VOLUME NEKTAR DAN BERAT POLLEN TUMBUHAN SUMBER PAKAN Apis cerana Fabr. DI PATALANGAN
KABUPATEN PADANG PARIAMAN
Muhammad ridwan, Jasmi, Yosmed Hidayat Program Studi Pendidikan Biologi MIPA STKIP PGRI Sumatra Barat Email: [email protected]
Abstaract
Production honeybee influenced by several factors.The main requirement is the honey bee feed in the form of nectar and pollen. Nectar and pollen sources of feed should always be available so that the colony can develop optimally. Nectar and pollen available when the flowers are blooming. In the flowering season the availability of food sources of nectar and pollen increases, so that the honey produced by bees more than twice as much. Honeybee feed sources such as pollen and nectar obtained by the bees in the spring. Plant sources of feed contained in the location of beekeeping is the coconut (Cocos nuscifera), and shy princess flower (Mimosa pudica). This study aims to determine the volume of nectar and pollen heavy plant feed sources Apis cerana Fabr. Knowing the availability of food resources Apis cerana Fabr. The results of this study are expected to be useful to know whether the plant is sufficient availability of food sources Apis cerana Fabr. To beekeepers in order to add different types of honey bees feed crops, so in addition to benefit darimadu, also can increase the production of these crops.
Keywords: Honey Bee Apis cerana Fabr. Sources Feed Bee Honey, Nectar, Pollen, Abstrak
Kebutuhan utama lebah madu adalah pakan berupa nektar dan polen. Sumber pakan nektar dan polen ini harus selalu tersedia agar koloni dapat berkembang secara maksimal.
Nektar dan polen tersedia ketika bunga sedang mekar. Pada musim berbunga ketersedian sumber pakan nektar dan polen meningkat, sehingga madu yang dihasilkan lebah dua kali lipat lebih banyak. Sumber pakan lebah madu berupa polen dan nektar banyak di peroleh oleh lebah pada musim bunga.Tumbuhan sumber pakan yang terdapat di lokasi budidaya lebah madu adalah berupa kelapa (Cocos nuscifera), dan bunga putri malu (Mimosa pudica).
Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui volume nektar dan berat polen, mengetahui ketersedian sumber pakan Apis cerana Fabr.
Kata Kunci : Lebah Madu Apis cerana Fabr. Sumber Pakan Lebah Madu, Nektar, Pollen,
PENDAHULUAN
Apis cerana Fabr. merupakan lebah madu asli Asia dan sudah berabad-abad dibudidayakan di wilayah Asia termasuk Indonesia sebagai lebah yang jinak. Lebah ini memiliki daya adaptasi terhadap kondisi iklim, produktif, dan tidak ganas sehingga akrab dengan masyarakat pedesaan. Cara pemeliharaanya sebagian masih tradisional, antara lain dalam rongga kayu, keranjang anyaman bambu, gentong tembikar, dinding gua-gua, celah-
celah rumah dan tempat sederhana lainya. Sebagian sudah ada yang memilihara dalam kotak lebah (stup) yang dapat dipindah-pindahkan (Sihombing, 1994).
Produksi lebah madu dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah faktor ketersedianya pakan lebah (bee forage). Kebutuhan utama lebah madu adalah pakan berupa nektar dan polen. Sumber pakan nektar dan polLen ini harus selalu tersedia agar koloni dapat berkembang
secara maksimal. Nektar dan polLen tersedia ketika bunga sedang mekar. Pada musim berbunga ketersedian sumber pakan nektar dan polLen meningkat, sehingga madu yang dihasilkan lebah dua kali lipat lebih banyak. Hal ini disebabkan sumber pakan lebah madu berupa pollen dan nektar banyak di peroleh oleh lebah pada musim bunga.
Saepudin (2010) melaporkan, produktivitas lebah sangat dipengaruhi oleh ketersedian nektar dan polen yang berada di sekitar tempat hidup lebah.
Tingginya produksi madu disebabkan bahan baku yang dibutuhkan lebah untuk pembuatan madu mudah didapatkan. Devi (2014) melaporkan, rata- rata volume nektar yang dihasilkan paling banyak pada tanaman berbunga pada waktu pagi hari.
Penurunan produksi lebah madu dilokasi budidaya lebah madu Patalangan terjadi karena sumber nektar dan pollen pakan lebah yang berada di sekitar lahan masyarakat sudah mulai berkurang.
Hal ini disebabkan penyemprotan herbisida atau memangkas tanaman pakanya oleh masyarakat setempat. Adapun tumbuhan sumber pakan yang terdapat di lokasi budidaya lebah madu adalah tanaman kelapa (Cocos nuscifera), dan bunga putri malu (Mimosa pudica). Hingga saat ini belum ada laporan terkait dengan ketersedian nektar dan pollen pakan lebah madu di Patalanagan. Dari permasalahan tersebut maka peneliti telah melakukan penelitian tentang volume nektar dan berat pollen tumbuhan sumber pakan Apis cerana Fabr. di Patalangan Kabupaten Padang Pariaman.
BAHAN DAN METODE
Metode penelitian ini adalah survey deskriptif dimana sampel nektar dan polen tanaman pakan Apis cerana Fabr. diambil langsung di sekitar lokasi penangkaran lebah madu. Jumlah pakan lebah madu Apis carana Fabr. Diketahui dengan mengukur volume nektar dan berat polen tanaman pakan yang telah dikoleksi dilapangan.
Penelitian telah dilakukan di Patalangan Nagari Limau Purut Kecamatan V Koto Timur Kabupaten Padang Pariaman Penelitian dilakukan di korong Patalangan perlebahan pilot proyek Kabupaten Padang Pariaman.
Mengambil secara acak bunga kelapa sebanyak 150 bunga dalam satu tandan dengan lima pengambilan, waktu dan pohon kelapa yang berbeda sebagai sampel. Waktu pengambilan berbeda-beda tiap 5 kali pengambilan. Pengambilan pertama pukul 06.00-11.00 WIB, pengambilan kedua pukul 08.00-13.00 WIB, pengambilan ketiga pukul 09.00-14.00 WIB, pengambilan keempat pukul 10.00-15.00 WIB, pengambilan kelima pukul 11.00-16.00 WIB.perbedaan bertujuan untuk melihat hubungan atau pengaruh dari faktor lingkungan.
Setelah bunga kelapa didapatkatkan, langkah selanjutnya adalah mengambil nektar yang terdapat pada bunga kelapa. Nektar bunga kelapa di ambil dibagian dasar bunga dengan cara menyedot
cairan nektar yang terdapat pada dasar bunga dengan menggunakan alat spuit 1 cc sebanyak 150 kuntum bunga kelapa dalam satu tandan dengan lima kali pengambilan. Pengambilan pertama pukul 06.00-11.00 WIB, pengambilan kedua pukul 08.00- 13.00 WIB, pengambilan ketiga pukul 09.00-14.00 WIB, pengambilan keempat pukul 10.00-15.00 WIB, pengambilan kelima pukul 11.00-16.00 WIB.
Langkah kerjanya yaitu: mengkoleksi tumbuhan sumber pollen pada bunga kelapa dengan memotong bagian pangkal bunga yang langsung dialas dengan alumunium foil, sebanyak 50 bunga dalam 5 kali pengambilan , dan diberi label. Waktu pengambilan dalam 5 kali pengambilan berbeda-beda, yaitu: Pengambilan pertama pukul 06.00-11.00 WIB, pengambilan kedua pukul 08.00-13.00
WIB, pengambilan ketiga pukul 09.00- 14.00 WIB, pengambilan keempat pukul 10.00- 15.00 WIB, pengambilan kelima pukul 11.00-16.00 WIB.
Selanjutnya pengambilan bunga putri malu dengan cara memotong bagian tangkai bunga sebanyak 10 bunga dalam 5 kali pengambilan , yang langsung di tampung dengan kertas alumunium foil dan di beri label. Waktu pengambilan berbeda-beda tiap 5 kali pengambilan yaitu : Pengambilan pertama pukul 06.00-11.00 WIB, pengambilan kedua pukul 08.00-13.00 WIB, pengambilan ketiga pukul 09.00-14.00 WIB, pengambilan keempat pukul 10.00-15.00 WIB, pengambilan kelima pukul 11.00-16.00 WIB.
Produksi madu dipengaruhi beberapa faktor salah satunya faktor ketersedian pakan lebah.
Kebutuhan utama lebah madu berupa nektar dan pollen. Nektar dan pollen tersedia ketika bunga sedang mekar. Pada musim berbunga ketersedian sumber pakan nektar dan pollen meningkat, sehingga madu yang dihasilkan lebah dua kali lipat lebih banyak.
Data hasil pengamatan volume nektar dan berat pollen tumbuhan sumber pakan Apis cerana Fabr. di Patalangan Kabupaten Padang Pariaman dengan menggunakan tabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Volume nektar yang dihasilkan bunga kelapa 0,04 – 0,12 ml/bunga dan rata-rata volume nektar 0,00044 ml/bunga, rata-rata nektar 0,08 ml/bunga/tandan dan 0,96 ml/bunga/tandan/tahun.
Waktu terbanyak didapatkan nektar pada pukul 06.00-11.00 WIB dan paling sedikit pukul 11.00- 16.00 WIB. dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Volume nektar yang dihasilkan bunga kelapa,berat pollen kelapa, berat pollen putri malu di Patalangan Kabupaten Padang Pariaman.
Waktu (WIB)
06.00-11.00 08.00-13.00 09.00-14.00 10.00-15.00 11.00-16.00
Volume nektar (gram/bunga) Total Rata-rata 0,12 0,00080 0,07 0,00047 0,06 0,00040 0,04 0,00027 0,04 0,00027 Total 0,33 0,00221 Rata-rata 0,00044 0,000002946 Berat pollen kelapa
(gram/bunga) Total Rata-rata 0,09 0,0018
0,06 0,0012 0,05 0,0010 0,04 0,0008 0,03 0,0006 Total 0,27 0,0054 Rata-rata 0,00108 0,0000216
Berat pollen putri malu (gram/bunga)
Total Rata-rata 0,09 0,009 0,07 0,007 0,05 0,005 0,04 0,004 0,03 0,003 Total 0,028 0,028 Rata-rata 0,0056 0,00056
Tingginya volume nektar tanaman kelapa pada pukul 06.00-11.00 WIB diduga sekresi nektar terjadi pada pagi hari saat bunga mekar. Pada pagi hari pukul 06-00-11.00 WIB intesitas cahaya masih rendah. Sehingga nektar pada bunga kelapa belum mengalami penguapan, maka volume nektar masih normal. Sekresi nektar dimulai pada pagi hari proses sekresi maksimal nektar terjadi pada saat bunga mekar pertama kali dan produksinya terus menurun hingga bunga layu (Tricahyadi, 2007, dalam Devi 2014).
Pukul 11.00-16.00 WIB, intesitas cahaya sudah mulai meningkat. Volume nektar yang terdapat pada bunga kelapa mengalami penguapan yang disebabkan oleh cahaya matahari, maka volume nektar sudah mulai berkurang. Hal tersebut diduga karena sekresi nektar berkurang pada siang hari. Jumlah sekresi nektar berkurang pada siang hari di karenakan tingginya proses penguapan oleh cahaya matahari (Pricival, 1969, dalam Sri Rahayu, 2006).
Suhu udara yang telah diukur berkisaran 27-290C, pada pagi hari udara lembab suhu rendah maka proses penguapan kecil. Kemungkinan besar akan ada uap air yang larut dalam nektar yang mengakibatkan bertambahnya volume nektar. Pada siang hari suhu udara yang diukur berkisaran 30- 330C sudah mulai meningkat, hal ini menyebabkan penguapan besar. Sehingga volume nektar akan berkurang. Faktor lingkungan seperti suhu dapat
mempengaruhi jumlah sekresi nektar yang terdapat pada bunga (Cobert, 2009, dalam Hariyatmi 2013).
Berat pollen tanaman kelapa yang didapatkan pada pukul 06-00-11.00 WIB lebih banyak dibandingkan berat pollen pada pukul 11.00-16.00 WIB (Tabel 2). Beratnya pollen tanaman kelapa pada pukul 06.00-11.00 WIB diduga produksi pollen terjadi pada pagi hari saat bunga mekar. Shuel (1992) melaporkan bahwa produksi pollen terbanyak pada pagi hari saat bunga dalam keadaan mekar.
Pada pagi hari pukul 06-00-11.00 WIB intesitas cahaya masih rendah. Rendahnya intesitas cahaya dapat menghasilkan embun atau uap air di atmosfer. Uap air tersebut berjatuhan dan menempel pada pollen yang memberi pengaruh terhadap berat pollen. Proses pengeuapan sangat berpengaruh terhadap uap air yang menempel pada pollen (Elgersma , 1989).
Berat polen yang didapatkan pada pukul 11.00-16.00 WIB ringan (tabel 2), pada siang hari intesitas cahaya sudah mulai meningkat. Uap air yang terdapat pada pollen bunga kelapa mengalami penguapan yang disebabkan oleh cahaya matahari, maka berat polen sudah mulai berkurang. Hal tersebut diduga karena produksi pollen berkurang pada siang hari. Produksi polen mulai berkurang pada siang hari, dikarenakan proses penguapan dan mekarnya bunga mulai berhenti (Shuel, 1992, dalam Wahiba, 2015).
Kelembaban pada pagi hari yang telah diukur berkisaran 60-66%, kelembaban tinggi yang menghasilkan uap air. Uap air tersebut menempel pada polen yang mengakibatkan polen dalam keadaan basah. Pada siang hari kelembaban berkisar 50-55% mulai menurun sehingga proses penguapan tinggi. Uap air yang terdapat pada polen sudah mulai mengering. Kelembaban merupakan faktor utama dalam mempengaruhi berat serbuk sari (Perven, 2007, dalam Siti, 2015).
Berat polen bunga putri malu yang didapatkan pada pukul 06-00-11.00 WIB lebih berat dibandingkan berat polen bunga putri malu pada pukul 11.00-16.00 WIB. Beratnya polen bunga putri malu pada pukul 06.00-11.00 WIB diduga produksi polen terjadi pada pagi hari saat bunga mekar. Produksi polen terbanyak pada pagi hari saat bunga dalam keadaan mekar (Shuel, 1992).
Pukul 06-00-11.00 WIB intesitas cahaya masih rendah. Rendahnya intesitas cahaya dapat menghasilkan embun atau uap air di atmosfer. Uap air tersebut berjatuhan dan menempel pada polen yang memberi pengaruh terhadap berat. Proses penguapan sangat berpengaruh terhadap uap air yang menempel pada pollen (Elgersma, 1989).
Intesitas cahaya pada pukul 11.00-16.00 WIB, sudah mulai meningkat. Uap air yang terdapat pada polen bunga putri malu mengalami penguapan yang disebabkan oleh cahaya matahari,
maka berat pollen sudah mulai berkurang. Produksi pollen mulai berkurang pada siang hari, dikarenakan proses penguapan dan mekarnya bunga mulai berhenti (Shuel, 1992, dalam Wahiba, 2015)
Kelembaban pada pagi hari yang telah diukur berkisaran 60-66%, kelembaban tinggi yang menghasilkan uap air. Uap air tersebut menempel pada pollen bunga putri malu yang mengakibatkan pollen dalam keadaan basah. Pada siang hari kelembaban berkisar 50-55% mulai menurun sehingga proses penguapan tinggi. Uap air yang terdapat pada pollen sudah mulai mengering.
Kelembaban merupakan faktor utama dalam mempengaruhi berat serbuk sari (Perven, 2007, dalam Siti, 2015).
KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai volume nektar dan berat pollen tumbuhan sumber pakan Apis cerana Fabr.
Patalangan Kabupaten Padang Pariaman dapat disimpukan sebagai berikut:
Rata-rata volume nektar bunga kelapa 0,00044 ml/bunga,. rata-rata berat polen bunga kelapa 0,00108 gram/bunga. dan rata-rata berat polen bunga putri malu 0,0056 gram/bunga. Unsur- unsur cuaca selama penelitian seperti suhu 27- 330C, kelembaban 50-66%, dan kecepatan angin 0,00-0,1 m/s.
DAFTAR PUSTAKA
Cobert, 2009 Bees, Beekeeping, Honey, and Pollination. America: The Saybrook Press, Inc., Old Saybrook, Connecticut
Devi. 2014. Analisis Kandungan Glukosa Nektar Bunga Sumber Pakan Dan Madu Yang Dihasilkan Lebah (Apis cerana Fabr.) Pada Dua Lokasi Yang Berbeda. Bandar Lampung.
Elgersma,A. 1989. Efects of Genotype and Temperature on pollen Tube Growth in Perennial Rygrass
Hariyatmi. 2013. Keanekaragaman Kupu-Kupu Diurnal di Komplek Gunung Bromo KPH Surakarta Kabupaten Karanganyar. Skripsi Biologi Muhammadiyah. Surakarta.
Percival M. 1969. Floral Biology. New York.
Pergamon Press.
Perveen, A. 2007. Pollen germination capacity, viability and Maintanence of Pisium sativum L papilionaceae). Middle-East Journal of Scientific Research 2: 79–81.
Sri, R. 2006. Perkembangan Bunga dan Uji Viabilitas Serbuk Sari Bunga Lipstik
Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ di Kebun Raya Bogor. Jurnal. Bogor.
Shuel R, 1992, The Production of Nektar and Pollen. In JM Graham, Editor The Hive and the Honey bee, Dadant and Sons, Hamilton, IIIionis. 401-425.
Tricahyadi. 2007. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Nektar Bunga.
http://Tricahyadi.wordpress.com/category/p erkebunan/Diakses 7 Juni 2016.
Siti, R. 2006. Perkembangan Bunga dan Uji Viabilitas Serbuk Sari Bunga Lipstik Aeschynanthus radicans var. ‘Monalisa’ di Kebun Raya Bogor. Jurnal. Bogor.
Wahiba,D.M. 2015. Sugar Composition In Nectar of Certain Plants. Indian Bee Journal. Vol.
43. No. 1. P. 6-8.