• Tidak ada hasil yang ditemukan

Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama

N/A
N/A
Ustad Zainul Hakim Official

Academic year: 2024

Membagikan "Wawasan Kebangsaan dan Moderasi Beragama"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1 Mampu menjelaskan konsep wawasan kebangsaan dan pentingnya membangun rasa cinta tanah air, berbangsa dan bernegara serta menganalisis urgensi posisi kemenag dalam penguatan moderasi beragama dan mampu menjelaskan jati diri guru sebagai agen dalam moderasi beragama.

1. Mampu menjelaskan konsep wawasan kebangsaan

2. Mampu Menjelaskan pentingnya membangun rasa cinta tanah air.

3. Mampu menjelaskan pentingnya berbangsa dan bernegara.

4. Mampu menganalisis urgensi posisi kemenag dalam moderasi beragama.

5. Mampu menjelaskan jati diri guru.

1. Konsep wawasan kebangsaan

2. Pentingnya membangun rasa cinta tanah air.

3. Pentingnya berbangsa dan bernegara.

4. Urgensi posisi kemenag dalam moderasi beragama.

5. Jati diri guru

KEGIATAN BELAJAR 3 WAWASAN KEBANGSAAN

MODERASI BERAGAMA

Capaian Pembelajaran (CP)

Tujuan Pembelajaran (TP)

Ruang Lingkup Materi

(2)

2 A. Pengantar

Di era globalisasi yang semakin kompleks ini, pemahaman akan wawasan kebangsaan menjadi sangat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia termasuk para guru. Wawasan kebangsaan mengacu pada kesadaran diri sebagai warga negara terhadap identitas, nilai-nilai, dan peran dalam suatu negara. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan keberagaman budaya dan agama. Salah satu prinsip utama yang dianut bangsa ini adalah Bhinneka Tunggal Ika atau berbeda-beda tetapi tetap satu. Dalam konteks keberagaman, moderasi beragama memiliki peran penting untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Moderasi beragama tercermin dalam prinsip kebangsaan yang menjunjung keberagaman, toleransi yang menghargai perbedaan keyakinan, penolakan terhadap segala bentuk kekerasan atas nama agama, serta penerimaan dan akomodasi terhadap kekayaan budaya dan tradisi yang ada dalam masyarakat. Sehingga dapat dikatan bahwa moderasi beragama merupakan pilar wawasan kebangsaan dan keaneka ragaman agama, ras, budaya, bangsa Indonesia.

Melalui pembelajaran ini, diharapkan dapat merangkai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi kehidupan berbangsa dengan bijak, berkelanjutan, dan berdasarkan nilai-nilai kebangsaan yang kuat sehingga para guru dapat mengetahui jati dirinya sebagai warga negara kesatuan Republik Indonesia dalam keberagaman, berkehidupan, berbagnsa dan bernegara.

Uraian Materi

(3)

3 B. Konsep Wawasan Kebangsaan

Istilah Wawasan Kebangsaan terdiri dari dua suku kata yaitu “Wawasan”

dan “Kebangsaan”. Wawasan berarti tinjauan, pandangan, dan dapat juga berarti konsepsi cara pandang. Kebangsaan berasal dari kata “bangsa” yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti kelompok masyarakat yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa, dan sejarahnya, serta berpemerintahan sendiri. Kebangsaan mengandung arti ciri-ciri yang menandai golongan bangsa, perihal bangsa, kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara. Dengan demikian wawasan kebangsaan dapat diartikan sebagai konsepsi cara pandang yang dilandasi akan kesadaran diri sebagai warga dari suatu negara yang mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.1

Wawasan kebangsaan merupakan konsep yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah, yang meliputi tanah (darat), air (laut) dan udara secara tidak terpisahkan, yang mempersatukan bangsa dan negara secara menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek ekonomi, politik, sosial budaya, dan pertahanan keamanan. Wawasan kebangsaan Indonesia menolak segala diskriminasi suku, ras, asal-usul, keturunan, warna kulit, kedaerahan, golongan, agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedudukan maupun status sosial. Konsep kebangsaan Indonesia bertujuan membangun dan mengembangkan persatuan dan kesatuan.2

Wawasan kebangsaan merupakan jiwa dan ruh atau semangat dari kehidupan berbangsa dari suatu negara, jiwa dan semangat dari kehidupan berbangsa ini akan sangat berpengaruh pada eksistensi negaranya. Negara dengan jiwa dan semangat kebangsaan yang berkobar maka akan bisa mempertahankan eksistensi negera tersebut dan akan diakui oleh negara lain.

1KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kamus versi online/daring (Dalam Jaringan). di akses pada 23 September. 2023. https://kbbi.web.id/didik

2Inspektorat jenderal kemenkeu https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/pedulikah-asn-dengan- wawasan-kebangsaan-1555c2ea/detail/

(4)

4 Sebaliknya apabila negara tersebut tidak memiliki jiwa dan semangat yang tinggi, maka pada hakikatnya eksistensi dari bangsa dan negara yang bersangkutan telah tidak ada lagi. Meskipun dalam bentuk fisik bangsa dan negara tersebut masih berdiri.

Wawasan kebangsaan Indonesia muncul sebagai respons terhadap dominasi kolonialisme Belanda dalam politik, eksploitasi ekonomi, dan penetrasi budaya (sesuai dengan pidato Roeslan Abdulgani di depan sidang konstituante pada tanggal 3 Desember 1957). Wawasan kebangsaan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan cara pandangan bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan kepulauan Nusantara sebagai kesatuan politik, sosial budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan, dengan berlandaskan pada falsafah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Adapun wawasan kebangsaan menurut Perspektif agama, yaitu: Pertama, terdapat konsep "Ukhuwah Islamiyah Wathoniyah Basyariyah," yang berarti persaudaraan antara warga negara atau sesama bangsa. Kedua, terdapat konsep

"Hubbul Wathon Minal Iman," yang berarti cinta terhadap tanah air adalah bagian dari iman. Ketiga, sesuai dengan Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 13:

َعَج َو ىٰثْنُا َّو ٍرَكَذ ْنِ م ْمُكٰنْقَلَخ اَّنِا ُساَّنلا اَهُّيَآٰٰي َ هاللّٰ َّنِاۗ ْمُكىٰقْتَا ِ هاللّٰ َدْنِع ْمُكَم َرْكَا َّنِا ۚ ا ْوُف َراَعَتِل َلِٕىۤاَبَق َّو اًب ْوُعُش ْمُكٰنْل

ٌرْيِبَخ ٌمْيِلَع

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki- laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal, sesungguhnya orang yang paling mulia disisi kamu yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha mengenal".

Berdasarkan paparan di atas di pahami bahwa betapa pentingnya memiliki pemahaman yang komprehensif tentang wawasan kebangsaan.

Sebagaimana peraturan/kebijakan yang ada berkenaan dengan hal tersebut, antaralain:

(5)

5 1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2Penetapan Presiden RI Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama

2. Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor:

01/BER/mdn-mag/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan Dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama Oleh Pemeluknya

3. Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 1 Tahun 1979 tentang Tatacara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan

4. Keputusan Menteri Agama Nomor 35 Tahun 1980 tentang Wadah Musyawarah Umat BeragamaInstruksi Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1978 tentang Kebijaksanaan Mengenai Aliran-Aliran Kepercayaan

5. Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 9 Tahun 2006/8 Tahun 2006 yang melahirkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)

Menurut Permendagri Nomor 71 Tahun 2012 tentang pedoman pendidikan wawasan kebangsaan, ada empat konsensus dasar berbangsa dan bernegara yaitu: 1) NKRI; 2) Bhinneka Tunggal Ika; 3) Undang-Undang Dasar 1945; dan 4) Pancasila.

C. Pentingnya membangun rasa cinta tanah air

Nasionalisme merupakan konsep modern yang muncul pada abad ke-17 bersamaan dengan lahirnya konsep negara bangsa. Di Eropa, nasionalisme muncul sebagai salah satu perwujudan perlawanan terhadap feodalisme (kekuasaan absolut yang dimiliki oleh pemuka agama dan bangsawan).

Seiring munculnya negara bangsa, timbullah berbagai pemikiran tentang nasionalisme sebagai basis filosofis terbentuknya negara bangsa tersebut.

Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan memiliki wilayah yang sangat luas, dengan jumlah penduduk yang sangat besar dengan berbagai macam ras, suku, budaya, dan agama yang menjadikan sebuah ciri khas

(6)

6 tersendiri dari perbedaan itu. Dengan banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut, diperlukannya nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan berbangsa di negara Indonesia. Nilai-nilai nasionalisme dalam konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) salah satunya adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika.

Pancasila merupakan ideologi dan dasar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) . Kedudukan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia, tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang harus dilakukan secara berkesinambungan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, Pancasila sebagai ideologi bangsa adalah sebagai keseluruhan pandangan, cita-cita, keyakinan, dan nilai-nilai bangsa Indonesia yang harus diimplementasikan di kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebagai ideologi terbuka, Pancasila mengandung tiga nilai, yaitu nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis.

Mencintai tanah air merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. Rasulullah mencintai Makkah dan Madinah karena dua tempat mulia tersebut merupakan tanah air beliau. Mencintai tanah air adalah bagian dari iman karena tanah air merupakan sarana primer untuk melaksanakan perintah agama. Tanpa tanah air, seseorang akan menjadi tunawisma. Tanpa tanah air, agama seseorang kurang sempurna, dan tanpa tanah air, seseorang akan menjadi terhina. Syekh Muhammad Ali dalam kitab Dalilul Falihin hal. 37 mengatakan:

ِنَامْيِلإا َنِم ِنَط َولا ُّبُح

“Cinta tanah air bagian dari iman.”

Terkait anjuran untuk mencintai tanah air, Nabi memberikan sebuah contoh teladan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 hal. 23:

ْنَع ، ٍرَفْعَج ُنْب ُليِعاَمْسِإ اَنَثَّدَح ،ُةَبْيَتُق اَنَثَّدَح اَذِإ َناَك ،َمَّلَس َو ِهْيَلَع ُالله ىَّلَص َّيِبَّنلا َّنَأ« ،ُهْنَع ُ َّاللّٰ َي ِض َر ٍسَنَأ ْنَع ،ٍدْيَمُح

ُح ْنِم اَهَك َّرَح ٍةَّباَد ىَلَع َناَك ْنِإ َو ُهَتَل ِحا َر َعَض ْوَأ ،ِةَنيِدَملا ِتا َرُدُج ىَلِإ َرَظَنَف ، ٍرَفَس ْنِم َمِدَق

اَهِ ب »

"Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah.

(7)

7 Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. " (HR. Bukhari).

Al-Hafidh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari juz 3, hal.705 menjelaskan bahwa hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan dianjurkannya mencintai tanah air serta merindukannya”. Dalam konteks Indonesia, menjaga kemerdekaan RI, menjaga Pancasila, menjaga Bhineka Tunggal Ika, menjaga NKRI, dan menjaga Undang-Undang Dasar 1945 adalah bagian dari iman dan agama.

Syekh Muhammad Amin As-Syinqithi mengatakan bahwa Al-Qur’an telah memposisikan umat Islam pada posisi yang merdeka, mulia, terhormat, maju, dan mandiri. Ketika umat Islam dalam posisi terbelakang, miskin, atau dalam kondisi yang mundur, lebih disebabkan oleh kecerobohan umat Islam sendiri, yaitu meninggalkan kewajiban dalam mengelola kehidupan duniawi.

Imam An-Nawawi menyatakan dalam pendahuluan kitab al-Majmu’: wajib bagi umat Islam untuk bekerja, mandiri, dan produktif dalam segala kebutuhan, walaupun hanya memproduksi sebuah jarum maupun garam. Umat Islam tidak boleh tergantung pada umat lain. Sebab tolok ukur kekuatan umat Islam tergantung terhadap kemandiriannya dalam mencukupi kebutuhan. Untuk mengisi kemerdekaan dan mewujudkan negara Indonesia yang merdeka, maju dan berdaulat, setiap warga memperjuangkan bangsa sesuai profesi masing- masing. Jika menjadi pejabat, jadilah pejabat yang baik, amanah, jujur, dan tidak korupsi. Jika menjadi pendidik, jadilah pendidik yang baik, produktif dalam karya ilmiah, jujur, dan mengabdi di masyarakat. Jika menjadi pelajar, jadilah pelajar yang rajin menuntut ilmu di bidang masing-masing, karena ilmumu kelak dibutuhkan oleh bangsa dan umat. Secara umum, jadilah warga Negara yang selalu berusaha berbuat baik dalam segala kondisi, tempat, dan berperilaku baik dengan akhlak yang mulia. Berusaha untuk berbudi pekerti luhur, menjaga moral, dan membangun kecintaan terhadap tanah air dengan jalan yang baik.

(8)

8 Hubbul wathan minal îmân mencintai tanah air Indonesia sangat penting bagi seluruh warga negara RI karena hanya dengan kondisi bangsa dan negara yang aman dan stabil, masyarakat bangsa ini bisa beribadah dengan nyaman, beramal dengan baik, dan dapat beristirahat dengan nyenyak. Bayangkan saudara kita yang dilanda peperangan, seperti di negara lain, mereka tidak pernah nyaman dan enak seperti yang kita alami. Atsar Khalifah Umar bin Khatab sebagaimana dikutip Syekh Ismail Haki dalam kitab Tafsir Ruhul Bayan juz 6 hal. 442 menyatakan:

ُناَدْلُبلْا ِت َرِمُع ِناَﻃ ْوَ ْلَا ِبُﺤِبَف ﺀ ْوُّﺴلا ُدَلَب َﺏُرَﺨَل ِنَﻃ َوْلا ُّبُح َلَ ْوَل

Sayyidina Umar berkata: “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan berjaya.”

Dengan kecintaan terhadap tanah air, setiap orang memiliki keinginan untuk menjadikan tanah airnya maju, aman, dan damai. Dengan cinta tanah air, seseorang tidak menginginkan bangsanya hancur, terpecah belah, penuh konflik, dan saling bermusuhan.3

Sebagai umat beragama, ajaran agama telah memberikan modal yang luar biasa dalam mencintai tanah air. Kesetiaan pada tanah air tentu bukan hanya slogan semata atau sekedar ungkapan di bibir saja, namun kecintaan kepada tanah air telah terwujud dalam bentuk perjuangan dan pengorbanan yang tulus dan ikhlas. Oleh karena itu sebagai warga Negara Republik Indonesia sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mencintai tanah air Negara Republik Indonesia. Ekspresi cinta pada tanah air pada era saat ini adalah dengan menghormati dan mematuhi ketentuan hukum dan peraturan-peraturannya, memelihara fasilitas umum, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, bekerja untuk kemajuan bangsa dalam menyongsong masa depan Indonesia maju.

Implementasi cinta tanah air tersebut dimulai dari diri setiap masyarakat Indonesia. Seiring dengan perkembangan suasana kebangsaan baik secara nasional, regional, dan global, kita semua sebagai masyarakat beragama

3Yudi Yansyah https://jabar.kemenag.go.id/portal/read/mimbar-dakwah-sesi-34- mencintai-tanah-air-bagian-dari-iman-

(9)

9 berkewajiban untuk turut mencegah timbulnya ancaman infiltrasi kelompok transnasional dengan paham-paham keagamaan yang cenederung radikal seperti mengganggu orang lain dalam pelaksaan agama, Bersaing antaragama, Penyegelan rumah ibadah di luar hukum, saling mengganggu dalam beragama.4

Cinta tanah air merupakan landasan pokok dalam menjalankan kehidupan beragama. Dengan demikian kita akan dapat berpartisipasi secara aktif mengisi dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kecintaan kepada tanah air Indonesia akan menjadi motivasi dalam mempertahankan identitas kebangsaan kita sebagai warga negara RI yang taat dan patuh akan peraturan-peraturan negara.

D. Pentingnya Berbangsa dan Bernegara

Pancasila sebagai dasar negara menjadi panduan dalam menjunjung moderasi beragama. Sila pertama, "Ketuhanan yang Maha Esa", mencerminkan komitmen kebangsaan untuk menghargai keberagaman agama dan kepercayaan. Masyarakat perlu membangun sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain, sehingga tidak ada pihak yang merasa dianaktirikan atau dikesampingkan. Komitmen kebangsaan dalam konteks moderasi beragama mencakup upaya untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi berbagai agama dan kepercayaan untuk berkembang dan berdampingan secara damai. Pendidikan kebangsaan yang inklusif, misalnya, menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan nilai-nilai moderasi beragama sejak dini. Contoh kongkret moderasi beragama dalam indikator komitmen kebangsaan bisa dilihat dalam perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti Natal, Idul Fitri, Waisak, dan Nyepi. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengorganisir dan melibatkan diri dalam kegiatan lintas agama untuk menunjukkan rasa persatuan dan solidaritas. Hal ini menciptakan suasana kebersamaan dan menggugah rasa kebanggaan sebagai bangsa yang memiliki keberagaman. Selain itu, upaya pembangunan rumah ibadah yang representatif

4 Allisa Wahid dkk, Modul Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama RI, versi 4, Kelompok Kerja Moderasi Beragama Kementerian Agama Jakarta Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI 2021. 131

(10)

10 dan adil bagi semua agama menunjukkan komitmen kebangsaan dalam moderasi beragama. Setiap agama diberi kesempatan yang sama untuk membangun tempat ibadah sesuai dengan kebutuhan umatnya. Pemerintah juga berperan aktif dalam mengawasi dan memastikan bahwa pembangunan rumah ibadah tidak menimbulkan konflik antar umat beragama.

Komitmen kebangsaan dalam moderasi beragama juga tercermin dalam perlindungan terhadap kelompok minoritas dan kepercayaan yang kurang dikenal. Pemerintah dan masyarakat diharapkan memberikan ruang yang cukup bagi kelompok-kelompok ini untuk menjalankan keyakinan dan kepercayaan mereka tanpa diskriminasi. Pendidikan dan sosialisasi mengenai keberagaman agama dan kepercayaan menjadi penting untuk menghindari kesalahpahaman dan konflik. Dan tidak kalah penting, bahwa terdapat peran media massa dan teknologi informasi juga sangat penting dalam mempromosikan moderasi beragama sebagai bentuk komitmen kebangsaan.

Media massa dan platform digital seharusnya digunakan untuk menyebarkan pesan toleransi dan kerukunan, serta memberikan informasi yang akurat dan seimbang tentang keberagaman agama dan kepercayaan. Dengan demikian, masyarakat akan lebih teredukasi dan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

Adapun bentuk-bentuk wawasan kebangsaan yang perlu ditanamkan sebagai warga negara adalah:

1. Toleransi

Toleransi merupakan kunci dalam menjaga kerukunan antar umat beragama. Toleransi bukan hanya sekadar sikap saling menghormati, tetapi juga saling membantu dan bekerja sama untuk menciptakan suasana damai dan harmonis. Tidak ada agama yang mengajarkan kebencian dan kekerasan, sehingga penting bagi setiap individu untuk mengekang diri dari prasangka dan kebencian. Toleransi dalam konteks moderasi beragama mencakup kemampuan untuk menghargai perbedaan keyakinan dan agama orang lain, serta memberi mereka kebebasan untuk mengekspresikan keyakinan mereka tanpa rasa takut atau tekanan. Ini menciptakan

(11)

11 lingkungan yang kondusif bagi masing-masing individu untuk tumbuh dan berkembang sebagai pribadi yang unik dan berharga, sekaligus memperkaya kehidupan bersama dalam masyarakat yang beragam. Sebagai contoh moderasi beragama dalam indikator toleransi, kita bisa melihat bagaimana masyarakat Indonesia menjalani kehidupan sehari-hari dengan saling menghargai dan menghormati perayaan agama yang berbeda. Ketika umat Islam merayakan Idul Fitri, umat Kristen, Hindu, Buddha, dan lainnya turut berpartisipasi dalam kebahagiaan dan kebersamaan, seperti mengunjungi rumah tetangga yang merayakan, saling mengucapkan selamat, atau bahkan membantu persiapan. Hal serupa juga terjadi ketika umat agama lain merayakan hari besar mereka. Selain itu, toleransi juga tercermin dalam bagaimana masyarakat bersikap terhadap keberagaman tradisi dan cara beribadah yang ada di Indonesia. Misalnya, masyarakat yang tinggal di sekitar tempat ibadah yang berbeda, seperti masjid, gereja, pura, atau vihara, saling menghormati dengan menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan suara, dan tidak mengganggu aktivitas ibadah yang sedang berlangsung. Hal ini menciptakan suasana yang kondusif untuk kegiatan keagamaan dan menguatkan ikatan persaudaraan antar umat beragama.Contoh lain dari toleransi dalam moderasi beragama adalah saling menghargai hak individu untuk memilih keyakinan dan cara hidup yang mereka anut. Tidak jarang kita melihat pernikahan antar agama yang diadakan dengan penuh kerukunan dan rasa saling menghormati. Baik keluarga maupun masyarakat sekitar mendukung dan menghargai keputusan kedua mempelai untuk bersatu dalam pernikahan dengan tetap menjaga keyakinan dan agama masing-masing. Ini merupakan wujud nyata dari toleransi yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bukti bahwa moderasi beragama dapat terwujud dalam kehidupan nyata.

2. Anti Kekerasan

Moderasi beragama mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Kita harus memahami bahwa agama adalah sarana untuk mencapai kedamaian dan kasih sayang, bukan

(12)

12 alasan untuk melakukan kekerasan atau diskriminasi. Pemerintah dan masyarakat perlu bersama-sama melawan radikalisme dan intoleransi yang meresahkan kehidupan bermasyarakat. Dalam upaya menghindari kekerasan atas nama agama, moderasi beragama mengedepankan dialog dan komunikasi yang efektif antara berbagai kelompok masyarakat. Melalui interaksi yang sehat dan konstruktif, kita dapat menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang keberagaman agama dan keyakinan, serta mengatasi kesalahpahaman yang sering kali menjadi akar permasalahan. Dialog antar umat beragama juga menjadi sarana untuk menemukan solusi terhadap konflik yang mungkin timbul karena perbedaan agama. Salah satu contoh penerapan moderasi beragama dalam indikator anti kekerasan adalah kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat dalam mengatasi potensi konflik antar umat beragama. Melalui pendekatan preventif dan persuasif, pihak-pihak terkait dapat menangani isu-isu sensitif dengan bijaksana dan mengedepankan kepentingan bersama. Hal ini membantu mencegah tindakan kekerasan yang mungkin terjadi akibat ketegangan antar umat beragama. Pendidikan juga menjadi instrumen penting dalam penerapan moderasi beragama yang anti kekerasan.

Pendidikan yang inklusif dan mengajarkan nilai-nilai toleransi serta keberagaman sejak dini dapat membentuk karakter individu yang cinta damai dan menghargai perbedaan. Selain itu, melalui kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan siswa dari berbagai latar belakang agama, mereka dapat belajar untuk mengatasi perbedaan dan bekerja sama dalam suasana yang harmonis.

Media massa dan teknologi informasi juga memiliki peran penting dalam penerapan moderasi beragama yang anti kekerasan. Media massa perlu menyajikan informasi yang akurat dan seimbang tentang isu-isu keagamaan, serta menghindari pemberitaan yang cenderung memprovokasi dan memicu konflik. Di sisi lain, penggunaan media sosial dan platform digital harus digunakan dengan bijaksana dan bertanggung jawab, serta

(13)

13 menghindari penyebaran ujaran kebencian dan diskriminasi yang dapat memicu kekerasan.

Terkait ini, pemerintah sebagai aktor utama harus mengambil langkah tegas terhadap kelompok atau individu yang menggunakan agama sebagai alasan untuk melakukan kekerasan. Penegakan hukum yang tegas dan adil menjadi instrumen penting untuk menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat. Dengan mengedepankan moderasi beragama yang anti kekerasan, kita dapat menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis bagi seluruh masyarakat untuk hidup bersama dalam keberagaman yang kita miliki.

3. Akomodasi dan Penerimaan Terhadap Tradisi dan Budaya

Keberagaman budaya dan tradisi merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan. Moderasi beragama juga mencakup sikap akomodatif dan penerimaan terhadap perbedaan tradisi dan budaya.

Sebagai bangsa yang besar, kita harus bersikap terbuka dan menerima perbedaan, bukan justru menciptakan sekat dan perpecahan. Dengan demikian, keharmonisan dan persatuan bangsa akan terus terjaga.

Penerimaan terhadap tradisi dan budaya dalam konteks moderasi beragama mencakup penghormatan dan pengakuan terhadap keberagaman cara beribadah, adat istiadat, dan tradisi yang ada di masyarakat. Setiap agama memiliki keunikan tersendiri dalam melaksanakan praktik keagamaan, yang sering kali terkait dengan tradisi dan budaya lokal.

Menghargai keberagaman ini menjadi wujud nyata dari penerapan moderasi beragama yang inklusif dan toleran.

Penerapan moderasi beragama dalam penerimaan terhadap tradisi dan budaya bisa dilihat dalam praktik keagamaan yang diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia. Misalnya, perayaan Waisak di Borobudur yang melibatkan ritual keagamaan Buddha dan kebudayaan Jawa, atau perayaan Nyepi di Bali yang mencerminkan sinkretisme antara ajaran Hindu dengan adat istiadat Bali. Praktik-praktik ini menunjukkan

(14)

14 bagaimana keberagaman tradisi dan budaya diterima dan diakomodasi dalam konteks keagamaan.

Selain itu, penerimaan terhadap tradisi dan budaya juga mencakup kegiatan sosial dan budaya yang melibatkan masyarakat lintas agama.

Misalnya, perayaan Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, yang melibatkan umat Konghucu, Islam, Kristen, Hindu, dan Buddha dalam suatu perayaan budaya yang meriah. Kegiatan seperti ini menciptakan suasana kebersamaan dan saling pengertian antara umat beragama, sekaligus melestarikan kebudayaan lokal.

Pendidikan dan sosialisasi mengenai keberagaman tradisi dan budaya menjadi penting dalam penerapan moderasi beragama yang akomodatif.

Melalui pendidikan, masyarakat diajarkan untuk menghargai dan memahami perbedaan yang ada dalam praktik keagamaan dan kebudayaan, serta mengakui hak setiap individu untuk menjalankan keyakinan dan praktik budaya mereka. Hal ini akan mendorong sikap saling menghormati dan menghargai antar umat beragama.

Keterlibatan pemerintah, tokoh agama dan guru-guru dalam mempromosikan penerimaan terhadap tradisi dan budaya juga sangat penting. Mereka dapat berperan sebagai mediator dan fasilitator dalam dialog antar umat beragama dan antarbudaya, serta membantu menciptakan kesepakatan bersama tentang bagaimana mengakomodasi dan menjaga keberagaman tradisi dan budaya dalam kehidupan bermasyarakat.5

Selain hal tersebut, nilai-nilai yang terkandung dalam wawasan kebangsaan berfokus pada kepentingan nasional, persatuan, kesatuan, dan keberagaman. Memahami dan menerapkan nilai-nilai, wawasan kebangsaan dapat menjadi landasan yang kuat untuk membangun persatuan, memperkuat identitas nasional, dan menghadapi berbagai tantangan global dengan bijak dan berkelanjutan. Beberapa nilai yang sering terkait dengan wawasan kebangsaan antara lain:

5 Muhammad Fauzinudin Faizhttps://kemenag.go.id/kolom/moderasi-beragama-pilar-kebangsaan-dan- keberagaman-MVUb9

(15)

15 a. Patriotisme: Cinta dan kesetiaan terhadap tanah air, serta semangat untuk

berkontribusi dalam membangun dan memajukan negara.

b. Nasionalisme: Kesadaran akan identitas nasional dan kepentingan bersama sebagai bangsa, serta semangat untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas negara.

c. Bhinneka Tunggal Ika: Menghargai dan mempromosikan keberagaman budaya, agama, suku, dan bahasa sebagai kekayaan bangsa, serta membangun kerukunan antarwarga negara.

d. Keadilan dan kesetaraan: Mengupayakan keadilan sosial, kesetaraan hak dan kesempatan bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.

e. Demokrasi: Menghormati prinsip-prinsip demokrasi, partisipasi aktif dalam kehidupan politik, serta penghargaan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan berpendapat.

f. Tanggung jawab sosial: Memiliki kesadaran akan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan, serta berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan.

g. Kemandirian: Mengembangkan kemampuan dan potensi bangsa secara mandiri, baik dalam bidang ekonomi, teknologi, maupun keamanan.

Hal penting bagi Indonesia untuk memperkuat persatuan dan kesatuan nasional, serta mempromosikan dialog dan rekonsiliasi antar kelompok yang berbeda. Dengan membangun masyarakat yang inklusif dan menghormati keberagaman, Indonesia dapat mengurangi risiko konflik internal yang dapat dipicu oleh konflik internasional. Jadi konflik internasional memiliki implikasi yang signifikan terhadap stabilitas politik dan keamanan nasional Indonesia.

Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu memperkuat diplomasi, meningkatkan kapasitas pertahanan dan keamanan nasional, serta membangun masyarakat yang inklusif dan menghormati keberagaman. Dengan langkah- langkah yang tepat, Indonesia dapat menjaga stabilitas politik dan keamanan nasionalnya dalam menghadapi konflik internasional.

(16)

16 E. Urgensi Posisi Kemenag dalam Penguatan Moderasi Beragama

Berdasarkan perundang-undangan, agama menjadi kewenangan pemerintah pusat di mana institusi yang mengurus agama adalah Kemenag. Di tengah banyaknya peristiwa intoleransi dan ekstremisme kekerasan berbasis sentimen agama, Kemenag menjadi tumpuan banyak pihak. Di banyak kasus intoleransi dan kekerasan agama, ada kecenderungan aparatur negara yang semestinya bertindak berdasarkan norma-norma konstitusi justru tunduk pada tuntutan kelompok intoleran. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak mengabaikan fakta-fakta yang dihadapi.

Munculnya tantangan Moderasi Beragama dan keberhasilan usaha- usaha mengatasinya sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan tindakan pemerintah, termasuk guru. Namun dalam praktiknya, masih dijumpai guru yang belum bertindak tepat sebagai representasi negara dalam urusan keagamaan di Indonesia. Tidak sedikit dari guru yang bersikap dan mengambil kebijakan atas masalah-masalah sosial keagamaan berdasarkan pada pandangan pribadi atau kelompok keagamaan yang dianut. Padahal posisi dan sikap sebagai “representasi negara” menuntut guru bersikap dan bertindak adil dalam pelayanan keagamaan sebagaimana prinsip dan mandat dari Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945.

Materi ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali suatu kesadaran bahwa Kementerian Agama sebagai bagian dari negara Indonesia yang berasaskan Pancasila dan UUD 1945 memiliki mandat untuk melindungi dan melayani agama-agama di Indonesia tanpa diskriminasi.

Kesadaran ini tentu saja mensyaratkan kesadaran dan pemahaman yang utuh tentang kedudukan Kementerian Agama RI, baik dalam perspektif sejarah maupun dalam tata pemerintahan Indonesia hari ini.

Maksud dan tujuan membentuk Kementerian Agama, selain untuk memenuhi tuntutan sebagian besar rakyat beragama di tanah air, yang merasa urusan keagamaan di zaman penjajahan dahulu tidak mendapat layanan yang semestinya, juga agar soal-soal yang bertalian dengan urusan keagamaan diurus serta diselenggarakan oleh suatu instansi atau

(17)

17 kementerian khusus, sehingga pertanggungan jawab, beleid, dan taktis berada di tangan seorang menteri.

Pembentukan Kementerian Agama, sebagaimana diungkapkan R.

Moh. Kafrawi (mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama), dihasilkan dari suatu kompromi antara teori sekuler dan Kristen tentang pemisahan gereja dengan negara, dan teori muslim tentang penyatuan antara keduanya.

Jadi Kementerian Agama itu timbul dari formula Indonesia asli yang mengandung kompromi antara dua konsep yang berhadapan muka: sistem Islami dan sistem sekuler."6

Pentingnya moderasi beragama bagi Indonesia menurut kemenag adalah pertama, negara yang bermasyarakat religius dan majemuk.

Meskipun bukan negara agama, masyarakat lekat dengan kehidupan beragama dan kemerdekaan beragama dijamin oleh konstitusi. Menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan menjadi tantangan bagi setiap warga negara. Kedua, Moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa. Di Indonesia, beragama pada hakikatnya adalah ber-Indonesia dan ber-Indonesia itu pada hakikatnya adalah beragama. Ketiga, Moderasi Beragama menjadi sarana mewujudkan kemaslahatan kehidupan beragama dan berbangsa yang harmonis, damai dan toleran sehingga Indonesia maju.7

Tantangan dalam moderasi beragama dan wawasan kebangsaan meliputi beberapa hal, Pertama, praktik beragama yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Kedua, munculnya tafsir agama yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara pengetahuan. Ketiga, terlihat adanya cara beragama yang merusak ikatan kebangsaan dengan tekanan yang mendorong pada pilihan sikap untuk mempolitisasi agama dan sikap majoritarianisme.

6Allisa Wahid dkk, Modul Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama RI, versi 4

7Kementerian Agama RI, bahan sesi konsep beragama kemenag dalam kegiatan penguatan moderasi beragama tahun 2020-2924.

(18)

18 F. Jati Diri Guru

Penguatan Moderasi Beragama hanya berhasil manakala para aktor penggerak, seperti guru-guru, meyakini dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam perilaku dan tindakan kesehariannya. Nilai-nilai itu bersumber dari citra diri guru yang bersumber dan didasarkan pada Konstitusi dan UUD 1945 dan diturunkan dalam visi-misi serta tugas dan fungsi Kemenag RI. Citra diri ini harus mencerminkan nilai-nilai yang menegaskan bahwa guru-guru adalah aparatur negara yang bersikap adil, imparsial, dan profesional dalam mengemban mandat perlindungan dan pelayanan bagi umat beragama di Indonesia. untuk mencapai tujuan tersebut maka guru-guru perlu memahami fungsinya sebagai warga negara RI yakni sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik dan sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Guru juga berperan sebagai perencana, pelaksana, dan pengawas penyelenggaraan tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Olehnya itu para guru perlu memiliki kapasitas sebagai berikut :

1. Wawasan Keagamaan

• Memahami nilai universal ajaran agama

• Memahami argumentasi teologis Moderasi Beragama

• Memahami indikator Moderasi Beragama

• Bersedia menghormati keyakinan umat agama lain 2. Wawasan Kebangsaan

• Memiliki komitmen terhadap NKRI

• Memiliki wawasan kebangsaan yang luas

• Memahami regulasi (konsep dan aplikasi)

• Mendukung dan implementasikan regulasi yang adil dan non- diskriminasi

• Memiliki kesadaran menjadi ASN Kemenag adalah wujud keimanan

(19)

19

• Memiliki kesadaran menerima kesetaraan warga negara adalah bagian dari ajaran agama

3. Kecakapan

Citra diri ASN termasuk guru-guru (konsep diri sebagai aparatur negara untuk urusan agama), Kepemimpinan, Keterampilan membangun jejaring, kemampuan membentuk pemahaman, resolusi konflik, berpikir kritis, analisis sosial, literasi digital.

4. Sikap Diri

Sikap diri ASN termasuk Guru-guru perlu memiliki nilai-nilai Kemenag, inklusif, demokratis, egaliter dan moderat, humanis, non diskriminatif, berani, anti kekerasan

5. Paham Konteks Persoalan kehidupan Keagamaan

• Memahami konteks yang membenturkan agama dan negara

• Memahami konteks benturan paham dan praktik keagamaan dalam ruang intra (internal) agama

• Memahami REEVE (Religious, Exclusivism, Extremism, Violent Extremism)8

8Allisa Wahid dkk, Modul Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama RI .133

(20)

20 Faizah, R. Penguatan Wawasan Kebangsaan Dan Moderasi Islam Untuk Generasi

Millenial. Jurnal Progress: Wahana Kreativitas Dan Intelektualitas, 2020.

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kamus versi online/daring (Dalam Jaringan). di akses pada 23 September. 2023. https://kbbi.web.id/didik.

Lukman Hakim Syaifuddin, Moderasi Beragama, Badan Litbang Dan Diklat, , Kementerian Agama RI, Jakarta, 2019.

Muhammad Fauzinudin Faizhttps://kemenag.go.id/kolom/moderasi-beragama- pilar-kebangsaan-dan-keberagaman-MVUb9

Wahid, Allisa dkk, Modul Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama Bagi Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama RI, versi 4, Kelompok Kerja Moderasi Beragama Kementerian Agama Jakarta Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI 2021

Yudi Yansyah https://jabar.kemenag.go.id/portal/read/mimbar-dakwah-sesi-34- mencintai-tanah-air-bagian-dari-iman-

Zulfikri Suleman, Demokrasi Untuk Indonesia Pemikiran Politik Bung Hatta, Jakarta:

PT.Kompas Media Nusantara, 2010.

Inspektorat jenderal kemenkeu

https://klc2.kemenkeu.go.id/kms/knowledge/pedulikah-asn-dengan- wawasan-kebangsaan-

Referensi

Referensi

Dokumen terkait

Dari empat indikator moderasi beragama (komitmen kebangsaan, toleransi, nirkekerasan, dan kearifan terhadap budaya lokal), ternyata kebanyakan peserta hanya memahami gagasan

Adapun agar tumbuhnya perilaku yang dapat menciptakan sebuah kearifan serta kreativitas dalam keragaman masyarakat, moderasi beragama melalui pendidikan menjadi salah

tindakan radikalisme, ekstremisme, kekerasan, dan perilaku buruk lainnya bisa diatasi dengan mudah sejak dini.16 Urgensi mengenai penanaman prinsip atau nilai moderasi beragama penting

Moderasi Beragama - PART 5 - Sembilan Kata Kunci Moderasi

Dokumen tersebut berisi tentang materi kelas lima wawasan kebangsaan untuk jenjang sekolah

Sehingga saya menyambut baik atas terbitnya buku dosen IAIN Parepare dengan judul Mainstreaming Moderasi Beragama Berbais Teks yang mampu memberi sumbangan buat dunia akademik dan

Makalah ini membahas tentang dinamika sejarah dan urgensi wawasan kebangsaan dalam konteks

Makalah ini membahas dinamika sejarah dan urgensi wawasan kebangsaan di