Analisis Jaringan Kerja Sama dalam Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS: Sebuah Studi di Wilayah Subang, Jawa Barat. Gerakan Go to School di Kabupaten Bojonegoro: Meningkatkan Sumber Daya Manusia melalui Pendidikan untuk Mencapai Bonus Demografi. ANALISIS JARINGAN KOLABORASI UNTUK PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN HIV/AIDS: STUDI DI KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT.
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kerjasama pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Subang. Penelitian ini menggunakan metode dan teknik pengumpulan data kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 72 responden yang terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Subang. GERAKAN AYO SEKOLAH DI BOJONEGORO RAINSHAPE: MENINGKATKAN SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN UNTUK MENDUKUNG BONUS DEMOGRAFI.
Therefore, this study aims to explain the factors that influence cooperation in HIV/AIDS prevention and control in Subang Regency.
JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA
Di era kepemimpinan Presiden Suharto, keberhasilan program KB sudah mendunia (Cammack & Heaton, 2001). Perubahan program KB menyebabkan perombakan total struktur organisasi kelembagaan program KB yang berhasil di era Presiden Soeharto. Isu kesetaraan gender diangkat sebagai topik penting dalam program KB sejak kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid.
Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia juga menaruh perhatian pada kesetaraan gender dalam program KB. Selanjutnya pada era Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Joko Widodo, pelaksanaan program KB di daerah mengalami perubahan. Jatuhnya TKT di bawah Presiden Soeharto merupakan tonggak keberhasilan program KB di Indonesia.
Era Kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid Struktur organisasi kelembagaan program KB pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid menggunakan sistem desentralisasi.
IDENTIFIKASI DAMPAK PERKEMBANGAN TEKNOLOGI TERHADAP TENAGA KERJA TOKO RITEL INDONESIA: STUDI KASUS TOKO X
OF RETAIL STORES: A CASE STUDY OF STORE X)
Kami mengklasifikasikan kegiatan ritel sebagai industri padat karya karena dapat menampung banyak tenaga kerja. 51/M-IND/PER/10/2013 tentang Pengertian dan Batasan serta Penggolongan Industri Padat Karya Tertentu (Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, 2013) adalah industri yang mempekerjakan paling sedikit 200 orang. Industri dan pekerja yang tidak mampu berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan teknologi akan memicu shock industri dan shock personel, yang dapat memicu PHK massal, serta keresahan sosial di dalam dan di luar perusahaan (Dhakiri, 2018).
Bagian ketiga menjelaskan dampak transformasi dalam hal ancaman, tantangan, dan peluang apa yang akan dihadapi oleh tenaga kerja ritel dengan hadirnya Ritel 4.0, serta strategi sederhana dan praktis yang dapat kita terapkan bersama untuk beradaptasi dengan perubahan dramatis yang terbentang di depan. . Data perilaku konsumen dalam big data terbagi menjadi dua kategori, yaitu data internal dan data eksternal. Sementara itu, pekerja yang berketerampilan tinggi berpeluang memperoleh pendapatan yang tinggi dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik (Baweja, Donovan, Haefele, Siddiqi, & Smiles, 2016).
Sementara tenaga kerja standar bisa menang dan bisa kalah, jika di bawah standar pasti akan kalah (Dhakiri, 2018).
ANALISIS JARINGAN KOLABORASI DALAM PENCEGAHAN DAN
PENANGGULANGAN HIV/AIDS: STUDI DI KABUPATEN SUBANG JAWA BARAT (ANALYSIS OF COLLABORATIVE NETWORK IN HIV/AIDS PREVENTION AND
CONTROL: STUDY IN SUBANG REGENCY-WEST JAVA)
Purwaningsih dan Widayatun (2008) juga menyatakan bahwa data kasus HIV-AIDS di Indonesia masih belum jelas. Kolaborasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di wilayah Subang bersifat multipihak dan melibatkan lembaga swadaya masyarakat. Sampai saat ini pelaksanaan bersama pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di wilayah Subang belum berjalan efektif.
Belum banyak penelitian tentang kerjasama antar aktor yang menggunakan pendekatan kolaboratif dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemberi dan penerima layanan berperan dalam pencegahan HIV/AIDS sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing. Dalam penelitian ini, analisis difokuskan untuk menjelaskan hubungan organisasi para aktor dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
Tujuannya untuk mengetahui dimensi dominan yang mempengaruhi praktik kerjasama antar lembaga dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Subang. Keterlibatan peserta dalam pencegahan dan penanggulangan bersama HIV/AIDS Bentuk keterlibatan peserta Bentuk pelaksanaan Penerima manfaat KPA kabupaten. Percepatan Program Kementerian Perhubungan Sosialisasi pencegahan HIV/AIDS di kalangan pengemudi angkutan umum lintas provinsi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima dimensi konstruk kerjasama secara signifikan menjelaskan fungsi kerjasama dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Subang. Pertama, penggunaan pendekatan kuantitatif yang menjelaskan data berdasarkan sampel bukan satu-satunya cara untuk mengetahui dinamika jaringan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. Faktor host yang berpengaruh terhadap prevalensi HIV/AIDS pada populasi kunci di Kabupaten Pati.
KEPUTUSAN INDIVIDU USIA KERJA UNTUK BERMIGRASI: BUKTI DARI DATA LONGITUDINAL DI JAWA TIMUR
DECISION OF WORKING AGE INDIVIDUALS TO MIGRATE: EVIDENCE FROM LONGITUDINAL DATA IN EAST JAVA)
Dari keempat faktor yang dapat mempengaruhi migrasi, faktor individulah yang paling menentukan dalam mengambil keputusan untuk bermigrasi. Pola sebaliknya dikemukakan oleh Narayan dan Singh (2015) bahwa rumah tangga pemilik tanah lebih cenderung bermigrasi daripada rumah tangga bukan pemilik tanah karena rumah tangga pemilik tanah akan lebih terdidik daripada yang lain, sehingga keunggulan pendidikan ini meningkatkan kemungkinan terjadinya migrasi. Ada insentif yang lebih besar bagi individu berpendidikan tinggi dari komunitas yang kurang memiliki akses ke layanan sosial, seperti layanan pendidikan dan kesehatan, untuk bermigrasi (Ackah & Medvedev, 2010).
Namun, laki-laki masih lebih banyak bermigrasi daripada perempuan karena. Kaum muda merupakan kelompok yang lebih mudah berpindah ke perkotaan (Erulkar, Mekbib, Simie, & Gulema, 2006). Salah satu penelitian tentang pengaruh faktor sosial ekonomi individu terhadap keputusan bermigrasi adalah penelitian Raj Narayan dan S.
Laki-laki secara individu merasa memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk bekerja menafkahi keluarganya, dan laki-laki biasanya diizinkan oleh orang tuanya untuk pindah. Sumber: SAKERTI-4 dan SAKERTI-5 (diolah) Variabel selanjutnya yang menggambarkan faktor ekonomi sampel adalah kepemilikan lahan pertanian, 70,54 persen sampel tidak memiliki lahan pertanian, namun sampel ini memiliki jumlah pendatang yang lebih banyak daripada sampel yang memiliki tanah. Kemudian dari variabel kepemilikan pinjaman, 20,14 persen sampel yang memiliki pinjaman lebih sedikit dibandingkan dengan sampel yang tidak memiliki pinjaman.
Kaum muda masih berjuang untuk mendapatkan pekerjaan dan pendidikan yang lebih baik di daerah sasaran. Individu yang belum menikah masih lebih leluasa bergerak karena tidak memiliki ikatan keluarga. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Paulson (2000), Hagen-Zanker (2008) dan Molina Millán (2015), individu akan memutuskan untuk pindah dengan harapan mendapatkan penghasilan lebih yang nantinya dapat digunakan untuk mengintegrasikan keluarganya ke dalam program asuransi kesehatan. .
Hal ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Narayan dan Singh (2015) bahwa status kemiskinan dapat mempengaruhi individu untuk bermigrasi. Selanjutnya hubungan yang tidak signifikan ini menggambarkan bahwa individu selalu menginginkan pendapatan atau keuntungan lain yang lebih besar di wilayah sasaran.
KAPASITAS PEMERINTAH PROVINSI JAMBI DALAM MENGHADAPI BENCANA BANJIR DAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN
LAHAN
THE CAPACITY OF JAMBI’S LOCAL GOVERNMENT IN FACING FLOOD, AND FOREST AND LAND FIRE HAZE)
Di Provinsi Jambi sendiri terdapat dua bencana yang frekuensi kejadiannya lebih tinggi dan dampaknya lebih buruk, yaitu banjir dan kebakaran hutan dan lahan. Padahal, berdasarkan proyeksi yang dibuat oleh Apip et al. 2017), diperkirakan hutan yang tersisa di Provinsi Jambi pada tahun 2045 hanya akan menjadi taman nasional (Bukit Tiga Puluh, Bukit Dua Belas dan Berbak). Secara umum penanggulangan bencana di Provinsi Jambi tertuang dalam Peraturan Daerah Provinsi Jambi Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
Peraturan tersebut merupakan pedoman penyelenggaraan penanggulangan bencana di Provinsi Jambi yang bertujuan untuk memudahkan koordinasi, pelaksanaan dan pertanggungjawaban dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Pengumuman ini merupakan salah satu upaya pimpinan daerah di Provinsi Jambi untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan di masa mendatang. Di Provinsi Jambi, ada beberapa implementasi terkait pengelolaan banjir dan kebakaran hutan dan lahan.
Peta rawan bencana yang dimiliki Provinsi Jambi bisa dikatakan lengkap, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Penelitian yang dilakukan oleh Apip et al. 2017) di Provinsi Jambi (Das Batanghari) melalui kegiatan inti LIPI, menghasilkan peta risiko banjir di Provinsi Jambi secara detail (Gambar 6). Pada tahun 2017, Gubernur Provinsi Jambi mengeluarkan status darurat kebakaran hutan dan lahan yang berlaku mulai 23 Juni hingga 31 Oktober 2017.
Artinya, akan lebih baik jika Pemprov Jambi mulai menerapkan status darurat kebakaran hutan pada April mendatang. Sedangkan untuk pengungsian warga jika terjadi bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan, Pemprov Jambi belum memiliki strategi untuk menghadapinya. Petani padi di Provinsi Jambi kerap mengalami gagal panen akibat banjir selama tiga tahun terakhir.
Dari sisi kebijakan, nampaknya kapasitas Pemprov Jambi sangat kuat untuk jenis bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan ini. Hal ini tercermin dari beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jambi, seperti pemberitahuan kebakaran hutan, peraturan daerah pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, serta pedoman teknis daerah melalui peraturan gubernur.
GERAKAN AYO SEKOLAH DI KABUPATEN BOJONEGORO: PENINGKATAN SUMBER DAYA MANUSIA MELALUI PENDIDIKAN UNTUK MENYONGSONG
BONUS DEMOGRAFI
THE “AYO SEKOLAH” MOVEMENT IN BOJONEGORO REGENCY: IMPROVING HUMAN RESOURCES THROUGH EDUCATION TO SUPPORT DEMOGRAPHIC
BONUS)
IPM Kabupaten Bojonegoro tahun 2016 masih rendah dibandingkan kabupaten lain di Provinsi Jawa Timur. Untuk menekan angka putus sekolah, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah melaksanakan program “Ayo Sekolah” sejak tahun 2015. Perubahan komposisi penduduk di Kabupaten Bojonegoro mulai bergeser dari dominan pemuda menjadi penduduk usia produktif.
Jumlah anak putus sekolah di Kabupaten Bojonegoro lebih rendah dibandingkan dengan jumlah anak putus sekolah di tingkat provinsi. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro berharap kepemimpinan DAK bidang pendidikan diwujudkan dalam pemberian bantuan pendidikan. Pengelolaan DAK Bidang Pendidikan Kabupaten Bojonegoro (Pasal 6) Besaran DAK Bidang Pendidikan sebesar Rp.
GAS yang dibuka oleh pemerintah Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2015 telah memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Data tersebut menunjukkan penurunan angka putus sekolah di wilayah Bojonegoro pada jenjang pendidikan SMA/SMK/MA mengikuti program GAS (Gambar 3). Artinya, akses dan kesadaran penduduk wilayah Bojonegoro pada kelompok usia ini terus meningkat.
Bantuan langsung dari DAK Bidang Pendidikan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro sejak tahun 2015 telah berhasil menekan angka putus sekolah atau siswa SMA/sederajat. Persentase angka putus sekolah SMA/SMK/MA di Kabupaten Bojonegoro mengalami penurunan meskipun tidak signifikan (0,20 persen). Program tersebut belum sepenuhnya efektif karena permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan pengelolaan DAK Bidang Pendidikan di beberapa desa di Kabupaten Bojonegoro.
Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Bidang Pendidikan di Kabupaten Bojonegoro. Peraturan Bupati Bojonegoro Nomor 20 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Bupati Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Alokasi Khusus Pendidikan di Kabupaten Bojonegoro.