Kekasaran Permukaan

Top PDF Kekasaran Permukaan:

Kekasaran Permukaan Termoplastik Nilon  Setelah Perendaman Dalam  Larutan Kopi Robusta

Kekasaran Permukaan Termoplastik Nilon Setelah Perendaman Dalam Larutan Kopi Robusta

Data pengukuran perbedaan kekasaran permukaan termoplastik nilon setelah perendaman dalam larutan kopi robusta selama 1 hari, 2 hari dan 3 hari dengan jumlah sampel penelitian setiap kelompok adalah 10 sampel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Anova satu arah dengan Post Hoc Multiple LSD. Didapatkan perbedaan rata-rata kekasaran permukaan antara kelompok perendaman 1 hari dengan 2 hari yaitu sebesar 0,004 dengan signifikansi 0,127 (p ≥ 0,05). Terdapat perbedaan rata-rata kekasaran permukaan antara kelompok perendaman 1 hari dengan 3 hari yaitu sebesar 0,012 dengan signifikansi 0,000 (p ≤ 0,05) dan perbedaan rata- rata kekasaran permukaan antara kelompok perendaman 2 hari dengan 3 hari yaitu sebesar 0,008 dengan signifikansi 0,004 (p ≤ 0,05). Perbedaan kekasaran permukaan yang paling besar terdapat pada kelompok perendaman 1 hari dengan 3 hari dengan perubahan sebesar 0,012.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Setelah Penyikatan Dengan Pasta Gigi Mengandung Perlite Dan Tanpa Perlite

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Setelah Penyikatan Dengan Pasta Gigi Mengandung Perlite Dan Tanpa Perlite

berlawanan arah (180 o ). Dari hasil analisis statistik uji t-berpasangan diperoleh adanya perbedaan kekasaran yang bermakna (p≤0,05) antara sebelum dengan sesudah penyikatan pada tiap kelompok. Terlihat juga sesudah penyikatan antara pasta gigi mengandung perlite dan tanpa perlite setelah dilakukan analisa statistik uji-t independent tidak diperoleh adanya perbedaan kekasaran dengan p=0,380 (p≥0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan kekasaran sebelum dan sesudah penyikatan pada permukaan resin komposit dengan pasta gigi mengandung perlite dan tanpa perlite, namun tidak ditemukan adanya perbedaan kekasaran permukaan sesudah penyikatan antara dua kelompok tersebut.
Baca lebih lanjut

65 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Bahan Restorasi Semen Ionomerkaca Setelah Penyikatan Dengan Pasta Gigi Anak

Kekasaran Permukaan Bahan Restorasi Semen Ionomerkaca Setelah Penyikatan Dengan Pasta Gigi Anak

Tabel 5 menunjukkan nilai kekasaran permukaan bahan restorasi semen ionomer kaca sebelum dan sesudah penyikatan dengan pasta gigi anak Pepsodent Gigi Susu selama 60 detik dan 120 detik. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa rerata kekasaran permukaan sampel pada tiap kelompok sebelum penyikatan adalah ≤ 0,2 µm. Menurut Bollen dkk (1997), kekasaran permukaan dari bahan kedokteran gigi yang ideal adalah mendekati 0,2 µm atau kurang. 14,15 Willem dkk (1991) menyatakan bahwa kekasaran permukaan suatu restorasi yang dapat diterima harus sama atau kurang dari kekasaran enamel yaitu 0,64 µm. 16 Berdasarkan kedua parameter tersebut, nilai kekasaran permukaan untuk setiap kelompok sampel sebelum penyikatan dapat diterima.
Baca lebih lanjut

57 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofiller Yang Di Coating Dengan Surface Coat Dan Bahan Bonding Setelah Penyikatan Chapter III VI

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofiller Yang Di Coating Dengan Surface Coat Dan Bahan Bonding Setelah Penyikatan Chapter III VI

Dari hasil uji one way ANOVA diperoleh nilai p=0,00. Dengan kesimpulan, berarti ada perbedaan kekasaran permukaan yang bermakna antar kelompok perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukkan penurunan kekasaran permukaan resin komposit nanofiller yang di coating dengan bahan surface coat dan bahan bonding setelah penyikatan. Begitu juga pada hasil uji post Hoc LSD kekasaran akhir, didapatkan hasil yaitu nilai (Sig.) antara kelompok A dan kelompok B adalah 0,000 maka disimpulkan terdapat perbedaan kekasaran permukaan yang begitu signifikan pada kekasaran akhir. Pada kelompok A dan kelompok C diperoleh nilai (Sig.) 0,000 maka terdapat perbedaan yang signifikan anatara kelompok pada kekasaran akhir. Untuk kelompok B dan kelompok C diperoleh nilai (Sig.) adalah 0,000 maka disimpulkan terdapat perbedaan kekasaran yang begitu signifikan juga antara kelompok tersebut pada kekasaran akhir. Dengan kesimpulan, berarti ada perbedaan kekasaran permukaan resin komposit nanofiller dengan bahan pelindung resin komposit antara kelompok A, kelompok B, dan kelompok C.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Optimasi Parameter Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan Produk

Optimasi Parameter Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan Produk

Berdasarkan hasil analisis response surface model full quadratic akan ditunjukkan contour plot dan surface plot dari besarnya kekasaran permukaan. Masing-masing hasil analisis, surface plot kekasaran permukaan ditunjukkan pada gambar 2, sedangkan contour plot ditampilkan pada gambar 3 berikut.

5 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Setelah Penyikatan Dengan Pasta Gigi Mengandung Perlite Dan Tanpa Perlite

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Setelah Penyikatan Dengan Pasta Gigi Mengandung Perlite Dan Tanpa Perlite

berlawanan arah (180 o ). Dari hasil analisis statistik uji t-berpasangan diperoleh adanya perbedaan kekasaran yang bermakna (p≤0,05) antara sebelum dengan sesudah penyikatan pada tiap kelompok. Terlihat juga sesudah penyikatan antara pasta gigi mengandung perlite dan tanpa perlite setelah dilakukan analisa statistik uji-t independent tidak diperoleh adanya perbedaan kekasaran dengan p=0,380 (p≥0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan kekasaran sebelum dan sesudah penyikatan pada permukaan resin komposit dengan pasta gigi mengandung perlite dan tanpa perlite, namun tidak ditemukan adanya perbedaan kekasaran permukaan sesudah penyikatan antara dua kelompok tersebut.
Baca lebih lanjut

15 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Hybrid Setelah Perendaman Dalam Larutan  Kopi Sidikalang

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Hybrid Setelah Perendaman Dalam Larutan Kopi Sidikalang

Peningkatan kekasaran permukaan disebabkan oleh beberapa faktor seperti pH media perendaman, konsentrasi asam, peristiwa hidrolisis, sifat penyerapan air dan kelarutan dari bahan resin komposit serta dampak erosif asam yang terkandung dalam larutan kopi. 7,22,23 Penyerapan air oleh resin komposit akan memyebabkan peristiwa hidrolisis yang dapat merusak ikatan antara matriks dan filler sehingga monomer yang tidak terikat akan dilarutkan oleh pelarut. Kelarutan yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan kekasaran permukaan. 2,3 Larutan kopi dengan pH yang rendah memiliki banyak ion H + di dalamnya. Ion-ion H + yang berasal dari asam dalam larutan kopi ini akan berdifusi ke dalam matriks dan berikatan dengan ion negatif di dalam matriks. Ion-ion H + ini akan menyebabkan adanya ion yang bebas terdorong keluar dan terlepas dari ikatan matriks. Terlepasnya ion-ion dalam matriks menyebabkan ikatan kimia yang tidak stabil sehingga menyebabkan terlarutnya matriks yang akan meningkatkan kekasaran permukaan resin komposit. 7,22,23
Baca lebih lanjut

61 Baca lebih lajut

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

Proses pemesinan gerinda merupakan salah satu proses pemesinan yang banyak digunakan untuk memperhalus permukaan suatu komponen. Oleh karena itu proses ini membutuhkan laju pengerjaan material yang tinggi, kekasaran permukaan hasil pemotongan yang halus dan kepresisian yang tinggi. Untuk menghasilkan kontur pemukaan yang halus, parameter potong seperti jumlah putaran benda kerja, kecepatan makan aksial, dan kedalaman pemakanan sangat berpengaruh dalam proses penggerindaan. Permasalahan yang diteliti adalah sejauh mana pengaruh parameter potong tersebut terhadap kekasaran permukaan. Serta bagaimana setting parameter- parameter tersebut agar dihasilkan nilai kekasaran yang optimal dalam hal ini nilai kekasaran permukaan terendah. Metode yang dipakai untuk mencari pengaruh parameter potong terhadap kekasaran permukaan adalah analisis regresi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mencari seberapa besar pengaruh parameter potong seperti jumlah putaran benda kerja, kecepatan meja kerja, dan kedalaman pemakanan yang dapat digunakan untuk mengestimasi harga ketelitian ukuran dan kekasaran permukaan baja ST 42 pada proses penggerindaan silindris atau cylindrical grinding. Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Pemesinan Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang Jalan Soekarno-Hatta nomor 09 Malang Jawa Timur pada bulan November 2011. Penelitian ini adalah pengambilan data kekasaran permukaan hasil dari proses penggerindaan. Penelitian disusun menurut percobaan dengan analisis regresi yaitu 27 kali percobaan dan pengulangan sebanyak satu kali.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGARUH KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP GETARAN HEAD DAN KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA PADA PROSES GERINDA PERMUKAAN

ANALISIS PENGARUH KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP GETARAN HEAD DAN KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA PADA PROSES GERINDA PERMUKAAN

Dari hasil penelitian dapat diketahui pengaruh parameter yang digunakan terhadap nilai akselerasi getaran head dan kekasaran permukaan benda kerja yang diperoleh. Variabel bebas (kedalaman pemakanan) mempunyai pengaruh sebesar 80,5% terhadap variabel terikat yaitu getaran dan 97,6% berpengaruh terhadap kekasaran permukaan benda kerja.

18 Baca lebih lajut

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

Dari persamaan regresi dapat diketahui parameter potong yang paling berpengaruh. Parameter potong yang paling berpengaruh adalah kedalaman pemakanan, sedang parameter yang pengaruhnya paling kecil adalah jumlah putaran benda kerja. Hasil penelitian secara umum bahwa nilai kedalaman pemakanan semakin besar maka nilai kekasaran permukaan semakin besar pula. Hal ini pengaruhi oleh gaya pemakanan dan panas yang ditimbulkan oleh gesekan antara batu gerinda dan benda kerja. Gaya pemakanan mempunyai pengaruh terhadap spindle (poros) batu gerinda. Dengan adanya gaya pemakanan, maka seolah-olah
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Bahan Restorasi Semen Ionomer Kaca Tipe II Setelah Direndam dalam Minuman Isotonik

Kekasaran Permukaan Bahan Restorasi Semen Ionomer Kaca Tipe II Setelah Direndam dalam Minuman Isotonik

oleh Quirynen dkk (1990). Adhesi antara plak dengan bahan restorasi tidak akan terjadi pada permukaan yang lebih kecil dari 0,2 µm. 20 Sedangkan Willems dkk (1991) menyatakan bahwa kekasaran permukaan suatu restorasi yang dapat diterima harus sama atau kurang dari kekasaran email yaitu 0,64 µm. 21 Permukaan yang halus sangat penting tidak hanya untuk pasien melainkan juga untuk jangka panjang suatu restorasi, estetik yang baik, oral hygiene dan perlekatan plak. 20

9 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR  Studi Pengaruh Sudut Potong Pahat Hss Pada Proses Bubut Dengan Tipe Pemotongan Orthogonal Terhadap Kekasaran Permukaan.

NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR Studi Pengaruh Sudut Potong Pahat Hss Pada Proses Bubut Dengan Tipe Pemotongan Orthogonal Terhadap Kekasaran Permukaan.

Pengaruh putaran mesin terhadap kekasaran permukaan dapat dilihat pada gambar 9 Adanya penurunan kekasaran permukaan mulai dari putaran 230 rpm, 490 rpm dan 650 rpm. Nilai kekasaran terendah terdapat pada putaran 650 rpm dengan nilai kekasaran permukaan rata-rata 3,9 µm dan nilai kekasaran permukaan tertinggi terdapat pada putaran 230 rpm dengan nilai kekasaran rata-rata 7,25 µm. Hal ini dapat dijelaskan bahwa penggunaan putaran mesin yang lebih tinggi akan menghasilkan tingkat kekasaran permukaan yang lebih rendah, karena dengan putaran mesin yang tinggi akan menghasilkan kecepatan potong yang tinggi sehingga menghasilkan kekasaran permukaan yang lebih rendah. Karena pada proses pembubutan (turning) putaran mesin yang tinggi akan menghasilkan kecepatan potong yang tinggi dan mengakibatkan gesekan antara pahat bubut dengan benda kerja berlangsung dengan cepat, sehingga temperatur pada benda kerja akan naik yang menurunkan pemampatan geram dan menurunkan gaya potong. Karena gaya potong yang menurun maka kualitas pemakanan menjadi halus Pembahasan Feeding
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

tingkat kepercayaan (p ≤0,05) .Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan nilai rerata kekasaran permukaan sampel pada kelompok perendaman 60 menit menunjukkan perubahan sebesar 0,008 ± 0,0240 µm, kelompok perendaman 120 menit menunjukkan 0,0165 ± 0,0075 µm, dan kelompok perendaman 180 menit menunjukkan 0,0284 ± 0,0155µm.Terdapat perbedaan nilai kekasaran permukaan yang bermakna dengan p=0,041(p<0,05) antara ketiga kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa semakin lama perendaman resin akrilik polimerisasi panas di dalam minuman yogurt maka kekasaran permukaan resin akrilik semakin meningkat.
Baca lebih lanjut

2 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Resin akrilik polimerisasi panas merupakan bahan yang paling banyak digunakan sebagai bahan basis gigitiruan. Salah satu sifat fisik resin akrilik sebagai basis gigitiruan yang penting adalah kekasaran permukaan. Minuman asam dapat mempengaruhi kekasaran permukaan resin akrilik polimerisasi panas. Yogurt adalah salah satu hasil olahan susu yang mengalami fermentasi dan memiliki pH asam. Tujuan dari penelitian adalah untuk melihat perubahan kekasaran permukaaan resin akrilik polimerisasi panas setelah direndam di dalam minuman yogurt selama 60, 120, dan 180 menit. Sampel penelitian adalah resin akrilik polimerisasi panas berbentuk persegi dengan panjang 12 mm, lebar 12 mm dan tebal 2 mm. Besar sampel 10 buah, untuk setiap perlakuan yaitu perendaman 60, 120 dan 180 menit. Pembuatan sampel dengan pemanasan menggunakan waterbath, pemanasan dimulai pada suhu kamar dan dinaikkan terus hingga suhu 74 ℃ selama 90 menit, setelah itu suhu dinaikkan menjadi 100 ℃ dan dipertahankan selama 60 menit . Setiap sampel
Baca lebih lanjut

12 Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Bahan Office Bleaching Hidrogen Peroksida 35% Dan Karbamid Peroksida 35% Terhadap Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofil

Pengaruh Jenis Bahan Office Bleaching Hidrogen Peroksida 35% Dan Karbamid Peroksida 35% Terhadap Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofil

Hasil penelitian Pruthi dkk (2010) menyatakan bahwa terdapat peningkatan kekasaran permukaan pada semua sampel resin komposit yang telah dibleaching dengan menggunakan karbamid peroksida 15%. Pengamatan ini dilakukan secara subyektif dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope). Dalam penelitian ini, resin komposit mikrohibrid menunjukkan kekasaran permukaan yang maksimum, diikuti dengan resin komposit mikrofil dan nanofil. Berbeda dengan hasil penelitian Denny dkk (2010), hasil penelitian Pruthi dkk (2010) melaporkan bahwa resin komposit mikrohibrid yang menunjukkan kekasaran permukaan paling besar dibanding resin komposit mikrofil dan nanofil. Resin komposit nanofil mengalami perubahan topografi yang paling minimal karena memiliki ukuran partikel pengisi yang paling kecil (20 nm). Ukuran partikel pengisi resin komposit mikrohibrid adalah 0,6- 0,8 μm, sedangkan mikrofil adala h 0,04- 1.2μm . Semakin besar ukuran partikel pengisi maka mikroporositas didalam struktur resin dapat meningkat. 25
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Salah satu sifat fisis resin akrilik sebagai basis gigitiruan yang penting adalah kekasaran permukaan. 3 Kekasaran permukaan dirumuskan sebagai ketidak sempurnaan permukaan yang relatif halus dan merata, yang tingginya, kelebarannya dan arahnya menentukan pola dominan dari seluruh permukaan. 4 Jika permukaan kasar sedemikian rupa terjadi dan terpapar pada lingkungan oral, akan mempermudah perlekatan mikroorganisme patogen dan pembentukan film serta mengakibatkan infeksi. 3,5 Semakin kasar permukaan resin akrilik maka perlekatan plak semakin meningkat. 2 Dari penelitian Bollen dkk, (1996) diperoleh hasil bahwa kekasaran permukaan yang dapat diterima di dalam rongga mulut setelah dilakukan pemolesan tidak lebih dari 0,2 �� . 6 Salah satu faktor yang mempengaruhi kekasaran resin akrilik polimerisasi panas adalah pH asam. 7,8 Sesuai pada penelitian Constantinescu (2007) cit. Almashhadanydkk (2014), diperoleh hasil bahwa kekasaran resin akrilik polimerisasi panas meningkat ketika di rendam dalam saliva buatan pada derajat keasaman pH 5,5 dibandingkan dengan perendaman dalam saliva buatan pada derajat keasaman pH 6,8. 7
Baca lebih lanjut

3 Baca lebih lajut

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PEMOTONGAN PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PEMOTONGAN PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

menyatakan bahwa laporan skripsi dengan judul: “ Kekasaran Permukaan Akibat Variasi Parameter Pemotongan pada Proses Gerinda Silindris ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika didalam pengutipan substansi disebutkan sumbernya, dan belum pernah diajukan pada instansi manapun. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

18 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

permukaan adalah sifat lain yang relevan untuk proses perlekatan bakteri dengan ketidak beraturan dari permukaan polimer biasanya mendukung perlekatan bakteri dan akumulasi plak. 3 Menurut penelitian Bollen dkk, (1996) diperoleh hasil penelitian bahwa kekasaran permukaan yang dapat diterima di dalam rongga mulut setelah dilakukan pemolesan tidak lebih dari 0,2 �� . 5 Dari hasil penelitian Alvesdkk, (2007) dieroleh bahwa pengaruh pemolesan kimia dan manual terhadap kekasaran permukaan spesimen resin akrilik dan didapatkan bahwa pemolesan kimia menunjukkan nilai kekasaran yang lebih tinggi tanpa menghiraukan tipe aktivasi resin (kimia atau termal) ketika dibandingkan dengan pemolesan manual. 23
Baca lebih lanjut

9 Baca lebih lajut

Pengukuran Kekasaran Permukaan

Pengukuran Kekasaran Permukaan

saat peraba mulai melengkung inilah terdapat sudut kritis (critical angle) antara pelat peraba dengan permukaan. Dengan demikian berarti bahwa makin halus permukaan makin besar pula sudut kritisnya. Jadi, sudut kemiringan ini merupakan fungsi dari tingkat kekasaran permukaan yang diperiksa. Perubahan sudut ini dapat diamati pada penutup peraba yang tembus pandang (transparant) dan perubahan bentuk pelat peraba ini akan mempengaruhi posisi dari jarum penunjuk jam ukur (dial indicator). Pada piringan jam ukur tercantum simbol-simbol kelas kekasaran. Dengan demikian, setiap kali pengukuran permukaan bisa dilihat di mana letak posisi jarum penunjuk jam ukur yang pada posisi itulah kelas kekasaran dari permukaan yang diukur.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

ANALISIS EFEKTIFITAS CAIRAN PENDINGIN TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES FREIS VERTIKAL

ANALISIS EFEKTIFITAS CAIRAN PENDINGIN TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES FREIS VERTIKAL

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan skripsi yang berjudul “ Analisis Efektifitas Cairan Pendingin Terhadap Kekasaran Permukaan Pada Proses Freis Vertikal ” adalah benar-benar hasil karya sendiri, kecuali jika disebutkan sumbernya dan belum pernah diajukan pada instansi manapun, serta bukan karya jiplakan. Saya bertanggung jawab atas keabsahan dan kebenaran isinya sesuai dengan sikap ilmiah yang harus dijunjung tinggi.

17 Baca lebih lajut

Show all 5784 documents...