air limbah pelapisan Logam

Top PDF air limbah pelapisan Logam:

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Hampir seluruh bagian tanaman bermanfaat. Kayunya untuk bangunan rumah, peti mati dan kayu bakar. Daun mudanya untuk obat luka, rebusan dari babakannya dapat menurunkan kadar glukosa darah. Dinding polong yang di tumbuk dimanfaatkan untuk mencuci rambut. Bijinya dapat dikonsumsi namun pada orang yang memakannya air seninya akan berbau keras. Selain itu, di beberapa tempat di buat makanan ringan seperti keripik. Bagian yang dimanfaatkan untuk pewarna: Daunnya digunakan untuk memberikan warna hitam pengganti sumba. Bagian yang mengandung zat warna adalah kulit buah, kulit biji dan kulit batang. Menurut laporan, zaman dahulu di sepanjang pantai Kalimantan Barat kulit dan daun jengkol digunakan untuk member warna hitam pada bahan anyaman [17]. Sementara kulit jengkol baru dimanfaatkan sebagai bioherbisida dan biolarvasida. Padahal dalam kulit jengkol terkandung alkaloid, flavonoid, glikosida antrakinon, tannin, triterpenoid/steroid, dan saponin dan senyawa unsur kimia seperti N, P, K, Ca, Mg, C, dan C/N.
Baca lebih lanjut

77 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Setiap hari, industri, pertanian dan populasi secara umum menggunakan air dan melepas banyak senyawa dalam limbah cairnya. Banyak artikel yang telah menulis tentang adanya senyawa polutan pada limbah cair dan lingkungan perairan. Pengolahan limbah cair sangat penting untuk mengurangi senyawa yang beracun tetapi efisiensinya tidak begitu jelas [21]. Limbah industri yang mengandung logam berat dalam konsentrasi yang tinggi dapat membahayakan kesehatan dan kerusakan lingkungan. Sasaran pengendalian limbah yang mengandung ion logam berat adalah menurunkan kadarnya sampai batas tidak membahayakan kesehatan lingkungan [5].
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

[20] Sitinaimah, Rahyani Ermawati, “Efektifitas Fotokatalis Tio Yang Dikompositkan Dengan Karbon Aktif Dan Precipitated Calcium Carbonat Dalam Menurunkan Chrom Dari Limbah Industri Elektroplating, Juurnal Sains, 2011: hal. 3 [ 1] Suwari, “ Model Pengendalian Pencemaran Air Pada Wilayah Kali Surabaya”, Tesis, 2010: hal. 247

5 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Karbon aktif merupakan suatu bentuk arang yang telah melalui aktifasi dengan menggunakan gas CO2, uap air atau bahan-bahan kimia sehingga pori-porinya terbuka dan dengan demikian daya absorpsinya menjadi lebih tinggi terhadap zatwarna dan bau. Karbon aktif mengandung 5 sampai 15 persen air, 2 sampai 3 persen abu dan sisanya terdiri dari karbon. Karbon yang sekarang banyak digunakan berbentuk butiran (granular) dan berbentuk bubuk (tepung). Besarnya daya serap karbon aktif sangat dipengaruhi oleh keadaan pori-pori yang terbentuk. Pori-pori pada karbon aktif memiliki beberapa jenis sebagai berikut :
Baca lebih lanjut

13 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

[32] Agus Mangiring Siburian, Agnes Sartika Doharma Pardede, Setiaty Pandia, “Pemanfaatan Adsorben dari Biji Asam Jawa untuk Menurunkan Bilangan Peroksida pada CPO (Crude Palm Oil),” Jurnal Teknik Kimia USU, 3(4) 2014 : hal. 12 - 14. [33] Rusvirman Muchtar. Drs, Msc, Hernandi Suyono, Ssi., Msi., Dasli Noerdin, Drs, MSc., Silviea Nur Astari, “Penelitian Pendahuluan Pemanfaatan Limbah Pedagang Air Kelapa Muda di Bandung,” Skripsi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal Achmad Yani, Cimahi, 2010.

5 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Air adalah sumber kehidupan di bumi dan peradaban manusia dapat berkembang bila ada air yang berkualitas baik dan bersih. Air memainkan peranan penting dalam kehidupan kita. Kualitas dari air sangat penting untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan lingkungan. Namun aktivitas industrial menyebabkan kualitas air menurun. Limbah yang berasal dari industri dapat mengandung kontaminan mikrobiologi, bahan kimia seperti pelarut organik dan anorganik, logam, nutrisi tanaman, bahan tersuspensi, perubahan temperatur dan sebagainya [1].
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

TUGAS PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI ELECTROPLATING

TUGAS PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI ELECTROPLATING

Limbah industri dapat mengandung bahan organik atau bahan anorganik yang dapat menurunkan kualitas air menimbulkan warna, rasa serta bau bahkan juga mengandung logam-logam berat. Limbah industri yang mengandung logam berat perlu mendapat perhatian khusus, mengingat konsentrasi logam berat akan memberikan efek beracun yang sangat berbahaya bagi kehidupan manusia maupun bagi ekosistem dimana limbah tersebut dibuang. Beberapa jenis industri seperti industri alat-alat listrik, pelapisan logam (electroplating) adalah merupakan penghasil air limbah yang mengandung loga-logam berat seperti Cu, Cr, Fe, Mn, Zn, Ni dan sebagainya. Limbah tersebut bila dibuang ke lingkungan harus mengalami pengolahan terlebih dahulu agar dapat memenuhi baku mutu limbah cair yang sudah ditetapkan oloh pemerintah daerah.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - PEMANFAATAN ALGAE CHLORELLA PYRENOIDOSA UNTUK MENURUNKAN TEMBAGA (Cu) PADA INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang - PEMANFAATAN ALGAE CHLORELLA PYRENOIDOSA UNTUK MENURUNKAN TEMBAGA (Cu) PADA INDUSTRI PELAPISAN LOGAM

Industri pelapisan logam menghasilkan limbah cair yang cukup banyak salah satunya adalah ternbaga (Cu), limbah cair pelapisan logam dihasilkan dari proses pembersihan, pencucian, dan penyepuhan. Industri pelapisan logam saat ini belum menggunakan pengolahan yang memadai, industri ini hanya menggunakan bak penampung sebagai tempat pembuangan limbah sementara. Berdasarkan hasil pemeriksaan limbah industri pelapisan logam di Kota Gede Yogyakarta ternyata mempunyai kadar tembaga (Cu) yang cukup tinggi yaitu 3,29 mg/L, pH 5,6, suhu 29 0 C, sedangkan baku mutu air limbah golongan I menurut Kep.03/MENKLH/II/1991 adalah 1 mg/L. Dengan kandungan yang cukup tinggi tersebut apabila dibuang ke perairan akan menimbulkan gangguan pada kehidupan biota air maupun manusia itu sendiri.
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Dari keseluruhan grafik, bilangan iodin cenderung meningkat seiring bertambahnya suhu aktivasi, suhu pengeringan, suhu pengeringan dan waktu pengeringan. Hal ini menunjukkan semakin tinggi suhu dan waktu maka daya serap adsorben juga semakin meningkat. Namun pada grafik tertentu bilangan iodin mengalami penurunan dengan meningkatnya suhu serta waktu pada kedua proses. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa kemungkinan. Pertama, kadar air sulit dikontrol sebelum dilakukan penyerapan senyawa iodin. Kedua, ketidak merataan adsorben dalam wadah saat proses aktivasi dilakukan sehingga asam nitrat tidak efektif dalam memodifikasi adsorben kulit jengkol. Bilangan iodin yang optimum diperoleh pada suhu aktivasi 90 o C, waktu aktivasi 120 menit, suhu pengeringan 110 o C dan waktu pengeringan 120 menit sebesar 634,50 mg/g.
Baca lebih lanjut

79 Baca lebih lajut

KANDUNGAN KROMIUM (Cr) PADA LIMBAH CAIR DAN AIR SUNGAI SERTA KELUHAN KESEHATAN MASYARAKAT DI SEKITAR INDUSTRI ELEKTROPLATING (STUDI DI INDUSTRI ELEKTROPLATING X KELURAHAN TEGAL BESAR KECAMATAN KALIWATES KABUPATEN JEMBER)

KANDUNGAN KROMIUM (Cr) PADA LIMBAH CAIR DAN AIR SUNGAI SERTA KELUHAN KESEHATAN MASYARAKAT DI SEKITAR INDUSTRI ELEKTROPLATING (STUDI DI INDUSTRI ELEKTROPLATING X KELURAHAN TEGAL BESAR KECAMATAN KALIWATES KABUPATEN JEMBER)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, industri adalah seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang mengelola bahan baku dan atau memanfaatkan sumber daya industri sehingga menghasilkan barang yang mempunyai nilai tambah atau manfaat lebih tinggi, termasuk jasa industri. Pada era globalisasi ini sektor industri telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Perkembangan sektor industri yang pesat ini memberikan dampak perekonomian yang positif bagi masyarakat dan negara. Sektor industri yang mengalami perkembangan begitu pesat di Indonesia salah satunya adalah industri pelapisan logam. Hal ini dikarenakan seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi, kehidupan masyarakat modern tidak terlepas dari benda- benda logam. Proses pelapisan logam bertujuan sebagai pelapis protektif-dekoratif yakni untuk melindungi benda – benda tersebut dari korosi dan untuk mendapatkan benda-benda dengan tingkat kecerahan yang bagus sehingga memperindah penampilan. Pelapisan logam memiliki beberapa metode yang diantaranya adalah metode elektroplating, metode pencelupan panas (hot dipping), dan metode penyemprotan. Pada pelapisan logam, metode yang paling sering digunakan adalah metode elektroplating.
Baca lebih lanjut

124 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Tumbuhan Air Dan Material Fisik Terhadap Penurunan Kadar Besi (Fe) Dan Mangan (Mn) Pada Air Sumur

Pemanfaatan Tumbuhan Air Dan Material Fisik Terhadap Penurunan Kadar Besi (Fe) Dan Mangan (Mn) Pada Air Sumur

Susilaningsih,D.1992. Pemanfaatan Tumbuhan Hydrilla verticillata dan Eichornia crassipes sebagai salah satu usaha pengendalian pencemaran dan logam Kromium (Cr) dari limbah pelapisan logam. Skripsi. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman, Poerwokerto. Hlm : 75.

5 Baca lebih lajut

Pemisahan Kromium dan Nikel dari Limbah Cair Elektroplating dengan Proses Ultrafiltrasi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Pemisahan Kromium dan Nikel dari Limbah Cair Elektroplating dengan Proses Ultrafiltrasi - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)

Elektroplating merupakan suatu proses elektrokimia terhadap perlakuan permukaan suatu logam. Logamlogam yang biasa digunakan untuk pelapis yaitu cadmium, tembaga, emas, nikel, perak, dan logam-logam sejenis [5]. Elektroplating atau lapis listrik atau penyepuhan merupakan salah satu proses pelapisan bahan padat dengan lapisan logam menggunakan bantuan arus listrik melalui suatu elektrolit. Benda yang dilakukan pelapisan harus merupakan konduktor atau dapat menghantarkan arus listrik [1]. Proses ini melibatkan perlakuan pendahuluan (pencucian, pembersihan, dan langkah-langkah persiapan lain), pelapisan, pembilasan, dan pengeringan [6]. Air yang berasal dari pencucian, pembersihan dan proses plating menjadi air limbah karena mengandung logam- logam terlarut dan senyawa-senyawa berbahaya lainnya [1]. Penelitian untuk mengolah limbah elektroplating yang telah dilakukan diantaranya presipitasi bertahap logam berat limbah cair industri pelapisan logam menggunakan larutan kaustik soda diperoleh rejeksi 98,04% dengan konsentrasi sisa Cr pada larutan sebesar 1560 mg/l [2], presipitasi logam berat limbah elektroplating dengan ferro sulfat diperoleh rejeksi sebesar 90% dengan konsentrasi sisa Cr sebesar 2 mg/l [7], dan pengurangan ion-ion Cu (II), Ni (II) dan Cr(III) dari limbah cair menggunakan proses kompleksasi - teknik ultrafiltrasi didapat rejeksi sebesar 99,1% dan konsentrasi sisa Cr sebesar 10 mg/l [8]. Berdasarkan uraian tersebut, maka dalam penelitian ini digunakan alternatif kombinasi proses reduksi dan ultrafiltrasi untuk penurunan kadar kromium dan nikel dari limbah cair elektroplating.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava) Untuk Menyerap Logam Krom Pada Air Limbah Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Batang Jambu Biji (Psidium guajava) Untuk Menyerap Logam Krom Pada Air Limbah Industri Pelapisan Logam

vitamin C jambu biji 2 kali lipat. Vitamin C ini sangat baik sebagai zat antioksidan. Sebagian besar vitamin C jambu biji terkonsentrasi pada kulit dan daging bagian luarnya yang lunak dan tebal. Kandungan vitamin C jambu biji mencapai puncaknya menjelang matang. Selain pemasok andal vitamin C, jambu biji juga kaya serat, khususnya pektin (serat larut air), yang dapat digunakan untuk bahan pembuat gel atau jeli. Manfaat pektin lainnya adalah untuk menurunkan kolesterol yaitu mengikat kolesterol dan asam empedu dalam tubuh dan membantu pengeluarannya. Penelitian yang dilakukan Singh Medical Hospital and Research center Morrabad, India menunjukkan jambu biji dapat
Baca lebih lanjut

53 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Cd (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Melihat standarisasi Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 03 tahun 2010 baku mutu air limbah bagi kawasan industri terkhusus untuk logam kadmium kadar maksimum yaitu 0,1 mg/L. Jika kadar logam yang di buang ke lingkunga melebihi standar maka hal ini dapat menimbulkan masalah yang serius baik terhadap masyarakat dan juga Negara. Meningkatnya pertumbuhan manusia serta kemajuan teknologi mendorong tingkat pencemaran logam berat pada lingkungan semakin mengkhawatirkan, baik berupa limbah padat, cair dan gas yang di hasilkan industri.
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Limah Pati Aren dan Zeolit Lokal sebagai Varian Biosorben Kolom Kontinyu untuk Menanggulangi Limbah Industri Tekstil dan Pelapisan Logam.

Pemanfaatan Limah Pati Aren dan Zeolit Lokal sebagai Varian Biosorben Kolom Kontinyu untuk Menanggulangi Limbah Industri Tekstil dan Pelapisan Logam.

Industri tekstil dan pelapisan logam memberikan dampak penurunan kualitas air yang sangat signifikan di daerah Surakarta. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan alternatif penanggulangan limbah cair yang efektif dan efisien. Penelitian ini mengembangkan biosorben kolom kontinyu dengan memanfaatkan limbah pati aren dan zeolit lokal untuk menanggulangi kedua jenis limbah tersebut. Penelitian difokuskan pada kajian isoterm adsorpsi adsorben, pengaruh aktivator, komposisi kolom, dan derajat keasaman, terhadap unjuk kinerja biosorben kolom kontinyu. Kolom kontinyu yang dikembangkan memiliki sisi positif antara lain tidak beracun, tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (lower toxicity, less environmental impact) , ketersediaan bahan baku yang melimpah (abundance of raw material), serta prospek pengembangan ke arah komersial yang sangat terbuka (commercially feasible) .
Baca lebih lanjut

1 Baca lebih lajut

Analisis Kandungan Logam Berat Seng Zn d

Analisis Kandungan Logam Berat Seng Zn d

Proses pelapisan ini menggunakan bahan-bahan kimia antara lain perak, potasium emas sianida, tembaga sianida, tembaga sulfat, nikel klorida, nikel sulfat, asam kromat, natrium karbonat, asam klorida, asam sulfat, asam nitrat, asam fosfat, asam borat, ammonium hidroksida dan natrium hidroksida. Berdasarkan dari bahan-bahan yang digunakan untuk proses elektroplating ini maka dimungkinkan limbah elektroplating khususnya limbah cair mengandung emas, perak, tembaga, nikel, krom, asam-asam anorganik, senyawa-senyawa sianida dan anion-anion yang dimungkinkan membentuk garam dengan sisa-sisa logam. Pada pelapisan emas dan perak, kadang-kadang pengrajin menggunakan merkuri atau air raksa (Suara Merdeka, 2004).
Baca lebih lanjut

33 Baca lebih lajut

Pengaruh  Keasaman (pH), Waktu Terhadap Tebal Lapisan Dan Kecerahan Permukaan Pada  Pelapisan Emas Terhadap Tembaga

Pengaruh Keasaman (pH), Waktu Terhadap Tebal Lapisan Dan Kecerahan Permukaan Pada Pelapisan Emas Terhadap Tembaga

Elektroplating merupakan suatu proses pelapisan logam pada elektroda yang bertujuan membentuk permukaan yang memiliki sifat yang berbeda dengan sifat logam dasarnya, logam yang dilapisi adalah logam tembaga karena mudah dibentuk menjadi perhiasan, alat-alat untuk keperluan industri dan alat-alat dekoratif lainnya. Logam pelapis yang digunakan pada penelitian ini adalah emas. Dalam pelapisan ini digunakan tegangan dan arus konstan serta waktu yang tetap dengan perubahan pada pH larutan mulai dari pH 4,5 sampai dengan ph 6,5, karena pelapisan yang terjadi adalah pada suasana larutan asam moderat. Hasil penelitian menunjukkan hasil paling baik diperoleh pada keasaman larutan pH sekitar 5,6 dan pH 5,7, sementara pada nilai pH yang lainnya memberikan hasil yang tidak optimum.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

Pemanfaatan Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa Prain) Sebagai Adsorben Dalam Penyerapan Logam Pb (II) Pada Limbah Cair Industri Pelapisan Logam

kulit jengkol : asam nitrat 20:0,5; 20:1 dan 20:2 mg/mL sambil dipanaskan pada variasi suhu 70, 80 dan 90 o C selama variasi waktu 60, 90 dan 120 menit. Adsorben kemudian dikeringan di oven pada variasi suhu 100, 110 dan 120 o C selama variasi waktu 60, 90 dan 120 menit. Adsorben dengan hasil analisa bilangan iodin terbesar digunakan dalam proses adsorpsi batch logam Pb (II) yang dilakukan dengan mengaduk adsorben di dalam limbah cair yang diatur pHnya menjadi 5 dengan massa 0,5; 1 dan 1,5 per 50 mL limbah cair di atas hot plate dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer kecepatan 30 rpm selama 30 menit. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa rasio kulit jengkol : asam nitrat yang terbaik adalah 20:1 mg/mL pada suhu aktivasi 90 o C, waktu aktivasi 120 menit, suhu pengeringan 110 o C dan waktu pengeringan 120 menit dengan bilangan iodin sebesar 634,50 mg/g. Massa adsorben terbaik adalah 0,5 gram dengan kapasitas adsorpsi logam timbal sebesar 0,92 mg/g. Bilangan iodin yang diperoleh dalam penelitian ini masih dibawah 750 mg/g, yaitu standar karbon aktif berdasarkan SNI.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hot Dip Galvanizing - PERBAIKAN TINGKAT PERMUKAAN BAJA KARBON RENDAH P22 DAN S22 DENGAN METODE HOT DIP GALVANIZING Repository - UNAIR REPOSITORY

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hot Dip Galvanizing - PERBAIKAN TINGKAT PERMUKAAN BAJA KARBON RENDAH P22 DAN S22 DENGAN METODE HOT DIP GALVANIZING Repository - UNAIR REPOSITORY

digunakan sebagai logam pelapis. Magnesium dalam keadaan normal bersifat lebih reaktif dan lebih mudah terkonsumsi, seng memiliki sifat mudah dibentuk, memiliki nilai estetika yang tinggi, murah dan tahan terhadap korosi, alumunium biasanya akan membentuk oksida pelapis dan efektifitas pelapisannya sangat terbatas sedangkan cadmium sebenarnya mempunyai sifat yang hampir sama dengan seng tetapi penerapannya masih sangat terbatas apalagi ditinjau dari segi ekonomisnya.

19 Baca lebih lajut

Hydroxyapatite-Chitosan Composite Coating on Stainless Steel 316 to Improve Corrosion Resistance

Hydroxyapatite-Chitosan Composite Coating on Stainless Steel 316 to Improve Corrosion Resistance

terbentuknya suatu lapisan tipis oksida krom yang menghalangi proses oksidasi besi. Lapisan ini mampu mengurangi kecepatan proses karat selambat mungkin karena lapisan tersebut terbentuk dengan sangat rapat. Seiring dengan berjalannya waktu, lapisan oksida krom yang terdapat pada permukaan SS tidak akan bertahan terhadap kondisi lingkungan fisiologi tubuh sehingga memungkinan ion krom terlepas ke dalam tubuh manusia. Lepasnya ion tersebut ke dalam tubuh dapat menimbulkan alergi karena bersifat karsinogenik (Prabakaran et al. 2006). Baja SS 316 L memiliki ketahanan korosi yang lebih kuat dibandingkan baja 316 (Yildirim 2004), hal ini disebabkan baja 316 L memiliki kandungan karbon paling rendah (Tabel 1). Ketahanan logam akan semakin meningkat apabila kandungan karbon dibuat serendah mungkin, tetapi kandungan karbon harus tetap dipertahankan agar logam paduan baja bersifat gelas atau keras.
Baca lebih lanjut

73 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...