Perubahan suhu dalam jangka waktu yang relatif lama menyebabkan fenomena pemanasan global dan perubahan iklim. Isu terkait paragraf 2 UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) mengenai dampak campur tangan manusia terhadap sistem alam (bumi), khususnya terkait fenomena perubahan iklim. Apalagi bila disertai dengan gejala perubahan iklim yang menimbulkan tekanan terhadap lingkungan (environmental pressure) seperti terlihat secara skematik di bawah ini.
Model keterkaitan kegiatan ekonomi dan perubahan iklim diilustrasikan pada gambar di bawah ini yang dikembangkan oleh Fiddaman (dalam Davies, 2004). Uraian konseptual di atas sangat relevan dengan upaya mengantisipasi risiko gejala perubahan iklim. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih luas dan intensif, terutama dalam mitigasi dan adaptasi terhadap gejala perubahan iklim.
ISU KELEMBAGAAN DALAM PEMBANGUNAN KETAHANAN PANGAN: PEMBELAJARAN DARI
KABUPATEN KLATEN, JAWA TENGAH
THE INSTITUTIONAL ISSUES ON THE DEVELOPMENT OF FOOD SECURITY: LESSONS
LEARNED FROM KLATEN REGENCY, CENTRAL JAVA
Berbagai literatur (Purwanto, 2010; Ariani, 2010; Machfoedz, 2011) menyimpulkan bahwa ketahanan pangan di Indonesia belum terbangun secara kokoh. Selain itu, untuk memperkuat kelembagaan, dibentuk Dewan Ketahanan Pangan (DKP) di setiap kabupaten/kota melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. Oleh karena itu, penting dicari akar permasalahan yang mengganggu ketahanan pangan di kabupaten tersebut.
Tulisan ini menganalisis perkembangan ketahanan pangan di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah dengan menggunakan analisis kelembagaan.
MIGRASI TENAGA KERJA INDONESIA DARI KABUPATENTULUNGAGUNG:KECENDERUNGAN
DAN ARAH MIGRASI, SERTA REMITANSI 1
THE MIGRATION OF INDONESIAN WORKERS FROM TULUNGAGUNG REGENCY: TRENDS, MIGRATION
DIRECTION, AND REMITTANCES
Survei terhadap 118 rumah tangga yang anggota rumah tangganya bekerja di luar negeri menunjukkan bahwa sekitar 57,6% pekerja migran adalah laki-laki dan 42,4% perempuan. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya persentase anggota rumah tangga (ART) responden yang saat ini bekerja sebagai TKI dan hanya berpendidikan SMP ke bawah. Distribusi persentase anggota rumah tangga yang bekerja sebagai TKI menurut kelompok umur dan jenis kelamin, Desa Sukerejo Wetan, 2010.
Distribusi persentase anggota keluarga yang bekerja sebagai TKI menurut tahun pertama migrasi, frekuensi migrasi dan jenis kelamin, Desa Sukerejo Wetan, 20 I 0. Data survei menunjukkan bahwa 93,2% dari 118 keluarga yang anggota keluarganya bekerja sebagai buruh migran telah mengirim uang ke TKI. tahun lalu. Hampir sepertiga keluarga responden yang anggota keluarganya bekerja sebagai TKI (30,5%) menerima kiriman uang 1-2 kali dalam setahun terakhir.
Jumlah ini hampir sama dengan rumah tangga yang menerima kiriman uang 3-4 kali dalam setahun, yaitu (29,7%). Sebanyak 40% rumah tangga yang menerima kiriman uang 1-2 kali dalam setahun terakhir berasal dari TK1 yang bekerja di Arab Saudi. Data menunjukkan bahwa rumah tangga yang menerima remitansi tujuh kali atau lebih dalam setahun terakhir berasal dari pekerja migran (25,8%), lebih banyak dari pekerja migran perempuan (16,7%).
Untuk rumah tangga penerima remitansi kelompok <1,5 juta rupiah per bulan, persentase terendah adalah mereka yang bekerja di negara-negara Timur Tengah. Tabel 9 menunjukkan bahwa persentase rumah tangga responden yang menerima remitansi antara 3,0-4,4 juta rupiah setiap kali dikirim lebih tinggi dari pekerja migran perempuan daripada pekerja migran laki-laki.
MODEL PENUNTASAN PENDIDIKAN DASAR SEMBILAN TAHUN USULAN DAERAH
THE MODEL OF THE COMPLETION OF THE NINE-YEAR COMPULSORY EDUCATION PROPOSED
BY LOCAL GOVERNMENT
Dokumen ini memuat pembahasan terkait beberapa hal, yaitu: Pertama, permasalahan/kendala yang dihadapi program penyelesaian pendidikan dasar di daerah menurut tiga pemangku kepentingan utama yaitu masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Seperti yang ditunjukkan Tabel 1, terlihat jelas adanya kesepakatan atau kesenjangan pandangan (dan kepentingan) antara tiga pemangku kepentingan utama dalam pendidikan, yaitu negara, masyarakat, dan dunia usaha. dunia usaha terhadap pemerintah (kolom a sampai f pada tabel 1 di atas) tentang hal-hal (indikator) yang masih menjadi masalah (p) dalam rangka menuntaskan wajib belajar, tetapi juga tentang hal-hal yang tidak lagi menjadi masalah. Hasil kesimpulan umum di atas kemudian disampaikan sebagai kerangka acuan dalam forum penilaian bersama bagi seluruh pemangku kepentingan di setiap daerah.
Selain itu, konfigurasi pemangku kepentingan pendidikan harus berubah, yaitu negara lebih cenderung berbagi kewenangan dengan masyarakat dan dunia usaha, agar layanan pendidikan memenuhi kebutuhan dan peluangnya, sehingga penyelesaiannya dapat segera terwujud. Hasil empiris survei bersama para pemangku kepentingan di tiga wilayah disajikan pada bagian di bawah ini. Jumlah dan komposisi pemangku kepentingan yang berpartisipasi dan berkontribusi dalam pelaksanaan studi bersama di ketiga wilayah tersebut sangat tepat.
Tujuan yang tercakup dalam respon pemangku kepentingan (dengan kata lain "model yang diusulkan") adalah secara umum bahwa pembatasan partisipasi siswa dalam pendidikan dasar dapat dikurangi dan keluaran/outcome pendidikan dasar lebih merata dan kualitatif. Agar komposisi dan konfigurasi kelompok kepentingan berjalan dengan baik, sistem penyelenggaraan pendidikan daerah harus menempatkan pemangku kepentingan di luar pemerintah daerah sebagai mitra, bukan sekadar pendukung jalur manajerial birokrasi. Oleh karena itu, pemangku kepentingan melihat perlunya solusi lokal atau model embrio untuk diadaptasi secara lebih sistematis.
Jadi konsep yang berkembang di Ciamis adalah load sharing, resource sharing antar stakeholder. Selain itu, sinergi menempatkan kolaborasi pemangku kepentingan di arena publik, membuka jendela transparansi dan akuntabilitas publik.
Model/Solusi Usulan Pemangku Kepentingan Daerah Minahasa Selatan
Guru-guru yang ada, selain sebarannya yang kurang di pedesaan, banyak dari mereka yang tidak profesional bahkan memiliki kualifikasi yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Selain itu, gejala yang meluas bahwa profesi guru tidak lagi dipandang sebagai “panggilan hidup”, tetapi sekadar mencari nafkah. Oleh karena itu, selain redistribusi guru ke pedesaan dan sertifikasi untuk meningkatkan kualitas guru, moral guru juga harus dikembalikan ke nilai-nilai dasar (nilai-nilai agama seperti Kristen dan profesionalisme) dengan cara melatih pegawai, khususnya PNS. dari pemerintah daerah.
Selain itu, diperlukan perda untuk menghapus kriminalisasi (korupsi) desa miskin yang terpaksa mengalokasikan dana ADD untuk penyelenggaraan SMP satu atap. Selain itu, bagi sekolah yang menerima BOŠ kecil, karena jumlah siswanya sedikit sehingga tidak mencukupi untuk membiayai operasional sekolah, paket bantuan BOŠ pusat harus dilengkapi dengan bantuan tambahan dari pusat atau swadaya setempat. pemerintah. agar sekolah dapat tetap berfungsi, mengingat sekolah seperti kebanyakan ini berada di masyarakat miskin atau terpencil sebagai “batu sandungan” untuk penyelesaian. Selain itu, Komisi Sekolah harus lebih inovatif, karena akan mencari dana tanpa membebani orang tua miskin.
Selain peningkatan profesionalisme guru PNS, redistribusi guru dan peningkatan sinergi antar instansi untuk meningkatkan pelayanan (supply side), serta upaya peningkatan daya beli (demand), kekurangan pendidikan nilai dan keterampilan sebagai supply side di pendidikan dasar juga perlu dikoreksi dengan program dan sumber daya yang ada. Selain itu, penambahan pendidikan keterampilan dasar yang sementara diberikan pada paket B dan C - sebagian dikenakan biaya 80%. Selain pendidikan keterampilan, pendidikan karakter bangsa melalui pendidikan kewarganegaraan harus dijadikan kurikulum wajib di sekolah, bahkan bila perlu ditetapkan kurikulum nasional.
Penyelesaian pendidikan dasar akan lebih berhasil jika didukung oleh pendidikan anak usia dini (PAUD) yang komprehensif dan berkeadilan. Oleh karena itu, benang merah usulan daerah adalah bagaimana menghidupkan kembali ciri-ciri pendidikan dasar yang dibutuhkan daerah, beserta asas, sistem dan cara penyelenggaraan pelayanannya, sehingga selain lebih demokratis, juga dipadukan secara sistematis dalam sinergi antara negara-masyarakat-pasar.
FISHERMEN AND THE BATTLE OF MARINE RESOURCES
Di masa lalu, laut sering dipandang sebagai sumber daya yang terbuka bagi semua orang (open access) dan milik bersama (common property). Pandangan tentang laut sebagai milik bersama inilah yang dijadikan dasar untuk menjelaskan krisis sumber daya laut. Saat ini, dapat dikatakan pengelolaan sumber daya laut lebih dikuasai oleh negara (dan swasta), yang tercermin dari berbagai kebijakan yang lebih bersahabat dengan nelayan besar (swasta).
Berbagai bentuk kerangka kerja pengelolaan sumber daya laut digunakan dan diteliti oleh mereka yang terlibat. Orientasi pembangunan yang mutakhir ke arah daratan mengakibatkan pengelolaan sumber daya laut (dan akibatnya kehidupan nelayan) menjadi kepentingan sekunder dalam proses pembangunan. Pengelolaan sumber daya laut berbasis masyarakat secara khusus menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya laut.
Studi kasus (terutama dilakukan oleh antropolog di komunitas nelayan) menunjukkan bahwa praktik lokal/tradisional dalam pengelolaan sumber daya laut ternyata membuktikan apa yang dikatakan Hardin salah. Salah satu isu yang menarik bagi nelayan skala kecil adalah praktik penangkapan atau pengelolaan sumber daya laut yang sering dikaitkan dengan praktik berkelanjutan. Selain itu, praktik pengelolaan nelayan tradisional juga menunjukkan bahwa kekayaan laut tidak sepenuhnya milik bersama atau open access.
Oleh karena itu, nelayan skala kecil sering dianggap tabu untuk memanfaatkan dan mengelola sumber daya laut dengan lebih baik. Baru-baru ini, tren model pengelolaan sumber daya laut telah bergeser kembali ke arah pengelolaan berbasis masyarakat.
DESENTRALISASI PROGRAM KELUARGA BERENCANA:TANTANGANDANPERSOALAN
KASUS PROVINSI KALIMANTAN BARAT
THE DECENTRALIZATION OF THE FAMILY PLANNING PROGRAM: CHALLANGES AND ISSUES,
THE WEST KALIMANTAN PROVINCE CASE
Lembaga KB yang mandiri akan lebih mudah melaksanakan tugas pokok dan tugasnya serta lebih terarah pada pelaksanaan program KB. Makalah ini akan menyajikan pembahasan tentang tantangan dan kesulitan dalam pelaksanaan program KB di era otonomi daerah baik di tingkat makro (nasional) maupun di tingkat provinsi yaitu provinsi Kalimantan Barat. Secara internasional, keberhasilan program KB Indonesia juga telah diakui dan ditetapkan sebagai salah satu “center of excellence” di bidang kependudukan dan KB.
Program KB di Indonesia menjadi salah satu model kisah sukses pelaksanaan KB di negara berkembang yang ditiru oleh banyak negara berkembang di dunia. Hasil dari kebijakan ini adalah kewenangan pusat, termasuk program KB nasional, diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota. Masalah yang muncul dalam pelaksanaan program KB setelah pelaksanaan desentralisasi adalah semakin berkurangnya kapasitas kelembagaan program KB.
Akibat merosotnya lembaga atau organisasi daerah, maka kelembagaan program KB di daerah atau kota menjadi sangat beragam. Dengan diberlakukannya otonomi daerah, dukungan pemerintah kabupaten/kota terhadap program KB (termasuk JKK) sangat bervariasi, sangat bergantung pada pemahaman pimpinan daerah dan DPRD tentang pentingnya JKK dalam penyelenggaraan KB nasional. program. Temuan dari kabupaten/kota lain juga menunjukkan bahwa meskipun program KB dimasukkan dalam anggaran APBD, namun sulit untuk mengetahui berapa besar anggaran yang dialokasikan untuk pengadaan alat kontrasepsi.
Besaran dana dari APBD sangat tergantung pada komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program KB. Jumlah unmet need ini dapat digunakan untuk memperkirakan sejauh mana program KB sudah dapat memenuhi kebutuhan pelayanan.
KEPENDUDUKAN INDONESIA