Bea Masuk

Top PDF Bea Masuk:

BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN

BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN

Salah satu upaya mewujudkan tatanan perdagangan dunia dimaksud dilakukan dengan mengatur persyaratan dan tata cara pengenaan Bea Masuk Antidumping dan Bea Masuk Imbalan serta penanganannya dalam peraturan pemerintah sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan. Peraturan Pemerintah ini disusun dengan materi yang bersumber dari aturan yang terdapat dalam Article VI dan Article XVI General Agreement on Tarif and Trade (GATT-Persetujuan Umum Tarif dan perdagangan), yang naskah resmi dan terjemahannya tercantum pada Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994.
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

Overview Penijauan Tarif Bea Masuk MFN

Overview Penijauan Tarif Bea Masuk MFN

• Telah diadakan rapat teknis Tim Tarif pertama kali pada tanggal 14 April 2014 dengan mengundang Kementrian/Lembaga (K/L) terkait dengan kesepakatan: peninjauan tarif bea masuk MFN pada tahap pertama difokuskan pada kenaikan tarif, khususnya untuk produk-produk kategori konsumsi langsung.

10 Baca lebih lajut

Cara Perhitungan Bea Masuk dan Pajak di

Cara Perhitungan Bea Masuk dan Pajak di

bagi yang pertama kali berurusan dengan Bea dan Cukai mungkin sering mengalami kebingungan terhadap barang impor, barang kiriman paket atau barang bawaan penumpang yang kita bawa saat baru pulang dari luar negeri. Tidak hanya terkait prosedur atau tata cara pengeluaran, tetapi juga bagaimana cara untuk menghitung pungutan bea masuk, cukai, dan pajak-pajak lainnya seperti PPN, PPh, dan PPnBM.

10 Baca lebih lajut

TARIF BEA MASUK ATAS BARANG IMPOR BERDAS (3)

TARIF BEA MASUK ATAS BARANG IMPOR BERDAS (3)

Sistem kepabeanan di Indonesia menganut sistem self assessment , dimana importir diminta untuk memberitahukan di dalam pemberitahuan impor barang (PIB) berupa jumlah, jenis dan harga barang. Besar kecilnya pungutan negara sangat bergantung pula besarnya nilai pabean yang diberitahukan importir, sehingga pemberitahuan nilai pabean ini harus diteliti oleh Pejabat Bea dan Cukai. Tujuannya untuk menghindari pemberitahuan nilai pabean yang lebih rendah dari yang seharusnya, sehingga mengakibatkan kerugian penerimaan negara dari sektor bea masuk, cukai dan pajak dalam rangka impor. Penulis mengetengahkan 2 (dua) rumusan permasalahan. Pertama mengenai pengaturan bea masuk atas barang impor berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan (UU. Nomor 17 Tahun 2006). Kedua mengenai akibat hukum dari pengaturan tarif bea masuk atas barang impor tersebut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaturan dan akibat hukum dari tarif bea masuk atas barang impor berdasarkan Undang-Undang Kepabeanan. Pejabat Bea dan Cukai tetap diberi wewenang untuk meneliti dan menetapkan tarif dan nilai pabean untuk perhitungan bea masuk. Selain itu, tim audit juga mempunyai peran yang penting dalam meminimalisir kerugian negara.
Baca lebih lanjut

7 Baca lebih lajut

19 SOP Pelayanan Pengembalian Bea Masuk Putusan PP

19 SOP Pelayanan Pengembalian Bea Masuk Putusan PP

Norma waktu layanan pengembalian bea masuk berdasarkan putusan pengadilan pajak diproses untuk disetujui atau ditolak dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak permohonan diterima secara lengkap dan benar sampai dengan diterbitkannya SKPBM dan SPMKBM, tidak termasuk waktu yang dipergunakan untuk pelaksanaan proses konfirmasi ke Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), pelunasan hutang/tunggakan bea masuk, denda administrasi, dan/atau bunga oleh pemohon, dan penerbitan SP2D.

2 Baca lebih lajut

Cara Menghitung dan Menjurnal Bea Masuk

Cara Menghitung dan Menjurnal Bea Masuk

Bea masuk impor, bersama-sama unsur lainnya masuk ke dalam kelompok ‘Harga Pokok Penjualan (HPP)’ atau ‘Cost of Goods Sold (COGS)’—jika menggunakan bahasa Inggris. Jika laporan keuangan perusahaan menggunakan mata uang Rupiah, maka masing-masing cost di kalikan dengan rate yang digunakan. Katakanlah rate yang digunakan kebetulan sama dengan rate bea cukai, maka:

8 Baca lebih lajut

TARIF BEA MASUK OPTIMAL BAGI PRODUK PERT

TARIF BEA MASUK OPTIMAL BAGI PRODUK PERT

masing variabel yang akan diuji secara statistik dan ekonometrik, t adalah (1, .........., T) mulai tahun 1993 sampai dengan 2011, i adalah (1, ...., N) jenis produk pertanian yaitu padi palawija, buah-buahan, sayur-sayuran, TARIFF adalah tarif barang import (persentase), LINCPT adalah pendapatan perkapita (dalam bentuk natural logarima), dan LHARGA adalah harga jual produk pertanian (dalam bentuk natural logarima). Sedangkan variabel dependen yaitu penjualan maksimum yang dapat diperoleh oleh petani. Data ini merupakan data Produksi (ton/ha) dikalikan dengan harga (ton). Model estimasi panel digunakan untuk melihat pengaruh tarif bea masuk produk impor pertanian terhadap produksi atau penjualan dari produk pertanian di Indonesia. Selain melihat pengaruh dari tarif, studi ini juga menghitung besarnya tarif optimal untuk produk-produk pertanian Indonesia. Hasil dari estimasi panel data kemudian dihitung dengan menggunakan model optimal tarif untuk mendapatkan besaran tarif optimal dan batas tarif (threshold) yang masih bisa diterima oleh produk-produk pertanian Indonesia. Sumber data berasal dari data sekunder, yang meliputi data kuantitatif tahunan pada rentang waktu 1993-2011. Produk pertanian yang dimaksud dalam studi ini adalah padi dan palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka (library research), berupa dokumen atau arsip yang di dapat dari World Bank, Badan Pusat Statistik (BPS) serta data perdagangan yang diambil dari TradeMap.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

143 1997 Kp Menkeu PEMBEBASAN BEA MASUK DAN CUKAI

143 1997 Kp Menkeu PEMBEBASAN BEA MASUK DAN CUKAI

Menimbang : bahwa dalm rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang kepabeanan dipandang perlu mengatur ketentuan tentang pemberian pembebasan bea masuk dan cukai atas impor barang keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dengan suatu Keputusan Menteri Keuangan;

5 Baca lebih lajut

BEA MASUK IMPOR TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN UU NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

BEA MASUK IMPOR TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN UU NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UU NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

Dasar hukum adanya Bea Masuk Impor adalah Pasal 12 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan dan UU Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia). Adapun dalam UU Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan UU Nomor 10 Tahun 1995, pasal ini tidak dirubah sama sekali. Hal ini berarti dalam melaksanakan pungutan bea masuk impor, yang menjadi dasar hukum adalah UU Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan Pasal 12 ayat (1) dan bukan UU Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan atas UU Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan. Sedangkan penge- cualian maupun perubahan atas besaran tarif mengikuti ketentuan yang lain, baik itu pasal dan ayat selain pasal 12 ayat (1) maupun atas keputusan dan peraturan dari kementerian keuangan yang membawahi Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai.
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

19 SOP Pelayanan Pengembalian Bea Masuk Putusan PP (1)

19 SOP Pelayanan Pengembalian Bea Masuk Putusan PP (1)

Kepala Subseksi Administrasi Pengihan dan Pengembalian I/ II menerima berkas asli atau legalisir PIB/PIBT dan Surat jawaban konfirmasi SSPCP, menyatukan dengan berkas permohonan Ybs, melakukan penelitian lebih lanjut atas berkas permohonan dan menugaskan pelaksana meneliti apakah pemohon masih mempunyai hutang / tunggakan bea masuk, denda administrasi, dan/atau bunga

5 Baca lebih lajut

PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BUKU ILMU PENGETAHUAN BERDASARKAN PASAL 25 UU NO. 17 TAHUN 2006 Jo SKMENKEU No. 103KMK.042007

PEMBEBASAN BEA MASUK ATAS IMPOR BUKU ILMU PENGETAHUAN BERDASARKAN PASAL 25 UU NO. 17 TAHUN 2006 Jo SKMENKEU No. 103KMK.042007

“Kepada Wajib Pajak yang melakukan penanaman modal di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di daerah- daerah tertentu yang mendapat prioritas tinggi dalam skala nasional dapat diberikan fasilitas perpajakan d a l a m b e n t u k : p e n g u r a n g a n penghasilan neto paling tinggi 30% (tiga puluh persen) dari jumlah p e n a n a m a n ya n g d i l a k u k a n ; penyusutan dan amortisasi yang dipercepat; kompensasi kerugian yang lebih lama, tetapi tidak3 lebih dari 10 (sepuluh) tahun; dan pengenaan Pajak Penghasilan atas dividen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 sebesar 10% (sepuluh persen), kecuali apabila tarif menurut perjanjian perpajakan yang berlaku menetapkan lebih rendah.” Pemberian kemudahan-kemudahan juga diberikan kepada perguruan tinggi, lembaga atau badan yang memerlukan buku-buku dari luar negeri dengan mendapatkan pembebasan bea masuk atas impor buku.
Baca lebih lanjut

10 Baca lebih lajut

TIPS LOLOS DARI BEA CUKAI DAN BEA MASUK (1)

TIPS LOLOS DARI BEA CUKAI DAN BEA MASUK (1)

Jika Barang Pribadi Penumpang nilai pabeannya tidak melebihi ketentuan di atas, maka barang-barang tersebut diberikan pembebasan bea masuk. Untuk mengetahui apakah barang tersebut melebihi nilai atau tidak maka dilakukan pemeriksaan. Apabila dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan Barang Pribadi Penumpang dengan nilai pabean melebihi nilai pabean yang diberikan pembebasan bea masuk, atas kelebihan nilai pabean tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor, dengan dasar nilai pabean penuh dikurangi dengan nilai pabean yang mendapatkan pembebasan bea masuk. Dalam hal barang impor lebih dari 3 (tiga) jenis barang, Pejabat Bea dan Cukai menetapkan hanya satu tarif bea masuk berdasarkan tarif barang tertinggi. Barang pribadi penumpang melebihi batas nilai pabean, atas kelebihan tersebut dipungut bea masuk dan pajak dalam rangka impor.
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN TARIF BEA MASUK, BEA KELUAR, BEA STATISTIK, BEA BERAT BARANG DAN PAJAK MASUK (PAJAK PENJUALAN) perpu0331960

PERUBAHAN DAN TAMBAHAN TARIF BEA MASUK, BEA KELUAR, BEA STATISTIK, BEA BERAT BARANG DAN PAJAK MASUK (PAJAK PENJUALAN) perpu0331960

Sebagai hasil peninjauan kembali dari pada pungutan-pungutan bea termaksud dengan mengambil prinsip-prinsip tersebut diatas, maka ditarik kesimpulan bahwa tujuan- tujuan tertera diatas akan tercapai apabila hanya diadakan satu jenis pungutan, yaitu bea masuk dengan menghapuskan lain-lain pungutan. Tingginya bea masuk ini selanjutnya didiferensiir menurut golongan-golongan barang yang termasuk barang- barang sandang pangan dan pembangunan dan barang-barang yang dianggap tidak termasuk dalam golongan ini.

7 Baca lebih lajut

TAMBAHAN POKOK BEA ATAS BEA-BEA MASUK SE TAHUN 1952

TAMBAHAN POKOK BEA ATAS BEA-BEA MASUK SE TAHUN 1952

Dengan menyampingkan masa yang hanya meliputi beberapa tahun sahaja sebelum pendudukan Jepang, opsenten itu setiap tahun pada umumnya berjumlah lima puluh. Karena opsenten atas apa yang disebut bea-bea masuk-specifik yaitu bea-bea masuk, yang dipungut menurut satuan ukuran, tidak sesuai lagi dengan harga-harga barang, yang sejak perang sangat meningkat, maka dalam semester kedua dari tahun 1949, setelah diperbincangkan dengan Kepala-kepala Departemen Kemakmuran, Pertanian dan Perikanan, diputuskan untuk mengubah opsenten-opsenten atas bea-bea ini. Perubahan ini, yang ditetapkan dengan ordonansi tertanggal 14 Juli 1949 (S. No. 187), pada umumnya didasarkan pada bea-harga (waarderecht) yang dipungut menurut asas- asas dari tarif bea-bea masuk, dihitung dari harga entrepot- pertengahan (gemiddelde entrepotwaarde) dari barang-barang itu, jika barang-barang bersangkutan dikenakan bea tidak menurut satuan yang tertentu tetapi menurut harga. Berkenaan dengan kenaikan cukai-bir, kemudian ditetapkan kenaikan opsenten atas bea-masuk bir dengan ordonansi termuat dalam Staatsblad 1949 No. 256. Demikianlah opsenten- opsenten yang sedapat mungkin disesuaikan dengan berubahnya keadaan, akhirnya dilanjutkan untuk tahun 1950 dan tahun 1951 dengan ordonansi 9 Desember 1949 (S. No. 384).
Baca lebih lanjut

0 Baca lebih lajut

PP 1 1947 bea masuk dan bea keluar

PP 1 1947 bea masuk dan bea keluar

Dengan pasal ini menjadi berlaku satu aturan buat Jawa dan Sumatera. Tentang bea masuk bukan saja peraturan-peraturan dari Indische Tariefwet yang berlaku, melainkan pula taripnya bea. Tarip ini dalam garis besarnya dapat dibagi atas 3 golongan:

6 Baca lebih lajut

MEMUNGUT OPSENTEN ATAS BEA-MASUK SE TAHUN 1951

MEMUNGUT OPSENTEN ATAS BEA-MASUK SE TAHUN 1951

Karena opsenten atas apa yang disebut bea-bea masuk specifiek yaitu bea-bea masuk, yang dipungut menurut satuan ukuran, tidak sesuai lagi dengan harga-harga barang, yang sejak perang sangat meningkat, maka dalam semester kedua dari tahun 1949, setelah diperbincangkan dengan kepala-kepala Departemen Kemakmuran, Pertanian dan Perikanan, diputuskan untuk mengubah opsenten-opsenten atas bea-bea ini. Perubahan ini, yang ditetapkan dengan ordonansi tertanggal 14 Juli 1949 (S. No. 187), pada umumnya didasarkan pada bea harga (waarderecht) yang dipungut menurut asas-asas dari tarip bea-bea masuk, dihitung dari harga entrepot pertengahan (gemiddelde entrepotwaarde) dari barang-barang itu, jika barang-barang bersangkutan dikenakan bea tidak menurut satuan yang tertentu tetapi menurut harga. Berkenaan dengan penaikan cukai-cukai bir, kemudian ditetapkan penaikan opsenten atas bea masuk bir dengan ordonansi termuat dalam Staatsblad 1949 No. 256. Demikianlah opsenten-opsenten yang sedapat mungkin disesuaikan dengan berubahnya keadaan, akhirnya dilanjutkan untuk tahun 1950 dengan ordonansi 9 Desember 1949 (S. No. 384).
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

35 SOP Pelayanan Pemberian Izin Impor Sementara

35 SOP Pelayanan Pemberian Izin Impor Sementara

o. pesawat dan mesin pesawat yang diimpor oleh perusahaan penerbangan nasional; p. barang yang dibawa oleh penumpang dan akan dibawa kembali ke luar negeri; dan/atau q. barang pendukung proyek pemerintah yang dibiayai dengan pinjaman dari luar negeri. 6. Barang impor yang dapat diberikan keringanan bea masuk adalah mesin dan peralatan

Baca lebih lajut

ProdukHukum Sekneg

ProdukHukum Sekneg

a. bahwa dalam rangka menetapkan perlakuan adil dalam pengenaan Pajak Penghasilan sehubungan dengan penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dalam rangka pelaksanaan proyek Pemerintah yang dibiayai dengan hibah atau dana pinjaman luar negeri maka dipandang perlu untuk mengubah Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1995 tentang Bea Masuk, Bea Masuk Tambahan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dan Pajak Penghasilan dalam rangka Pelaksanaan Proyek Pemerintah yang Dibiayai dengan Hibah atau Dana Pinjaman Luar Negeri sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1998; b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut, dipandang perlu untuk mengatur perubahan
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Index of /enm/images/dokumen

Index of /enm/images/dokumen

• User adalah industri yang melakukan impor bahan baku dalam rangka keperluan produksi dalam lingkup kerjasama antara Indonesia dengan Jepang melalui fasilitas Pembebasan Bea Masuk yang telah mendapatkan Surat Keterangan Verifikasi Industri – USDFS (SKVI-USDFS) yang diterbitkan oleh surveyor yang ditunjuk oleh Menteri (PT. Surveyor Indonesia, berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No. 44/M- IND/PER/7/2008).

Baca lebih lajut

Peraturan Dirjen Perbendaharaan | KPPN TANJUNGBALAI

Peraturan Dirjen Perbendaharaan | KPPN TANJUNGBALAI

Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2001 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 1995 tentang Bea Masuk, Bea Masuk Tambahan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, dan Pajak Penghasilan dalam rangka Pelaksanaan Proyek Pemerintah yang Dibiayai dengan Hibah atau Dana Pinjaman Luar Negeri;

Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...