Kekasaran Permukaan

Top PDF Kekasaran Permukaan:

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

Kekasaran Permukaan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Setelah Perendaman di Dalam Minuman Yogurt

perendamannya yaitu 60,120, dan 180 menit. Kekasaran permukaan sampel diukur sebelum dan setelah perlakuan dengan menggunakan alat profilometer (MarSurf M300, Mahr, Germany). Analisis data dengan menggunakan uji Tberpasangan, dan One Way Anova dengan post hoc uji Least Significant Difference (LSD), dengan tingkat kepercayaan (p ≤0,05) .Hasil penelitian ini menunjukkan perubahan nilai rerata kekasaran permukaan sampel pada kelompok perendaman 60 menit menunjukkan perubahan sebesar 0,008 ± 0,0240 µm, kelompok perendaman 120 menit menunjukkan 0,0165 ± 0,0075 µm, dan kelompok perendaman 180 menit menunjukkan 0,0284 ± 0,0155µm.Terdapat perbedaan nilai kekasaran permukaan yang bermakna dengan p=0,041(p<0,05) antara ketiga kelompok perlakuan. Dapat disimpulkan bahwa semakin lama perendaman resin akrilik polimerisasi panas di dalam minuman yogurt maka kekasaran permukaan resin akrilik semakin meningkat.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Termoplastik Nilon  Setelah Perendaman Dalam  Larutan Kopi Robusta

Kekasaran Permukaan Termoplastik Nilon Setelah Perendaman Dalam Larutan Kopi Robusta

Data pengukuran perbedaan kekasaran permukaan termoplastik nilon setelah perendaman dalam larutan kopi robusta selama 1 hari, 2 hari dan 3 hari dengan jumlah sampel penelitian setiap kelompok adalah 10 sampel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji Anova satu arah dengan Post Hoc Multiple LSD. Didapatkan perbedaan rata-rata kekasaran permukaan antara kelompok perendaman 1 hari dengan 2 hari yaitu sebesar 0,004 dengan signifikansi 0,127 (p ≥ 0,05). Terdapat perbedaan rata-rata kekasaran permukaan antara kelompok perendaman 1 hari dengan 3 hari yaitu sebesar 0,012 dengan signifikansi 0,000 (p ≤ 0,05) dan perbedaan rata- rata kekasaran permukaan antara kelompok perendaman 2 hari dengan 3 hari yaitu sebesar 0,008 dengan signifikansi 0,004 (p ≤ 0,05). Perbedaan kekasaran permukaan yang paling besar terdapat pada kelompok perendaman 1 hari dengan 3 hari dengan perubahan sebesar 0,012.
Baca lebih lanjut

59 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofiller Yang Di Coating Dengan Surface Coat Dan Bahan Bonding Setelah Penyikatan Chapter III VI

Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofiller Yang Di Coating Dengan Surface Coat Dan Bahan Bonding Setelah Penyikatan Chapter III VI

Bahan pelindung yang digunakan pada penelitian ini adalah bahan yang diaplikasi pada permukaan. Bahan pelindung permukaan adalah bahan polimerisasi yang mengandung formulasi yang ditingkatkan termasuk unfilled resin dan monomer dengan molekul rendah (bisphenol-a glycidyl methacrylate, urethane dimethacrylate, dan 3- ethylene glycol dimethacrylate) serta photoinitiators yang sangat efisien dan bahan lainnya. Bahan pelindung permukaan dikembangkan untuk menghindari atau meminimalkan tingkat keausan dari resin komposit dengan mengisi microdefects pada permukaan restorasi dan mengurangi kebocoran mikro di restorasi atau permukaan gigi. 10 Bahan pelindung juga bertindak sebagai bahan kimia yang dapat mengurangi kekasaran permukaan.
Baca lebih lanjut

23 Baca lebih lajut

Pengukuran Kekasaran Permukaan

Pengukuran Kekasaran Permukaan

Pemeriksaan kekasaran di sini adalah dengan meraba muka ukur. Sebagai alat perabanya adalah ujung jari. Dengan kepekaan perasaan dalam meraba maka dapat dirasakan kasar halusnya suatu permukaan. Untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kehalusannya biasanya dilakukan dengan permukaan standar (surface finish comparator). Dalam laboratorium pengukuran atau dalam bengkel-bengkel mesin biasanya dilengkapi dengan alat ukur pembanding kekasaran permukaan. Alat ukur pembanding kekasaran permukaan ini ditempatkan dalam satu set yang terdiri dari beberapa lempengan baja yang masing-masing lempengan mempunyai angka kekasaran sendiri-sendiri. Karena proses pengerjaan mesin bisa dilakukan dengan mesin bubut, mesin sekrap, mesin frais, mesin gerinda dan sebagainya, maka alat ukur pembanding kekasaran permukaan pun dikelompokkan menurut jenis mesin yang digunakan. Dengan demikian, dalam laboratorium pengukuran atau bengkel mesin biasanya selalu tersedia beberapa set alat ukur pembanding kekasaran permukaan (surface finish comparator) yang sudah dikelompokkan sesuai dengan jenis mesin yang digunakan untuk pembuatannya.
Baca lebih lanjut

25 Baca lebih lajut

Kekasaran Permukaan Bahan Restorasi Semen Ionomer Kaca Tipe II Setelah Direndam dalam Minuman Isotonik

Kekasaran Permukaan Bahan Restorasi Semen Ionomer Kaca Tipe II Setelah Direndam dalam Minuman Isotonik

oleh Quirynen dkk (1990). Adhesi antara plak dengan bahan restorasi tidak akan terjadi pada permukaan yang lebih kecil dari 0,2 µm. 20 Sedangkan Willems dkk (1991) menyatakan bahwa kekasaran permukaan suatu restorasi yang dapat diterima harus sama atau kurang dari kekasaran email yaitu 0,64 µm. 21 Permukaan yang halus sangat penting tidak hanya untuk pasien melainkan juga untuk jangka panjang suatu restorasi, estetik yang baik, oral hygiene dan perlekatan plak. 20

9 Baca lebih lajut

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

Proses pemesinan gerinda merupakan salah satu proses pemesinan yang banyak digunakan untuk memperhalus permukaan suatu komponen. Oleh karena itu proses ini membutuhkan laju pengerjaan material yang tinggi, kekasaran permukaan hasil pemotongan yang halus dan kepresisian yang tinggi. Untuk menghasilkan kontur pemukaan yang halus, parameter potong seperti jumlah putaran benda kerja, kecepatan makan aksial, dan kedalaman pemakanan sangat berpengaruh dalam proses penggerindaan. Permasalahan yang diteliti adalah sejauh mana pengaruh parameter potong tersebut terhadap kekasaran permukaan. Serta bagaimana setting parameter- parameter tersebut agar dihasilkan nilai kekasaran yang optimal dalam hal ini nilai kekasaran permukaan terendah. Metode yang dipakai untuk mencari pengaruh parameter potong terhadap kekasaran permukaan adalah analisis regresi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mencari seberapa besar pengaruh parameter potong seperti jumlah putaran benda kerja, kecepatan meja kerja, dan kedalaman pemakanan yang dapat digunakan untuk mengestimasi harga ketelitian ukuran dan kekasaran permukaan baja ST 42 pada proses penggerindaan silindris atau cylindrical grinding. Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Pemesinan Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang Jalan Soekarno-Hatta nomor 09 Malang Jawa Timur pada bulan November 2011. Penelitian ini adalah pengambilan data kekasaran permukaan hasil dari proses penggerindaan. Penelitian disusun menurut percobaan dengan analisis regresi yaitu 27 kali percobaan dan pengulangan sebanyak satu kali.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

PENGARUH KECEPATAN PEMAKANAN DAN KADAR AIR TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES MILLING CNC 3 AXIS DENGAN MATERIAL KAYU JATI.

PENGARUH KECEPATAN PEMAKANAN DAN KADAR AIR TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES MILLING CNC 3 AXIS DENGAN MATERIAL KAYU JATI.

Kekasaran permukaan papan disebabkan oleh terangkatnya kayu akhir sehingga lebih tinggi daripada kayu awal. Umumnya terjadi pada kayu dari daerah beriklim sedang dengan perbedaan kayu awal dan akhir yang jelas. Penyebabnya adalah kayu akhir lebih keras daripada kayu awal, serta mata pisau tumpul. b) Serat terlepas (loosened grain)

Baca lebih lajut

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

KEKASARAN PERMUKAAN AKIBAT VARIASI PARAMETER PADA PROSES GERINDA SILINDRIS

Proses pemesinan gerinda merupakan salah satu proses pemesinan yang banyak digunakan untuk memperhalus permukaan suatu komponen. Oleh karena itu proses ini membutuhkan laju pengerjaan material yang tinggi, kekasaran permukaan hasil pemotongan yang halus dan kepresisian yang tinggi. Untuk menghasilkan kontur pemukaan yang halus, parameter potong seperti jumlah putaran benda kerja, kecepatan makan aksial, dan kedalaman pemakanan sangat berpengaruh dalam proses penggerindaan. Permasalahan yang diteliti adalah sejauh mana pengaruh parameter potong tersebut terhadap kekasaran permukaan. Serta bagaimana setting parameter- parameter tersebut agar dihasilkan nilai kekasaran yang optimal dalam hal ini nilai kekasaran permukaan terendah. Metode yang dipakai untuk mencari pengaruh parameter potong terhadap kekasaran permukaan adalah analisis regresi. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mencari seberapa besar pengaruh parameter potong seperti jumlah putaran benda kerja, kecepatan meja kerja, dan kedalaman pemakanan yang dapat digunakan untuk mengestimasi harga ketelitian ukuran dan kekasaran permukaan baja ST 42 pada proses penggerindaan silindris atau cylindrical grinding. Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Pemesinan Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang Jalan Soekarno-Hatta nomor 09 Malang Jawa Timur pada bulan November 2011. Penelitian ini adalah pengambilan data kekasaran permukaan hasil dari proses penggerindaan. Penelitian disusun menurut percobaan dengan analisis regresi yaitu 27 kali percobaan dan pengulangan sebanyak satu kali.
Baca lebih lanjut

19 Baca lebih lajut

Kontribusi Pengaruh Kekasaran Permukaan. pdf

Kontribusi Pengaruh Kekasaran Permukaan. pdf

Selanjutnya, dengan terjadinya peningkatan nilai keausan tepi sejalan dengan semakin lamanya waktu pemotongan, maka permukaan yang dihasil- kan akan semakin kasar baik tanpa ataupun dengan penggunaan cairan pendingin [26-27]. Hal ini juga akan berimplikasi terhadap besarnya daya listrik yang diperlukan. Jadi semakin kasar permukaan yang dihasilkan maka akan semakin besar daya listrik langsung yang diperlukan dan sebaliknya [22]. Akan tetapi bukti yang diberikan oleh Gambar 6 menunjukkan kondisi yang sebaliknya. Semakin halus permukaan produk semakin besar daya listrik langsung yang diperlukan. Penurunan kekasaran permukaan kemungkinan disebabkan oleh peruba-han geometri pahat yang terjadi selama pemotongan berlangsung. Hal ini dijelaskan pada Gambar 7 dimana selama pemotongan terjadi perubahan ben-tuk dari radius pojok ( ε r ).
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Pengaruh Jenis Bahan Office Bleaching Hidrogen Peroksida 35% Dan Karbamid Peroksida 35% Terhadap Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofil

Pengaruh Jenis Bahan Office Bleaching Hidrogen Peroksida 35% Dan Karbamid Peroksida 35% Terhadap Kekasaran Permukaan Resin Komposit Nanofil

Hasil penelitian Pruthi dkk (2010) menyatakan bahwa terdapat peningkatan kekasaran permukaan pada semua sampel resin komposit yang telah dibleaching dengan menggunakan karbamid peroksida 15%. Pengamatan ini dilakukan secara subyektif dengan menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope). Dalam penelitian ini, resin komposit mikrohibrid menunjukkan kekasaran permukaan yang maksimum, diikuti dengan resin komposit mikrofil dan nanofil. Berbeda dengan hasil penelitian Denny dkk (2010), hasil penelitian Pruthi dkk (2010) melaporkan bahwa resin komposit mikrohibrid yang menunjukkan kekasaran permukaan paling besar dibanding resin komposit mikrofil dan nanofil. Resin komposit nanofil mengalami perubahan topografi yang paling minimal karena memiliki ukuran partikel pengisi yang paling kecil (20 nm). Ukuran partikel pengisi resin komposit mikrohibrid adalah 0,6- 0,8 μm, sedangkan mikrofil adala h 0,04- 1.2μm . Semakin besar ukuran partikel pengisi maka mikroporositas didalam struktur resin dapat meningkat. 25
Baca lebih lanjut

80 Baca lebih lajut

ANALISIS PENGARUH KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP GETARAN HEAD DAN KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA PADA PROSES GERINDA PERMUKAAN

ANALISIS PENGARUH KEDALAMAN PEMAKANAN TERHADAP GETARAN HEAD DAN KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA PADA PROSES GERINDA PERMUKAAN

Hasil penelitian menyatakan setelah nilai kedalaman pemakanan dinaikkan maka nilai akselerasi getaran head dan kekasaran permukaan benda kerja juga bertambah besar, hal ini disebabkan karena adanya gaya potong yang terjadi pada saat batu gerinda memotong benda kerja sehingga menyebabkan terjadinya getaran pada proses gerinda dan secara otomatis semakin dalam pemakanannya maka getaran semakin bertambah besar. Kedalaman pemakanan yang besar juga akan mengakibatkan gaya gesek antara batu gerinda dan benda kerja semakin besar yang mengakibatkan kekasaran permukaan.
Baca lebih lanjut

18 Baca lebih lajut

NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR  Studi Pengaruh Sudut Potong Pahat Hss Pada Proses Bubut Dengan Tipe Pemotongan Orthogonal Terhadap Kekasaran Permukaan.

NASKAH PUBLIKASI TUGAS AKHIR Studi Pengaruh Sudut Potong Pahat Hss Pada Proses Bubut Dengan Tipe Pemotongan Orthogonal Terhadap Kekasaran Permukaan.

Pengaruh putaran mesin terhadap kekasaran permukaan dapat dilihat pada gambar 9 Adanya penurunan kekasaran permukaan mulai dari putaran 230 rpm, 490 rpm dan 650 rpm. Nilai kekasaran terendah terdapat pada putaran 650 rpm dengan nilai kekasaran permukaan rata-rata 3,9 µm dan nilai kekasaran permukaan tertinggi terdapat pada putaran 230 rpm dengan nilai kekasaran rata-rata 7,25 µm. Hal ini dapat dijelaskan bahwa penggunaan putaran mesin yang lebih tinggi akan menghasilkan tingkat kekasaran permukaan yang lebih rendah, karena dengan putaran mesin yang tinggi akan menghasilkan kecepatan potong yang tinggi sehingga menghasilkan kekasaran permukaan yang lebih rendah. Karena pada proses pembubutan (turning) putaran mesin yang tinggi akan menghasilkan kecepatan potong yang tinggi dan mengakibatkan gesekan antara pahat bubut dengan benda kerja berlangsung dengan cepat, sehingga temperatur pada benda kerja akan naik yang menurunkan pemampatan geram dan menurunkan gaya potong. Karena gaya potong yang menurun maka kualitas pemakanan menjadi halus Pembahasan Feeding
Baca lebih lanjut

14 Baca lebih lajut

ANALISIS KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA DENGAN VARIASI JENIS MATERIAL DAN PAHAT POTONG - UNIB Scholar Repository

ANALISIS KEKASARAN PERMUKAAN BENDA KERJA DENGAN VARIASI JENIS MATERIAL DAN PAHAT POTONG - UNIB Scholar Repository

Untuk tiap tingkat kekerasan bahan tersebut, apabila dikerjakan   pada   mesin-mesin   produksi   termasuk   pada   pembubutan   akan   memiliki tingkat kualitas permukaan yang berbeda-beda pada masing-   masing tingkat kekerasan bahan tersebut. Hal ini dapat terjadi karena sifat   bahan tersebut akan berakibat pada bentuk cip yang dihasilkan pada proses   tersebut. Menurut Amstead (1987 : 462), ada tiga bentuk serpihan cip yang   dihasilkan,  yaitu  cip putus-putus  (discontinue),  kontinyu  (countinue)  dan   kontinyu  tetapi ada serpihan  yang  menempel pada  ujung  pahat  (build  up   edge).  
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Optimasi Parameter Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan Produk

Optimasi Parameter Pembubutan Terhadap Kekasaran Permukaan Produk

Kekasaran permukaan suatu produk permesinan dapat mempengaruhi beberapa fungsi dari produk tersebut seperti tingkat kepresisian, kemampuan penyebaran pelumas, pelapisan, dan sebagainya. Semakin halus permukaan semakin tinggi tingkat kepresisian dari produk tersebut, dan semakin halus permukaan semakin merata pelumasan yang terjadi, begitu juga halnya dengan kualitas hasil pelapisan. Dengan demikian kekasaran permukaan menjadi tolak ukur keakuratan dan kualitas dari suatu produk industri manufaktur [2].
Baca lebih lanjut

5 Baca lebih lajut

Sugiyanto S951002008

Sugiyanto S951002008

Dalam pembuatan sambungan komposit mengacu pada ASTM D 5868-95 dengan variasi tebal adhesive. Variabel yang digunakan adalah tebal (0,25 mm, 0,75 mm, 1,25 mm, 1,75 mm), adhesive yang digunakan epoksi serta kekasaran permukaan yang mempunyai kekuatan sambungan paling besar. Adapun cara pembuatan sambungan prinsipnya sama seperti pembuatan sambungan pada kekasaran permukaan. Tebal adhesive diambil secara urut sebesar 0,25 mm dan seterusnya. Untuk menentukan ketebalan adhesive diperlukan alat bantu berupa plat yang mempunyai tebal 0,25 mm sampai 1,75 mm (diukur dengan mikrometer). Setelah dilakukan proses penyambungan, selanjutnya dikeringkan dalam suhu ruang selama 24 jam. Spesimen sambungan komposit setelah jadi, dilakukan pengujian geser dengan Universal Testing Machine (UTM) dan foto SEM.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH JENIS PAHAT KEDALAMAN PEMAKANAN

PENGARUH JENIS PAHAT KEDALAMAN PEMAKANAN

Milling konvensional merupakan mesin yang mampu mengerjakan suatu benda kerja dalam permukaan datar, sisi tegak, miring, bahkan alur roda gigi. Mesin milling konvensional prinsip kerjanya berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan diteruskan melalui suatu transmisi untuk menghasilkan gerakan putar pada spindel. Pada proses pengerjaan logam menggunakan mesin milling konvensional ada beberapa parameter yang digunakan untuk mengukur kualitas hasil proses yakni kekasaran dan kerataan permukaan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kualitas kekasaran dan kerataan permukaan antara jenis pahat, kedalaman pemakanan dan jenis cairan. Sehingga muncul permasalahan yaitu bagaimana pengaruh jenis pahat, kedalaman pemakanan dan jenis cairan pendingin terhadap kekasaran dan kerataan permukaan baja ST 41. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis pahat, kedalaman pemakanan dan jenis cairan pendingin terhadap kekasaran dan kerataan permukaan baja ST 41. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Dalam penelitian ini benda kerja yang digunakan sebanyak 27 buah, yang mendapatkan perlakuan berbeda dalam setiap proses pengerjaannya, yaitu: variasi jenis pahat (Japan, JCK, Sutton), kedalaman pemakanan (0,2 mm, 0,4 mm, 0,6 mm), dan jenis cairan pendingin (Cutting APX, Global, Kyoso). Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kekasaran permukaan adalah surface tester, sedangkan alat yang digunakan untuk mengukur tingkat kerataan permukaan adalah dial indicator. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis pahat, jenis cairan dan kedalaman pemakanan berpengaruh terhadap tingkat kekasaran dan kerataan permukaan benda kerja ST 41 pada proses pengerjaan milling konvensional. Nilai kekasaran permukaan paling rendah yaitu 0,742 μm, diperoleh dengan menggunakan jenis pahat Japan, jenis cairan pendingin (Cutting APX) dan kedalaman 0,2 mm. Nilai kerataan permukaan paling rendah yaitu 0,033 mm, diperoleh dengan menggunakan jenis pahat Japan, jenis cairan pendingin (Cutting APX) dan kedalaman 0,2 mm.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

PENGARUH PULSE ON T IME DAN OPEN V OLTAGE TERHADAP INTEGRITAS PERMUKAAN BENDA KERJA (IPBK) HASIL PEMOTONGAN BAJA PERKAKAS BUDERUS 2 0 8 0 PADA PROSES WIRE ELECT RICAL DISCHARGE MACHINING (WEDM)

PENGARUH PULSE ON T IME DAN OPEN V OLTAGE TERHADAP INTEGRITAS PERMUKAAN BENDA KERJA (IPBK) HASIL PEMOTONGAN BAJA PERKAKAS BUDERUS 2 0 8 0 PADA PROSES WIRE ELECT RICAL DISCHARGE MACHINING (WEDM)

Salah satu dari ukuran kinerja proses WEDM adalah integritas permukaan benda kerja (IPBK). Beberapa unsur IPBK yang biasa diamati pada hasil proses pemotongan dengan WEDM adalah lapisan recast, kekasaran permukaan dan kekerasan mikro. Pada proses WEDM pelepasan material benda kerja terjadi karena adanya pelelehan dan penguapan dari material benda kerja. Pembilasan oleh cairan dielektrik menyebabkan terjadinya pendinginan secara cepat, sehingga terjadi pembekuan ulang dari material yang meleleh pada permukaan yang mengalami proses pemesinan. Lapisan yang terbentuk sebagai hasil pembekuan ulang pada permukaan benda kerja disebut sebagai lapisan recast. Pendinginan secara cepat tersebut juga menyebabkan terjadinya kawah-kawah yang relatif dalam dan kekerasan yang tidak homogen pada permukaan benda kerja yang telah mengalami proses WEDM. Kawah-kawah tersebut meningkatkan nilai kekasaran permukaan pada benda kerja. Kekerasan mikro terjadi karena adanya tegangan sisa dan perubahan-perubahan yang berhubungan dengan aspek metalurgi. Kekerasan mikro penting dalam menggambarkan penyimpangan karakteristik permukaan benda kerja.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Keutuhan Permukaan Baja AISI 4140 Pada Pemesinan Laju Tinggi, Keras Dan Kering Menggunakan Pahat CBN

Keutuhan Permukaan Baja AISI 4140 Pada Pemesinan Laju Tinggi, Keras Dan Kering Menggunakan Pahat CBN

Dibandingkan dengan kondisi maksimium-1 pada kondisi maksimum-2 ini kecepatan potong tetap 250 m/menit dan kedalaman potong juga tetap 0,3 mm sedangkan laju pemakanan ditingkatkan dari 0,1 ke 0,15 mm/putaran. Dari data yang diperoleh pada Tabel 4.8 dan Gambar 4.11 dapat kita lihat bahwa pada pengambilan data ke 4 batas finishing untuk kekasaran permukaan sudah diperoleh. Ini menunjukkan bukti bahwa pengaruh peningkatan laju pemakanan pada kecepatan potong yang tinggi ini sangat berpengaruh secara signifikan terhadap hasil kekasaran permukaan. Pencatatan kekasaran permukaan hanya mampu dilakukan 4 kali lintasan pemotongan sepanjang benda kerja yang apabila dihitung dalam satuan waktu setara dengan 1,87 menit.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Basis Gigitiruan - Pengaruh Pembersihan dengan Energi Microwave terhadap Kekerasan Permukaan Basis Gigitiruan Nilon Termoplastik dan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Basis Gigitiruan - Pengaruh Pembersihan dengan Energi Microwave terhadap Kekerasan Permukaan Basis Gigitiruan Nilon Termoplastik dan Resin Akrilik Polimerisasi Panas

Kekasaran permukaan dari bahan kedokteran gigi memiliki ambang batas yaitu 0,2 μm. Kekasaran permukaan suatu bahan dipengaruhi oleh teknik poles ba ik secara mekanis maupun kimia. Abuzar dkk. (2010) menyatakan bahwa kekasaran permukaan dari nilon termoplastik lebih kasar daripada resin akrilik yang sudah maupun belum dipoles. Hasil penelitian Abuzar dkk. (2010) menunjukkan bahwa nilai kekasaran nilon termoplastik sebelum dipoles adalah 1,111 ± 0,178 µm dan sesudah dipoles sebesar 0,146 ± 0,018 µm. 9 Rahal dkk (2004) menyatakan kekasaran permukaan berhubungan dengan penyerapan air karena air masuk melalui porositas permukaan. 8
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

FENOMENA RUNNING-IN RODA GIGI TRANSMISI KE-2 SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X

FENOMENA RUNNING-IN RODA GIGI TRANSMISI KE-2 SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X

Roda gigi adalah salah satu elemen mesin yang didesain untuk memindahkan daya (power) dan gerak (motion) dari satu bagian mekanik ke bagian lainnya. Elemen pemindah daya yang lain adalah sabuk, rantai, dan sabuk ganda. Roda gigi menjadi salah satu elemen mesin yang paling banyak digunakan pada sistem transmisi daya. Seperti semua komponen mekanik pada umumnya, roda gigi juga mengalami keausan dikarenakan adanya kontak mekanik. Kontak yang terjadi pada roda gigi berupa kontak non-formal dan termasuk dalam deformasi elastis. Penelitian diawali dengan persiapan spesimen roda gigi sepeda motor Honda Supra dari Honda Genuine Parts, non HGP dan produk Usaha Kecil Menengah (UKM). Sebelum melakukan eksperimen terlebih dahulu diukur kekasaran permukaan awal roda gigi pada area kontak dan diidentifikasi spesifikasi dari masing-masing roda gigi. Eksperimen dilakukan dengan variasi beban torsi. Setelah proses running-in roda gigi diukur kekasaran permukaan pada area kontak. Sehingga diketahui nilai kekasaran permukaan selama waktu tertentu dan jarak tertentu. Setelah eksperimen dilakukan analisa kekasaran permukaan dan koefisien gesek. Dari hasil eksperimen bisa disimpulkan bahwa selama proses running-in terdapat fenomena penurunan kekasaran permukaan roda gigi sebanding dengan waktu. Tentu saja koefisien gesek mengalami peningkatan seiring dengan meningkatnya beban torsi. Tetapi sebaliknya, koefisien gesek mengalami penurunan seiring dengan meningkatnya kecepatan putar. Dalam hal ini Produk Honda Genuine Parts lebih baik daripada produk non-HGP dan produk UKM.
Baca lebih lanjut

Baca lebih lajut

Show all 5784 documents...