• Tidak ada hasil yang ditemukan

jurnal kependudukan indonesia

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "jurnal kependudukan indonesia"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

However, Indonesia has not yet fully implemented the International Convention on the Protection of the Rights of All Migrant Workers and Their Families (ICRMW). However, these do not provide sufficient instruments to protect migrant workers, especially female migrant workers. INITIATIVE ON THE PROTECTION OF INDONESIAN MIGRANT WORKERS: ADVOCACY GROUPS, ROLES AND STRATEGIES OF DIFFERENT GROUPS.

Table 1. Problems  faced  by  Indonesian  migrant  workers  abroad reported  to  the  Indonesian  Ministry  of  Manpower  and  Transmigration  2005  and  BNP2TKI 1), 2008
Table 1. Problems faced by Indonesian migrant workers abroad reported to the Indonesian Ministry of Manpower and Transmigration 2005 and BNP2TKI 1), 2008

ANALISIS FERTILITAS PENDUDUK: PROVINSI BENGKULU (THE ANALYSIS OF POPULATION FERTILITY

BENGKULU PROVINCE)

Selama periode 1970-1990, laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Bengkulu mencapai 4,39 persen, jauh di atas laju pertumbuhan penduduk secara keseluruhan di Indonesia yang hanya 2,3 persen. Akibatnya, kontribusi migrasi dalam mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk di Sumatera termasuk provinsi Bengkulu juga menurun. Kedua, penurunan angka pertumbuhan di Provinsi Bengkulu tidak terlepas dari dampak keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang dijalankan oleh BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional).

Grafik 1. Tren Jumlah Penduduk Bengkulu Tahun 1971-2010
Grafik 1. Tren Jumlah Penduduk Bengkulu Tahun 1971-2010

MENYONGSONG KEBIJAKAN PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL: PEMBELAJARAN DARI IMPLEMENTASI

WAJAR DIKDAS 9 TAHUN

THE COMMEMORATION OF THE UNIVERSAL SECONDARY EDUCATION POLICY: LESSONS LEARNED

FROM THE IMPLEMENTATION OF THE NINE-YEAR COMPULSORY PRIMARY EDUCATION)

Tahun dan Sekolah RSBI/SBI: Mengurangi Kesenjangan Pendidikan?

Selain memenuhi tujuan kuantitatif perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah, pemerintah juga telah menetapkan pentingnya keberadaan Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI)/Sekolah Berbasis Internasional (SBI). Pada tahun 2014 misalnya, diharapkan setiap kabupaten/kota memiliki RSBI/SBI SMA/SMLB dan SMK minimal 70 persen dari seluruh SMA sederajat di kabupaten/kota bersangkutan (Goal Kemendikbud) . Beberapa kalangan menganggap keberadaan RSBI menciptakan iklim yang tidak adil dan diskriminatif bagi siswa miskin dalam mengakses pendidikan.

Pasal tersebut berbunyi, “Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional”. Namun, terkait tuntutan penghapusan pasal ini, hingga saat ini Mahkamah Konstitusi belum memberikan putusan atas pengajuan uji materi. Dalam konteks kebijakan Pendidikan Menengah Universal 12 tahun, dimana sekolah berstatus RSBI merupakan bagian dari satuan pendidikan menengah, maka pertanyaan yang muncul adalah apakah sekolah berstatus RSBI/SBI juga termasuk dalam kebijakan tersebut, termasuk yang mendapat tambahan dana tersebut? sebagai BOS dan Bantuan Siswa Miskin (BSM).

Dana tambahan ini dapat digunakan untuk memberikan akses bagi siswa miskin yang berprestasi untuk masuk RSBI/SBI, karena sampai saat ini pemberian kuota 20 persen kepada siswa dari keluarga kurang mampu yang masuk RSBI/BSI cenderung belum terjangkau. Jika kondisi tersebut dapat dipenuhi, maka kesenjangan akses pendidikan yang berkualitas antara siswa dari keluarga miskin dan relatif kaya dapat dikurangi.

Tahan: Sekolah Menengah Gratis?

Termasuk mengatur apakah siswa gratis hanya untuk siswa SMA/SMK negeri, tetapi tidak berlaku untuk sekolah swasta yang kebanyakan memiliki siswa miskin, RSBI dan SBI. Hal ini tentu saja menimbulkan gap yang terus muncul dan pada akhirnya orang-orang yang berasal dari kalangan bawah tetap menduduki status di posisi tersebut. Meskipun secara kuantitatif dan nasional tujuan wajib belajar telah tercapai, namun masih terdapat berbagai permasalahan seperti yang telah dikemukakan sebelumnya seperti kesenjangan capaian di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Hal ini sebagian karena isu otonomi daerah, di mana sekolah-sekolah di bawah Kementerian Agama, seperti madrasah dan pesantren, tidak didesentralisasikan dan berada di bawah yurisdiksi pusat sehingga kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Kesenjangan yang sangat mencolok ini menunjukkan bagaimana sistem pendidikan nasional seolah-olah membagi siswa dan masyarakat menjadi dua segmen (si miskin dan si kaya). Sebagai bagian dari rencana pelaksanaan pameran 12 tahun tersebut, lembaga pemerintah di tingkat kecamatan dan desa dapat meningkatkan perannya sebagai mitra.

Terkait permasalahan data untuk keperluan monitoring dan evaluasi tujuan penyelesaian Program Wajib Belajar, perlu dilakukan koordinasi Kemendikbud dengan SHBB, baik di pusat maupun di daerah (provinsi dan kabupaten/kota). agar diperoleh data yang lebih akurat baik dari segi validitas maupun reliabilitasnya. . 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan turunannya yang mengadaptasi kebijakan Pekan Raya 12 Tahun, perlu segera disusun untuk menjamin kepastian hukum dalam pelaksanaan program tersebut. Oleh karena itu, jika Kebijakan Wajib Belajar 12 tahun akan dilaksanakan, maka pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas harus diperhatikan.

Peluang dan hambatan menuntaskan wajib belajar sembilan tahun”, dalam laporan penelitian Pusat Penelitian Kependudukan-LIPI.

PARTISIPASI MASYARAKAT SEBUAH INVESTASI UNTUK MENJAGA HRQOL PADA PEREMPUAN

COMMUNITY PARTICIPATION: AN INVESTMENT TO KEEP HRQOL IN WOMEN)

Melihat semakin berkembangnya kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh partisipasi masyarakat terhadap HRQOL. Partisipasi masyarakat dinyatakan sebagai variabel dummy dimana 1 menunjukkan partisipasi dalam kegiatan partisipasi masyarakat dan 0 menunjukkan tidak ada partisipasi dalam kegiatan partisipasi masyarakat sama sekali. Beberapa kegiatan partisipasi masyarakat yang termasuk dalam kuesioner IFLS antara lain: Temu Masyarakat (di semua tingkatan: Dasa Wisma, RT, RW, Desa/Kelurahan, Kecamatan, LMD/LKMD), Koperasi (semua jenis koperasi dan di semua tingkatan: Dasa Wisma, RT, RW, Desa/Kelurahan, Kelurahan), bakti sosial rutin (seperti: jumat bersih, desa bersih), kegiatan keagamaan (seperti: pengajian, ibadah, dll.), PKK, Posyandu, dll .

Dari tabel 1 terlihat bahwa tingkat partisipasi masyarakat meningkat dari sekitar 50% pada tahun 2000 menjadi 80% pada tahun 2007. Dari tabel 2 diketahui skor seluruh domain HRQOL responden yang mengikuti partisipasi masyarakat lebih tinggi dari responden yang tidak berpartisipasi dalam partisipasi masyarakat. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keikutsertaan responden dalam kegiatan partisipasi masyarakat memberikan peningkatan HRQOL.

Hasil ini sejalan dengan pendapat Santosa & Heroepoetri (2005) yang menyatakan bahwa keterlibatan seseorang dalam partisipasi masyarakat dapat menghilangkan perasaan keterasingan. Hal ini menunjukkan bahwa variabel partisipasi masyarakat merupakan variabel endogen sehingga dengan menggunakan metode 2 SLS memberikan hasil yang akurat dan tidak bias. Berdasarkan hasil penelitian ini, kebijakan untuk meningkatkan derajat kesehatan perempuan pada khususnya dan kualitas hidup terkait kesehatan pada umumnya dapat dilakukan dengan menggalakkan program partisipasi masyarakat.

Dengan promosi ini, kami berharap perempuan dapat berpartisipasi dalam program partisipasi masyarakat yang cocok untuk perempuan, antara lain: (1) aktif dalam pertemuan masyarakat di tingkat RT, RW ke atas, (2) aktif dalam kegiatan PKK, Dasa Wisma dan POSYANDU, dan (3) melakukan kegiatan keagamaan, sosial dan kemasyarakatan lainnya.

Gambar 1.  Konsep dari domain dan variabel yang terlibat dalam penilaian HRQOL menurut Testa  dan Simonson (1996)
Gambar 1. Konsep dari domain dan variabel yang terlibat dalam penilaian HRQOL menurut Testa dan Simonson (1996)

COPING STRATEGY PADA KONDISI DARURAT BENCANA

PEMBELAJARAN DARI MASYARAKAT BANTUL MENGHADAPI GEMPA

EMERGENCY DISASTER COPING STRATEGIES: LESSONS LEARNED FROM BANTUL COMMUNITY IN DEALING

WITH AN EARTHQUAKE)

Penduduk yang bertahan hidup untuk bertahan hidup harus memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu makan dan tempat tinggal. Strategi koping yang dilakukan para penyintas di Kabupaten Bantul adalah pengelolaan kearifan lokal yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Kebijaksanaan ini meliputi kegiatan membantu sesama warga dan gotong royong, berbagi peran sesuai jenis kelamin, dan mengutamakan bantuan kepada warga yang lebih membutuhkan.

Dalam keadaan darurat, warga yang memiliki bekal makanan yang masih bisa digunakan menyumbangkan barang-barangnya untuk dimasak dan dimakan bersama. Oleh karena itu, para penyintas harus bekerja untuk kebutuhan dasar mereka sendiri agar tidak kelaparan. Kondisi shelter pada hari-hari pertama pasca gempa sangat parah, jumlah dan kapasitas shelter sangat terbatas untuk menampung korban selamat pasca gempa.

Mengutamakan warga yang lebih membutuhkan juga berlaku bagi hunian bagi warga yang kondisinya sangat minim. Barang inventaris warga yang masih bisa digunakan tentu sangat berguna saat terjadi bencana. Sementara tenda (kanopi dan/atau seng) dapat digunakan sebagai tenda evakuasi dan/atau dapur umum bagi kelompok penyintas.

Kearifan ini merupakan modal sosial yang sangat 'berharga dan penting' untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas dan mengurangi risiko akibat bencana di kabupaten ini.

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MOTIVASI BERWIRAUSAHA DI KOTA PEKANBARU

THE ANALYSIS OF FACTORS THAT AFFECT THE MOTIVATION TO UNDERTAKE ENTREPRENEURSHIP

IN PEKANBARU CITY)

Umur

Berdasarkan hasil tabulasi silang pekerja wirausaha menurut kelompok umur, diperoleh kesimpulan bahwa rata-rata pekerja mandiri adalah antara 30-39 tahun yaitu sebesar 16,7%, diikuti oleh kelompok umur 40-49 yaitu sebesar 13,3%. . Hal ini sangat berbeda dengan non-wirausaha/pekerja bergaji, dimana rata-rata usia dominan pekerja adalah 20-29 tahun yang mencapai 32,5%, diikuti oleh kelompok usia 30-39 tahun yaitu 18,8%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata usia wiraswasta berada di atas rata-rata usia wiraswasta/pekerja bergaji.

Seorang pekerja akan memulai usaha ketika berusia 30 tahun atau lebih, hal ini dikarenakan setelah berusia di atas 30 tahun, kesempatan mereka untuk bekerja sebagai karyawan/non wirausaha mulai terbatas.

Jenis Kelamin

Tingkat Pendidikan

Secara umum, semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja, semakin besar kemungkinan mereka untuk menjadi wirausahawan (pencipta lapangan kerja) dengan asumsi mereka memiliki pemahaman yang lebih matang tentang bidang tertentu dalam konteks ilmiah dan pola pikir yang lebih konseptual daripada pekerja dengan tingkat yang lebih rendah. pendidikan. pendidikan. Namun, studi ini menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja, semakin besar kemungkinan mereka untuk menjadi pekerja upahan. Berdasarkan hasil tabulasi silang antara tingkat pendidikan dan motivasi karyawan untuk berwirausaha, diketahui bahwa karyawan dengan gelar sarjana yang memilih menjadi wirausaha dimotivasi oleh keinginan pribadi untuk menjadi wirausaha (8,8%), sedangkan faktor negatif seperti kesulitan mencari pekerjaan tidak begitu dominan.

Selain itu, 12,8% wiraswastawan berpendidikan SLTP/sederajat menjelaskan bahwa alasan berwirausaha adalah kesulitan mencari pekerjaan. Hal ini menunjukkan bahwa terbatasnya kesempatan tenaga kerja berpendidikan SLTP/sederajat di pasar tenaga kerja menyebabkan mereka lebih memilih berwirausaha. Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat juga faktor psikologis internal yang cukup dominan dalam memotivasi pekerja untuk menjadi pengusaha di kota Pekanbaru.

Mereka memiliki minat dan kemauan pribadi untuk berwirausaha dan percaya bahwa berwirausaha adalah suatu bentuk kemandirian yang terpisah dari sistem kerja tertentu. Cuervo (2005) mencirikan istilah ini sebagai aspek psikologis yang mendorong individu untuk berwirausaha, dan Gilad dan Levine (1986) sebagai teori tarikan, yaitu bahwa individu tertarik untuk berwirausaha. Selain itu, motivasi lingkungan, baik positif maupun negatif, memiliki pengaruh yang kuat dalam mendorong pekerja giat.

Dorongan positif dari teman/keluarga untuk berwirausaha sebesar 29,2%, sedangkan dorongan negatif seperti kesulitan mencari pekerjaan atau ketidakpuasan kerja masing-masing sebesar 20,5% dan 15,2%.

Tabel 2.  Alasan Pekerja Berwirausaha Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 2. Alasan Pekerja Berwirausaha Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Status Perkawinan

Migrasi

Artinya, jumlah etnis Melayu yang berwirausaha relatif lebih sedikit dibandingkan etnis Minang dan Tionghoa. Namun pada penelitian ini ditemukan bahwa suku Minang di kota Pekanbaru tidak memiliki jumlah pekerja mandiri yang lebih banyak dibandingkan dengan non wirausaha. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara jumlah pekerja migran Minang dan non-migran yang menjadi pekerja upahan/non-wirausaha.

Hal ini dikarenakan pekerja etnis Minang yang bermigrasi ke Kota Pekanbaru rata-rata berpendidikan SMA/sederajat dan berusia lebih muda yaitu 20-29 tahun. Sedangkan tingkat pendidikan diploma terutama pekerja etnis Minang mencapai 12%, dan etnis Tionghoa 8,2%. Artinya, peluang etnik Minang untuk menjadi wirausaha lebih kecil dibandingkan etnik Tionghoa, namun peluangnya lebih besar dibandingkan etnik Malaysia.

Namun untuk kasus Kota Pekanbaru dalam penelitian ini ditemukan bahwa faktor etnis Minang tidak berpengaruh signifikan terhadap pilihan pekerja untuk berwirausaha. Suku Minang yang berbisnis di Kota Pekanbaru lebih banyak berada pada kelompok non pendatang dibandingkan pendatang. Namun, hanya etnis Melayu dan etnis Minang yang dimasukkan dalam analisis ini karena ukuran sampel yang kecil untuk etnis Tionghoa.

Dalam hal ini, metode regresi logistik juga digunakan untuk menentukan probabilitas pekerja etnis Melayu dan etnis Minang untuk berwiraswasta atau tidak berwiraswasta (Y1) berdasarkan penilaian terhadap karakteristik individu sebagai variabel bebas, antara lain umur. ( X1) ), jenis kelamin (X2). , pendidikan (X3), status perkawinan (X5) dan status migran (X6).

Tabel 3.  Pekerja Migran di Kota Pekanbaru
Tabel 3. Pekerja Migran di Kota Pekanbaru

Gambar

Table 1. Problems  faced  by  Indonesian  migrant  workers  abroad reported  to  the  Indonesian  Ministry  of  Manpower  and  Transmigration  2005  and  BNP2TKI 1), 2008
Grafik 1. Tren Jumlah Penduduk Bengkulu Tahun 1971-2010
Grafik 3. Sex Ratio Penduduk Bengkulu 1980-2010
Grafik 4. Laju Pertumbuhan Penduduk Bengkulu dan Indonesia Tahun 1970-2010
+7

Referensi

Dokumen terkait

The protection and placement of migrant workers regulated in Law Number 18 Year 2017 concerning the Protection of Indonesian Migrant Workers (here in after referred

Jakarta, Juli 2020 Jurnal Kependudukan Indonesia Edisi Khusus Demografi & COVID-19 1- 114 ISSN 1907-2902 Edisi Khusus Demografi & KEPENDUDUKAN INDONESIAEdisi Khusus Demografi &

ISSN 1907-2902 JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA Volume 12 Nomor 2 Tahun 2017 DAFTAR ISI Analisis Data Panel Migrasi Masuk Risen di Pulau Jawa dan Sumatera Periode 1995 – 2015 79-92

ISSN 1907-2902 JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA Volume 9 Nomor 1 Tahun 2014 DAFTAR ISI Women Labor Migration in Asia: Mother Migration and Its Impacts on Left-Behind Meirina Ayumi

1 Juni 2020 | 49-58 JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA p-ISSN: 1907-2902 Print e-ISSN: 2502-8537 Online THE EFFECT OF FAMILY LIVING ARRANGEMENT ON DELAYED SEXUAL DEBUT AMONG FEMALE

ISSN 1907-2902 JURNAL KEPENDUDUKAN INDONESIA Volume II, Nomor 1, Tahun 2007 DAFTARISI Infant Mortality in Nuaulu and Non Nuaulu Communities in Maluku Tengah: Social Exlusion and

The analysis results of this study include 1 Protection and Legal Status of Indonesian Migrant Workers in Malaysia, 2 The Influence of Indonesian Migrant Workers on the availability of

Issue: Contemporary Development in Legal Studies and Crimes Research Article Human Trafficking and Migrant Workers: Analysis of Indonesian Migrant Workers Protection in Overseas