OF WOMEN TEENAGERS IN INDONESIA. Adolescence is also typically a period of experimentation, new experiences and vulnerability, putting them at greater risk of early sexual debut (Idele et al., 2014). The existing literature considers children's cohabitation with parental changes throughout the life cycle (Wiemers et al., 2017) and may influence the timing of sexual debut (Tenkorang & Adjei, 2015).
Using data from a nationally representative survey, we examined the relationship between family life arrangement and sexual debut among Indonesian female adolescents. As can be seen from the table, the family's living arrangements did not significantly influence the sexual debut among female teenagers. Distribution of sexual debut among female adolescents by background characteristics, Indonesia DHS 2017 Characteristics Early sexual debut.
For example, research in Sierra Leone shows the protective effect of living with a surviving biological parent in delaying early sexual debut (Stark et al., 2016). Other studies in Africa have noted that early sexual debut is positively associated with living with one biological parent (Pilgrim et al., 2014; Shoko et al., 2018; Wamoyi et al., 2015). In Latin America, adolescents living in a male-headed household increase the risk of sexual debut (Duryea et al., 2003).
Another important finding was that knowledge of HIV/AIDS increases the likelihood of delaying sexual debut. Is early sexual debut a risk factor for HIV infection among women in sub-Saharan Africa.
PENYELENGGARAAN PROGRAM BINA KELUARGA LANSIA (BKL) DI WILAYAH PERKOTAAN: POTRET PERMASALAHAN KLASIK
THE IMPLEMENTATION OF BINA KELUARGA LANSIA (BKL) PROGRAM IN URBAN AREAS: AN OVERVIEW OF COMMON CHALLENGES)
Selanjutnya, sasaran tidak langsung dari program BKL adalah (i) tokoh atau anggota masyarakat yang peduli terhadap lansia; dan (ii) organisasi masyarakat atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap lansia. Namun pelaksanaan program BKL di masyarakat tidak berjalan optimal sesuai target karena beberapa faktor. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima permasalahan utama dalam pelaksanaan program BKL di tiga lokasi penelitian, yaitu (i) sasaran kegiatan BKL tidak tepat sasaran; (ii) rendahnya partisipasi lansia dan keluarganya; (iii) kurangnya ketersediaan kader lanjut usia baik secara kuantitas maupun kualitas; (iv) cakupan wilayah kegiatan BKL terlalu luas; dan (v).
Masalah kedua terkait rendahnya partisipasi lansia dan keluarganya dalam program BKL. Sedangkan dengan jumlah lansia di NTB yang lebih sedikit, keikutsertaan dalam program BKL lebih tinggi yaitu 23%. Tingkat partisipasi keluarga lansia yang paling tinggi mengikuti program BKL adalah Jawa Timur, sekitar 27%.
Angka ini bahkan melebihi angka partisipasi keluarga lansia dalam program BKL di tingkat nasional yang hanya 25%. Jumlah dan tingkat partisipasi keluarga lansia yang mengikuti program BKL di Sumatera Utara, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat tahun 2019. Namun, hanya sebagian kecil lansia peserta posyandu yang berminat dan terlibat dalam program BKL.
Dalam konteks ini, program BKL yang digagas oleh BKKBN bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup lansia dengan sasaran menyasar lansia dan keluarganya. Temuan lapangan terkait keterbatasan pelaksanaan program BKL dalam makalah ini tentunya dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi.
PENGGUNAAN ALAT KB PADA WANITA KAWIN DI PERDESAAN DAN PERKOTAAN
Studi Hasil SDKI 2017 Provinsi Gorontalo)
THE USE OF CONTRACEPTION IN MARRIED WOMEN IN RURAL AND URBANS AREAS
Bala Bakri 1 , Hizry Stevany Limonu 2
Selain itu, semua wanita menikah di perkotaan lebih mengetahui tentang KB dibandingkan dengan wanita menikah di pedesaan. Wanita kawin yang tinggal di perdesaan menggunakan metode KB yang lebih modern masing-masing sebesar 62% dan 55%, sedangkan pengetahuan tentang alat KB pada wanita kawin di perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di perdesaan. Tingkat pendidikan wanita menikah di perkotaan lebih tinggi dibandingkan wanita menikah di pedesaan, namun proporsi metode KB yang digunakan oleh wanita menikah yang tinggal di pedesaan lebih tinggi (62%) dibandingkan wanita menikah yang tinggal di perkotaan (55%) .
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan tempat tinggal, tidak ada perbedaan antara wanita menikah yang tinggal di pedesaan dan yang tinggal di perkotaan dalam penggunaan kontrasepsi. Seiring bertambahnya usia wanita kawin, penggunaan alat kontrasepsi baik modern maupun tradisional semakin berkurang. Hal ini juga berlaku bagi wanita menikah yang tinggal di pedesaan dan yang tinggal di perkotaan.
Penggunaan metode/metode KB oleh wanita menikah yang tinggal di pedesaan tidak sesuai dengan teori-teori penelitian sebelumnya yang didasarkan pada tataran umum. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat ketenagakerjaan perempuan yang tinggal di perdesaan tidak dapat menjadi penentu tingginya penggunaan alat bantu KB. Secara khusus, contact person memberikan kontribusi yang signifikan terhadap penggunaan metode KB di kalangan wanita kawin yang tinggal di pedesaan dibandingkan dengan wanita kawin di perkotaan.
Dapat diketahui bahwa sumber informasi merupakan faktor penentu (determinan) penggunaan alat kontrasepsi oleh perempuan yang tinggal di pedesaan. Sementara itu, rendahnya penggunaan alat/cara KB pada wanita menikah yang tinggal di perkotaan disebabkan oleh terbatasnya sumber pelayanan, karena adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan alat/cara KB dengan ketersediaan alat KB.
DETERMINAN STATUS UNMET NEED FOR LIMITING BIRTH PADA WANITA USIA SUBUR BERSTATUS KAWIN
DI JAWA BARAT TAHUN 2017
DETERMINANTS OF UNMET NEED FOR LIMITING BIRTH OF REPRODUCTIVE AGE MARRIED WOMEN IN WEST JAVA IN 2017)
Mengetahui variabel-variabel yang berpengaruh signifikan terhadap status unmet need KB Pembatasan pada WUS kawin di Jawa Barat Tahun 2017. Pada kelompok umur 35-49 tahun persentase unmet need KB Pembatasan lebih tinggi yaitu 17,49%. Persentase WUS berstatus kawin berdasarkan status unmet need KB pembatasan dan umur wanita di Jawa Barat tahun 2017.
Persentase WUS berstatus menikah berdasarkan unmet need KB untuk status disabilitas dan tingkat pendidikan wanita di Jawa Barat Tahun 2017. Persentase WUS berstatus menikah berdasarkan unmet need KB untuk status disabilitas dan tingkat pendidikan suami di Jawa Barat , Tahun 2017 Persentase WUS berstatus menikah berdasarkan unmet need status KB disabilitas dan jumlah anak yang masih hidup di Jawa Barat Tahun 2017.
Berdasarkan Gambar 10, sebanyak 15,80% WUS berstatus menikah yang tidak bekerja mengalami unmet need KB disabilitas. Persentase ini lebih tinggi dibandingkan dengan WUS berstatus bekerja yang mengalami unmet need KB bagi penyandang disabilitas sebesar 15,54%. Persentase WUS berstatus kawin menurut status belum terpenuhinya kebutuhan KB disabilitas dan status pekerjaan perempuan di Jawa Barat Tahun 2017.
Persentase WUS berstatus kawin berdasarkan unmet need KB menurut status restriktif dan wilayah tempat tinggal di Jawa Barat Tahun 2017. Penelitian ini menemukan bahwa jumlah anak masih hidup tidak berpengaruh signifikan terhadap unmet need keluarga status KB restriktif
LINTASAN PENGHIDUPAN (LIVELIHOOD TRAJECTORIES) DAN MIGRASI LINGKUNGAN DI DELTA MAHAKAM
LIVELIHOOD TRAJECTORIES AND ENVIRONMENTAL MIGRATION IN DELTA MAHAKAM)
Berdasarkan kesenjangan yang ada, tulisan ini mencoba membahas apakah terjadi perpindahan penduduk akibat perubahan lingkungan dan perubahan iklim di Delta Mahakam. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian Pusat Penelitian Kependudukan LIPI yang dilakukan di Delta Mahakam pada tahun 2016. Perpindahan penduduk yang terjadi antar dusun di lokasi Delta Mahakam (seperti yang terjadi di desa Muara Pantuan dan Sepatin) bersifat musiman karena berprofesi sebagai nelayan.
Pada tahun 2015 dan 2016, Tim Mobilitas Penduduk kembali melakukan penelitian di Delta Mahakam dengan topik khusus migrasi lingkungan di Delta Mahakam (Latifa et al., 2017). Hasil kajian tahun 2003 memperkuat lokasi dalam kaitannya dengan perubahan lingkungan di Delta Mahakam sebagai bahan analisis proses penghidupan. Sumber : http://jb2fishingclub.blogspot.com/2008/06/peta-kawasan-delta-mahakam.html Awalnya populasi berpindah ke Delta.
Kesuksesan usaha tambak udang mengundang investor dari luar Delta Mahakam untuk membeli izin tambak yang dikeluarkan. Saat itu warga delta Mahakam yang sudah lama bermukim sebagian melakukan kegiatan perkebunan kelapa dan nelayan. Kegiatan adaptasi terkait mata pencaharian yang dapat diidentifikasi di Delta Mahakam adalah (i) pembuatan bendungan di tambak dan (ii) pergantian pekerjaan.
Rusaknya ekosistem mangrove menjadi penyebab meningkatnya intensitas gerusan dan kenaikan muka air laut yang mengancam masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil di Delta Mahakam. Dari penjelasan lintasan mata pencaharian dapat disimpulkan bahwa migrasi yang terjadi di Delta Mahakam merupakan migrasi yang disebabkan oleh perubahan lingkungan.