Eksistensi Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor

Top PDF Eksistensi Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor:

BAB II. A. Eksistensi Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun pertama kali dan pemeliharaan pendaftaran tanah.

BAB II. A. Eksistensi Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun pertama kali dan pemeliharaan pendaftaran tanah.

B. Sertipikat Hak-Hak Atas Tanah 1. Pengertian Sertipikat Hak Atas Tanah Sertipikat memiliki banyak fungsi bagi pemiliknya. Dari sekian fungsi yang ada, dapat dikatakan bahwa fungsi utama dan terutama dari sertipikat adalah sebagai alat bukti yang kuat, demikian dinyatakan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA, karena itu, siapapun dapat dengan mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak atas tanah bila telah jelas namanya tercantum dalam sertipikat itu. Selanjutnya dapat membuktikan mengenai keadaan-keadaan dari tanahnya itu misalnya luasnya, batas-batasnya, ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tanah dimaksud. Apabila dikemudian hari terjadi tuntutan hukum di pengadilan tentang hak kepemilikan /penguasaan atas tanah, maka semua keterangan yang dimuat dalam sertipikat hak atas tanah itu mempunyai kekuatan pembuktian yang kuat dan karenanya hakim harus menerima sebagai keterangan-keterangan yang benar, sepanjang tidak ada bukti lain yang mengingkarinya atau membuktikan sebaliknya. 54 Tetapi jika ternyata ada kesalahan didalamnya, maka diadakanlah perubahan/ pembetulan seperlunya.
Baca lebih lanjut

41 Baca lebih lajut

Pandangan Kritis Eksistensi Pasal 32 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah Atas Sertipikat Hak Atas Tanah (Studi Kasus Di Kota Medan)

Pandangan Kritis Eksistensi Pasal 32 Ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah Atas Sertipikat Hak Atas Tanah (Studi Kasus Di Kota Medan)

B. Sertipikat Hak-Hak Atas Tanah 1. Pengertian Sertipikat Hak Atas Tanah Sertipikat memiliki banyak fungsi bagi pemiliknya. Dari sekian fungsi yang ada, dapat dikatakan bahwa fungsi utama dan terutama dari sertipikat adalah sebagai alat bukti yang kuat, demikian dinyatakan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c UUPA, karena itu, siapapun dapat dengan mudah membuktikan dirinya sebagai pemegang hak atas tanah bila telah jelas namanya tercantum dalam sertipikat itu. Selanjutnya dapat membuktikan mengenai keadaan-keadaan dari tanahnya itu misalnya luasnya, batas-batasnya, ataupun segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang tanah dimaksud. Apabila dikemudian hari terjadi tuntutan hukum di pengadilan tentang hak kepemilikan /penguasaan atas tanah, maka semua keterangan yang dimuat dalam sertipikat hak atas tanah itu mempunyai kekuatan pembuktian yang kuat dan karenanya hakim harus menerima sebagai keterangan-keterangan yang benar, sepanjang tidak ada bukti lain yang mengingkarinya atau membuktikan sebaliknya. 54 Tetapi jika ternyata ada kesalahan didalamnya, maka diadakanlah perubahan/
Baca lebih lanjut

159 Baca lebih lajut

^ Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 99 ayat (1) dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang

^ Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 99 ayat (1) dan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2011 tentang

bahwa berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 75 Tahun 2015 tentang Penyelanggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas Pasal 11 ayat (1) huruf b hasil Analisis Dampak Lalu Lintas harus mendapat per[r]

11 Baca lebih lajut

Pasal 20 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005

Pasal 20 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005

1. Badan Layanan Umum, yang selanjutnya disebut BLU, adalah instansi di lingkungan Pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

12 Baca lebih lajut

KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN  KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HU

KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HU

Penulisan tesis yang berjudul Kajian Kekuatan Pembuktian Sertipikat Tanah Berdasarkan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah Dalam Mewujudkan Kepastian Hukum dan Keadilan dengan rumusan masalah bagaimanakah kekuatan pembuktian sertipikat tanah berdasarkan Pasal 32 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997 dalam mewujudkan kepastian hukum dan keadilan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan pembuktian sertipikat tanah berdasarkan Pasal 32 ayat (2) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 dalam mewujudkan kepastian hukum dan keadilan.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

i a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 96 ayat (4), dan Pasal 99 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor

i a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 96 ayat (4), dan Pasal 99 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor

dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015, tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2OL4 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia T[r]

7 Baca lebih lajut

IMPLEMENTASI ASAS KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN BERDASARKAN PASAL 32 AYAT 2 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 2 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH TESIS

IMPLEMENTASI ASAS KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN BERDASARKAN PASAL 32 AYAT 2 PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 2 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH TESIS

Najih, SH., M.Hum selaku ketua program studi Magister Ilmu Hukum Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang, yang telah memberikan kesempatan penulis untuk menyelesaikan.. Ibu Dr F[r]

11 Baca lebih lajut

Pasal 9 ayat (1), Pasal 10 ayat (1) dan ayat (4), pasal 19 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 2l peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010

Pasal 9 ayat (1), Pasal 10 ayat (1) dan ayat (4), pasal 19 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 2l peraturan Pemerintah Nomor 90 Tahun 2010

lembaran negara republik indonesia tahun RPQP nomor QUR. s。ャゥョ。ョ ウ・ウオ。ゥ 、・ョァ。ョ 。ウャゥョケ。[r]

28 Baca lebih lajut

Pasal 5 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2013

Pasal 5 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2013

(1) Pendanaan PTN Badan Hukum yang disediakan dari anggaran pendapatan dan belanja negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) diberikan dalam bentuk Bantuan Operasional PTN Badan Hukum yang dialokasikan pada bagian anggaran kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pendidikan.

8 Baca lebih lajut

Eksistensi Naskah Akademik dalam Pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Berdasarkan Pasal 56 Ayat (2), Pasal 57 Ayat (2) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 dan Pasal 18,20,30 Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 (Studi di Kabupaten Bengkayang)

Eksistensi Naskah Akademik dalam Pembentukan Rancangan Peraturan Daerah Berdasarkan Pasal 56 Ayat (2), Pasal 57 Ayat (2) Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 dan Pasal 18,20,30 Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2014 (Studi di Kabupaten Bengkayang)

3 paragraph (2) of Law Number 12 of 2011, and Article 18, Article 20, Article 30 Regulation of the Minister of Interior Number 1 of 2014 that the draft Regulation of the Regional whether an initiative of local government (the executive in the area) and the Parliament (local legislative)? Results of the research thesis can be concluded that the first, the Participation Academic Paper In Formation Draft Regional Regulation outside the draft Regional Regulation About Budget and Expenditure under Article 56 paragraph (2), Article 57 paragraph (2) of Law Number 12 of 2011, and Article 18, Article 20, Article 30 Regulation of the Minister of Interior Number 1 of 2014 on the draft Regional Regulations either an initiative of local government (the executive in the area) and the Parliament (the legislative area) must be accompanied by an explanation or information and / or an academic paper or just is imperative that is not mandatory or optional, second, that the preparation of the Draft Regional Regulations in Bengkayang outside the draft Regional Regulation About Budget and Expenditure not yet fully include academic paper by virtue of Article 56 paragraph (2), Article 57 paragraph (2) of the Act Number 12 of 2011, and Article 18, Article 20, Article 30 Regulation of the Minister of Interior Number 1 of 2014 that the draft Regulation of the Regional whether an initiative of local government (the executive in the area) and Parliament (legislative in the area) are not entirely the draft Regulation of the area in Bengkayang with academic text, this is due to several factors that can mentioned as follows: (a) The position of academic texts according to Law Number 12 The year 2011 becomes mandatory for the formation of Law - Law but the establishment still voluntary Regional Regulation where thereby preparing academic papers may be replaced with
Baca lebih lanjut

27 Baca lebih lajut

PENDAHULUAN  KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN.

PENDAHULUAN KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN.

Judul yang diangkat oleh peneliti berbeda dengan judul yang diteliti oleh Syarwali Has. Penelitian Syarwali Has menitikberatkan padaperlindungan hukum terhadap pemegang hak atas tanah yang diperoleh melalui perjanjian jual beli pada Kantor Pertanahan Kota Banjarmasin dengan melakukan pendekatan kasus serta melihat apakah ketentuan jangka waktu 5 (lima) tahun untuk menggugat bagi pihak ketiga cukup tepat. Sedangkan penulis mencoba untuk melihat pada kekuatan pembuktian sertipikat tanah berdasarkan Pasal 32 ayat (2) PP No. 24 Tahun 1997 dalam mewujudkan kepastian hukum dan keadilan.
Baca lebih lanjut

20 Baca lebih lajut

PENUTUP  KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN.

PENUTUP KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN.

bahwa, untuk menjamin gugatan rekonpensi ini jangan sampai illusoir, dimana Penggugat dalam Konpensi/Tergugat dalam Rekonpensi telah menunjukkan itikad tidak baik dan perbuatan melawan hukum, karena dari sejak tahun 1976 baru sekarang mengajukan gugatan seperti halnya perkara ini, sehingga menimbulkan kerugian moriel maupun materiel kepada Penggugat dalam Rekonpensi/Tergugat II dalam Konpensi, agar Pengadilan Negeri meletakkan Sita Jaminan atas harta Kekayaan Milik Penggugat dalam Konpensi /Tergugat dalam Rekonpensi baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, berupa sebidang tanah berikut bangunannya dan seisi rumah barang bergerak yang terletak di Jalan Laswi Nomor 698 Desa Mangunharja, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung;
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Pasal 1 ayat 7

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Pasal 1 ayat 7

suatu unit organisasi. Kinerja keuangan pemerintah daerah adalah tingkat pencapaian dari suatu hasil kerja di bidang keuangan daerah yang meliputi peneriman dan belanja daerah dengan menggunakan sistem keuangan yang ditentukan melalui suatu kebijakan atau ketentuan perundang-undangan

26 Baca lebih lajut

Ketentuan Nikah Dalam Pasal 3 ayat 

(2)  Peraturan Pemerintah

Nomor 9 Tahun 1975 Perspektif Maqâshid Al-Syarī’ah”

Ketentuan Nikah Dalam Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Perspektif Maqâshid Al-Syarī’ah”

Allah SWT tidak membutuhkan ibadah seseorang, karena ketaatan dan maksiat hamba tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap kemulian Allah. Jadi, sasaran manfaat hukum tidak lain adalah kepentingan manusia. Maqâsid al- Syarī ’ah mengandung pengertian umum dan pengertian khusus. Pengertian yang bersifat umum mengacu pada apa yang dimaksud oleh ayat-ayat hukum atau hadits-hadits hukum, baik yang ditunjukkan oleh pengertian kebahasaannya atau tujuan yang terkandung di dalamnya. Pengertian yang bersifat umum itu identik dengan pengertian istilah Maqâsid al-syāri' (maksud Allah dalam menurunkan ayat hukum, atau maksud Rasulullah dalam mengeluarkan hadits hukum). Sedangkan pengertian yang bersifat
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 32 TAHUN 2009

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 32 TAHUN 2009

(6) Dalam hal barang sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dikeluarkan kembali kepada pengusaha di tempat lain dalam daerah pabean, pengusaha Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat atau pengusaha di Tempat Penyelenggaraan Pameran Berikat wajib membuat faktur pajak dan atas penyerahan barang tersebut dikenakan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan di bidang perpajakan.

36 Baca lebih lajut

TINJAUAN PUSTAKA  KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN.

TINJAUAN PUSTAKA KAJIAN KEKUATAN PEMBUKTIAN SERTIPIKAT TANAH BERDASARKAN PASAL 32 AYAT (2) PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 24 TAHUN 1997 TENTANG PENDAFTARAN TANAH DALAM MEWUJUDKAN KEPASTIAN HUKUM DAN KEADILAN.

(2) Dalam hal atas suatu bidang tanah sudah diterbitkan sertipikat secara sah atas nama orang atau badan hukum yang memperoleh tanah tersebut dengan itikad baik dan secara nyata menguasainya, maka pihak lain yang merasa mempunyai hak atas tanah itu tidak dapat lagi menuntut pelaksanaan hak tersebut apabila dalam waktu 5 (lima) tahun sejak diterbitkannya sertipikat itu tidak mengajukan keberatan secara tertulis kepada pemegang sertipikat dan Kepala Kantor Pertanahan yang bersangkutan ataupun tidak mengajukan gugatan ke Pengadilan mengenai penguasaan tanah atau penerbitan sertipikat tersebut.
Baca lebih lanjut

42 Baca lebih lajut

PROBLEMATIKA HUKUM PENGATURAN RUMAH NEGARA (Inkonsistensi Pasal 51 Ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 dengan Pasal 17 Ayat (1) Angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005)

PROBLEMATIKA HUKUM PENGATURAN RUMAH NEGARA (Inkonsistensi Pasal 51 Ayat (2) dan (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 dengan Pasal 17 Ayat (1) Angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005)

Keberadaan sertifikat adalah mengingat bahwa Rumah Negara beserta tanah dibawahnya adalah merupakan benda tetap atau tidak bergerak, 3 sehingga apabila dalam melakukan suatu peralihan hak diperlukan adanya proses balik nama dari penjual kepada pembeli, yang nantinya akan menjadi syarat untuk diajukannya pendaftaran tanah ke Kantor Badan Pertanahan Nasional sebagai dasar untuk dikeluarkannya bukti kepemilikan berupa Sertifikat. Proses peralihan hak atas Rumah Negara tersebut pun melalui mekanisme yang telah ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2005 tentang Rumah Negara adalah melalui sewa beli. Sewa beli adalah perbuatan hukum yang melibatkan dua pihak, dalam sewa beli Rumah Negara melibatkan Negara yang diwakilkan oleh Instansi terkait sebagai Pihak Kesatu dan Pejabat atau Pegawai Negeri sebagai Pihak Kedua. Perjanjian sewa beli ini harus memenuhi syarat sahnya perjanjian seperti yang telah diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata selanjutnya disebut BW dalam Pasal 1320. Pasal 1320 BW ini mensyaratkan bahwa suatu perjanjian adalah sah jika telah memenuhi syarat tertentu, yakni sepakat, cakap, suatu hal tertentu dan kausa yang halal. Perjanjian sewa beli sebagian besar isinya telah ditetapkan secara sepihak oleh Pihak Kesatu dan Pihak Kedua dianggap telah mengetahui dan menyetujui secara keseluruhan isi perjanjian. Setelah dilakukan tanda tangan kesepakatan pada perjanjian tersebut maka perjanjian tersebut menjadi Undang-Undang bagi kedua belah pihak, sesuai dengan Pasal 1338 BW, bahwa suatu perjanjian berlaku sebagai Undang-Undang yang mengikat kedua pihak. Salah satu isi dari perjanjian sewa beli tersebut adalah mengenai tata cara pembayaran atas Rumah Negara. Pembayaran sewa beli tidak menghendaki adanya pembayaran tunai karena hakikatnya sewa beli sendiri adalah jual beli dan sewa menyewa, sehingga pembayaran pun dilakukan dengan sistem potong gaji atau setoran kepada Instansi terkait. Apabila pensiunan yang melakukan peralihan hak maka pensiunan tersebut harus memiliki uang pensiun yang ditunjang oleh Negara sehingga pembayaran Rumah Negara berasal dari potongan uang pensinan, tetapi bila menurut Pasal 51 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Permukiman, pensiunan sudah tidak
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

a) Pasal 132 ayat (7) Undang-Undang b) Pasal 17 ayat (2) Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014

a) Pasal 132 ayat (7) Undang-Undang b) Pasal 17 ayat (2) Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014

Berdasarkan laporan LPPDK calon anggota DPD tidak terdapat penerimaan sumbangan dari pihak lain, hanya bersumber dari calon anggota DPD bersangkutan. Jumlah penyumbang kelompok sebanyak [r]

14 Baca lebih lajut

a) Pasal 132 ayat (7) Undang-Undang b) Pasal 17 ayat (2) Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014

a) Pasal 132 ayat (7) Undang-Undang b) Pasal 17 ayat (2) Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014

b)     Jika Daftar Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye Calon Anggota DPD dan/atau LPPDK Calon Anggota DPD tidak memperlihatkan klasifikasi penerimaan tersebut atau berbeda dengan [r]

14 Baca lebih lajut

a) Pasal 132 ayat (7) Undang-Undang b) Pasal 17 ayat (2) Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014

a) Pasal 132 ayat (7) Undang-Undang b) Pasal 17 ayat (2) Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013 sebagaimana diubah dengan Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2014

b) Tidak terdapat perbedaan perhitungan matematis Penerimaan telah diklasifikasikan berdasarkan sumber penerimaan dan bentuk penerimaan dalam Daftar Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kam[r]

16 Baca lebih lajut

Show all 10000 documents...